
Khan tak sanggup berbicara. Ia pikir ia sudah cukup terkejut dengan kehadiran gadis itu secara mendadak di kantornya.
"Kau tidak mau menjawabku?" Shanum menatap Khan sembari mengangkat sebelah alisnya. Matanya memancarkan tantangan kepada pria itu.
Pria itu berdeham. Kemudian dia mengangkat sebelah tangan dan menyilangkannya di pundaknya. Gerakan itu adalah isyarat sopan permohonan ala klan mereka. Yang mengagetkan Shanum, dia tampak sedikit... malu. Pria itu lalu menurunkan tangannya.
"Aku berutang maaf padamu, Shanum."
Mata Shanum terbelalak lebar. Dengan bodoh, ia berkata, "Sungguh?" lalu ia ingat apa yang terjadi. "Ya, sebetulnya memang harus begitu."
"Aku salah, Shanum. Aku merasa marah pada diriku sendiri dan aku..." Suaranya terdengar tercekat. Khan terhenti di tengah kalimat, ia tak bisa meneruskannya. Ia menyadari tak bisa menyingkirkan gadis di hadapannya dari pikirannya selama satu minggu terakhir. Gadis bernama Shanum itu mendominasi hidupnya, entah saat ia tidur atau bangun.
Ketika gadis itu tengah berdiri di depan pintu, menyapanya, tampak ragu ingin masuk ke dalam ruang kerjanya, mendadak ingin mengurungkan niatnya. Khan begitu terkejut hingga rasionalitas macam apa pun lenyap. Ia bahkan lupa sudah menyimpulkan dengan gusar sebelumnya bahwa gadis itu bukanlah kekasihnya.
Yang sebenarnya, gadis itu mempengaruhi dirinya, di tingkat emosi. Sejak ia mendengar tentang keberadaan gadis itu, Seleksi perjodohan dan dirinya yang nyaris mati, ketiga hal itu memancing reaksi ekstrem pada diri Khan. Dia menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan emosinya. Dan ia mengakui hal itu adalah pertama kalinya terjadi pada dirinya.
Meskipun begitu, saat melihat kedatangan gadis itu siang ini, melihatnya saja membuat reaksi emosional itu muncul lagi. Hasrat untuk melihat gadis itu dari dekat tumpang tindih dengan hasrat untuk menjauhkannya. Dan kali ini gadis itu bahkan menantangnya untuk berkata jujur.
Dia memang sudah gila.
Apa pun yang menyebabkan ia bereaksi kepada gadis itu, ia tahu, ia tidak bisa membiarkannya pergi lagi. Baik karena ia berutang permintaan maaf kepadanya, juga karena alasan lain yang lebih dalam dan lebih tidak bisa dimengerti.
Karena kau menginginkan dia, bisik suara batinnya.
Khan mengabaikannya. Dia tidak berani mengambil resiko akan membuat gadis itu lari dari genggamannya.
Gadis itu tetap terlihat menarik di matanya. Kali ini dia menggerai rambutnya, dan Khan ingin mengulurkan tangan untuk menyusurkan jarinya di sana.
Ia mengepalkan tangan.
"Aku merasa bersalah kepadamu," jawab Khan.
"Hanya itu?" tanya Shanum lagi.
Pria itu menganggukkan kepalanya. Dan Shanum merasa hatinya meluruh jatuh. Harapannya ternyata hanyalah hal yang semu.
Mendadak pria itu bertanya, "Kenapa kau berubah pikiran, dan akhirnya bersedia menemuiku?"
Shanum menelan ludah. "Aku mengira... yah, hanya penasaran dengan informasi bahwa kau mencariku. Aku mengira kau sudah mengingatku."
Khan menggelengkan kepalanya. "Aku memang belum mengingatmu, tapi aku melihatmu dalam mimpiku. Meski wajahmu tidak terlalu jelas, tapi aku yakin itu adalah kau."
Saat ini tatapan Khan tertuju lama ke wajah Shanum, intens. Pria itu menunggu responsnya.
Shanum mendesah. "Aku juga memimpikanmu. Setiap saat, ketika aku tertidur selama seminggu ini."
"Jelaskan padaku," pinta Khan dengan wajah tertarik.
"Hmm, lebih seringnya sih tentang kebersamaan kita dulu. Tapi di mimpiku yang terakhir hari ini, aku melihat kau menghilang di dalam kabut hitam yang sangat mirip dengan kabut hitam yang berada di pori-pori kulitmu ketika kau masih berada dalam pengaruh sihir hitam," ungkap Shanum.
Karena mendadak canggung dan malu sudah jujur mengakui isi mimpinya, Shanum melangkah mundur. "Tapi, mungkin itu hanya sekadar mimpi. Terima kasih untuk permintaan maafnya. Dan aku... Aku harus pergi." Shanum bangun dari duduknya dan berbalik.
"Tunggu."
Shanum berhenti. Jantungnya berdetak tak teratur. Napasnya pendek-pendek.
Khan mendekat dan berdiri di depannya. Secara mengejutkan, pria itu berkata, "Bisa kita mulai lagi dari awal?" Dia mengulurkan tangan sembari tersenyum. "Aku Khan Adrian."
Shanum tahu ia seharusnya menyambut uluran tangan pria itu. Tapi ia malah terpaku menatap uluran tangan itu kemudian beralih menatap senyumnya yang memabukkan. Keinginan untuk meraih tangan pria itu mendadak buyar, dan napasnya yang pendek-pendek menjadi sesak. Ia tak punya pertahanan untuk melawan Khan Adrian dengan senyumnya yang sangat jarang diperlihatkannya itu.
__ADS_1
Shanum harus mendesakkan diri untuk bernapas. Ia merasa pening. Dan di luar semua pertimbangan baiknya ia mendapati diri mengulurkan tangan sebelum sempat menghentikannya. "Aku Shanum Qamira."
Khan menggenggam tangannya dan sentakan listrik merambat naik di lengan Shanum, masuk ke dalam darahnya. Dia tidak menarik tangannya. Ia tidak bisa.
Khan berkata, "Shanum. Nama yang manis." Ucapan itu memberi Shanum dorongan untuk menarik diri. Dia teringat rayuan yang sama dari pria itu di waktu lampau. Shanum hampir mendekap tangannya ke dada, seolah habis terbakar.
Udara di antara mereka seolah memercik. Dan ikatan pasangan jiwa di dirinya berdenyut samar. Shanum melihat mata pria itu mendadak membola, pria itu menatap tangannya lama. Sepertinya Khan juga merasakan ikatan mereka yang menyambarnya.
"Apa yang barusan terjadi?" tanyanya bingung.
Mulut Shanum terangkat masygul. "Itu adalah reaksi dari ikatan jiwa di antara kita."
Khan menatapnya dengan ekspresi takjub. "Ikatan jiwa ini ternyata nyata. Aku awalnya tak percaya Tapi kini... aku tidak bisa mengungkapkannya. Rasanya seperti..."
Khan ingin mengatakan seperti merasa utuh, tetapi berhasil berhenti tepat waktu. Gagasan itu terlalu berlebihan. Konyol. Khan pasti merasa kaget, cuma itu.
Pria itu lalu berdeham. "Apakah kau sudah makan siang? Yah, meski sekarang sudah lewat jauh dari waktunya. Tapi maukah kau menemaniku makan siang yang terlambat ini?"
Shanum belum makan. Tadi dia terburu-buru berangkat. Tidak terpikirkan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Namun bukan hal itu yang membuat gadis itu ragu. Dia hanya belum siap merasakan rasa sakit lagi. Dan Khan melihat ekspresinya itu.
"Ini caraku untuk meminta maaf karena telah bertindak kasar," ucap pria itu guna meyakinkan Shanum.
Gadis itu malah merasa sesuatu mencelus di dalam dirinya. Khan sekadar bersikap baik, cuma itu.
"Terima kasih, sungguh. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu."
Meski saat ini hatinya masih terasa hancur berkeping-keping.
Shanum merasakan tusukan nyeri saat memikirkannya. Khan menggeleng, "Tapi ini bukan hanya untuk minta maaf. Aku ingin mengajakmu makan untuk mengenalmu lebih baik. Kau... membuatku tertarik."
Pikiran Shanum bersorak. Harapannya mulai menggeliat bangun. Pertentangan telah terjadi dalam pikiran dan hatinya. Hatinya merengkuh harapan itu, namun pikirannya menolaknya mentah-mentah.
"Aku..." Shanum kehilangan kata-kata saat melihat kilas permohonan dari mata pria itu.
"Sekali lagi terima kasih atas tawarannya. Tapi mungkin itu bukanlah ide bagus. Aku tidak bisa."
Sebelum ia sempat melangkah mundur, pria itu merengut dan berkata, "Berarti kau masih setengah hati memaafkanku, Shanum. Dan sayangnya aku memaksa."
Kenapa? Shanum ingin bertanya demikian. Namun tidak bisa.
Gadis itu mengangkat dagunya, "Aku tidak suka dipaksa!"
Pria itu mengernyit. "Dan aku akan memanggulmu, tak peduli kau setuju atau pun tidak. Jika kau senang kita menjadi tontonan orang-orang, coba saja!" balas pria itu memberikan ancamannya sembari tersenyum smirk.
Shanum mendengus. Seharusnya ia sudah bisa menebak, kalau pria itu pasti akan mengeluarkan sikap tidak beradabnya jika merasa terdesak.
"Oke, baiklah kalau begitu," jawab Shanum sambil memonyongkan mulutnya.
Khan tidak siap dengan kelegaan yang ia rasakan. Kebanyakan wanita yang diajaknya akan kelewat bersemangat menyambut ajakannya. Sedangkan Shanum tampak seolah mempertimbangkan ajakannya dari begitu banyak sisi yang rumit sebelum akhirnya mengambil keputusan. Khan merasa apa pun yang berhubungan dengan gadis ini tidak semudah biasanya.
"Aku tahu sebuah tempat yang tenang, tempat kita bisa makan sambil berbincang-bincang. Kau tidak keberatan kan kalau aku yang memilih tempatnya?"
Shanum menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. Dia tidak banyak mengetahui tempat makan yang enak serta nyaman di Astrakhan. Jadi lebih baik ia serahkan saja semua urusan itu kepada ahlinya.
Mereka berkendara dalam diam. Sepanjang perjalanan, gadis itu tahu, bahwa ia menjadi obyek tatapan Khan. Tapi Shanum berusaha menjaga pandangannya tetap tertuju kepada pemandangan di luar jendela. Bukan apa-apa, semua itu hanya untuk menutupi kegugupannya. Shanum merasa seperti sedang melakukan kencan pertama dengan pria itu
Beberapa menit kemudian kendaraan mereka memasuki gerbang yang sudah sangat Shanum kenal. Pohon berderet-deret menyambut kedatangannya. Kenangan demi kenangan berdentang-dentang masuk ke dalam kepala Shanum, bahkan penjelasan Khan tentang mansion itu tidak digubrisnya. Khan tidak tahu kalau Shanum pernah tinggal di sana.
Kini gadis itu sedang mengingat hal indah dan buruk yang pernah dialaminya di mansion itu. Kenangan indah bersama Khan, kenangan buruk berperang melawan Chinua, dan diakhiri oleh kebahagiaan karena mereka berhasil bahu-membahu menyelesaikan pertikaian itu dengan damai.
__ADS_1
Shanum mulai terisak, separuh air matanya berasal dari kebahagiaan, kalau dilihat dari kesedihan di matanya, sementara dia melihat pemandangan yang terus bergerak dari kaca mobil.
"Shanum." Khan meraih pundaknya, mengajak wajah gadis itu menghadap ke arahnya. "Ada apa? Mengapa kau menangis?" tanya pria itu.
Shanum menunduk, tapi dagunya langsung diraih oleh Khan. Pria itu mendongakkan dagunya, dan mendesak jawaban dari Shanum melalui tatapan matanya.
"Ka-u membawaku ke mansionmu. Tempat ini... A-ku..." Shanum terbata-bata, dan tidak bisa melanjutkannya kata-katanya. Dia memejamkan mata sembari terisak. Kemudian ia kembali membuka matanya. Dan tersentak melihat Khan menghapus air matanya dengan ujung jarinya.
"Jangan menangis, Shanum. Kalau tempat ini membuatmu sedih, sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja. Atau menundanya di hari lain," kata pria itu dengan wajah sendu.
Shanum mengangkat tatapannya pada Khan dengan sorot ngeri yang memilukan. Artinya mereka tidak akan jadi makan siang bersama. Rasa pahit mendadak merayap naik ke mulutnya sehingga Shanum takut ia akan muntah.
Dari semua hal yang paling ia inginkan adalah kembali ke tempat ini, bersama dengan pria pemiliknya. Dan kini hal itu nyaris terwujud.
Shanum menghela napas dalam yang gemetaran, menghindari mata Khan. "Tidak. Jangan pindah ke tempat lain, atau menundanya. Tempat ini sudah tepat. Tadi aku hanya terbawa suasana kenangan akan tempat ini. Kenangan tentang kita," kata Shanum dengan air mata kembali berlinang.
Tiba-tiba ada kehangatan membungkusnya dan Shanum merasa dirinya ditarik ke dalam dekapan otot-otot yang keras. Aroma maskulin melingkupinya. Akhirnya ia merasa tenang. Shanum serasa pulang ke rumah.
Gadis itu sungguh kurus dan rapuh dalam pelukan Khan, tubuhnya yang ramping gemetar hebat. Naluri ingin melindungi yang Khan rasakan hampir membuatnya kewalahan. Ia sangat ingin mempercayai Shanum, percaya akan hubungan mereka. Sampai-sampai ia bisa mengecap keinginan itu.
Melihat Shanum remuk redam seperti ini rasanya hampir seberat jika Shanum memperlihatkan sikap menantang dan menang. Jauh di lubuk hatinya, Khan malu dan menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Shanum melangkah ke dalam situasi itu.
Jika bukan karena ia lengah sehingga bisa terjebak oleh peristiwa kebakaran itu, mungkin gadis itu tidak akan mengalami rentetan peristiwa menyakitkan ini.
Khan memeluk Shanum lama sekali, sampai sedu sedannya berhenti. Tangannya bergerak naik-turun membelai punggung Shanum, menenangkannya. Deja vu tiba-tiba menghantam telak perut Khan, ketika sekelebat bayangan yang persis sama muncul di matanya. Saat ia memeluk gadis yang sama setelah melihat gadis itu berlinang air mata.
Tubuh Khan menegang untuk melawan kepedihan tak terelakkan yang timbul seiring penampakkan kenangan-kenangan itu. Khan mengernyit merasakan sakit yang hebat menghantam kepalanya. Dia berusaha menahannya sekuat tenaga, posisinya masih tetap mendekap Shanum.
Shanum merasakan ketegangan yang terjadi pada pria itu. Dia sudah berhenti menangis dan tubuhnya sudah berhenti gemetaran, kini gadis itu tenang dalam pelukan Khan. Pria itu mulai mengendurkan pelukannya.
Shanum dengan enggan menjauhkan diri dari Khan. Matanya membelalak ke satu titik di hidung Khan. "Hidungmu berdarah." Shanum mengambil tisu yang berada di tasnya lalu memberikannya pada Khan.
Khan dengan tenang mengusap hidungnya. Setelah itu membuang tisu bekas itu ke tempat sampah. Wajahnya sudah tidak nampak kesakitan seperti tadi.
"Kau tidak apa-apa, Khan?" tanya gadis itu dengan khawatir.
Khan menggeleng, lalu memegang kedua bahu Shanum, matanya mencari-cari mata Shanum. Mengapa kau tidak memanggilku dengan sebutan Adri lagi, Shasha?"
Mata Shanum terbelalak lebar. Dia membekap mulutnya kaget. Tanpa disadarinya ia menggigil, meskipun ingin terlihat mampu mengendalikan emosinya. Shanum merasa dia tidak mungkin kembali menangis hanya karena mendengar pertanyaan mencengangkan pria itu.
"Sebenarnya aku masih ingin membahasnya denganmu. Tapi sayangnya kita sudah sampai sejak tadi, Shasha. Dan aku tidak ingin mereka terus gelisah menunggu kita di luar mobil," kata Khan dengan senyum dikulum.
Shanum seketika menoleh, dia kembali kaget, ternyata mereka sudah berada di lobi depan mansion itu. Sungguh banyak ia terkaget-kaget sejak tadi karena pria itu.
Khan lalu memberi isyarat kepada pengawal yang berada di luar untuk membukakan pintu bagi mereka. Shanum keluar dari mobil, diikuti oleh Khan. Dan Khan refleks meraihnya ke dalam pelukannya sampai Shanum serasa berputar, saat dilihatnya Shanum nyaris terjatuh. Gadis itu mendadak merasa kedua kakinya begitu lemas hingga ia limbung.
Khan berkata muram, "Tampaknya aku harus menggendongmu, Shasha." Pria itu lalu merubah posisinya menjadi sesuai seperti yang dikatakannya barusan.
Shanum mencoba protes, sayangnya ia terlalu lemah, ia pun pasrah. Berada dalam dekapan Khan seperti ini membuatnya merasa seperti gadis rapuh yang gampang hancur oleh tekanan.
Shanum sama sekali tidak menyadari ketika Khan membawanya masuk lift yang kemudian bergerak naik ke lantai paling atas, atau ketika Khan membawanya menyusuri koridor, lalu sebuah pintu terayun membuka dan membawa mereka ke kamar temaram yang diketahui Shanum sebagai kamar pria itu.
Dengan lembut Khan mendudukkannya di sofa dan berkata, "Tidak apa-apa kalau kutinggal sebentar?"
Shanum mengangguk, merasa bersalah. Ketika Khan memeluknya, ia sudah merasa sejuta kali lebih baik. Khan bangkit dan Shanum memperhatikan saat pria itu menekan sebuah nomor dalam ponselnya.
Dengan tangannya yang lain, Khan menanggalkan jasnya. Dia membuka kancing kemeja paling atas dengan jemarinya yang panjang dan ramping, dan mulut Shanum menjadi kering.
Khan berbicara dengan nada rendah di ponsel. "Tolong kirim makanannya ke atas. Terima kasih."
__ADS_1
Khan meletakkan ponselnya di meja lalu menghilang ke dalam kamar mandi. Shanum bisa mendengar bunyi air mengalir lalu Khan muncul lagi dan berjongkok di sebelahnya. "Adakah yang kau butuhkan saat ini, Shasha?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Meskipun dalam hatinya ia ingin mengatakan, aku hanya membutuhkan dirimu di sisiku.