Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 117 Pedang Bersarung Emas


__ADS_3

Shanum terbangun dari kegelapan yang menguasainya sembari meringis menahan sakit. Dia menatap langit-langit kamar dan menyadari sudah berada di ruangan yang berbeda. Dia menolehkan kepala, dan melihat Avraam duduk tak jauh dari ranjang sembari memandangnya tanpa ekspresi.


Shanum menahan kuat-kuat rasa panas di tenggorokannya. Bibir bawahnya bergetar, saat ia berkata meminta air.


Avraam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu langsung bergerak mengambil gelas berisi air dan membantu mengangkat kepalanya untuk dapat meminum air tersebut.


Setelah itu, Avraam menaruh gelas kembali ke atas meja, ia langsung duduk dengan tenang di kursi. Shanum mengalihkan pandangannya, ia mengangkat lengan dan melihat balutan perban di pergelangan tangannya.


"Mengapa kau ingin membunuh dirimu sendiri, Shanum?"


Shanum mendengar suara pelan penuh tanya dari Avraam. Suara yang mengandung sedikit unsur ketidakpercayaan dari pria itu. Mungkin Avraam tidak menyangka ia mampu melakukan tindakan nekat tersebut. Tindakan yang terlahir dari keputusasaan dan ketakutan yang mendalam.


Hening.


Shanum tetap diam, menatap ke arah langit-langit kamar.


"Tidak mau menjawab, Manis." Pria itu lalu bangun dari kursi dan mendekat ke arah Shanum. Dia duduk di samping tempat tidur, meraih dagu Shanum dan menariknya ke arah pria itu. Avraam memaksa Shanum untuk menatap matanya. Pandangan matanya meredup dan mematikan.


"Terima kasih kembali."


"Untuk apa?" tanya Shanum dengan ekspresi bodoh.


"Untuk menyelamatkanmu dari kematian."


Shanum menegang. "Aku tidak meminta pertolonganmu."


Tatapannya terasa menghunus tajam ke arah Shanum. Sentuhan di dagunya seperti besi panas, Shanum berjengit, menghindar dari cengkeramannya. Tapi Avraam memeganginya erat-erat, hingga ia tidak bisa berkutik.


"Kau pasti sakit hati oleh hukuman itu. Aku sudah bisa menduganya. Tapi tidak harus karena hal itu kau mengakhiri hidupmu. Nyawamu sungguh berharga jika dibandingkan dengan hukuman konyol yang sudah terlanjur aku perintahkan."


Shanum terpaku, ia tidak menyangka bisa mendengar ucapan bernada penyesalan dari pria itu. Avraam mengartikan tindakannya sebagai rasa frustasi oleh hukuman yang dijatuhkan terhadapnya.


Dalam hati Shanum merasa lega, pria itu tidak mencurigai motif sebenarnya dari tindakan berbahaya tersebut.


"Untuk saat ini, aku tidak akan mengganggumu lebih jauh. Nanti Nara akan melayani seluruh keperluanmu." Kemarahan itu tersirat kembali di matanya saat pria itu memandang perban di pergelangan tangannya.


Mulutnya membentuk garis sadis. "Aku yakin kau tidak akan berubah menjadi wanita dungu dengan kembali membunuh dirimu sendiri." Pria itu menatap Shanum dengan tajam.


"Jadi selamat beristirahat. Kau membutuhkannya." Kemudian pria itu keluar dan menutup pintu dengan pelan.


Shanum hampir tak sanggup menarik napas yang cukup teratur untuk meredakan gejolak yang ia rasakan di dalam dada.


Segera setelah ia sanggup untuk mengingat kembali peristiwa yang dilakukannya, tangisannya meledak habis-habisan--isak sengal yang dahsyat sehingga menggetarkan seluruh tubuhnya, mengalir ke luar jendela, dan ke dalam malam bertabur bintang.


Dan seluruh isak tangis itu mendadak mereda, ketika Shanum merasakan kemunculan suaminya melalui ikatan mereka.


Terlalu kurus.


Wajahnya terlihat tirus.


Dia pasti banyak melewati waktu makan dan tidurnya.


Bagaimana pria itu masih sanggup menghubunginya lewat ikatan mereka?


Pikiran-pikiran itu melayang-layang dalam kepala Shanum, satu demi satu. Saat melihat penampakan Khan Adrian. Jantungnya berdegup kencang, dia tidak berani mengeluarkan suara. Khan menatapnya dengan kesedihan dan kekhawatiran yang tidak ditutupinya sedikit pun.


Shanum ingin menyentuhnya, menghirupnya, merasakan--


Insting itu mengalir seperti sungai. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tidak mengira suaminya akan muncul kembali dan berusaha mengajaknya berbicara.


Pasangan jiwanya.


Pria itu tidak menyerah. Meski sudah dibohongi olehnya sedemikian rupa.


Rasa sakit menghantam dada Shanum, tapi dia berusaha menahannya. Pertanyaan demi pertanyaan dari Khan datang bertubi-tubi. Dan Shanum hanya sanggup mengucapkan kata maaf, beserta alasan lain, yang menambah satu lagi tumpukan dosanya kepada Khan.

__ADS_1


Shanum melihat wajah Khan cukup tegang dan ketakutan, tampak sama sekali kosong dan mati rasa, netra coklat keemasan itu juga terlihat redup.


Rasa malu membasuh seluruh diri Shanum, saat pria itu memohon kepadanya untuk mengingat kedua orang tuanya, serta calon adik yang kini telah hadir di dalam perlindungan perut ibunya.


Dia berusaha terdengar wajar, terdengar nyaman, bahagia, bahkan ketika jantungnya berdegup dan menderu, begitu cepat sehingga dia merasa mau muntah.


Dia tidak berani mengakui seluruh sandiwara yang sudah ia perbuat. Bahwa ia menyimpan beberapa detail yang berhubungan dengan rencana pembantaian klan suaminya. Juga hal-hal lainnya yang sudah lama ia perankan secara hebat.


Akhirnya di ujung rasa yang terus mendera, Shanum menyerah, ia mencoba membantu Khan untuk menemukan tempat ini. Sebenarnya, selama berada dalam masa hukuman, di ruangan tertutup itu, dia pernah mendapatkan bisikan mantra baru tentang pelacakan tempat.


Dia tidak tahu siapa yang sudah berbaik hati mengirimkan bisikan itu kepadanya. Meski dalam hati kecilnya, dia tidak yakin mantra yang ia lakukan dapat berhasil di saat kondisi fisiknya sedang lemah seperti ini. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Kalaupun nanti mantra itu gagal, ia tidak akan menyerah. Dia bisa mencoba cara lain untuk dapat terbebas dari tempat ini.


Suaminya mendengarkan dengan serius setiap patah katanya, sebelum ia memutuskan dengan tiba-tiba komunikasi di antara mereka, ketika ia mendengar derit daun pintu.


Nara muncul dengan baki berisi makanan di tangan. Dia meletakkan baki di atas meja dan tersenyum sedih namun tidak menghakimi.


"Anda perlu bantuan untuk bangun, My Lady?" ucap Nara dengan lembut.


"Ya, Nara. Tolong angkat aku bergeser ke punggung tempat tidur."


Nara mengangkat Shanum ke punggung tempat tidur sehingga ia bisa menyandar di sana.


"Tolong letakkan baki itu di pangkuanku, Nara."


Nara menurut, dan melakukan instruksi Shanum. Setelah dilihatnya Shanum mulai menyuap makanan, Nara duduk di kursi di samping tempat tidur.


"Anda sudah membuat kegaduhan di sini, My Lady."


Shanum mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu, Nara?"


"Banyak orang menerima amukan dan hukuman dari Yang Agung," jawab Nara dengan ekspresi polos.


Shanum meletakkan sendok dan menatap Nara dengan tajam. "Ceritakan padaku secara lengkap!" perintahnya.


Avraam menjebloskan pengawal yang membawa makanan Shanum saat itu ke penjara untuk menerima hukuman.


Shanum meringis penuh rasa bersalah mendengar hal itu, nasib malang pria itu murni karena dirinya. Setelah ini sepertinya dia perlu berbicara secara serius dengan Avraam. Walau bagaimanapun dia tidak mau ada korban tak bersalah karena ulahnya.


Kemudian Nara menceritakan bahwa selama hari-hari Shanum tidak sadar, perilaku Avraam berubah menjadi semakin bengis. Setiap hari saat berlatih, pria itu banyak menyebabkan lawan tandingnya terkapar penuh luka serius. Hingga setiap hari semakin sedikit orang yang datang ke ruang latihan.


Nara juga mengatakan yang menjaganya beberapa jam dikala siang, dan selalu di setiap malam adalah Avraam. Pria itu tidak mempercayai orang lain selain Nara yang membantunya untuk bergantian berjaga.


Cukup lama wajah Shanum tidak berubah, tapi sorot matanya sekarang terbuka dan dingin. "Seluruh ucapanmu ini, tidak membuatku lantas begitu saja memaafkannya, Nara. Pria itu sudah menghukumku dengan seenaknya, tanpa keadilan."


Shanum melawan rasa marah yang meremang. Dia mengutuk perbuatan tidak adil Avraam tempo hari kepadanya.


"Aku tahu, My Lady. Hukuman itu memang seharusnya tidak dijatuhkan kepadamu." Nara tersenyum tipis.


"Dan jangan cemas, keadilan itu sudah ditegakkan, My Lady. Yang Agung sudah menghukum pihak yang sesungguhnya bersalah," tambah Nara.


Shanum menoleh dengan cepat ke arah Nara. "Maksudmu, Chemira dan komplotannya sudah dihukum?"


Nara mengangguk.


"Apa hukumannya?" desak Shanum.


"Nona Chemira dipecat dari jabatannya dan rumah ini terlarang untuknya. Sedangkan komplotannya disuruh meminum racun."


Shanum mendengus keras. "Seharusnya wanita ular itu juga dimusnahkan. Hukuman itu terlalu ringan untuknya."


"Kurasa, Yang Agung tidak bisa melakukannya, My Lady. Ayah Nona Chemira merupakan salah satu bangsawan yang berpengaruh. Dia sudah banyak membantu Yang Agung dalam membangun klan ini."


Shanum tersenyum sinis lalu menyerahkan baki kepada Nara. "Tolong bawa kembali bakinya, Nara. Aku sudah selesai. Dan tolong tinggalkan aku. Aku mau beristirahat kembali."


Andaikata Nara tahu bahwa Shanum sudah mengusirnya secara halus, wanita itu tidak memperlihatkan ekspresi tersinggungnya. Nara hanya mengangguk kepala, tetap patuh dan bergegas meninggalkan kamar itu tanpa kata.

__ADS_1


Mengingat peristiwa dua bulan lalu itu masih membuat hatinya berdenyut nyeri. Perlakuan Avraam kepadanya saat itu masih menyisakan luka dan amarah.


Meski luka di pergelangan tangannya sudah sembuh sepenuhnya, Shanum masih menyimpan sebaris luka di dalam hatinya. Luka yang semakin dalam dan tak kunjung sembuh meski dia sudah mencoba untuk melupakannya. Luka yang ditorehkan oleh dirinya sendiri karena sudah menyakiti orang-orang yang ia cintai.


Shanum menyadari hal ini adalah konsekuensi yang harus ia tanggung atas perbuatannya. Dia tidak bisa menyesali pilihannya sendiri, meski itu menimbulkan luka yang menggerogotinya dari dalam.


Rumah itu cukup sibuk dengan segala aktivitas selagi dia bersiap-siap untuk pergi dengan Nara menuju pasar. Shanum menemani Nara dan membantunya mengatur kegiatan di dapur. Tak jarang ia ikut memasak. Terkadang Shanum merindukan masakan tempat kelahirannya, sehingga ia suka meminta Nara membantunya untuk mencari bahan-bahannya dan mengolahnya.


Para penghuni rumah itu tidak berani berkomentar. Mereka menerima semua yang ia lakukan. Tampaknya sejak peristiwa ledakan amarah Avraam tempo hari, tidak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya.


Dan Shanum tentu saja tidak berkeberatan atas hal itu. Dia malah senang dapat terbebas dari kumpulan wanita penggemar Avraam. Padahal sebenarnya dia ingin meneriakkan sekencang-kencangnya kepada para wanita itu, bahwa mereka boleh mengambil Avraam. Dibagi secara rata juga boleh.


Sedangkan sikapnya kepada Avraam, Shanum masih menjaga jarak dengan pria itu. Dan pria itu juga beringkah sama. Terkadang Shanum menemukan pandangan dalam dari pria itu, yang dilontarkan secara sembunyi-sembunyi kepadanya. Matanya dan mata Avraam akan beradu tanpa kata. Terlalu gelap untuk membaca apa pun yang tersirat dalam tatapan Avraam. Biasanya, Shanumlah yang terlebih dulu berpaling.


Seperti pagi ini, setelah menikmati sarapannya, Shanum dijemput oleh seorang pria yang mengatakan bahwa dia sudah ditunggu oleh Avraam di halaman. Sungguh sebuah perkembangan yang cukup drastis, akhirnya pria itu berani mendekatinya kembali.


Shanum mengernyit dalam, namun tidak mengeluarkan bantahan. Dia mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju halaman. Di sana sudah berdiri Avraam sedang berbicara dengan dua pria lain. Entah apa yang sedang didiskusikan oleh mereka. Tapi dia dapat melihat ekspresi cerah Avraam ketika melihat sosoknya.


"Ikut aku. Kita akan menuju ke suatu tempat," perintah Avraam.


Avraam berdiri di sampingnya, ada pedang panjang dengan dua mata bilah bersarung di punggungnya, pisau-pisau terikat di kakinya, terbalut celana yang diasumsikan oleh Shanum sebagai baju tempur klan mereka, kalau dilihat dari apa yang dikenakan oleh kedua pria lainnya.


Celana gelapnya ketat, semacam kulit samak cukup tebal yang sudah usang dan lecet-lecet, membentuk kakinya yang baru ia sadari begitu berotot.


Jaketnya yang ketat dibuat sesuai dengan ukuran tubuhnya yang juga tinggi penuh dengan otot. Kalau perlengkapan yang dipakainya tidak cukup memberitahukannya akan bahaya macam apa yang akan mereka hadapi di tempat yang akan mereka datangi, sungguh konyol kalau perlengkapan serupa tidak dimiliki olehnya dalam perjalanan ini.


"Kemana kau akan membawaku? Mengapa kau mengenakan pakaian penuh senjata seperti itu?" tanya Shanum dengan wajah sengit.


Avraam mengangkat alis, dan berkata, "Kau pasti menginginkan persenjataan lengkap juga. Baiklah, aku akan membawamu ke ruang persenjataan."


Tanpa menunggu balasan dari Shanum, Avraam memberikan isyarat untuk mengikutinya. Shanum dibawa ke sebuah ruangan yang membuatnya memperlihatkan secercah senyum tipis dalam sekejap.


Ruangan tempat dia pernah bersembunyi tempo hari, kini terlihat sedikit berbeda. Mungkin hal itu hanya perasaannya saja, karena kali ini dia benar-benar diundang untuk memasukinya tanpa mengendap-endap seperti pencuri.


"Kau boleh memilih semua senjata yang berada di sini. Sesuaikan dengan bobot tubuhmu, jangan memilih senjata yang terlalu berat untuk kau bawa," perintah Avraam.


Shanum mengangguk lalu mengedarkan pandangannya. Dia bergerak menelusuri satu demi satu lemari penyimpanan senjata. Memeriksa, menimbang-nimbang, dan menghela napas keras.


Tidak ada satu senjata pun yang sesuai dengan keinginannya. Hingga kemudian dia mengalihkan pandang kepada sebilah pedang yang terpasang di dinding.


Shanum tertegun. Pedang yang menarik perhatiannya itu berpendar indah di pelupuk matanya. Dia masih saja terpesona oleh pedang itu dari saat pertama ia melihatnya. Pedang bersarung emas itu selalu seolah memanggilnya.


Tanpa sadar Shanum mengulurkan lengan mendekati pedang tersebut. Ia ingin meraihnya.


"Kau tidak akan sanggup menguasai pedang itu, Manis. Jadi sebaiknya kau alihkan tanganmu darinya. Hingga saat ini belum ada lagi yang bisa memegang..." Ucapan Avraam terpotong, mata pria itu terbelalak kaget.


Shanum mengangkat pedang itu dari penyangganya lalu membuka sarungnya dengan mudah. Ekspresinya sangat takjub. Pedang itu mengalirkan sesuatu ke dalam darahnya.


"Bagaimana..."


Avraam kembali terdiam, tidak meneruskan ucapannya. Wajah pria itu sungguh lucu dengan mata melotot besar, mulut menganga lebar dan tubuh kaku berdiri di tempatnya.


Shanum menyeringai. "Omong kosong dari mana itu, aku tidak akan sanggup menguasai pedang ini. Pedang ini sangat ringan dan juga indah kok." Shanum memperlihatkan gerakan memindah-mindahkan gagang pedang dari tangan satu ke tangan lainnya dengan mudah. Seolah pedang itu memang diciptakan untuk dirinya.


"Kita harus segera berangkat, My Lord."


Shanum menoleh cepat ke arah pintu dan menemukan mata kedua pria yang berada di halaman tadi ikut terbelalak kaget.


Para pria itu mendadak memiliki ekspresi lucu yang sama dengan Avraam. Mereka membeku.


Kemudian terjadi peristiwa tak terduga, keduanya bergerak menurunkan lututnya ke lantai, bersimpuh di hadapan Shanum sembari menundukkan kepala.


"My Queen," ucap mereka serempak.


Kini giliran Shanum yang melotot kaget mendengar panggilan mereka terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2