Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 75 Perpisahan


__ADS_3

Mereka berhenti di depan pintu kamar Shanum. Khan menatap gadisnya dengan mata berkilat penuh arti. Menatap helai rambut yang lepas dari ikatan gadisnya, menjuntai ke depan dan segera diselipkan ke belakang telinga olehnya. Shanum kemudian melihat ke atas dan memandang pria itu. Ada tekanan aneh di udara ketika mata mereka bertemu, keduanya terpaku tanpa ada yang ingin mengalihkan mata.


"Kau selalu terlihat cantik," ujar Khan serupa gumaman. Pria itu menatapnya seakan-akan ia sedang tersihir oleh kekasihnya. Padahal gadis itu merasa muka bantalnya, dan rambutnya yang berantakan malam ini, tidak pantas dipuji.


"Kau pasti sedang bercanda." Gadis itu memutar bola matanya. "Ini bukan penampilan terbaikku," ucapnya lagi dengan ekspresi jengah.


"Kenapa? Kau terlihat sempurna di mataku. Meski wajahmu penuh keringat dan debu sekalipun," kata Khan lagi. Pria itu menatap Shanum dengan dalam, mereguk keseluruhan gadis itu dalam memorinya.


Darah Shanum berdesir dan tulangnya meleleh mendengar ucapan pria itu. Namun kemudian dia seakan-akan tersadar, Shanum membeku. Gadis itu menjatuhkan kepalanya ke telapak tangan dan menggosok keras dahinya. Perasaan gadis itu mendadak terasa tidak enak, dia kembali memandang Khan dengan tajam.


"Jangan katakan kau akan pergi meninggalkanku. Ternyata rayuanmu itu hanya untuk mengalihkan perhatianku." Shanum membenci nada menuduh di suaranya. Tapi dia tidak bisa mengekang firasat buruk yang muncul tiba-tiba dalam hatinya. "Apakah ini karena Ayah? Kau tersinggung dengan perlakuannya padamu? Hingga terburu-buru untuk kembali," desak Shanum.


Khan ragu, lalu menyisir rambut dengan tangannya. Ia merasakan kesulitan untuk menjelaskan, tetapi ia tak bisa meninggalkan semuanya seperti ini. Tidak jika gadis itu menjadi salah mengartikan sikapnya. Mungkin ia tak berpikir panjang saat mengucapkan kata-katanya tadi kepada gadisnya. Semua itu tercetus begitu saja dari mulutnya, sesuai dengan cerminan lubuk hatinya yang paling dalam.


Kekasihnya itu memang luar biasa cantik di matanya. Apa pun kondisi gadis itu, Khan akan tetap jatuh cinta berkali-kali kepadanya. Kepalanya tidak bisa menoleh kepada wanita lain, meski wanita itu dua kali lipat lebih cantik dan menarik daripada Shanum.


Ada sesuatu di dalam gadis itu yang membuatnya mendekat, bagaikan ngengat merindukan cahaya. Awalnya ia berusaha menolaknya, menahan ketertarikan itu, dan mati-matian mensugesti dirinya bahwa itu hanyalah faktor kebetulan semata.


Ia membohongi dirinya sendiri, bahwa yang ia rasakan bukanlah cinta. Hanya pelampiasan sesaat akibat kesendiriannya yang sudah mendarah daging menemaninya selama ratusan tahun. Sampai akhirnya di suatu titik, saat ia nyaris kehilangan gadis itu, dan hal itu memukul hatinya secara telak. Membuatnya menyadari bahwa ia mencintai Shanum dengan seluruh jiwanya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Shasha. Bukan bermaksud merayu atau pun ada maksud lain." Pria itu menghela napasnya. "Dan soal kepergianku, kau sudah tahu bahkan sebelum kedua orang tuamu muncul. Aku tetap harus kembali, Sayang. Mereka sudah mulai curiga dengan orang yang menggantikanku itu. Dan tentang Ayahmu, aku akan berusaha berbesar hati, dengan tidak memasukkan seluruh kata-kata dan sikapnya ke dalam hati," kata Khan dengan suara lembut.


Bibir Shanum mulai bergetar dan ia menggigit bibir bawahnya agar lebih stabil. "Jadi kurasa... aku tidak dapat lagi berkata apa-apa selain berharap kau bisa menyelesaikan masalahmu di sana, dan menjaga dirimu baik-baik," tutur gadis itu.


Wajah Shanum berkerut, ia berusaha menahan mati-matian air mata yang hendak meluncur turun dari sudut matanya. Dengan tenggorokan tercekat, gadis itu berusaha tersenyum. "Apakah kau akan kembali besok?" tanya gadis itu.


"Ya. Setelah Jullian mengantarkanku dengan teleportasi, aku akan menyuruhnya kembali ke sini. Dia dan Abdan masih memiliki tugas untuk mengembalikan hutanmu yang terbakar. Dan juga Jullian harus membantu Ayahmu mengasah kekuatan teleportasinya. Aku sudah berjanji pada Ibumu, Shasha."


Shanum menganggukkan kepalanya. Banyak yang ingin Shanum katakan, tapi kurang cukup banyak dari yang seharusnya. Tenggorokannya sakit menahan keinginan kuat untuk mengatakan bahwa ia merasakan firasat buruk menggema dalam pikirannya. Shanum menutup erat ikatan mereka. Hanya agar pria itu tidak dapat membaca hal yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia tidak ingin membuat Khan cemas, karena belum tentu firasatnya itu terbukti benar.


Pria itu harus kembali, dan Shanum akan mulai menjalani hari-harinya sendiri, tanpanya. Jantung Shanum berdebar penuh kesakitan di dalam rusuknya. Dia tak tahu apakah dia takut saat perpisahan itu datang atau mengharapkan saat itu segera datang, agar setidaknya masa penantian yang mengerikan ini akan segera berakhir.


Jadi Shanum terjebak dalam keheningan menyiksa ketika satu-satunya yang ia ingin katakan adalah jangan tinggalkan aku, karena aku tak ingin berpisah denganmu.


Khan sama tegangnya, dan percakapan mereka berlangsung dalam hitungan singkat dan mengering ketika mereka berdua merasa bisa melanjutkan bicara.


Shanum harus memeluk tubuhnya sendiri untuk menghentikan tangannya agar tidak memeluk Khan.


Khan berdeham. "Aku akan kembali, Shasha. Tidak ada kata menyerah bagiku, meski Ayahmu membenciku. Kau mau kan, menungguku?" tanyanya dengan suara pelan. Senyum pria itu terlihat menggeliat nyeri.

__ADS_1


"Ya. Aku akan menunggumu, Adri," jawab Shanum lirih. Dia tidak berani menatap netra Khan langsung. Takut pria itu melihat kesedihan yang tercermin di matanya.


"Oke, selamat beristirahat, Shasha." Khan mengusap pipi Shanum dengan lembut. Lalu pria itu beranjak pergi dari hadapannya.


Setelah menatap punggung pria itu yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya, Shanum membuka pintu kamar. Ketika sudah berada di dalam, gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu dan menarik napas panjang. Tadi berjalan lebih baik dari yang ia takutkan.


Dia tenang, dingin, dan dapat menahan air matanya agar tidak menetes. Dia menahan dirinya memeluk dan memohon Khan agar ia tidak pergi, walaupun ia nyaris melakukan itu saat merasakan firasat buruk di hatinya semakin menekannya.


Ini yang terbaik, ujar Shanum pada dirinya sendiri. Hadapi saja, dia tidak dapat menahan pria itu di sisinya saat ini. Karena jika para Tetua itu berhasil membongkar penyamarannya, mereka juga yang akan tersiksa. Khan pastinya akan terkurung lebih ketat tanpa adanya jalan untuk bertemu dengannya lagi, sampai dengan Seleksi itu selesai dilaksanakan. Shanum tidak ingin hal itu menjadi kenyataan.


Sakit menusuk di bagian belakang kepala Shanum, dan tenggorokannya tercekat. Dia menarik ikatan rambut dari kepalanya dan mengganti pakaiannya dengan piama berpola anak kucing mungil yang sudah memudar. Ia menghela napas sambil merasakan kenyamanan yang dibawa oleh piama itu. Setelah itu ia menuju kamar mandi, membersihkan dirinya sebelum beranjak menuju ranjang, untuk mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang lelah.


***


Keesokan harinya, saat mereka semua telah selesai sarapan. Khan mulai mengungkapkan kata-kata perpisahannya kepada semua orang di ruangan itu, dan semua orang yang berada di meja makan itu bereaksi dan menjawab dengan sopan. Hanya Dimas yang tidak menjawab dan memperlihatkan aura permusuhan terhadap Khan.


Khan tidak mempedulikan sikap ayah Shanum itu. Dia kembali menjelaskan rencananya yang menugaskan Jullian dan Abdan untuk membantu Shanum dan Dimas.


Di sepanjang acara makan pagi itu Shanum berusaha bersikap biasa. Dia tidak mau orang lain tahu dadanya begitu sesak sejak ia melihat Khan melangkahkan kaki memasuki ruang makan.


"Shasha..."


Setelah sesaat yang membeku itu, Khan mendadak mendorong kursinya mundur dan berdiri, kemudian berhenti seakan-akan ia melupakan apa yang ingin ia bicarakan, ketika melihat telapak tangan gadis itu terangkat sebagai tanda agar pria itu tidak mendekat.


"Maafkan aku, tadi aku sedang memikirkan rencanaku dengan hutan yang terbakar itu. Ada apa, Adri?" Shanum berusaha keras bersikap santai sembari mengelap tumpahan kopi di meja.


Khan tampak ragu. Namun kemudian ia kembali duduk di kursinya. Sesaat Khan memperhatikan sikap gadis itu yang kembali asyik dengan kopinya, sebelum beralih memandang matanya. Shanum terlihat cerah dan penuh senyum sejak ia menemukannya sedang menikmati sarapannya.


Shanum bisa saja bertingkah seakan-akan ia bersikap biasa saja dengan kepergiannya, tetapi ia tidaklah bodoh. Ia sadar gadis itu berusaha menutupi perasaan kehilangannya. Jadi Khan juga sebaik mungkin berlaku normal. Ia tak akan mengikuti Shanum dengan mata memelas. Walau dalam hatinya berkecamuk keinginan manusia bar-barnya, untuk menculik gadis itu dan membawanya ikut pulang bersamanya ke Astrakhan.


Tapi Khan tidak bisa, ia tidak kuasa bersikap sedangkal itu. Shanum masih harus menyelesaikan kuliahnya, dan ia juga masih harus berusaha mengantongi persetujuan dari calon mertuanya.


Shanum mengerutkan keningnya penuh tanya. Dia menunggu kata-kata dari pria itu. Khan mendesah, lalu berkata, "aku tadi hanya ingin kau segera menghubungiku jika ada hal-hal yang mencurigakan lagi."


Shanum tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. "Kau tidak perlu khawatir. Sekarang sudah ada Ayah dan Ibu di sini yang bisa menjagaku."


Setelah mendengar kata-kata Shanum, Khan berdiri dari duduknya. Dia membalas jawaban Shanum dengan tersenyum tipis. Lalu ia melangkah ke sudut ruangan, mengambil tas ranselnya. Jullian dan Abdan mengikuti Khan dari belakang dan mereka sejenak bercakap-cakap dalam bahasa mereka.


Shanum yang kini sudah mengerti bahasa tersebut, samar-samar mendengar Jullian bertanya apakah Khan ingin berpamitan dengan Shanum secara pribadi. Yang segera dijawab oleh Khan dengan gelengan kepala. Hingga membuat hati Shanum robek berantakan, robekan yang dengan pelan terasa menyakitkan ketika ia melihat gerakan penolakan itu.

__ADS_1


Shanum tak kuasa lagi menahan jeritan yang menguras pikiran dan hatinya. Dia menghentak bangun dari kursinya. Lalu membuka koneksi ikatan di antara dirinya dan Khan. Shanum tak bisa lagi menahan gelombang dahsyat rasa sakitnya, kepedihannya dan rasa tak ingin kehilangannya.


Goncangan rasa itu menekan keras ke arah ikatan mereka. Khan sontak memegang dadanya, napasnya terengah hebat, ia merasa dihantam sesuatu yang berat. Hingga membuatnya ingin jatuh berlutut. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Shanum. Wajah Khan terlihat terguncang, mereka saling menatap dalam diam. Semua orang yang berada di ruangan itu ikut melihat hentakan gelombang itu. Merasakan hawa hangat yang perlahan menyebar menyelimuti udara dingin di pagi itu.


Mereka tidak mengerti artinya, tapi mereka tahu ada suatu kekuatan yang sedang meledak di dalam ruangan itu. Kekuatan itu perlahan mulai menampakkan dirinya, bersinar memancar dari dalam tubuh Shanum. Raisa membekap mulutnya saat melihat pancaran cahaya keemasan yang menyelimuti tubuh putri kesayangannya itu. Sedangkan Dimas terlihat takjub tak bisa mengalihkan pandangan.


Khan kembali meletakkan tas ranselnya, lalu ia setengah berlari menuju Shanum. Lengannya terentang lebar, sebelum menarik tubuh Shanum ke dalam rengkuhan tubuhnya. Raisa melihat Dimas ingin membuka mulutnya. Tapi wanita itu langsung sigap membekap mulut suaminya itu.


"Satu patah kata saja berani kau lontarkan, aku tidak mau melihatmu berada di ranjangku setiap malamnya. Jangan mengganggu mereka, kau mengerti, Mas!" bentak Raisa dengan wajah galak, melotot ke arah suaminya.


Dimas tampak menelan ludahnya, lalu mengangguk dengan pandangan mata kaget. Pria itu terlihat syok mendapatkan bentakan dari istrinya yang biasanya bersikap lemah lembut itu. Raisa melepas bekapannya, kemudian menoleh kembali ke arah putrinya. Tidak peduli jika suaminya masih membeku di sampingnya.


Tangan Khan memeluk, dan menekankan tubuhnya ke tubuh Shanum. Begitu erat hingga Shanum tak mampu bernapas. Tapi Shanum tak peduli. Ia ingin berada dalam posisi itu selamanya, menempel pada Khan, mencium wanginya, mencintainya.


"Aku juga tidak ingin berpisah darimu, dan akan sangat merindukanmu, Shasha," bisik Khan. "Jika aku tidak memandang kedua orang tuamu, dirimu sudah kubawa pergi bersamaku," katanya lagi dengan pelan.


"Kau harus berjanji untuk tetap memberi kabar, meski sesulit apa pun," desak Shanum dengan suara lirih.


"Ya. Aku akan mengusahakannya, Sayang," jawab Khan pelan di telinga Shanum.


Mereka berdua terus berpelukan dan berbisik-bisik berdua. Tak satu pun ingin melepaskan diri, hingga akhirnya Sergei berdeham. "Kau masih berencana kembali ke Astrakhan, Yang Agung?" panggilnya dengan alis melengkung sebelah. Tampaknya hanya pria itu yang berani bersikap seenaknya terhadap Khan.


Dengan enggan Khan melepaskan Shanum. "Aku harus pergi." Pria itu mengecup punggung tangan gadis itu lalu mulai menjauh.


Shanum mengangguk, air mata berkilau di matanya, dan sambil memeluk tubuhnya sendiri, ia menyaksikan Khan mengambil kembali tas ranselnya. Dengan tangan memegang kedua tali tas ranselnya, Khan terlihat meragu, kemudian kembali menatap Shanum seakan ingin mengucapkan sesuatu.


Untuk sesaat yang menyenangkan, Shanum berpikir bahwa Khan akan berubah pikiran dan menunda kepergiannya, tetapi pada akhirnya pria itu tersenyum tipis ke arahnya, lalu memberi isyarat kepada Jullian dan Abdan. Keduanya memahami petunjuk untuk mereka, langsung mengangguk hormat, menegakkan tubuh kembali dan saling menyentuh pundak orang yang berada di sebelahnya.


Mereka bertiga seketika menghilang dari ruangan itu.


Tidak! Shanum begitu ingin berteriak. Tidak! Jangan pergi!


Tetapi tidak ada gunanya lagi ia menjerit dalam hati. Khan telah pergi. Membawa sebagian jiwanya ikut pergi bersamanya.


Raisa tiba-tiba sudah berada di samping Shanum. Dia menyentuh bahu putrinya itu. Shanum menoleh ke arah ibunya. Dia langsung memeluk ibu tersayangnya itu dengan air mata berlinang. Wajah Raisa terlihat sendu. Dia baru mengetahui bahwa putrinya ternyata sangat mencintai pria itu. Dan begitu pula sebaliknya dengan pihak prianya. Perasaan mereka saling berbalas.


Hanya orang buta yang tidak dapat melihat kedalaman rasa yang mereka berdua miliki. Raisa menatap ke arah Dimas. Mereka bertatapan dalam diam. Dia melihat suaminya itu tampak menahan kegetiran dalam dirinya. Rahangnya mengetat, matanya terlihat suram.


Jika sudah sedalam ini, tidak mungkin Raisa tega membiarkan Dimas memisahkan mereka. Dia harus serius membicarakan perihal ini dengan suaminya itu. Jangan sampai kebahagiaan putrinya harus dikorbankan oleh kekhawatiran yang berlebihan dari sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2