Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 66 Menjebak Menjadi Terjebak


__ADS_3

Ketika Shanum terbangun keesokan harinya, hari sudah siang. Sinar matahari terang menyorot dari sela-sela tirai kamarnya. Ia memang baru tidur jauh melewati tengah malam kemarin, karena harus berdiskusi dengan para pria itu, membahas strategi selanjutnya.


Keduanya sudah berganti pakaian dengan pakaian yang bisa digunakan pria dan wanita, yaitu celana denim, kaos dan hoodie. Sergei mengatakan mengenakan pakaian wanitanya sudah selesai. Dan Khan bisa menghela napas lega. Pria itu tidak suka menyamar menjadi hal yang bertentangan dengan kodratnya.


Sedangkan Sergei, dia juga sebenarnya baru kali itu menyamar menjadi wanita. Walau bagaimanapun dia tetap pria tulen yang juga risih berperan seekstrim itu. Namun keduanya tetap harus mengenakan pakaian yang menutupi wujud asli mereka sebagai pria, demi membantu Shanum.


Karena citra mereka di mata musuh tetap tidak boleh berubah. Jika mereka pria, musuh akan lebih waspada. Dan jika musuh beralih waspada, akan sulit untuk membuat mereka lengah dan menjebaknya.


Menurut Sergei pancingan mereka di awal sudah berhasil, karena mereka sudah diikuti sejak keluar dari apartemen. Dan tidak menutup kemungkinan saat ini musuh juga sudah berada di tanah ini.


Semalam Jullian dan Abdan juga sudah berteleportasi ke vila. Mereka muncul secara tiba-tiba saat Shanum sedang makan malam di ruang makan. Para pria itu juga mengenakan denim dan hoodie seperti kedua pria lainnya.


Dan karena Shanum sudah meliburkan Pak Maman dan keluarganya, hidangan makan malam harus dibuatnya sendiri dengan dibantu oleh Sergei dan Khan.


Gadis itu memang tidak ingin ada siapa pun di vila ini selain dia dan keempat pria itu. Dia tidak mau jika nantinya ada korban dari manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.


Setengah terjaga, Shanum mengangkat badannya dan bertumpu pada salah satu siku ia mengamati sekelilingnya dengan mengantuk, dan tersadar bahwa perutnya bergemuruh minta diisi. Gadis itu perlahan-lahan berdiri dan melakukan peregangan dengan santai, menyempatkan diri untuk mandi dengan cepat.


Kemudian ia keluar dari kamar, menuju ruang makan. Shanum tidak menemukan Khan sedang duduk di sana sembari mengobrol dengan Sergei.


"Kau sudah bangun, Shasha. Ayo duduk di sini. Kami masih menyisakan sarapan untukmu. Kau mau dihangatkan lagi sarapannya atau mau langsung di makan saja yang sudah dingin?" Khan menepuk bangku di sebelahnya sembari tersenyum kepadanya.


"Kau memasak apa, Adri?" tanyanya.


"Bukan aku yang memasak, tadi Abdan yang membuat roti isi daging dan omelet."


"Atau kau ingin dibuatkan yang lain. Nanti aku buatkan. Kau mau apa?" ucap Khan sembari bergerak ingin bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, Adri. Aku tidak mau merepotkanmu. Lagi pula aku ingin menghargai makanan yang sudah dibuatkan Abdan, sayang jika disia-siakan." Shanum menggeleng sambil menahan Khan agar tetap duduk di bangkunya, dan gadis itu ikut duduk di sebelahnya. Khan lalu duduk kembali sembari tersenyum tipis.


"Bagaimana tidur kalian, apakah nyenyak?" tanya Shanum. Gadis itu mulai mengambil roti isi yang tersedia di meja. Ia memasukkan ke mulut dan mengunyahnya dengan lahap.


"Sangat nyenyak," sahut Sergei. "Di sini cuacanya sedikit mirip di Astrakhan pada saat musim gugur," lanjutnya lagi.


"Kau ingin jus atau kopi, Shanum?" Abdan memotong percakapan mereka dan bertanya kepada Shanum.


"Aku mau jus saja. Terima kasih, Abdan." Shanum tersenyum ke arah pria itu. Dan Abdan menjawabnya dengan anggukkan.


"Iya, di sini cuacanya lebih sejuk dan lembab. Kalian mungkin lebih suka dengan cuaca di sini, karena mengingatkan kalian pada negara asal kalian."


"Kalau aku akan suka di mana pun kau berada, Shasha." Khan tersenyum lembut ke arah Shanum. Dan gadis itu memutar bola matanya. Bisa-bisanya pria itu mengeluarkan rayuan gombalnya di depan orang lain.


"Serius, aku masih tetap takjub melihat dirimu berubah drastis menjadi pria yang romantis begini." Sergei tersenyum geli melihat ke arah Khan.


Dan Khan tidak berkomentar mendengar kata-kata Sergei, ia hanya menatap ke arah pria itu dengan pandangan tajam dan kakunya. Sergei mengendikkan bahunya sembari kembali memperhatikan tablet di tangannya. Dia sadar jika Khan tidak suka mendengar komentarnya barusan.


Setelah Shanum selesai makan, mereka mulai menjalankan tahap pertama dari rencana mereka. Shanum mengajak Khan dan Sergei untuk berjalan menyusuri kebun sayur organik yang berada di tanah itu. Sedangkan Abdan dan Jullian hanya mengawasi dari kejauhan.


Selain memiliki rumah peristirahatan, tanah di sekeliling vila juga dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Shanum berjalan menyisiri green house dengan pandangan senang.


"Apa saja yang ditanam di sini?" tanya Sergei dengan wajah ingin tahu. Pria itu menjulurkan badannya dan melihat dari dekat tanaman yang ada di dalam salah satu pot.

__ADS_1


"Mereka menanam paprika, brokoli, tomat dan tanaman lainnya," jawab Shanum. Ayahnya memang tidak mau menyia-nyiakan lahan dengan membiarkannya kosong. Di samping bermanfaat buat mereka, juga bermanfaat untuk penduduk setempat, yaitu dapat membuka lapangan pekerjaan untuk mereka.


"Jika kau meliburkan mereka, siapa yang bertanggung jawab atas tanaman ini?" tanya Khan sembari menatap sekelilingnya dengan waspada. Pria itu merasa ada yang mengamati gerak-gerik mereka. Sepertinya ucapan Sergei tadi benar adanya. Pihak musuh sudah mulai terpancing.


"Oh, aku tidak meliburkan orang-orang yang merawat kebun ini. Yang aku liburkan hanya pekerja yang tinggal di vila," jawab Shanum.


"Jadi para pekerja itu tinggal di dalam tanah ini juga?" tanya Sergei ingin tahu.


"Tidak mereka tinggal di perkampungan tidak jauh dari pintu gerbang tadi. Tanah ini berada di barat, sisi sebelah utara dan selatan terdapat hutan. Sisi timurnya terdapat sungai jernih yang mengalir ke arah barat," jelas Shanum. "Jika kalian ingin ke sungai itu besok kita bisa berangkat lebih pagi," ucapnya lagi.


Mereka lalu mengelilingi green house dengan berjalan kaki. Melihat-lihat aneka tanaman sekaligus mengamati sekelilingnya.


"Berapa persisnya luas tanah milik keluargamu ini, Shanum?" tanya Sergei tiba-tiba. "Luasnya kurang lebih seribu hektar," jawab gadis itu. Sergei langsung bersiul takjub ketika mendengar sejumlah angka yang diucapkan Shanum.


"Apakah termasuk hutan yang mengelilinginya?" tanya Khan penasaran. "Ya, dengan hutan yang berada di sekitar vila ini." Shanum tersenyum sembari menatap Khan. Pria itu mengangguk dengan senyum balasan yang selalu membuat jantung gadis itu berdetak cepat.


"Berarti gadismu ini bukan orang sembarangan, Yang Agung," kata Sergei sembari tersenyum geli. "Memang bukan, dia calon ratuku. Jadi tentunya, dia tidak bisa dianggap remeh." Khan menjawab sembari tersenyum hangat ke arah Shanum. Gadis itu langsung tersipu mendengar kata-kata Khan yang penuh arti itu.


Setelah cukup lama mengelilingi green house yang cukup luas, mereka melangkah kembali menuju ke vila. Shanum pamit pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sebab cukup melelahkan juga mengelilingi green house tadi.


Keesokan harinya, di pagi hari mereka sudah bersiap-siap untuk menuju hutan, dan mendatangi sungai yang terdapat di sisi timur vila ini. Jalan menuju sungai harus dilewati dengan mengikuti jalan setapak yang sudah dibuat oleh orang suruhan ayah Shanum.


"Jangan lupa untuk membawa pakaian ganti, jika ingin berenang." Shanum mengingatkan keempat pria itu. Keempatnya ternyata telah siap tanpa perlu disuruh kembali. Sepertinya mereka tidak ingin melewatkan kesempatan berenang di sungai.


"Perbekalan kita apakah sudah lengkap, Jullian?" tanya Khan pada pria itu. "Sudah, Yang Agung. Aku membawa perbekalan di ranselku. Sedangkan sisanya di pegang oleh Abdan," jawab Jullian. Khan lalu mengangguk kepala mendengar jawaban pria itu.


"Oke, ayo kita segera berangkat," aba-aba Shanum. Gadis itu lalu mulai memimpin di depan melangkah menuju hutan. Diikuti oleh Khan yang berada di samping kanan dan Sergei di samping kirinya. Sedangkan kedua pria pengawal Khan, mereka melangkah santai di belakangnya.


Pagi ini langit tampak jelas di antara pohon-pohon, warna biru cerah yang bahkan tidak terhalang oleh gumpalan awan yang paling tipis. Matahari begitu hangat dan terang, bersinar dengan cerahnya melalui pohon-pohon yang tersebar untuk menerangi lingkungan itu.


Mereka baru melangkah beberapa ratus meter ketika Khan memberi isyarat untuk diam, memandang ke sana-kemari, seperti mencari sesuatu di udara.


"Asap!" serunya tiba-tiba. "Ada yang menyalakan api di hutan!" Khan mengetatkan rahangnya. "Aku merasakan api sihir."


"Aku tidak mencium asap apa pun," jawab Shanum sambil mengendus udara. "Sepertinya aku mulai kesal dengan hal berbau api sihir ini. Kemarin rumahku yang dibakar, sekarang hutanku." Shanum menggerutu sendiri.


"Kau belum terlatih untuk mengetahui adanya sihir. Dan aku juga yakin seperti Yang Agung, api ini pastinya api sihir," kata Sergei. Ia menoleh ke arah Abdan, pengawal Khan. "Bisakah kau melacak asal apinyanya, Abdan?"


Abdan melesat ke atas pohon, dan menghilang dari pandangan. "Wow dia bisa terbang," kata Shanum kagum.


"Dia menguasai elemen angin, tentu saja dapat terbang," sahut Sergei.


"Kau juga seharusnya bisa terbang, Shasha. Kau kan memiliki elemen angin juga. Kau sudah lupa, saat peristiwa kau menerbangkan Chinua beserta pasukannya, dan memporak-porandakan mereka. Saat itu kita sedang menyusup ke perkemahan mereka dan tertangkap." Khan menyeringai ketika teringat peristiwa itu, sembari menatap ke arah Shanum.


"Serius kau melakukan itu, Shanum. Sungguh luar biasa kalau begitu. Dan saranku kau harus banyak mengasah kekuatan sihirmu," timpal Sergei.


Shanum memutar bola matanya. "Bagaimana bisa aku berlatih di apartemen. Membuat keributan sedikit saja bisa di protes penghuni lainnya. Apalagi aku memunculkan angin di depan balkon, mereka mungkin akan mati berdiri melihatnya." Shanum terkekeh geli.


"Kau bisa berlatih di sini, Shanum," kejar Sergei lagi. "Iya, tapi setelah perusuh-perusuh itu dibekuk. Dan juga setelah skripsiku selesai. Tidak mungkin aku bolak-balik dari vila ke kampus, jaraknya terlalu jauh," jawab gadis itu.


"Asal api itu dari beberapa tempat sekaligus, Yang Agung. Dan sekarang sudah berada di sekeliling kita. Hanya jalan ke arah sana yang tidak terdapat api," kata Abdan sembari menunjuk jalan di depan mereka.

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka tanpa suara. Shanum sempat kaget melihat penampakan pria itu yang muncul mendadak bagaikan hantu.


Jika sehebat itu kekuatan elemen angin, dia sangat ingin menguasainya lebih dalam. Pasti luar biasa rasanya dapat melesat cepat dan terbang seperti Abdan.


"Kalau benar begitu, maka hutan ini akan terbakar dalam hitungan menit!" Sergei menatap Khan dengan pandangan cemas. "Apakah ada rute lain untuk keluar dari sini?" tanya Khan kepada Shanum. "Tidak ada, Adri. Jalannya hanya satu." Shanum menjawab sembari menggeleng.


Khan terdiam ragu sekilas, lalu memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan kembali di jalan setapak itu, jalan yang ditunjukkan Abdan aman untuk mereka lalui.


Langkah mereka semakin cepat karena harus bergegas keluar dari jebakan api yang mulai mengepung mereka. Hawa panas membakar mulai terasa oleh mereka. Shanum merasakan peluh mulai membanjirinya.


Dan langkah panjang ketiga pria itu memaksa Shanum berlari supaya tidak ketinggalan. Abdan meneriakkan sesuatu kepada Khan di tengah jalan lalu pria pengawal Khan itu dan Jullian mundur ke dalam hutan dan menghilang. Abdan mengatakan, ia dan Jullian akan mencoba menghalau api yang berada terdekat dengan mereka.


Khan menoleh ke arah Shanum, pria itu baru menyadari kalau Shanum tertinggal jauh di belakang. Dia langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya.


"Maaf aku tidak sadar sudah meninggalkanmu," katanya. Shanum mengetatkan genggamannya dan menjawab, "Tidak apa-apa. Kakiku memang lebih pendek dari kalian, jadi sudah pasti akan tertinggal."


Khan tersenyum lalu dia menyuruh mereka semua untuk berlari lebih cepat. Gumpalan asap tebal mulai menembus di antara rangkaian batang pohon seperti kabut, mengaburkan jalan di depan dan mempersulit mereka bernapas.


Masih tidak ada tanda-tanda keberadaan api yang sebenarnya. Berarti keberadaan api itu tidak cukup kuat untuk menjalar melalui dahan yang terjalin dan memotong jalan mereka. Abdan dan Jullian sepertinya berhasil menghambat laju api.


Meskipun api tidak terlihat, asap tetap menyebar ke segala penjuru dalam hitungan menit, Mereka bertiga terbatuk-batuk dalam setiap tarikan napas, mata mereka mulai pedas oleh sengatan panas dan iritasi.


Tiba-tiba Khan meminta mereka berhenti. Dengan enggan mereka berhenti dan menunggu perintah untuk melanjutkan perjalanan, tapi tampaknya pria itu melihat ke belakang mencari sesuatu, wajahnya tampak serius dan kaku. Tak lama kemudian, dua sosok tubuh muncul kembali dari hutan di belakang mereka, terbungkus rapat dalam jaket panjang yang mereka kenakan.


"Kau benar, mereka yang membakar hutan ini berada di belakang kita," Abdan memberitahu dengan terengah-engah karena kesulitan bernapas. "Mereka sengaja membakar seluruh hutan di belakang kita. Ini seperti perangkap yang menggiring kita ke suatu tempat."


"Aku akan membawa kita ke tempat yang aman." Sergei memberi isyarat pada mereka untuk mengikutinya, dan mereka melangkah dengan cepat menuju arah yang sama, berusaha untuk melihat dan bernapas di tengah asap yang mencekik.


Lalu tiba-tiba suara gemericik air terdengar di antara asap dan pohon-pohon, dan Sergei memberi isyarat kepada mereka untuk menuju ke sana. Beberapa saat kemudian, sambil meraba-raba jalan yang sudah tertutup kabut pekat, putih bagai awan. Dalam dekapan Khan yang melindunginya agar tidak terpisah dari pria itu, Shanum boleh bernapas lega.


Mereka melihat tempat lapang di luar pepohonan yang terbakar. Di depan mereka terbentang sungai dengan bebatuan besar. Suara aliran air bagaikan melodi yang indah di telinga mereka. Sergei langsung menuju pinggiran sungai dan mencuci wajahnya dengan air yang jernih itu.


"Ini sungai yang aku maksudkan tadi," kata Shanum sembari duduk di atas batu yang berada dipinggir sungai. Khan ikut duduk di sebelahnya, di batu yang sama. "Akhirnya kita sampai ke tempat tujuan semula," desah Shanum masih dengan napas ngos-ngosan.


Jullian langsung mengeluarkan air mineral kemasan untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang berada di sana. Dan kelima orang tersebut segera menenggaknya dengan antusias. Air tersebut seketika meredakan rasa tercekik akibat hawa panas yang tadi menyerang mereka.


"Mereka mencoba memaksa kita memilih antara mati hangus di hutan itu atau berjalan menuju sungai ini," ucap Sergei sambil menatap sekelilingnya dengan sikap waspada.


"Ya, mereka tidak bodoh. Pasti ada yang direncanakan oleh mereka." Khan membenarkan asumsi Sergei. "Dan aku tidak bisa membaca siasat yang mereka lakukan ini."


"Jadi bagaimana sekarang? Ada yang memiliki ide untuk dapat keluar dari sini?" tanya Shanum sembari mengerutkan kening.


"Oh, sekedar informasi, hutan ini akan berakhir di jurang yang dalam di sisi sebelah utara dan selatan. Sedangkan posisi kita saat ini berada di timur. Jika kita ingin kembali ke vila berarti kita harus berjalan ke arah barat," tambahnya.


Sergei melengkungkan alisnya, tampak memikirkan ucapan Shanum. Pria itu lantas menempelkan telapak tangan di tanah di hadapannya dan terlihat cahaya biru menyerap ke dalamnya, ia mempelajarinya dengan seksama. Kemudian dia bergerak menelusuri sepanjang pinggiran sungai.


Akhirnya Sergei kembali tempat mereka berkumpul, dengan kening berkerut dalam.


"Di sana ada jejak-jejak kaki, tapi tidak ada tanda kehidupan apa pun di sekitarnya," lapor Sergei.


"Sepertinya mereka sudah pernah berada di sini, dan kita sekarang terperangkap di tempat ini. Jika memang benar seperti yang dikatakan Shanum jika kita menyeberangi sungai hanya akan ada jurang yang membentang."

__ADS_1


"Betul sekali. Aku sudah pernah melewatinya bersama dengan Ayahku. Di sana terdapat jurang yang menganga sedalam ratusan meter. Dan tak ada jalan lain di sekitarnya. Tidak ada jalan lain untuk keluar dari sini kecuali melewati hutan yang terbakar itu lagi." Shanum menunjuk ke arah jalan setapak yang menuju ke dalam hutan.


"Mereka bahkan tidak perlu mengejar kita. Mereka bisa menunggu kita mati kelaparan." Khan menggeram kesal. Mereka semua tahu bahwa mereka telah dibodohi dengan membiarkan diri masuk ke jebakan yang begitu sederhana namun efektif. Seharusnya merekalah yang menjebak musuh bukan malah menjadi pihak yang terjebak.


__ADS_2