
Dimas tertegun. Dia sangat kaget mendengar ucapan putrinya itu. Bagaimana mungkin putrinya harus terikat dengan pria dingin, kaku dan arogan itu. Pria yang sudah berulang kali membuatnya menangis.
Putrinya yang malang.
Dimas masih meragukan ucapan putrinya itu tentang kehadiran cinta di antara mereka. Benarkah mereka saling mencintai tanpa terpaksa, bukan karena adanya sihir ikatan itu?
Dimas menoleh, saat ia merasakan tarikan pada bahunya. Raisa, istrinya itu tersenyum, lalu memberikan isyarat untuk melihat kembali ke arah putrinya. Setelah tadi ia sempat teralihkan, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dimas melihat putrinya sudah berdiri di sebelah Khan. Princessnya itu menatap Khan dengan lembut. Begitu juga dengan ekspresi pria berengsek itu. Pancaran matanya tampak tergila-gila kepada putrinya. Khan merangkul pinggang putrinya dengan erat, seolah takut putrinya itu akan pergi meninggalkannya.
"Mereka saling mencintai. Kau tidak perlu meragukannya lagi. Aku sudah pernah melihat interaksi mereka saat di rumah kita. Sayangnya selama ini matamu terlalu buta untuk melihatnya, Mas," bisik Raisa di telinga Dimas.
Mendengar ucapan istrinya, Dimas mendadak merasa lemas. Berarti selama ini dia sudah berasumsi yang salah, dan bersikap egois. Padahal putrinya sangat mendambakan pria itu.
Dimas berdeham. "Tentu saja tidak ada seorang Ayah pun yang ingin melihat putrinya tersiksa. Jadi, jika memang itu adalah pilihanmu, Ayah hanya bisa mendukung."
Senyum bahagia langsung terbit di wajah Shanum. "Terima kasih, Ayah. Kau memang Ayah terhebat." Gadis itu memeluk Khan dengan erat dan dibalas oleh pria itu.
"Kok pria itu yang dipeluk, bukannya Ayah," protes Dimas kepada Shanum. Wajah Dimas terlihat sedih. Kemudian ia merentangkan tangannya ke depan. Memberikan isyarat ingin memeluk Shanum.
Shanum langsung tertawa cekikikan, dia melepaskan pelukannya dari Khan dan menghampiri Ayahnya. Gadis itu masuk ke dalam rentangan tangan pria itu, ia memeluk ayahnya dengan erat.
Shanum merasa sangat beruntung memiliki orang tua yang sangat penyayang dan pengertian. Ayahnya, meski sangat cerewet dan tegas, tapi begitu memperhatikannya. Dan ibunya, adalah seorang wanita yang lembut dan penyabar. Keduanya berkolaborasi mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang.
Dimas meregangkan pelukannya. "Kau juga harus memeluk Ibumu. Dia yang sudah membuka mata Ayah barusan. Sepertinya Ibumu sangat senang mendapatkan menantu yang berkuasa dan kaya raya."
Raisa memutar bola matanya mendengar ucapan suaminya itu. "Tentu saja aku senang. Menantuku itu seorang raja, tampan, dan misterius. Wajahnya yang dingin tidak mencerminkan hatinya yang hangat. Masalah harta ya mengikuti-lah, mana ada raja yang melarat," seloroh ibu Shanum.
"Bagus, puji saja terus di depan orangnya. Bisa semakin besar kepala nanti dia." Dimas menjawab dengan nada kesal.
Shanum menoleh ke arah Khan dan melihat pria itu tersenyum tipis.
Untungnya yang memujimu adalah Ibuku, Adri. Jika itu perempuan lain, aku pasti akan melabraknya.
Shanum menyeringai sembari berbicara melalui ikatan mereka.
Aku menghargai pujian Ibumu. Tapi tidak perlu berbesar hati lagi, aku sangat menyadari semua kelebihanku itu. Dan itu semua adalah fakta bukan omong kosong.
Shanum menggelengkan kepala sembari memutar bola matanya. Rasa percaya diri pria itu memang selalu sebesar gunung. Dan Shanum menganggapnya wajar, Khan seorang penguasa, tanpa sifat itu, dia mungkin akan habis diinjak-injak oleh orang lain.
"Sudahlah Ayah. Meski Ibu memuji Khan setinggi langit, tetap saja yang menguasai hati Ibu adalah Ayah seorang," seloroh Shanum seraya tersenyum geli.
"Wah, itu sih tidak perlu diomongkan lagi. Hukumnya wajib, jika tidak, mana mungkin kau hadir, Princess." Ayah menjawab sambil melirik ibu.
"Betul, Nak. Kau adalah buah cinta kami berdua," sahut Raisa dengan malu-malu.
"Kau sudah sadar, Sha?" Mendadak ada yang menyapanya. Shanum kontan menengok ke arah asal suara tersebut, dan menemukan para sahabatnya beserta Taban berdiri di dekat pintu. Ternyata yang bertanya barusan adalah Diva. Gadis itu tersenyum gembira melihat Shanum.
Shanum langsung melangkah mendekati para sahabatnya dan memeluknya satu persatu. "Oh syukurlah kalian masih di sini," ucapnya sembari tersenyum.
"Memangnya kami mau kemana, Sha. Keberangkatan kita kan dibatalkan, karena kau terluka," sahut Diva.
"Iya sih, tapi siapa tahu saja kalian tetap memutuskan untuk pulang tanpa aku." Shanum mengendikkan bahunya.
Kemudian Farah mendekat ke arah Shanum. "Hem, apakabar Nyonya Khan? Bagaimana rasanya 'skin to skin' dengan Balok Es? Apakah rasanya hangat?" celetuk Farah sembari berbisik di telinga Shanum.
Wajah Shanum sontak bersemu merah. "Aku tidak akan menjawabnya. Karena... Tentu saja aku tidak tahu. Kan aku tidak sadar," jawab Shanum apa adanya.
__ADS_1
"Yah, sayang sekali. Benar-benar sungguh disayangkan! Peristiwa itu seharusnya dapat diceritakan kembali dengan lebih spektakuler," gumam Farah sambil menyeringai.
"Kalau begitu kau tanya saja langsung dengan Khan Adrian sendiri. Tuh, orangnya berada di sana." Shanum menunjuk ke arah Khan lewat gerakkan kepalanya.
"Lah, untuk apa aku bertanya padanya? Kan yang aku butuhkan informasi itu dari sisimu, Sha. Bertanya pada kulkas berjalan sih percuma. Aku yakin reaksinya pasti hanya tatapan datar dan kakunya yang biasa," celoteh Farah sembari mendengus.
"Hei sudah! Aku belum mendapatkan giliran nih," protes Taban. Lalu pria itu menarik tangan Shanum, ia menatap Shanum sembari tersenyum. "Aku juga turut senang kau berhasil selamat dari maut, Shanum." Taban menepuk-nepuk punggung tangan Shanum dengan sebelah telapak tangannya. Yang sebelahnya lagi menahan di posisi bawah jemari Shanum.
Taban tidak menyadari, di sisi lain ruangan terdapat pria yang sedang menggertakkan rahangnya dengan kuat. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Khan Adrian, ia menatap ke arah Taban dengan ekspresi geram.
"Ya, Taban. Terima kasih. Dan aku bersyukur kau bersedia mendampingi kedua sahabatku ini," jawab Shanum balas tersenyum kepada pria itu.
"Tentu, Shanum. Aku sangat bersedia. Meski kedua gadis ini terkadang sedikit menyusahkan juga sih. Mereka terlalu banyak meminta hal aneh-aneh yang membuatku bingung."
"Hei, kok jadi sesi curhat sih. Terus jangan pegang-pegang kelamaan. Itu anjing herdernya Shanum sudah ingin menerkammu sejak tadi," ucap Farah sembari mendengus. "Apa itu curhat? Dan memangnya ada anjing di sini?" Taban terlihat bingung. Diva kontan tertawa terkikik, sementara Shanum tersenyum geli. Dia menoleh ke arah Khan dan mengedipkan matanya.
"Sudah-sudah, kalian ini! Ada-ada saja sih. Pasti Taban jadi korban bullying kalian terus deh."
"Ih, tidak kok. Kami cuma suka mengganggunya saja, habis dia gampang dibodohi," jawab Farah dengan polos. Diva pun kembali tertawa mendengar ucapan konyol Farah.
"Astaga..." Shanum terlihat menggelengkan kepalanya, merasa takjub melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Dan Taban terlihat semakin bingung, sebab Farah menjawab pertanyaan Shanum yang terakhir dengan menggunakan bahasa negara mereka sendiri.
"Hem, maaf, tidak bermaksud memotong. Tapi sebaiknya kita pindah bincang-bincangnya di ruang tamu. Tempat ini terlalu sempit dan tidak sesuai untuk bertukar cerita," ucap Eej sembari tersenyum. Wanita itu tampak berusaha menjadi tuan rumah yang baik.
Dan semua yang berada di kamar rawat itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian satu persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan kamar. Menyisakan Khan dan Shanum yang berada di sana.
"Kita sebaiknya pindah kamar. Kamar ini adalah ruang rawat, jadi kita tidak bisa berada di sini terus. Di samping banyak perlengkapan medis yang menyesakkan, tempat ini juga kurang luas. Kau bisa pindah ke kamarku. Kau mau kan?" Khan menatap Shanum dengan ekspresi memohon, dengan harapan gadis itu menyetujui keinginannya.
Shanum menggeleng. "Hmm, sepertinya aku ingin tidur di kamarku yang waktu itu saja, Adri. Aku masih ingin kita mengulang sumpah, sekaligus melakukan resepsi. Dan sampai dengan saat itu sebaiknya aku tidak tidur di kamarmu," tolak Shanum secara halus.
Tidak menutup kemungkinan jika ia salah bertindak, dan menimbulkan persepsi yang salah dari pria itu, bisa-bisa Shanum akan dibawa pergi olehnya. Dan Khan tentu saja tidak akan pernah ingin kehilangan pujaan hatinya itu.
"Oke, kau pindah ke kamarmu yang waktu itu." Khan mulai beranjak membereskan barang-barang Shanum yang berada di ruang rawat itu. Setelah rapi, Khan menaruhnya di atas kursi.
Kemudian dia menghampiri Shanum yang sedang memeriksa ponselnya. "Tunggu di sini. Aku juga harus mengambil barang-barangku dari kamar sebelah," ucap Khan.
"Kamar sebelah?" tanya Shanum dengan wajah bingung. Gadis itu heran, jika pria itu tidur di sini, mengapa barang-barangnya berada di kamar sebelah?
"Ya, selama kau sakit aku tidur di kamar itu. Dari pagi sampai menjelang tidur malam aku berada di sini, untuk menjagamu."
"Berapa lama aku terbaring di sini?" Shanum bertanya sembari menatapnya penuh selidik.
"Hampir tiga minggu," jawab Khan.
"Cukup lama juga ya." Gadis itu tidak menyangka, sudah selama itu ia tak sadarkan diri. Rasanya baru sebentar ia bermimpi bertemu dengan kakek leluhurnya. Satu hari di dalam mimpi, ternyata menjadi hampir tiga minggu di dunia nyata. Sungguh perbedaan waktu yang sangat-sangat jauh sekali.
"Ya, setiap detik yang terjadi saat itu, sungguh menyiksaku. Aku harus melihatmu kejang-kejang, dan mengeluarkan darah dari mulut, hidung serta kupingmu." Khan menjawab kembali dengan muram.
Shanum lalu mendekati Khan. Dia memeluk erat pria itu. Kepalanya melekat di dada Khan. "Terima kasih, Adri. Kau sudah mau merawat dan menjagaku."
Khan membalas pelukan gadis itu tak kalah erat. "Sudah sepantasnya, Sayang. Kau adalah separuh jiwaku, tidak mungkin aku meninggalkanmu."
Shanum mendesah bahagia. "Ah, kalimat manis yang kurindukan, akhirnya kalimat itu bisa kudengarkan kembali."
Khan merenggangkan pelukannya. "Bukankah sebelum ini aku juga sudah mengucapkan kalimat manis padamu? Masa kau melupakannya." Khan terlihat menekuk bibirnya. Pria itu terlihat kecewa.
__ADS_1
Shanum mengusap pipi pria itu dengan jemarinya. "Iya, aku masih ingat. Ada yang mengakui jatuh cinta padaku dan tidak bisa hidup tanpaku tadi."
"Nah, itu ingat. Sekarang katakan padaku," desak Khan.
"Katakan apa?" tanya Shanum, pura-pura tidak mengerti.
"Balasan dari kata tadi. Ayo..."
"Hmm..." Shanum mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di dagu.
"Shasha... Aku menunggu. Kalau tidak membalas, akan aku hukum," bisik Khan.
"Oh ya? Apa hukumannya?" tanya Shanum dengan senyum manis yang terbit dari bibirnya.
"Hukumannya sebuah ciuman."
"Ah, aku tidak takut. Silahkan cium saja." Shanum memonyongkan bibirnya, menggoda Khan.
Khan menelan ludahnya. Gadis nakal ini, berani-beraninya dia menggodaku. "Oke, aku akan menciummu, tapi... tidak hanya bibir," bisik Khan. Dia merasa puas dapat membalas gadis itu dengan melihat mata Shanum yang membulat sempurna.
Shanum tertegun. Kemudian ia menarik kepalanya ke belakang dengan cepat dan melotot ke arah pria itu. "Tidak bisa. Enak saja! Belum sah!" teriaknya nyaring.
"Hah. Belum sah?! Terus sumpahku tiga hari yang lalu itu apa, Shasha?" protes Khan dengan ekspresi bingung bercampur kaget. Meski dongkol, karena sumpahnya dipandang sebelah mata oleh Shanum, Khan tidak dapat marah kepada gadis itu.
"Ya, itu menurutku belum sah. Karena aku tidak mendengarkan sumpahmu itu," jawab Shanum dengan bibir cemberut.
"Oke, aku mengerti. Jadi kau mau mendengar sumpahku lagi. Apakah sekarang bisa?" Ekspresi Khan terlihat serius.
"Ishh, ya tidaklah! Masa di sini sih, Adri. Tidak elit sekali. Harusnya kan di tempat dan memakai pakaian yang sesuai dong. Terus aku juga mau dihadiri seluruh keluarga kita, serta beberapa kenalan penting. Itu pun jika kau tidak berkeberatan. Tapi kalau terlampau merepotkan, ya sudah, keluarga inti saja juga boleh." Shanum menjelaskan panjang-lebar kepada Khan.
Dan Khan akhirnya mengerti. Pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Well, ternyata itu maksud ucapanmu saat tadi kita berdebat di dalam lift. Mengapa tidak dikatakan langsung saja, Sayang? Jadi kan aku tidak perlu memiliki asumsi buruk dipikiranku," ucap Khan sembari menghela napas lega.
"Itu kan kau saja yang tidak peka, Adri. Masa kau tidak tahu, kalau impian semua gadis dalam pernikahannya ya seperti itu. Malah milikku terlalu sederhana menurutku, jika dibandingkan dengan para gadis lainnya."
"Oke... oke aku mengerti. Jadi Nyonya, Anda mau pesta pernikahan seperti apa? Abdi setiamu ini tentu saja akan segera mengabulkannya, apa pun keinginanmu." Khan mencubit hidung Shanum dengan gemas.
"Ihh, Adri, sakit tahu! Jangan cubit-cubit!" Shanum kembali mengerucutkan bibirnya.
"Kalau begini, boleh?" Pria itu lalu mengecup hidung Shanum dengan lembut.
Pipi Shanum langsung berubah menjadi semerah tomat, saat merasakan kecupan sederhana namun penuh sayang itu.
Shanum berdeham. Gadis itu terlihat salah tingkah. "Kau tidak jadi ke kamar sebelah, Adri?" tanya Shanum dengan suara serak.
"Ah iya, aku sampai lupa. Kau memang hebat, Shasha. Kau bisa membuatku tersihir, hingga lupa akan segala-galanya." Khan menyeringai seraya menatap Shanum.
Shanum memutar bola matanya. "Huh, gombal! Sudah, sana! Segera bereskan barang-barangmu! Nanti menjadi semakin lama kita berada di sini. Aku kan ingin beristirahat. Tubuhku masih belum pulih benar, Adri." Shanum mendorong tubuh Khan untuk segera keluar dari kamar itu. Dan pria itu mematuhinya seraya tertawa geli.
Ah... mendengar tawa ceria Khan Adrian, jantung Shanum serasa ingin copot. Tubuhnya langsung merasakan desiran aneh yang mungkin dapat diartikan sebagai gairah. Tawa pria itu sangat seksi. Suara beratnya berbaur dengan nada serak yang muncul di dalam nada tawa itu sendiri. Dan Khan Adrian sangat jarang tertawa. Shanum yakin, pria itu sering tertawa, seluruh wanita di dunia ini akan bertekuk lutut di bawah kakinya.
Setelah barang-barang semua beres dimasukkan ke dalam tas, mereka menuju kamar Shanum. Sesampainya di sana, gadis itu langsung menuju ranjang. "Adri, aku mengantuk. Barang-barangku diletakkan saja di atas meja rias ya. Nanti akan aku bereskan sendiri."
"Oke," jawab Khan. Pria itu lalu ikut naik ke atas tempat tidur.
"Kau mau apa, Adri? Mengapa ikut tidur di kasurku?" Shanum tampak bingung.
"Sttt, aku hanya ingin memelukmu dan menemanimu tidur. Nanti aku akan kembali ke kamarku," jawab Khan sembari merapatkan tubuhnya dan memeluk gadis itu. "Sekarang tidurlah." Khan mengecup pipi gadis itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu juga, Adri," kata Shanum seraya mencari posisi yang nyaman dalam pelukan Khan. Khan tersenyum. Akhirnya kata-kata yang ditunggunya muncul juga. Lalu Khan ikut memejamkan mata bersama Shanum. Keduanya tertidur langsung tertidur lelap sambil berpelukan mesra.
Mereka tidak menyadari ada sesosok bayangan tubuh manusia yang mengawasi dari sudut ruangan itu. Bayangan itu terdengar menggeram pelan, ia terlihat sangat kesal. Entah apa yang membuatnya bereaksi seperti itu. Mungkin hanya pria itu yang tahu jawabannya.