Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 25 Melihat Masa Depan


__ADS_3

Khan menatap gelas berisi air di tangannya dengan pandangan kosong. Matanya mungkin terlihat mengamati pantulan wajahnya di dalam gelas, namun pikirannya tidak begitu. Pikirannya sedang berkelana di tempat lain.


Khan sedang mengingat kembali kejadian di ruang kerja tadi. Setelah mengatakan dan menunjukkan hal yang mengesankan bagi semua orang yang berada di sana, Shanum terkulai lemas, dan langsung ditangkap oleh Khan. Gadis itu menjadi tak sadarkan diri, akibat kekuatan yang keluar begitu hebat dari tubuhnya.


Khan membawa Shanum dalam pelukannya. Di depan pintu ruang kerja sudah menunggu segerombolan orang. Kedua sahabat Shanum, Taban, Dario, dan tim keamanan di mansion itu. Mereka melihat dengan pandangan ingin tahu dan khawatir, namun tidak berani mengucapkan satu patah kata pun saat melihat wajah menyeramkan Khan. Pria itu melewati tatapan ingin tahu mereka, tetap fokus berjalan sambil menggendong Shanum menuju kamar gadis itu.


Kini Khan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Shanum masih belum sadar. Dia ingat ucapan gadis itu tentang penyerangan mansion ini. Khan percaya kepada Shanum, gadis itu tidak mungkin berdusta. Namun keadaannya yang kunjung tak sadarkan dirilah, yang membuat Khan cemas.


Mendadak terdengar suara ketukan di pintu. "Masuk," jawab Khan. Pintu di buka, lalu muncul sosok wajah Farah dan Diva. Kedua gadis itu tampak bimbang. "Boleh kami masuk untuk melihatnya, Sir?" tanya Farah. Khan menganggukkan kepalanya dengan pandangan datar. "Terima kasih," ucap keduanya. Mereka lalu menuju ke samping tempat tidur. "Astaga, Sha... Apa yang terjadi padamu?" ucap Diva pelan.


"Dia tak sadarkan diri setelah mengeluarkan kekuatannya," ungkap Khan. "Apa dia tidak apa-apa, Sir?" tanya Farah. "Semoga saja dia baik-baik saja." Pria itu berkata sambil menatap dalam ke arah Shanum.


Kemudian terdengar suara rintihan. Khan langsung melesat ke arah tempat tidur. Farah dan Diva yang sedang berada di sana bergerak menyingkir. "Shasha." Pria itu naik ke atas tempat tidur dan mendekati Shanum. "Hei, kau tidak apa-apa. Apa yang kau rasakan?" bisiknya lembut. Khan merangkul bahu Shanum. Pria itu tidak peduli bahwa ada yang menonton adegan tersebut.


Shanum menoleh, menatap kebahagiaan dan kekhawatiran bersinar di mata Khan yang luar biasa. Pria itu langsung menyelipkan tangannya ke rambut Shanum dan mengusapnya. Khan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Shanum. "Aku tidak apa-apa." Gadis itu tersenyum lemah. "Kau membuat usiaku terus berkurang, Shasha."


Rasa geli menghangatkan wajah Shanum. "Nanti usiamu habis karena diriku, Adri. Tidak perlu khawatir, aku ini kuat," bisik Shanum. Lalu mereka tidak berkata-kata lagi. Cukup lama mereka hanya saling memandang dan bertukar napas. Khan tampak hanya menghirup aroma Shanum dalam-dalam ke paru-parunya, membiarkannya tetap di sana. Sementara jemari Shanum menggenggam erat kemeja Khan.


Hati Shanum menghangat saat melihat Khan kacau karena dirinya. Seolah pria di hadapannya ini memiliki perasaan yang sangat dalam dengannya. "Saat kau jatuh tak sadarkan diri, aku pikir..." Rasa takut yang nyata menyelubungi mata Khan, bahkan saat ibu jarinya terus mengelus bahu Shanum, lembut dan stabil.


Kemudian dia melanjutkan kata-katanya. "Aku melihat cahaya itu meledak dari tubuhmu, dan kau menutup matamu. Aku berusaha untuk menerjang cahaya tersebut. Tapi aku tidak bisa menembusnya, aku terus terpental. Aku tidak bisa--tidak bisa meraihmu--" Suara Khan menusuk perut Shanum. Tangan Khan menegang di bahu Shanum, seolah ia menunjukkan pada Shanum betapa paniknya dia saat itu.


"Aku ditarik ke suatu tempat untuk bertemu seseorang," sahut Shanum, menaruh sebelah tangannya di lengan Khan. Otot-ototnya yang keras bergerak dalam sentuhannya. Khan mengangkat alis. "Aku bertemu seorang wanita. Dia mengatakan bahwa aku adalah keturunannya. Wanita itu penerus kekuatan terakhir sebelum aku. Aku memiliki keterkaitan dengan Klan Batbayar. Wanita itu tidak pernah berani menggunakan sihirnya. Karena hingga akhir hayatnya dia hidup dalam persembunyian."


"Jadi kau memiliki garis darah yang sama dengan Sang Ratu Klan Batbayar?" tanya pria itu. Shanum menganggukkan kepalanya. "Mengapa leluhurmu bersembunyi?" tanyanya lagi. "Dia takut ada yang menyadari sihirnya, dan melaporkan pada Sang Ratu. Selain itu, wanita pada zaman itu tidak sebebas sekarang. Di tempat asalnya adalah zaman perang, situasinya tidak mendukung untuk menonjolkan diri. Dia menyimpan pesannya dalam mantra ikatan darah. Mantra itu akan muncul jika ada keturunannya yang mewarisi kekuatan ini."


"Apalagi pesannya padamu?" Shanum tersenyum tipis lalu berkata, "Bahwa aku harus menghindar atau membunuh Ratu Klan Batbayar. Jika tidak maka aku yang akan dibunuh olehnya. Ratu itu telah membunuh kakaknya dan seluruh keturunan generasi pertama dari kakaknya. Dia tidak menyadari bahwa masih ada keturunan lain dari kakaknya itu yang berhasil melarikan diri. Aku adalah keturunan ketiga dari kakak Sang Ratu yang mewarisi kekuatan ini."

__ADS_1


Alis Khan kembali terangkat. "Mengapa dia ingin membunuhmu? Dan bagaimana kau tahu dia akan menyerang mansion ini?" "Tidak ada yang pernah tahu alasannya. Pesan dari mantra ikatan darah hanya itu. Jika aku ingin mengetahuinya, berarti aku harus menanyakan langsung ke Ratu itu." Kata-kata Shanum terjeda--


"Dan tentang penyerangan terhadap mansion ini, aku tiba-tiba berpindah lokasi setelah bertemu leluhurku itu. Aku melihat wajah wanita tua yang sudah menyerangku itu berada di halaman mansion ini bersama dengan sejumlah pria. Jadi aku menyimpulkan bahwa akan ada penyerangan terhadap mansion ini, karena mereka berjalan sambil mengendap-endap dan bergerak mencurigakan," sambungnya sambil mengangkat bahu.


"Berarti kau juga bisa melihat masa depan," ucap Khan terpana. Senyuman tersungging di bibir Shanum. Kemudian terdengar suara bersin, gadis itu lantas mendorong badan Khan. Shanum mendongakkan kepalanya, dan matanya terbelalak, baru menyadari bahwa sejak tadi mereka memiliki penonton. Kedua sahabatnya sedang duduk manis di bangku di pojok ruangan.


Farah menatap Shanum sambil tersenyum smirk dan Diva terlihat meringis. "Diva... Farah, kalian ada di sini. Sejak kapan?" tanya Shanum. "Mereka memang sudah ada di sini untuk melihat keadaanmu sejak tadi," timpal Khan.


"Kenapa tidak bilang?" Shanum melotot ke arah Khan. "Aku juga tidak ingat. Yang kupedulikan hanya dirimu," jawab Khan tersenyum tipis. "Tidak perlu merayuku. Aku tetap saja kesal kepadamu." Shanum melipat tangannya di depan dada sambil cemberut. Khan terlihat gelagapan mendengar kata-kata gadis itu. "Tapi aku..." ucapan Khan terputus.


"Kami tidak apa-apa kok, Sha," potong Diva. "Iya, aku malah senang melihatnya, jarang-jarang melihat Tuan Kulkas bersikap romantis," celetuk Farah. Diva langsung menyikut Farah saat mendengar ucapan sahabatnya itu. Sedang Farah hanya memutar bola matanya. "Anggap saja kami tidak ada di sini, silahkan dilanjutkan," lanjut Farah.


Khan merapatkan rahangnya, pandangannya dingin menatap kedua gadis itu. Diva langsung gugup, namun Farah menantang pria itu dengan tatapan sengitnya. "Adri, please!" desis Shanum. "Aku tidak melakukan apa-apa," elak Khan. "Jangan berkelit, aku tahu tatapan itu." Shanum melihat dengan pandangan tajam.


Khan mendesah. "Maafkan aku," ucap Khan pelan. Pria itu lalu menarik Shanum mendekat, dan menyandarkan dagunya di atas kepala Shanum. "Aku sudah terbiasa bersikap demikian. Aku hanya memikirkanmu hingga lupa segalanya." Terpikir olehnya untuk menanyakan perasaan pria itu, tapi gadis itu mengurungkannya, selagi bernapas dalam pelukan Khan, merasakan kehangatannya... Biarkan pertanyaan itu menunggu. Lagipula di sini ada Farah dan Diva, tidak mungkin ia bertanya di hadapan mereka.


Shanum tersadar, "Astaga, Adri. Jangan begitu, ada Diva dan Farah. Kau pamer kemesraan lagi di hadapan mereka." Wajah Shanum terbakar karena malu, merahnya menyebar hingga ke telinganya. Khan menggigit jari Shanum dengan nakal. "Melihat wajahmu yang memerah itu, aku jadi ingin memakanmu." Shanum tersedak.


"Farah..." panggil Diva lagi. Farah menoleh ke arah Diva sambil berkata, "Sebentar Diva, ada yang ingin aku tanyakan pada Shanum." Farah lalu melihat ke arah Shanum. "Saat mansion ini diserang, di mana posisi kami? Karena tidak mungkin aku dan Diva ikut melawan. Kami tidak punya sihir."


Shanum menatap Khan sambil mengangkat alisnya. Dia memberikan kode pada pria itu untuk menjawab pertanyaan Farah. Ketiga gadis itu melihat ke arah Khan. Khan tampak memikirkan hal yang harus dikatakannya. "Kalian berdua boleh memilih keluar dari mansion ini, untuk pindah ke tempat yang aman atau tetap di mansion tapi bersembunyi di tempat yang sudah disiapkan olehku."


Farah dan Diva saling menatap. Lalu Shanum melihat Diva berbisik di telinga Farah. Gadis itu menjawab dengan pelan. Keduanya sesaat berdiskusi dengan suara pelan. Sepertinya mereka sedang mencari pilihan yang tepat dari dua solusi yang diberikan Khan. Lalu setelah beberapa saat berlalu, keduanya menghadap ke arah Khan.


"Sebaiknya kami keluar saja dari mansion," putus Diva. "Bagaimana Farah?" tanya Shanum. Farah menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan jawaban Diva.


"Kalau begitu, sebaiknya kalian segera berangkat. Karena aku tidak dapat memastikan kapan musuh menyerang," kata Khan sambil menatap keduanya. Mereka menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Aku akan mencari Taban untuk mengantar kalian. Dan Shasha, nanti aku kembali." Khan lalu bergerak cepat menuju pintu, dan keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Kami pamit ya, Sha. Jaga dirimu baik-baik." Diva menghampiri Shanum dan memeluknya. "Aku ingin nanti saat kita bertemu lagi kau masih utuh, Sha," ucap Farah sambil bergerak untuk memeluk Shanum bergantian dengan Diva. "Huss, kalau bicara itu jangan yang horor begitu sih." Diva terlihat meringis ngeri.


"Sudah, jangan berpikir yang menyeramkan. Aku punya bala bantuan, ingat. Dan punya Super Hero andalan," sahut Shanum sambil tersenyum smirk. "Aku yakin sekali, Super Hero itu pasti akan selalu melekat denganmu bagaikan bayangan kedua," ucap Farah. Shanum terkekeh geli mendengar kalimat Farah. Setelah itu Diva memegang tangan Farah dan berkata, "Shanum maaf ya, kami harus segera pergi. Masih harus mempersiapkan pakaian untuk kami bawa. Ayo Farah." Diva langsung menarik Farah menuju pintu untuk keluar dari kamar itu.


Sementara itu Khan mencari Taban. Namun di tengah perjalanannya dia melihat Dario datang tergopoh-gopoh. "Sir..." Pria itu tampak terengah-engah, seperti habis berlari. Khan mengerutkan keningnya. "Aku tadi melihat ada orang asing yang menerobos pelindung kita. Dia berhasil melarikan diri, saat aku berusaha menangkapnya. Aku langsung berlari menuju kemari untuk melapor padamu."


Khan mengetatkan rahangnya, telapak tangannya mengepal erat. Wajahnya tampak marah. Ternyata penyerangan itu akan segera terjadi. "Segera persiapkan kondisi darurat. Akan ada penyerangan. Kita harus bersiap-siap menyambut mereka. Segera ungsikan orang-orang yang rentan ke ruang persembunyian khusus kita," perintah Khan.


Dario tampak terperangah. "Akan ada penyerangan! Siapa yang berani mencari masalah dengan kita?" Khan menatap tajam pada Dario. "Aku harap kau bisa membawa diri, yang datang menyerang kita adalah Chinua." Dario tersentak, wajahnya memucat. Matanya tampak kelam. "Dan tolong cari Taban, sepertinya kedua gadis sahabat Shanum itu tidak bisa keluar dari mansion ini. Bawa mereka bersama rombongan yang rentan." Dario menganggukkan kepalanya lalu memberi hormat dan pergi dari hadapan Khan.


Khan teringat pada Shanum, dia langsung bergegas menuju kamar gadis itu. Sesampainya di kamar, Khan menghembuskan napas lega. Gadis itu terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. "Ada apa? Mengapa wajahmu tampak panik?" tanya Shanum. "Sudah terlihat penyusup di lingkungan mansion. Invasi akan segera di mulai. Aku tidak sempat menyuruh Taban mengeluarkan Diva dan Farah. Jadi mereka harus ikut ke tempat persembunyian khusus."


Wajah Shanum memucat, dia mengigit bibirnya. "Apakah tempat itu aman?" "Jangan khawatir, tempat itu sudah melindungi kami dari bahaya selama ratusan tahun." Khan meyakinkan Shanum. "Kalau begitu, kita harus bergegas mencari keduanya." Shanum segera mencari sepatunya dan memakainya. Ia lalu bergerak mengikuti langkah Khan menuju kamar kedua sahabatnya.


Kedua sahabat Shanum ternyata sudah bersiap keluar dari kamar. Mereka kaget saat dijelaskan oleh Shanum bahwa saat ini keduanya tidak bisa keluar dari mansion itu. Karena musuh sudah terlihat bergerilya di sekitar mansion. Mereka terpaksa harus ikut mengungsi ke tempat perlindungan yang telah disiapkan oleh Khan. Dengan sangat terpaksa mereka pasrah mengikuti perintah Khan untuk pergi ke tempat perlindungan.


Di tengah jalan menuju tempat perlindungan, mereka dicegat oleh Taban. "Sir, mereka sudah berdatangan menggunakan portal." "Berarti sihir perlindunganku sudah berhasil ditembus seluruhnya," desis Khan.


Pria itu lalu memejamkan matanya dan perlahan sinar berwarna merah keluar dari tubuhnya. Mata Khan terbuka, sinar keemasan pekat terlihat memancar di matanya. Pria itu mengucapkan sesuatu dari bibirnya dalam bahasa yang tidak dimengerti sambil membentuk pola dengan jarinya di udara. Pola itu begitu rumit, namun bercahaya dan dapat dilihat oleh mata telanjang.


Khan menghentikan kata-katanya dan pola cahaya tersebut menghilang dari udara. Pria itu lalu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba Khan tersentak ke belakang. "Brengsek, ada yang membalik mantraku." Khan lalu mencoba lagi melukis pola tersebut di udara sambil merapal mantra.


"Yang Agung, Sang Ratu sudah mengambil alih perlindungan sihir di mansion ini. Satu-satunya cara adalah kau harus melawannya." Sergei mendadak muncul dan berdiri di hadapan mereka. Khan berhenti melakukan sihirnya dan menoleh ke arah Sergei. "Maksudmu wanita itu berhasil meruntuhkan keseluruhan mantraku?" tanya Khan geram. Sergei menganggukkan kepalanya, lalu pria itu mengendus udara dan mengangkat salah satu tangannya ke atas. Sinar berwarna biru melesat naik ke langit-langit ruangan kemudian menyebar memenuhinya.


Diva tampak terperangah melihat pertunjukkan itu. Sedang Farah mengerutkan dahinya, gadis itu memandang Sergei dengan lekat. "Ternyata dia menipumu, Diva." Gadis itu menoleh ke arah Farah sambil tersenyum getir. "Dia bukan menipu, tapi belum sempat mengatakan yang sebenarnya," koreksi Shanum. "Itu bukan tuduhan, tapi kenyataan," Farah berkata sambil melipat tangannya di depan dada.


"Dia sudah berada di tanah ini, Yang Agung," terdengar kembali suara Sergei. "Taban, bawa kedua sahabat Shanum ke tempat perlindungan," perintah Khan. "Dan kau Sergei ikuti Taban," lanjutnya. "Tidak, kami pergi dengan Taban saja. Tidak perlu dia ikut mengantar kami," sahut Diva kaku. Dia menatap Sergei dengan dingin. Sergei tersenyum kecut.

__ADS_1


Diva lalu berjalan melewati Sergei, hanya untuk dihentikan oleh pria itu. "Kumohon, Luna, kau harus mendengarkanku. Aku bisa menjelaskan semuanya." Diva kembali menatap mata biru yang memikat itu dan bertanya-tanya apakah perhatian Sergei selama ini juga bagian dari tipu dayanya. Diva menggelengkan kepala kepada Sergei. "Tolong jangan temui aku lagi," ujar Diva lirih. Wajah Sergei memucat, dia hampir tidak dapat bernapas karena berbagai emosi yang berperang di dalam dirinya.


"Bawa mereka segera, Taban," perintah Khan lagi. Lalu ketiganya pergi meninggalkan ruangan itu. Shanum perlahan mendekati Sergei. "Berikan Diva waktu untuk mencernanya, Sergei. Walau bagaimanapun hal ini cukup sulit untuknya," ungkap Shanum. Sergei menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kaku. "Ayo, Shasha. Masih banyak yang harus kita lakukan." Khan menarik Shanum menjauh dari Sergei dan bergerak meninggalkan pria itu dengan perasaan nelangsa yang mengisi jiwanya.


__ADS_2