Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 71 Klan Bataar


__ADS_3

Sofia muncul di Samarkand saat matahari sudah tenggelam ke balik rumah-rumah yang berjajar di sebelah barat kota, warna bayangan langit yang memerah lembayung menyentuh sudut-sudut tanah.


Senyum masih terlihat di bibirnya saat ini. Dia tergelak geli, mengingat wajah pria kekasih Shanum tadi, yang ekspresinya semakin dingin membeku, ketika ia menyindirnya secara terang-terangan.


Pria itu tampan, namun sayang minim ekspresi. Terkecuali satu saat, ketika Shanum terlihat kesal padanya, karena ia tidak mengungkapkan padanya soal ramalan yang sudah ratusan tahun diketahui oleh seluruh klan.


Hanya ketika itu Sofia terkesima, dengan ungkapan pria itu soal isi hatinya terhadap Shanum. Meski tetap saja sih, ekspresi dingin itu terlihat tidak cocok bersanding dengan kata-kata manisnya. Ucapannya akan menjadi dambaan setiap wanita, yang memiliki pujaan hati.


Sofia melangkah menuju sebuah bangunan yang merupakan town house milik keluarganya. Masuk ke dalam rumah dan berjalan ke tangga yang akan membawanya ke kamar.


Saat perjalanan menuju kamar, ia sempat berpapasan dengan Elan, Kepala Pelayan di rumah itu. Sofia memintanya untuk menyiapkan makan malam lebih cepat di ruang makan untuknya. Perutnya sudah bergemuruh sejak tadi karena lapar. Namun tetap saja, ia perlu membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum mengisi perut.


Sebelum memasuki portal ia sudah memerintahkan anggota kelompoknya untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka semua perlu beristirahat, mengembalikan stamina yang sudah terkuras dalam pertarungan tadi.


Dia menunda laporan hasil tugasnya menjadi esok hari karena ia juga perlu beristirahat. Walaupun Shanum sudah menyembuhkan luka-lukanya, tubuhnya masih terasa letih karena terlalu banyak mengeluarkan sihirnya dalam pertarungan.


Sofia bergegas menuju kamar mandi. Ia merindukan berendam di bathtub selama tiga puluh menit untuk melepaskan penat yang ia rasakan.


Setelah selesai berendam dan membersihkan diri, Sofia menuju ruang makan. Di meja makan sudah tersedia berbagai menu makanan kesukaannya. Ketika ia sedang mencoba memindahkan salah satu makanan ke dalam piringnya, seseorang menyapanya.


"Kau sudah kembali, Sofia." Wanita itu mendengar suara milik Cenaiya, adik tirinya di sampingnya. Sofia melirik dan menjawab, "Ya, aku sudah kembali." Dia menjatuhkan diri ke kursi sementara Kara duduk di salah satu kursi.


"Bagaimana tugasmu kali ini? Apakah kau berhasil membunuh gadis itu?" tanya Cenaiya ingin tahu. Sofia mengerutkan dahinya. Dia heran adiknya itu mengetahui soal penugasannya. Tidak biasanya Cenaiya ikut campur soal tugasnya.


"Apa yang kau ketahui? Dan dari mana kau tahu?" Sofia memicingkan matanya. "Oh, aku tahu dari Shogei. Dia kan termasuk tangan kanan Yang Agung. Jadi dia pasti tahu," jawab Cenaiya sembari menyeruput minumannya.


Sofia mendengus. "Masih saja kau berhubungan dengan pria plin-plan itu. Tidak cukupkah selama ini dia menggantung hubungan kalian, dan menyakitimu."


"Aku tidak bisa, Kak. Dia segalanya untukku. Aku sudah mencintainya sejak kecil." Cenaiya tersenyum terpaksa.


Sofia hanya menatap adiknya itu dengan pandangan kasihan. Jika mencintai seseorang akan menyakiti diri sendiri seperti itu lebih baik ia tidak perlu merasakannya.


"Jadi, kau belum menjawabku tentang gadis itu. Apakah berhasil?" Adiknya itu bertanya kembali. Wajahnya masih berharap Sofia mau menceritakan kepadanya.


"Tidak." Sofia kembali menyantap makanannya. Ia tidak peduli mendapatkan reaksi tercengang dari adik tirinya itu.

__ADS_1


"Maksudmu?" Cenaiya mendekati Sofia. Ia berpindah tempat duduk guna mendapatkan jawaban yang membuatnya heran. Tidak biasanya Sofia gagal dalam tugas.


Ketika disadari kakaknya itu tidak merespon, dia mencolek pundaknya untuk mencari perhatiannya. "Kau keberatan jika aku mengetahuinya?"


"Ya, hal ini rahasia." Sofia mengambil gelas berisi air putih, lalu mengelap bibirnya dengan serbet yang sudah disediakan di meja. Dia bangkit dari duduknya, diperhatikan dengan seksama oleh Cenaiya. Wajah wanita itu masih terlihat penasaran, tapi dia tidak memaksa.


Dia mengerti Sofia memang pelit informasi. Lebih baik Cenaiya mencari jawabannya nanti saja dari Shogei, dan biasanya pria itu akan dengan senang hati mengatakan padanya.


Kemudian Sofia berjalan melalui pintu. Namun di tengah-tengah dia berhenti dan berkata, "Aku harap kau tidak bertanya dengan Shogei tentang hal ini. Aku hanya tidak mau kau terlibat, dan semua ini demi keselamatanmu juga."


Cenaiya mendesah kalah. "Jika Sofia sudah berkata seperti itu dia tentu saja tidak berani mencari informasi lebih jauh. Karena sudah pasti hal ini memang berbahaya dan rahasia."


Keesokan paginya, ketika sedang menyiapkan air untuk berendam, Sofia memikirkan rencana. Hari ini dia harus segera menghadap Yang Agung Klan Bataar. Dan yang dipikirkannya adalah bagaimana ia harus menghadapi kemarahan Sang Ratu, pasangan dari Yang Agungnya.


Wanita itu sejak awal sudah terobsesi untuk membunuh gadis itu. Dia tidak mau ada kesalahan atau kegagalan sedikitpun. Semuanya harus sesuai dengan perintahnya. Dan Sofia mencurigai wanita itu terobsesi karena masalah dendam masa lalu antara Klan Altan dan Klan Bataar.


Siapa yang tidak mengetahui peristiwa ratusan tahun yang lalu. Saat putri kesayangan dari Qacha--Sang Ratu, harus menelan pil pahit diusir dari Klan Altan, mengalami pembatalan pertunangan, dan menerima hukuman tidak boleh menginjakkan kaki kembali di wilayah Klan Altan. Setelah itu dia bertingkah seperti wanita gila hingga hari ini.


Ya, Zuunaa Sarangerel Sukhbataar tidak pernah pulih dari luka batin akibat putusnya pertunangan itu. Wanita itu sangat memuja Khan Adrian, hingga dia mendadak bisu, dan tidak mau keluar dari kamarnya selama ratusan tahun.


Selesai sarapan, Sofia bersiap menuju kediaman Yang Agung. Baru separuh jalan memasuki aula utama, terburu-buru menuju ruangan tempat pemimpin klannya itu biasa duduk mengerjakan tugas-tugas klan, ketika ia mendengar sebuah suara menegurnya dari arah belakang. "Kau sudah kembali Sofia."


Langkahnya terhenti dan ia membeku, lalu menoleh ke belakang. Qacha Gan Sukhbataar--Sang Ratu berdiri beberapa langkah darinya. Dipaksakan seluruh dirinya untuk tetap tenang. Dia berkata sesopan mungkin, "Ya, Your Majesty. Aku sudah kembali."


Matanya menyipit sekilas, tapi dia menampilkan ekspresi yang sepertinya bermaksud untuk tersenyum ramah. Mungkin wanita itu menyangka Sofia sudah berhasil membunuh gadis itu. "Ayo, kita harus segera berbicara," ucapnya penuh antusias.


Sang Ratu lalu melangkah dengan ringan di depan Sofia. Senyum terbit di bibirnya. Sofia yang melihat hal itu menelan ludahnya. Dia tidak berani memprediksi reaksi yang akan didapatkannya saat menjelaskan hasil dari tugasnya.


"Selamat datang kembali, Sofia," kata Yang Agung Klan Bataar--Batukhan Sukhbataar. Sofia berusaha menyembunyikan bahunya yang tegang, berusaha tersenyum sedikit. "Terima kasih, Yang Agung." Wanita itu menundukkan kepalanya dan memberikan hormat dengan menyilangkan sebelah tangan di dada.


"Bagaimana?" desak Sang Ratu. Sofia berdeham. "Sepertinya gadis itu bukanlah gadis dalam ramalan itu Your Majesty," kata Sofia sembari tersenyum gugup.


Qacha memicingkan matanya. Dia menatap ke arah Sofia dengan tajam. "Apa maksudmu itu Sofia, jelaskan?!


Sofia tidak langsung menjawab. Dia berusaha mengatur kata-katanya agar tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. "Gadis itu bukan kekasih Yang Agung Khan Adrian, Your Majesty. Dia sudah memiliki kekasih, dan aku sudah bertemu dengan kekasihnya itu," ungkap Sofia dengan ekspresi teguh.

__ADS_1


"Kau bilang kekasihnya bukan Khan Adrian," ucap Batukhan memastikan. "Bagaimana kau memastikannya?" Pertanyaan langsung ke intinya, tanpa basa-basi dari Yang Agung Klan Bataar itu.


Sofia menelan ludah. Mereka tahu Sofia belum pernah memiliki kekasih. Hidupnya dijalani hanya untuk tugas dan pengabdian. Jadi tidak salah jika mereka meragukan keahliannya dalam mendeteksi masalah percintaan. Tapi masa sih Sofia salah, orang bodoh juga tahu dari sikap, dan kata-kata pria itu bahwa dia adalah kekasih Shanum.


"Aku... minta maaf jika lancang." Sofia berkata sungguh-sungguh, ekspresi wajahnya terlihat serius. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sikap mereka saat berinteraksi dan juga kata-kata mereka. Bahkan pria itu bersedia mati menerjang pedang yang kuarahkan ke jantung gadis itu. Hingga ia terluka menggantikan gadis itu."


Sang Ratu menelengkan kepalanya. Dia menggeram marah dan berkata, "Kau sungguh bodoh. Bisa saja pria itu pengawalnya. Atau orang yang juga dekat dengannya."


"Tetapi... aku tidak mungkin salah--" ucap Sofia. Wanita itu merasakan getaran yang merayap di tulang punggungnya, ia masih yakin dirinya tidak mungkin salah menafsirkan hubungan mereka.


"Aku perintahkan kau ceritakan dari awal, semuanya!" desak Batukhan dengan nada suara kaku. Sofia merasakan darahnya memanas, secara pelan-pelan seluruh ruangan itu terasa mendidih bagaikan berada di dalam kawah gunung berapi.


Sofia berusaha menelan ludah, tapi kerongkongannya menutup. Dia terengah-engah seraya mengarahkan tatapannya ke pemimpinnya, dan berkata, "Yang Agung, aku tidak dapat bercerita jika kau mencekikku dengan kekuatan panasmu."


Saat Sofia selesai mengungkapkan keberatannya kepada pemimpin klannya, rasa panas itu menghilang ke luar ruangan, hawa sejuk mulai terasa kembali. Sofia menarik napas sebanyak-banyaknya. Kemudian dia mulai bercerita.


Kedua pasangan penguasa Klan Bataar itu saling bertatapan. Batukhan mengernyit. "Aku tidak menyangka kita bisa salah orang. Jika bukan dia, siapa gadis yang dicintai Khan Adrian sialan itu?"


Sang Ratu terdiam, merenung. "Aku mencium ada sesuatu yang salah di sini. Dan aku ingin kau tetap menyelidikinya Sofia." Wanita itu menatap tajam kepada Sofia, sambil sesekali mondar-mandir di ruangan itu. Sang Ratu tampaknya masih tidak bisa menerima informasi yang di bawa wanita itu. Dia mengepalkan tangannya, dengan wajah menahan amarah.


Entah bagaimana mulut Sofia berani mengeluarkan pendapatnya kembali. Dari sekian hal yang bisa dikatakan, dia mencerocos, "Aku tidak mau kembali ke tempat gadis itu. Karena menurutku hal itu adalah pekerjaan sia-sia. Mungkin saja gadis dalam ramalan itu bukan terjadi di masa kini, tetapi di masa lain di masa depan. Karena ramalan itu juga tidak menyebutkan angka pasti gadis itu akan muncul."


Sang Ratu terlihat melotot ke arah Sofia. "Oh jadi kau sudah mulai melawan perintah kami." Dia mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.


"Maaf, Your Majesty. Aku tidak akan menolak tugas yang diberikan kepadaku, asalkan tugas itu memang penting. Bukan hanya untuk memuaskan dendam kalian terhadap Yang Agung Khan Adrian. Ingatlah kita tidak bisa memulai benih-benih peperangan terhadapnya, karena kita akan mati konyol jika melawan mereka. Sejak mereka mengembargo kita ratusan tahun lalu, termasuk juga melarang klan lain untuk membantu kita. Kita masih terpuruk, Your Majesty. Banyak rakyat kita yang akhirnya pindah ke klan lain karena tidak sanggup bertahan." Sofia menatap tajam ke arah mereka.


"Meski sekarang keadaan sudah mulai membaik, apa kalian mau bertindak gegabah, dan mulai mencari masalah kembali? Dengan teganya menyengsarakan penduduk klan kita. Kalau kalian ingin mati konyol sendiri, silahkan! Tapi jangan bawa-bawa aku dan rakyat Klan Bataar!" Sofia lalu memberikan hormat dan permisi berlalu dari ruangan itu.


Kepalanya terasa berdenyut dan mulai panas menghadapi kedua orang yang seharusnya perilakunya bisa dijadikan panutan itu. Bukannya malah bertindak egois mementingkan diri sendiri.


Jika putrinya menjadi gila karena Khan Adrian, terus kenapa? Sudah jelas wanita itu bersalah ikut terlibat dalam pembunuhan ayahnya Khan Adrian, pemimpin Klan Altan saat itu. Walaupun tidak disengaja. Wanita itu dengan bodohnya tidak menyadari dirinya sudah dimanfaatkan oleh penjahat yang sebenarnya. Masih untung putrinya itu tidak di eksekusi mati. Meski menjadi gila juga sama saja sih, sama-sama mengenaskannya.


Sofia masih teringat ucapan Shanum tempo hari soal bersikap adil untuk tidak membunuh orang yang tidak bersalah hanya karena tuntutan tugas. Dia tidak mau melakukan hal itu. Sebenarnya dia juga mulai muak harus terlibat dengan dendam tak berkesudahan yang sudah jelas-jelas merugikan banyak orang itu.


Klan Bataar benar-benar mengalami keterpurukan saat terjadi peristiwa pembatalan pertunangan itu. Mereka menjadi terisolasi, miskin, kejahatan merajalela di mana-mana, dan mereka tidak bisa transaksi jual-beli dengan klan lain. Semua penduduk klan sengsara. Selama ratusan tahun mereka berusaha sendiri. Menanam bahan pangan, membuat industri sederhana untuk kebutuhan di dalam klan, dan bangkit perlahan dari keterpurukan itu.

__ADS_1


Setelah dua ratus tahun berlalu, baru Khan Adrian melunak dan perlahan mencabut embargonya. Mereka sudah mulai bisa berdagang dengan klan lain. Dan sekarang kedua pasangan itu ingin mengembalikan lagi mereka ke titik nol. Jangan harap Sofia akan diam, dan pasrah. Dia akan melawan hingga titik darah penghabisan, karena ia mencintai klannya. Dan tidak ingin pengalaman pahit masa lalu di Klan Bataar kembali terjadi.


__ADS_2