Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 48 Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Sergei mendekati Shanum dengan ragu, namun ia tetap harus menyerahkan ponselnya pada gadis itu. "Shanum, Yang Agung ingin bicara denganmu." Sergei menyodorkan ponselnya, tetapi Shanum hanya menatap saja tanpa mengambilnya.


Sergei berdecak kesal. "Dia tidak mau mengambil ponselnya, Khan," kata Sergei. "Kalau begitu kau saja yang memegang ponsel itu dan arahkan ke dirinya, supaya aku bisa melihat wajahnya saat berbicara.


"Biar aku saja!" Mendadak Diva sudah berdiri di sebelah Sergei. Dia mengulurkan tangannya meminta ponsel milik pria itu. Sergei menyerahkan kepada Diva sambil tersenyum. "Terima kasih, Hon." Diva langsung mendelik mendengar kata-kata Sergei. "Ternyata aku belum dimaafkan," keluh pria itu.


"Cepat katakan apa yang mau kau ucapkan, Sir. Dan jangan membuat sahabatku semakin sedih." Diva melotot pada Khan sambil memegang ponsel milik Sergei di tangan kanannya.


Khan menegakkan tubuhnya dan membalas pelototan Diva dengan pandangan muram. "Aku tidak akan pernah bermaksud menyakitinya, Diva. Tolong bantu arahkan layar ponsel ini kepadanya, please! Aku ingin melihat wajahnya."


Diva melunak, dia mengangguk. Lalu duduk di samping Shanum. Gadis itu berusaha menolak. Dia menepis layar ponsel yang diarahkan kepadanya oleh Diva.


"Oh sudah cukup! Hentikan kelakuanmu yang kekanak-kanakan itu, Sha! Sampai kapan kau mau bertindak seperti gadis yang teraniaya begitu, tapi barusan mengatakan kau mencintainya?" geram Farah.


Shanum tersentak, ia terdiam. Gadis itu tidak lagi menolak layar ponsel yang diarahkan kepadanya. Lengannya terkulai lemas. Dan wajahnya dipalingkan ke samping, ia tetap menghindari layar ponsel.


Khan yang mendengar ucapan Farah barusan, tersenyum miris. Dia lalu berdeham. "Terima kasih Farah--Diva."


Pria itu berdeham kembali. Seakan-akan dia merasakan ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya.


Khan melihat Shanum yang tidak mau melihat ke arah layar ponsel. Dia merasakan sesak, seakan-akan dadanya ditusuk oleh benda tajam.


"Shasha, maafkan aku. Mungkin sudah terlalu lama persoalan ini berlarut-larut di antara kita. Tapi aku harus menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya kepadamu, Sha. Wanita yang bersamaku itu sepupuku. Aku sudah berjanji untuk datang ke pestanya bahkan sebelum aku bertemu denganmu." Khan memulai ucapannya tentang wanita yang bersamanya di suatu pesta itu.


"Mengapa kau berdusta?" tanya Shanum dengan suara ketus. "Apa susahnya mengatakan yang sebenarnya?" tambahnya lagi.


"Aku... entahlah. Mungkin karena saat itu aku sedang kalut dan banyak pikiran. Karena aku di desak oleh Para Tetua dan Dewan Bangsawan klanku, untuk segera mencari calon pendamping. Dan mereka ingin hal itu dilakukan dengan mengadakan sebuah Seleksi." Terjadi jeda. Khan tampak menelan ludah.


"Acara ini sudah sering dilakukan oleh para pemimpin klan jauh sebelumku. Hingga akhirnya saat kau bertanya, tercetus begitu saja jawaban dusta dari bibirku. Aku akui, hal itu tidak bisa dibenarkan. Jadi maafkan aku, Shasha," ungkapnya.


Kulit Shanum meremang mendengarnya. Dia menahan desakan untuk melihat ke arah ponsel dan memeluk ponsel, seakan-akan ponsel itu adalah pria itu, yang pelukannya sangat ia inginkan.


Tetapi tampilan Shanum berbanding terbalik dengan hatinya, ia tetap duduk menatap ke arah yang lain, kaku dan terkendali. Tangan Shanum terkepal di sisi tubuhnya.


"Aku selalu memikirkanmu, Shasha," desah Khan dengan nada suara yang serak, hangat, dan menggoda miliknya.


Sekujur tubuh Shanum kembali bereaksi mendengar suara itu. Nada suara yang selalu membuatnya merasakan desir aneh di tubuhnya. "Aku tidak peduli, dan abaikan kata-kataku yang tadi," jawabnya dengan napas tersekat.


Wajah pria itu semakin getir mendengar ucapan Shanum. Tapi dia tetap meneruskan kata-katanya. "Yang mana?" tanyanya lagi.


"Tentang... aku mencintaimu tadi," ucapnya dengan suara pelan.


Pria itu menggeleng. "Shasha... pandang aku, dan tatap mataku. Katakan, apa yang kau rasakan sebenarnya?"


Shanum tetap bergeming, ia tidak bersuara.


Khan menarik napasnya. Dia mengusap wajahnya. "Aku merasa tersiksa," katanya serak. "Apa yang harus kulakukan. Bayangmu selalu hadir setiap harinya. Aku selalu ingin meraihmu, tapi aku ragu dan takut semakin membuatmu menjauh."


Gadis itu melirik saat mendengar kata-kata Khan barusan. "Shasha... lihat ke arahku, please! Setelah ini aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Kau boleh melanjutkan hidupmu..."


Shanum langsung menoleh, matanya berkilat marah. "Oh, jadi cuma begitu saja batas kesabaranmu pada diriku," geram Shanum. Dia akhirnya menatap layar, pandangannya dingin dan kaku.


Khan mereguk keseluruhan wajah Shanum dengan tatapannya. Pandangannya terlihat penuh dengan kebahagiaan. Matanya tidak pernah bergeser sedikit pun dari depan layar ponsel. "Kau semakin cantik, aku merasa bagaikan mimpi bisa melihatmu saat ini," desahnya.


Shanum mendadak merebut ponsel dari tangan Diva. "Jangan merayuku!" bentaknya. Diva terlihat meringis dan menggelengkan kepalanya. Farah juga segera bangkit dari duduknya lalu berkata, "Sebaiknya aku keluar dari ruangan ini, lama-lama aku ikut emosi mendengar ucapan dan melihat tingkahmu yang semakin menggelikan, Sha!"


Farah langsung keluar dari ruangan itu dengan wajah kaku menahan amarah. Di belakangnya menyusul Sergei dan Diva, ikut keluar dari ruangan itu.


Sergei bahkan masih sempat melemparkan tatapan kecewa kepada gadis itu. Shanum tertegun, perhatiannya teralihkan oleh ucapan Farah barusan dan juga tatapan Sergei.


Dia melihat kembali ke layar. Khan tampak menarik napas dalam-dalam. "Jadi apa yang kau inginkan sekarang, Shasha?" tanya Khan dengan nada lelah yang tidak ditutup-tutupinya.


Shanum tidak menjawab, wajahnya masih terlihat kaku dan tidak terbaca. Namun itu tetap memperhatikan Khan di layar. Sesungguhnya jauh di lubuk hatinya masih tersimpan nama pria itu. Sebuah kebohongan besar jika dia sudah tidak mencintainya.


Dan tentang kesalahan pria itu sebenarnya Shanum sudah lama memaafkannya. Yang masih tidak bisa ia terima adalah tentang Seleksi yang harus dijalaninya. Dia tidak sanggup memikirkan pria itu nantinya harus bersanding dengan wanita lain. Meski sebenarnya pria itu juga terpaksa melakukannya.


Khan lalu agak menjauh dari layar, tangannya terangkat ke dada dan mengusap daerah di jantungnya seolah-olah hatinya sakit.


"Jika ini kesempatan terakhirku, izinkan aku mengungkapkan perasaanku..." Mata pria itu menatap lekat Shanum. Seakan-akan ia ingin gadis itu tahu semua rasa yang ia sembunyikan selama ini.


"Aku memujamu, Shasha. Aku mungkin tidak pernah mengucapkannya secara langsung. Aku mengira kata-kata tidaklah terlalu penting dibandingkan perlakuan yang kucurahkan untukmu." Khan tersenyum sedih, matanya tampak berkaca-kaca.


Dia berdeham. "Jika aku harus kehilanganmu..." Pria itu tercekat, dia berhenti sesaat.

__ADS_1


"Aku tidak berani membayangkannya, Shasha. Karena aku..." Dia terdiam, lalu menunduk.


Dia kembali mengangkat wajahnya. Kedua bola matanya berubah warna menjadi semakin coklat keemasan, terlihat menjadi lebih lembut, dalam, dan penuh kehangatan.


Shanum mendadak merasakan suatu sentakan menghunjam jantungnya, sentakan yang membawa rasa hangat itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa linglung, mengapa dia bisa merasakan pancaran energi pria itu, sedangkan raga mereka terpisah sangat jauh.


"Aku mencintaimu, Shasha. Sangat... sangat mencintaimu."


Shanum terengah, tangannya membekap mulutnya, dan ia terlihat gemetar. Kata-kata cinta pria itu, tatapan matanya, energi yang dipancarkannya membuatnya kewalahan. Dia tidak sanggup lagi menahan euforia yang menerjangnya bagai air bah. Perlahan air mata mengalir kembali di mata gadis itu. Mengalir kian deras tak terbendung lagi.


Dari balik layar Khan menatap ke dalam mata Shanum. "Jangan," desahnya pelan. "Hatiku hancur kalau kau menangis lagi." Shanum tersenyum lemah. "Aku tidak bisa menahannya. Kau... Aku... Oh, maafkan aku. Aku juga cinta padamu." Shanum memejam.


"Shasha..." erang Khan dengan nada suara serak menggoda miliknya.


Shanum membuka matanya. "Tunggu sebentar." Gadis itu lalu mengambil cangkir kopi Sergei dan botol miliknya di atas meja, lalu dia menyandarkan ponsel tadi di sana.


"Tanganku masih gemetar, tapi aku tetap ingin melihat wajahmu tanpa menjadi goyah. Jadi ponselnya aku letakkan di meja dengan penyangga di belakangnya," jelasnya.


Shanum lalu menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya. "Kau ingin melihatku berhenti menangis kan. Oke, aku coba."


Shanum lalu menarik napas dan menghembuskannya kembali. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu Shanum menatap Khan dengan pandangan lembut yang sama. Pandangan yang mengungkapkan bahwa mereka terhubung, dalam suatu ikatan jiwa yang bernama cinta.


"Apa yang sudah kau lakukan padaku? Apa kita memiliki koneksi khusus? Aku bisa merasakan dirimu... Entahlah, aku sendiri bingung menjelaskannya."


Mata Khan terbelalak. "Kau bisa merasakannya juga, di wujud fisikmu?" tanyanya dengan takjub. Shanum mengangguk sambil tersenyum.


"Ini terlalu berlebihan," desah Khan. Shanum mengerutkan keningnya. "Yang kurasakan barusan?" tanyanya bingung.


"Bukan itu.Tapi rasa takut kehilanganmu yang menggerogotiku sejak lama. Tadi rasa itu sempat mendominasi perasaanku. Kemudian aku mendadak tersadar, bahwa aku harus mengatakan semuanya. Keseluruhan rasa yang tersimpan jauh di sudut hatiku padamu."


Matanya terpejam. "Ketika kau pergi menghilang dari hotel. Aku tidak tahu apakah kau akan kembali. Kalau aku kehilangan dirimu..." Khan mengusap wajahnya.


"Saat aku tahu kau kembali ke negaramu secara sembunyi-sembunyi, aku merasa lega. Namun juga merasa sebagian hatiku direnggut secara paksa dari tempatnya. Dan itu rasanya menyakitkan."


Pandangan gadis itu kembali melembut. "Aku juga merasa tersiksa, Adri," bisik Shanum.


"Ah, akhirnya panggilan itu muncul juga. Aku lebih suka kau memanggilku seperti itu. Karena terdengar lebih mesra."


"Jadi sekarang sudah tidak marah lagi kan," kata pria itu.


"Masih sih, tapi tinggal sedikit." Shanum menyatukan jari jempol dan telunjuknya untuk memperlihatkan ukuran sedikit menurutnya.


Khan tersenyum tipis. Dia tetap menatap mata Shanum dengan dalam. "Maaf, selama ini aku tidak bisa menghubungimu, Sayang. Aku pengecut. Aku takut mendengar kata-kata benci itu keluar lagi dari mulutmu."


Shanum kembali terpana. Akhirnya dia mendapatkan juga kata-kata itu disebutkan dari bibir pria yang tepat. Jika dari pria yang satu lagi dia akan merasa jengah. Ucapan dari bibir Khan malah membuatnya berdebar tidak karuan.


"Mengapa diam? Kau masih setengah hati memaafkanku, Shasha?"


"Bukan, Adri. Aku hanya kaget mendengar satu kata yang kau sebutkan di ujung kalimatmu tadi."


Alis Khan melengkung. "Ah, maksudmu kata Sayang." Wajah Khan terlihat bersemu merah.


Shanum menganggukkan kepalanya sambil kembali terkekeh. "Wajahmu memerah, Adri."


Khan mengacak rambutnya dan menggeram. "Aku tidak terbiasa mengucapkan kata-kata manis. Apakah aneh?"


"Tidak terbiasa katamu. Saat ini saja sudah berapa banyak kata-kata manis yang keluar dari bibirmu, Adri. Sampai aku bisa-bisa terkena diabetes mendengarnya," sindir Shanum sambil memutar bola matanya.


"Benarkah? Kok aku tidak sadar ya, semuanya mengalir begitu saja. Apa yang kusimpan di dalam hatiku meluap semua sepertinya," gumamnya sambil tersenyum tipis.


"Adri..." Shanum menatap Khan dengan pandangan tajam. "Bagaimana dengan kita?" Suaranya tercekat.


Khan tersenyum tipis. "Kau percaya padaku, Shasha?"


Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu percayalah, aku akan tetap memperjuangkanmu untuk berada di sisiku."


"Maksudmu, kau tetap akan meneruskan Seleksi itu?" tanya Shanum.


"Ya, aku harus," jawabnya.


"Tapi... tapi bagaimana dengan wanita yang akan terpilih nanti?"


"Wanita yang akan terpilih nanti, dan satu-satunya hanyalah dirimu," ucap Khan dengan pandangan dalam tertuju pada Shanum.

__ADS_1


Shanum tercekat kaget. "Berarti aku..."


"Ya, kau akan ikut juga di Seleksi itu."


Shanum kontan menggeleng.


"Kenapa? Kau tidak mau ikut Seleksi?"


"Aku tidak bisa, Adri."


"Mengapa tidak bisa? Kau tidak mau menjadi pasanganku?"


Shanum menghela napasnya. "Aku tidak yakin bisa mengalahkan wanita yang sangat cantik-cantik itu, Adri?"


Khan tersenyum simpul. "Bagiku kau jauh lebih cantik. Dan aku yakin kau pasti akan bisa memenangkan Seleksi itu. Aku dan Eej sudah memiliki rencana untukmu."


"Ibumu tahu?" tanyanya.


"Ya, dia tahu semua perasaanku padamu. Dan dia mendukungku."


"Tapi tidak dalam waktu dekat kan aku mengikuti Seleksi itu? Aku masih ingin meraih gelarku dulu." Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia terkesiap. Dia melupakan sama sekali tentang Pak Reno.


Shanum melihat ke arah Khan dengan gugup. "Ada apa, Shasha?" Pria itu memicingkan matanya.


"Adri, maafkan aku. Sepertinya aku harus menyudahi sambungan telepon ini. Ada yang harus aku diskusikan dengan kedua sahabatku."


Shanum mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada kedua sahabatnya untuk kembali ke ruangan itu.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kita?" tanya Khan tiba-tiba.


"Em, ada sih. Tapi cuma sedikit," jawabnya singkat. Masih sambil mengotak-atik ponselnya.


"Kalau begitu aku juga ingin mendengar diskusi kalian," sahutnya tegas.


Shanum mengangkat kepalanya. "Kau yakin?"


"Ya, aku harus mengetahuinya. Dan tidak ada bantahan!" Khan kembali ke sikap arogan dan dingin miliknya. Shanum memutar bola matanya sambil tersenyum geli.


"Aku benar-benar ingin meraup wajah aroganmu itu," kata Shanum dengan gemas.


Mata Khan menggelap dan bibirnya melengkung. Dia tersenyum menggoda ke arah gadis itu. "Oh, aku sangat menantikannya." Lalu matanya tampak muram. Dia tersadar kalau mereka sekarang terpisah jarak dan waktu.


"Arghh..." Khan menggeramkan rasa frustasinya.


"Sayangnya aku tidak bisa mendatangimu. Bagaimana kalau kau saja yang ke sini?"


"Sorry, tidak bisa. Aku sedang sibuk menyelesaikan kuliahku," ucap Shanum dengan ketus. Enak saja dia yang harus terus mengejar pria itu. Sedangkan pria itu tidak berusaha mencari cara untuk mengejarnya ke sini.


"Sudah selesai baku hantamnya?" sindir Farah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Loh kok baku hantam, wujud fisiknya saja tidak satu tempat, Farah," protes Diva. Sedangkan Sergei mengikuti di samping Diva.


"Ya, kali saja, mereka baku hantam secara lisan." Farah mengendikkan bahunya.


Diva memutar bola matanya. "Ya, terserah kau saja deh, Farah. Omong-omong ada apa, Sha?"


Shanum tampak serius, dia mengisyaratkan ketiga orang itu untuk duduk.


"Aku baru teringat kalau aku ingin membahas tentang Pak Reno."


"Siapa itu Pak Reno?" potong Khan.


"Jika kau sering memotong ucapanku, aku akan mematikan sambungan pada ponsel Sergei," ucap Shanum dengan wajah melotot galak.


"Oke, silahkan dilanjutkan," kata Khan sambil meringis.


"Jadi, Pak Reno sudah tahu kalau aku yang menolongnya sehingga dia bisa terbangun dari koma."


Lalu Shanum kembali menceritakan telepon kemarin dari Elvano, kakaknya Pak Reno. Kunjungannya ke rumah sakit, kata-katanya untuk menjadikan Shanum sebagai kekasihnya, hingga rahasia Shanum yang sudah dia ketahui juga. Tidak ada yang berani memotong ucapan Shanum.


Mereka semua sangat serius mendengarkan, dengan ekspresi wajah masing-masing yang penuh warna. Ekspresi kaget, geram, tersenyum geli dan wajah datar.


"Segera bunuh dia, Sergei. Kau hapus ingatan orang-orang, buat dia seakan-akan tidak pernah dilahirkan!" Khan mengucapkan kalimat perintah itu kepada Sergei segera setelah Shanum menyudahi ceritanya. Suaranya terdengar sangat dingin, dan kaku, sehingga semua orang yang berada di ruangan itu merasa merinding dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2