
Setelah Sofia dan pasukannya kembali ke Klan mereka melalui portal, Sergei, Abdan dan Jullian langsung bergerak mengembalikan hutan yang terbakar. Shanum menyaksikan kolaborasi ketiganya dengan tercengang. Khan berdiri dengan tenang sembari memperhatikan mereka. Shanum melarang Khan untuk membantu karena masih perlu memulihkan tenaganya setelah terluka.
Shanum melihat Sergei dan Abdan bertugas menyingkirkan potongan pohon yang hangus terbakar dan berserakan di tanah. Sedangkan Jullian yang menumbuhkan kembali pohon-pohon itu dari dalam tanah.
Shanum terpesona saat melihat perkembangan pohon yang sangat cepat, dari mulai tunas berkembang menjadi anak pohon, kemudian semakin membesar, hingga rimbun seperti sediakala.
Ada juga pohon yang tidak mati hingga ke akarnya. Jullian hanya memegang batang pohon tersebut, kemudian daun baru mulai bermunculan di sekelilingnya. Kulit pohon yang hangus perlahan berubah warna menjadi berwarna coklat tua, sesuai dengan warna batang pohon yang sehat.
Suara burung-burung dan suara ciap serta kerisik dari hewan-hewan kecil kembali terdengar saat Jullian mulai bergerak mengeluarkan kekuatannya. Mereka mendadak muncul dengan antusias menyambut pemilik kekuatan elemen alam itu.
Shanum merasakan hutannya menjadi hidup. Keheningan yang sebelumnya terjadi berganti menjadi kumpulan melodi alam yang memukau. Ia tidak dapat menjelaskannya, tetapi hanya dapat merasakannya jauh di dalam dirinya. Seluruh elemen alam yang tadinya menangis kini bergembira menyambut perbaikan yang dilakukan Jullian.
Shanum juga dapat menghirup segarnya dedaunan yang baru tumbuh. Harum udara ini menutupi bau sengit dari hawa terbakar yang terjadi sebelumnya. Ia melangkah mengikuti pergerakan mereka dan melihat penampakan sekelilingnya dengan ekspresi tertegun.
Gadis itu bagaikan melihat tayangan dokumenter di layar televisi tentang pertumbuhan tanaman dari wujud tunas hingga menjadi pohon dewasa. Seiring bersama kekuatan alam yang dikeluarkannya, Jullian menggerakkan bibirnya melantunkan siulan indah yang lembut dan tidak diketahui oleh Shanum fungsinya.
"Siulan itu sangat indah. Apa fungsinya?" Shanum menoleh ke arah Khan seraya bertanya. Khan tersenyum tipis. "Siulan itu merupakan mantra yang dikeluarkan oleh pemilik elemen alam untuk berkomunikasi dengan alam itu sendiri," jawab Khan.
Shanum menatapnya lama. Gadis itu mengerutkan keningnya tanda ia sedang bingung. "Aku tidak mengerti, Adri. Jika kau bilang itu sebuah bentuk komunikasi, berarti alam bisa menolak jika mereka tidak menghendakinya."
Sesaat pria itu mengerjap ke arah Shanum. Lalu mulutnya melengkung ke samping, mata coklat keemasannya berkilat cemerlang. "Ya, seperti itu," jawabnya.
"Jadi elemen alam adalah salah satu elemen yang memiliki kehendak bebas. Katakanlah mereka hanya tunduk jika mereka menyukai pemilik kekuatan alam itu," kata Shanum dengan sengaja dilambat-lambatkan, berjaga-jaga kalau Khan belum menangkap maksudnya, "Apakah kekuatan elemen dengan kehendak ini hanya untuk kekuatan yang bersinggungan dengan makhluk hidup?"
Khan menatap Shanum dan tertawa lirih. "Gadisku yang pintar. Kekuatan elemen yang berhubungan dengan makhluk hidup tentunya berbeda dengan elemen pada benda mati, Sayang. Meski di duniamu tanaman dan hewan tidak memiliki kehendak tapi di duniaku semuanya berbeda."
"Apakah kekuatan elemen ini diwariskan dari kedua orang tua?" tanya Shanum.
Pandangan pria itu menghangat. "Ya, ada beberapa yang mendapatkan warisan dari kekuatan orang tuanya, tapi ada juga yang tidak. Atau ada juga yang mendapatkannya sebagian. Semuanya tergantung gen yang lebih dominan pada masing-masing keturunan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga akan ada kekuatan lain yang muncul, yang diwariskan dari leluhur mereka."
Alis Shanum terangkat tinggi-tinggi hingga terlihat sampai menyentuh batas rambutnya, dan ia mendekat ke arah pria itu. Tanpa menunggu pertanyaan yang keluar dari bibir gadis itu, Khan berkata, "Kau pasti semakin penasaran tentang warisan kekuatan itu yang ternyata sungguh rumit kan. Aku akan menjelaskannya, tapi tidak di sini." Shanum berhenti melangkah. Matanya berkilat nakal. Mendadak ia niat usilnya terbit. Ia ingin mengganggu pria itu.
"Kau memang paling mengerti diriku, Yang Agungku yang sangat tampan," goda Shanum. "Bagaimana jika kau mengatakannya sekarang saja. Aku penasaran nih, cinta..." rayu gadis itu disertai ******* manjanya.
Khan berdeham, namun dia dapat melihat semburat merah yang terlihat di pipi pria itu. Bibir gadis itu melengkung membentuk senyum tipis. Prianya yang sangat dingin dan kaku, masih dapat bersemu malu oleh godaannya. Dan ia merasakan ikatan mereka ikut menggelenyar aneh di dalam darahnya.
Dengan langkah perlahan, Shanum semakin mendekat, begitu dekat sehingga ia harus mengangkat kepalanya untuk bisa menatap Khan. Gadis itu lalu berjinjit dan mendekati wajah pria itu. Khan membeku, dia menatap gadis itu dengan lekat.
__ADS_1
Perlahan gadis itu mengusapkan bibirnya di pipi Khan sembari sedikit berjinjit. Halus, hangat, lembut menggetarkan seluruh jiwa keduanya saat itu. Dan hanya berupa sentuhan di pipi sebelum dia menurunkan kembali tubuhnya. Shanum sengaja bergerak pelan-pelan. Posisi tubuhnya tetap sama, belum bergeser dari saat mulutnya bersentuhan dengan kulit pria itu. Shanum mendengar napas pria itu memberat.
"Aku menantikan penjelasanmu, Adri. Tapi kalau kau tidak mau mengatakannya sekarang, bagaimana kalau kita kembali ke vila sekarang?" Shanum lalu membalikkan tubuhnya, memunggungi pria itu. Ia tidak menunggu jawaban dari Khan.
Dia meninggalkan pria itu sembari melirik dari sudut matanya, dengan senyum geli terlukis di bibirnya. Gadis itu lalu berpamitan dengan ketiga pria yang lain. Dan Khan hanya bisa mendesah panjang, baru menyadari bahwa sedari tadi dia menahan napasnya.
Dia baru menyadari bahwa gadis nakal itu sudah mengerjainya dengan godaan yang membuat darahnya mendidih. Pria itu kembali mendesah frustasi. Dia tidak boleh bertindak gegabah, meski seluruh tubuhnya menjerit ingin membalas gadis itu dengan merengkuh dan menciumnya habis-habisan, ia tetap tidak bisa melakukannya.
Ikatan pasangan jiwa ini akan memaksanya untuk melakukan penyatuan guna melengkapi ritual hingga selesai. Dan Khan tidak mau melakukan itu sebelum mereka sah menjadi suami-istri. Ia harus menjaga calon ratunya tetap suci sesuai dengan aturan Klan.
"Ayo, Adri." Shanum memanggil Khan yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Pria itu lalu bergerak melangkah mendekati Shanum dengan wajah datar. Mereka berjalan beriringan mengikuti jalan setapak untuk keluar dari hutan itu.
Setelah sampai di tanah lapang luas di ujung perbatasan antara hutan dan pemukiman. Shanum mendadak berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah Khan. Sesaat gadis itu tampak ragu untuk melanjutkan niatnya semula.
Shanum menggigit bagian dalam pipinya saat ia menatap ke arah Khan. Dia melihat pria itu masih tetap memancarkan kharisma Yang Agung miliknya, dan ketenangan yang sensual. Kedua mata keemasannya berkilat, dan alisnya terangkat ke atas.
"Aku tidak akan meminta maaf soal yang tadi. Karena aku senang melihat wajah memerah itu." Shanum menyeringai. Wajahnya benar-benar tidak memperlihatkan raut penyesalan sama sekali.
Khan menatapnya dalam. Separuh senyuman bermain di bibirnya. "Aku tidak pernah berkeberatan jika kau lakukan itu lagi." Suara Khan terdengar serak dan hangat, mengirimkan getaran ke seluruh tubuh Shanum. Mengelus setiap otot dan tulang juga saraf. Hingga membuat tubuhnya ingin mendesah keras.
Shanum melangkah mundur. Perilaku pria itu bagaikan predator yang sedang mengawasi mangsanya. Separuh dirinya ingin berlari ke arah lain, namun separuhnya lagi ingin mendekap pria itu erat. Pertentangan keinginan yang terjadi itu membuat Shanum mendadak pusing.
Shanum melongo sambil mengamati wajah Khan seperti orang tolol. Lalu Shanum mendengar suara tawa. Tawa maskulin yang tetap terdengar seksi di telinganya. Gadis itu tersadar dari keterkejutannya saat mendengar tawa pria itu. Dan dia berdecak kesal. Mata indahnya tampak berpendar dengan ketajaman maut yang membuat Khan menghentikan tawanya dalam sekejap.
Shanum tidak mengatakan apa-apa. Dia membalikkan tubuh dan bergegas kembali menelusuri jalan menuju ke vila. Menyadari bahwa gadis itu sudah memunggunginya dan bergerak menjauh, Khan mengejarnya.
"Shasha... hei!" Khan memotong langkahnya dengan tiba-tiba berhenti di depan gadis itu. Dan wajah Shanum menabrak dada Khan dengan keras. Gadis itu langsung ditahan oleh Khan agar tidak jatuh.
Shanum membeku, tubuhnya kaku berada dalam rangkulan pria itu. Ia juga terkesima saat menghirup aroma tubuh pria itu yang mendebarkan dan seksi. Jari-jarinya memegangi pinggang Shanum lebih keras, dan dia membiarkan pria itu menariknya lebih dekat dengannya--sampai tubuh mereka bersentuhan, hangatnya meresap ke tubuh gadis itu.
Shanum membasahi bibirnya, napasnya tidak teratur. Tangannya terasa gatal ingin mengusap dada yang keras penuh dengan otot itu.
Oh Tuhan, mengapa semakin lama ia menjadi begitu sensitif jika berada di dekat pria itu. Shanum menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan kepalanya yang mendadak diselimuti kabut memabukkan dari aroma dan rengkuhan pria itu. Ia memberontak melepaskan diri dari Khan, dan mundur satu langkah darinya.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya dengan nada khawatir. "Tidak." Shanum menjawab dengan ketus, berusaha memperlihatkan bahwa ia merasa terganggu dengan gerakan yang dilakukan pria itu.
Kemudian gadis itu bergerak ke samping, berusaha menghindar dari tubuh pria itu. Agar ia dapat melanjutkan langkahnya menuju vila. Namun keinginannya itu tidak tercapai. Khan ikut bergerak, menghalang-halangi langkahnya.
__ADS_1
Akhirnya saat Shanum tidak berhasil menerobos penghalang kokoh berupa tubuh pria itu, ia berhenti bergerak. Lalu menatap pria itu dengan wajah sengit. Dia merapatkan rahangnya.
"Minggir, aku mau kembali ke vila!" ucap Shanum dengan nada suara geram. Khan mengusap lehernya. "Maafkan aku, Sayang. Tadi aku hanya bercanda."
"Tidak lucu! Sekarang biarkan aku lewat," desak Shanum sembari menepis tangan pria itu yang berusaha meraih dirinya.
"Shasha, please!" Khan mengerang frustasi. Shanum tidak peduli, ia mendorong tubuh Khan agar menyingkir dari jalannya. Dan kali ini dia berhasil. Khan mengalah, pria itu tidak lagi menghalanginya.
Mereka berjalan dalam diam. Shanum memimpin di depan dan Khan mengikuti di belakang. Ketika seratus meter lagi mendekati vila, Khan mendesah keras. Lalu dia berjalan lebih cepat dan menarik tangan Shanum dengan keras.
Gadis itu jatuh kembali ke dalam pelukannya, dan kali ini Khan tidak melepaskannya. Meski ia memberontak, berusaha menarik tangannya dengan paksa, menendang, dan memukul. Tapi Shanum tidak dapat berkutik. Khan menguncinya dalam dekapan yang begitu erat. Dengan napas keduanya yang memburu, pria itu tetap kukuh merangkul tubuh Shanum.
"Aku tidak mau hari terakhir kita bertemu berakhir dengan pertengkaran, Shasha. Kau sudah tahu, aku harus kembali ke Astrakhan," kata Khan pelan. Pria itu mengecup rambut Shanum. Selebihnya mereka diam. Tubuh Shanum akhirnya melemas dalam pelukan pria itu, meski tangannya masih enggan membalas rangkulannya.
"Kapan kau kembali ke Astrakhan, Adri?" Tiba-tiba Shanum memecah keheningan di antara mereka. Khan mendesah. "Mungkin lusa. Aku harus memulihkan tenagaku terlebih dahulu. Apakah aku masih boleh berada di vila sampai dengan lusa?" tanyanya lagi.
Shanum tiba-tiba membalas rangkulan pria itu. Ia mendekapnya erat. "Tentu saja boleh," jawabnya dengan ketus. Khan tersenyum simpul mendengarnya. Kekasihnya ini memang unik, ia bisa bersikap galak dan hangat di waktu yang bersamaan.
Khan mengusap rambut Shanum, lalu melonggarkan dekapannya. Kini ia menatap wajah gadisnya yang masih terlihat cemberut dan melengoskan wajahnya ke arah lain. Khan masih tersenyum, ia menarik dagu gadisnya yang terlihat menggemaskan itu. Dan mengarahkannya untuk menatap lurus ke wajahnya, mau tidak mau Shanum mengikuti kemauan pria itu.
"Aku juga tidak ingin kembali ke Astrakhan. Hati dan ragaku selalu ingin berada di dekatmu, Shasha. Tapi aku harus pergi. Eej sudah memanggilku untuk kembali. Aku harus menghadapi tahap Seleksi selanjutnya, tidak bisa digantikan oleh orang lain yang menyamar menjadi diriku." Khan menjelaskan dengan pandangan mata tersiksa.
Wajah Shanum terlihat kelam, dia mengangguk perlahan. Khan dapat melihat rasa sedih dan tak rela yang ia lihat dalam tatapan gadis itu. Dan dia juga merasakan hawa dingin mulai menjilati tulang punggungnya, bergelayut dengan kegelapan yang mengancam di sekelilingnya. Ia tahu, tanpa gadis itu di sisinya, ia akan kehilangan arah. Seakan-akan sebagian hatinya meninggalkan raganya.
Mereka lalu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Tidak ada kata-kata yang diucapkan oleh keduanya sepanjang langkah menuju vila. Mereka sesekali saling melirik dengan pandangan hangat dan penuh kelembutan. Pertengkaran yang sempat terjadi sudah berlalu bersama hembusan angin.
Keduanya sama-sama menyadari, tidak ada gunanya lagi meneruskan perselisihan yang tidak berguna, ketika seharusnya mereka menghabiskan waktu yang sangat berharga.
Saat mereka sudah sampai di tangga batu yang mengarah ke teras, keduanya dikejutkan oleh kemunculan sosok pria dan wanita. Kedua sosok itu juga tengah melangkah menuju vila.
Mereka berhenti bersamaan. Sama-sama membeku dan terkesima. Pria dan wanita itu memperhatikan Shanum dan Khan dengan pandangan kaget serta heran. Shanum dan Khan juga sama kagetnya. Mereka semua tidak ada yang bergerak.
Namun beberapa saat kemudian, secara tiba-tiba, saat sosok pria itu tersadar dari kekagetannya, ia langsung menerjang ke depan. Ia menarik lepas genggaman tangan Shanum dan Khan dengan kasar. Shanum tersentak, tubuhnya sempat oleng ke samping. Tetapi ia ditarik oleh pria itu agar mendekat ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini Khan Adrian? Dan aku tidak mau melihat lagi tangan kotormu itu menyentuh putriku, pria kurang ajar! Aku tidak akan pernah sudi kau mendekati putriku, meski kami berhutang nyawa padamu." Rahangnya mengetat, matanya memicing tajam ke arah Khan.
Pria itu tak lain adalah Dimas, ayah Shanum yang sedang di cari-cari selama beberapa bulan ini, pria itu mendadak muncul. Dan dia terlihat marah serta benci luar biasa kepada Khan.
__ADS_1
Mata Khan terbelalak lebar. Dia tidak percaya ayah Shanum bisa mengenalinya dengan mudah, sedangkan ia sedang memakai sihir penyamarannya. Shanum juga tampak syok, dia membekap mulutnya. Gadis itu kaget saat melihat sosok kedua orang tuanya yang tampak sehat muncul di hadapannya. Dan juga terpana melihat kebencian yang tampak membara di netra mata ayahnya.