
Setelah mendapat informasi dari Nekhii, Shanum langsung memanggil tim medis yang menangani Khan. Mereka tentu saja terheran-heran, secara mendadak diminta untuk melakukan pengambilan darah seorang gadis yang notabene hanyalah seorang penunggu pasien.
Namun, tentu saja pemikiran itu tidak membuat mereka lantas menolak permintaan Shanum tersebut. Salah seorang dokter cukup menghubungi Eej, sebagai orang tua dari pasien, yang berakhir dengan wanita itu langsung menelepon Shanum.
Shanum menjelaskan secara gamblang ucapan Nekhii tentang cara untuk mengobati Khan. Dan ibu dari Khan tersebut cukup kaget mendengar Shanum mengenal Nekhii. Alhasil, ia menjadi menjelaskan tentang pertemuan-pertemuannya dengan Nekhii dari awal hingga akhir kepada wanita itu.
Tak berapa lama setelah Eej menyudahi panggilannya, tim medis membawa tempat tidur tambahan beserta beberapa peralatan medis ke dalam kamar rawat tersebut. Shanum diminta untuk berbaring, dan mereka mulai mengambil darahnya.
Setelah seluruh proses itu selesai, darah Shanum langsung dipersiapkan untuk ditrasfusikan kepada Khan. Prosedur yang dilakukan kali ini tentu saja berbeda dengan prosedur di dunia nyata. Jika di dunia nyata, setelah darah diambil dari pendonor, seharusnya darah tersebut melalui lagi serangkaian tes yang cukup rumit.
Darah itu harus disortir, diperiksa dan dianalisis terlebih dahulu oleh bank darah sebelum diberikan kepada rumah sakit di mana pasien yang membutuhkannya berada.
Saat ini, Shanum sedang memperhatikan seluruh rangkaian proses itu dengan wajah tegang. Meski ia percaya pada kata-kata Nekhii, namun tetap saja ada sedikit rasa cemas yang timbul dalam dirinya. Dia tidak mau ada efek lanjutan yang negatif setelah transfusi.
Setelah tim medis selesai menjalankan tugasnya, mereka kembali meninggalkan Shanum sendirian di kamar itu. Dia duduk mendekati ranjang rawat Khan. Dia memperhatikan dengan seksama setiap perubahan yang terjadi.
Dia ingin mengetahui efek darahnya di dalam tubuh pria itu. Dan Shanum sudah membuka perban di wajah Khan, untuk mewakili sebagian kecil luka bakarnya.
Awalnya belum ada perubahan yang berarti, kulit terbakar pria itu tetap seperti sebelumnya. Shanum mendongakkan kepalanya, melakukan pengecekan ke arah kantong darah yang disangkutkan pada sebuah tiang, dengan jalur infus yang kini berisi darah. Darah tersebut terlihat menetes dengan lancar, tidak berhenti sama sekali. Tapi mengapa belum ada reaksi kepada Khan?
Shanum kembali memeriksa kulit Khan, kali ini dia membuka perban di tubuh bagian atasnya. Dia sempat terkesiap kaget melihat luka bakar yang terpampang mengerikan di hadapannya. Luka bakar di tubuh bagian atas pria itu lebih parah dibandingkan luka bakar pada wajahnya.
Lalu tiba-tiba ia tersentak mundur, hingga mengakibatkan kursi di belakangnya terbalik dan berbunyi keras saat menyentuh lantai. Shanum terkesima, ia melihat di seluruh tubuh pria itu mengeluarkan asap berwarna hitam yang membumbung semakin ke atas lalu lenyap begitu saja setelah sampai di langit-langit kamar itu.
Kulit Khan yang memerah, melepuh, mengelupas bahkan bengkak dan hangus perlahan memudar, meninggalkan luka parut yang sangat jelek. Setelah itu, tidak ada reaksi lagi. Tampaknya darah Shanum hanya menghilangkan sihir hitam yang bercokol di dalam kulit pria itu.
Shanum berpikir, jika sihir hitam itu sudah menghilang, seharusnya dia bisa memberikan sihir penyembuhnya. Shanum akan mencobanya, ia langsung menempelkan jemarinya di kulit yang penuh dengan luka parut itu.
Dia berharap kekuatan penyembuhnya dapat menghilangkan luka parut itu. Sinar keemasan yang sebelumnya tertolak, kini menyerap ke dalam kulit pria itu. Secara perlahan luka parut itu memudar dan melahirkan kulit yang sehat, dan bersih seperti sediakala.
Shanum mendesah lega, sekarang wajah pria itu terlihat kembali tampan seperti wajah Khan Adrian yang ia kenal. Gadis itu menarik jemarinya dan menoleh ke belakang, mengembalikan letak kursi yang terbalik ke posisinya semula. Kemudian ia duduk di sana dengan wajah letih, namun luar biasa bahagia.
Dia tinggal menunggu kesadaran pria itu kembali pulih, dan semoga pria itu segera bangun dari komanya. Shanum menatap wajah Khan dengan senyum dikulum. Ia melarikan jemarinya mengusap dagu, pipi, hidung, mata dan kening pria itu.
Shanum tidak puas hanya melakukan itu, ia lalu mendekatkan wajahnya ke pipi Khan dan mengecupnya dengan perasaan campur aduk tidak karuan. Dia sangat merindukan pria itu. Dan sangat ingin memeluknya dengan erat. Gadis itu kembali ke posisinya semula dengan wajah sendu.
Kuharap kau segera sadar, Adri. Hatiku sudah gelisah ingin mendengarkan suaramu memanggil namaku. Aku rindu... sangat rindu...
Suara derit pintu membuat gadis itu menoleh. Dia melihat Eej menuju ke arahnya. Wanita itu berhenti melangkah saat menyadari kulit putranya sudah kembali pulih. Matanya terlihat berkaca-kaca sembari melangkah mendekati ranjang rawat Khan.
"Dia pulih, Shanum. Oh, syukurlah!" Eej menghapus cairan bening yang menetes di pipinya. Wajah wanita itu terlihat bahagia.
"Ya, transfusi darah itu berhasil, Eej," sambung Shanum itu seraya tersenyum.
Lalu mereka mendengar suara pintu diketuk. Keduanya menoleh, namun hanya Eej yang menjawab, "Masuk saja."
Pintu pun dibuka, dari baliknya muncul Diva dan Farah. Kedua sahabat Shanum itu tersenyum takut-takut, dan gugup saat berhadapan dengan Eej.
"Selamat siang, Mam... Shanum. Maaf, kami baru bisa datang ke sini. Terutama baru dapat bertemu Anda," kata Farah dengan wajah malu.
"Tidak apa-apa. Kalian pasti lelah, jadi tidak masalah kalau beristirahat lebih lama." Eej menjawab dengan nada suara lembut dan ramahnya. Wajah keduanya langsung berubah menjadi lega ketika mendengar ucapan ramah ibu Khan itu.
"Bagaimana keadaan putra Anda, Mam?" Diva bertanya.
"Dia sudah membaik. Semuanya berkat Shanum." Wanita itu tersenyum sembari melirik ke arah Shanum.
"Waw, betulkah?" seru Diva terlihat takjub. "Jangan lupa kau harus bercerita kepada kami, Sha," tukas Farah. Sikap formal mereka langsung menghilang, berganti dengan sikap mereka yang sesungguhnya di hadapan Shanum.
"Iya, nanti aku ceritakan," jawab Shanum.
Saat sedang terjadi perbincangan hangat di antara keempat orang tersebut, terdengar suara lirih dari arah ranjang Khan.
Keempatnya serta merta menoleh dan melihat Khan sudah membuka matanya. Pria itu masih tidak fokus atau terlihat linglung. Seketika Shanum dan ibu Khan bergerak mendekat ke arah ranjang. Diva dan Farah tetap di posisinya semula, memperhatikan dalam diam.
"Syukurlah, kau sudah sadar, Nak? Apa yang kau rasakan?" tanya Eej dengan senyum teduh yang diperlihatkannya kepada putra satu-satunya itu.
Khan tidak menjawab ia masih diam dengan wajah bingung. Shanum sebenarnya ingin menyapanya, tapi tenggorokannya terasa terganjal sesuatu. Sungguh sulit berkata-kata, saat hati sedang merasakan euforia yang tak terkira.
"Air, aku minta air..."
Suara pria itu terdengar serak meminta air. Shanum langsung sigap mengambil gelas berisi air putih di meja samping ranjang. Dia juga membantu pria itu untuk bangun dari posisi rebahannya menjadi setengah duduk. Shanum perlahan mendekatkan gelas tersebut ke bibir Khan, dan melihat pria itu mulai mensesap air sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Sesekali pria itu tersedak, dan Shanum menepuk lembut punggung pria itu yang tersentak ke depan tatkala terbatuk-batuk keras. Setelah air di gelas mulai habis, Shanum menarik kembali gelas tersebut. Tangannya masih dengan posisi menggenggam gelas.
"Kau mau minum lagi, Adri?" tanya Shanum dengan lembut. Pria itu menggelengkan kepalanya. Namun di tengah jalan ia menarik tangan Shanum dan berkata, "Siapa kau?"
Shanum terperangah kaget, begitu juga dengan ketiga orang lainnya. "Kau tidak mengenal kami, Nak?" sahut Eej dengan wajah khawatir.
Pria itu menoleh ke arah ibunya, dengan tangan masih menggenggam erat tangan Shanum. "Aku mengenalmu, Eej. Kau Ibuku, tidak mungkin aku melupakanmu," jawab pria itu.
"Tapi aku tidak mengenal dia dan... kedua orang yang berada di sana." Khan melepaskan tangan Shanum, lalu menunjuk ke arah Diva dan Farah. Shanum langsung meletakkan gelas kembali ke meja, tidak ingin gelas itu menjadi pecah, karena tangannya bergetar hebat saat ini. Gadis itu merasa syok mendengarkan ucapan Khan.
Pria itu tidak mengingatnya. Oh... Tuhan, apalagi kini masalah yang terjadi?
"Mengapa kau membiarkan mereka berada di sini, Eej? Apa yang telah terjadi padaku? Dan mengapa aku berada di sini seperti orang pesakitan?" Pertanyaan bertubi-tubi itu datang dari Khan, hingga membuat ibunya gelagapan.
Eej berdeham, lalu mendesah sedih. Terutama ketika melihat wajah syok Shanum. "Pertama-tama aku ingin mengatakan, dia adalah Shanum. Dia kekasihmu, Nak. Kau tidak mungkin melupakannya. Dia..."
"Dia bukan kekasihku, Eej. Kekasihku hanya Sarnai, dan kami sudah putus sejak lama," potong Khan dengan wajah dingin dan kakunya yang biasa diperlihatkannya pada orang tak dikenal.
Shanum semakin memucat mendengar jawaban itu. Begitu juga dengan kedua sahabat Shanum. Mereka tersentak kaget. Diva malah sampai membekap mulutnya, sedangkan Farah menggeleng dengan wajah keruh.
"Dan mereka..." tunjuk Khan kepada Diva dan Farah. Dengan ekspresi dingin yang membuat keduanya menelan ludah karena gugup.
"Mereka sahabat dari Shanum. Nama mereka, Diva dan Farah. Kau juga seharusnya sudah mengenal mereka," jawab Eej.
"Benarkah aku mengenal mereka?" Khan lalu mengedarkan pandangannya, menatap satu demi satu para gadis yang berada di ruangan itu. Terakhir kali dia menatap Shanum dengan lekat.
Matanya tampak curiga, sepertinya pria itu sudah kehilangan seluruh ingatannya tentang Shanum dan kedua sahabatnya. Tidak ada jejak pengenalan sedikit pun terhadap mereka. Ketiganya bagaikan orang asing untuknya. Dan Shanum membalas tatapan pria itu dengan wajah sendu.
"Kau tidak ingat sedikit pun kejadian dalam kebakaran itu, Nak? Yang membuatmu juga ikut terbakar hingga sekarat," kata Eej dengan perlahan.
"Aku sekarat?" ulangnya bingung.
"Aku tidak ingat. Yang aku ingat terakhir kali..." Pria itu mengernyit, dan tangannya langsung dilarikan ke pelipisnya. Dia tampak memijatnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Maaf, aku merasa pusing. Bolehkah hanya kau, Eej, yang berada di sini." Khan kembali memejamkan matanya. Pria itu terlihat masih merasakan kesakitan. Dia mengusir Shanum dan kedua sahabatnya dari ruangan itu. Dan yang paling terpukul oleh ucapan Khan tentunya adalah Shanum. Batin gadis itu menjerit sakit.
Dari seluruh kejadian yang terjadi kepada pria itu saat ini, hanya ini yang membuat Shanum runtuh. Tidak dikenal oleh orang yang kau cintai adalah hal yang paling menyakitkan, sakitnya mungkin sama dengan orang yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Setelah di luar, Eej mengusap pipi Shanum yang telah basah oleh air mata. Ia memandang Shanum dengan pancaran mata sedih. "Maafkan putraku ya, Shanum. Mungkin efek dari pengaruh sihir hitam itu belumlah hilang sepenuhnya. Aku yakin, dia akan bisa mengingatmu lagi ketika ia sudah kembali pulih."
Shanum menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Shanum berusaha menahan rasa sesak di dadanya. Gadis itu sudah berusaha menahannya sejak tadi. Agar ia tidak perlu memperlihatkan wajah rapuhnya di hadapan semua orang, dan memancing rasa kasihan mereka. Tapi Shanum tak kuasa lagi, tanpa sadar air mata itu akhirnya jatuh menetes di kedua pipinya.
"Sebaiknya kita kembali ke atas, Sha," usul Farah. "Ya, benar! Kalian ke penthouse saja. Sekarang aku harus memberitahu tim medis untuk memeriksa putraku itu. Nanti akan aku infokan kepadamu perkembangannya ya, Shanum," sambung ibu Khan itu dengan senyum teduhnya, berusaha menenangkan gadis itu.
Shanum kembali mengangguk, kemudian ia dibimbing oleh Diva dan Farah melangkah meninggalkan ruang tunggu tersebut. Menyisakan Eej, menatap ke arah punggung Shanum dengan wajah keruh.
Wanita itu masih sangsi jika putranya bisa semudah itu melupakan belahan jiwanya sendiri. Ikatan itu seharusnya kuat, tidak gampang dipatahkan. Dia mencium ada sesuatu yang salah di sini. Dan dia harus berhasil menemukan Nekhii terlebih dahulu. Hanya wanita itu yang bisa membantunya mengetahui hal salah yang telah terjadi pada Khan.
Sementara itu, di penthouse, ketiga gadis itu tampak duduk diam di sofa ruang tamu. Shanum sudah menceritakan kepada kedua sahabatnya tentang kejadian sejak dia tiba di tempat ini.
Mereka terlihat turut sedih atas keadaan hilang ingatannya Khan. Farah bahkan terlihat kesal. Dia sempat memaki pria itu, yang kemudian mendapatkan reaksi pelototan dari Diva. Tapi Farah tidak peduli, wajahnya tetap saja terlihat sebal.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, Sha?" tanya Diva.
"Aku akan menunggu. Sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," jawabnya.
"Kami akan mendampingimu terus sesuai permintaanmu, Sha." Diva mencoba memberikan dukungannya.
"Kenapa tidak kau tinggalkan saja sih pria Es Balok itu?" sahut Farah dengan ketus.
"Astaga, Farah!" hardik Diva.
"Sekarang coba dipakai logika kalian. Untuk apa memikirkan pria yang sudah tidak mengingatmu?"
"Seandainya bisa semudah itu aku melepaskannya, Farah. Aku pasti akan melakukannya tanpa berpikir lagi. Tapi sayangnya aku tidak bisa, ada ikatan yang mengikat kami di sini," tutur Shanum dengan wajah sedih.
Farah menghembuskan napasnya. "Maaf, bukan maksudku membuatmu semakin tersiksa. Kalau memang pria Es Balok itu tidak bisa mengingatmu lagi, aku bersedia membantumu mencari kesibukan lain. Kita bisa berlibur sebelum sibuk mencari pekerjaan. Mumpung sedang berada di sini," seloroh Farah sembari tersenyum smirk.
Diva langsung memutar bola matanya. "Itu sih maumu, berlibur dengan gratis. Kalau aku akan mencoba mencari informasi tentang Igei."
"Kau belum berhasil menghubunginya, Diva?" tanya Shanum. Diva menggelengkan kepalanya dengan wajah muram. Ternyata Diva juga mengalami kegalauan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Hmm, betul juga ya. Kalau begitu aku akan melancarkan aksi pendekatan juga ke Jullian deh," sambung Farah dengan tiba-tiba.
"Huh, semoga saja dia tidak lari terbirit-birit di dekati olehmu," cibir Diva secara spontan menjawab ucapan Farah.
"Hei, jangan menyumpahi begitu dong. Harusnya kau berkata yang baik-baik, supaya pengejaranku berjalan lancar," protes Farah dengan wajah cemberut.
"Di mana-mana itu yang mengejar pria, Farah. Bukan wanita, haduuh!" kata Diva sambil berpura-pura menepuk jidatnya.
Shanum yang lagi bersedih hati seketika tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Mereka berdua memang sangat lucu jika sudah berdebat.
"Sudahlah Farah--Diva. Silahkan saja kalian kejar pasangan idaman kalian masing-masing. Jangan berdebat tentang caranya. Selagi masih bisa, lakukanlah, jangan sampai nantinya kalian menyesal," potong Shanum dengan senyum getir.
Keduanya terdiam, mereka menoleh ke arah Shanum dengan wajah serba salah. Namun mendadak wajah Farah terlihat cerah dan bersemangat. Dia menatap ke arah Shanum sembari menyeringai.
"Ah, begini saja, Sha. Kalau Es Batu itu lupa padamu, kau ingatkan saja dia. Kejar lagi pria itu. Tidak perlu sungkan. Kau kan sudah tahu kegemarannya, dan topik pembicaraan yang disukainya. Buat dia bertekuk lutut lagi kepadamu. Kalau perlu pukuli kepalanya biar otaknya yang konslet itu kembali normal," celetuk Farah.
"Kau itu memang benar-benar konyol ya Farah, di awal sih sudah bagus tindakan yang kau usulkan itu. Tapi kenapa saat di ujung kalimat yang muncul malah kalimat ekstrem. Kan jadi merusak segala usul bagus yang kau lontarkan tadi," timpal Diva sambil mendesah gemas.
Farah menjawab dengan senyuman sembari mengendikkan bahunya. Wajah gadis itu tidak menampilkan kesan bersalah sama sekali.
"Kau yakin hal itu bisa dilakukan, Farah? Aku kok merasa ragu ya," jawab Shanum dengan nada suara sendu.
"Yang mana? Tentang mengejar Khan atau tentang memukul kepalanya?" tanya Farah dengan tergelak.
Shanum mendesah. "Tentu saja tentang mengejar Khan, Farah!"
"Bisa saja terjadi, selama kau memutus urat malumu dan bersikap muka tembok," jawab Farah sambil nyengir.
"Astaga, jangan ajarkan aliran sesatmu itu kepada Shanum!" potong Diva memperingatkannya.
"Siapa juga yang mengajarkan aliran sesat?! Aku hanya mengajaknya untuk berpikir pintar, bukannya mengajarkan tindakan tidak senonoh kepadanya." Farah memeletkan lidahnya ke arah Diva.
Kemudian keduanya mendengar Shanum terkekeh geli sendiri. Matanya menerawang menatap ke arah dinding. Ternyata di tengah-tengah perdebatan mereka, Shanum malah asyik dengan pikirannya sendiri. Dan kedua sahabatnya itu saling berpandangan dalam kebingungan melihat tingkah Shanum.
"Hei, kenapa, Sha? Kok tertawa sendiri, kau tidak mulai kehilangan kewarasanmu kan?" tanya Farah seraya menepuk pundak gadis itu.
Shanum tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah para sahabatnya. "Ya, ada apa?" tanyanya bingung.
Farah memutar bola matanya. "Tadi kau tertawa sendiri. Kami bingung dan bertanya-tanya, apakah sahabat kami ini mulai kehilangan kewarasannya?" ulang Farah.
"Oh, tentang itu. Tentu saja tidak! Tenang saja, aku masih seratus persen waras. Cuma barusan, tiba-tiba teringat ucapanku sendiri tempo hari kepada Khan," jawab Shanum masih sambil tersenyum lebar.
"Ceritakan!" desak Diva dengan wajah penasaran.
"Em... begini, waktu itu aku pernah mengatakan kepadanya, jika ada wanita lain yang mengejarnya, aku akan melawan wanita itu. Aku tidak akan menyerah untuk menjaga kekasihku. Dan Khan tersenyum lebar saat mendengarnya. Ia sangat bahagia serta mendukung sikapku itu."
"Serius?! Astaga, sangat posesif, dan anehnya kalian berdua memang cocok. Es Balok itu juga selalu bertingkah posesif terhadapmu. Tapi, yang membuatku bingung, lucunya di mana ya, Sha?" tanya Farah sembari mengangkat alisnya.
"Belum selesai ceritanya ini," protes Shanum dengan wajah galak. Diva juga ikut mendengus seraya mendelik lebar. Dia memberikan kode kepada Farah untuk menutup mulutnya.
"Oke, silahkan dilanjutkan. Maaf tadi aku memotong," ucap Farah sambil cengengesan.
"Sampai di mana tadi. Oh, oke... jadi yang lucu itu adalah saat ini aku harus mengusir setiap wanita yang mendekatinya sekaligus membuat pria itu mencintaiku kembali."
Farah dan Diva terdiam. Masih menelaah lawakan Shanum yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali.
"Em, Sha... Itu sih bukan lucu namanya. Tapi tragis," celetuk Farah terus terang. Diva seketika menendang kaki Farah, dan gadis itu mengaduh kesakitan.
Shanum membeku, dia kemudian kembali tertawa lirih. Tawa itu lebih terdengar menyedihkan. "Yah, kau benar, Farah. Hal itu lebih cocok dikatakan tragis, bukannya lucu. Seharusnya aku tidak tertawa." Shanum menunduk, ia memandangi kuku jarinya satu-persatu.
Diva lalu menyikut Farah, dia melotot ke arahnya. Farah memberikan isyarat kata tidak mengerti ke arah Diva. Diva menghela napas, lalu beringsut mendekati gadis itu. "Kau malah membuatnya semakin sedih, Bodoh! Sekarang coba hibur dia lagi," bisik Diva.
"Kenapa harus aku?" balas Farah sembari berbisik juga. "Ishh, kau kan tadi yang membuatnya sedih. Ayo tanggung jawab!" desak Diva.
"Bukan aku, kali! Yang membuat dia sedih, si Es Balok itu," protes Farah masih dengan suara pelan.
Kedua sahabat itu asyik berbisik-bisik sendiri, tidak menyadari jika Shanum sudah menghilang dari samping mereka dan menuju kamar.
Kemudian melihat sahabatnya itu telah menghilang diam-diam, mereka bertengkar lagi. Kali ini meributkan siapa di antara mereka yang harus menghibur Shanum dan mengejarnya ke dalam kamar.
Akhirnya, setelah merasa lelah berdebat tanpa ada ujungnya, mereka sepakat yang bertugas menghibur Shanum adalah mereka berdua.
__ADS_1