Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 119 Yang Agung Klan Batzorig


__ADS_3

Khan menyusupkan tangan ke rambut Shanum. Kemudian mendekatkan keningnya ke kening Shanum, memeluk pinggangnya dengan erat. Shanum mencium aroma maskulin Khan yang panas, ia tidak ingin bangun lagi andaikata ini hanyalah mimpi. Ia ingin merasakan dan menyentuhnya, membiarkan pria itu balas merasakan dan menyentuhnya.


Merasakan darahnya seakan berhenti saat kehangatan pelukan pria yang ia rindukan berbulan-bulan ini melingkupinya. Pasangan jiwanya, akhirnya datang menyelamatkannya setelah Shanum mengirimkan koordinat posisi kepadanya, tidak menyangka sihir yang ia kirimkan berhasil dengan gemilang.


Khan membelai rambutnya, melabuhkan bibir seksinya di kening Shanum, mengirimkan panas ke seluruh tubuh Shanum. Dunia di sekitar Shanum langsung lenyap dalam gelap, dan hanya Khan satu-satunya yang diketahuinya.


Gairah Shanum sudah bergelung di dalam perutnya, membuat napasnya tercekat dan mulutnya mendadak kering. Ia benar-benar tersesat. Tersesat, seakan-akan ia bukan lagi nyata berada di sini.


Shanum menikmati setiap detiknya dan mendambakan lebih, lebih banyak sensasi luar biasa itu. Nyeri yang menguasai itu. Seluruh tubuhnya terasa hidup, setiap saraf berdengung waspada, dan merasa utuh.


Khan adalah rumahnya, tempat ia selalu akan kembali, Shanum akhirnya mengakuinya. Ia tidak lagi bisa menghindari yang tak terelakkan. Sejauh apa pun ia berlari, sehebat apa pun ia bersandiwara, ia akan tetap datang ke rengkuhan pria itu.


Kemudian suara teriakan keras seseorang menghentikan romansa di antara mereka. Membuat kedua pasangan sejiwa itu kontan menoleh.


"Kau adalah ratu kami. Ingat pedang yang sudah memilihmu, My Queen," ucap salah seorang pria yang tadi ikut berada di ruangan senjata. Wajah pria itu terlihat memendam kekecewaan pada Shanum. Begitu juga dengan roman amarah yang terlukiskan di wajah Avraam, yang berdiri di samping pria itu. Rahang Avraam mengetat, pandangannya menusuk tajam.


Sekarang Shanum melirik kepada Khan di sampingnya. Mata pria itu terlihat datar namun tidak menyembunyikan rasa heran yang berkecamuk di kedalaman ekspresinya.


"Kau harus mengatakannya, Cantik. Tidak boleh ada kebohongan." Avraam ikut mendesak Shanum sembari melangkah lebih ke depan, membelah kerumunan pengawal yang membentuk formasi khusus untuk melindunginya.


Saat Avraam memperlihatkan dirinya lebih jelas, suara kesiap kaget terdengar dari orang-orang yang berada pada kubu Khan.


"Sergei? Tapi... bagaimana?" ucap Khan, berbicara mewakili pikiran para pengikutnya. Dengan nada suara bingung, Khan melepaskan rangkulannya terhadap Shanum, mengerutkan kening ke arah Avraam, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah pasukannya, seolah sedang mencari-cari seseorang.


"Aku di sini Khan." Seorang pria dengan pakaian yang berbeda muncul dari sekumpulan orang di belakangnya. Pria yang bernama Sergei melangkah dengan ringan mendekat ke arah Khan.


Shanum menarik napas dalam. Dia sudah curiga mereka berdua memang sangat mirip, bagaikan pinang dibelah dua. Yang berbeda hanya warna mata Avraam saat ini. Meski tentang hal itu Shanum juga tahu, Avraam memiliki warna mata yang sama dengan Sergei, netra biru indahnya hanya akan muncul di saat-saat tertentu.


"Hai, Shanum." Sergei tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepalanya ke arah Shanum. Dan Shanum membalas sapaan itu seraya tersenyum tipis.


Kedatangan Sergei mengalihkan percakapan tentang pedang ratu. Walau Shanum tahu hal itu hanya pengalihan sementara. Avraam dan para pengikutnya tidak akan membiarkannya lolos begitu saja dengan membawa pedang pusaka klan mereka. Itu pun jika ia berhasil lolos kembali ke sisi suaminya tanpa kembali terpenjara pada akhirnya di klan musuh.


Shanum melirik ke arah Khan, mencoba membaca reaksi pria itu. Menemukan ekspresi datar serta kaku terpancar pada wajah pria itu. Entah apa yang sedang dipikirkan pria yang dicintainya itu saat ini, karena sekarang Khan menutup akses ikatan mereka. Hingga membuatnya tidak bisa bertanya melalui ikatan mereka.


"Siapa kau? Mengapa wajahmu mirip denganku?" ucap Sergei mengangkat dagunya dengan angkuh, seraya melenggang dengan santai ke arah Avraam. "Jangan bilang kau meniru wajahku karena ketampananku yang sudah melegenda ini."


Shanum memutar bola matanya. Sikap narsis Sergei tampaknya tidak akan pernah bisa dihilangkan di dalam situasi seperti apa pun. Bahkan dalam keadaan penuh bahaya pun pria itu masih sempat bersikap konyol seperti itu.


Avraam tidak menjawab. Roman tertegun masih terlihat mendominasi wajahnya. Sepertinya pria itu cukup syok melihat wajah yang sama terpampang di hadapannya.


Sergei berhenti di hadapan Avraam, namun tetap dengan jarak yang cukup aman. Tampaknya Sergei juga tidak bodoh, pria itu dapat mencium aura berbahaya dari Avraam. Kini, kedua pria itu saling menatap dengan lekat. Mungkin sedang mengukur kekuatan masing-masing.


Shanum berdeham. "Pria ini yang pernah aku katakan mirip denganmu, Avraam," ungkap Shanum.


"Dan Sergei, wajah pria itu asli. Bukan sihir ilusi. Dia pemimpin klan ini," tambah Shanum lagi. Shanum sengaja tidak menambahkan kata-kata tampan di sini, meski ia akui kedua pria itu memang memiliki ketampanan yang tidak perlu diragukan lagi.


"Dia pria bertopeng itu," sahut Khan dengan nada suara dingin. Sergei menoleh, ia mendekat ke arah Khan. "Maksudmu, pria itu biang kerok seluruh masalah ini?"


Avraam menyeringai, lalu memindahkan pandangannya ke arah Khan. "Ya, aku pria bertopeng itu. Pria yang sudah membawa pergi istri Khan Adrian," jawabnya.


Kemudian, Khan dan Avraam saling menatap dengan sengit. Aura kekuatan keduanya menguar di udara. Kepala Shanum mendadak pusing, melihat dua orang pria yang kini terang-terangan sedang berduel tatapan dan kekuatan untuk memperebutkan dirinya di tengah-tengah ratusan penonton.


Akhirnya Avraam mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Shanum kembali. "Perlihatkan pedang itu, Shanum. Tunjukkan arti dirimu di klanku saat ini. Kau berhutang hal itu kepada kami," desak Avraam.


Shanum tidak bisa lagi berkelit, masalah tentang pedang itu kembali diungkap. Mau tidak mau dia harus menguak kenyataan, meski hatinya mengobarkan pertentangan.


Shanum maju dua langkah dari posisinya semula, perlahan mengangkat tangannya, dan memperlihatkan pedang ratu dalam genggamannya. Tak sepatah kata pun diucapkannya kepada khalayak ramai itu. Shanum berusaha memperlihatkan roman datar dan tenang hingga tak terbaca.


Setelah pedang itu diperlihatkan, udara langsung berubah membeku. Sinar keemasan yang agung dari pedang itu serentak membuat pasukan milik Avraam membungkukkan tubuh di hadapan Shanum. Pertikaian yang sebelumnya masih terjadi di sebagian tempat, mendadak sepenuhnya berhenti.

__ADS_1


Tidak ada lagi penyerangan dan perlawanan dari kedua belah pihak. Waktu seolah berhenti, udara pun ikut mendingin. Kubu Avraam mendekat seluruhnya di belakang sang pemimpin dan begitu juga dengan kubu Khan. Mereka berjejer rapi dan tenang.


Sebagian kerumunan dari pihak Khan tampak gelisah. Shanum dapat membaca dari aura yang dipancarkan oleh mereka ketika mengedarkan pandangannya.


Dia memperhatikan Khan perlahan bergerak menjaga jarak dari dirinya. Shanum melihat kulit putih keemasan Khan memucat, dan Shanum seketika mengerut. Suara pecah nan lirih meluncur dari bibirnya, "Maafkan aku, Adri." Jika pria itu mendengar bisikan lirihnya, pria itu tak mengindahkannya. Bergerak seolah-olah ucapan Shanum adalah angin lalu.


Sekujur tubuh Shanum mendadak terasa nyeri, jiwanya memberontak sepenuhnya ketika melihat tingkah dan ekspresi Khan. Pasangan jiwanya menjauh, tak menatapnya, menghindarinya, seolah ia sedang membawa virus yang mematikan.


Shanum mengalihkan pandangan, dan mengamati Avraam sedang tersenyum dengan puas. Hal itu membuat batin Shanum kian tersiksa. Dia jadi merasa serba salah. Di satu sisi, adalah suaminya, dan di sisi lain ia tidak bisa menolak pedang yang sudah memilihnya.


"Kau menjebak istriku dengan pedang sialan itu, Bajingan!" Khan menggeram keras. Cahaya merah tampak mengelilingi Khan. Sepertinya Khan sudah tidak sanggup bersikap acuh. Begitu juga dengan Avraam, seketika kegelapan pekat ikut mengelilingi tubuh pria itu. Mereka siap berduel.


Avraam tersenyum geli. "Tidak ada yang menjebaknya. Aku malah tidak menyangka, dia berhasil memegang pedang itu." Pria itu mengendikkan bahunya santai.


"Pedang itu memanggilku, dan memilihku, Adri," sahut Shanum dengan lirih. Raut sedih terlihat di wajahnya.


"Kau dengar sendiri kan, Yang Agung Klan Altan. Pedang ratu kami memilih Shanum. Kini dia bukan lagi ratumu. Tapi akan menjadi ratuku. Berada di sini, di sisiku."


"Kau gila," desis Sergei dengan wajah muak. Sergei mengibaskan tangannya dengan keras.


Avraam mengabaikan ucapan Sergei, ia mengulurkan tangan. "Shanum." Sebuah perintah tanpa penyangkalan harus diikuti.


Shanum tidak bergerak. Dia ingin melarikan diri, ingin terbebas dari semua hal yang membingungkan ini.


"Jangan lakukan, Shanum," cegah Sergei, sembari menggelengkan kepalanya, "kau tidak harus mengikuti kehendaknya. Pedang itu bukan jaminan untuk serta merta menjadi ratunya."


Shanum akhirnya berkata mantap dan jelas kepada Avraam, "Aku tidak akan pergi ke mana pun bersamamu."


"Kau tidak akan mengatakan itu, sayangku," sergah Avraam, "ingat janjimu untuk meninggalkan Khan Adrian, dan kau tidak melupakan utang nyawa itu padaku kan."


Rasa ngeri membelit perut Shanum.


"Tentang pedang akan kukembalikan kepadamu, Avraam. Dan untuk janjiku serta utang nyawa itu maafkan aku. Kumohon," bisik Shanum.


Avraam menyentakkan dagunya ke lengan kirinya. "Mantra pemanggil pedang ratu, datanglah kepadaku." Cahaya berwarna perak muncul dari tangan Avraam, langsung melesat ke arah Shanum.


Lepaskan Shanum, Bedebah." Chinua menyeruak dari kerumunan mengeluarkan kekuatan cahaya birunya, memotong aliran sihir Avraam. "Aku baru sampai di sini dan harus melihat pertunjukkan sampah seperti ini."


Ratu Klan Batbayar itu berdecih keras, "setelah merusak pulauku, menculik cucu keponakanku, sekarang kau ingin mengakuinya sebagai ratumu. Sungguh tak tahu diri!" Keduanya saling melancarkan adu kekuatan sihir. Dan akhirnya adu kekuatan itu dimenangkan oleh Chinua.


Pria di samping Avraam memandangi kubu Khan semua secara bergantian, wajahnya memucat melihat pemimpinnya kalah. "Yang Agung," bisiknya. Dia membantu Avraam yang tersentak ke belakang.


"Diam, Deef," bentak Avraam keras sembari berusaha memperbaiki posisi berdirinya kembali.


"Shanum," panggil Avraam, ia mengulurkan tangan kembali ke arah Shanum. Kali ini suaranya lebih lembut, pria itu tidak mengindahkan bahwa ia baru saja kalah oleh Chinua. "Tolonglah, aku ingin membawamu pulang. Kau sudah berjanji."


Shanum mundur selangkah--mendekat ke arah Chinua. Dia sempat menoleh ke arah Khan, dan melihat pria itu tetap diam, meski tangannya mengepal dengan kencang di kedua sisi tubuhnya.


"Baik, jika kau tidak bersedia kembali kepadaku." Avraam menyeringai dengan bengis. Pria itu mengucapkan mantera perlindungan, dan selubung tipis terlihat membatasi posisi pihaknya dengan pihak Khan.


"Deef, hubungi perantara kita. Jalankan penghancuran sekarang juga di titik-titik yang sudah kita sepakati dan panggil seluruh pasukan kita dari rumah utama," teriak Avraam memberikan perintah.


Shanum menegang--kaku. Dia sangat tahu makna komando Avraam kepada pria bernama Deef itu. Pria itu ingin menyerang seluruh klan dari dalam wilayah mereka masing-masing. Dan karena sebagian besar pemimpin klan beserta pasukan mereka berada di sini untuk membantu Khan, maka Shanum sudah dapat memprediksi kehancuran sedahsyat apa yang akan terjadi di wilayah-wilayah itu.


Shanum menoleh ke arah Chinua dan melihatnya sedang membuat batas perlindungan untuk kubu mereka. Wanita itu mengucapkan mantra, lalu cahaya biru berpendar di sekeliling mereka.


"Aku memberi kalian waktu untuk mengatur strategi, Khan Adrian. Tidak ada cara lain, kita akan berperang. Persiapkan diri kalian," teriak Avraam. Kemudian pria itu dan pasukannya mundur ke arah bangunan batu.


Shanum menghela napas dalam. Akhirnya perang tidak dapat dihindari lagi. Mendadak Shanum teringat salah satu ancaman yang tadi diucapkan Avraam.

__ADS_1


Shanum menarik lengan baju Chinua. "Tolong katakan padaku, apakah wilayah kalian dilindungi dengan ketat, Chinua?"


Chinua mengerutkan keningnya. Matanya heran melihat Shanum menarik lengan bajunya dan mengucapkan kalimat mengandung kekhawatiran. "Tentu saja Shanum," jawabnya.


"Dan Klan Bataar serta Batzorig apakah ikut membantu juga, Chinua?" Shanum bertanya kembali.


"Klan Bataar, tidak mungkin berada di sini, Shanum. Pemimpinnya, bajingan pengecut yang membenci suamimu itu, hanya karena putrinya tidak berhasil menikah dengan Khan, tentu saja menolak bergabung." Chinua mendengus dengan keras dengan mimik wajah jijik.


"Terus, Klan Batzorig?" desak Shanum.


"Kau tidak melihat Sergei? Dia Yang Agung dari Klan Batzorig," jawab Chinua. Dan Shanum terlihat bingung mendengar ucapan mengejutkan itu.


Chinua menatap Shanum lalu berkata, "Ah, aku lupa. Kau sudah diculik oleh musuh saat pengumuman penobatan itu disebarkan ke seluruh klan."


Shanum tertegun. Dia tidak menyangka kalau Sergei adalah seorang pemimpin klan besar. "Kau tidak sedang bercanda kan, Chinua?" desak Shanum lagi.


Chinua memutar bola matanya. "Untuk apa aku membuat lelucon saat ini, Shanum. Kita sedang bersiap berperang, kau tahu."


"Em, aku tidak menyangka saja," ucap Shanum sembari meringis.


"Semua orang juga kaget. Karena yang kami tahu, Yang Agung Klan Batzorig sebelumnya tidak memiliki anak, dan juga saudara kandung. Namun ternyata Bainzar, memiliki adik kandung yang kelahirannya disembunyikan."


"Maksudmu disembunyikan?"


"Aku juga kurang paham, Shanum. Mungkin adik kandung Bainzar itu cacat atau dilahirkan di luar ikatan pernikahan. Bisa saja kan."


"Memangnya kenapa kalau dia cacat atau lahir di luar ikatan pernikahan?" tanya Shanum lagi ingin tahu.


"Astaga, Shanum. Kenapa kau mendadak jadi sangat cerewet, sangat ingin tahu persoalan Klan Batzorig begini sih?" protes Chinua. Tampaknya wanita itu gerah ditanya-tanya terus oleh Shanum sejak tadi.


"Dasar pelit. Baru juga aku tanya sedikit, sudah keberatan saja," kata Shanum sembari bersungut-sungut.


"Kalau kau penasaran, mengapa tidak tanyakan langsung saja kepada Sergei? Itu orangnya ada di sana." Chinua mengarahkan dagunya ke Sergei yang sedang berbicara serius dengan Khan.


Shanum melengos kesal. "Tidak mungkin aku melakukan itu. Bisa-bisa dia akan tersinggung dan pastinya menatapku dengan aneh."


Chinua tertawa geli. "Ternyata kau masih memiliki akal sehat juga, Shanum," sindirnya. Dan Shanum mendengus keras membalas celetukan Chinua.


Kemudian wanita itu memberikan isyarat kepada Shanum untuk mendekat ke arah Khan dan kelompoknya. Mereka harus bersiap menghadapi perang, tentunya mereka harus berdiskusi tentang strateginya.


"Untuk apa pengkhianat ini berada di sini, Khan. Lebih baik dia kembali ke kubu penjahat di sebelah sana!" teriak seorang wanita dengan lantang.


Shanum berhenti melangkah, dia menoleh ke arah wanita itu dan ia mengernyitkan dahi, melihat Sarnai sedang mengacungkan telunjuknya dengan raut wajah marah.


"Hei, apa urusannya denganmu? Siapa yang pengkhianat? Dia ini istrinya Khan. Tentu saja posisinya yang seharusnya berada di samping Khan. Bukannya dirimu yang sejak tadi aku lihat seperti wanita murahan, menempel saja dengan Khan," jawab Chinua dengan nada suara muak. Tampaknya Chinua memperhatikan tingkah wanita itu sejak tadi dan merasa kesal mendengar tuduhannya terhadap Shanum.


Sarnai mendengus keras sembari menatap sengit ke arah Chinua. "Memangnya apa urusanmu? Aku tidak berbicara padamu."


Shanum melihat ke arah Khan yang berada di samping Sarnai, dan menyadari kalau pria itu menolehkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapannya. Pria itu bersikap seolah tidak mendengar perseteruan itu. Seketika wajah Shanum terlihat sendu.


"Sudah, kenapa jadi bertengkar sesama teman. Harusnya kalau mau bertengkar dengan kubu di seberang sana tuh, bukan di sini," sahut Sergei dengan tenang, dia berdiri di antara Sarnai dan Chinua, berusaha melerai pertengkaran keduanya.


"Dasar, Nenek Sihir," celetuk Sarnai sembari melengos.


"Eh, punya nyali kau, Wanita Murahan." Chinua menggeram marah, tangannya terangkat ke atas. Kekuatan cahaya birunya berkobar di ujung jemarinya, tampaknya ia bersiap menyerang Sarnai dengan kekuatan sihirnya.


Shanum langsung mencengkeram kuat lengan Chinua, menghentikan sihir yang mulai diarahkan olehnya kepada Sarnai. Shanum mengajak wanita itu menjauh. Awalnya Chinua menolak, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Shanum dan ingin melanjutkan aksinya.


Namun, saat melihat ekspresi sedih tertera di wajah Shanum, wanita itu mendadak mengalah. Chinua menghela napas dan mengikuti arah langkah Shanum dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2