
Shanum terjaga, dia terbangun di atas ranjang indah berwarna putih, di suatu tempat yang terlihat serba putih, tanpa batas, berselimutkan kabut. Gadis itu bahkan memakai pakaian berwarna putih. Apakah ini surga? Jika betul ini adalah surga, berarti dia sudah mati.
Tidak, meski saat mendengar kebohongan Khan rasanya jantungnya berhenti berdetak, Shanum masih belum siap untuk pergi meninggalkan dunia ini. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Semuanya terlihat samar-samar tertutup kabut. Tidak mengerti mengapa dia berada di sini. Dan tempat apa ini sebenarnya? Seakan-akan realitas bercampur dengan mimpi.
Shanum beranjak bangun, dia mulai meraba-raba sekelilingnya. Merasakan kabut putih itu bergerak mengikutinya. Dia mencoba meraba dinding ruangan itu, dan menemukan sebidang keras yang terasa dingin di telapak tangannya. Shanum mengerutkan keningnya. Jika dinding ruangan itu terasa dingin, mengapa Shanum tidak merasa kedinginan?
Shanum melanjutkan melangkah sambil terus menempelkan tangannya ke dinding. Berharap menemukan sebuah celah atau pintu untuk keluar dari ruangan berkabut ini.
Shanum memutuskan bahwa ia membenci warna putih. Dan kabut. Dan ruang gerak yang terus-menerus berubah yang membuatnya tidak tahu apakah dia berjalan berputar-putar atau tidak.
Ketika ia harus berkonsentrasi hanya supaya bisa menjejakkan sebelah kaki di depan kaki yang sebelah lagi, Shanum hampir mengerang saking frustasinya. Perjalanan ini seolah tanpa akhir. Dia tersesat, tanpa ada jalan keluar dari kabut itu. Rasanya seperti berjalan dengan mata buta.
Tiba-tiba gadis itu berhenti melangkah. Dia merasakan sesuatu berjalan mendekat. Dia tidak mau memikirkan apa yang mungkin sedang mengintai di balik kabut.
Shanum memejamkan matanya, mencoba memusatkan konsentrasi. Memanggil kekuatannya untuk mengeluarkannya dari ruangan berkabut itu.
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan kekuatanmu, Your Majesty." Shanum membuka matanya saat mendengar sebuah suara. Dia merasa lega bisa mendengar ada suara yang berbicara padanya. Sebab ada suara berarti ada orang, dan itu tandanya ada harapan untuk keluar dari sini.
Shanum termangu ketika seorang wanita menyibakkan kabut dan muncul di hadapannya. Dia bergidik, dikejutkan oleh ironi yang mengerikan, karena wanita yang menghilang di dalam Ger saat di kota Sarai Batu kembali menampakkan diri. Rasanya itu... mustahil.
"Apakabar, Your Majesty?" Wanita itu tersenyum. Dia memiliki wajah asia berbentuk bulat dengan hidung kecil dan kulit berwarna kuning langsat. Netra hitamnya sungguh membuat Shanum takjub, netra itu seakan-akan menyimpan kebijaksanaan tanpa batas.
"Siapa sebenarnya dirimu? Dan mengapa kau berada di sini?" tanyanya. Wanita itu mendesah lalu melangkah mendekati Shanum. Gadis itu sontak mundur, merasa takut di dekati olehnya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." Dia lalu mengayunkan tangannya dan sebuah sofa cantik berwarna putih muncul di hadapan mereka. "Oh, jangan putih lagi," erang Shanum. "Kau tidak suka warna putih? Mau warna yang lain, katakan saja padaku?"
"Aku hanya muak dengan warna putih yang mendominasi di sini. Jika bisa, boleh warna coklat, please," pinta Shanum. "Titahmu akan terlaksana, Your Majesty." Sofa itu mendadak berubah warna menjadi coklat muda keemasan. Mendadak ia jadi teringat dengan warna mata Khan. "Oh, tidak..." gumam Shanum.
Wanita itu tersenyum misterius. "Kau pasti mencintai warna ini, Your Majesty." Shanum menatap tajam pada wanita itu, mengapa kata-katanya terasa sungguh menohok hatinya. Namun Shanum tampak tidak peduli, dia langsung menuju sofa itu, dan langsung duduk di sana.
Wanita itu akhirnya mengikuti Shanum, ikut duduk di sampingnya. Shanum memicingkan matanya, tampak menilai wanita di sampingnya itu. "Jadi, siapa kau?" tanya Shanum lagi. Dia kembali tersenyum dan berkata, "Aku adalah salah satu orang yang menantikanmu."
"Maksudmu?" tanya Shanum mengerutkan keningnya. Kebingungan melanda gadis itu.
"Namaku Nekhii."
"Kau malaikat atau iblis?"
Wanita itu terkekeh geli. "Tidak keduanya."
"Jadi kau sama sepertiku?"
"Ya."
"Berasal dari Klan mana dirimu? Karena aku tahu kau pastinya bukan manusia biasa."
"Klan Altan," jawab Nekhii sambil tersenyum tipis.
Shanum mengatupkan rahangnya, mendengar nama klan itu disebut, hatinya mendadak terasa panas.
"Aku tahu kau kecewa dengan Yang Agung, Your Majesty. Tolong maafkanlah dia."
Shanum mendengus. "Apa pendusta itu yang menyuruhmu datang ke sini? Betapa pengecutnya dia," katanya dengan kesal. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Yang Agung tidak tahu, bahkan saat ini dia sedang panik karena mengkhawatirkanmu."
"Huh, tidak mungkin. Aku menyangsikannya," kata Shanum ketus.
" Dia punya alasan atas perbuatannya. Kau harus percaya kepadanya, Your Majesty." Shanum tampak melengos sambil berdecak kesal.
Kemudian matanya menatap tajam ke arah Nekhii. "Mengapa kau selalu memanggilku dengan sebutan itu?"
"Karena kau adalah calon ratu kami."
__ADS_1
Shanum terperangah mendengar ucapannya. Gadis itu tertawa keras. Bagi Shanum hal itu terasa menggelikan.
"Kata-katamu sungguh lucu."
"Aku tidak sedang bergurau, Your Majesty."
"Hentikan, panggil saja Shanum. Aku bukan ratumu dan tidak akan pernah menjadi ratu untuk pria itu. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu."
Wanita itu menghembuskan napasnya. Kemudian dia mengangkat tangannya. Nekhii mengusap pipi Shanum. Mata gadis itu membola, dia merasakan kehangatan yang menenangkan mengalir dari tangan Nekhii. Entah mengapa dia merasa seperti sudah pulang ke rumah. Oh, Shanum jadi merindukan ibunya.
"Aku tidak bisa mengobati luka di hatimu, Shanum. Maafkan aku. Tidak juga luka Yang Agung. Dia bahkan merasakan kesakitan yang jauh lebih dalam. Jika kau ingin tahu, kau bisa tanyakan padanya."
"Cukup membicarakan tentang pria itu, Nekhii. Aku tidak ingin mendengarnya lagi." Shanum mengepalkan tangan di pangkuannya.
"Semua sudah ditakdirkan, Shanum. Hanya gadis yang memiliki darah keempat klanlah yang merupakan jodoh Yang Agung kami." Terdapat jeda, Nekhii lalu menarik tangannya. Dia bangkit dari duduknya dan menatap kabut di hadapannya.
"Aku bisa merubah takdir itu, karena aku bukanlah gadis yang dimaksud," bisik Shanum. Nekhii menoleh, lalu tersenyum.
"Suatu saat kau akan tahu," jawabnya tenang. "Mungkin iya, mungkin juga tidak," balas Shanum.
"Em, Nekhii, di mana aku berada saat ini?" Shanum berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau berada di dalam ruang hampa di dalam pikiranmu."
Shanum mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Kau menghindar dari rasa sakit yang kau rasakan hingga mengasingkan dirimu ke dalam suatu tempat di dalam dirimu. Hanya kau yang bisa memutuskan untuk keluar dari sini atau tidak," ucap Nekhii.
"Jadi aku bisa keluar dari sini?"
Nekhii menganggukkan kepalanya. Shanum berdiri lalu melihat sekelilingnya.
"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa menemukan pintu keluarnya." Nekhii tetap tersenyum menanggapinya.
"Kedatanganku hanya untuk membantumu menemukan takdirmu. Aku sudah pernah mengatakannya padamu saat di Sarai Batu. Tomorrow is a mystery, today is a gift, love is eternity. Always listen to your heart, never look away," ucapnya. Lalu Nekhii menghilang, begitu juga dengan sofanya.
"Oh tidak, Nekhii. Jangan pergi!" teriak Shanum sambil mengayunkan tangannya ke depan ingin meraih wanita itu. Namun dia hanya meraih udara kosong. Ruangan berkabut itu tetap sunyi. Hanya suara napasnya yang terdengar. Mendadak Shanum merasa lelah dengan semua teka-teki rumit ini dan letih dengan semua rasa sakit ini.
Untuk waktu yang tidak dapat dipastikan, Shanum kembali teringat pada kata-kata Nekhii tentang hanya dia yang bisa menemukan pintu keluarnya. Shanum lalu menurunkan posisi tubuhnya, dia duduk di atas lantai. Gadis itu melipat kakinya dengan posisi bersila. Shanum memejamkan matanya, dan mulai berkonsentrasi. Dia mengatur napas lalu mengosongkan pikirannya.
Shanum tidak menyadari kalau perlahan kabut mulai menipis, dinding di belakangnya terlihat menghilang. Ketenangan mulai membanjiri batinnya. Shanum perlahan menerima semua rasa sakitnya, dan berani untuk mengakuinya.
Shanum mengerjap, dia merasakan ada yang merengkuh erat tubuhnya. Dia terbangun dalam pelukan hangat seseorang. Gadis itu memegang keningnya yang terasa pusing, lalu mengerjapkan matanya. Perlahan dia mencari wajah orang yang sudah memeluknya, dan melihat wajah tampan Khan sedang tertidur lelap.
Gadis itu merasakan badai kesakitan menerjang hatinya. Hingga dadanya terasa sesak, dan air matanya terancam tumpah kembali. "Oh Tuhan, dia sudah berusaha meredamnya. Namun luka itu sakitnya masih tak terperi," ucapnya dalam hati. Shanum berusaha melepaskan lilitan tangan pria itu pada tubuhnya. Namun lilitan itu tak bergeming. Shanum mulai menambah tenaganya, hingga membuat napasnya memburu.
Khan terbangun karena usaha Shanum tersebut. Pria itu mengerdipkan matanya. Dia masih merasakan pergerakan kasar pada tubuhnya. Yang dia ingat terakhir kali tadi adalah ia berusaha membuat Shanum sadar. Setelah berusaha tanpa hasil dia merasa mengantuk, lalu naik ke atas ranjang. Dan menatap wajah Shanum sambil mengusap pipi gadis itu. Dia bahkan melakukan perbuatan memalukan. Khan mengecup lembut bibir gadis itu. Berharap dengan ciumannya, dia akan terbangun.
Dokter yang dipanggil Khan mengatakan berdasarkan pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale), Shanum hanya pingsan. Meski begitu Khan tetap cemas. Gadis itu tak kunjung sadar selama sepuluh jam. Taban menghubunginya tentang kondisi Shanum, dan Khan memutuskan untuk kembali ke mansion.
"Shasha," bisik Khan. Shanum menarik bantal dan mendekap di depan dadanya, seakan-akan batal itu bisa membentengi dirinya dari Khan. Dia menepis tangan pria itu yang hendak meraihnya. Wajah Khan terlihat sedih. "Jangan seperti ini padaku, Shasha. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu, semua ada alasannya."
"Aku tidak mau mendengarnya." Shanum menutup telinganya dengan kedua telapak tangan, dan sambil menunduk ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Shasha." Khan kembali mencoba meraih tangan Shanum. Tangan pria itu berhasil memegang tangannya. Shanum tersentak. "Jangan sentuh aku, dan kau sebaiknya pergi. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Pergi!" geram Shanum. Dia memberikan gerakan tangan mengusir pada Khan.
Khan menarik tangannya. Wajahnya terlihat lelah dan muram. Pria itu tampak terluka mendengar pengusiran Shanum. "Tidak. Kita tetap akan membicarakan..."
"Sebaiknya kau pergi, Sir. Tolong beri dia waktu," Farah menyela ucapan Khan. Ketiganya berdiri di depan pintu kamar. Khan tidak sadar jika mereka melihat adegan itu. "Maaf, Sir. Tapi betul kata Farah. Kau harus meninggalkan Shanum, dia baru sadar. Jika kau menyanyanginya, biarkan dia beristirahat," kata Taban.
Khan memejamkan mata, berusaha meredam kesedihan dan kemarahan yang menguasai hatinya. Matanya kembali terbuka dan tampak berkaca-kaca. "Baiklah aku akan keluar dari sini," katanya pada Taban dan kedua sahabat Shanum. Pria itu lalu menoleh kembali ke arah Shanum. "Aku tidak bisa melepaskanmu, Shasha. Tidak akan pernah bisa. Dan aku tidak akan membiarkanmu walaupun kau mencobanya." Wajah Khan penuh emosi sementara ia mengepalkan tangannya erat.
Kemudian Khan keluar dari kamar itu. Di sudut ranjang terdengar suara isak tangis. Suara itu berasal dari Shanum. Farah dan Diva langsung bergegas menghampirinya. Mereka melihat wajah berantakan gadis itu. Matanya penuh lelehan air mata, hidungnya memerah dan wajahnya terlihat menahan rasa sakit. Farah tidak pernah melihat perasaan hancur di wajah Shanum hingga seperti ini. Meski Shanum sudah sering mengalami kesakitan karena mimpi buruknya.
"Sha, kami ada di sini. Pria itu tidak akan bisa mengganggumu. Aku akan memastikannya," bisik Diva. Shanum memandang wajah kedua sahabatnya. "Tolong bawa aku keluar dari sini," pintanya. Keduanya terpaku lalu melirik ke arah Taban. Pria itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kaku. Lalu Diva tersenyum, dia melihat kembali ke arah Shanum. "Ya, Sha. Ayo kita pergi dari sini," kata Diva. "Aku akan menghubungi Tim dan Ula juga," sahut Farah.
__ADS_1
Empat jam setelah itu mereka sudah berada di hotel. Tim dan Ula segera datang saat Farah mengontak mereka. Taban membantu mempersiapkan kepergian ketiga gadis itu. Pria itu tidak takut dengan kemarahan Khan karena mengizinkan mereka keluar dari mansion. Dia tahu, Khan akan terus mendesak Shanum, dan dia tidak ingin gadis itu semakin tertekan karenanya. Shanum pernah menyembuhkan luka Taban, dan dia berutang hal itu kepadanya.
Selama satu minggu berada di hotel Shanum tetap membuat orang-orang di sekelilingnya cemas. Diva, Farah, Tim dan Ula sangat cemas pada acara makan siang di hari Kamis. Mereka pergi ke restoran Rusia yang terkenal di kota itu, dan mereka berempat berusaha keras membuatnya tertawa dan gembira.
Shanum memang bersenang-senang, karena dia suka menghabiskan waktu bersama mereka berempat, dan tidak suka melihat kecemasan di mata mereka. Tetapi ada lubang dalam diri Shanum yang tidak bisa ditutupi dengan apa pun. Setiap hari gadis itu berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak menunggu kabar dari Khan, tetapi ketika dia naik ke atas tempat tidur di malam hari, dia menangis sampai terlelap karena hari itu berakhir tanpa kabar darinya.
Shanum menjalani sisa hari-harinya di kota itu dengan pelan. Dia memaksakan diri mengikuti acara yang sudah diatur Tim dan Ula. Keduanya menjadi sangat dekat dengan mereka saat ini. Terutama Ula, dia sering mengajak Shanum bertukar pikiran. Pria itu ternyata teman berbicara yang asyik. Ula mengakui bahwa dia juga memiliki sihir. Dan dia meminta maaf karena pernah membocorkan tempat persembunyian Shanum pada Khan.
Shanum hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ula. Dia sudah tidak mempermasalahkannya. Karena tanpa Ula beritahu pun, pria itu cepat atau lambat akan menemukan mereka. Tidak ada yang bisa bersembunyi dari seorang Khan Adrian, yang memiliki kuasa.
Malam itu Ula mengajak mereka makan malam di restoran di City Embankment. Namun kedua sahabat Shanum menolaknya. Mereka terlalu lelah setelah seharian mengikuti wisata belanja, dan ingin makan di kamar saja. Shanum tidak tega melihat wajah kecewa Ula, jadi dia bersedia menerima ajakannya.
Mereka berjalan di sepanjang City Embankment. Lampu tampak menerangi sepanjang tanggul di tempat itu. "Kau suka berada di sini, Shanum?" tanya Ula. "Ya, aku suka." Shanum tersenyum. Ula balas tersenyum. "Aku senang. Awalnya aku tidak terlalu yakin. Kau tidak terlihat antusias, terutama selama kau keluar dari mansion itu."
"Maafkan aku. Aku baru saja mengalami kejadian yang buruk." Shanum mencoba bersikap tak acuh. "Sulit bagiku untuk merasa gembira tentang sesuatu saat ini, walaupun aku benar-benar menyukainya. Perjalanan ini adalah salah satunya."
"Aku ikut prihatin mendengar kau mengalami hal yang buruk dengan Khan," katanya, matanya yang gelap hangat dan bersimpati. "Ya. Aku juga." Shanum mengamati Ula. Pria ini lumayan tampan juga jika diperhatikan menurut Shanum.
Roman wajahnya ramping dengan tulang pipi tinggi dan hidung yang besar, tapi tidak berlebihan. Dahinya lebar dan bibirnya tipis. Namun matanyalah yang menawan, berbentuk sipit, berwarna coklat dengan lingkaran hitam pekat yang mengelilinginya. Mata itu bisa mengundang reaksi yang berbeda-beda. Tergantung suasana hati pemiliknya, dan saat ini Ula menatap Shanum dengan pandangan hangat penuh persahabatan.
"Kau tahu Shanum, aku selalu merasa bahwa aku pernah mengenalmu. Rasa itu semakin hari semakin nyata." Ula berkata sambil mengendikkan bahunya. Shanum terkekeh geli. "Tentu saja kau mengenalku Ula, sudah hampir tiga bulan aku berada di kota ini, dan kita sudah sering bertemu."
"Bukan seperti itu maksudku, Shanum." Ula memutar bola matanya. Kemudian pria itu ikut tertawa kecil. Mereka kembali berjalan sambil menikmati suasana indah di sepanjang tanggul. Sungai Volga terlihat indah, banyak orang berlalu lalang di samping mereka.
Shanum lalu melihat sebuah patung berbentuk anak lelaki sedang menunduk dan melakukan sesuatu. Dia mengernyitkan keningnya. "Sedang melakukan apa patung anak laki-laki itu?" tanya Shanum. "Dia seorang shoeshine boy," jawab pria itu. "Seorang bocah tukang semir sepatu," gumamnya. Shanum menghampiri patung itu dan berjongkok, ia mengusap patung tersebut. Lalu dia terkesiap.
"Ada apa?" tanya Ula. Shanum melihat tangannya yang berdarah. "Em, sepertinya aku mengusap bidang yang tajam di salah satu patung itu." Ula menarik tangan Shanum dan terkejut. Dia membeku menatap tanda lahir berbentuk kelopak bunga di telapak tangan Shanum, dan bergerak mundur. Pegangannya pada telapak tangan gadis itu otomatis terlepas.
Pria itu menatap Shanum dengan pandangan yang aneh. Shanum merasa takut melihat wajah penuh kasih sayang yang terlihat pada pria itu. Ula lalu melangkah maju sementara Shanum melangkah mundur. "Sarnai. Kau kembali," gumamnya. Shanum tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk itu. Ketegangan di antara mereka begitu menyesakkan sampai Shanum sulit bernapas.
Shanum mundur hingga ke pinggir tanggul dan pinggulnya menabrak pagar pembatasnya. Di sekeliling mereka mendadak tampak sepi. Orang-orang yang berkerumun dan berlalu-lalang tidak terlihat lagi.
"Kenapa kau lari, Sarnai? Apa kau lupa padaku?" tanyanya. Shanum menelan ludah. Lidahnya mendadak kelu. Dia tidak dapat mengucapkan satu patah kata pun.
Shanum mengusap perutnya yang tegang. Apa yang bisa dia katakan? Bahwa pria itu berhalusinasi sehingga salah mengenali orang. Dia Shanum bukan Sarnai.
"Kenapa, Sarnai? Kau tiba-tiba menghilang begitu saja, aku sudah mencari dirimu selama ratusan tahun." Oh tidak, Ula ternyata mengenal Sarnai. Shanum menoleh, mencari orang yang bisa dimintai pertolongan.
Ula menerjang maju dan menangkap lengan Shanum, mengejutkannya, sesaat membuatnya takut dengan gerakannya yang agresif. Kalau dia tidak sedang terdesak di pinggir tanggul, selangkah lagi dengan bibir sungai, Shanum mungkin sudah membanting pria ini ke tanah.
"Aku cemas, Sarnai. Kau berutang penjelasan padaku," cetusnya. "Aku bukan..." Ula lalu memeluk Shanum dengan lembut. Pada saat gadis itu menyadari apa yang terjadi, ia mempererat rengkuhannya. Shanum tidak bisa menarik diri, tidak bisa mendorongnya menjauh.
Dan selama sedetik, Shanum tidak ingin melakukannya. Dia bahkan membalas pelukannya, Shanum merasakan kedamaian berada dalam pelukan pria ini, meredakan sesuatu yang sakit di dalam dirinya. Ula melepaskan pelukannya, dan Shanum ikut menarik diri sambil terkesiap.
Dia melihat Khan yang berlari mendekat dengan cepat, ia tidak melambatkan kecepatannya sementara ia menubruk Ula dan menjatuhkannya.
Shanum terhuyung ke belakang karena tubrukan itu, menabrak pagar pembatas tanggul. Punggungnya terasa sakit karena menghantam pagar besi tersebut. Shanum mencengkeram erat besi pagar, menjaga keseimbangan badannya agar tidak sampai jatuh tercebur ke dalam sungai.
Kedua pria itu jatuh ke conblock dengan bunyi keras. Seseorang berteriak. Wanita menjerit. Shanum tidak bisa melakukan apa-apa. Dia berdiri terpana dan diam, berbagai emosi bergumul dalam dirinya.
Khan mencekik Ula dan meninju rusuknya dengan keras berulang-ulang. Ia terlihat dingin, tenang, kaku dan tak bisa dihentikan. Ula mengerang seiring setiap pukulan dan berusaha membebaskan diri.
"Hentikan, Sir!"
Shanum menutup mulutnya dengan jari-jarinya ketika Taban muncul. Ia melompat ke depan, menggapai Khan, tetapi terhuyung ke belakang ketika Ula berguling ke samping dan kedua pria itu berguling bersama.
Suasana yang tadinya sepi menjadi mendadak ramai, terlihat berkerumun di sekitar tempat mereka berkelahi. Dario dan para pengawal Khan muncul dan mengatakan ucapan yang tidak dimengerti oleh Shanum. Kemudian kerumunan itu membubarkan diri. Meski perkelahian kedua pria itu tetap terjadi.
Ula berhasil melepaskan diri, melompat berdiri, dan mendorong Khan ke sisi lain. Khan menautkan tangan dan memukul punggung Ula, memaksa Ula menjauh. Ula membalas, dia melayangkan tinju, otot lengannya meregang karena tinjunya terkepal, tetapi Khan mengelak dengan mulus dan membalas dengan pukulan di bawah dagu Ula yang membuat kepala Ula tersentak ke belakang.
Oh Tuhan.
Khan tidak mengeluarkan suara, baik ketika ia menyerang maupun ketika Ula mendaratkan pukulan langsung ke rahangnya. Amarahnya terlihat mengerikan. Shanum bisa merasakan amarah itu mendidih dalam dirinya, melihatnya di matanya, tetapi ia tetap terkendali.
__ADS_1