
Pertemuan itu berlalu dalam kelebatan, sebagian besar diisi tentang diskusi menyangkut sekelompok orang dengan sihir hitam, yang bertanggung jawab terhadap luka bakar Khan. Sarnai mendengar dari sumber terpercaya bahwa mereka mengincar Khan.
Sepanjang itu semua, Shanum duduk bersandar di kursinya dan memandangi Khan serta Sarnai dalam interaksi mereka.
Shanum seharusnya tidak perlu merasa cemburu, ia meyakinkan diri dengan tegas. Tapi ia selalu tak sengaja melihat Khan mencuri-curi pandang ke arah Sarnai, ketika wanita itu sedang melihat ke arah lain. Dan Shanum melihat fakta itu dengan hati berdenyut nyeri.
Pria itu terang-terangan menguarkan aura khusus kepada Sarnai, hingga pada suatu waktu Ula membungkuk ke arah Shanum dan berbisik lirih, "Apa kalian sudah putus hubungan? Bukankah seharusnya kalian adalah sepasang kekasih? Tetapi kini aku melihat pandangannya kepadamu terlihat berbeda, tidak seperti biasanya."
Dia melupakanku, jawab Shanum dalam hati, yang diingatnya hanya Sarnai. Dan semakin banyak pria itu mengirimkan getaran-getaran tanpa suara itu kepada mantan kekasihnya, semakin Shanum merasa getir.
"Dia kini menganggapku teman, seperti yang diutarakannya tadi, bukan sebagai kekasih," balas Shanum sembari berbisik.
Shanum melihat pandangan prihatin terpancar di mata Ula. Dan pria itu tidak berkomentar lebih lanjut. Sepertinya ia menghargai privacy Shanum.
Khan tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling meja sekarang. "Yah, kelihatannya aku akan mulai memikirkan untuk membagi kelompok kepada tim pelacakku. Terutama jika kau bisa membantuku memberikan petunjuk tentang sekelompok orang-orang yang mencurigakan itu. Kita akan bertemu untuk berkoordinasi tentang hal ini. Aku perlu tahu di mana kau tinggal saat ini."
Shanum melihat sekelebatan seringai puas dari bibir Sarnai, dan sesuatu di dalam dirinya meledak. Ia berdiri, mengepalkan tangan, dan menatap pria itu lurus-lurus. "Dengan segala hormat, aku tidak setuju. Dari apa yang aku saksikan hari itu di tempat perawatan, aku tak yakin hal ini sesederhana itu. Dan apakah kau yakin pada wanita ini, Adri? Tidakkah kemunculannya sungguh serba kebetulan?"
Shanum mendengar Ula dan Sarnai terkesiap berbarengan. Amarah menggetarkan bagian dalam tubuh Shanum, dan membuatnya tidak bisa lagi mentolerir guncangannya. Shanum merasa wanita yang berada di hadapannya ini mencurigakan.
Khan juga berdiri, dan setelah momen kaku yang panjang, berkata kepada yang lainnya tanpa mengalihkan tatapan dari Shanum. "Maaf, tapi aku perlu berbicara secara pribadi dengan Miss Shanum. Kami permisi."
Kemudian Khan menarik tangan Shanum, setengah menyeretnya untuk keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ke perpustakaan yang berada di sebelah ruang kerja tersebut. Pintu menutup di belakang Shanum dengan suara klik pelan. Khan perlahan mendekati Shanum, ia berhenti di depan gadis itu. Sulur-sulur rasa takut menjalari Shanum ketika melihat ekspresi geram dari wajah Khan.
Gadis itu memaksakan diri untuk menjaga emosinya. Ia melipat lengan dan melihat rahang pria itu mengeras. Pria itu juga melipat lengan, dan Shanum membenci refleks matanya yang langsung turun sesaat ke arah bibir pria itu yang mengerucut.
Sambil merutuki diri, karena terlihat tidak bisa menahan emosi, ia menatap Khan. "Apa maksudmu menarikku dengan kasar seperti itu hingga membuat pergelangan tanganku sakit?"
"Kau pantas mendapatkannya setelah tuduhanmu tadi. Kurasa kau mendapati hal ini lucu, Shasha?"
Shanum mengerutkan dahi. "Mendapati apa yang lucu?"
Bibir Khan melengkung melihat mata Shanum melebar dengan polos. "Bersikap cemburu dan mencurigai Sarnai?"
Shanum terkesiap dan pipinya merona, yang langsung menimbulkan efek seketika di tubuh Khan, memaksanya untuk mengertakkan rahang melawan gairah yang mulai mengemuka. Seharusnya ia marah kepada gadis itu bukannya bergairah.
Mata gadis itu menunjukkan kilasan berlian hitam yang bermusuhan. "Aku tidak cemburu. Dan aku hanya mengemukakan apa yang menurutku penting sehingga patut untuk diselidiki terlebih dahulu. Aku tidak mau menyia-nyiakan darahku untuk menolongmu, jika kau terkena sihir hitam itu lagi," jawabnya ketus.
Khan merasa perutnya bagai ditonjok. "Jadi kau menyesal sudah memberikan darahmu sebelumnya untukku, Shasha? Kau merasakan hal itu hanya kesia-siaan belaka?"
Pipi Shanum berubah makin pink. "Berani-beraninya kau menghakimiku, kau tahu bukan itu maksudku."
Khan mendengus keras. "Yang benar saja. Sudah terbukti kau tidak bisa berpikir dengan jernih akibat cemburu. Jangan berkilah lagi. Aku tahu dari ekspresimu saat menatap Sarnai."
Shanum mengangkat alisnya. "Mengapa kau kembali membahas soal cemburu? Bukankah kita di sini sedang membicarakan tentang bersikap berhati-hati sebelum bertindak?"
__ADS_1
Khan mengabaikan hal itu dan menyapukan tatapan menghina kepada Shanum. "Aku baru tahu ternyata kau suka berprasangka buruk kepada orang lain."
Lengan Shanum diturunkan dan Khan melihat gadis itu mengepalkan tangan. Mendadak Khan teringat telah mengecup tangan itu, ketika mereka makan tadi. Khan mendengus, ia tidak suka terhadap perasaan yang ia rasakan saat bersama Shanum. Perasaan kuat yang tidak bisa dikendalikan olehnya.
Khan bergerak semakin mendekati Shanum, menatapnya tajam, bahkan tidak yakin apa yang hendak ia lakukan. Ia hanya ingin memprovokasi gadis itu.
Mata Shanum melebar dan ia mengulurkan ujung lidah untuk menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Darah dalam tubuh Khan meloncat. Shanum mengacungkan sebelah tangan ke depan. "Jangan mendekatiku, aku serius. Berani-beraninya kau menuduhku memiliki sikap buruk itu. Itu komentar seorang pria dengan pikiran picik. Dan karena hal itu aku sudah bisa memutuskan bahwa aku akan kem--"
"Jangan coba-coba mengatakan itu," desis Khan, benar-benar gusar karena hal semacam itu bahkan terpikir oleh Shanum. Namun, gadis itu ada benarnya. Otak Khan terlalu kusut gara-gara mendengar Shanum menuduh Sarnai, hingga ia bertingkah menurut insting, mengucapkan hal-hal yang biasanya tidak akan pernah diucapkannya.
Setelah momen hening yang kaku, Khan berjalan ke jendela tak jauh dari sana, yang memberikan pemandangan ke taman di belakang mansion itu. Pria itu menjejalkan tangan ke saku celana panjangnya, secara tak sengaja menarik bahan celana panjangnya hingga mencetak bokongnya yang berotot. Ketika pria itu mendadak berbalik, rasa bersalah membuat dada Shanum panas dan ia pun buru-buru mengalihkan pandangan.
Khan mendesah dengan berat dan berkata, "Kau benar-benar akan pergi?"
Shanum menatap Khan, masih marah. "Tentu saja. Untuk apa aku berada di sini jika harus sering menghadapi tuduhan darimu. Sebenarnya ada apa denganmu? Tadi kau sibuk menuduhku, sekarang malah bersikap seolah-olah cemas aku pergi."
Khan tidak menjawab, dia menatap Shanum dengan ekspresi mendesak andalannya. Tidak ada orang yang berhasil menolak jika berhadapan dengan tatapan itu. Seakan-akan mereka digiring untuk mengakuinya.
Pipi Shanum terasa semakin panas ketika mengakui dengan keengganan luar biasa, "Dan tentang Sarnai, sebenarnya aku tidak suka melihat cara wanita itu menatapmu. Pandangannya terlalu intim untuk seorang mantan kekasih."
Khan bersandar ke kusen jendela dan kembali melipat lengan di depan dada. "Itu namanya cemburu, Shasha."
Shanum mengerucutkan bibir dan tidak mengatakan apa-apa. Khan menaikkan sebelah alisnya, menatap dengan seringai mengejek. Shanum menyadari apabila ia tidak mengakui yang sebenarnya, bagaimana ia dapat menghentikan tuduhan dari pria itu. Meskipun sebenarnya tidak ada yang salah jika ia tidak suka dengan wanita itu.
"Dengan marah Shanum mengakui, "Baiklah, ya, aku cemburu. Puas?!"
Khan menggeleng-geleng, wajahnya tak terbaca. "Aku tetap tidak bisa asal menuduh, Shasha. Aku mengenal Sarnai. Rasanya tidak mungkin dia memiliki niat buruk."
Api menjalari tulang belakang Shanum ketika ia berkata, "Dan tidak diragukan lagi, aku mengambil kesimpulan, kau lebih memilih percaya kepadanya daripada denganku."
Mata Khan berkilat. "Aku tidak mengerti maksud ucapanmu. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkan siapa yang paling aku percayai. Seharusnya kau lebih bisa berkepala dingin memutuskan tentang dampak dari kecurigaanmu itu."
"Aku tak peduli!" kata Shanum dengan ekspresi geram.
Kemudian setelah berteriak mengucapkan kata-kata tajam itu, Shanum menegakkan tubuhnya dan beranjak mengitari pria itu, dia melangkah menuju pintu, namun lengan Khan menahannya.
Ia menoleh ke belakang untuk melihat wajah Khan yang tampak keras oleh ketidakpuasan. "Jangan berpikir aku akan membiarkanmu pergi, Shasha. Urusan kita belum selesai."
Shanum merenggut lengannya dari pegangan Khan dengan kasar. Lalu mendorong pria itu sekuat tenaga. Khan sedikit doyong ke belakang, namun kemudian bisa kembali menyeimbangkan tubuhnya.
Shanum melotot kepada Khan dan berkata, "Jangan harap kau bisa menahanku tanpa perlawanan dariku. Aku tidak sudi dipaksa, dan sampai kapan pun tidak akan pernah rela harus mengemis kepercayaan padamu. Jika kau tidak percaya padaku, silahkan saja. Tidak ada ruginya untukku."
Khan mundur dan Shanum sekali lagi dihantam fakta betapa hatinya terasa sakit mendapati kekasihnya itu tidak mempercayainya.
Tatapan Khan terkesan menghina sewaktu menyapukan pandangan naik-turun ke arah Shanum. "Baiklah, aku tidak akan memohon lagi. Silahkan jika kau ingin pergi, bahkan kembali ke negaramu pun aku tidak akan peduli. Tentang ikatan kita, aku akan mencari cara untuk memutuskannya."
__ADS_1
Shanum mengangkat dagunya dengan tatapan tajam ke arah Khan. Dia tidak mengatakan satu patah kata pun lagi. Gadis itu berbalik dan berderap keluar ruangan, segenap dirinya dipenuhi amarah.
Khan memandang pintu, bunyi bantingannya menggema di telinganya. Sialan gadis itu. Seharusnya ia tidak pernah membiarkan perasaannya mendikte tindakannya.Tak peduli sekuat apa pun ketertarikan yang ia rasakan.
Khan berbalik ke arah jendela lagi dan menyumpah serapah. Dia tidak dapat memutar balik waktu serta menuliskan kembali sejarah untuk menghindari penyerangannya. Hidupnya sekarang semakin rumit dengan adanya kehilangan memori pada otaknya ini. Dan semua itu gara-gara peristiwa kebakaran sialan itu.
Setelah ini dia akan menghubungi ibunya, dan memohon kepadanya untuk membantu mencarikan cara memutuskan ikatan jiwa diantara dirinya dan gadis itu. Khan tidak mau menjadi gila jika berada di dekat gadis itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu. Khan melihat salah satu pengawalnya melongokkan kepala dari balik pintu. "Maaf, Sir. Tamu di ruang kerja masih menunggu. Mereka ingin kejelasan apakah masih bisa bertemu dengan Anda lagi ataukah harus meninggalkan tempat ini?"
Khan menghembuskan napasnya. Gara-gara konfrontasi panjang tadi dengan Shanum, ia jadi melupakan keberadaan Sarnai dan kakaknya yang ternyata masih menunggu di ruang kerjanya.
"Aku akan menemui mereka lagi." Kemudian Khan menuju pintu, ia melangkah kembali ke ruang kerjanya. Berharap dapat menutupi kekacauan yang sudah dilakukan oleh Shanum tadi.
Sementara itu di lobi mansion itu, Shanum tampak mondar-mandir menunggu kehadiran seseorang. Dia merasa lelah. Tenaganya terkuras banyak seharian ini. Dan semuanya karena pria dingin bak es batu itu. Shanum meringis geli sendiri, saat mendapati ia mulai memberikan julukan milik Farah untuk Khan.
Kemudian Shanum melihat sebuah kendaraan roda empat berhenti di lobi itu. Sosok pengemudinya membuka sedikit kaca jendela yang berada di hadapannya. "Maaf membuatmu menunggu lama. Mari masuk, Shanum."
Melihat Taban yang berada di balik kemudi, gadis itu langsung bergegas membuka pintu penumpang depan. Ia lalu menyuruh Taban segera meninggalkan mansion itu. Shanum tidak ingin lebih lama berada di sana, karena tak ingin bertemu kembali dengan Khan.
"Apakah kalian bertengkar lagi?" tanya Taban dengan wajah penasaran, sesaat setelah mereka telah melewati pagar mansion itu.
"Tolong jangan bertanya tentang dia. Aku sedang tidak ingin menjelaskan, bahkan menyebut namanya pun aku merasa mual," jawab Shanum dengan nada suara kesal.
Taban terkekeh geli mendengar ucapan Shanum. "Astaga, apa lagi yang sudah terjadi? Mengapa sekarang kalian menjadi seperti kucing dan anjing, yang tidak pernah akur jika bertemu?"
Shanum mendengus keras. "Kau tanyakan saja pada bosmu itu, mengapa dia sekarang perilakunya lebih mirip anjing."
"Waw, Shanum. Itu kasar sekali," sahut Taban terperangah.
"Cukup, Taban. Aku masih emosi, jadi jangan terus memancingku."
"Oke, aku diam. Tapi ingat, kau tetap berutang penjelasan kepadaku, Shanum. Anggap saja sebagai balasan karena aku sudah menjemputmu."
"Huh, dasar pamrih," jawab Shanum dengan ketus.
"Ayolah, Shanum. Jangan membuatku semakin penasaran. Pokoknya besok pagi kau harus menjelaskannya kepadaku. Sekarang aku masih memberimu toleransi waktu untuk menenangkan diri. Karena aku tahu, sangat sulit menghadapi Khan yang sedang frustasi." Taban berhenti sesaat, ia tampak melirik sekilas ke arah spion samping.
"Kau baru menghadapinya beberapa bulan saja sudah emosi. Apa kabarnya denganku, yang harus menghadapinya selama ratusan tahun. Terutama sejak dia berpisah dengan kekasihnya itu. Disusul kemudian dengan peristiwa tewasnya ayah yang dicintainya. Khan langsung berubah benar-benar menjadi pribadi yang sulit," sambungnya.
Shanum tidak menjawab, dia terpaku menatap pemandangan yang mereka lewati dari jendela mobil. Taban mendesah. Pria itu tahu, ia tidak mungkin mendapatkan perhatian gadis itu kembali. Shanum sepenuhnya menutup dirinya rapat-rapat.
Entah apa yang sudah dilakukan Khan Adrian kepadanya. Tapi Taban dapat menebak, dari raut wajah Shanum, Khan kembali menyakiti hati gadis itu.
Sebenarnya Taban enggan berada di tengah-tengah pertikaian mereka. Dia tidak mau terlalu jauh ikut campur. Taban hanya merasa kasihan kepada Shanum. Sejak Khan sembuh dari kondisi sekaratnya, pria itu sudah menorehkan banyak luka kepada diri gadis itu. Semua terlihat jelas dari ekspresi Shanum.
__ADS_1
Mobil Taban sudah merapat di lobi hotel tempat Shanum menginap. Taban tersenyum kepada gadis itu dan berkata, "Jangan lupa, besok pagi aku menunggu ceritamu."
Shanum menganggukkan kepalanya seraya melepas safety belt dari tubuhnya. Gadis itu lalu mengucapkan terima kasih dan segera keluar dari mobil Taban. Tanpa menengok lagi, Shanum melangkah memasuki hotel. Wajahnya terlihat keruh. Bahkan pegawai hotel yang menyapanya dengan ramah, diacuhkannya.