
Suasana di dalam ruangan itu tampak tegang. Setelah Khan memberikan perintah membunuh kepada Sergei, wajah Diva langsung pucat pasi. "Kau bisa melakukan perbuatan itu?" tanyanya terperangah. Dia lalu menelan ludahnya, tampak gugup menatap Sergei.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kesal sambil menggeram. "Kau sudah merusak citraku, Yang Agung. Sekarang kekasihku akan ketakutan setengah mati kepadaku."
"Sayang, jangan takut ya. Aku tidak pernah sembarangan membunuh orang. Begini saja, kita ibaratkan aku ini seorang Prajurit, yang memang harus membunuh jika berperang atau menjalankan tugas. Bagaimana, kau sudah mengerti kan maksudku?" tanya pria itu memastikan.
Diva mengangguk pelan, dia mengerti. Meski pancaran rasa takut tetap terlihat di matanya. Sergei lalu menggeser bangkunya, ia mendekati gadis itu. Dia mengulurkan tangannya, dan ingin Diva meraihnya. Gadis itu awalnya tidak merespon.
Tapi ketika Sergei memberi isyarat dengan pandangan mantap dan senyum lembutnya, Diva perlahan bergerak meraihnya. Saat kedua tangan mereka sudah bertaut sempurna, Sergei langsung menggenggam erat jemari gadis itu. Keduanya saling berpandangan penuh arti.
Kemudian perhatian mereka terbagi oleh kedatangan dua orang pelayan di kediaman Diva, yang mengantarkan makanan kecil dan minuman dengan menggunakan troli yang biasanya digunakan di hotel atau restoran.
"Terima kasih, Bi Ada dan Bi Asih." Pelayan tersebut tersenyum tipis kepada Diva, lalu bergegas keluar dari ruangan setelah menyelesaikan tugasnya.
Shanum langsung mencomot kue berlapis coklat yang terlihat menggiurkan. Dia mengunyahnya pelan-pelan, merasakan tekstur manis dan lembut dari kue tersebut di lidahnya.
"Kau masih suka makanan yang manis-manis ya, Sayang?" kata Khan. Shanum tetap mengunyah kue manis kesukaannya, tidak menjawab pertanyaan pria itu.
Sedangkan Diva yang sedang menyeruput es teh dari gelasnya langsung terbatuk-batuk. "Pelan-pelan, Hon." Sergei mengusap-usap lembut punggung gadis itu.
Diva terbatuk-batuk semakin keras. "Jangan diusap-usap, geli!" Diva terengah sambil bergerak-gerak gelisah di bangkunya.
Sergei langsung menarik telapak tangannya. "Sorry, aku hanya mencoba membantu," ucapnya sambil meringis.
"Omong-omong, ditanya tuh, Sha sama Yayang. Masa diacuhkan begitu saja." celetuk Farah sambil tersenyum geli sendiri.
"Iya, aku sampai tersedak nih saking kagetnya."
"Iya, masih suka," jawabnya singkat. Tidak ada balasan kalimat romantis darinya, atau pun reaksi lain yang menandakan Shanum mengerti, bahwa pria itu sedang berusaha bersikap penuh perhatian padanya. Farah hanya mengangkat bahunya sementara Diva terlihat menggeleng sambil menutup mulut menahan cengirannya.
"Omong-omong, Yang Agung, tentang perintahmu tadi, maaf aku tidak bisa melakukannya. Aku akan coba mencari cara lainnya. Tenang saja, Shanum akan aman. Aku akan tetap melindunginya."
"Iya, kau tidak boleh menyuruh Sergei melakukan tindakan seekstrem itu, Adri!" sahut Shanum sambil menatap dengan tajam ke arah layar. Dia teringat kembali perintah kejam Khan kepada Sergei.
Alis Khan terangkat, dan dia berkata, "Mengapa tidak? Aku hanya tidak mau pria itu mencuri kekasihku."
"Astaga, aku bukan barang berharga yang bisa dicuri, Adri."
"Siapa bilang? Kau sungguh berharga untukku. Tidak akan kubiarkan siapa pun memisahkan kita," ucap Khan lembut. Kali ini ada reaksi dari Shanum, wajahnya mendadak memerah.
Sergei berdeham. "Aku tidak tahu kau ternyata seromantis ini, Yang Agung."
Farah memutar bola matanya. "Yang tadi aku dengar malah jauh lebih manis lagi."
"Hei, kau menguping ya," protes Shanum sambil memicingkan matanya. "Yah, sedikit sih." Farah menjawab sambil mengunyah keripik kentang dengan wajah masa bodoh.
"Benarkah? Wah, menyesal tadi aku segera keluar dari ruangan," goda Sergei.
Khan mendengus. "Shasha, pokoknya kau harus menjauh dari pria itu!"
"Aku tidak bisa, Adri! Pria itu dosen pembimbing dalam tugas akhirku. Aku tidak mungkin menghindarinya. Bagaimana nanti nasib tugas akhirku?" Wajah Shanum terlihat frustasi.
"Kalau begitu kau minta ganti dosen saja, Sha," saran Diva.
"Tidak mungkinlah, Diva. Yang punya kampus itu kan Pak Reno. Yah, meski milik keluarganya sih. Tapi setidaknya dia yang ditunjuk untuk mengurus kampus itu," potong Farah.
"Oh iya, ya, waktu di luar ruang ICCU kita sempat mendengar percakapan antara Kakak dan Ibunya Pak Reno, bahwa Pak Reno yang memegang penuh atas kampus dan salah satu perusahaan. Sedang Kakaknya yang memegang jaringan rumah sakit milik keluarga mereka."
"Nah, kan..." sahut Farah.
"Berarti pria ini juga kaya?" tanya Sergei.
"Sangat kaya." Diva tersenyum smirk.
__ADS_1
Sergei lalu bersiul. "Sepertinya saingan yang cukup berat," godanya sambil melirik Khan di layar ponsel. Khan bersedekap dan memperlihatkan muka dingin, datar dan acuhnya.
"Pokoknya kau tidak usah cemas. Pria itu tidak akan menyakitiku, Adri." Shanum berusaha kembali memecahkan suasana yang tegang itu.
"Bagaimana kau tahu? Dan mengapa kau membelanya terus?" Khan menyipitkan matanya tampak curiga.
"Oh, please! Tidak dengan sikap cemburu ala Barbarian itu lagi!" Shanum menatap tajam ke arah Khan.
"Apakah kau akan melenyapkan semua pria yang bahkan cuma melirikku? Atau memukuli mereka seperti kejadian pada Ula tempo hari?" tanyanya.
"Jika diperlukan, akan aku lakukan," jawab Khan datar.
"Oh, please! Dia itu manusia biasa, Adri. Sungguh tidak sepadan denganmu, karena dia sudah pasti akan kalah. Aku berubah pikiran, aku tidak mau menjadi pasanganmu. Silahkan pilih saja para wanita di acara Seleksi itu." Shanum langsung menghentak berdiri dari bangku.
Pria itu memang sungguh keras kepala. Shanum tidak mau ada pertumpahan darah yang terjadi di sini hanya gara-gara sikap posesifnya itu. Dia akan menentangnya habis-habisan. Tidak peduli meski dia harus melawan pria yang dia cintai.
"Tidak akan pernah ada wanita lain! Jika aku bisa langsung menculikmu, mengikatmu, dan menikahimu saat ini juga pasti akan kulakukan," sahut Khan geram.
Suasana menjadi hening. "Wow, apakah itu kode akan sebuah lamaran?" Diva tersenyum sangat lebar ke arah Shanum.
"Jangan bergurau, hal seserius itu tidaklah tepat untuk dijadikan bahan lelucon."
"Itu bukan lelucon, Shasha. Aku sangat serius. Suatu saat pasti akan kulakukan, jika kau memancingku terus," ucap Khan datar.
"Coba saja kau lakukan? Aku sih tidak yakin!" Shanum tampak meremehkan pria itu sambil berkacak pinggang.
"Aku akan membencimu seumur hidupku," tambahnya lagi dengan mata melotot.
Khan terdiam, namun matanya berkilat tajam. Pria itu berusaha menahan emosinya. Dia tetap sangat tidak menyukai ada pria lain yang berusaha mendekati kekasihnya. Makanya tercetus begitu saja kata-kata posesif barusan, yang berakhir dengan reaksi penolakan dari Shanum.
"Jika kau ingin pria itu menjauh dariku, sebaiknya kau ke sini. Aku akan memperkenalkan kau dengannya sebagai kekasihku. Menurutku itu lebih bermartabat."
"Aku tidak bisa. Selama proses Seleksi aku hanya boleh berada di dua kota, Astrakhan dan Och. Para Tetua dan Dewan mengamati kegiatanku. Aku sudah menyetujui syarat mereka berarti aku harus menepatinya." Khan menjelaskan aturan yang harus dijalankannya.
Wajah Shanum terlihat masam. Dia berdecak kesal. Ia tidak menyangka harus menjadi orang dengan nomor kesekian di daftar pria itu. Bukankah seharusnya dia yang menjadi prioritas utama, karena pria itu mencintainya.
Diva dan Farah saling berpandangan melihat interaksi antara Shanum dan Khan. Mereka tampak terpukau. Diva tersenyum geli. Sedangkan Farah mulai terkekeh.
"Kalian berdua seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Jadi kapan pestanya?" goda Farah.
"Pesta apa lagi? Jangan meracau!" Shanum mendengus sambil bersedekap.
"Ya, pesta pernikahan kalian berdualah," jawabnya.
"Aku sudah tidak tertarik, lebih baik aku cari pria lain yang lebih manusiawi," sahut Shanum ketus sambil memalingkan wajahnya.
"Shasha... cabut kata-katamu itu! Jangan lagi menguji kesabaranku!" desis Khan.
"Apa? Apa yang mau kau lakukan?! Aku tidak takut! Kau melawan perintah Tetua Klan yang merupakan kakek-kakek Tua Bangka saja tidak sanggup!" desis Shanum sambil mendekat ke arah layar, dan mencengkeram erat meja di hadapannya.
Sergei kontan meledak tertawa. Shanum menolehkan kepalanya. Sedang Khan, ekspresinya masih terlihat tegang.
"Astaga, Shanum! Jika para Tetua Klan itu kau sebut Tua Bangka, berarti Khan Adrian itu apa? Karena mereka itu rata-rata seumuran."
"Wew, berarti kau Bau Tanah, Sir," celetuk Diva sambil terkikik geli.
Shanum tertegun. Ia menatap Sergei. "Jadi mereka tidak tua?"
"Jika istilah tua yang kau pikirkan di sini ialah seseorang dengan penampakan kulit keriput, dan rambut yang telah berubah memutih, maka jawabannya adalah 'Tidak'. Tapi kalau tua di nilai dari penambahan jumlah usia berarti 'Iya', mereka sudah sangat tua." Pria itu menjelaskan masih sambil tertawa geli.
"Well, aku tidak menyangka, kau suka dengan pria yang sudah Bau Tanah, Sha. Lebih baik Pak Reno kemana-mana dong. Dia masih muda, tampan, seksi, jenius, dan sangat ramah." Farah ikut memanas-manasi sambil ikut terkekeh.
Diva melotot ke arah Farah sambil memberi semacam kode untuk menutup mulutnya.
__ADS_1
Shanum membeku menatap layar. Seluruh tubuh Khan terlihat penuh dengan cahaya berwarna merah. Kekuatannya mulai menampakkan wujudnya.
"Well, kalau begitu pria itu tetap akan mati. Tapi akan kupastikan dia tamat di tanganku!" ucap Khan sambil menyeringai kejam.
Shanum terkesiap, dan memucat. Dia tersentak mundur menabrak bangku. Suara bangku terguling terdengar ke seluruh ruangan. Shanum meringis nyeri. Dia menunduk untuk mengusap-usap paha belakangnya yang terantuk tadi.
Khan menolehkan wajah dinginnya, dia tampak acuh, tidak mengindahkan situasi yang menimpa Shanum. Pria itu lalu memutuskan sambungan vicall itu secara sepihak. Wajah dingin penuh amarahnya segera menghilang dari layar.
Ruangan mendadak senyap. Suara perdebatan yang tadi membahana hilang tak berbekas. Shanum menegakkan tubuhnya kembali. Dia mengembalikan bangku ke tempatnya semula, lalu menghembuskan napasnya. Mukanya tampak keruh. "Dia sangat marah. Dan aku yang membuatnya seperti itu," desah Shanum sambil menatap ketiga orang yang berada di ruangan itu dengan sedih.
"Farah juga turut andil. Tidak... sebenarnya kita semua juga ikut serta mengusik egonya. Maaf ya, Shanum." Diva berkata kepadanya dengan wajah menyesal.
"Jadi bagaimana sekarang?" tambah Diva lagi.
"Dia tidak akan membunuh Pak Reno. Pria itu hanya sedang cemburu. Nanti juga menghilang dengan sendirinya," kata Farah sambil mengendikkan bahunya.
"Siapa bilang? Kau tidak mengenal Khan Adrian. Pria itu tidak tertebak dan berbahaya. Jika aku menjadi Shanum, aku akan berusaha mendinginkan kepalanya dan hatinya yang sedang panas terbakar." Sergei memberikan saran.
"Aduh, tambah runyam kan," ucap Diva dengan cemas.
Farah membeku dia menelan ludahnya. "Maksudmu, pria itu benar-benar akan membunuh Pak Reno. Bukan hanya sekedar menggertak saja?"
"Bisa jadi. Kau tidak tahu bagaimana Khan Adrian saat marah. Aku pernah mendengar tentang sederet kematian mengenaskan dari orang-orang yang terlibat pada sebuah peristiwa, yang menyebabkan terbunuhnya Ayah pria itu. Dan peristiwa itu sempat memicu perpecahan di dalam Klan Altan sendiri. Hingga akhirnya pria itu juga yang dapat menyelesaikannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi semua pihak yang menyulut perpecahan lenyap tak bersisa begitu saja."
"Oh, Tuhan, pria itu gila! Maafkan aku, Shanum, tapi sebaiknya kau tinggalkan saja pria mengerikan seperti itu. Bagaimana jika nanti dia kehilangan kewarasannya, dan kau tiba-tiba menjadi korban." Farah terlihat menggigil ketakutan.
Shanum menatap Farah dengan getir. "Tidak, Farah! Aku percaya, dia tidak akan pernah menyakitiku secara sengaja. Dia mencintaiku, dan tadi sudah mengakuinya. Meski aku kali ini bersalah, tadi aku sudah bersikap kasar padanya. Aku hanya tidak suka sikap posesifnya itu, jadi ikut terpancing."
"Kau yakin, Sha?" tanya Farah lagi.
"Farah, pria biasa saja bisa berbahaya. Apalagi pria yang memiliki kekuatan sihir. Tapi aku tentunya tidak akan mau pasrah begitu saja. Aku juga punya kekuatan, dan bisa melawan balik jika diserang." Shanum meyakinkan tidak hanya Farah namun juga kedua orang lainnya.
"Kalau menurutku sih, dia akan tunduk di bawah kuasamu, Shanum. Pria itu memujamu," sahut Diva.
"Shanum, tentang pria ini, apakah aku boleh membantumu untuk menyelidikinya? Aku ingin tahu, sejauh mana ia mengetahui tentang kekuatanmu. Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya akan membuatnya merasa bahwa yang ia ketahui tentang kau itu hanyalah mimpi yang ia alami dalam koma," potong Sergei.
"Kau bisa melakukan itu, Sergei?" tanya Shanum dengan wajah berbinar cerah. Dia senang Sergei bisa membantunya dengan cara yang lebih aman. Tidak seekstrim yang tadi diminta Khan untuk dilakukan olehnya.
Sergei menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Sergei," katanya lagi.
"Tapi, bagaimana dengan Khan? Tadi dia bilang akan membunuh Pak Reno." Farah masih terlihat cemas perihal ancaman Khan tadi.
"Masalah Khan biar aku yang mengambil alih. Aku akan menghubunginya nanti. Dan semoga aku berhasil meyakinkan dia untuk mengurungkan niatnya itu," sahut Shanum.
Farah mengangguk, lalu berdiri dari duduknya. "Oke, kalau begitu sebaiknya kita pulang. Sudah selesai kan, dan kau sudah tidak ada lagi yang mau diungkapkan, Sha?" tanya Farah.
Shanum menggelengkan kepalanya. Lalu dia meraih tasnya di meja. Mereka semua bergerak ke arah pintu ruangan itu.
"Kalian hati-hati ya pulangnya," ucap Diva mengantarkan mereka sampai ke pintu depan.
"Kau tidak kembali ke hotel, Sergei?" tanya Farah.
"Tidak, aku masih ingin melepas rindu dengan Lunaku." Sergei lalu merangkul pinggang Diva. Gadis itu tersenyum malu-malu mendengar ucapannya.
"Iya deh, yang sudah punya pujaan hati. Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma mengontrak."
Sergei tampak bingung mendengar ucapan Farah. "Nanti aku jelaskan," bisik Diva pada pria itu. Sergei mengangguk, lalu mengecup pipi Diva.
"Hei, dilarang bermesraan di depan kami," protes Farah. Diva langsung menepuk pipi Sergei, sedang pria itu hanya terkekeh geli.
Shanum yang melihat tingkah mesra keduanya cuma bisa menggigit bibirnya. Terbesit rasa sedih di hatinya. Seandainya tadi ia tidak bertindak gegabah saat menyikapi sikap posesif Khan. Mungkin saat ini dia tidak kembali merasa nelangsa.
Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, tinggal penyesalan yang menguasai hatinya. Dia akan mencoba menghubungi pria itu sesampainya di rumah. Dan semoga pria itu masih mau menerima ucapan permintaan maafnya.
__ADS_1