Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 28 Perlawanan


__ADS_3

Mimpi buruk tentang penyiksaan kembali malam itu. Seharusnya Shanum sudah mengetahui bahwa dia tidak akan bisa lepas dari mimpi yang sudah menguasai hidupnya. Mimpi buruk itu menariknya ke puing-puing berdarah dengan begitu cepat sehingga ia tidak dapat menolaknya.


"Tidak, tidak, tidak." Shanum memejamkan mata dengan perlawanan. Tapi mimpi itu memaksanya membuka mata. Yang ia lihat membuat tubuhnya membeku, nadinya berdenyut cepat saking paniknya di balik tenggorokannya.


Kali ini ada yang berbeda. Tidak ada tubuh kaku Sarnai setelah mengalami penyiksaan seperti sebelumnya. Saat ini Shanum melihat darah. Ke mana pun ia memandang, ada darah. Lebih banyak darah dari yang pernah ia lihat.


Pada saat itulah ia menyadari bahwa ia sudah tidak berada di tempat Sarnai mengalami penyiksaan. Ia berada di dapur di mansion ini. Panci-panci mengilat tergantung di atas sebuah bangku batu yang panjang, sementara sebuah lemari es besar berdengung pelan di pojok. Kompornya merupakan sebuah alat besar yang terbuat dari baja mengilat yang selalu membuatnya terkagum-kagum.


Akan tetapi, malam ini bajanya tampak penuh darah, membuatnya mual, membuatnya cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ke pisau-pisau. Pisau-pisau itu bertebaran di mana-mana. Di lantai, di konter, di dinding. Semuanya meneteskan cairan merah tua yang kental... dan yang lainnya. "Tidak, tidak, tidak." Shanum memeluk dirinya sendiri, kemudian melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang mengerikan itu untuk mencari tempat yang aman.


Darahnya, pisau-pisaunya lenyap. Dapur itu kembali bersih. Dan dingin. Sangat dingin. Perubahan dalam mimpi, ia keliru, pikirnya. Tempat ini tidak terlalu bersih. Ada sebuah sepatu pria yang tergeletak di atas ubin yang putih bersih. Kemudian ia melihat bayangan di dinding, berayun-ayun. "Tidak!"


"Hei." Sebuah tangan mencengkeram lengan atasnya erat-erat, bau hutan setelah hujan yang jernih dan bersih masuk ke benaknya. "Shasha." Panggilan itu menyela kelanjutan mimpinya, merenggutnya kembali ke masa kini. "Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja." Kata-kata itu diucapkan dengan terengah-engah, terputus-putus.


Khan menarik Shanum ke dalam pelukannya ketika Shanum hendak melompat turun dari tempat tidur. Untuk apa, Shanum tidak tahu, tapi tidur tidak pernah mudah baginya setelah mimpi-mimpi itu menyerangnya dengan brutal. "Aku harus..."


Khan bergeser hingga Shanum berada lebih dekat. "Sttt, Shasha." Tubuh Khan terasa hangat menempel erat dengan tubuh Shanum. Gadis itu malu, dia menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Shanum belum pernah tidur dalam pelukan pria kecuali ayahnya di atas tempat tidur.


Saat Khan menundukkan kepala dan membisikkan kata-kata yang lebih pelan dan sarat akan kasih sayang dalam bahasa Mongolia. "Би энд байна. Би үргэлж чиний төлөө байдаг. битгий ай хонгор минь." Shanum terpesona, mendengar irama yang mengalir lembut dari bibir pria itu.


"Katakan artinya," pinta gadis itu. Khan tersenyum tipis. "Rahasia," jawab pria itu. Shanum cemberut mendengar ucapan Khan. Tapi kemudian dia memiliki ide cemerlang. "Coba ulangi," pintanya kembali. Khan lalu mengulangi kata-katanya tadi. Dan Shanum mencoba menghapalnya dalam hati. Khan tidak sadar bahwa gadis itu memiliki daya ingat yang luar biasa. Dia memiliki rencana untuk menanyakan kata-kata Khan tadi dengan Taban. Semoga pria itu mau membantunya untuk menerjemahkannya.


Shanum lalu mengangkat tangan dan merangkulkannya di leher Khan, berusaha untuk menarik pria itu. Berusaha untuk tenggelam dalam diri Khan. Pria itu mengetatkan pelukannya dan bertopang dengan sebelah tangan supaya bisa memandangnya. "Ceritakan padaku."


Shanum mengerti, Khan ingin dia bercerita soal mimpi itu. Gadis itu menelan ludahnya, ia membutuhkan waktu untuk menuturkannya. "Jika kau masih belum bisa mengatakannya padaku tidak apa-apa, Shasha."


"Tidak, aku sanggup," kata Shanum pada akhirnya, suaranya serak seolah habis menjerit. "Aku melihat mimpi yang seperti biasanya. Mimpi tentang penyiksaan Sarnai." Khan langsung mengetatkan rahangnya dan Shanum melihatnya. Setitik rasa kecewa menguasai hati Shanum. "Lanjutkan," perintah Khan. Bahkan kini pria itu kembali ke nada dinginnya yang biasa. Shanum tidak bisa melanjutkan ini.


Lalu Shanum menggelengkan kepalanya. Dia beringsut mundur dari pelukan pria itu. Khan mengangkat alisnya. "Ada apa?" tanyanya. "Em... kupikir, aku berubah pikiran. Aku belum sanggup menceritakannya." Shanum menundukkan wajahnya, tidak ingin Khan melihat wajah sedih saat menatapnya.


"Katakan, apa aku salah bicara?" Khan menarik dagu Shanum dan berusaha menarik Shanum ke pelukannya kembali. Pria itu sangat peka, dia merasa ada yang salah. Mereka bertatapan dalam diam. Shanum menghembuskan napasnya. Akhirnya dia merentangkan tangan di dada Khan, mendengarkan debar jantung Khan, kuat, dan mantap.


"Tidak ada yang salah, aku hanya belum siap." Mengucapkan kata-kata itu membuatnya merasa seperti seorang pengkhianat, karena telah berani berkata bohong. Padahal dia merasa cemburu pada reaksi Khan saat mendengar nama Sarnai. Namun Shanum menutupi perasaannya, ia tidak ingin Khan tahu.


"Mimpi-mimpi itu akan berhenti menghantuimu." Keyakinan tersirat dalam nada suara Khan. Shanum tersenyum tipis pada pria itu. "Tidurlah kembali, aku akan menjagamu. Aku berjanji."

__ADS_1


Malam itu, Shanum membiarkan Khan memeluknya di sepanjang sisa malam. Shanum tidur dengan nyenyak. Pelukan pria itu membuatnya merasakan ketenangan. Dan mimpi itu tidak datang kembali padanya.


Fajar menyusupkan jemarinya yang berwarna emas dan merah muda ke kamar itu saat ia tertidur pulas. Tapi kedamaian hanya bertahan selama sekejap mata. "Shasha." Masih mengantuk, Shanum membuka matanya dan melihat Khan sudah rapi berdiri di samping tempat tidur. "Ada apa, Adri?" tanyanya. "Telah terjadi sesuatu yang membutuhkan keahlian penyembuhmu."


Indra-indra Shanum terjaga saking bersemangatnya, otot-otot mentalnya seolah meledak dengan rasa sakit dan kenikmatan yang sama dengan otot-otot fisiknya ketika ia mengangkat tangan dan meregangkan badan. "Siapa yang terluka?" tanyanya. "Taban dan dua orang penjaga. Mereka di serang saat sedang berpatroli." Shanum menurunkan tangan, perutnya terasa berat saking ngerinya. "Apakah karena ulah Ratu itu?" Khan menganggukkan kepalanya.


Rasa takut membelah urat-urat nadinya dan mengumpul di perut. Shanum seharusnya tidak perlu terkejut, dia seharusnya tahu. Cepat atau lambat ratu itu akan menyerang mereka. "Apakah ada cara untuk menghentikannya tanpa pertumpahan darah?" bisik Shanum. Hening. Keheningan yang penuh harap dan penantian. "Aku tidak tahu. Apakah kau takut, Shasha?" tanyanya.


"Yang paling aku inginkan hanyalah tidak ada pertikaian. Aku begitu menginginkannya hingga aku tak punya ruang untuk rasa takut. Yang terburuk memang belum terjadi, dan aku tetap berharap tidak pernah terlaksana. Rasanya menyelesaikannya dalam damai bukan hal yang buruk," jawab Shanum.


"Tidak akan ada jalan damai, Shasha. Wanita itu begitu penuh dendam. Jika memang ada, aku tidak melihat caranya." Khan menepuk bahu gadis itu. "Nah, sekarang kita harus bergegas. Kau masih harus sarapan. Ada yang membutuhkan kekuatan penyembuhmu, ingat." Shanum lalu menepuk keningnya dan berlari menuju kamar mandi.


Setelah sarapan mereka menuju ke kamar Taban. Dario dan salah seorang pengawal bergegas menyambut keduanya di depan pintu. "Bagaimana keadaannya?" tanya Khan. "Dia terkena luka tusuk di perutnya. Lukanya tidak fatal, tapi cukup membuatnya tak sadarkan diri karena mengeluarkan banyak darah," jawab Dario.


Shanum mendekati tempat tidur Taban. Pria itu tampak damai dalam ketidaksadarannya. Bagian atas tubuhnya tampak terbuka, dengan perban yang membalut perutnya. Shanum menoleh ke arah Khan, gadis itu tampak ragu harus menyentuh pria itu. Khan lalu tersenyum sambil maju ke samping Shanum.


Dia menuntun tangan Shanum untuk ditempelkan di perut Taban. "Sekarang konsentrasi, lalu salurkan energi penyembuh itu. Kau sudah pernah melakukannya padaku, dan itu berhasil baik," ucap Khan lembut.


Shanum memusatkan pikirannya dan membayangkan kesembuhan untuk Taban. Kemudian seberkas cahaya muncul dari telapak tangannya. Cahaya itu meresap ke dalam kulit Taban. Menimbulkan percikan keemasan di seluruh tubuhnya.


Taban tersentak, kemudian tubuhnya kembali lunglai. Shanum menunggu, degup jantungnya tak beraturan. Akhirnya Shanum menoleh ke arah Khan. "Sepertinya tidak berhasil," desah Shanum. "Tunggu." Khan mengambil gunting dari meja di sebelahnya. Shanum tercekat. "Apa yang hendak kau lakukan dengan gunting itu?" Khan tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Dia mendekati Taban, memegang perbannya dan mulai menggunting salah satu sisi perban. Shanum mengerutkan alisnya, dia tidak mengerti.


Dario menelan ludah keras-keras. "Maaf," katanya pelan. "Sekarang kita menuju ke dua orang lagi yang akan kau sembuhkan." Khan menarik tangan Shanum dan mengajaknya keluar dari kamar itu. Sambil berjalan Shanum memiringkan kepala, "Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" Khan menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Shanum. Wajah Khan diliputi topeng dingin. "Kita akan memancing mereka ke dalam perangkap."


Rasa merinding mengalir ke tulang punggung Shanum. Bukan karena wajah tampannya yang terlihat dingin, melainkan... "Wanita itu akan menerima takdirnya, yaitu mati." Shanum mendeham, bahunya tegak. "Oke, terima kasih atas informasinya. Mari kita lanjutkan ke pasien berikutnya."


Kedua pria berikutnya juga sudah bisa disembuhkan oleh Shanum. Lalu Shanum mengatakan dia butuh istirahat. Menyembuhkan tiga orang yang sekarat cukup menguras energinya. "Aku tidak bisa menemanimu ke kamar. Aku harus memimpin rapat dengan yang lain," tutur Khan. "Apakah ini terkait perangkap yang kau katakan tadi?" tanya Shanum. Khan menganggukkan kepalanya.


"Oke, aku bisa kembali sendiri ke kamar," sahutnya. "Hati-hati, Shasha. Jangan lengah, siapa pun bisa mencelakaimu saat ini." Shanum tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Lalu dia bergegas menuju kamar. Shanum tidur, pada akhirnya.


Dia langsung terlelap saat menyentuh bantal. Khan tersenyum lembut saat kembali dari rapat dan mengecek keadaan gadis itu. Di rasa gadis itu baik-baik saja, Khan menutup pintu kamar dengan pelan. Tidak ingin membangunkan Shanum dengan kedatangannya. Gadis itu perlu cukup istirahat untuk memulihkan energinya kembali. Dia membutuhkannya karena mereka akan berperang.


Sebuah tangan meremas wajah Shanum begitu keras hingga derit tulang-tulangnya terlonjak bangun. "Lihat apa yang kita temukan," suara malas dan dingin dari seorang wanita.


Shanum mengenal wajah itu, rambut hitamnya yang berkilau, netra birunya, senyuman mengejeknya. Yah, dia adalah Chinua, sang ratu sialan itu. Shanum melihat ke sekeliling kamar, ia tidak mengenal wajah dua laki-laki lainnya di kamar ini, sementara Roman, penjaga pintu kamar Shanum menggeram terkunci dalam apitan mereka.

__ADS_1


"Aku lumayan kesal, Gadis Ingusan. Kau telah menjatuhkan harga diriku," kata wanita itu sambil memegang pisau ke lehernya. Bangun." Dengan pisau yang masih menempel di leher Shanum, dia membiarkan wanita itu menariknya berdiri, dua orang lainnya menyeret Roman sebelum dia sempat berdiri sendiri.


Shanum memanfaatkan sekelilingnya baik-baik. Matanya menangkap tatapan Roman. Dan dia melihat tetesan keringat di keningnya, di atas bibirnya, sementara darahnya menggelegak. Anggukan kecil dagunya jadi satu-satunya tanda bahwa ia mengerti.


"Kau jalan di depan," kata Chinua pelan, akhirnya menurunkan pisaunya. Dia mendorong Shanum selangkah. Dia sudah menunggu. Keseimbangan, seperti yang diajarkan pelatih bela dirinya, sangat penting untuk memenangkan pertarungan. Dan posisi tubuh Chinua menjadi tak seimbang ketika dia mendorong Shanum, maka ia berbalik dan menginjaknya.


Berputar begitu cepat sehingga dia tidak sempat melihatnya mengambil peluang dan menyerang, gadis itu mengayunkan sikutnya ke hidung sang ratu. Chinua terhuyung mundur. Api tiba-tiba menyambar dua orang lainnya, dan Roman berlari melepaskan diri saat mereka berteriak dan jatuh menghantam dinding.


Shanum melepaskan setiap tetes api keemasan dalam dirinya, dinding di antara mereka dan ketiga musuh itu. Dia mengurung ketiganya di dalam kamar.


"Lari," ujar Shanum terengah, Roman sudah berada di sampingnya. Ini tidak akan menghalangi mereka lama-lama, dan Shanum benar-benar merasakan ada kekuatan baru yang bangkit dalam dirinya. Roman mengerti pada saat bersamaan.


Keringat di alisnya merebak ketika hentakan kekuatan berlapis api menyambar pintu dan dinding di luar kamar. Panas terasa menyengat. Suara alarm kebakaran terdengar kencang, mansion itu memiliki sensor untuk mendeteksi api. Air mulai berjatuhan dari langit-langit.


Shanum melemparkan setetes sihir ke serangannya berikutnya, berharap api sihir tidak dapat dipadamkan oleh air biasa. Ketika wajah murka Chinua muncul dari jaring api yang dia pasang, menyala seperti dewi dari neraka, Shanum dan Roman mundur perlahan-lahan lalu berbalik lari.


"Cepat menuju ruang latihan," kata Roman sambil tersengal, dan Shanum tidak membuang-buang napas untuk menyatakan persetujuan saat mereka berlari kencang. Mereka tidak berhenti satu kali pun, sebab jika mereka berhenti, ratu dari neraka itu akan berhasil mengejar mereka.


Shanum berusaha, berulang-ulang kali, mempercepat larinya. Mereka masih sangat jauh dari ruang latihan, letak ruang tersebut memang sangat terpisah dari mansion. Berada di sudut terjauh setelah lapangan menembak, lapangan memanah dan lapangan berkuda.


Otot-otot Shanum berteriak di setiap langkah, telapak kakinya terasa sakit karena tidak mengenakan alas kaki. Pakaian yang digunakan pun adalah pakaian tidur yang sudah sering di cuci berkali-kali. Dalam larinya, Shanum mengutuk letak ruang latihan yang sangat jauh. Dia menyesal mengapa saat Khan memilih berkumpul di sana saat keadaan darurat dia langsung menyetujuinya.


Roman, selangkah di belakang Shanum, tampak tersengal-sengal. Shanum nyaris merintih, telapak kakinya sepertinya lecet. Entah apa yang sudah diinjaknya saat berlari. Jika dia manusia biasa mungkin dia akan terkena Tetanus, atau kehilangan jari kaki.


Shanum sempat menoleh ke belakang, dan melihat Chinua mengejar bersama banyak orang. Sepertinya itu adalah pasukannya. "Lebih cepat," teriak Shanum. Chinua menembakkan cahaya birunya ke arah Shanum dan Roman. "Sial, dia memakai kekuatannya." "Zig-zag," Roman terengah.


"Kita harus..." Dia mendorong Shanum ke samping, dan gadis itu terhuyung, kedua tangannya berputar-putar. Tepat pada saat sebatang anak panah meluncur ke arah tanah tempatnya tadi memijak.


"Lebih cepat," bentak Shanum, dan Roman tidak ragu lagi. Mereka mulai berlari sekencang mungkin, Roman dan Shanum berselang-seling bertukar jalur sementara anak-anak panah dan cahaya biru Chinua menyerang.


Shanum mulai menembakkan kembali api keemasannya sambil berlari. Dia tidak peduli kalau apinya akan membunuh musuh. Setidaknya hal itu dilakukannya untuk menghambat pergerakan mereka.


"Sedikit lagi," teriak Roman. Shanum bertukar jalur dengan Roman lagi, matanya terbelalak, dan ingin membuka mulutnya, tepat ketika ratu dari neraka itu muncul. Bukan di belakang, tapi di depan. Dia berdiri di sana sambil menyeringai. Kekuatan sinar birunya siap ditembakkan ke arah Shanum.


Shanum meluncur ke samping, berguling. Kurang cepat. Sinar biru itu menyerempet bahunya, meninggalkan rasa perih. Roman berteriak, tapi sinar biru lainnya menuju Shanum. Kali ini langsung menusuk lengan kanannya. Tanah menghantam wajahnya, dan tangannya. Pada saat dia ambruk, lututnya mengertak, lengannya menjerit kesakitan karenanya.

__ADS_1


Di belakang Shanum terdengar langkah-langkah mendekat. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat sehingga meneteskan darah ketika merasakan daging tangannya yang robek. Rasa sakitnya tak terkira. Shanum berusaha menyalurkan energi penyembuhnya.


Dia merasa otot lengannya sudah mulai merapat. Dia tidak memberi kesempatan pada Chinua untuk membaca geraknya. Gadis itu menarik napas tajam. Cahaya keemasan menyilaukan terpancar darinya. Chinua menggeram, dan dia pun berlari.


__ADS_2