Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 118 Menemukanmu


__ADS_3

Ucapan 'My Queen' tadi terasa berlebihan. Shanum terpana menerima panggilan itu. Sudah jelas dia bukan seorang ratu di sini, karena pasangannya bukan berada di klan ini.


"Well, ternyata tindakanku sudah tepat mencurimu dari Khan Adrian. Kau terlahir memang untuk menjadi calon ratuku," ucap Avraam sembari menyeringai.


Terkejut, Shanum memperhatikan... dan menyadari dirinya menatap ke arah pedang yang kini semakin berpendar, kemudian mengarahkan pandangan ke arah Avraam. Mata biru pucat, hampir sejernih kristal, dan bercahaya dengan tatapan nakal memandangnya.


Mata yang selalu berubah-ubah sesuai dengan suasana hati pria itu. Mata itu akan menjadi biru hanya jika pria itu merasa bahagia.


"Kau pasti sedang bergurau." Shanum berucap dengan cepat.


"Tidak. Aku berkata yang sebenarnya. Pedang yang kau pegang itu adalah pedang seorang ratu dari Klan Erebos. Namanya adalah Pedang Ratu. Dan dia sudah memilihmu. Jadi, tentu saja kau sekarang adalah calon ratu dari klan ini."


Shanum terkesiap dengan kombinasi rasa tak percaya dan cemas. Tangannya mendadak lemas, ia melepaskan genggamannya. Namun bukannya jatuh ke lantai, pedang itu tetap melayang di hadapannya.


Perlahan, pedang itu berubah bentuk menjadi mengecil, lalu bergerak ke arah punggung tangannya. Pedang itu menempel di sana lalu secara ajaib menghilang, dan meninggalkan sebuah simbol pedang berwarna keemasan pada punggung tangannya.


Napas Shanum tersendat di tenggorokan, ia memejamkan mata erat-erat. Ketika ia kembali fokus, kulitnya akan kembali normal tanpa simbol tersebut.


Baiklah, seharusnya ia tidak perlu kaget. Sejak ia mengetahui dunia sihir yang tersembunyi ini, ia sudah banyak mengalami momen-momen gila. Contohnya seperti kejadian kali ini, sebuah pedang yang memilihnya dan yang tiba-tiba dapat menyatu dengan tubuhnya.


Oh, Tuhan, biarkan momen ini hanyalah mimpi, dan di saat ia terbangun nanti semuanya tidak pernah terjadi.


Dengan sangat perlahan, Shanum membuka mata. Simbol itu masih tetap melekat di punggung tangannya. Seberapa keras dia berharap, ia tetap menemukan simbol ini adalah nyata. Kenyataan yang harus ia terima, meski batinnya menolak keras.


Shanum menggeram putus asa. Bagaimana bisa dia menjadi seorang ratu dari dua klan, dan memiliki dua orang suami. Kehangatan simbol itu semakin meresap ke dalam kulitnya, mengikuti irama detak jantungnya yang berdentum di dada.


"Ini... ini..." Dengan bingung, Shanum, berusaha mengucapkan kalimat koheren. Pasti ada penjelasannya. Ia hanya perlu bertanya. Namun ketika ia membuka mulut, hanya satu kata terucap. "Mengapa?"


Avraam melangkah mendekati Shanum. Dia menarik lengan Shanum, dan kemudian pria itu tersenyum. Senyum menggoda yang menampakkan gigi putih teratur sembari mengusap simbol tersebut dengan jemarinya, hingga membuat Shanum berjengit.


"Tidak ada lagi kesangsian, Cantik. Kau sekarang adalah milikku, milik klan ini. Langkahmu untuk memutuskan Khan Adrian kemarin sudah tepat. Setelah ini, aku akan menggelar rapat untuk menyiapkan pesta pernikahan kita."


Sialan, apa yang sedang terjadi? Kebingungan Shanum semakin bertambah dengan cepat. Semua rencananya terancam gagal, jika pernikahan itu tetap terjadi.


Shanum berdeham. "Mungkin sebaiknya kita bergegas, Avraam. Bukankah tadi kau ingin membawaku ke suatu tempat?"


Avraam masih menyeringai dengan gaya menggoda, pria itu menarik pinggang Shanum dengan tiba-tiba. "Tampaknya kau sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu denganku. Baiklah kita pergi."


Pria itu menarik lengannya dari pinggang Shanum. Lalu meraih telapak tangannya untuk digenggam erat. Mati-matian Shanum berusaha menahan keinginannya untuk menarik lepas genggaman itu dan memukul Avraam.


Ingat Shanum, kau sedang bersandiwara. Anggap saja kau sedang berada di atas panggung. Kau harus sukses melakoninya.


Berulang-ulang Shanum mensugesti dirinya untuk meredam rasa mual. Dia mengikuti pria itu keluar dari ruangan senjata dengan sikap biasa, meski tetap saja kaku.


Sepanjang perjalanan Shanum lebih banyak diam. Hanya menjawab seperlunya jika ditanya oleh pria itu. Namun di suatu tempat, Avraam mengedarkan pandangannya, ia berhenti melangkah. Lalu menatap ke arah Shanum.


"Kau kenapa?" tanya Avraam sembari memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk meninggalkan mereka.


"Aku tidak apa-apa." Saat mengatakan itu, tidak ada kesan kaku dalam ucapan Shanum. Dia tidak berusaha mendorong pria itu ketika ia menjauh dari pegangannya.


Avraam mengedip kepada Shanum. "Lalu mengapa sepanjang jalan wajahmu ditekuk begitu?"


Shanum tidak tersenyum.


"Kau tidak menyukai perjalanan kita?" Shanum nyaris bisa melihat kata-kata itu di mata Avraam: Ayolah, aku tahu ada yang sedang kau sembunyikan.


"Kemarilah, duduk bersamaku," kata pria itu. Shanum melihat Avraam duduk di sebuah batu besar sembari menepuk tempat di sebelahnya. Shanum terpaku di tempat, keraguan menguasai ekspresi wajahnya.


"Kau yakin kau baik-baik saja." Nada dalam ucapan Avraam membuat Shanum tersenyum gugup. Nada yang diyakininya adalah kekhawatiran.


Shanum mendekat, pakaiannya yang longgar merosot dari pundaknya, pinggangnya. Shanum tidak menyadari ia kehilangan berat badan sebanyak itu selama berada di tempat ini. Mungkin beban pikiran dan kesedihan yang ia rasakan juga berimbas kepada tubuhnya.


Shanum memilih menyandar di dinding batu berlumut tak jauh dari Avraam, lalu berkata, "Apakah kita perlu berhenti di sini?"


Avraam mengerutkan kening melihat Shanum memilih untuk tidak duduk di sebelahnya.


"Tentu saja perlu," jawabnya, sambil mengangkat bahu.


"Kita perlu beristirahat sejenak. Aku tidak mau melihat calon ratuku gelisah sepanjang perjalanan. Sampai-sampai memilih menjauh dariku." Dia menyeringai, menganggukkan kepala dalam-dalam.


"Dan aku akan selalu meluangkan waktu untukmu." Sesuatu yang terpancar di balik seringai sombong dan tak tertahankan itu memang kekhawatiran.


"Jadi, ada yang mau kau katakan kepadaku?" tambahnya.


"Kau benar. Aku hanya lelah," sahut Shanum sembari mendesah menutupi kegugupannya.

__ADS_1


Mata Avraam memicing ke arah Shanum. "Kau yakin hanya itu?"


"Ya, hanya itu," jawabnya. Sebab memang bukan apa-apa. Tak mungkin juga Shanum mengatakan kepada pria itu bahwa ia tidak berminat menjadi ratunya dan sedang berpikir keras mencari cara untuk melepaskan diri dari jerat itu.


Shanum melirik ke samping, dan kemarahan, bukan kekhawatiran berkilat di mata Avraam. Dia yakin sekali suhu dingin di sekitar mereka berubah menjadi beku.


Shanum menelan ludahnya, ia berusaha menetralkan kecemasan yang terasa semakin mencekik. Tidak mungkin kan pria itu tahu isi hatinya yang sebenarnya.


"Kalau memang tidak ada apa-apa," kata pria itu dingin, "kenapa sikapmu aneh?"


Shanum bergeser mendekat, lalu duduk di sebelah Avraam.


Dia berkata dengan pelan, "Maafkan aku. Semua ini terlalu cepat untukku. Aku... aku..."


Hening.


Shanum menggeleng, lalu mendesah keras. "Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa menerima kejadian hari ini. Tentang pedang yang sekarang menyatu padaku. Dan juga sebutan Ratu itu."


Avraam mengawasi Shanum, matanya tak berkedip menatapnya.


"Apakah kau menolakku, Shanum?" desaknya.


Shanum menarik-narik rumput yang berada di sela-sela batu. Tidak berani menatap langsung ke arah pria itu. "Aku tidak berkata begitu. Tolong beri aku waktu, Avraam."


"Berapa lama? Dan butuh waktu sampai kapan aku harus bersabar?"


Percikan kemarahan pria itu membuat kepala Shanum akhirnya terangkat. "Aku tidak tahu," jawab Shanum dengan suara lirih. Pandangannya melekat kuat pada pria itu.


"Baiklah," desah pria itu. "Aku akan memberimu waktu satu bulan."


Kemudian Avraam berdiri dengan cepat sambil mengucapkan isyarat kepada para pengikutnya.


"Tapi ingat, Shanum. Aku tidak mentolerir penolakan sekecil apa pun, jika tenggat waktunya telah tiba." Nada suara Avraam terdengar tajam.


Bagian yang jauh di dalam hati Shanum terasa kecut mendengar kata-kata itu, apa yang pria itu ungkap secara terang-terangan. Waktu satu bulan itu terasa sungguhlah singkat.


Jadi, mereka kembali berjalan. Avraam tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang perjalanan mereka, hingga akhirnya mereka tiba di pos perbatasan.


Shanum menatap sebuah bangunan dengan beratus anak tangga berlatarbelakang gunung batu, gemetar melihat tudung kabut hitam pekat yang berembus. Di sisi sebelah kanan dan kiri mereka tanah membentang berisi stepa berwarna hijau penuh sihir ilusi.


Kalau gestur tubuh yang diperlihatkannya tidak cukup memberitahu Shanum akan bahaya macam apa yang akan mereka hadapi hari ini--kalau getaran simbol pedang di lengannya tidak cukup memberi gambaran, yang ia butuhkan hanyalah melihat stepa penuh ilusi di sebelah kanan dan kirinya satu kali saja dan ia langsung tahu ini tidak akan menyenangkan.


Dua jam yang lalu pikirannya begitu teralihkan di ruang senjata, dengan tambahan simbol baru di dalam lengannya, sampai-sampai tidak terpikirkan olehnya untuk menanyakan apa yang akan mereka temui di sini.


Avraam memberikan isyarat kepada mereka untuk masuk ke dalam bangunan dari batu yang berdiri tinggi dan kokoh di hadapan mereka.


"Di mana kita?" tanya Shanum, sembari menyejajari langkah pria itu. Tempat ini dingin membeku, terpencil, penuh sihir ilusi yang membuat bulu kuduknya merinding.


"Di sebuah tempat yang membatasi antara klanku dengan Klan Batzorig," jawab Avraam, sambil menatap gunung batu itu. "Dan itu," katanya sambil menunjuk, "adalah tempat perlindungan kami."


Tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa di sekitar situ.


"Aku tidak melihat apa-apa."


"Bangunan batu ini dibuat dari salah satu sisi gunung batu, dan tembus hingga ke sisi sebelah sana. Kami mengawasi perbatasan dari dalam gunung batu tersebut. Sedangkan stepa ilusi adalah tempat paling berbahaya yang pernah kau bayangkan. Tidak ada yang pernah selamat melewatinya dalam keadaan waras."


Shanum mengernyit. "Maksudmu, mereka yang melewati stepa itu akan mengalami kegilaan?" tanya Shanum sembari mulai menaiki satu demi satu anak tangga panjang yang menuju pintu masuk pos tersebut.


Avraam mengangguk.


"Tempat ini," katanya, "dibangun sebelum para klan terbentuk. Saat manusia masih belum mengerti sihir."


"Jadi, tempat ini dibangun oleh leluhur pertama dalam dunia sihir ini?" tanya Shanum lagi.


"Ya."


"Berarti leluhur pemilik sihir pertama itu berada di Klan Erebos?" sambungnya.


Senyuman tajam. "Kau sangat pintar, Cantik."


Shanum bergidik. Jika klan Avraam adalah yang tertua, bagaimana dengan sihirnya. Tidak menutup kemungkinan sihir yang dimiliki oleh mereka juga bisa saja yang terkuat.


"Berapa tepatnya jumlah anak tangga ini?" tanya Shanum sembari mengatur napas yang mulai terdengar berat.


"Oh, sangat banyak. Mendakinya akan cukup untuk menghangatkan darahmu," jawab Avraam seraya terkekeh.

__ADS_1


"Dan setelah melewati pintu itu, kita akan menemukan banyak anak tangga lainnya."


Shanum berhenti bergerak. "Yang benar saja. Lebih banyak anak tangga lagi?"


Pria itu menganggukkan kepalanya lalu menyeringai. "Tenang saja. Kau tinggal bilang kepadaku kalau tidak sanggup. Aku bisa membantu dan merasa sangat bahagia dapat menggendongmu dalam pelukanku hingga anak tangga terakhir."


Shanum mendengus keras. "Dalam mimpimu, Avraam. Aku tidak selemah itu." Shanum kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga tersebut, meski dalam hatinya menyumpah serapah.


Kabut dingin menggigit wajah Shanum. Dia sungguh berusaha untuk mengambil langkah ke depan.


Tubuhnya perlahan menolak untuk patuh, saat ia merasa kabut hitam yang pekat mengelilinginya. Bulu kuduknya kontan berdiri, ia merasakan kekuatan sihir yang mengerikan berada di sekitarnya. Namun Shanum berusaha mengambil langkah lagi, berusaha untuk ayahnya, ibunya, suaminya dan klan lain yang mungkin akan dihancurkan... dia harus bisa melewati ini.


Kemudian suara gemuruh terdengar di belakangnya. Gemanya menggoncang hingga ke tangga batu. Shanum hanya sempat menolehkan kepala, sesaat sebelum dirinya ditarik mendekat oleh Avraam. Pria itu menghadang serbuan laju anak panah dengan perisai sihir yang dibentangkannya.


"Lari ke pintu, Shanum. Sekarang."


Itu perintah terakhir Avraam, dan ucapannya sementara pria itu berlari dengan cepat menuruni anak tangga, menuju sekumpulan manusia yang berada di sisi terluar hutan. Jalan yang tadi sempat mereka lewati.


Shanum terpana, melihat gerombolan orang sedang menyerang mereka. Sihir melawan sihir, pedang melawan pedang, teriakan demi teriakan berkumandang.


Shanum melihat para pengikut Avraam keluar dari pintu di atasnya. Mereka berlari tergesa-gesa sembari membawa senjata melewatinya. Ternyata di dalam gunung batu itu berkumpul orang-orang yang tidak sedikit. Satu kompi pasukan mungkin berada di sana, berjaga di perbatasan antar klan ini.


Shanum menggigit bibir, menoleh ke arah pintu, lalu menoleh kembali ke arah pertempuran yang sedang terjadi di hadapannya. Dia belum bisa memutuskan untuk mengikuti perintah Avraam atau tidak.


Kemudian Shanum menggeleng. Dia tidak bisa. Tidak mau bersembunyi di balik pintu itu. Meskipun dia bisa saja mencari jalan untuk kabur dari tempat ini, memanfaatkan teralihkannya fokus Avraam beserta pengikutnya dalam penyerangan yang sedang terjadi saat ini.


Shanum tetap harus berpikir jernih. Melihat situasi yang terjadi, mencari jalan aman untuk melarikan diri tetap diperlukan. Shanum tidak mau mati konyol karena tersesat di tempat antah berantah ini.


Sembari tetap mengawasi lingkungan sekitarnya, Shanum berlari. Dia ikut berlari bersama pasukan Avraam, melewati anak tangga dengan cepat tanpa ragu.


Di depannya teriakan bertambah gencar. Shanum berusaha menjauh dari pusat pertempuran. Dia mengambil lokasi yang menurutnya aman. Pedang ratu sudah keluar dari cangkangnya, bersiaga andaikata diperlukan.


Namun anehnya, sepanjang Shanum melangkah, tidak ada satu pun orang yang menghadang atau menyerangnya.


Shasha... di mana kau?


Suara Khan terdengar jauh di kepala Shanum, melalui celah di dalam ikatan jiwanya. Shanum berhenti berlari.


Adri?


Ya, Aku sedang mencarimu di tengah kekacauan ini.


Maksudmu, kau yang melakukan penyerangan ini?


Di mana kau, Shasha? Aku tahu kau berada di sini.


Suara pria itu terdengar cemas.


Aku... entahlah. Sepertinya berada di sisi sebelah barat dari lokasi pertempuran.


"Apa yang kau lakukan di sini, Shanum? Bukankah aku mengatakan padamu untuk berlindung?"


Shanum tersentak kaget, ia memalingkan wajahnya, dan melihat ekspresi marah terpancar di wajah Avraam.


Shanum meringis. "Em, aku tidak mungkin bersembunyi di sana, Avraam. Tempat itu belum tentu aman." Shanum menjawab dengan cepat sembari mengembalikan pedang ke dalam punggung tangannya.


"Terus, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau ingin melarikan diri?" Pria itu menatap dengan tajam ke arahnya. Tampak curiga.


Shanum mengertakkan gigi. Mencoba berpura-pura tersinggung. "Kemana aku ingin melarikan diri? Memangnya aku tahu jalan keluar dari sini! Aku tidak bodoh, Avraam."


"Kalau begitu kau harus kembali ke pos jaga di atas sana. Ayo, kau ikut denganku." Avraam memaksa menarik tangan Shanum dengan kasar.


"Tidak, Avraam. Sialan, lepaskan aku!" Shanum mencoba memberontak ingin melepaskan diri dari Avraam.


"Lepaskan dia, Bajingan!"


Suara bentakan terdengar oleh Shanum, dan juga pendar cahaya berwarna merah melesat ke arah tubuh Avraam. Bersamaan dengan itu, Shanum merasakan sebuah tarikan kuat melepaskannya dari genggaman Avraam.


Tubuhnya seketika tersentak ke belakang. Gerakan itu cukup membuatnya kaget. Shanum melihat Avraam meringis memegang pinggangnya.


Kemudian Shanum merasakan tangan meraih wajahnya, mengangkat dagunya sementara ia menoleh ke arah netra mata coklat keemasan. Mata yang ia rindukan.


Khan mendekat, keningnya basah oleh keringat, napasnya tak beraturan. Dia mencium bibir Shanum dengan lembut. Untuk mengingatkan dirinya... siapa dia, apa dia. Hati Shanum yang gersang mendadak kembali bersemi, jiwanya yang rapuh menjadi kuat, saat menemukan kembali pasangannya.


Khan mundur, membawa Shanum dalam pelukannya. Ibu jarinya mengelus pipi Shanum sembari tersenyum. Pasangan jiwanya itu berbisik, "Akhirnya aku menemukanmu kembali, Shashaku."

__ADS_1


__ADS_2