
Suasana mencekam terasa dari ruangan itu. Bahkan setelah tawa geli Chinua tak terdengar lagi, keheningan tetap mendominasi. Seolah-olah mereka menanti kejutan selanjutnya yang akan muncul.
"Tolong kau singkirkan pria itu dari hadapanku, Dario. Sebelum nantinya kesabaranku habis, dan dia berakhir mengenaskan di tanganku," perintah Shanum sambil menghadap ke arahnya. Dario langsung patuh, segera bergerak dan memanggil beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu.
Shanum memperhatikan pria bajingan, salah satu dari dewan bangsawan itu diseret paksa. Mata pria itu berkilat penuh dendam, menatap Shanum dengan tajam, seluruh tubuhnya boleh kaku, namun netra matanya tetap dapat bergerak dan memancarkan isi hati si pemiliknya. Isi hati yang mungkin berisi sumpah serapah dan keinginan untuk melawan.
"Dario, sebaiknya kau bersiap, sihirku sengaja kulepaskan setelah kalian berjalan seratus meter dari tenda," ucap Shanum dengan nada dingin.
Dario menganggukkan kepala, melanjutkan langkahnya mengawal pria tersebut, diiringi dua orang pengawal pria berbadan kekar.
Sebenarnya Shanum dapat membelenggu pria itu lebih lama, tapi dia tidak mau mengeluarkan tenaga dengan sia-sia, sementara kekuatan sihir pria itu berada di level lebih rendah darinya. Dario pastinya dapat menangani pria itu.
Setelah sosok Dario dan para pengawal itu tidak terlihat lagi, Shanum merasakan kulitnya mendadak meremang. Dia menoleh dan mengedarkan pandangan ke arah semua orang, mencari pelaku yang menebarkan sihir menggelisahkan itu.
Dalam pencariannya, matanya terpaku pada satu orang, dan ia tertegun saat menangkap arah pandangan orang tersebut. Pria itu, yang sedang melancarkan pengamatannya, terlihat memandang subjeknya dengan pengawasan terpusat.
Shanum tertegun. Ruangan dan orang-orang yang berada di sana seketika memudar. Pandangan pria itu menariknya, seolah ia dipaksa untuk terus memperhatikan tanpa jeda.
Shanum terengah-engah, ia merasa seluruh pasokan oksigen yang berada di ruangan itu seolah menyusut, membuat napasnya ditarik lepas dari tubuhnya sewaktu ia mendapati dirinya terperangkap oleh tatapan pria yang dingin namun membakar itu.
Seluruh tubuh Shanum terasa hangat dan matanya tak bisa teralihkan, terus terpaku menangkap godaan dari tatapan membakar pria itu.
"Astaga kalian berdua," seloroh sebuah suara di samping kanan Shanum. Suara itu memutuskan kontak mata di antara keduanya.
Shanum menghela napas, lalu menoleh, ia melihat Chinua menggeleng, mengibaskan tangannya selagi memutar bola matanya, dan berkata kembali, "Bukankah masih banyak yang butuh perhatian kalian dalam pertemuan ini, selain saling melontarkan pandangan panas satu sama lain."
Shanum kontan berdeham dengan wajah memerah. "Bibi..." ucapnya dengan suara sedikit serak.
"Dan jangan sampai gara-gara kalian berdua, tenda ini ikut terbakar," kata Chinua lagi.
"Cukup, Bibi. Tidak perlu berlebihan," desis Shanum dengan wajah semakin memerah.
Tidak ingin terus mendengar ejekan dari Chinua, Shanum mengalihkan pandangannya ke semua orang yang berada di ruangan itu, lalu berkata, "Hem, silahkan kalian lanjutkan. Aku sepertinya saat ini perlu udara segar," ucap Shanum sembari meringis dan bangkit berdiri.
Shanum merasa tubuhnya mendadak gerah, dan perlu mendinginkan rasa panas yang ia rasakan dalam pembuluh darahnya. Sebelum semua orang di ruangan itu membaca hal memalukan yang ia rasakan hanya karena sebuah tatapan. Lebih baik dia segera keluar dari pandangan semua orang.
Dia tidak berani memandang pria itu kembali. Dia langsung melangkah sembari menganggukkan kepala kepada Chinua. "Aku keluar dulu, Bibi."
Chinua tidak berkomentar, dia hanya melemparkan senyum smirk membalas ucapan pamit Shanum yang tergesa-gesa itu.
Di bangkunya, Khan memicingkan matanya ke arah Chinua. Wajah pria itu terlihat mengintimidasi dan mengirimkan sinyal kekesalan kepada wanita itu. Namun Chinua tidak terpengaruh, dia membalas tatapan Khan dengan senyum geli yang tidak ditutup-tutupi.
Sebenarnya Chinua ingin melanjutkan keisengannya lagi kepada kedua sejoli itu, namun melihat reaksi gelisah dan malu Shanum, dia menjadi tidak tega. Chinua tidak tahu sedalam apa efek berpasangan yang terikat sebagai pasangan se-jiwa. Namun melihat tingkah laku keduanya, dia yakin mereka memiliki semacam telepati untuk berkomunikasi.
"Hendak kemana kau, Shasha? Pertemuan ini belumlah dimulai," tanya Khan dengan suara keras, setelah mengalihkan tatapan kerasnya dari Chinua. Shanum berhenti melangkah, dengan tubuh kaku seolah enggan untuk bereaksi, namun dia tetap menoleh.
Shanum memperhatikan Khan berdiri dari ekor matanya, dia berjalan cepat ke arah pintu tenda, dan berakhir dengan menarik lengannya. Seolah dia berusaha menghalangi Shanum untuk keluar dari ruangan itu.
Shanum mendesah, terpaksa membalikkan badan. "Kau sudah mendengar kata-kataku tadi, Adri. Aku perlu udara segar. Jadi, jangan halangi aku," jawabnya, menarik lengannya dari cengkeraman pria itu.
"Kalau kau keluar dari sini. Aku juga ikut bersamamu dan pertemuan ini terpaksa ditunda," bisik pria itu dekat di wajahnya. Ekspresi Khan tampak serius, ia menatap Shanum dengan lekat.
Shanum membalas dengan ekspresi lelah. "Tidak perlu menunda karena aku, Adri. Silahkan kau lanjutkan saja."
Khan menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali aku memaksa kau ikut sampai akhir. Dan kau tidak bisa menolakku, Sayang. Karena di perbatasan terluar tempat ini Klan Erebos sudah berkumpul menunggu hasil keputusan kita."
Rahang Shanum mengetat. Raut kesal tercermin di wajahnya. "Baiklah! Aku tidak jadi keluar dari tenda ini, puas!" gerutu Shanum dengan hentak langkah kesal menuju ke tempat duduknya kembali.
Khan tersenyum geli melihat tingkah merajuk istrinya itu.
"Kau menggemaskan sekali, Shasha," ucap Khan dalam hati, sambil mengikuti langkah Shanum, menuju posisi tempat duduk wanita itu.
Khan memberikan isyarat kepada orang-orang yang berada di samping kanan dan kiri Shanum untuk bergeser, hingga posisi di salah satu kursi sebelah Shanum menjadi kosong. Semuanya serentak bergerak mengikuti titah Sang Pemimpin.
Dan Shanum menjadi semakin gelisah di tempat duduknya, bertanya-tanya dalam hati untuk apa pria itu memaksa duduk di sebelahnya.
"Tidak perlu gugup begitu. Aku tidak akan mengigitmu sekarang. Nanti saja aku lakukan itu saat kita sedang berdua."
Shanum mendengus mendengar ucapan yang dilontarkan suaminya itu. Wajahnya semakin memerah menahan rasa malu dan kesal. Sungguh memalukan urusan pribadi mereka menjadi konsumsi publik seperti ini. Meski dia sekarang berada di wilayah yang berbeda budaya, etika dalam bersikap dan bertutur kata sesuai ajaran orang tuanya tetap-lah melekat erat.
Jika saja aku dapat menunda rapat ini, sudah pasti aku akan membawamu ke tempat yang hanya ada kita berdua, Shasha. Dan setelah semua ini selesai, hal pertama yang ingin kulakukan adalah kembali ke tenda kita dan membuatmu menjeritkan namaku selama berjam-jam.
Shanum terdiam lama, merasa semakin gelisah. Terlebih ucapan pribadi yang dilontarkan dalam benaknya dengan nada penuh godaan, yang membuat pikiran tak senonoh mendadak berseliweran di kepalanya.
Shanum menoleh ke samping, memperhatikan Khan memperlihatkan seringai di bibirnya yang seksi, berikut tatapan mata nakal dan ekspresi yang menggetarkan itu. Ekspresi yang dapat membuat para gadis di dunianya menjerit histeris, seperti ketika bertemu bintang Korea terkenal pujaan mereka.
Dan dengan kurang ajarnya pria itu menikmati seluruh godaan yang dilancarkannya itu. Dia takjub, pria sekaku dan dingin serupa kulkas itu bisa merayunya habis-habisan seperti itu.
"Lanjutkan saja rapatnya," kata Shanum dengan suara sedikit serak bercampur kaku. Meski setiap ucapan dan ekspresi Khan tentu saja mempengaruhi dirinya, Shanum berusaha bersikap tenang, seolah dia tidak merasakan apa-apa.
"Sepertinya, suamimu itu sedang dahaga berat, Shanum. Sejak tadi tingkahnya seperti pria yang tidak diberi minum selama bertahun-tahun," bisik Chinua seraya tersenyum geli.
Shanum memelotot ke arah Chinua. Memberi isyarat kepada Bibinya itu untuk menutup mulut. Untung saja Khan sedang menoleh ke arah salah satu tetua yang memperingatkannya untuk segera memulai pertemuan itu.
Akhirnya pertemuan itu kembali dilanjutkan, dipimpin oleh Khan dengan serius. Dan Shanum bisa menarik napas lega. Dari seluruh sikap yang selama ini ditampilkan oleh Khan, sikap usilnya kali ini sangat tidak disukai olehnya.
__ADS_1
Hal pertama yang mereka bicarakan adalah tentang nasib Taban dan Tunaya.
Keduanya sudah dibawa ke tenda tahanan dalam kondisi terbelenggu sihir dan dijaga dengan keamanan berlapis. Sihir khusus itu mengekang gerak motorik mereka, hingga tidak dapat bergerak sedikit pun.
Ketika Khan menyebutkan nama Taban... Shanum berani sumpah ada sesuatu yang mirip kesedihan--semacam penyesalan terlihat di mata pria itu.
Shanum bertanya-tanya, apakah suaminya itu sedang mengingat masa-masa yang dihabiskannya dengan Taban. Dengan kebaikan dan pengabdian yang dulu pria itu tunjukkan kepadanya. Walau bagaimanapun Taban sudah dianggap oleh Khan seperti saudara kandung yang tidak dimilikinya.
Sulit sekali bagi Shanum untuk menutup mulutnya, untuk tidak mengatakan kepada Khan, para tetua dan para dewan bangsawan untuk tidak menjatuhkan hukuman mati kepada Taban, dan itu bukan tanda keberpihakannya. Dia hanya merasa pria itu pada dasarnya baik. Dendam dan rasa iri-lah yang sudah menutup sebagian kebaikan dalam dirinya.
Setelah perdebatan yang cukup panjang dan penuh pertentangan, mereka sepakat Taban dan Tunaya-Sarnai palsu diberikan hukuman pengasingan ke Hutan Mordana.
Shanum terpana.
Jika hukuman pengasingan ini dikenakan kepada Sarnai palsu tentu saja dia akan mendukung seratus persen. Tapi kalau untuk Taban, ia merasa miris. Karena hukuman itu sama saja dengan memvonis mati keduanya. Shanum tidak yakin Taban dan Sarnai palsu itu akan sanggup bertahan di dalam hutan tersebut.
Dia pernah mendengar cerita Khan, Hutan Mordana didominasi oleh ratusan spesies tumbuhan beracun dan hewan ganas yang nama serta wujudnya saja tidak pernah Shanum dengar ada di dunianya.
Hutan Mordana sengaja dibuat terisolasi oleh gabungan beberapa penyihir kuat ratusan tahun lalu, merupakan tempat khusus untuk para penyihir yang mendapatkan vonis hukuman terberat.
Hutan itu tidak bisa dimasuki sembarangan. Penghuni tetap di sana, para hewan serta tetumbuhan juga tidak bisa keluar dari lingkungan hutan. Hutan Mordana dikelilingi oleh sihir isolasi yang sangat kuat.
Shanum bergidik ngeri membayangkan betapa berbahayanya hutan tersebut. Dia yakin kedua terhukum tersebut tidak akan berhasil keluar hidup-hidup dari sana.
"Shasha..."
Shanum tersentak, menoleh ke arah pemilik suara yang memanggilnya. Lamunannya mendadak buyar seketika merasakan usapan lembut dan hangat di jemarinya.
"Y-ya..." jawabnya, dengan ekspresi kaget bercampur gagap. Otak Shanum mendadak kosong dan jantungnya kembali berdebar-debar.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Khan tersenyum tipis seraya mengangkat alis.
"Maaf, boleh diulang pertanyaannya. Aku tadi sedang, em... memikirkan sesuatu," sahutnya sambil meringis. Bukan salahnya jika sikapnya berubah menjadi salah tingkah begini di depan pria itu. Sejak tadi Khan mengeluarkan pesona tak tertahankannya itu tanpa jeda. Shanum sampai resah dan kewalahan menghadapinya.
Usapan di jemarinya berubah menjadi genggaman erat. Seolah pria itu sedang berusaha membawanya kembali dari keterpesonaannya terhadap pria itu.
"Oke, aku ulangi. Apakah kau setuju dengan keputusan kami perihal hukuman pengasingan ke Hutan Mordana tadi?"
Shanum terdiam. Dia menatap setengah kosong ke arah Khan. Melihat bola mata keemasan yang menghipnotisnya itu. Dan lagi-lagi dia menjadi korban pesona suaminya sendiri. Susah memang kalau sudah di mabuk cinta.
Mata itu berkilat, menunjukkan pria itu tahu apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan. Shanum menggelengkan kepala, berusaha kembali fokus.
"Kenapa?" tanyanya heran.
Dia masih tidak menyangka mereka memerlukan suaranya dalam penentuan vonis tersebut.
"Em, maksudku... Kenapa kalian masih menanyakan keputusanku? Bukankah keputusan kalian sudah final?"
Khan tersenyum lembut ke arah Shanum. "Tidak, belum final. Kami masih membutuhkan keputusanmu. Karena kau adalah Yang Terpilih dan kau juga yang meringkus mereka. Jadi kami tetap akan mendengarkan keputusanmu."
Shanum tercengang. Sesaat dia terdiam, lalu kembali menggelengkan kepala. "Kalian terlalu melebih-lebihkan. Di sini aku tidak berjuang sendiri. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa."
"Tidak perlu merendah, Shanum. Kami semua saksi hidup betapa luar biasanya dirimu dalam perang kemarin," cetus Sergei dengan senyum dikulum.
Shanum membalas senyum Sergei, lalu mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan. Menatap satu demi satu wajah para tetua, dewan bangsawan, para pemimpin klan, keluarga baru, dan teman-teman seperjuangannya. Dia melihat pandangan penuh rasa hormat dalam kedalaman netra mata mereka.
Kemudian Shanum berdeham dan berkata, "Apakah ada alternatif hukuman pengasingan selain Hutan Mordana?"
Semua orang saling melemparkan tatapan dengan ragu. Ada yang mengernyitkan dahi, berusaha mencerna maksud Shanum melemparkan pertanyaan seperti itu kepada mereka.
"Ada," sahut Nekhii memecah keheningan seraya melihat Shanum dengan pandangan serius penuh pemahaman.
Shanum menunggu. Mereka semua menunggu kelanjutan ucapan Nekhii.
"Hukuman itu adalah pelucutan sihir yang dimiliki oleh mereka, sehingga mereka menjadi manusia biasa tanpa sihir lagi, dan diasingkan ke wilayah manusia yang jauh dari sini tanpa pernah bisa bersinggungan dengan kita lagi. Mereka akan diberikan mantra pemisahan."
"Maksudmu, mereka tidak akan bisa melihat wujud kita meski berpapasan?" tanya Shanum dengan nada suara takjub. Dia merasa siapa pun yang dapat menguasai sihir itu adalah orang yang luar biasa. Pastinya pemilik sihir itu termasuk dalam golongan penyihir sakti yang ada.
"Ya, ingatan mereka tidak dihapus. Mereka tetap bisa mengingat kita, mengingat hidupnya selama di dunia sihir. Tapi mereka tidak akan bisa melihat orang ataupun dunia sihir kita. Dunia mereka sepenuhnya terpisah dari kita, meski mereka berusaha mencari masa lalu, mereka tetap tidak akan menemukannya. Kecuali hukuman itu dibatalkan oleh si pemilik sihir."
"Aku pernah mendengar tentang hukuman ini. Hukuman ini adalah salah satu jenis sihir kutukan yang dapat dipelajari. Namun sayangnya, tidak ada orang yang berhasil mempelajarinya dengan sempurna hingga saat ini. Kecuali satu orang, dan orang itu sudah wafat membawa ilmunya itu tanpa ada yang bisa menggantikannya." Sergei ikut bersuara sembari mengerutkan kening.
"Ya, tapi sekarang aku yakin ada orang yang akan sanggup melakukan sihir itu," jawab Nekhii lagi.
Ruangan itu mendadak riuh. Mereka semua bersuara, bertanya-tanya dengan sebelahnya, dan terlihat bersemangat mendengar lanjutan kata-kata Nekhii.
"Katakan, Nenek, siapa orang itu?" desak Khan dengan ekspresi penasaran.
"Ya... siapa, Nekhii?" sambung Eej dengan rasa tertarik yang sama.
Nekhii tersenyum tipis, lalu tatapannya tertuju ke arah Shanum yang sejak tadi memperhatikan dengan rasa antusias yang sama.
"Kau Shanum, hanya kau yang bisa. Aku yakin," kata Nekhii.
Mata Shanum terbelalak lebar, lalu ia menggelengkan kepala, setengah tak percaya kalau ia dianggap akan mampu menguasai sihir itu.
__ADS_1
"Kau pasti bisa, Shanum. Karena di dalam dirimu mengalir darah Kakek leluhurmu. Sihir miliknya aku lihat menurun kepadamu. Dan sihir itu hanya dapat dikuasai olehnya, Kakakku--Kakek leluhurmu." Chinua menyahut dari sebelahnya dengan suara penuh keyakinan.
Shanum kembali tertegun.
Dia baru tahu kalau Kakek leluhurnya ternyata penyihir hebat yang mampu menguasai sihir langka tersebut.
"Kau pasti sedang bercanda, Bibi. Jika memang Kakek mampu, seharusnya kau sebagai adik kandungnya juga bisa menguasai sihir tersebut," sanggah Shanum.
"Sayangnya aku tidak bisa. Terakhir kali aku mencobanya, berakhir dengan nyawaku yang hampir melayang. Jadi aku tidak mau mencobanya lagi," kata Chinua sambil tersenyum tipis.
"Tidak, Shasha. Jangan coba-coba kau memilih hukuman itu untuk kedua penjahat terkutuk itu," ucap Khan dengan rahang mengetat.
Shanum menatap suaminya itu. Rasa sakit di jemarinya akibat remasan Khan tidak ia pedulikan. Pusat perhatian Shanum teralihkan oleh gema putus asa yang menjerit dalam ikatan mereka.
Suara itu berasal dari prianya. Pasangan jiwanya. Pria itu tidak ingin ia terluka bahkan sampai kehilangan nyawa dalam mempelajari sihir langka itu, yang ternyata sangat berbahaya. Shanum menangkupkan telapak tangan satunya di atas jemari Khan, dan mengusapnya lembut.
Shanum menyalurkan energi yang menenangkan, untuk meredam kegelisahan pasangan jiwanya. Dan hal itu berhasil, gema dalam ikatan mereka berangsur pulih, hanya meninggalkan riak-riak kecemasan ringan. Tentunya ia harus bisa meyakinkan pasangannya itu, agar riak-riak itu tidak kembali membesar.
Shanum harus membuktikan kepada Khan, bahwa ia dapat mencobanya. Dan dia setengah mati ingin mempelajarinya. Dia optimis pasti berhasil, tanpa adanya malapetaka yang menyertai dalam prosesnya nanti.
"Jadi ?" tanya Chinua sembari mengangkat alisnya.
Shanum kembali menatap sekelilingnya, melihat wajah-wajah menunggu keputusannya itu.
Dia menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk memutuskan. "Baiklah, aku memilih hukuman pengasingan yang dikatakan Nekhii untuk Taban. Sedangkan untuk Tunaya tetap dengan vonis Hutan Mordana."
Suara ricuh terdengar di ruangan itu. Kebanyakan terdengar dari pihak keluarga Tunaya. Orang tua Tunaya yang mendadak datang karena informasi anak mereka telah ditemukan dan sedang terlibat dalam kejahatan berat, mengungkapkan keberatannya. Kedua orang tua Tunaya memang sudah mencari Tunaya selama ratusan tahun ini.
"Kau tidak adil, Wanita Sialan! Kami tidak terima! Seharusnya anak kami juga mendapatkan hukuman yang sama dengan pria itu." Shanum mendengar protes dilancarkan oleh ibu dari Tunaya.
"Cukup, Ibu. Kejahatan Tunaya tidak bisa dimaafkan. Dia sudah melakukan konspirasi untuk membunuh ayah Khan, membunuh mantan kekasihnya juga, dan memfitnahku. Klan kita dianggap pengkhianat, dan kita semua dijatuhi hukuman saat itu. Apakah kau sudah melupakannya, Ibu?" sahut Zuunaa.
"Diam, anak kurang ajar tak tahu diri. Dia itu adikmu. Seharusnya kau membelanya seperti Ibumu, bukan malah setuju dengan ocehan wanita itu. Kau tidak tahu betapa keras usaha Ayah dan Ibu selama ratusan tahun ini untuk mencari adikmu. Dan setelah ditemukan mereka ingin menghukumnya dengan kejam. Jika bukan karenamu tidak mungkin adikmu melakukan kejahatan ini," bentak Sukhba--ayah Zuunaa dan Tunaya, Yang Agung Klan Bataar.
Zuunaa tersentak. Seumur hidupnya, dia tidak pernah dibentak oleh kedua orang tuanya. Meski saat hukuman ratusan tahun lalu itu dijatuhkan, mereka sempat merasa marah. Tapi amarah itu tidak terlontar lewat kata-kata. Mereka hanya terus mengabaikannya, sibuk sendiri dengan pencarian terhadap adiknya yang mendadak menghilang. Mengurusnya dengan seadanya, tidak peduli meski secara perlahan ia kehilangan kewarasannya karena patah hati dan pengabaian.
Tapi dia tidak pernah diperlakukan seperti hari ini. Dibentak di depan umum dan dianggap semua masalah yang dibuat adiknya adalah salahnya.
Zuunaa sontak tersadar, seolah selama ini dia dalam kondisi tengah bermimpi, dan dia terbangun dari tidur lelap penuh mimpi itu dengan kenyataan menyakitkan, bahwa kedua orang tuanya menyalahkan dirinya.
"Aku tidak sudi menganggap dia adik, Ayah. Meski kami memiliki darah yang sama, dia sudah kuanggap mati. Dan itu berlaku dari sejak aku tahu kalau dia-lah dalang semua kejahatan yang ditujukan kepadaku saat itu. Karena semua penderitaanku selama ini adalah disebabkan olehnya," balas Zuunaa seraya bangun dan menggebrak meja dengan wajah memerah penuh amarah serta kekecewaan.
"Dan, tidakkah kalian peduli juga pada perasaanku? Aku juga anakmu, bukan hanya dia." Air mata meluncur deras dari mata indah Zuunaa. Melukiskan betapa sakit kehancuran hatinya diakibatkan oleh ucapan orang tuanya tadi.
Kekasih Zuunaa langsung bangun dari posisinya. Pria itu menarik Zuunaa duduk di pangkuannya seraya menghunuskan pandangan tajam ke arah kedua orang tua Zuunaa.
Pria itu menarik Zuunaa masuk ke dalam pelukannya lebih erat saat mendengar isak tangis wanita itu semakin kencang. Oriod--kekasih Zuunaa semakin fokus pada wanita itu, mengusap rambutnya, terlihat sabar dalam membisikkan kata-kata penghiburan kepadanya. Oriod di mata Shanum, terlihat sangat memuja wanitanya.
Kedua orang tua Zuunaa tidak melanjutkan aksi protesnya. Mereka mendadak diam seribu bahasa, namun tetap ekspresi keras tergambarkan dalam kekelaman wajah mereka.
"Oh sudahlah, Qacha--Sukhba. Kalian harusnya malu dan sadar diri. Tunaya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Anakmu itu menyimpan ketidakwarasan yang berbahaya sejak kecil. Aku sudah bisa membacanya dari sejak dia ketahuan suka menyiksa hewan-hewan di sekitarnya. Anakmu itu seorang Psikopat. Kurasa kegilaannya malah semakin menjadi-jadi sejak dia mempelajari ilmu sihir sesat itu. Jika kau terus mempertahankan egomu, kau akan segera kehilangan anakmu yang tersisa." Nekhii mencoba menasehati sekaligus meredam situasi yang memanas itu.
"Ya, Paman Sukhba. Terimalah dengan lapang dada. Aku sebenarnya enggan memanggilmu dengan sebutan itu, meski kau sebenarnya adalah Adik Tiri Ayahku." Chinua ikut bersuara menyambung ucapan Nekhii.
"Dia Paman Tirimu, Bibi?" tanya Shanum dengan ekspresi heran. Chinua langsung mengangguk menjawab pertanyaan Shanum.
"Oh, aku mengerti. Jadi aku dikatakan memiliki darah keseluruhan klan itu karena hal ini. Ternyata kalian semua adalah kerabat. Astaga, setelah ini kejutan apalagi yang akan terkuak. Coba kau sebutkan, siapa lagi di ruangan ini yang memiliki hubungan kekerabatan denganku. Jangan katakan pria dewan bangsawan yang tadi aku jatuhi hukuman itu ternyata adalah kerabatku juga, Bibi," tambah Shanum lagi sambil pura-pura berdecak kesal.
Chinua langsung menjitak kepala Shanum. "Enak saja, kerabat kita tidak ada yang menjijikkan seperti itu," protesnya keras.
Shanum terbahak kecil, dia sengaja melemparkan sedikit lelucon agar suasana panas menjadi sedikit mendingin.
"Meski yang tersesat juga ada sih. Contohnya Paman Tiriku itu," sambung Chinua, sambil terkekeh, dan melemparkan tatapan cemooh kepada Sukhba.
Shanum mendesah lelah. Suasana yang sudah mulai mendingin menjadi memanas kembali oleh ulah Chinua. Seolah wanita itu sengaja memancing kericuhan kembali terjadi.
"Kau..."
Sukhba mengepalkan tangannya di atas meja, dengan wajah kembali memerah menahan amarah.
Shanum memejamkan matanya sembari mengerang pelan. Benar saja dugaannya, Chinua membuat suasana kembali memanas.
"Cukup." Khan menatap ke arah Sukhba dengan pandangan tajam.
"Jika kau terus bersikap seperti ini, sebaiknya kau keluar dari ruangan ini, Sukhba. Aku tidak mau terjadi perkelahian di tempat ini." Khan menatap pria itu dengan intonasi suara keras.
"Pertemuan ini dipimpin olehku. Jadi kau dan istrimu harus menghormati aturan yang kubuat. Jika kau masih ingin berada di sini dan mengikuti pertemuan ini, silahkan menjaga sikap."
"Dan aku juga tidak mau ada lagi yang sengaja memperkeruh situasi. Masing-masing dari kalian yang berada di ruangan ini juga harus menjaga sikap," tegas Khan.
Hening.
Ucapan keras Khan membuat suasana menjadi mencekam. Bahkan Zuunaa yang tadinya masih terisak menjadi diam.
"Bagaimana, Sukhba? Apakah sudah cukup jelas?" tanya Khan.
__ADS_1
Sukhba mendengus keras. "Ya. Tapi aku memutuskan pergi dari sini." Lalu pria itu menarik paksa istrinya berdiri dan bergegas keluar dari ruangan itu dengan wajah memendam amarah.