
Shanum berada di suatu tempat yang indah di atas tebing. Di hadapannya terdapat pemandangan laut lepas dengan hempasan ombak yang sangat indah. Dia menyadari, dirinya kembali berada di alam mimpi. Yang ia tidak ketahui hanyalah akan bertemu siapa ia di dalam mimpi kali ini.
Shanum mendengar lantunan suara angin, yang membisikkan kepadanya bahwa ia harus menoleh ke belakang. Gadis itu tampak penasaran dan mengikuti keinginan suara tersebut, ia pun menoleh dan menemukan sebuah jalan setapak menuruni tebing itu.
Shanum mengernyit dalam, entah mengapa hatinya merasa harus mengikuti jalan setapak itu dan mencari tahu apa yang berada di ujung jalan. Shanum mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dan melihat hanya ada semak belukar dan pohon yang berada tak jauh dari tebing itu.
Dia merasa penasaran, lalu mulai melangkah dengan pelan dan berhati-hati. Meski terasa ada yang membimbingnya, ia tetap harus merasa waspada. Mungkin saja dia akan bertemu dengan pria pemilik sihir hitam itu, dan diserang olehnya.
Berdasarkan mimpinya yang terakhir, Shanum baru mengetahui bahwa di dalam mimpi pun ia bisa terluka. Terutama jika berkaitan dengan sihir hitam yang tak tertebak dan berbahaya.
Sepanjang langkahnya Shanum teringat pada Khan. Pertemuan terakhir mereka selalu berakhir buruk. Mereka kembali bersinggungan dengan dusta yang diucapkan hanya karena ego yang berbicara.
Tapi Shanum tidak dapat membohongi hati kecilnya, dia tetap tak mau melihat pria itu terluka. Dia secara refleks menjadikan tubuhnya sebagai tameng dari sasaran sebuah anak panah yang menuju Khan. Shanum terkena anak panah itu, dan tidak mengetahui bagaimana keadaannya saat ini di dunia nyata.
Shanum melangkah turun, terhuyung sedikit di tanah keras yang terpanggang sinar matahari. Dia memandang ke bawah dan napasnya tercekat. Sebuah bangunan klasik yang indah berada di bibir tebing yang lebih rendah dari sebelumnya.
Bangunan klasik itu seperti kastil kecil yang sangat kokoh, lengkap dengan benteng-benteng pelindung dan atap-atap datar. Kentara sekali bergaya abad pertengahan, dengan dinding berwarna coklat keemasan.
Shanum memasuki pintu gerbang yang terbuka lebar dan kembali terkesima melihat di balik dinding-dinding itu ada taman-taman yang subur, dan dikejauhan laut tampak kemilau.
Shanum mendongak dan sesuatu yang terlihat seperti tangga batu menuju ke sebuah pintu besar dari kayu kokoh pada kastil itu. Shanum mulai meniti tangga satu demi satu hingga mencapai pintu.
Napasnya kembali tercekat, ketika melihat pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka sendiri. Shanum mengernyit, merasa heran dengan kecanggihan pintu yang tidak sesuai dengan penampakan latar belakang usianya. Seharusnya pintu di abad pertengahan tidak terbuka sendiri kecuali ada yang membukanya.
Shanum menunggu, melihat apakah ada orang yang akan menyambutnya di depan pintu. Tapi setelah sekian menit menatap, tidak juga tampak orang yang membuka pintu tersebut.
Gadis itu mendengus, baru terpikirkan olehnya, pintu itu bisa saja terbuka otomatis, karena ia berada di alam mimpi. Keanehan yang terjadi di dalam mimpi seharusnya sangat bisa ditolerir.
Kemudian Shanum mulai melangkah masuk ke dalam kastil itu. Gadis itu mengedarkan pandangannya dan bergumam kagum. Dia seolah-olah terlempar ke masa lalu. Keseluruhan dekorasi tempat itu lembut dan sederhana. Dinding-dinding batu kastil dibiarkan kosong, sementara karya seni kuno dan koleksi beragam barang yang di masa kini disebut Antik mempermanis bangunan yang sedikit kaku itu.
Permadani-permadani oriental berukuran besar menghias lantai, dan semakin memperlembut kekakuan tersebut.
Jendela-jendela dibiarkan terbuka, dan meskipun udara di luar panas, kastil itu telah dirancang sedemikian rupa sehingga angin sepoi-sepoi bertiup masuk melalui jendela yang terbuka tadi.
Shanum melihat sebuah singgasana berada di ujung ruangan itu. Dia mendekatinya, tidak menyangka akan melihat singgasana, yang merupakan petunjuk jelas, bahwa ia sedang berada di sebuah kastil milik seorang raja. Tapi mengapa ruangan ini terlihat begitu kosong dan sepi? Apa maksud mimpinya kali ini?
Kesunyian yang intens menyelimutinya dan membuat bulu romanya berdiri secara tiba-tiba. Shanum tak ingat kapan terakhir kali mengalami keheningan mencekam seperti ini. Kelihatannya seolah sesuatu di dalam dirinya meluncur naik ke permukaan... ia merasakan semacam kegelisahan. Ia merasa terusik--seolah ada kejutan yang melatarbelakangi mimpinya saat ini.
Sebuah suara mendadak membuatnya berbalik cepat, jantungnya melompat ke tenggorokan. Seorang pria yang sangat mirip ayahnya namun dengan versi lebih muda berdiri tak jauh dari posisi Shanum berdiri. Ia menyapa Shanum dengan hangat dalam bahasa Mongolia yang terdengar seperti musik. Wajahnya terlihat ramah dengan senyum lebar terbit di bibirnya.
Shanum mengerjap. Ia seharusnya mengerti kata-kata yang pria itu ucapkan, namun entah mengapa pikirannya mendadak kosong. Dada Shanum terasa sesak. Keagungan pria ini membuat lidahnya kelu dan otaknya seolah buntu.
Pria itu mengulurkan tangannya. Shanum bergeming, gadis itu memandangnya dengan wajah penuh keraguan.
"Selamat datang di rumahku, Cucu keturunanku. Kuharap waktu kau di sini bisa... menyegarkan jiwa dan ragamu," ucapnya.
Ya Tuhan, Cucu Keturunan? Berarti pria itu adalah... Oh tidak dia pasti sedang bermimpi. Shanum tersadar dan memukul jidatnya.
Astaga, dia memang sedang bemimpi kan. Oh, betapa bodoh dirinya.
"Mengapa kau memukul kepalamu, Shanum?" Pria itu menatapnya dengan heran bercampur geli.
"Kau tahu namaku?" Shanum melongo.
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah menunggu pertemuan ini selama ratusan tahun."
"K-kau menungguku?" tanya gadis itu gugup.
"Ya, aku menunggu gadis dalam ramalan yang akan datang untuk menyelamatkan keseluruhan Klan dari kehancuran. Dan gadis itu adalah keturunanku," jawabnya dengan nada suara bangga.
"Aku bukan gadis dalam ramalan itu. Kau pasti salah." Shanum menggigit bibir, ragu-ragu. "Dan bukankah kau sudah--"
__ADS_1
"Ya, aku memang sudah mati. Adikku sendiri yang membunuhku. Dan ya, kau gadis dalam ramalan itu. Jika kau bukan gadis itu, tidak mungkin kalung itu dapat melingkari lehermu," kata pria itu.
Shanum kontan meraba lehernya. Dan dia membeku. Bagaimana mungkin kalung itu bisa berada di lehernya. Bukankah sebelum berenang ia meninggalkannya di kamar?
Pria itu terkekeh geli melihat ekspresi bingung Shanum. "Kalung itu akan kembali ke lehermu jika kau berada dalam bahaya, Shanum. Dan sekarang kau sedang dalam bahaya. Panah itu mengandung racun berbahaya."
"Panah beracun?" beo Shanum.
"Ya, sekarang mereka semua yang menyayangimu sedang panik mencari penawarnya."
"Dan apakah mereka berhasil?" tanya Shanum dengan wajah mendadak menjadi muram.
"Belum. Tapi kurasa mereka akan berhasil. Pasangan jiwamu akan mengusahakan segalanya demi kesembuhanmu. Dia sangat terpuruk saat ini."
"Maksudmu, Khan Adrian?"
"Ya. Memangnya siapa yang kau harapkan sebagai pasangan jiwamu, Shanum?" Pria itu menyeringai ke arahnya.
Shanum menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak mungkin, ikatan kami saat ini sedang tertutup. Dia mengalami Amnesia dan melupakanku. Aku melihat dinding kokoh yang menghalangi ikatan kami." Nada suara Shanum terdengar sedih saat mengucapkan kata-kata itu.
Pria itu tersenyum hangat. "Sebaiknya kita duduk. Maukah kau menemaniku untuk duduk di sana." Pria itu menunjuk singgasana di hadapan mereka.
"Em, sepertinya aku tidak bisa," jawab Shanum dengan cepat.
"Mengapa? Kursi di singgasana itu tidak akan menggigitmu, Shanum," godanya dengan wajah ceria.
"Aku tidak pantas duduk di sana, Sir. Eh, Tuanku Raja."
Pria itu kembali tersenyum. "Panggil saja aku Chenghiz." Saat melihat Shanum hendak mendebatnya lagi, pria itu memberi isyarat dengan tangannya dan berkata, "Tidak perlu sungkan, dan jangan coba-coba memanggilku dengan sebutan kakek, karena wujudku saat ini belum cukup tua untuk dipanggil dengan sebutan itu."
Shanum memutar bola matanya. Dia heran sekaligus geli, para pria itu tidak di alam mimpi maupun di dunia nyata, memiliki tingkah laku yang sama persis. Sama-sama pantang jika dipanggil dengan sebutan kakek. Memangnya apa yang salah kalau dipanggil kakek? Stigma tua itu sepertinya terlalu menakutkan untuk segala zaman dan situasi.
"Aku hanya bercanda, Shanum. Tentu saja kau boleh memanggilku dengan sebutan Kakek," sahutnya dengan kekehan geli.
"Ya. Ekspresimu sejak tadi sungguh lucu." Pria itu kembali tertawa. "Oh, sudah lama aku tidak tertawa sesering ini."
Melihat kebahagiaan pada wajah pria itu membuat rasa kesal Shanum mendadak menghilang. Dia jadi ikut tersenyum.
Setelah puas tertawa, pria itu lalu memberikan isyarat kepada Shanum untuk mengikutinya menaiki tangga singgasana tersebut dan duduk di sana.
Shanum mengekorinya, setelah pria itu memberikan isyaratnya. Gadis itu duduk tenang di samping Chenghiz, dan berkata, "Bolehkah aku tahu, mengapa kau mengetahui kejadian yang terjadi di dunia nyata?"
"Sebenarnya aku masih berada di dunia ini Shanum. Wujud fisikku memang sudah di dalam tanah. Tapi jiwaku tidak bisa menuju alam berikutnya karena masih ada tugas yang harus aku selesaikan di dunia ini."
"Jadi kau seorang arwah gentayangan? Dan apakah tugas yang belum selesai itu?" tanya Shanum penasaran. Gadis itu bukannya merasa takut bertemu arwah, malah merasa tertarik ingin tahu lebih dalam.
Pria itu tertawa kembali. "Aku bukan arwah penasaran. Dengan kata lain, aku memiliki tugas untuk membantumu menuntaskan ramalan itu."
Shanum mendesah lelah. "Terus terang aku masih bingung perihal gadis dalam ramalan ini. Karena banyak hal yang tidak sesuai dengan diriku."
Pria itu mengangkat alis. "Maksudmu ketidaksesuaian yang mana? Boleh kau katakan kepadaku?"
"Pertama, aku bukan gadis yang memiliki darah keempat klan. Terus yang kedua, aku belum tentu menjadi pasangan pemimpin Klan Altan. Sekarang saja Khan Adrian melupakanku, dan ikatan jiwa di antara kami akan segera diputuskan."
Chenghiz tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan menjelaskannya dari awal agar kau dapat mengerti tentang silsilah kita." Pria itu lalu berdeham. "Aku memiliki Ayah yang berasal dari Klan Batbayar asli. Sedangkan Ibuku malah sama sekali bukan berasal dari Klan Batbayar. Dia merupakan putri dari pemimpin klan Bataar. Jadi di dalam darahku mengalir darah dua Klan, Shanum. Kemudian aku menikah dengan gadis yang berasal dari Klan Batzorig. Sudah ada tiga klan di dalam darahmu Shanum."
Chenghiz menarik napas. "Sedangkan untuk darah Klan Altan berasal dari dirimu sendiri. Bukan dariku. Kau merupakan reinkarnasi dari pasangan Khan Adrian terdahulu, Shanum. Dia adalah dirimu saat ini. Bukankah kau sering bermimpi tentang dirinya. Kau melihat memori wanita itu di masa dia hidup."
"Aku reinkarnasi Sarnai? Tidak mungkin." Shanum menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wajah gadis itu sangat sangsi terhadap perkataan pria itu.
Ekspresi Chenghiz melembut, matanya berkilat, "Apakah karena dia mendadak muncul dan hidup, Shanum?"
__ADS_1
Gadis itu memaksakan diri menjawab, "Ya, dia hidup. Ia muncul baru-baru ini," dan membuat hubunganku dengan Adri kembali ke titik nol.
Chenghiz menatap Shanum penuh misteri. "Dia bukan Sarnai. Tugasmu adalah untuk membongkar kedoknya wanita itu. Dan tolong berhati-hatilah. Wanita itu tidak seperti yang terlihat."
Shanum terdiam cukup lama. Pria itu juga merasa gadis itu terpaku diam karena ia tak mendengar suara apa pun. "Kau serius?" tanya Shanum.
"Aku sangat serius soal ini," jawab pria itu.
"Oke, aku percaya padamu. Sekarang tentang hubunganku dengan Khan Adrian--"
"Kalian tidak akan pernah bisa memutuskan ikatan jiwa di antara kalian. Tidak ada satu orang pun yang bisa," potong Chenghiz.
"Mengapa tidak bisa?" tanya Shanum lagi.
"Karena tidak semua orang terpilih untuk menemukan belahan jiwanya, Shanum. Kalung yang kau kenakan itu dimiliki juga oleh keempat klan, tentunya dengan warna yang berbeda-beda. Warna emas untuk Klan Batbayar, warna merah untuk Klan Altan, warna Biru untuk Klan Batzorig dan warna perak untuk Klan Bataar. Menurut sejarah awal mula kemunculannya, kalung itu diberikan oleh Dewa kami di masa lalu sebagai hadiah bagi para wanita yang tetap setia menunggu pasangannya pergi berperang." Pria itu terdiam, pandangannya menerawang jauh.
"Kalung yang kau kenakan itu sebelumnya dikenakan oleh nenekku. Setelah dia meninggal, kalung itu menghilang secara misterius. Dia hanya akan muncul kepada pasangan baru yang terpilih. Dan uniknya kalung itu selalu akan berubah bentuk, menyesuaikan dengan kekuatan pemiliknya yang baru. Milikmu sesuai dengan tanda lahirmu, berbentuk kelopak bunga."
"Kau pasti salah, Kakek. Kalung ini muncul ketika aku habis bermimpi bertemu Nekhii," sahut Shanum.
"Ah, Nekhii. Wanita luar biasa itu."
"Kau mengenalnya, Kakek?"
"Tentu saja aku mengenalnya, dia sahabat istriku."
"Sahabat?" tanya Shanum. Ternyata dunia tempat keempat klan ini berada sungguh sempit. Mereka saling terkait satu sama lain.
"Ya. Mereka bersahabat karib. Nekhii adalah teman sejak kecil istriku. Dia seorang Empath yang hebat. Kau boleh percaya kepadanya, dia tidak akan mengecewakanmu."
"Tentu saja. Wanita itu nenek buyut Khan. Dan selama ini dia sudah banyak membantuku," jawab Shanum sembari tersenyum.
"Nekhii juga memiliki kalung jiwa milik Klan Altan Shanum. Jika kau bertemu lagi dengannya, kau boleh bertanya lebih dalam kepadanya."
"Berarti kalung itu muncul hanya kebetulan saja setelah aku bertemu Nekhii?"
"Ya, bisa saja," jawab Chenghiz.
Shanum menghela napas. "Jadi, ikatan jiwa itu tidak bisa diputuskan," gumam gadis itu pada dirinya.
"Hmm, andaikata salah seorang dari pasangan itu kehilangan ingatannya, apakah hal itu akan tetap mengikat jiwa mereka?"
"Ya, mereka akan tetap terikat. Dan ikatan itu akan menemukan jalannya untuk menyatukan mereka kembali. Tidak ada yang bisa memutuskan mereka kecuali kematian, Shanum."
Sulit membayangkan ia akan terikat selamanya dengan Khan di tengah perselisihan yang terjadi saat ini. Shanum tidak mau terus-menerus tersakiti oleh perilaku pria pasangan jiwanya itu.
"Percayalah, Shanum. Dia akan mengingatmu. Ikatan itu terlalu kuat untuk dilupakan begitu saja," kata Chenghiz. Pria itu seolah dapat membaca isi pikiran Shanum barusan.
"Yang harus kau waspadai saat ini adalah kelompok pemilik sihir hitam itu Shanum. Sejak aku masih hidup mereka sudah sering membuat kekacauan. Bahkan aku mencurigai dalang di balik penculikan adikku adalah kelompok mereka. Xanadu hanyalah pion yang mereka atur secara cermat."
Pria itu terdiam, sembari menatap Shanum dengan ekspresi serius. "Tugasku adalah memperingatkanmu tentang aliran sihir hitam ini, Shanum. Karena mereka sudah mulai bergerak, dan lebih kuat serta terorganisir pada satu tampuk kepemimpinan. Mereka juga sudah menyusup di keempat klan."
Shanum mencubiti pangkal hidungnya dengan jemarinya. "Berarti tugas utama gadis dalam ramalan adalah menghancurkan kelompok aliran sihir hitam ini?"
"Ya, dan itu butuh keberanian, kekuatan yang luar biasa kuat, pikiran cerdas dan hati yang sangat tulus. Kau memiliki semua kualitas itu dalam dirimu, dan aku sangat bangga kau adalah keturunanku, Shanum."
Bibir Shanum berkedut menyunggingkan senyum tertahan, dia memutar bola matanya. "Ternyata kau sangat pintar memuji, Kakek. Aku sangat tersanjung."
Pria itu nyaris tertawa melihat ekspresi Shanum. "Aku berkata berdasarkan kenyataan. Dan tampaknya aku harus segera pergi. Mereka sudah memanggilku. Sekarang giliranmu untuk percaya kepada dirimu sendiri dan pasangan jiwamu itu. Kalian berdua saling melengkapi dengan sempurna. Jangan pernah ragu."
Pria itu mulai memudar. "Oh, hampir aku lupa." Dia muncul kembali, bayangannya memadat kembali. Shanum ingin tertawa melihat hal itu, tapi ia menahannya.
__ADS_1
"Tolong sampaikan kepada adikku, Chinua. Aku sudah memaafkannya, dan aku ingin ia bahagia. Lupakan masa lalu, simpan semua itu di belakang sebagai kenangan. Selamat tinggal, Shanum, Cucuku."
"Selamat tinggal, Kakek." Shanum tersenyum, dan merasa matanya memanas. Pertemuan singkat dengan kakek buyutnya itu menimbulkan suatu rasa seolah ia sudah mengenal dekat pria itu selama bertahun-tahun.