Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 47 Tidak Bisa Lari Dari Cinta


__ADS_3

Shanum tersentak saat mendengar ucapan Pak Reno. Wajahnya memucat dan dia menggeleng keras.


"Menurutku selama ini kau memang telah diciptakan untuk menjadi milikku. Aku akan membahagiakanmu, Sayang. Aku janji."


Shanum menunduk dengan pelan, mendadak menyadari untuk pertama kali bahwa udara sejuk di ruangan itu mulai terasa dingin di tubuhnya. "Pak Reno, kurasa aku mengerti apa yang kau inginkan dan aku... menghargainya, tetapi..."


"Menghargainya!" ejek pria itu lembut, kilat kecewa berkelebat di matanya. "Baik hati sekali kau."


Shanum mendongak menatap wajah pria itu lagi, ekspresi wajahnya sedikit pun tidak menunjukkan rasa kesal menanggapi sarkasme Pak Reno tadi. Ini sesuatu yang serius baginya, dan ia ingin Pak Reno memahaminya.


Shanum menoleh ke arah sofa di dekat pintu, posisi terakhir Pak Elvano yang dilihatnya. Tempat duduk itu kosong, tampaknya pria itu telah meninggalkan kamar itu. Dia memberi keleluasaan pribadi kepada mereka untuk berbicara.


"Aku tahu bahwa Pak Reno baru tersadar dari koma... maksudku di saat-saat seperti sekarang ini orang sering kali mengatakan hal-hal yang tidak mereka butuhkan sebenarnya. Karena setelah mengalami batas antara hidup dan mati, apa pun keinginan yang belum tercapai selama hidupnya akan tercetus begitu saja... dan... dan..."


"Aku tidak melihat bagaimana kau bisa menganggap dirimu cukup mengerti topik apa yang sering dibicarakan oleh orang yang pernah sekarat."


Nada geli yang tersirat dalam ucapan Pak Reno semakin kentara, dan Shanum baru saja membuka mulut untuk membela diri ketika menyadari sepenuhnya apa yang telah dikatakan pria itu barusan.


"Apa maksudmu bahwa menurutmu aku tidak mengerti arti dari topik yang kubicarakan?"


Pak Reno mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata Shanum dengan rasa percaya diri yang nyaris terkesan angkuh. "Memangnya kau pernah koma atau sekarat?" goda pria itu enteng.


"Yah, belum pernah. Tetapi aku tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu yakin mengenai perasaanmu itu! Kita tidak cukup dekat, Pak Reno!" gumam Shanum.


"Aku sudah pernah mengatakan padamu kan, bahwa aku terpukau pada senyum kemenanganmu, dan cahaya yang melingkupi wajahmu saat menang di kejuaraan karate. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuat hatiku tersentak. Sesuatu yang kuat namun lembut, rapuh dan jujur. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tetapi aku tahu bahwa aku telah jatuh. Jatuh sedalam-dalamnya pada dirimu."


Pak Reno menarik napasnya, masih sambil menatap Shanum dengan pandangan lembutnya. "Apa kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama, Shanum?"


Shanum tertegun. Tidak tahu harus bereaksi apa. Karena dia pernah mengalami hal itu. Yah, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Khan Adrian saat di Bandara Astrakhan. Meski dia baru mengakuinya saat dia tersadar bahwa ia mencintai pria itu.


"Jika kau pernah mengalaminya, atau mungkin hingga saat ini masih menyimpan rasa itu, maka kau harusnya tahu bagaimana perasaanku," tambah Pak Reno.


Kenyataan bahwa Pak Reno mampu membaca dirinya dengan tepat membuat Shanum merasa lemas, membuat sekujur tubuhnya merinding.


"Pak Reno, yang ingin kukatakan kepadamu tadi adalah bahwa aku tidak ingin kau bicara soal sikap obsesif. Itu membuatku gugup. Aku tahu mungkin bagimu itu cuma sekadar kata-kata tak berarti, tetapi itu membuatku teringat kembali akan berapa tidak menyenangkannya bila seorang pria memaksa seorang wanita untuk menjadi kekasihnya."


"Kau tidak suka gagasan dirimu menjadi kekasihku? Bahkan setelah kau sudah menyelamatkan nyawaku?" Pak Reno menatapnya dengan pandangan 'Aku tahu semua rahasiamu' itu.


Shanum membeku. "Apa... yang Anda maksudkan sebenarnya, Pak?" Gadis itu menelan ludahnya, dia sangat gugup. Tidak mungkin kan, Pak Reno tahu kalau dia yang sudah menyembuhkannya.


"Jangan takut kepadaku, Sayang. Jangan takut, oke? Aku tidak akan pernah membongkar rahasiamu." Permohonan itu terucap dalam nada dalam dan parau sementara Pak Reno mulai turun dari ranjang rawatnya.


Shanum perlahan bergerak mundur. Oh, Tuhan, pria ini tahu. Tamat riwayatmu, Shanum. Apa yang harus dia lakukan? Pikirkan sesuatu, pikirkan apa pun!


"Santai saja, kalau itu membuatmu tegang, kita tidak akan membicarakannya saat ini."


"Kita takkan membicarakannya sampai kapan pun," bisik Shanum. Ia merasakan tubuhnya mulai memanas. Oh, jangan sampai keluar kekuatanku. Tahan, Shanum. Jangan di sini. Dia tidak boleh tahu.


"Kita takkan membicarakan soal itu sampai ada kesempatan lain," kata Pak Reno tegas. "Saat kau sudah siap menceritakannya padaku. Oh, aku juga sudah menghapus rekaman CCTV saat kau mendatangiku kemarin, Shanum. Tidak perlu cemas, hanya aku yang tahu. Urusan mengotak-atik sistem, dan membobol jaringan apa pun perkara mudah untukku," ucapnya bangga.


"Well, bagaimana bicara dari hati ke hatinya. Apakah sudah selesai? Dan apakah ada kabar baik?" Sebuah suara menginterupsi kata-kata Pak Reno.


Shanum menoleh, dan melihat Pak Elvano berdiri di depan pintu yang terbuka sambil tersenyum. Shanum tidak bisa berpikir lebih jauh, dia langsung menuju pintu. "Maafkan, saya," ucapnya pada Pak Elvano.


Gadis itu lalu mendorong pria itu ke samping, dan keluar sambil berlari dari ruangan itu. Shanum terus berlari. Dia tidak berhenti meski banyak orang yang memperingatkannya agar tidak berlari-lari di dalam lingkungan rumah sakit.


Elvano merasa kaget melihat gadis itu melarikan diri dari kamar. Alisnya melengkung naik, mempertanyakan tingkah Shanum tadi. Dia menatap heran ke arah adiknya.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang sudah kau lakukan, Dik? Perilaku tadi bukanlah mencerminkan wanita yang bahagia karena mendapatkan ungkapan cinta dari seorang pria. Tetapi lebih tepatnya kepada wanita yang baru saja mengalami mimpi buruknya terpampang di hadapan wajahnya."


Reno tampak menyeringai, kemudian terkekeh geli sendiri. "Sepertinya aku tidak berbakat membuat seorang wanita terpukau, Kak. Tapi aku tidak akan menyerah. Shanum akan menjadi milikku, dan aku akan memastikannya."


Sang kakak, Elvano hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya sekarang kau bersiap, Dik. Kita akan pulang ke rumah. Dokter yang bertanggung jawab atasmu sudah mengizinkan kau pulang. Dan sebagai seorang dokter juga, yang sudah pernah melihat hal yang sama, aku tetap saja bersyukur, karena kau adikku yang telah mendapatkan keajaiban itu, Dik," ucap Elvano.


"Ya, Kak. Aku sudah mendapatkan sebuah keajaiban. Dan sayangnya, keajaiban itu barusan melarikan diri," ucap Reno dalam hati.


***


Setelah melarikan diri dari rumah sakit dia menuju ke sebuah cafe tempatnya biasa melepas penat sehabis kuliah. Dia sempat mengisi perutnya yang lapar, akibat menerima kejutan tak terduga di rumah sakit tadi. Dan mencoba menghubungi para sahabatnya.


Shanum hanya mengatakan ada hal penting yang mau dia katakan. Tapi tidak bisa membicarakannya di telepon. Jadi mereka akhirnya sepakat untuk bertemu di rumah Diva.


Dan di sinilah ia sekarang, melangkah menaiki undakan batu yang berada di teras depan rumah sahabatnya itu. Dia segera memencet bel yang terdapat di samping pintu. Suara kunci diputar dan gagang pintu ditekan mengisi keheningan yang terjadi. Seorang pelayan muncul dari balik pintu, dia mempersilahkan Shanum untuk masuk.


Wanita pelayan itu mengantarkannya ke sebuah ruang duduk yang berada di dekat taman belakang. Di sana sudah ada Sergei, Diva dan Farah. Mereka sudah duduk di atas bangku, yang mengelilingi sebuah meja bundar, yang terbuat dari kayu jati.


"Hei, mengapa wajahmu pucat begitu, Sha?" sapa Farah. Shanum menarik napasnya sambil menghempaskan bokongnya di atas bangku yang terdapat di sebelah Farah. "Ya, hal penting apa yang ingin kau ungkapkan?" tanya Diva.


"Dia tahu." Shanum sedikit menunduk sambil menekan-nekan pelipisnya.


Ruangan itu hening. "Maksudmu kita sudah ketahuan? Tentang sandiwara kita begitu?" tanya Farah.


"Ya... dan tidak," jawab Shanum.


"Aduh, kalau bicara tuh yang jelas, Sha. Jawaban apa itu, cuma ya dan tidak!" sahut Farah sambil memutar bola matanya.


"Maksudmu, Pak Reno yang tahu atau keluarganya yang tahu, Sha? Dari CCTV pastinya ya?" sambung Diva.


"Lah, ini kok jawabannya hanya seputar Ya dan Tidak. Menggelikan!" protes Farah.


"Sebentar, aku minum dulu." Shanum mengambil botol berisi air mineral yang ia bawa dari cafe tadi. Ia membasahi tenggorokannya yang kering dengan air tersebut.


Setelahnya, ia menatap kedua sahabatnya dan juga Sergei. Pria itu tampak geli melihat kegelisahannya. Sedangkan kedua sahabatnya masih berwajah penuh dengan roman ingin tahu mereka.


"Hai, Shanum. Dapat salam rindu dari Khan," kata Sergei sambil menyeringai. Shanum tertegun, wajahnya membeku.


"Arghh... cukup, jangan membuat urusan semakin kacau." Diva memukul pundak pria itu. Sergei berpura-pura mengaduh kesakitan sambil tertawa.


"Seperti yang benar saja, Khan titip salam rindu. Memangnya kau penyiar radio, terima salam-salam dari pendengar setianya, Bapak Peri," cemooh Farah sambil mendengus.


"Siapa itu Bapak Peri?" tanya pria itu.


"Nah, kan makin panjang deh. Jadi kapan ini kita mau dengar cerita Shanum," omel Diva.


"Kau, be quiet, please!" ucapnya lagi sambil melotot pada Sergei.


"Tunggu, apakah itu benar?" tanya Shanum. Wajahnya terlihat penuh harap. Berharap apa yang dikatakan Sergei itu memang benar.


"Sebenarnya sih, dia hanya bertanya bagaimana keadaanmu. Dan apakah kau baik-baik saja," jawab Sergei sambil meringis.


Shanum terlihat kecewa. Matanya mulai berkaca-kaca, dia menundukkan kepalanya.


"Tuh kan, Shanumnya jadi sedih. Ayo minta maaf, Sergei. Kalau tidak mau, nanti aku tidak mau bicara lagi denganmu, selamanya." Diva bersidekap sambil memicingkan matanya.


"Hah... tambah runyam," celetuk Farah.

__ADS_1


"Oke... oke, aku akan minta maaf. Maaf ya, Shanum. Aku hanya bercanda," kata Sergei dengan muka memelas.


Shanum mengangkat wajahnya. Air mata tampak mengalir di kedua belah pipinya. Gadis itu menangis dalam diam. Pundaknya berguncang, menahan sesak yang ia rasakan dalam dadanya.


Sergei semakin panik, saat melihat Diva melotot bengis kepadanya.


Farah juga memberikan isyarat memenggal leher dengan jarinya sambil mengetatkan rahangnya pada Sergei.


"Shanum, hei... jangan menangis, maafkan aku..." Sergei berusaha mengambil perhatian Shanum. Namun sia-sia, gadis itu tetap tidak berhenti menangis.


"Bagaimana ya caranya? Hon, kasih tahu caranya dong, supaya Shanum tidak menangis lagi." Sergei menatap Diva dengan pandangan memelas.


"Masa bodoh, pikirkan saja sendiri. Kau yang memulai, jadi silahkan selesaikan," jawab Diva dengan ketus.


Sergei menggaruk-garuk kepalanya. Dia masih memutar otak bagaimana menyelesaikan kekacauan yang sudah dia buat.


"Hah... terserahlah. Daripada aku dicincang habis olehnya, karena membuat gadisnya menangis. Lebih baik aku mengaku saja sekarang," gumam pria itu.


Sergei lalu mengambil ponselnya dari saku. Dia tampak menghubungi seseorang. Sergei menunggu panggilannya dijawab sambil sesekali melirik para gadis itu.


Lunanya masih terlihat marah. Sedangkan Farah mengerutkan keningnya heran dengan tingkah Sergei. Sedangkan Shanum masih menangis tersedu-sedu.


"Sialan kau, Sergei! Apa yang kau inginkan? Kau mengganggu waktu istirahatku." Sebuah suara serak seorang pria, terdengar dari ponsel yang memang di loudspeaker oleh Sergei. Dia ingin ada saksi yang mendengar kalau ia sudah menelepon Khan dan meminta maaf pada pria itu, karena sudah membuat Shanum menangis.


Shanum langsung mengangkat wajahnya, dia menghapus air matanya. Pandangan penuh rindu terlihat di matanya. Sudah terlalu lama dia tidak mendengar suara itu, dan rasanya sungguh menyenangkan.


"Khan..." bisiknya. Meski suara Shanum terdengar pelan, namun Khan dapat mendengar suara gadis itu.


"Shasha... kau... kah itu?" Suara itu terdengar terbata-bata dan bergetar.


Shanum langsung menggeleng, dia kembali menangis kencang.


Sergei bergerak-gerak gelisah di bangkunya. Dia jadi tambah pusing dibuatnya. Mengapa tangis Shanum semakin kencang?


"Sergei, Sialan! Mengapa ada Shashaku di dekatmu? Aku perintahkan ganti mode panggilan menjadi vicall. Aku ingin tahu di mana kalian berada."


Sontak Sergei langsung mengganti mode panggilannya. "Lihat, aku di sini tidak hanya berdua dengan Shanum. Tapi ada Lunaku, dan juga Farah sahabatnya. Kami sekarang sedang berada di rumah Lunaku."


Sergei memperlihatkan kamera kepada masing-masing orang yang disebutkannya tadi.


Diva dan Farah melongo melihat tampilan Khan di layar ponsel Sergei. Mereka tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun saking kagetnya. Farah lalu menepuk keningnya. Dia memprediksi keadaan sekarang pasti akan lebih runyam lagi daripada sebelumnya.


Sedang Shanum masih juga menangis sesegukan, dan hal itu terdengar hingga ke dalam ponsel.


"Mengapa, Shashaku menangis, Sergei? Terus kau ada keperluan apa menghubungiku?"


Sergei berdeham. "Em, begini... tadi itu aku mengatakan pada Shanum kalau dapat salam rindu darimu. Cuma bercanda sih sebenarnya. Soalnya tadi wajah Shanum sangat tertekan. Maksudku ingin membuat suasana tidak tegang saja sih." Sergei mengambil cangkir berisi kopi di meja dan mensesapnya.


"Terus dia menanyakan apakah itu benar. Dan aku jawab itu tidak benar. Setelah itu, dia menangis, tidak mau berhenti. Aku menghubungimu, mau lapor kepadamu, Yang Agung. Aku kan harus menjaganya, jadi aku tidak mau kalau nanti kau membunuhku karena sudah membuatnya menangis. Tapi sekarang, setelah mendengar suaramu tangisnya menjadi tambah kencang lagi. Bagaimana ini?"


Khan terperangah menatap Sergei. Dia lalu menunduk mengacak rambutnya dan kembali menatap Sergei dengan pandangan mata berkilat tajam. "Aku heran denganmu, Sergei. Kau itu dungunya sangat akut sepertinya. Ya tentu saja kau akan membuatnya tambah menangis. Dia kan masih benci kepadaku..."


"Aku tidak benci kepadamu. Aku... aku mencintaimu. Kau... kau pria bodoh, arogan dan sialan! Mengapa kau tidak pernah menghubungiku selama ini!" potong Shanum sambil terisak keras.


Suara kesiap napas terdengar dari dalam telepon. Sergei melihat ke arah layar, melihat wajah Khan. Wajah pria itu membeku. Namun kemudian, perlahan bibirnya mulai melengkung, membentuk sudut-sudut senyum yang terlihat dalam. Khan menampakkan senyum bahagia. Semua terlihat hingga ke pancaran matanya.


Khan berdeham. "Sepertinya aku tidak jadi membunuhmu, Sergei. Sekarang berikan ponsel ini pada kekasihku. Aku ingin bicara kepadanya."

__ADS_1


__ADS_2