
Keesokan paginya, Shanum duduk di atas batu, menghadap Padang Ilusi. Dengan agak sedih Shanum menggumam lirih. "Aku sudah melakukan permintaanmu, Paman. Kuharap kau dapat menyelamatkan putramu."
Shanum teringat ketika terbangun dari mimpi buruknya saat berada di dalam Padang Ilusi, ia sempat merasa sangat resah. Dia merasa permohonan pria yang menolongnya itu tidak akan mungkin dikabulkannya. Shanum tidak bisa menolong pria yang sudah banyak menebarkan kejahatan di dunia ini.
Shanum mengetahui siapa yang dimaksud oleh pria penolongnya itu sejak saat pria itu melancarkan senyumannya. Senyum pria itu sangat mirip dengan Avraam dan Sergei di kala tersenyum. Kedua lesung pipi itu identik menghias wajah ketiga pria itu. Shanum yakin ketiganya jelas memiliki ikatan pertalian darah orang tua dan anak.
Dan tidak terbersit orang yang dimaksud pria itu adalah Sergei, karena pria itu tidak sedang perlu diselamatkan. Kecuali mungkin dari tunangannya yang sangat cantik itu, yang membuat wajah Sergei selalu tertekuk resah bila berada di sampingnya.
Shanum mendengus keras. Jangan dikira ia tidak memperhatikannya. Shanum sangat serius mengawasi tingkah kedua orang tersebut. Dia masih merasa tidak terima salah seorang sahabatnya akan menjadi korban oleh tindakan pria itu.
Jadi, jika bukan Sergei, hanya tersisa satu orang lagi yang dimohonkan oleh pria dalam Padang Ilusi itu, yaitu Avraam, saudara kembar dari Sergei.
Wanita yang waras dan berakal sehat tidak akan sudi menolong pria yang sudah menculiknya, membuatnya terpisah dan bertengkar dengan suaminya, menebarkan perpecahan, serta berakhir dengan tantangan pertarungan hingga ajal menjemput.
Bahkan setelah sikap baik dan perhatian Avraam selama ia berada di klannya, atau perlindungannya saat ia diserang oleh Sarnai jadi-jadian sekalipun. Ia tetap saja merasa berat mengabulkan permohonan pria misterius dalam Padang Ilusi itu.
Tapi meskipun ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk mengacuhkan permohonan itu, ia tetap tidak bisa melakukannya dengan sepenuh hati.
Shanum tetap saja menolong Avraam di detik-detik terakhir Khan akan mematahkan kepala pria itu.
Di luar kehendaknya, sihirnya bergerak sendiri untuk menggagalkan tindakan suaminya itu.
Shanum bertindak gila.
Dia mendorong keras suaminya.
Lebih dari gila, ia menggagaskan usulan untuk membuang Avraam ke Padang Ilusi kepada Khan dan semua orang.
Padahal ia tahu, hal itulah yang diinginkan oleh pria dalam mimpinya itu, untuk menyelamatkan Avraam dalam perlindungan Padang Ilusi.
"Tidak baik kalau seorang wanita bermuram durja di sini sendirian. Apalagi jika yang dipikirkannya adalah pria yang bukan suaminya."
Shanum terbelalak saking kagetnya sewaktu mendengar kata-kata teguran itu. Dan langsung merubah ekspresinya ketika melihat Khan yang telah menegurnya. Shanum menatap ke arah Khan sembari memicingkan mata. "Apa yang membuatmu mengira kalau aku murung karena seorang pria, Adri?"
Tatapan penuh selidik muncul di wajah Khan. "Karena aku melihat dirimu sedang menatap muram ke arah Padang Ilusi. Dan baru-baru ini hanya ada satu orang pria yang akan menyambut kematiannya di dalam sana." Pria itu menunjukkan arah dengan dagunya dengan rahang mengeras.
Hening.
Ekspresi kaku terlihat di wajah Khan. "Jangan katakan kau merasa sedih karena dirinya, Shasha."
Tawa nyaris histeris mengancam akan keluar ketika Shanum mendengar tuduhan itu. Ia berharap ia tidak perlu menjawabnya. Setidaknya untuk saat ini, dia tidak mau menambah masalah baru yang akan memusingkannya. Terutama dalam menghadapi para pria dan sikap posesifnya.
"Kenapa kau tidak menjawab?" desak Khan.
"Jangan memulai pertengkaran, Adri. Aku sedang tidak bersedia melayani tuduhanmu yang tidak berdasar itu," jawab Shanum mencoba berkelit.
Khan menatap mata Shanum dengan tajam, menyelami kedalamannya, seolah-olah pria itu ingin melucuti rahasia yang disembunyikan Shanum. "Aku tidak percaya. Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku dapat merasakannya, Shasha."
Mati rasa saking kagetnya, Shanum mendapati dirinya berdiri dan menatap Khan dengan teguh, untuk menutupi kegelisahannya. Wanita itu mengalihkan pandangan, kembali menatap ke arah Padang Ilusi.
Pilihan apa yang ia punya? bisik sebuah suara di sudut benaknya.
Ia tidak mungkin membiarkan Khan mengetahuinya. Pria itu pastinya akan marah besar saat mengetahui secara tidak langsung Shanum sudah menyelamatkan musuh terbesarnya itu. Oh Tuhan, ia merasa seperti sedang digiring ke tiang gantungan.
Perut Shanum terasa mulas begitu membayangkan dirinya harus menghadapi kemarahan pria itu.
Ia selalu menganggap dirinya sebagai wanita yang pemberani dan bahkan tangguh. Tentunya ia tidak mungkin ketakutan. Tapi keberaniannya pun tidak sebanding dengan situasi ini.
Jadi, apa yang harus ia perbuat?
Mengatakan terus terang kepada suaminya? Atau berbohong demi kedamaian mereka semua?
Tapi, jika suatu saat suaminya mengetahui Avraam masih hidup dari orang lain, apa yang harus ia katakan pada pria itu?
Segala macam pilihan mondar-mandir di kepalanya selama hampir lima belas menit, akhirnya Shanum menarik suatu kesimpulan yang sudah tidak bisa dihindari lagi.
Ia harus mengatakannya pada Khan.
Betapa pun seringnya ia mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa perkiraannya tentang reaksi suaminya itu sudah pasti akan terjadi. Jauh di lubuk hatinya, Shanum tahu bahwa di seluruh dunia hanya Khan-lah yang bisa ia percayai untuk memahami seluruh tindakannya saat itu. Dan semoga kali ini kepercayaannya itu tidak meleset menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Tidak memberi dirinya waktu untuk berubah pikiran tentang apa yang akan ia lakukan, Shanum menolehkan kepalanya.
Dan ia menemukan Khan masih menunggunya dalam diam. Pria itu sedang menatap jauh ke depan, ke arah Padang ilusi, mengikuti tindakan yang dilakukan Shanum tadi.
Dengan gerakan sedikit ragu, Shanum beranjak mendekat.
"Adri, aku..." Shanum bimbang sejenak, memandangi wajah tampan yang anehnya tampak asing karena pria itu tetap tidak mau menatap balik kepadanya. Pandangannya terus terarah ke padang itu.
"Aku mendapatkan mimpi," Shanum mengakui.
Khan menegang sementara mata coklat keemasannya disipitkan. "Kapan?"
"Sebelum pertarungan Duongan Sakhai."
"Apa isi mimpi itu?" tanya Khan dengan nada suara dingin dan kaku.
Shanum mendesah dan memalingkan wajah dari tatapan tajam itu. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih kalau Khan menatapnya dengan ekspresinya yang sudah melegenda itu.
"Dalam mimpi itu aku berada di dalam Padang Ilusi," aku Shanum.
Mata Khan membola, ekspresi kaget terlihat di kedua netra mata indahnya.
"Lalu?" tanya Khan.
Ketika Shanum tetap membisu, Khan melangkah maju dan membelai lembut bahunya "Shasha?"
Shanum memejamkan mata, tahu bahwa waktu untuk mengakui kebenaran sudah tiba. Sayangnya, kesadaran tersebut tidak membuat tugasnya menjadi lebih menyenangkan.
Shanum mengangkat tangan, mengarahkan jemarinya mengelilingi tempat mereka berdiri. Dan cahaya putih transparan terlihat muncul dari ujung jarinya itu, membentuk pola pelindung di sekitar mereka.
"Sekarang tidak akan ada yang bisa melihat atau menguping pembicaraan kita," ungkap Shanum.
Khan mengerutkan kening. Namun tidak membalas satu patah kata pun, ia tetap sabar menanti di posisinya dengan wajah penasaran yang terlihat jelas.
Shanum mengambil posisi duduk kembali di atas batu. "Kau sudah menduga kalau aku sedang menyimpan rahasia," kata Shanum dengan suara pelan. "Rahasia yang tidak dapat kuberitahukan kepada orang lain."
"Dan apakah rahasia ini berhubungan dengan isi dari mimpimu itu?" tanya Khan lagi.
Dengan lembut Khan meremas bahu Shanum, napasnya menyentuh pipi Shanum sewaktu ia mendekat.
"Pasti tidak terlalu buruk, Shasha."
"Oh, ini sangat, sangat buruk, Adri."
"Katakan padaku, Sayang," desak Khan dengan lembut.
Menarik napas dalam-dalam, Shanum membalikkan badan dengan perlahan. Membalas tatapan lembut Khan mungkin merupakan hal terberat yang harus ia lakukan. Ia tak sanggup membayangkan kepercayaan yang Khan miliki terhadapnya akan segera hancur. Pria itu pastinya akan kecewa.
"Aku tahu, Padang Ilusi tidak akan membunuh Avraam."
Sesuai dugaan, Khan memandangi Shanum dengan bingung. "Apa?"
"Dalam mimpi itu, aku bertemu seorang pria. Dia menyelamatkanku dari halusinasi yang menguasaiku. Dan pria itu memohon padaku untuk menyelamatkan putranya. Meminta aku membawa putranya itu ke Padang Ilusi."
Kalimat demi kalimat seperti tertahan ditenggorokannya dan Shanum mengepalkan tangan di atas pangkuannya agar ia tidak ambruk. "Pria itu mengatakannya secara tersirat, tidak terang-terangan menyebutkan nama putranya. Tapi aku tahu. Siapa putranya itu."
Anehnya, kekagetan yang Shanum nantikan tidak muncul di wajah tampan Khan sewaktu pria itu menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Bagaimana kau dapat menebak putra pria itu adalah Avraam?"
"Mereka memiliki senyum dan lesung pipi yang sama."
"Apakah Avraam tahu, dia kebal terhadap Padang Ilusi?"
"Aku tidak tahu. Kalau melihat ekspresinya saat diantarkan kesana, kurasa dia tidak mengetahuinya. Wajahnya terlihat setengah putus asa, seolah ia tahu tidak akan bisa lolos hidup-hidup dari padang itu."
Tiba-tiba tangan Khan terangkat dan dengan lembut menyentuh pipi Shanum yang nyaris pucat. "Mengapa?" tanyanya singkat dengan nada suara lirih.
"Aku tidak punya pilihan lain, Adri. Hati nuraniku memberontak saat ingin menolak permohonan pria dalam Padang Ilusi itu. Jiwaku seolah memanduku untuk memberikan bantuan kebaikan untuk putranya yang tersesat."
__ADS_1
"Apakah kau menyukai Avraam, Shasha?"
Shanum tertegun. Ia belum pernah memikirkan hingga sejauh itu tentang perasaannya terhadap Avraam. Sulit sekali rasanya memaksa bibirnya yang kaku mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Shanum mendesah keras. "Awalnya aku membencinya. Tapi setelah berinteraksi selama berbulan-bulan perasaanku mulai bergeser, rasa benci itu sebagian berubah menjadi kasihan, untuk ekspresi kesepian yang sering kulihat di netra matanya..." Shanum bergeser dengan gelisah, lalu bangun dari posisi duduk tanpa berani menatap ke arah Khan. Ia kembali memandang ke arah Padang Ilusi.
"Dan juga sedikit rasa kagum, untuk pengabdiannya terhadap klannya. Kau tahu, dibalik sikap jahatnya, Avraam adalah pemimpin yang bijaksana untuk rakyatnya," akhirnya Shanum berhasil mengakuinya.
"Tapi aku tetap membencinya jika dia mulai bersikap berengsek dan licik. Bahkan di peristiwa terakhir... saat ia melukaimu, sejujurnya aku menginginkan kematiannya."
Wajah Khan mengeras saking marahnya, mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang nyaris membuatnya mendekati malaikat maut.
"Lalu mengapa kau membantunya?" sahut Khan dengan nada suara kaku menahan amarah.
Tanpa disadari Shanum menjilat bibirnya yang kering, tahu persis bahwa mata keemasan Khan mengamati setiap ekspresinya.
"Aku teringat wajah berharap dari pria dalam mimpiku itu. Jika bukan karena bantuannya, mungkin aku akan menjadi gila."
Khan terengah tajam sewaktu mendengar kata-kata Shanum. "Kau terluka?"
"Luka secara fisik tidak, tapi secara psikis, mungkin... Seolah delusi dan kenyataan saling tumpang tindih, membuatku bingung bercampur takut. Aku bahkan merasa tidak sedang bermimpi. Rasanya..." Kata-kata Shanum terhenti dan tiba-tiba ia menutupi wajahnya dengan tangan.
Seluruh kengerian yang ia rasakan ketika ia berada di dalan mimpi itu kembali melandanya seperti serangan fisik. Rasa sesak itu, ketakutan, dan kegilaan yang nyaris merenggut kesadarannya, lebih mirip dengan mimpi buruk yang menjelma menjadi nyata.
Beranjak untuk memeluk Shanum, Khan melingkupinya dengan penghiburan yang hangat.
"Ada apa, Shasha?"
Kekuatan yang Khan curahkan mendorong Shanum untuk mengangkat kepalanya dengan perlahan dan menghadapi ketakutannya.
"Aku tiba-tiba berada di dalam kabut, kebingungan akan perubahan tempat dan waktu. Karena ingatanku yang terakhir adalah berada di tempat tidur dalam pelukanmu. Kemudian, aku mendadak merasa diserbu oleh ketakutan yang terasa mencekikku hingga sesak napas." Seluruh tubuh Shanum gemetar dalam rengkuhan Khan.
"Aku menjadi panik, berteriak memanggil namamu sampai suaraku serak. Tapi tidak ada jawaban, semuanya hening. Dan keheningan itu anehnya menarik lepas seluruh kewarasanku."
"Oh, Sayangku," bisik Khan dengan lembut, "kau pasti tersiksa."
"Di sana sangat mengerikan. Aku terus beranjak dari satu sisi ke sisi lainnya sambil berharap semua itu hanya mimpi, dan aku lekas terbangun. Namun, pada akhirnya saat aku mulai pasrah, nyaris menyerah kalah oleh kegilaan yang akan menguasai jiwaku, aku mendengar suara yang berusaha menarikku untuk berjalan sesuai tuntunannya. Dengan arahannya aku selamat, berhasil keluar dari kabut mengerikan itu. Aku bertemu dengan pria penuntunku itu. Pria setengah baya yang mengucapkan permohonan dengan wajah sedih, ia meminta aku untuk menolong putranya. Setelah aku menganggukkan kepala, pria itu pergi, dan aku kembali berada di dalam dekapanmu, di atas alas tidur kita," katanya mengakhiri kisah itu.
Khan membelai punggung Shanum untuk menghiburnya, matanya sarat akan kasih sayang. Sedangkan Shanum pasrah bertumpu pada kekokohan tubuh suaminya, ia menerima seluruh kehangatan dari pria itu untuk meredam rasa lemas pada tubuhnya.
"Syukurlah kau selamat."
"Ya," jawab Shanum singkat. Tanpa bantuan pria itu, Shanum yakin ia akan terjebak dalam mimpi buruk itu.
Shanum menoleh ke arah Khan dan menelan ludah dengan susah payah. "Apakah kau akan menghakimiku, Adri?"
Menjauh, Khan mengangkat dagu Shanum dengan lembut tapi tegas. Menatap mata yang gelisah itu dalam-dalam, ia tersenyum, "Penghakiman?"
Shanum menjilat bibirnya sambil mengerahkan keberanian untuk melanjutkan.
"Karena aku sudah membebaskan musuh." Mata Shanum menggelap ketika ia menatap Khan dengan putus asa. Khan langsung teringat seharusnya aturan Duongan Sakhai adalah pertarungan hingga kematian menjemput pihak yang kalah.
Dan andaikata pihak yang seharusnya mati mendadak bangkit dari kematiannya... Khan mendesah lelah. Dia tidak berani memikirkan kehebohan yang akan terjadi saat itu.
"Yah, kuakui. Kau sudah membuat posisiku menjadi sulit, Shasha."
Shanum menggigit bibirnya kuat-kuat hingga darah menitik. Gerakan itu menunjukkan betapa tertekannya dirinya. Kontan Khan mengusapnya, matanya menggelap, lalu ia menggelengkan kepala. Seolah pria itu menegur Shanum untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.
"Kalau semua tindakanku terungkap, apa yang akan terjadi padaku, Adri?"
Dengan berat hati Khan menjauh dari tubuh Shanum yang gemetar. Ia harus berkonsentrasi mencari solusi terhadap permasalahan yang ditanyakan Shanum. Tugas yang mustahil kalau ia berada cukup dekat sehingga hawa panas Shanum yang selembut sutra menyelubunginya, dengan bibir terluka yang ingin segera dicecapnya hingga sembuh.
Merasakan ketakutan yang melanda istrinya itu, membuatnya ingin memeluk Shanum supaya ia bisa memperlihatkan kedalaman penghiburan dengan tambahan gairah yang ingin diungkapkannya.
Dengan bersusah payah Khan mengenyahkan hasrat-hasrat berbahaya yang melanda tubuhnya dan kembali mengalihkan perhatiannya kepada tindakan berbahaya yang sudah dilakukan oleh Shanum.
"Tidak akan terjadi apa-apa kepadamu. Selama tidak ada orang lain yang mengetahuinya," Khan menenangkan Shanum dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin, Adri? Bagaimana kalau nantinya Avraam mendadak muncul?"
__ADS_1
Terjadi keheningan yang panjang dan menegangkan sebelum akhirnya Khan menjawab, "Jika Avraam berhasil selamat, selama dia tidak mengungkapkan kepada orang-orang bahwa ia kebal terhadap Padang Ilusi, maka orang-orang hanya akan menganggap pria itu sangat beruntung dapat selamat dari tempat itu."