
Setelah menerima kiriman tak terduga itu Khan langsung menuju kamarnya. Dia tidak boleh menunda-nunda lagi untuk melakukan meditasi.
Dengan tubuh bersih sehabis mandi, ia duduk di lantai beralaskan karpet empuk, mengumpulkan konsentrasinya dan mulai membuka gerbang ikatannya dengan Shanum.
Khan merasakan ikatan mereka terhubung, istrinya itu tidak menutup akses mereka. Ia melihat dengan matanya tanpa suara, Shanum dikelilingi pepohonan hijau.
Wanita itu tidak sendiri, ia berdiri menghadap ke arah seorang pria yang sedang tersenyum. Pria itu menyentuh ujung rambutnya. Dan Khan sangat tahu dari topeng yang digunakannya, tentang pria itu. Dia tidak mungkin melupakan wujud pria yang sudah membawa pergi istrinya itu.
Sesuatu dalam diri Khan menggeram dan suaranya mengancam akan merambat di pita suaranya. Ia hampir tidak bisa menahan suara itu, meskipun ia tahu persis kalau ia sedang bersikap seperti seorang bajingan. Ia tidak berhak menghakimi Shanum.
Tapi itu sisi dirinya yang tenang dan logis, namun jika sudah berhubungan dengan Shanum, ia tidak seperti manusia normal melainkan lebih mirip manusia yang posesif dan ingin menguasai.
Kepala Shanum langsung menoleh begitu Khan tak bisa lagi menahan geraman dalam ikatan mereka, seolah wanita itu merasakan getarannya. Perpaduan dahsyat dari berbagai emosi menyelimuti wajah Shanum, bagaikan gelombang lidah api cair: Kekagetan. Kesedihan. Ketakutan.
Khan mendengar suara Shanum mengucapkan namanya dalam ikatan mereka. Lalu Shanum tersentak ketika merasakan sentuhan di pipinya oleh pria bertopeng itu.
Khan melihat Shanum tersenyum simpul, ia melihat wanita itu mengatakan sesuatu kepada pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu tertawa, dan pergi meninggalkannya sembari menggelengkan kepala. Entah apa yang dikatakan oleh Shanum hingga pria itu terlihat patuh seperti itu kepada istrinya.
Shanum kembali menoleh ke arah Khan. Wajahnya terlihat datar, tanpa ekspresi. Berbeda sekali raut wajah itu dari saat tadi ia bercengkerama dengan pria bertopeng itu. Hal ini membuat jantung Khan seolah dicengkeram dengan kuat.
Jadi begini caramu memperlakukanku, Shasha? Dengan mengirimkan sepucuk surat bernada perpisahan. Dan apa yang sedang kau lakukan saat ini dengan pria itu? Walau bagaimanapun aku masih suamimu, Shasha. Tidak mungkin kau semudah itu kau melupakannya.
Shanum menelan ludah.
Lupakan aku, Adri. Kau sebaiknya tidak mengharapkanku lagi. Aku tidak bisa kembali kepadamu.
Berengsek! Shanum memintanya melupakannya. Melupakan ikatan mereka. Itu sama saja dengan menghunuskan pisau ke jantung Khan.
Hentikan tingkah menggelikanmu itu, Shasha!"
Khan membiarkan Shanum melihat amarah di dalam dirinya, amarah yang sudah berkecamuk sejak ia melihat adegan mesra barusan. Berkecamuk dan menyebar sampai mengalir di semua pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya.
Maafkan aku, Adri. Aku sudah tahu kau pasti akan bersikap seperti ini.
Khan membeku tidak percaya.
Kau apa?
Mata hitam segelap malam itu menatap Khan.
Aku mengerti kau pasti akan merasa sakit hati. Tapi aku yakin kau akan bisa melaluinya, Adri. Kau kuat, seorang pemimpin klan. Mereka akan bisa memilihkan seorang wanita yang cocok untuk bersanding denganmu menggantikan aku.
Pisau menghunjam dalam-dalam, mengukir lubang di jiwa Khan.
Mengapa?
Aku memiliki alasanku sendiri. Dan alasan itu tidak bisa jika aku masih bersanding denganmu*.
Khan mendengar suara lirih istrinya itu berkumandang dalam jiwanya, membuat retakan terbentuk dalam sekejap.
Kemudian secara sepihak Shanum menutup akses ikatan jiwa mereka. Meninggalkan rasa sakit hebat di hati seorang pria yang teramat dalam mencintai nya itu.
Setelah kembali membuka matanya, Khan membeku menatap ke satu titik di bidang tembok kamarnya. Pandangannya terlihat kosong. Namun meski terlihat seperti itu, dalam benaknya muncul cuplikan-cuplikan kenangannya dengan Shanum.
Secara bertahap pandangan kosong itu berubah menjadi pandangan memilukan. Senyum sendu terukir di bibir indah pria itu.
"Kali ini aku mungkin tidak akan sanggup bertahan. Rasanya lebih menyakitkan dibandingkan saat ditinggalkan Sarnai dahulu," ungkap batin Khan.
Selama satu bulan setelah peristiwa itu, Khan hidup bagaikan pria yang telah kehilangan arah. Dia bersikap lebih dingin dari sebelumnya dan menjalani hari demi hari menjadi budak pekerjaannya. Tidak ada lagi ekspresi bahagia, sedih, marah, ataupun kecewa dalam wajahnya. Semuanya serba datar dan dingin. Seolah-olah hanya raganya yang hidup, dan jiwanya menghilang tanpa bekas perlahan menuju ke alam kehampaan.
Tidak ada yang berani bertanya atau dekat-dekat dengan Khan jika tidak terpaksa. Mendengar suaranya yang kaku dan mengintimidasi sudah membuat para bawahannya enggan, apalagi sampai ditatap dengan pandangan membekukan itu. Siapa pun yang masih waras akan menghindar sejauh-jauhnya dari Khan.
Eej yang melihat hal tersebut tidak bisa lepas tangan begitu saja. Dia tidak mau dunia di sekitar putranya kembali terpuruk seperti saat ia berpisah dengan Sarnai. Dia harus berbuat sesuatu, sebelum pada akhirnya dia melihat hal menyedihkan menjerumuskan putranya tersebut.
__ADS_1
Eej meletakkan kalung jiwa, dan pakaian Shanum di atas meja kerja Khan, lalu bersandar ke kursi di depan putranya itu. Mereka sedang berada di ruang kerja Khan di mansion, seperti saat dia menyerahkan kedua barang tersebut berikut surat satu bulan yang lalu.
"Aku rasa kau harus mencoba kembali menghubungi Shanum melalui ikatan kalian." Eej menyibakkan rambutnya. "Rasa dalam ikatan jiwa tidak sesederhana itu untuk dilupakan bahkan diputuskan selama keduanya masih hidup."
Khan menatap ke arah Eej dengan datar. "Hal itu hanya akan sia-sia, Eej." Khan terlihat acuh dan kembali sibuk menekuni kertas-kertas yang berisi pekerjaannya.
"Kau masih peduli, Nak. Kalau tidak sudah dari kemarin kau memperlihatkan surat Shanum itu kepada Ayahnya. Pria itu setiap hari menghubungimu menanyakan kabar Shanum. Jika bukan karena efek kehamilan istrinya yang cukup berat, mungkin dia sudah ikut mencari putrinya bersamamu."
Khan meletakkan kertas yang sedang ia pegang lalu menatap penuh selidik ke arah ibunya. "Kau memata-mataiku, Eej?"
Eej menarik bangku di hadapan putranya itu sembari mendesah keras.
"Aku harus melakukannya, Nak. Tingkahmu semakin hari semakin membuatku khawatir."
"Tidak perlu cemas, Eej. Aku baik-baik saja," jawab Khan dengan wajah datar.
"Kau tidak bisa membohongi Ibu yang sudah melahirkanmu, Nak. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Apa kau mau menceritakannya padaku?"
Khan menyugar rambut dan menarik napas dalam. "Sejak hari itu sudah berulang kali aku mencoba menghubunginya lewat ikatan kami. Jangan kau kira aku akan terima begitu saja diperlakukan seperti ini, Eej. Dia berutang penjelasan yang lebih masuk akal kepadaku."
Eej tersenyum tipis mendengar ucapan putranya. "Syukurlah kalau begitu.Ternyata putraku bukanlah pria bodoh."
Khan mendengus. "Kau meragukan kecerdasanku, Eej. Tidak semudah itu dia bisa mengelabuiku."
"Terus, apa rencanamu selanjutnya?" desak Eej.
Khan menggelengkan kepala, menghela napas frustasi. "Aku tidak tahu..."
"Cobalah lagi, Nak. Firasatku kali ini pasti akan berbeda hasilnya." Eej menyodorkan kedua barang itu kepadanya. Dan Khan mengambilnya sembari memperhatikan dengan serius wajah ibunya.
"Kenapa kau memberikan barang-barang ini kepadaku?" Khan mengerutkan keningnya.
Eej tersenyum teduh. "Aku merasa kedua barang ini sebuah petunjuk, Nak. Kau harus mencobanya." Eej meletakkan kedua barang itu lebih dekat dengan Khan.
Khan mengangguk sembari tersenyum tipis. "Terima kasih, Eej. Nasihatmu akan selalu aku ingat."
Kemudian wanita itu bangkit berdiri, tersenyum sekali lagi sembari melangkah meninggalkan putranya yang sedang termenung menatap ke arah kalung, dan pakaian Shanum.
Malam itu Khan berkata kepada dirinya sendiri bahwa pria berusia ratusan tahun, yang sudah melalui banyak hal tidak akan takut melakukan sesuatu yang sederhana seperti bermeditasi. Dia sudah mencobanya berkali-kali sebelumnya.
Tapi tentu saja, entah mengapa meditasi yang akan ia lakukan kali ini terasa berbeda, bukan seperti meditasi yang biasanya ia lakukan. Meresahkan rasanya ia merasa kegelisahan sedang mencengkeram tubuhnya dan mencoba sangat keras untuk mengerahkan keberanian di antara sekumpulan ketakutan yang ia rasakan.
Tapi ia harus memastikan. Khan mendapati sesuatu yang mengusik rasa keingintahuannya dalam surat Shanum. Isi surat itu tidak mencerminkan istrinya yang ia kenal, wanita penuh cinta, memiliki kesetiaan yang dalam, dan kuat. Tidak mungkin dalam waktu sebentar Shanum berubah menjadi sosok yang mudah berpaling begitu saja.
Khan meremas cincin pernikahan mereka. Ia bisa merasakan darah naik ke pipinya sementara jantungnya berdebar kencang karena rasa takut yang kembali terkenang. Saat Shanum terkena racun berbahaya itu, kejang-kejang tak berkesudahan dan memuntahkan darah, sekarat, sementara sekarang bisa saja kondisinya mungkin saja sama. Bersiap menghadapi kematian.
Tidak!
Khan tidak boleh memikirkannya, tidak boleh berharap yang terburuk sedang terjadi kepada istrinya. Sudah cukup bayangan-bayangan kecemasan itu, menghantui tidurnya malam demi malam. Bukankah terakhir kali ia melihat, istrinya itu baik-baik saja.
Khan menghela napas dalam. Ia membuka genggaman tangannya, lalu mengambil cincin tersebut, memasukkannya di seuntai kalung perak. Menjadikannya bandul dan menyematkannya di leher.
Khan mengecup cincin tersebut, kemudian melepaskannya kembali ke rengkuhan jantungnya. Khan merilekskan tubuhnya, mulai memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi memasuki kedalaman ikatan jiwa yang menyatukan dirinya dan istrinya.
Khan menegang, ia mendengar banyak suara, suara jeritan di kepalanya. Pria itu merasa mengenal salah satu dari suara itu, suara istrinya. Itu suara seorang wanita yang berteriak menahan rasa sakit. Khan merasa jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Meski jiwanya ikut menjerit, ia tetap memeriksa, memeriksa, dan mencari. Mencari visual istrinya.
Kemudian suara itu menghilang. Keheningan menyesakkan kembali menguasai seluruh pikiran dan jiwanya. Khan merasakan geraman di tenggorokannya, rasa frustasi membuatnya membuka mata.
Wanita itu langsung menutup akses ikatan mereka. Dia tidak bisa menembusnya secara paksa. Khan merasa keputusasaan mulai mencekik dirinya. Dia diam, menundukkan kepalanya. Sekarang apalagi yang harus dilakukannya.
Cahaya terang yang memancar dari kalung jiwa membuatnya terperangah. Khan mengangkat wajahnya, meraih kalung tersebut dan terpaku. Suara bisikan terdengar di udara dalam bahasa kuno. Ia bergerak seolah dihipnotis, meraup pakaian penuh darah kering dari atas meja. Untaian lirik kuno itu membimbingnya untuk menyatukan kedua barang tersebut.
__ADS_1
Kemudian ia menggenggam erat keduanya dalam satu tangan, menutup matanya kembali dan mencium bau ketakutan yang tajam dan jelas, dengan aroma yang familier-aroma istrinya.
Dada Khan bergemuruh kencang, tak beraturan. Sesuatu mulai terbentuk di indera penglihatan batinnya. Sesuatu yang samar-samar mulai memadat dengan sempurna di pandangannya.
Dan seisi dunia berhenti bernapas.
Khan melihat pasangan jiwanya sedang berada di sebuah kamar. Tubuhnya terbujur kaku di ranjang, tidak bergerak, wajahnya pucat, dengan mata terbuka yang terus meneteskan air mata. Khan melihat balutan perban melingkari salah satu lengan istrinya. Perban yang berada di urat nadi wanita itu.
Tidak! Mungkinkah pasangan jiwanya itu memotong urat nadinya, mencoba untuk membunuh dirinya sendiri? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa penampakan kali ini sungguh berbeda dengan yang ia lihat sebelumnya?
Mengepalkan tangan lebih erat, Khan mencoba berkomunikasi dengan istrinya melalui ikatan jiwa mereka.
Shasha...
Khan melihat Shanum memejamkan matanya.
Wanita itu tidak menjawab.
Please, Sayang. Jangan siksa aku seperti ini.
Adri... Maafkan aku...
Udara kembali menerjang paru-paru Khan dengan kekuatan seperti sebuah pukulan. Raungan tertahan di tenggorokannya, tapi ia tidak melepaskannya, sepenuhnya merasakan gelombang bau kesedihan dan ketakutan tajam yang terpancar dari Shanum.
Apa yang terjadi, Sayang? Katakan padaku.
Khan melihat Shanum membuka matanya kembali dan sorot matanya terlihat sendu. Kesedihan nyata menyelimuti wajah Shanum, mengubah mata hitam bercahayanya menjadi redup.
Jawab pertanyaanku, Shasha.
Nada suara Khan terdengar lebih tegas. Dia tidak menutupi kecemasan yang semakin meracuni jiwanya.
Aku tidak bisa.
Shanum menjawab dengan pelan.
Mengapa tidak bisa?
Khan mendesak lagi, perpaduan kacau dari amarah dan rasa posesif mengalahkan naluri-nalurinya yang sangat protektif jika sudah berhubungan dengan Shanum.
Tolong tinggalkan saja aku, Adri.
Khan meremas semakin erat pakaian dan kalung dalam genggamannya mendengar ucapan Shanum.
Kalau begitu kau sangat egois. Kau melupakan orang-orang terkasih yang mencemaskanmu. Kau melupakan Ayahmu, Ibumu yang bahkan sedang hamil saat ini, para sahabatmu. Dan juga aku.
Khan berusaha menekan rasa tercekik yang menguasai tenggorokannya. Dia menghela napas dalam.
Tapi, jika aku memang sudah tidak berharga lagi di matamu, jangan pedulikan aku. Kau cukup pikirkan Ayahmu, Ibumu, dan para sahabatmu. Mereka semua mengharapkan kau kembali. Setiap hari Ayahmu menghubungiku, menanyakan apakah aku sudah berhasil menemukanmu. Andaikata dia bisa meninggalkan Ibumu yang sedang hamil, mungkin dia akan berada di sini ikut mencarimu.
Mata Shanum terbelalak dalam.
Ibuku sedang hamil? Aku... aku akan memiliki adik.
Ya, makanya kau harus bersedia kembali ke sini. Aku percaya kau bisa membantuku.
Khan mendesak Shanum, berusaha membuat wanita itu merubah keputusannya untuk kembali.
Shanum terkekeh sembari menangis.
Baiklah, Adri. Kali ini aku akan mencoba memberikan sinyal lokasiku dengan sisa-sisa kekuatanku. Kau sudah memegang kalungku kan. Pegang dengan erat, kalung itu akan menuntunmu, Adri.
Kemudian gambar Shanum memudar, suaranya pun menghilang. Khan merasakan kehangatan mulai menggelitik jemarinya. Dia tahu kalung itu sedang bereaksi menjalankan tugasnya. Khan menunggu dengan sabar dan sebuah tayangan visual terlihat olehnya. Dia ditunjukkan secara jelas lokasi istrinya berada saat ini, lengkap hingga detail yang terkecil.
__ADS_1