Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 110 Nyaris Ketahuan


__ADS_3

Shanum mematikan shower, dan kran wastafel. Dia mengambil kimono handuk yang tersedia di tempat penyimpanan kamar mandi, mengenakannya dengan tergesa, lalu menuju pintu dengan langkah panjang.


Shanum merasa kesal oleh tindakan orang yang mendadak mengusik ketenangannya, membuatnya ingin melampiaskan kegusarannya dengan meninju wajah siapa pun orang tersebut.


Shanum memutar kunci dan membuka pintu. Dia terpaku menatap sosok di hadapannya. Di depan pintu sudah berdiri Avraam dengan ekspresi kaku dan dingin. Dada Shanum berdegup kencang, dia berusaha menutupi kecemasannya dengan menampilkan raut wajah gusar.


"Ada apa? Kenapa kau mengganggu waktu mandiku? Aku jadi tak bisa mengeringkan seluruh tubuhku dengan baik. Untung saja aku tidak terpeleset karena terburu-buru menuju pintu." Shanum berkacak pinggang sembari melotot tajam.


Avraam memicingkan matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke tubuh Shanum, mulai dari atas, ke bawah, hingga ke atas lagi, dan kembali ke wajahnya. Sepanjang penjelajahan matanya, pria itu menemukan Shanum mengenakan kimono mandi seadanya dengan titik-titik air masih terlihat di wajah dan lehernya. Ucapan Shanum tentang terburu-buru terpampang jelas di mata pria itu dari penampilan yang ia lihat.


Shanum merasa jengah saat melihat jakun pria itu bergerak menelan, matanya fokus ke satu titik di tengah dadanya. Shanum refleks menarik rapat lipatan kimono, berusaha membetulkan letaknya yang mungkin sedikit terbuka, dan menjadi konsumsi pria itu.


Huh, dasar pria. Di mana-mana sama saja. Tidak bisa menjaga pandangan.


Shanum mengomel dalam hati. Ingin rasanya dia mencolok mata pria itu. Kalau bukan karena tampang seram yang sedang diperlihatkan Avraam, mungkin sudah dilakukan hal tersebut olehnya sejak tadi.


Avraam mendengus keras melihat Shanum menutup sesuatu yang terlihat menarik di matanya, lalu mendorong Shanum ke samping dan masuk tanpa permisi ke dalam kamar. "Tutup pintunya!" perintah Avraam kasar sembari memperhatikan sekeliling ruangan, lalu menuju kamar mandi.


Shanum melihat amarah di kedalaman mata pria itu. Menatapnya dengan sengit, seolah pria itu tahu kalau dia baru saja melakukan suatu hal yang terlarang, yaitu menghubungi Khan, suaminya.


Shanum menutup pintu dengan keras, lalu bersedekap. "Ada apa ini?" Shanum mengulang pertanyaannya. Matanya menyorot galak, tidak mau memperlihatkan kecemasan yang tersembunyi di kedalaman hatinya.


"Ada yang ingin kau katakan padaku, Shanum?" Avraam memandang dengan tajam. Radar tanda bahaya berkumandang keras di kepala Shanum. Tidak mungkin kan pria itu langsung tahu. Padahal ia sudah mempersingkat durasi dan menutupi dengan baik tindakannya.


Mereka berdua bertatapan dengan sengit. "Perbuatan terlarang yang kau sembunyikan di belakangku... mungkin," desak pria itu.


Shanum berusaha menampilkan wajah datar, agar tidak terbaca bahwa ia sebenarnya gugup setengah mati. "Aku tidak mengerti maksud ucapanmu tadi?" jawab Shanum mengangkat bahunya.


Avraam mendekat, ia menarik bahu Shanum, lalu mendekatkan wajah ke arahnya. Avraam mengusap pipi Shanum dengan ujung jemarinya sembari berkata, "Sepertinya aku mengendus hawa kebohongan di dalam ruangan ini," sindirnya telak. Pria itu menggeser ucapannya ke arah rahang Shanum.


Shanum berjengit, menerima perubahan usapan di rahang menjadi cengkeraman kuat pada dagunya. Rasa nyeri mulai menguasai, di tempat tekanan kuat yang dilakukan Avraam. Jika pria itu meneruskan remasannya mungkin rahangnya akan patah.


Sikap kasar Avraam membuat Shanum syok, ternyata dia jatuh ke tangan pria yang menyimpan kekasaran brutal dibalik mulut manis penuh perhatian. Seharusnya ia sudah curiga sejak pria itu mengajaknya bertarung tadi. Mestinya ia tidak terlena oleh sikap baik yang diberikan oleh pria itu.


Jantung Shanum terasa semakin keras menggedor dadanya. Dia sibuk berpikir berbagai alasan untuk menutupi perbuatan terlarangnya tadi. Shanum tidak mau mati konyol di tangan pria itu. Dia masih ingin hidup dan berbagi hidupnya itu bersama suaminya. Mereka baru menikah satu hari, tidak rela rasanya harus segera terpisah oleh kematian.


"Lepaskan! Kau menyakitiku!" desis Shanum menahan sakit.


Netra mata Avraam yang berwarna gelap mendadak berubah menjadi biru. Pria itu membeku sesaat, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dengan cepat. Dia mundur selangkah. Raut wajahnya datar tak terbaca, dengan kedua lengan masih mengepal dengan kencang pada kedua sisi tubuhnya. Emosi kelam masih menguasai pria itu.


Shanum mengusap rahangnya yang sakit dengan pelan. "Aku tidak berbohong. Tadi aku benar-benar mandi, membersihkan tubuhku yang kotor akibat bertarung dengan duplikat dirimu!" Suara Shanum terdengar sedikit kencang dan terengah, ia setengah mati menutupi kegugupannya dengan emosi.


"Kalau memang kau hanya mandi, bagaimana bisa kalung milikmu ini menyala terang? Katakan yang sebenarnya, cepat! Sebelum aku menghukummu." Avraam menarik kalung dari sakunya dan mengacungkan di depan wajah Shanum. Kalung itu masih menyala terang, menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.


Shanum menelan ludahnya. Lidahnya mendadak kelu. Bagaimana bisa kalung itu menyala secara mendadak? Apakah karena tadi dia menghubungi Khan melalui ikatan mereka? Dan anehnya mengapa sampai saat ini masih terus menyala?

__ADS_1


"Kenapa kau diam?! Pasti kau sedang menutupi sesuatu dariku." Pria itu menyeringai kejam.


Shanum tersenyum tipis. Pemahaman mulai tampak di pikirannya. Pria itu tidak tahu, ia hanya menebak-nebak saja sepertinya, berdasarkan kalung yang terus bersinar terang.


Shanum mengangkat dagu. "Mungkin saja kalung itu menyadari kalau aku sedang dalam bahaya, jadi ia menyala terang." Shanum menatap Avraam dengan tajam. "Jadi, penyiksaan apa yang sedang kau rencanakan terhadapku, Avraam?" tanya Shanum.


Pria itu tidak menjawab. Dia memicingkan matanya, situasi itu berlangsung untuk beberapa detik yang menyesakkan. Keduanya berperang tatapan penuh rasa curiga. Kemudian Avraam menyeringai. "Kau ingin penyiksaan seperti apa dariku, Manis? Aku akan mewujudkan keinginanmu itu. Mungkin suamimu terlalu pengecut untuk melakukan tindakan itu terhadapmu."


Shanum terpana, wajahnya memerah. Dia mendadak kehilangan kata-kata. Pria gila itu malah melemparkan pertanyaan yang membuatnya ingin muntah. Siapa juga yang mau disiksa. Memangnya dia seorang Masokis, yang haus akan rasa sakit.


"Dasar gila, aku bukan orang yang sudah kehilangan kewarasan sepertimu," bentak Shanum.


Avraam mengangkat alisnya, lalu mulutnya melebar, ia terkekeh.


"Pujianmu itu membuatku sangat terangsang, Cantik. Aku jadi tidak sabar untuk membuatmu menjadi milikku."


Shanum menggeram marah. "Pergi! Kau membuatku sangat jijik." Shanum menghentakkan kakinya, lalu menuju pintu. Membukanya lebar-lebar, mengusir pria itu.


Avraam masih tertawa keras setengah mengejek. "Kita lanjutkan nanti, Manis. Tapi ingat, aku belum selesai denganmu." Pria itu lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.


"Jangan pernah kembali, Bajingan!" teriaknya.


Shanum langsung menutup pintu, ia menyandar di balik pintu dengan memijat keningnya. Napasnya masih terasa berat, bagaikan habis berlari maraton. Emosinya membuncah hebat, mendengar kata-kata Avraam.


Adri, tolong selamatkan aku. Sepertinya aku akan gila jika terus berada di sini.


Sambil mengenakan pakaian, dia mengingat Khan, suaminya. Shanum merindukan pria itu dan takut tidak bisa lagi bertemu dengannya. Air yang menetes di sudut matanya dibiarkan mengalir tanpa diusap.


Shanum naik ke atas tempat tidur, menarik selimut lalu bergelung rapat membentuk bola, menghadap ke salah satu sisi. Suara isak tangis terdengar semakin kencang di kamar itu. Membuat siapa pun yang mendengarnya akan ikut merasakan kesedihan yang dalam darinya.


Adri...


Jeritan batinnya tidak bisa lagi dibendung. Semua keberanian yang sejak awal dirasakannya pupus. Dia merasa tak berdaya, rasa yang pernah dialaminya ketika Khan terluka kembali padanya. Dadanya terasa sesak, dia ingin tidur dan berharap saat terbangun semua ini hanya serangkaian mimpi buruk. Mimpi buruk yang sudah berulang kali dialaminya sejak lama.


Sementara itu di tempat lain, seorang pria tersentak dari lamunannya. Buku dalam genggamannya terlepas begitu saja. Dia memegang kepalanya, lalu beralih ke dadanya. Sekejap, ia merasa mendengar jeritan istrinya sedang memanggil namanya. Suara itu membuat dadanya terasa nyeri.


Shasha... Sayangku...


Khan masih memegang dadanya. Denyutnya semakin menggila, hingga membuat jemarinya gemetar. Khan berusaha memanggil istrinya lewat ikatan mereka, namun nihil, Shanum tidak menjawab. Firasat buruk menguasai dirinya. Khan tahu, sesuatu yang berbahaya sedang terjadi pada belahan jiwanya.


Khan mulai memukul-mukul dadanya dengan keras, ketika dirasakan olehnya, rasa sakit itu tidak juga menghilang dengan mengatur napasnya. Dan tindakan ekstrim itu dilihat oleh Eej, ibunya.


"Apa yang kau lakukan, Nak? Hentikan tindakan itu!" Eej menarik lengan Khan dan berusaha mencekal dengan tangannya. Wanita itu tadinya berniat mengetahui hasil penelusuran pelacak rahasia yang dikirimkan oleh Khan untuk mencari Shanum, namun malah mendapatkan putranya itu sedang menyakiti tubuhnya sendiri di hadapan setumpuk buku, di meja ruang kerjanya.


Wanita itu menatap ke arah Khan dengan sorot mata cemas. "Ada apa, Nak?"

__ADS_1


"Sakit, Eej. Dadaku rasanya sakit," kata Khan sembari terengah. "Aku merasakan jeritan pilu penuh tangis yang diucapkan Istriku. Pasti pria itu sedang menyiksanya. Apa yang harus kulakukan, Eej? Hal ini ikut menyiksaku."


Khan menatap ibunya dengan pandangan galau berlumur derita. Putranya terhubung dengan pasangannya, dan dia tahu rasa itu, karena ia pernah mengalaminya dahulu dengan suaminya.


Eej melepaskan lengan Khan, lalu beralih membekap kepala putranya itu sembari mengusap rambutnya. "Shhh... kau harus tenang. Jangan dilawan. Kau harus mendekapnya dengan lembut, seperti seorang kekasih."


Eej memberikan instruksinya secara perlahan dengan suara lembut. "Masih belum bisa berkomunikasi dengan Shanum?"


"Sudah," jawab Khan pelan. Nyeri di dadanya mulai bergerak menghilang, seirama dengan arahan dan usapan yang diterimanya dari Eej.


Eej melepaskan bekapannya dan menatap mata Khan dengan ekspresi lembut setengah bingung. "Kalau kau sudah berhasil menghubunginya mengapa kau tersiksa seperti ini, Nak?"


"Shasha menghubungiku cuma sebentar, Eej. Dia hanya mengatakan bahwa ia berada di kota milik Klan Erebos."


"Klan Erebos?" beo Eej.


"Ya."


"Bukankah klan itu sudah lama punah, Nak?" Eej menarik kursi di dekat Khan lalu duduk di samping putranya. Wajahnya terlihat tertarik mendengar ucapan putranya.


"Kau tahu soal klan itu, Eej." Sorot mata Khan memancarkan harapan.


"Aku tidak terlalu paham, cuma pernah mendengar ceritanya dari Ayahmu waktu dia sedang mengumpulkan informasi dari para pemberontak yang ditangkap olehnya."


"Katakan yang kau tahu, Eej," desak Khan.


Eej menggelengkan kepalanya. "Ayahmu tidak bercerita secara rinci kepadaku, Nak. Dia hanya mengatakan bahwa dia menemukan lambang Klan Erebos yang telah punah itu di tubuh salah satu pemberontak."


"Hanya itu, Eej? Kau yakin?" desak Khan lagi dengan harapan ibunya mengetahui lebih banyak lagi, agar dia dapat segera menemukan lokasi istrinya.


"Kau yakin Ayah tidak mengatakan tentang klan itu atau mungkin lokasi kotanya?"


Eej menganggukkan kepalanya sembari tersenyum getir.


Khan menghela napas. Ibunya ternyata tidak memiliki informasi yang dibutuhkannya saat ini. Dia sudah berusaha mencari dengan membaca buku-buku tentang sejarah klan, dan tidak menemukan referensi satu pun tentang Klan terkutuk itu. Tubuh Khan terkulai lemas, pencariannya masih berujung di jalan buntu.


"Hmmm, sepertinya aku tahu harus mencari informasi di mana. Kita harus ke perpustakaan rahasia, Nak."


Khan tertegun. "Memangnya ada perpustakaan itu, Eej?"


"Tentu saja ada," sahut Eej dengan antusias. "Kau ikut, Nak?"


"Pasti," jawab Khan singkat.


"Oke, kita ke Och." Eej langsung membaca mantra pembatalan perlindungan dan membuka portal. Dia menoleh ke arah Khan seraya tersenyum. Wanita itu mengulurkan tangannya. Khan menerima uluran itu sambil menganggukkan kepalanya. Lalu kedua orang itu menghilang di balik cahaya berkilau yang disebut portal, menuju Och, kota penyihir milik Klan Altan.

__ADS_1


__ADS_2