
Shanum memperhatikan pergerakan para duplikat dari Avraam yang berjumlah delapan orang tersebut. Mereka bersiap dengan pedang di tangan. Shanum berdecih kesal melihat sihir licik yang dilakukan oleh pria itu.
"Dasar pengecut! Bersembunyi dibalik sekumpulan imitasi," teriak Shanum.
Avraam menyeringai. "Mereka pengawal bayanganku. Jadi aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri untuk bertarung." Avraam menjawab dengan arogan.
"Kau... Aku akan membalasmu!" Shanum menggeram ke arah Avraam. Amarahnya berada di ubun-ubun, mendengar dirinya dijadikan ajang tontonan dalam pertarungan melawan wujud tiruan pria itu.
Shanum merasa menyesal sempat terlena oleh sikap baik Avraam terhadapnya. Ternyata semua alasan dibalik kebaikan itu satu persatu mulai tersibak. Shanum mencurigai sesuatu yang berbahaya dari Avraam, dan tidak menutup kemungkinan ia ingin mengetahui besaran kekuatan yang dimiliki oleh Shanum.
Jangan-jangan pria itu punya kepribadian ganda. Sebentar baik, dan di saat lain bersikap kasar. Terutama ketika aku menyebutkan atau memuji Khan.
Shanum berucap dalam hati sembari menghindar dari serangan beberapa duplikat pria itu. Sejak awal Shanum sudah mencurigai kebencian dari pria penguasa sihir hitam itu kepada suaminya. Dia hanya perlu mengetahui penyebab dari kebencian itu.
Tiba-tiba salah satu duplikat berhasil melukai punggung Shanum. Jejak darah terasa menuruni kulitnya, membasahi pakaiannya yang terkoyak. Shanum menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dan kebas di punggung, sembari terus menahan dengan kekuatan sihirnya. Cahaya keemasan milik Shanum membentuk sebuah tameng yang mementahkan kibasan pedang para duplikat itu.
Shanum melawan, ia mendesak duplikat yang sudah melukainya tadi, di antara beberapa serangan balasan dari duplikat lain. Saat tiba di satu momen, sihirnya berhasil mengenai tiga lawan sekaligus. Ketiga duplikat itu seketika mengeras menjadi sebuah patung es. Shanum menghancurkannya dengan sekali pukulan, dan duplikat itu hancur berkeping-keping.
Shanum mendengar suara tepuk tangan membahana. Dia menoleh, dan melihat Avraam memberikan tepuk tangan seraya tersenyum.
Merasa berpuas diri telah berhasil menghancurkan duplikat yang melukainya itu, Shanum kembali lengah. Salah satu duplikat menyabetkan pedang ke arah wajahnya. Shanum refleks menahan dengan kedua telapak tangannya, hingga ia adu kekuatan saling mendorong dengan duplikat itu. Salah satu sisi dari telapak tangannya mengucurkan darah.
Di tengah-tengah kesibukannya menahan pedang tersebut, batu sihir di lehernya kembali bercahaya terang. Cahaya hangat seketika membungkus seluruh tubuhnya. Duplikat itu terpental, menyisakan pedang berada di tangan Shanum.
Shanum terperangah, rasa perih di telapak tangan, dan sakit di punggungnya mulai memudar. Dia berhenti bergerak. Serangan coba-coba dari pihak lawan kembali gagal, cahaya itu melindunginya.
Tanda tanya besar terbentuk di kepala Shanum. Apakah kalung itu yang menyembuhkan lukanya?
Satu lagi kelebihan kalung itu yang baru diketahui oleh Shanum. Tanpa campur tangan sihir penyembuh yang Shanum miliki, luka itu tertutup sepenuhnya.
Perlahan cahaya meredup, Shanum memegang untaian kalung dengan ujung jemari dan memperhatikan Avraam mengernyitkan dahi. Kemudian serangan kembali terjadi. Para duplikat yang tersisa menyerangnya lagi. Mereka mungkin tidak akan berhenti hingga berhasil membunuhnya.
"Kau memiliki kalung pelindung. Wah... wah, sangat beruntung sekali dirimu, Cantik."
Avraam bangkit dari duduknya lalu menjentikkan jarinya. Waktu langsung berhenti. Tubuh Shanum tidak dapat bergerak. Para duplikat pun seketika menghilang.
Bahkan kekuatan menghentikan waktunya pun sama dengan milik Sergei.
Avraam menghampiri Shanum, dia mengusap pipinya lalu mendekati telinganya. Napas hangatnya terasa bersamaan dengan bisikan, "aku harus menyita kalungmu, Cantik. Benda ini berbahaya untuk rencanaku."
Avraam membuka kait kalung itu dengan hati-kati, seolah benda mati itu dapat menggigitnya. Kalung itu telah berada digenggaman pria itu, dia mengeluarkan sebuah tempat penyimpanan kecil berbentuk kapsul.
Tempat penyimpanan itu membesar saat Avraam mengucapkan mantra. Dia membuka tutup kapsul dan menyimpan kalung tersebut di sana. Kemudian kapsul itu kembali mengecil, dan pria itu memasukkannya ke dalam saku.
Ya Tuhan, dia juga memiliki tempat penyimpanan seperti milik Sergei.
Shanum teringat saat rumahnya terbakar habis, dan dia harus memindahkan barang-barang miliknya dengan mudah berkat bantuan kotak penyimpanan Sergei.
Lalu tanpa aba-aba, Avraam menarik tubuh Shanum ke arahnya. Lengan kekar pria itu melingkari pinggang Shanum. Dia tersentak, dan melotot, ketika merasakan bibirnya dikecup dengan mesra oleh Avraam.
Kurang ajar, dia menjarah bibirku. Maafkan aku, Adri. Bibirku sudah ternoda.
Shanum menggeram marah, merasa dilecehkan. Dia juga merasa sedih karena tak kuasa menjaga tubuhnya yang seharusnya hanya menjadi milik suaminya.
Kemudian ketika geraman sedih dan amarah itu membentuk suara yang lolos dari bibir mungilnya, Shanum dibuat tertegun. Ternyata mulutnya sudah bisa berfungsi secara normal, setelah sebelumnya kaku membisu oleh pria itu. Apakah akibat ciuman itu?
Shanum mencoba kembali peruntungannya dengan menggerakkan tubuh, dan dia menghela napas kesal. Tubuhnya masih membeku, tetap kaku bagaikan patung.
Shanum menatap ke arah Avraam yang masih merangkul pinggangnya. Pria itu memperhatikan ekspresi Shanum dengan tenang. Shanum memicingkan mata mengeluarkan amarahnya.
"Untuk apa ciuman tadi. Lepaskan aku! Jangan coba-coba menciumku lagi. Kau... pencuri kurang ajar! Kembalikan kalungku, dan kembalikan kehormatan bibirku. Aku ini sudah bersuami. Lagipula aku tidak tertarik kepadamu. Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Khan Adrian. Dia lebih tampan, lebih segala-galanya, dan yang terpenting dia tidak jahat dan sesat sepertimu."
__ADS_1
Netra Avraam berkilat tajam mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan Shanum. Avraam tersenyum jahat. "Oh ya, kau yakin Khan Adrian itu suci bagaikan malaikat?" Avraam menarik dagu Shanum dengan kasar. Ekspresinya sangat dingin. Shanum menelan ludahnya. Dia melihat kabut hitam pekat mulai terbentuk di sekeliling mereka.
"Pria munafik itu sudah banyak membantai orang tidak bersalah. Menghancurkan satu Klan hanya karena kearoganan dan keegoisannya. Kau tidak mengenalnya, Cantik. Hati-hati! Makna kata jahat dan baik itu bisa menjadi bias, tergantung sudut pandang orang yang melihatnya."
Shanum tidak langsung menjawab, matanya memicing tak percaya. "Tak perlu melemparkan dosa dirimu sendiri kepada Suamiku. Yang aku lihat, di sini kaulah pihak jahatnya, Avraam. Lepaskan aku! Dan biarkan tubuhku bergerak," desis Shanum.
Pria itu melepaskan cengkeramannya dari dagu Shanum. Dia bergerak mundur.
"Sudah kuduga. Kau pasti tidak akan percaya. Matamu sudah dibutakan oleh pria itu." Avraam mengangkat bahunya seolah tak peduli. "Percuma aku berdebat denganmu. Wanita yang sudah dibutakan cinta, tidak akan pernah bisa melihat jelas. Kita harus kembali," katanya.
Shanum semakin kebingungan melihat tingkah Avraam. Tadi pria itu menahan amarah, tapi kini ia bersikap masa bodoh. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria itu? Hingga saat ini, Shanum tidak juga menemukan maksud dari semua drama yang dilakoni pria itu.
Avraam menurunkan posisi tubuhnya menjadi membungkuk. Tangan pria itu menarik kaki Shanum, mengangkatnya, lalu memanggulnya di bahu.
Shanum tersentak kaget, merasa kepalanya mendadak pusing karena harus melawan efek gravitasi. Dengan posisi kepala menghadap ke bawah, aliran darah seolah berkumpul menjadi satu di puncak kepala. Bahkan matanya terasa menjadi juling, harus menatap ke bawah, terombang-ambing seirama langkah Avraam.
"Avraaaam! Memangnya aku barang, diperlakukan seperti ini. Hei, turunkan aku!" Shanum berteriak-teriak histeris di punggung Avraam. Karena tubuhnya tidak bisa memberontak, suaranya saja yang sengaja dikeraskan oleh Shanum untuk mengajukan protes.
Avraam berdecih kesal. "Kau sangat berisik! Oke... aku turunkan." Pria itu langsung menurunkan Shanum dan mengembalikannya ke tanah dengan posisi tubuh semula, berdiri tegak tidak bisa bergerak. Lalu Avraam berlalu begitu saja meninggalkan Shanum berdiam di sana dengan wajah terkejut tak percaya.
"Bajingan! Hei... jangan tinggalkan aku di sini," jerit Shanum.
Avraam berhenti melangkah, ia memutar tubuh. Pria itu menggeleng, lalu memutar bola matanya.
"Tadi kau memintaku menurunkan dirimu. Giliran sudah kuturunkan kau protes lagi minta jangan ditinggalkan. Jadi sebenarnya apa sih maumu? Mengapa menjadi plin plan seperti ini?"
"Plin plan?" beo Shanum.
"Ya, plin plan.... Apakah sekarang kau juga mendadak menjadi tuli?" dengus Avraam.
Wajah Shanum sontak memerah menahan kekesalannya. "Bajingan, Tengik!"
Shanum menarik napas dalam. "Tuan Avraam yang terhormat, masa kau mau meninggalkan aku begitu saja, dengan tubuh kaku bagaikan patung seperti ini." jawabnya dengan suara dibuat selembut mungkin. Padahal sebenarnya ia ingin mencekik pria itu.
"Tidak," jawab Avraam dengan tegas.
"Maksudmu? Kau akan tetap meninggalkan aku di sini, begitu?" Shanum kembali ke mode garangnya.
"Bukan. Kau tetap dengan posisi seperti itu sampai kembali ke kamar."
Ekspresi Shanum semakin marah. "Kalau kau tidak suka denganku katakan saja. Tidak perlu berpura-pura bersikap baik. Tunjukkan perilaku yang terhormat, dan tidak berbuat curang seperti ini."
"Aku bukan orang yang terhormat, Manis. Jika aku pria yang seperti itu, tidak mungkin aku berusaha mencurimu dari Khan Adrian." Avraam mendekati Shanum dan menatapnya tajam.
"Aku akan mengantarkanmu ke kamar. Jangan berisik lagi dan tidak perlu banyak protes. Kalau kau tidak menutup mulutmu, aku akan membungkamnya kembali dengan bibirku, yang pastinya akan membuatmu kembali membisu."
Shanum terlihat menciut. Berbagai pikiran buruk langsung berkumandang di otaknya. Pria itu akan membawanya ke dalam kamar, dengan tubuhnya yang kaku tidak dapat bergerak.
Ya Tuhan, apa yang ingin dilakukannya padaku. Oh Adri, tolong aku.
Wajah Shanum memucat, dia kesulitan menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa ada yang mengganjal. "Kau tidak akan... maksudku... Apa yang akan kau lakukan padaku di dalam kamar?" tanyanya dengan suara mencicit.
Avraam menyeringai. "Menurutmu apa?"
"Hentikan teka tekimu itu! Dan jangan pernah berani kau mencoba mengambil kesempatan terhadap diriku. Aku ini milik Khan Adrian," geram Shanum.
"Kata siapa? Sekarang kau adalah milikku, bukan miliknya," desis Avraam. Suaranya melembut dengan berbahaya, seperti bilah pedang berbalut sutra.
Rasa murka menggelegak dalam diri Shanum, sebagaimana badai yang mengamuk di lautan. Tapi dia mencoba menahannya. Pria tampan di hadapannya ini masihlah berbahaya.
Dan hal itu membuatnya sangat marah sekaligus cemas. Shanum marah karena tak berdaya dan cemas karena tidak berani menganggap remeh kekuatan pria itu, yang hingga saat ini belum terukur.
__ADS_1
Shanum menarik napas. "Avraam, please. Aku mohon padamu, biarkan tubuhku kembali normal." Dia berusaha menurunkan suaranya, bahkan memohon kepada pria itu. Shanum bersedia menurunkan egonya, dengan berpura-pura menurut. Berharap dapat menemukan kelemahan pria itu.
Avraam mengangkat alis. "Mengapa kau begitu ketakutan kubawa ke dalam kamar dengan tubuh tidak bisa bergerak? Memangnya apa yang akan kulakukan padamu, Shanum? Aku hanya ingin mengembalikanmu ke dalam kamar tanpa perlawanan."
"Tapi... tadi..." Suara Shanum terdengar mencicit. Dia merasa pria di hadapannya ini sungguh menyesatkannya. Wajah Shanum bersemu merah. Rasanya ia ingin menguburkan kepalanya ke dalam tanah.
Avraam terkekeh geli. "Apakah kau sudah tidak sabar menjadi milikku, Sayang. Oh, dan aku sangat suka rona di wajahmu itu, sungguh menggemaskan," rayu pria itu.
Shanum menatap dengan tajam. "Huh, kapan aku bersedia menjadi milikmu?! Kau terlalu percaya diri, Tuan Avraam yang terhormat," jawab Shanum setengah mengejek.
Avraam tertawa keras. "Aku suka sifatmu yang tak mau tunduk itu, Manis. Aku menjadi semakin bersemangat untuk membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku."
"Dalam mimpimu!" Shanum menjawab dengan ketus.
Avraam langsung menarik Shanum dan berkata, "Sudah cukup, kau diamlah. Kita harus kembali ke kamar. Aku masih punya banyak urusan." Pria itu berbicara sembari menggendong Shanum. Kali ini dia ditempatkan lebih manusiawi, tidak dibopong di punggung pria itu, dengan kepala menghadap ke bawah. Meski gendongan itu tetap saja membuat Shanum risih.
Avraam menggendongnya secara Bridal Style. Tubuh besar Avraam sangat mudah melakukan seluruh tindakan itu. Seolah Shanum tidak memiliki bobot tubuh. Bahkan napas pria itu tetap stabil tidak menunjukkan kelelahan sedikitpun.
Shanum terpaksa pasrah menerima perlakuan itu. Ia tidak mau menjadi kembali bisu seperti ancaman pria itu tadi. Sepanjang perjalanan Shanum menemukan wajah-wajah tidak setuju dan wajah penasaran.
Shanum tidak mau mengambil peduli. Dia hanya ingin segera ke kamar, dan dilepaskan dari rasa malu dan risih yang mencekik ini.
Avraam menurunkannya di atas kasur sesaat ketika sampai di dalam kamar. Dia memperlakukannya dengan lembut. Wajah pria itu terlihat serius. Dia menjentikkan jari, dan tubuh Shanum kembali bisa digerakkan.
"Aku perintahkan kau tidak mencoba keluar kamar, meski kau mendengar suara sekeras apa pun di luar pintu itu. Pintu tidak aku kunci dari luar, tapi kau diizinkan untuk menguncinya dari dalam. Dan kau hanya boleh menerima Nara di kamar ini. Jangan pernah mengizinkan siapapun selain Nara menerobos masuk."
"Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku mencoba keluar dari kamar dan menerima tamu di kamar ini?" desak Shanum penasaran.
Avraam menatapnya dalam diam. Ekspresinya terlihat ragu, ia tampak memikirkan dengan seksama harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak kepada Shanum.
"Jadi?" Shanum kembali mendesak Avraam.
"Kau turuti saja perintahku, jika tidak mau celaka." Akhirnya Avraam memilih untuk tidak menjelaskan, ia bergerak menuju pintu.
"Hei, Avraam. Apakah sedang terjadi penyerbuan? Aku perlu tahu. Setidaknya perlu mengetahui bahaya yang harus kuhadapi."
Pria itu berhenti, dan menoleh. "Tidak ada penyerbuan. Tempat ini sudah ratusan tahun terisolasi. Aku cuma bisa bilang kalau banyak yang menentang keberadaanmu di sini. Dan aku harus segera membereskan semua kericuhan ini, agar tidak bertambah runyam." Avraam melanjutkan langkahnya. Dia segera keluar dari kamar itu.
Shanum mendesah lelah sepeninggal pria itu. Dia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Tiba-tiba Shanum mendapatkan ide cemerlang. Mumpung Avraam sedang sibuk, dia akan mencoba menghubungi Khan melalui ikatan mereka.
Shanum bergegas menuju pintu, ia menguncinya. Setelah itu, dia menuju kamar mandi. Shanum mengunci juga pintu kamar mandi untuk berjaga-jaga. Lalu ia menyalakan shower, membuka juga kran wastafel. Perbuatannya memang tidak bisa dibenarkan, karena merupakan suatu pemborosan terhadap air.
Tapi Shanum perlu menyamarkan suara di dalam kamar mandi ini. Takut jika ada yang bisa mendengar dan mencurigai perbuatannya untuk menghubungi Khan.
Shanum membuka pakaiannya dan mendekat ke arah shower. Dia berdiri di bawah pancuran air yang mengalir deras sembari menutup mata. Shanum membuka dengan cepat blokir ikatan jiwanya.
Dan ia langsung mendengar suara seksi nan berat milik suaminya itu.
Astaga, Sayang. Aku sudah sejak lama menantikan panggilan ini. Diriku sudah mulai kacau menantikannya di sini, berharap kau membuka blokir terhadap ikatan kita. Bagaimana kabarmu, Sayang? Apakah kau baik-baik saja? Pria itu tidak menyakitimu kan? Dan apakah kau tahu di mana posisimu saat ini?
Shanum tersenyum mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang diucapkan Khan. Suara suaminya itu terdengar khawatir.
Satu persatu, Adri. Pertanyaanmu terlampau banyak. Aku tidak bisa menjawabnya semua. Karena takut, pria itu mengetahui aku menghubungimu. Aku baik-baik saja, Adri. Masih bisa bertahan menghadapi sikap pria itu.
Shanum menghela napasnya saat mendengar Khan menggeram frustasi.
Kau cari saja informasi soal Klan Erebos, Adri. Karena aku sekarang berada di kota tempat Klan tersebut berada. Aku harus menutup kembali saluran ikatan kita, Adri. Maafkan aku.
Tunggu, Shasha. Jangan tutup dulu ikatannya. Aku... aku merindukanmu, Sayang. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera membebaskanmu.
Shanum tidak sempat menjawab. Dia mendengar seseorang menggedor-gedor pintu kamarnya dengan keras.
__ADS_1