Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 36 Pulang


__ADS_3

Ponsel Shanum terus berdering, dia hanya menatap ponsel tersebut tanpa menekan tombol on. Wajahnya tampak ragu. Kemudian ponsel berhenti berdering, suasana kembali hening. Shanum masih terpaku menatap layar ponsel sambil menarik napas. Tak berapa lama ponsel itu kembali berbunyi, gadis itu kontan menekan tombol off dan mematikan ponsel tersebut.


Dia menggenggam erat ponsel. Wajahnya terlihat keruh. Shanum mengusap bahunya yang terasa dingin terkena angin malam di balkon itu. Namun ia masih tetap bergeming di sana, terpaku pada rasa gundah yang berkecamuk di pikirannya. Shanum masih belum siap berbicara pada Khan.


Jika ada yang mengatakan bahwa dia begitu bodoh, karena menunda-nunda menyelesaikan masalah di antara mereka. Ya, dia mengakuinya. Shanum bodoh karena merasa takut. Takut mendengar tentang rencana perjodohan pria itu.


Shanum tahu, mereka pasti harus berpisah. Meski kata-kata Nekhii bertolak belakang dengan pesan Khan tadi. Shanum sudah dapat menebaknya, dia bukanlah wanita yang ditakdirkan untuk pria itu. Semua ucapan Nekhii hanya ramalan salah yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Akhirnya Shanum masuk kembali ke dalam kamar. Dia melihat kedua sahabatnya sudah tertidur pulas. Dia naik ke atas ranjang, mematikan lampu tidur, dan merebahkan dirinya di kasur. Dia berharap tidak ada masalah tentang kepulangan mereka nantinya.


Shanum tersentak bangun. Kepalanya berputar ke samping. Diva masih ada di sana, sedang kasur Farah sudah kosong. Dia menghembuskan napasnya, merasa lega.


Shanum baru saja mendapatkan mimpi. Dan mimpi itu bisa saja memperumit segalanya. Dalam mimpi itu ia melihat Sarnai memeluk erat Khan di suatu tempat yang tidak ia ketahui. Bedanya latar yang ia lihat adalah masa kini, tergambar dari gaya busana yang dikenakan keduanya.


Shanum menggeleng, dia tidak boleh peduli. Mimpi itu tidak mungkin terjadi. Dia juga memiliki keraguan mimpi yang ia lihat tentang masa depan atau tidak. Karena baru satu penglihatan yang terbukti benar, sisanya masih belum jelas.


Shanum jadi teringat mimpi buruk yang pernah ia alami, tentang sosok yang tergantung di dapur mansion Khan. Meski dia tidak pernah melihat wajahnya, sebab setelahnya mimpi itu terputus.


Apa makna mimpi itu? Siapa yang tergantung di sana? Tidak mungkin Khan, meski dia melihat ada sepasang sepatu pria di lantai, dekat dengan sosok yang tergantung itu. Dan apa keterkaitannya dengan mimpinya tadi.


Shanum menelan ludah. Dia merasa jantungnya seolah-olah direnggut dari dalam dadanya. Jika pria itu adalah Khan, ia tidak sanggup memikirkan bagaimana hidupnya setelah itu. Dia merasa masih bisa menerima perpisahan dengan pria itu kecuali kematian.


Belum lagi masalah Sarnai yang muncul di masa kini. Seharusnya dia tidak boleh merasa sakit hati. Karena kekacauan yang dibuatnya ini adalah hasil pekerjaannya sendiri. Ia sudah memilih untuk menjauh dari pria itu. Namun entah mengapa saat melihat Khan dengan Sarnai dalam mimpi itu, dia tidak bisa menerimanya.


Shanum duduk di bangku meja rias, menatap pantulan wajahnya pada cermin di hadapannya. Dia mencoba menemukan bagian dirinya yang dingin, agar dia dapat keluar dari seluruh kekacauan ini secara utuh. Namun bukan menemukan gambaran dingin di sana, yang muncul di cermin adalah sosok seorang gadis yang hancur.


Dia menegakkan pundaknya dan menambahkan satu demi satu lapisan kata-kata penyemangat. Dia harus kuat. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi rasa percaya. Tidak ada lagi kesalahan. Sedangkan untuk cinta, dibutuhkan waktu untuk memudar.


Suara ketukan di pintu depan menyela keheningan yang ada. Farah menjawab dan membiarkan masuk siapa pun itu yang mengetuk pintu. Gadis itu sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya.


Farah menariknya keluar dari pikiran-pikirannya setelah gadis itu membuka pintu depan. Shanum bangun dari duduknya dan mengintip dari pintu kamar. Dia menemukan Farah berbicara dengan seorang pria.


Seorang pengirim, dengan sepelukan bunga, berdiri dengan sebuah senyum. "Kiriman khusus," katanya seraya mengulurkan buket itu ke dalam lengan Farah.


Farah tampak menyeringai, gadis itu sudah dapat menebak siapa pengirim buket bunga itu. Pengirim bunga itu segera pergi dari depan pintu, saat buket yang diantarnya sudah diterima. "Siapa yang mengirim?" Shanum bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan Khan Adrian," tebak Farah. "Boleh aku memastikannya?" Farah memegang kartu ucapan di buket itu. Shanum tidak yakin kata-kata yang jelas akan mampu keluar dari bibirnya. "Ya." Dia hanya mampu mengatakan satu kata itu pada Farah.


Farah langsung membuka kartunya. "Betul sekali, aku tidak salah, ini dari pria itu." Farah berjalan masuk ke dalam kamar dan menaruh buket itu di atas meja. Bunga itu cantik. Mirip dengan yang pernah Khan kirimkan kali pertama saat di mansion.


"Aku tidak bisa melakukan ini lagi," bisik hati Shanum. Ia menggigit bibirnya. Lalu mengambil kartu dari antara bunga-bunga itu dengan gerakan kaku. Dan ia menikmati keharumannya selama waktu yang dibutuhkan untuk menuju balkon. Begitu tiba di sana, dia keluar dan menjatuhkan bunga itu di atas lantai balkon. Farah tampak menganga melihat tindakan gadis itu.


Kemudian Shanum masuk kembali ke dalam ruangan. Farah berdecak, namun tidak mengatakan apa-apa. Walaupun membuang bunga yang sangat cantik membuat Shanum sedih, tetapi merobek kertas pesan itu yang menghabisinya.


Dia masuk ke dalam kamar dan membuka tutup tempat sampah di dekat pintu, lalu membuang kertas tersebut ke dalamnya tanpa membacanya. "Maafkan aku," bisiknya kepada dirinya sendiri.


"Tulisan di kartu itu sama dengan tulisan di buket yang pertama. Dan aku hanya ingin mengatakan, tulisan yang tertera di sana merupakan kata-kata klise. Hanya butuh waktu singkat untuk jatuh cinta, tapi hampir selamanya memaafkan luka." Farah mengendikkan bahunya. Shanum langsung menatap tempat sampah dengan pandangan tertegun, lalu dia segera tersadar dan menendangnya.


"Hei, apa salah tempat sampah itu. Mengapa kau menendangnya?" protes Farah. "Ada apa sih? Kalian berisik sekali." Diva berkata sambil merentangkan tangannya lalu menggosok-gosok matanya. Shanum menggigit bibirnya kemudian berderap keluar menuju ke balkon kembali.


Diva mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan Shanum?" tanyanya pada Farah yang berdiri di depan pintu kamar. Farah menggeleng. "Mungkin dia sedang mendapatkan tamu bulanannya," jawab Farah seadanya. Diva beringsut bangun dari tempat tidur. Dia menghampiri Farah, sambil sesekali melongok ke arah balkon. "Aku kok jadi bertambah bingung ya. Coba katakan yang benar dong."


"Sama aku juga bingung," jawab Farah. Diva mencubit bahu Farah. "Bukannya kau yang dari tadi ada di sini. Masa tidak tahu. Ayo katakan, jangan pura-pura dungu deh." Diva menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Issh, oke aku cerita." Farah mengusap bahunya sambil bersungut-sungut. Dia lalu menceritakan pada Diva tentang kedatangan buket bunga itu hingga respon Shanum terhadapnya.


"Kau yakin itu yang ditulis Khan?" Farah mengangguk. "Apa maksud pria itu? Jika kata-kata itu sindiran, wajar Shanum merasa kesal." Diva mengetuk bibir dengan telunjuknya, tampak berpikir.


"Kalau aku rasa dia tidak menyindir. Pria itu memang kaku, tapi tidak bodoh. Jika dia ingin membuat Shanum memaafkannya, untuk apa dia malah membuatnya tambah marah," sahut Farah.


"Em, benar juga. Mungkin maksudnya..." Diva menoleh dan menatap Farah dengan ekspresi kaget. "Apa ?" tanya Farah penasaran. "Masa kau tidak mengerti. Biasanya aku di sini yang paling L**emot." Farah mendengus, secara tidak langsung Diva menyindirnya.


"Astaga, begitu saja kok tidak tahu. Maksud Khan itu, butuh waktu singkat baginya untuk jatuh cinta pada Shanum, dan saat pria itu membuat kesalahan Shanum tidak kunjung memaafkannya. Jadi dia minta maaf." Diva menjelaskan sambil tersenyum sumringah.


Wajah Farah terlihat cerah. "Betul juga ya. Wow kau ternyata pintar juga. Kalau begitu aku akan infokan hal ini ke Shanum." Diva sontak menarik baju Farah. "Eits...tunggu sebentar. Biarkan saja dia sendiri dulu. Aku rasa, dia perlu waktu untuk menelaahnya."


Farah menghembuskan napasnya. "Oke, kalau begitu aku mau mendengarkan musik dulu dari ponselku," kata Farah. Gadis itu berjalan menuju ranjang sambil sebelumnya mengambil ponsel di meja rias. "Ya, aku juga mau mandi dulu." Diva langsung bergegas menuju ke kamar mandi.


"Diva mana?" Shanum menepuk bahu Farah. Gadis itu menoleh dan melepas earphone di telinganya. "Ya?" tanya Farah. "Diva mana?" tanya Shanum lagi. "Oo, dia di kamar mandi." Farah menunjuk ke kamar mandi. Shanum melihat ke arah yang ditunjukkan Farah dan melihat Diva muncul dari balik pintu kamar mandi.


Diva tersenyum melihat tatapan Shanum yang terarah padanya. "Kau mau memakai kamar mandinya, Sha?" Shanum menganggukkan kepalanya lalu menuju Diva. "Setelah mandi, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Diva dan Farah saling tatap dalam diam. Shanum tidak menunggu jawaban mereka, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Shanum selesai mandi, dia mendengar suara percakapan di ruang duduk. Dia mengintip dari balik pintu kamar dan menemukan Ula sedang berbicara sambil tertawa dengan kedua sahabatnya. Wajah pria itu sudah terlihat lebih baik. Meski masih ada sedikit luka samar di pelipisnya.


"Hai Ula, bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Shanum sambil tersenyum manis. "Aku baik." Ula terlihat gugup. Dan hal itu tampak jelas dilihat oleh ketiga gadis itu. Alis Shanum melengkung ke atas. "Ada apa Ula?" tanyanya. Ula menarik napasnya lalu mengusap wajahnya. Kini dia terlihat lebih tenang dan menatap Shanum sangat dalam. Shanum menjadi gelisah ditatap sedalam itu. Dia menelan ludahnya.


"Em, maaf jika aku lancang." Terdapat jeda. Lalu Ula kembali menatap Shanum dan berdeham. "Bolehkah aku tahu sejak kapan kau memiliki tanda di telapak tanganmu itu?" Shanum mengerutkan keningnya. "Mengapa kau ingin tahu?" tanyanya balik.


Ula lalu bangkit dari duduknya. Dia menghampiri jendela di ruang duduk itu. Sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke kantong celananya, dia berkata, "Aku sedang mencari-cari orang yang memiliki tanda yang sama dengan milikmu itu." Shanum tertegun. "Maksudmu Sarnai?" Ula menoleh. "Bagaimana kau tahu?"


"Kau memanggilku dengan nama wanita itu saat di tanggul," jawab Shanum. "Ah, iya, saat itu." Ula lalu kembali ke sofa. Dia menghampiri Shanum dan menarik tangan gadis itu. Shanum terkesiap. "Tolong aku Shanum. Kau memiliki tanda yang sama dengan adikku." Ula menggenggam erat tangan Shanum. Gadis itu terpana.


"Sebentar, jadi wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruk Shanum itu keluargamu?" tanya Diva tak percaya. "Ya, sepertinya dunia ini sempit sekali," timpal Farah. Ula mengerutkan keningnya. "Kau memimpikan adikku, Shanum?" Ula melepaskan genggaman tangannya. Dia mengacak rambutnya.


Gadis itu lalu menceritakan semua mimpinya tentang Sarnai. Termasuk mimpinya yang terakhir. "Aku tidak mengerti. Jika Sarnai masih hidup, siapakah dirimu? Kau memiliki tanda lahir yang sama dengannya. Apa kau memiliki kekuatan untuk melihat masa depan? Karena Sarnai merupakan peramal yang hebat di masanya."


Shanum meneguk salivanya dan Ula menatap terperangah ke arahnya. "Kau memilikinya ya?" Gadis itu menganggukkan kepalanya. Kemudian ketukan di pintu memotong ketegangan yang terjadi di ruangan itu. Diva berjalan menuju pintu dan membukanya. Dia tertegun melihat sosok yang berada di balik pintu.


"Siapa, Diva?" tanya Shanum. Gadis itu tidak bisa menjawab. Suaranya tercekat di tenggorokannya. Sergei menatap lembut ke arah Diva. "Hai Luna. Aku merindukanmu." Mendengar kata-kata manis Sergei, Diva tersadar. Dia mendengus dan hendak menutup pintu di depan wajah pria itu.


Sergei langsung menahan daun pintu agar tidak tertutup. "Biarkan aku masuk. Aku harus berbicara dengan kalian. Ini soal kepulangan kalian."


"Biarkan dia masuk, Diva." Shanum yang merasa penasaran akhirnya mendekat ke arah pintu. Diva melengos, lalu menghentakkan kakinya. Gadis itu melangkah ke arah sofa dan kembali duduk.


Sergei masuk ke ruang duduk itu sambil tersenyum manis. Dia menyapa semuanya, dan berkenalan dengan Ula. "Jadi apa yang mau kau katakan?" tanya Shanum.


"Begini Sha, aku menawarkan diri untuk mengantarkan kalian pulang ke negara kalian." Shanum memicingkan matanya. Dia curiga dengan maksud pria ini. "Bagaimana kau tahu kami cemas soal kepulangan kami?" tanyanya.


"Aku ini seorang pelacak terkenal tahu. Jadi tidak ada satu pun yang terlewat untukku. Dan aku selalu memantau keadaan kalian."


"Maksudmu memata-matai begitu," sindir Farah sambil mencibir. Sergei menghembuskan napadnya. "Dengar. Aku minta maaf jika kalian merasa tidak nyaman dengan tingkahku. Tapi jujur, aku melakukan ini hanya untuk menjaga Lunaku." Diva langsung loncat dari duduknya dan berderap menghampiri Sergei.


"Hentikan. Jangan pernah lagi menganggapku sebagai Luna atau siapa pun yang berarti untukmu." Diva tampak marah berbicara di hadapan Sergei. Dia menunjuk-nunjuk pria itu. Pria itu tampak sedih, namun dia langsung menutupi kesedihannya itu. Wajahnya kini tampak dingin tak terbaca.


"Oke, jika itu maumu." Sergei mengangguk. "Jadi sekarang kalian bersedia menerima bantuanku atau tidak. Jika tidak juga aku tidak keberatan. Semua bergantung pada kalian." Sergei menatap wajah Shanum. "Dan sekedar informasi, Khan sudah bersiaga menjaga seluruh bandara, terminal bus hingga pelabuhan. Semua titik di jaga olehnya. Bahkan pergerakan kalian di hotel ini juga dipantau. Kalau sudah begitu akan sulit kalian kembali ke negara kalian."


"Apa yang kau tawarkan?" tanya Shanum. Sergei tertawa pelan. "Mudah saja, yang penting kalian hanya perlu percaya padaku." Shanum menatap kedua sahabatnya. "Kalau aku akan ikut keputusan Shanum," kata Farah. "Aku juga," timpal Diva.

__ADS_1


Shanum menatap kembali pada Sergei. Dia mencoba mencari tanda-tanda yang tidak beres dari pria itu. Dia mencermati matanya, dan tidak menemukan hal yang buruk. Matanya memperlihatkan kesungguhan untuk menbantu. Alhasil, Shanum menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku setuju. Silahkan paparkan apa rencanamu?" Sergei tersenyum smirk lalu mengulurkan telapak tangannya. Shanum menatap tangan itu lalu tersenyum tipis, ia membalas uluran tangan pria itu. Mereka berjabat tangan dengan erat.


Sergei merencanakan mereka harus berangkat malam itu juga. Karena penjagaan malam hari lebih longgar daripada pagi atau siang hari. Sergei sudah mengatur barang-barang milik mereka di angkut terlebih dahulu dengan menggunakan mobil box barang yang menunggu di tempat khusus keluar-masuk barang untuk keperluan hotel.


Sedangkan mereka keluar tidak melewati lobby, namun naik ke rooftop hotel. Mereka akan keluar melewati jalur udara. Dan di sinilah mereka saat ini berada. Di puncak hotel. Sedang menatap Elang besar di hadapan mereka. "Astaga, aku tidak pernah tahu ada perwujudan Garuda di sini. Aku jadi ingin menghitung bulu di lehernya, apakah betul ada empat puluh lima helai," kata Diva terpesona.


Farah memutar bola matanya dan menepuk dahinya. Sedang Shanum tampak tersenyum geli. "Itu burung Elang bukan Garuda," sahut Farah. "Kau ingin mengusapnya, Luna?" tanya Sergei lembut. "Hello... bukannya kita harus segera berangkat." Farah mengingatkan pria itu sambil menunjuk jam tangannya.


"Sebentar, kita harus berkenalan terlebih dahulu. Ini Arra dan yang di sana itu pasangannya Arro. Mereka Elang sihir, dan akan mengantarkan kita sampai ke hanggar pesawatku berada tanpa terlihat."


Farah bersiul kagum. "Ayo kita segera naik, aku sudah tidak sabar," kata Farah. "Iya aku juga mau ikut naik." Diva menimpali ucapan Farah dengan antusias. "Kita berdua naik Arra, Luna. Dan Shanum dengan Farah naik Arro."


"Aku tidak mau berboncengan denganmu." Diva tampak cemberut sambil melengos. "Sudah, naik saja. Kita tidak perlu berdebat hal yang tidak perlu. Mau pulang tidak nih." Farah mencolek Diva. Lalu Shanum berpaling dan membisiki Diva.


Wajah Diva membeku, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya. Farah tampak mengerutkan keningnya, tapi tidak berkomentar apa pun. "Jadi bagaimana, Ladies?" tanya Sergei. "Ayo kita segera naik," ajak Shanum. Kemudian mereka naik ke punggung Arra dan Arro sesuai pembagian Sergei tadi.


"Aku merasa berada di surga, tolong cubit aku," celoteh Diva. Shanum menggeleng sementara ia berjalan mendahuluinya memasuki kabin utama pesawat jet pribadi Sergei. "Kau minta Sergei saja yang mencubitmu. Dia pasti sangat bahagia," sindir Farah. "Dia sudah memelukku erat tadi, jadi sudah menang banyak." Diva memutar bola matanya lalu bergerak menyusul Shanum.


Farah berhenti sejenak untuk memukul bahu Diva sambil tertawa, lalu melirik interior pesawat yang luar biasa mewah dan merasa takjub. Farah belum pernah melihat isi pesawat pribadi selama hidupnya, jadi pesawat ini luar biasa. Sedangkan Diva, wajahnya semakin terpesona.


Kabinnya luas, dengan lorong lebar di tengah-tengahnya. Warna-warnanya netral, dipertegas dengan warna coklat gelap dan biru muda. Kursi-kursi putar yang nyaman dan meja-meja diletakkan di sebelah kiri, sementara sebuah sofa diletakkan di sebelah kanan.


Setiap kursi memiliki perlengkapan hiburan di sampingnya. Shanum tahu ada kamar tidur di bagian belakang pesawat dan kamar mandi mewah untuk dua orang.


Seorang awak kabin mengambil ransel dari tangan ketiganya, lalu memberi isyarat kepada mereka agar duduk di salah satu rangkaian kursi yang memiliki meja. "Pesawat akan take off dalam waktu sepuluh menit," katanya. "Untuk sementara itu, apakah Anda ingin kuambilkan minum?"


"Air putih untukku." Shanum melirik jam tangannya. Saat itu baru jam dua belas lewat sedikit. "Kopi saja," kata Farah, "kalau kalian punya." Si awak kabin tersenyum. "Kami punya segalanya." "Kalau aku juga air putih saja." Diva tersenyum kepada awak kabin tersebut.


"Sstt, Diva... kalau kau tidak mau dengan Sergei, buatku saja," bisik Farah. Mata Diva membola, dia cemberut. "Dasar Matre, enak saja. Dia milikku."


"Kalau begitu kau tidak boleh melepasnya. Dia sangat kaya. Lupakan saja soal yang kemarin itu. Kulihat dia masih menginginkanmu." Farah tersenyum smirk pada Diva sambil bergerak-gerak bahagia di bangku empuk yang dia duduki.


Shanum terkekeh geli melihat tingkah kedua sahabatnya. "Kalian itu ya, sekarang mendadak akur membicarakan Sergei." Diva tersenyum malu sedang Farah terlihat mengangkat bahunya.


Shanum lalu mengamati Diva mengeluarkan obat mabuk udaranya dari saku dan menelan pil itu dengan bantuan air. "Mau?" tanyanya sambil mengetuk-ngetukkan bungkusan obat itu di atas meja. "Tidak. Terima kasih."


"Kau mau makan malam sebelum beristirahat?" tanya Farah.


"Tidak yakin. Aku mungkin akan membaca," sahut Shanum. "Kalau aku mau tidur saja, perjalanan udara sering membuatku mual."


Shanum dan Farah mengangguk. "Mungkin lebih baik aku saja yang akan makan," gumam Farah.


Tiga puluh menit kemudian, Diva mendengkur lirih di kursinya yang diturunkan, telinganya ditutup headphone. Shanum mengamatinya untuk waktu yang lama, menikmati pemandangan dirinya yang terlihat tenang dan santai, lekukan halus di sekitar mulutnya melembut dalam tidur.


Shanum tersenyum, akhirnya mereka kembali pulang. "Dia tidur?" Sergei menatap Diva dengan lembut. "Ya, Diva sering mabuk udara." Sergei mengerutkan keningnya sambil membetulkan letak selimut Diva. Pria itu mengusap pipi gadis itu. "Tadi saat naik Arra dia terlihat baik-baik saja." "Mungkin karena ada kau di sana. Jadi mabuk udaranya menghilang," ledek Shanum. Sergei tersenyum sumringah.


"Apa kau akan kembali lagi ke Astrakhan setelah mengantarkan kami." Shanum mengambil air putihnya dan meneguknya. "Aku tidak tahu." Sergei menarik tangan Diva dan mengecupnya. Shanum termenung, melihat perlakuan Sergei terhadap Diva hatinya terasa sesak. Dia jadi kembali teringat Khan. Shanum menghembuskan napasnya.


"Shanum, aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Tapi tolong pikirkan baik-baik, pria itu tidak main-main denganmu. Meski terkadang cara kami para pria salah dalam mengambil keputusan. Tapi semua kekacauan yang akan timbul tidak pernah terlintas di pikiran kami. Apalagi kalau kami harus sampai menyakiti orang yang sangat berarti bagi kami." Sergei tersenyum, lalu dia mulai menunduk dan akan meraup tubuh Diva. Sergei mengangkat Diva ke pelukannya begitu mudah.


"Aku akan membawanya ke kamar di belakang. Jika kau dan Farah mau beristirahat, silahkan pakai saja." Pria itu mengatur letak tubuh Diva dalam gendongannya. "Terima kasih, Sergei. Untuk semuanya," ucap Shanum. Sergei mengangguk, ia mulai melangkah menuju kamar di sisi belakang pesawat, sambil membawa Diva dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2