Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 111 Misteri Sihir Kegelapan


__ADS_3

Khan menempelkan kedua telapak tangan di dinding jendela, dan menatap kegelapan malam dalam renungan. Dia sudah kembali ke mansionnya di Astrakhan setelah selama satu bulan berjibaku dengan segudang rahasia yang membuatnya cukup syok.


Khan menggigit bibirnya, pikirannya berkelana pada fakta yang terungkap dari buku Misteri Sihir Kegelapan yang ia baca dari perpustakaan rahasia di Och. Perpustakaan itu berada di ruang bawah tanah rumah peristirahatan milik neneknya dari sisi ayahnya di pinggiran kota Och. Khan tidak pernah mengetahui keberadaan perpustakaan tersebut, andaikata ibunya tidak mengungkapkannya.


Dalam perpustakaan tersebut banyak sekali manuskrip, buku langka dan kuno yang sudah dijaga oleh keluarga neneknya secara turun temurun. Pria itu baru mengetahui kalau keluarga neneknya tersebut banyak yang terlahir sebagai golongan Pencerah.


Banyak dari golongan ini adalah sekumpulan orang-orang yang pintar dalam berbagai bidang. Kalau dalam istilah modern mereka adalah para Cendekiawan yang terkenal dengan kegeniusan otaknya. Setiap klan memiliki orang-orang yang terlahir sebagai Para Pencerah ini. Mereka ini yang akhirnya akan menjadi tenaga pengajar di institusi pendidikan.


Saat melihat perpustakaan yang disegel oleh mantra perlindungan khusus itu ketika akan memasukinya, Khan masih bersikap seperti biasa. Namun ketika menjelajahi rak demi rak dan menemukan topik buku-buku langka, dia mulai merasa terkesima.


Apalagi waktu ia menjumpai rak tertutup yang dilindungi oleh mantra berlapis, Khan menjadi penasaran. Pria itu mengupas satu demi satu mantra tersebut. Sebenarnya dia tidak pernah diberitahukan tentang cara melepas mantra itu.


Mungkin karena darah Pencerah yang mengalir kuat di darahnya, berkat sang nenek, Khan berhasil memecahkannya.


Eej, bertepuk tangan keras saat melihat rak tersebut berhasil dibuka. Di dalamnya mereka menemukan banyak buku tentang sihir hitam. Dan beberapa manuskrip dalam bahasa kuno mereka dan buku tentang sejarah Klan Erebos yang disebutkan Shanum.


Tentang manuskrip dan buku-buku sihir hitam itu Khan hanya melihatnya sambil lalu. Dia lebih tertarik kepada buku yang sepertinya di tulis pada zaman lebih modern, berisi tentang awal mula terbentuknya Klan yang diberkati, ribuan tahun yang lalu. Tentang klan tertua, yang pertama kali muncul, yaitu Klan Erebos. Disamping lebih mudah dibaca, karena menggunakan bahasa pada masanya bukan bahasa kuno, buku itu juga dijilid lebih kokoh daripada yang lain.


Eej, ikut membaca buku-buku tersebut. Mereka bahkan mendiskusikannya. Ibunya itu ternyata cukup banyak tahu tentang klan itu. Karena dia pernah mendengar dari ayah Khan. Yang membuat Eej kaget adalah ternyata Klan Erebos sangatlah besar dan memiliki struktur pemerintahan yang modern untuk zamannya.


Ilmu sihir sebagian besar penduduknya juga kuat, pemimpin mereka bahkan bisa membangkitkan orang mati untuk dijadikan pasukan, dan hal itu sungguh mengerikan.


Disebutkan di sana bahwa klan tersebut tidaklah sesat. Mereka menyembah salah satu dari sembilan Tngri Agung penguasa sihir hitam. Saat itu tiap wilayah memiliki banyak dewa tertentu yang mereka sembah. Para dewa itu disebut "Tngri", susunannya kurang lebih sama di sebuah klan. Ada Tngri yang baik atau "putih" dan Tngri yang menakutkan atau "hitam".


Para Tngri ini hanya dapat dipanggil oleh para pemimpin dan dukun besar. Tngri hitam dapat dipanggil oleh dukun ilmu hitam dengan tujuan melawan kejahatan dari luar dan untuk mengumumkan kemenangan dalam perang. Selain Tngri, mereka juga menyembah Natigai atau "Ibu-Bumi", serta dewa-dewa lainnya.


Sebagai klan yang besar, Klan Erebos menguasai sebagian besar dataran tinggi menuju Tibet, jika melihat geografi saat ini. Banyak juga hal baik yang disebutkan dalam buku itu tentang klan ini. Para pria di Klan Erebos tidak diizinkan untuk memiliki istri lebih dari satu.


Jika mereka menginginkan wanita yang lain, maka mereka harus menceraikan pasangannya dan membayar pasangan yang diceraikan itu dengan harta yang tidak sedikit. Semua hal itu sudah diatur dalam undang-undang mereka yang disebut "Shou". Selain pernikahan, perlindungan terhadap wanita dan anak-anak diatur juga dalam Shou tersebut.


Sayangnya struktur pemerintahan yang baik dan kuat dari klan ini tidak seirama dengan sikap pemimpin Klan Erebos yang bernama Aris Magnai terhadap dunia luar. Aris Magnai serakah, dia merasa klannya adalah yang terbaik, jadi klan lain harus tunduk kepadanya. Dia ingin menguasai keseluruhan klan di dalam genggaman tangannya.


Aris mulai melancarkan serangan ke klan lain setelah ia menjabat selama lima tahun sebagai pemimpin klan. Penyerbuan dimulai dari klan yang terdekat dari wilayahnya. Kemudian setelah menang, ia mulai menaklukkan wilayah klan berikutnya. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun.


Hingga di suatu saat, empat klan besar yang belum berhasil dikuasai oleh Aris bersatu padu, dan merancang strategi khusus untuk membunuh Aris, ingin menghancurkan Klan Erebos. Mereka mencari kelemahan Aris, dan menemukannya pada seorang wanita yang sangat dicintai oleh pria itu. Wanita itu berhasil dipengaruhi untuk membelot ke kubu lawan dengan iming-iming harta yang banyak.


Akhirnya nasib akhir Aris Magnai sungguh mengenaskan, ia mati dibunuh oleh wanita yang dicintainya. Setelah membunuh Aris Magnai, keempat klan tersebut membumihanguskan Klan Erebos, hingga hancur. Mereka juga membunuh dan mengejar rakyat klan tersebut, tidak menyisakannya satu pun. Mereka khawatir akan dendam yang muncul di kemudian hari jika masih ada satu saja yang tersisa dari anggota klan tersebut.


Tapi tampaknya, semua yang tertulis di buku itu tentang tidak menyisakan satu pun adalah salah. Karena saat ini anggota klan itu masih tetap ada, meski tersembunyi dan tertutup dari dunia. Bahkan mereka secara terang-terangan sudah mulai menunjukkan eksistensinya, walau masih samar-samar.


Setelah membaca buku itu, Khan semakin cemas. Istrinya berada di tengah-tengah klan yang haus darah dan dendam tersebut. Sampai saat ini, ia tidak pernah bisa menggapai Shanum. Tidak ada komunikasi lebih lanjut, selain kontak sebulan yang telah lewat itu.


Masalah ini sedikit lebih rumit dibandingkan yang biasa Khan alami. Dia harus berurusan dengan klan yang sudah dianggap sudah punah, namun masih ada. Klan yang berbahaya dan memiliki kecerdikan luar biasa.

__ADS_1


Khan sungguh bingung, entah apa yang sudah dilakukannya di masa lalu kepada mereka, sehingga klan ini memiliki dendam kesumat terhadapnya. Jangankan bersinggungan, matanya saja baru terbuka tentang klan tersebut setelah ia membaca buku rahasia itu.


Sambil menyugar rambutnya dengan sebelah tangan, Khan mengamati halaman belakang mansionnya yang sangat luas itu. Pikirannya berkelana memikirkan apa langkah yang harus dilakukan olehnya setelah ini. Letak klan tersebut memang disebutkan secara detil di dalam buku. Tapi Khan pesimis, lokasi mereka masih tetap berada di sana.


Andaikata dia adalah pemimpin klan itu, sudah pasti ia akan memindahkannya ke lokasi yang berbeda. Bahkan mungkin ia akan membawa klannya berpindah-pindah guna menghindari pelacakan.


Tapi, hmm--


Khan mengusap dagunya. Jika pemimpin klan itu adalah orang gila yang sangat percaya diri dan cerdik. Mungkin saja, dia akan tetap tinggal di lokasi yang sama. Sebuah tempat yang sangat layak untuk disebut rumah oleh klan itu, dan tidak akan terpikirkan oleh orang lain.


Khan bergerak merogoh kantung celananya, mengeluarkan ponsel, lalu terlihat tak sabar menunggu panggilannya dijawab.


"Ya, bagaimana hasil pencariannya, Dario?"


"Maaf, tidak berhasil, Sir. Kami sudah menelusuri lokasi yang berdekatan dengan letak lokasi sebelumnya. Tetap nihil. Penduduk klan sekitar yang kami temui juga tidak ada yang mengerti saat kami menanyakan soal klan ini." Suara Dario terdengar lelah dari sambungan telepon. Pria itu sudah membantu pencarian sejak Shanum dibawa pergi oleh kelompok itu.


"Coba kau bawa orang-orangmu ke lokasi asal klan mereka. Telusuri jejak yang tidak jauh dari kota mereka sebelum dihancurkan."


"Anda yakin, Sir?" tanya Dario dengan nada suara heran. Dario merasa Khan sudah kehilangan akal sehatnya, menyuruh mencari di lokasi reruntuhan yang ditutupi hutan lebat.


"Sangat yakin. Perasaanku mengatakan lokasi mereka tidak jauh dari tempat asalnya."


Dario mendesah. Dia tahu, jika sudah berkehendak, Khan sudah bisa dipastikan akan memaksa. Dan kalau pria itu sudah bertingkah begitu, semua orang akan merasakan Siberia pindah ke Astrakhan, mereka akan membeku dalam arti lain.


"Segera laksanakan, Sir."


"Dan infokan padaku untuk hal mencurigakan sekecil apa pun, Dario."


"Oke."


"Dan satu lagi Dario. Apakah kau melihat Taban? Aku baru menyadari, dia tiba-tiba menghilang sejak serangan itu."


"Aku sempat bertemu dengannya dua minggu yang lalu, Sir. Itu pun karena dia yang menghubungiku dan meminta nomor ponsel Ulagan."


"Nomor Ulagan," ulang Khan bingung. "Untuk apa dia mencari Ulagan?"


"Aku tidak tahu, Sir. Kau bisa coba hubungi dia kalau penasaran ingin tahu alasannya."


"Kalau aku bisa menghubunginya, tidak mungkin aku bertanya padamu, Dario," decak Khan kesal.


"Apakah aku perlu mencari Taban terlebih dahulu, Sir?" Dario berusaha meredam kekesalan Khan barusan dengan menawarkan bantuan.


"Tidak. Kau langsung saja kerjakan perintahku. Urusan Taban biarkan aku yang mengambilalih," perintah Khan dengan tegas.

__ADS_1


"Baik, Sir."


Kemudian sambungan terputus. Khan memasukkan kembali ponsel ke dalam kantung celana, lalu beranjak meninggalkan ruang kerja.


Posisinya kini berada di pinggir tempat tidur, sambil menatap bingkai unik yang berisi foto Shanum. Khan selalu menatap salah satu foto yang dipilihnya dari koleksi galeri foto di dalam ponselnya.


Foto Shanum saat berada di kebun bunga selalu menjadi favoritnya hingga saat ini. Di foto itu, Shanum terlihat anggun dan cantik, sedang tersenyum menghadap matahari bagaikan peri bunga. Khan menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta sangat dalam ketika itu.


Khan menarik napas dalam, netra matanya terlihat sayu menahan rindu. Sudah satu bulan lebih ia kehilangan istrinya. Khan tidak pernah bisa berjauhan dari istrinya itu. Bahkan saat mereka belum menikah pun, dia selalu merasa tersiksa jika tidak bersama Shanum.


Apalagi saat ini, ketika ia sudah memiliki wanita itu dalam pelukannya, dan sudah menyelesaikan ritual sempurna ikatan mereka. Rasa yang membelitnya menjadi dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Seolah nyawanya menjadi terikat oleh istrinya itu.


Belum lagi kecemasannya yang kian hari makin membuat dadanya sesak. Khan sangat takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Shanum. Pria pemilik sihir hitam itu tidak mungkin menerima Shanum bagaikan tamu agung di klannya. Belahan jiwanya itu sudah pasti akan ditempatkan di penjara bawah tanah yang lembab dan berbau apak.


Belum lagi jenis penyiksaan yang akan dilakukan pria sialan itu terhadap istrinya itu. Khan yakin, Shanum pasti akan melawan. Tapi seberapa jauh istrinya itu sanggup melawan dan bertahan didera oleh pukulan yang datang bertubi-tubi terhadap fisik dan mentalnya itu. Shanum tidak dibesarkan untuk berada di medan perang. Dia tidak memahami intrik-intrik berbahaya dalam dunia Khan.


Pria itu membekap bingkai foto Shanum di dadanya, lalu menurunkan tubuhnya menjadi telentang di kasur. Dia menutup matanya, mulai menajamkan kelima indranya, merengkuh ikatannya dengan Shanum.


*Please... jawab aku, Shasha.


Bagaimana keadaanmu?


Aku cemas...


Dan merindukanmu, Sayang.


Kau harus bertahan, Istriku.


Please*...


Khan berusaha. Dia menyentak ikatan itu hingga berpendar dalam mata batinnya, berharap ada reaksi dari istrinya. Namun setelah mencoba berkali-kali, tak jua ada reaksi dari Shanum.


Kesedihan melanda Khan. Dia merasa tak berguna, untuk melindungi istrinya saja ia tak kuasa.


Adri...


Khan tersentak, dia membuka mata, langsung bangun dari posisinya.


Shasha...


Mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Dia semakin erat membekap foto Shanum di dadanya. Khan memanggil nama istrinya itu dalam ikatan mereka.


Tapi hanya satu kata itu saja yang bisa ia dengarkan. Setelah itu hening. Shanum tidak merespon lagi.

__ADS_1


Khan menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas kasur. Salah satu tangan mengusap setitik air yang muncul di ujung mata. Pandangan Khan mengarah ke langit-langit kamar, tampak tersiksa.


__ADS_2