
Sergei tidak percaya dia melihat seorang Khan Agung dari Klan Altan yang berwajah dingin, dan tidak pernah tersenyum dapat berubah menjadi lebih manusiawi. Meski dia tahu pria itu tentunya bukan seutuhnya manusia biasa. Saat telah selesai mengantar Diva ke kasir untuk membayar sepatu, dia melihat pria itu sedang berbisik-bisik berdua sambil tersenyum dengan gadis yang bernama Shanum. Sergei penasaran tentang hubungan keduanya.
"Sergei, setelah dari sini kau mau kemana lagi?" Pertanyaan Diva menyadarkan Sergei dari pengamatannya tentang Khan Adrian. Pria itu berhenti melangkah. "Aku belum ada rencana apa-apa, Luna. Apa aku boleh mengajakmu ke suatu tempat?" "Eem... aku belum bisa memberikan keputusan, Sergei. Karena aku ke sini dengan sahabatku dan Khan. Aku harus izin pada mereka," jawab Diva. Sergei menghembuskan napasnya, dia masih belum puas menghabiskan waktu bersama gadis itu.
"Sebentar aku bicara dulu dengan mereka ya." Tiba-tiba Sergei mendapatkan ide cemerlang. Ini kesempatannya untuk bisa masuk ke dalam kediaman Khan Adrian. Agar dia dapat mencari jejak orang yang telah membakar Batu. "Sebentar, Luna." Sergei menarik tangan Diva sebelum gadis itu bergerak menghampiri Khan dan para sahabatnya.
"Ada apa Sergei?" tanya Diva heran. Sergei tersenyum manis pada Diva dan berkata, "Maafkan aku, aku baru ingat masih ada janji lagi setelah ini. Jadi, aku tidak bisa mengajakmu pergi sekarang." Wajah Diva tampak kecewa mendengar ucapan Sergei. Namun dia berusaha menutupinya.
"Baiklah, jika kau memang tidak bisa. Mungkin lain kali saja." Sergei dapat membaca rasa kecewa Diva. Dan pria itu merasa sangat senang. Diva ternyata juga ingin bersamanya lebih lama lagi. "Tapi..." Sergei mengusap tangan Diva. "Besok aku punya waktu kosong. Bagaimana jika aku datang ke tempat tinggalmu?" Sergei tidak mengungkapkan bahwa dia sudah tahu di mana Diva tinggal. Wajah Diva berubah menjadi cerah, namun kemudian dia menggigit bibirnya, gadis itu gundah.
Saat ini dia sedang menumpang di mansion Khan, dan dia tidak tahu apakah boleh menerima tamu atau tidak di kediaman itu. Baru kali ini Diva merasakan suatu keterikatan dengan seorang pria. Biasanya dia hanya sekedar senang mengaguminya saja.
Entah mengapa dengan Sergei dia merasa ada koneksi yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika. Diva sendiri merasa bingung dengan perasaannya terhadap pria itu. Seharusnya Diva takut, karena dia belum terlalu mengenal Sergei. Namun bukannya menjaga jarak terhadap Sergei, Diva malah merasa ingin dekat dengannya.
"Hmm... Sergei. Kalau kau memang mau datang ke tempat tinggalku, aku tidak bisa menjawab sekarang bisa atau tidaknya. Karena aku sekarang sedang tinggal di rumah orang lain, bukan rumahku sendiri. Aku harus izin sama yang punya rumah dulu ya, boleh atau tidak kau datang bertamu," jelas Diva.
"Oh baiklah, kalau begitu aku boleh minta nomor ponselmu? Nanti kamu kabari saja aku, kita bisa bertemu di mana. Jika memang pemilik rumah tidak berkenan menerima tamu." Sergei berusaha tetap tersenyum, meski dia agak kecewa tidak bisa langsung mendapat kepastian dari Diva. Seharusnya tinggal selangkah lagi dia bisa masuk ke tempat yang diincarnya, dan bisa segera menyelesaikan tugasnya.
"Oke, ini nomorku ya." Diva memberikan nomor ponselnya pada Sergei. Kemudian mereka saling berpamitan. Pria itu melangkah menuju arah yang berbeda dengan Diva. Gadis itu mendatangi tempat para sahabatnya dan Khan.
"Hei, lama sekali sih ke kasirnya. Kamu bukannya langsung ke sini malah sibuk bermesraan dengan pria itu di sana," sungut Farah. "Siapa yang bermesraan sih, tadi aku hanya berbicara sebentar dengannya. Pria itu meminta nomor ponselku," jelas Diva. "Terus kamu kasih?" tanya Farah. "Yaa... iya, aku kasih." Diva menjawab sambil meringis.
"Aduh gadis ini, kok gampangan sekali sih," celetuk Farah dongkol. Diva terkesiap, wajahnya tampak marah. "Heh...kalau bicara yang benar ya. Siapa yang gampangan?! Seenaknya saja menuduh orang." Wajah Diva memerah, dia tersinggung dengan ucapan Farah.
Shanum yang melihat itu langsung berusaha meleraikan mereka. Dia tidak mau mereka membuat keributan di tempat umum. Namun sebelum Shanum mengucapkan sesuatu Khan menarik tangannya, dan mengusap pipi gadis itu. Khan berbisik di telinga Shanum, " Biarkan aku yang membereskan hal ini." Shanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ladies, sebaiknya kita segera kembali. Aku masih ada urusan lain. Sedang Diva dan Farah, tolong dinginkan kepala kalian. Kita bisa selesaikan nanti, tidak di sini. Aku tidak suka melihat kekasihku sedih melihat kalian bertengkar," ucap Khan dengan suara tegasnya. Kedua gadis yang sedang bersitegang itu tampak kaget mendengar ucapan gamblang dari Khan.
Keduanya saling menatap, kemudian mereka saling melengos membuang wajah mereka. Diva bergerak mengikuti Dario, yang berjalan di paling depan. Dan Farah mundur ke baris belakang bersisian dengan salah seorang pengawal Khan lainnya. Shanum yang melihat perilaku kedua sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Membalikkan badan, Sergei menyentak pintu, tampak wanita cantik yang menunggu di lorong dengan kesabaran yang muram. "Your Majesty, aku membawa berita?" lapor Sergei. Pria itu menahan dorongan untuk menjauh dari wanita cantik yang memandangnya dengan tatapan menusuk. Astaga. Ia tampak cukup mampu untuk melenyapkannya saat itu juga.
"Bagaimana hasilnya, Tampan? Tampaknya aku sudah salah memilih pelacak. Sepertinya gelar yang terbaik itu tidak sesuai dengan kenyataannya." Lutut Sergei yang gemetar menegang. Dia telah diremehkan, wanita di hadapannya ini meragukan gelarnya sebagai yang terbaik di dunia perburuan dan pelacakan. Wanita cantik itu beruntung Sergei tidak memiliki keinginan untuk membatalkan tugas ini, karena terkait dengan nama baiknya yang akan tercoreng jika melanggar kontrak.
__ADS_1
Merasakan tatapan jengkel Sergei, wanita itu menatapnya dengan curiga. "Kenapa kau kesal? Seharusnya di sini aku yang geram, karena kau tidak becus mengerjakan tugas yang kuperintahkan." Sergei tampak menahan kesabarannya. Dia lalu tersenyum tipis.
"Kau tenang saja, Ratu. Aku sudah mulai menemukan tanda-tanda orang yang membakar Batu." "Betulkah?" "Iya, Your Majesty. Orang itu berada di dalam kediaman Khan Adrian. Dia bersembunyi di sana."
Chinua mengerutkan keningnya. "Khan Adrian, pemimpin Klan Altan?" Sergei menganggukkan kepalanya. Chinua mulai bergerak mondar mandir di dalam ruangan itu. Wanita itu tampak berpikir keras. "Apakah kau sudah tahu siapa orang itu?" tanya Chinua. "Belum. Aku sedang mencoba mendekati salah satu gadis yang tinggal di sana. Dan meminta untuk bertamu di kediaman itu." "Apakah gadis itu bersedia?" "Emm...belum, Your Majesty."
"Terus mengapa kau masih berada di sini? Kenapa tidak mencoba merayu gadis itu kembali. Dengan wajah dan tampilan sepertimu seharusnya perkara mudah untuk memikat gadis itu." "Kau tidak perlu meragukanku, Ratu. Aku belum kehilangan kemampuanku," jawab Sergei datar, tubuhnya diselimuti kemarahan.
"Pergilah, aku tidak mau ada kegagalan, Tampan." Chinua tidak peduli dengan kemarahan pria itu, dan mengusir Sergei pergi dari ruangan itu. Sergei lalu bergegas pergi dari sana, sambil mengutuk wanita menyebalkan itu di dalam hatinya.
Sementara itu di mansion Khan Adrian, Diva tampak resah berdiri di depan ruang kerja Khan. Dia berencana menanyakan apakah Sergei boleh bertamu ke mansion itu. Tadi pria itu menelponnya dan mendesaknya lagi soal rencana kedatangannya ke mansion.
"Apa yang kau lakukan di situ, Diva?" Khan berdiri di depan pintu dengan pandangan heran. Pria itu tadinya hendak keluar dari ruang kerjanya, dan pergi ke lapangan berkuda. Namun langkahnya terhalang oleh gadis yang sedang melamun berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Emm... aku mau bicara denganmu, Sir. Apakah kau punya waktu?" tanya Diva gugup. Khan mengerutkan keningnya, wajah pria itu kaku. Namun akhirnya pria itu mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.
"Well, aku..." Diva menelan ludahnya. Diva tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, khususnya setelah dia melihat Khan semakin dingin menatapnya. "Begini, aku ingin meminta izin untuk bertemu Sergei di sini. Apakah boleh?" Diva mengucapkan kata-kata itu dengan ragu.
Khan tampak berpikir sesaat. Dia diam sambil menimbang-nimbang dalam hatinya. Jika dia menolak, ia tidak mau jadi bersitegang dengan Shanum. Tapi jika dia mengizinkannya, ada resiko yang harus ditanggungnya. Terutama jika pria itu nantinya jadi membahayakan mereka semua.
"Ada lagi yang butuhkan, Diva?" tanyanya. "Tidak, Sir. Dan terima kasih." Diva tersenyum hangat kepada Khan. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis lalu keluar dari ruangan itu.
Diva segera menyampaikan hal baik ini kepada Sergei. Dan Sergei menyambut lega keputusan Khan. Pria itu mengatakan ia akan datang menjelang sore nanti. Diva tidak perlu menyiapkan apa pun yang merepotkan. Sergei hanya ingin berbincang-bincang berdua dengan gadis itu. Diva tersenyum sambil menutup percakapan di ponselnya dengan Sergei. Dia bahagia bisa bertemu dengan pria itu lagi.
"Mengapa kau tersenyum ceria, Diva. Ada kabar yang membahagiakan ya. Boleh aku tahu?" tanya Shanum. Diva kaget melihat Shanum tiba-tiba muncul di kamarnya. "Ah tidak, aku hanya senang nanti sore Sergei akan datang ke sini," jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Shanum ikut tersenyum menanggapi ucapan gadis itu.
"Maaf aku tadi sudah mengetuk pintu, tapi karena tidak ada jawaban aku coba membukanya. Dan ternyata tidak di kunci, jadi aku masuk deh. Aku mau mengembalikan pelembab wajah yang aku pinjam kemarin." "Tidak apa-apa, Sha. Kau boleh bebas masuk ke kamarku. Lagipula ini kamar ini juga bukan milikku," jawab Diva sambil mengambil botol berisi pelembab wajah yang disodorkan Shanum.
"Sha, apakah kau jatuh cinta dengan Khan?" Shanum terpaku mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Diva. Dia menghela napasnya dan duduk di samping gadis itu. "Aku tidak tahu," jawab Shanum dengan pelan. "Jika perasaan ingin selalu dekat dengannya, bahagia bisa bersamanya, dan selalu memikirkannya setiap waktu adalah tanda-tanda cinta. Berarti, ya... aku sudah jatuh cinta padanya," tambah Shanum dengan jujur.
"Mengapa kau menanyakan itu?" tanyanya lagi kepada Diva. Gadis itu tampak termenung. Lalu dia tersenyum pada Shanum. "Sepertinya aku juga sedang tertarik dengan seseorang, Sha," jawabnya. "Kau yakin Diva. Itu bukan hanya sekedar terpesona saja. Seperti biasanya," ucap Shanum sambil terkekeh geli.
Diva cemberut mendengar ucapan Shanum. "Tidak Sha, aku yakin. Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Aku merasa ada sesuatu di diri pria ini yang membuatku ingin mengenal lebih dekat. Aku merasa seperti naik Roaller Coaster setiap berinteraksi dengannya," ucap Diva serius.
__ADS_1
Shanum terpana mendengar ucapan Diva. Astaga. Mengapa Diva bisa merasakan hal yang sama dengannya? Jika memang benar begitu, berarti gadis itu tidak salah lagi sudah takluk. "Apakah Sergei?" tanya Shanum. Diva tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu mengapa bisa tertarik dengan pria yang tidak seperti pria impianku."
Alis Shanum melengkung mendengarnya. "Iya, pria impianku itu seharusnya seperti priamu, Sha. Priamu itu seperti Kim Soo Hyun." "Siapa itu Kim Soo Hyun?" tanya Shanum mengerutkan kening.
"Astaga. Kau tidak tahu siapa Kim Soo Hyun?" Shanum menggelengkan kepalanya. Diva tampak menepuk dahinya. "Pria itu aktor terkenal di Korea, Sha. Wajahnya mirip sekali dengan Khan Adrian." "Masa..." Shanum tampak tidak percaya.
Diva langsung meraih ponselnya dan mencari wajah Kim Soo Hyun di salah satu aplikasi pencarian. Lalu memperlihatkannya pada Shanum. Gadis itu melihat gambar di ponsel Diva dan dia terkejut. Wajah itu memang mirip dengan Khan. Meski netra mata mereka berbeda. Khan memiliki netra berwarna coklat keemasan.
"Mirip kan, Sha. Susah sih ya, kau tidak suka drama Korea. Oke, kembali ke seleraku. Begini saja supaya mudah, sebenarnya seleraku adalah wajah Oppa bukan Bule," jelas Diva. "Ooo... begitu," sahut Shanum. Diva memutar bola matanya melihat reaksi Shanum. Sahabatnya yang satu ini memang terkadang terlalu lurus dan serius. "Issh... kok cuma begitu reaksinya," protes Diva.
"Lah, terus aku harus bagaimana?" Shanum terkekeh geli. "Lagipula Sergei itu juga tampan kok. Wajahnya seperti malaikat. Tampangnya ada percampuran asianya juga. Meski warna rambut dan matanya khas Eropa sih," tambah Shanum. "Iya ya, wajahnya seperti campuran, tidak murni Eropa." Diva tampak mengingat-ingat tampilan wajah Sergei.
"Nah kan, jadi meski tidak sesuai dengan pria impianmu, setidaknya dia mendekati." Diva tersenyum geli mendengar kata-kata Shanum. "Bisa saja kamu, Sha." "Omong-omong, memang Sergei sudah mengungkapkan isi hatinya padamu?" tanya Shanum. "Belum sih, aku hanya melihat dari gelagatnya saja. Kenapa? Aku terlalu percaya diri ya, yakin pria itu akan suka denganku," komentar Diva sambil tertawa.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kamu kecewa jika ternyata pria itu tidak serius." Shanum menatap Diva sambil tersenyum. Diva meletakkan tangan di perutnya. "Aku tahu, Sha. Aku hanya ingin mencoba mengikuti kata hatiku." Shanum bangkit dari duduknya di samping Diva.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya. Mau belajar menunggang kuda dengan Khan," ucapnya. "Duh, yang sedang jatuh cinta. Maunya ketemu terus," ledek Diva. Shanum hanya tersenyum tipis menjawab ledekan Diva. Dia lalu membuka pintu dan keluar dari kamar Diva.
Sergei berusaha untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan saat datang menemui Diva. Sejak Diva memberitahukan bahwa Sergei diizinkan datang ke kediaman Khan Adrian, ia menjadi resah. Sebagian dari dirinya takut jika menemukan kenyataan bahwa orang yang dicari-carinya ada sangkutannya dengan Diva.
Bagian yang lain dari dirinya takut ditinggalkan oleh gadis itu. Sergei tidak mengerti mengapa dari sejak awal dia bertemu Luna-nya, ia sudah terpikat. Apa yang harus ia lakukan? Ia berharap bukan gadis itu atau teman-temannya orang yang dicari oleh Chinua. Jika kenyataannya seperti kekhawatirannya tentu saja Sergei akan merasakan dilema.
Sergei dibawa ke sebuah ruangan dengan warna biru yang mendominasi. Hingga perabot di dalamnya pun berwarna biru, warna yang sama dengan netra matanya sendiri. Sergei mengerutkan dahi saat melihat yang datang ke ruangan itu adalah Shanum, bukan Diva. "Di mana Luna?" Shanum tersenyum sambil menutup pintu. "Diva sedang bersiap-siap. Harap bersabar ya. Dan apa kabar, Sergei?" Shanum mengulurkan tangannya.
Sergei terdiam, dia menatap sekeliling ruangan. Shanum lalu terbahak. "Kau tenang saja, Khan sedang berada di kantornya. Jadi kau aman." Shanum berbicara sambil menepuk pundak Sergei. Pria itu lalu membeku, di kepalanya muncul berbagai kilasan peristiwa yang membuatnya kaget. Sergei menatap Shanum dengan tajam.
Sergei dapat melihatnya, orang yang yang sudah membunuh Batu adalah Shanum. "Sergei?" ujar Shanum. "Apa kau baik-baik saja?" Sergei semakin memicingkan matanya. "Sergei," panggil Shanum sekali lagi. Pria itu lalu tersadar, ia mengusap wajahnya. Sergei tersenyum kaku pada Shanum. "Yah, aku baik-baik saja."
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka di belakang mereka. Keduanya menoleh. Sergei terpaku, ia terpana. Luna-nya merupakan wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sekarang pun masih begitu. Rambut hitam ikalnya yang panjang sebahu menyapu wajahnya yang bak porselen.
Ia mengenakan gaun merah muda panjang yang melambai-lambai di sekeliling tubuhnya ketika ia berjalan. Seluruh nalurinya terbangun saat ia melihat Diva. Perasaan itu primitif. Menuntut. Menggebu-gebu. Dan perasaan itu tidak mau mendengarkan akal sehat.
Diluar kehendaknya, Sergei mendapati dirinya berjalan menghampiri Diva. Sergei menelan ludahnya, suaranya tercekat saat ingin memanggil nama gadis itu. "Hai, Sergei. Maaf, aku sudah membuatmu menunggu." Sergei memejamkan mata sambil meresapi suara Diva yang memiliki gaya bicara khas yang berirama.
__ADS_1
Suara itu menyentuhnya dalam-dalam, membuat seluruh tubuhnya terbakar. Mengangkat tangan, Sergei menyerahkan bunga Baby Breath yang sudah ia genggam sejak tadi.
Diva terpaku menatap bunga berwarna putih itu. Hand Bouquet itu full dengan hanya satu jenis bunga. Bunga yang memiliki arti ketulusan dan cinta abadi ini membuat Diva gemetar. Seumur hidup, belum pernah ia mendapatkan bunga yang memiliki arti sedalam ini. "Hai Luna, kau tampak cantik sekali. Aku sampai kehilangan kata-kata untuk menyapamu," bisik Sergei di telinga Diva.