Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 50 Kembali ke Titik Awal


__ADS_3

Pagi itu Shanum tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Salah satu tangannya menggenggam erat ponsel, sementara bibirnya berkomat-kamit menggumamkan kata-kata, "Telepon... jangan... telepon..."


Gadis itu mengusap dadanya, sambil menarik napas dalam. Jantungnya berdebar kencang, dan perutnya terasa mulas karena gugup. Namun akhirnya gadis itu menekan juga tombol on, dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Dia melangkah ke sofa di depan ranjangnya lalu menghempaskan bokongnya di sana.


Hingga bunyi nada panggilan berakhir, tetap tidak ada sahutan yang terdengar, panggilannya tidak diangkat. Shanum bedecak kesal, lalu mencoba memanggil kembali. Hal itu dilakukannya berkali-kali. Dan setelah dua puluh panggilan tak terjawab, ia mulai frustasi.


Gadis itu menggigit bibirnya. Dia cemas mengira-ngira penyebab Khan tidak menjawab panggilannya. Apakah pria itu masih marah padanya? Oh, sungguh bodoh kau Shanum! Kau berani mengusik ego pria itu. Tapi giliran pria itu benar-benar marah, kau malah kelimpungan sendiri.


Shanum kembali menghela napasnya, lalu beranjak menuju ranjang. Dia masih memegang ponsel. Ragu-ragu apakah akan mengirimkan pesan kepada pria itu atau tidak. Tapi setidaknya dia sudah mencoba. Jika Khan tidak merespon juga dia akan meminta Sergei membantunya kembali.


Sebenarnya dia sungkan menjadi terlalu bergantung kepada Sergei. Tapi apa mau di kata, hanya pria itu yang bisa membantunya. Shanum duduk di pinggir ranjang, dia mulai mengetikkan sesuatu di aplikasi pesan.


Sesaat dia terdiam, jarinya berhenti menekan deretan tombol pada layar ponsel. Ia mengerutkan kening, tampak memikirkan apa yang ingin dia katakan pada pria itu. Ia berdecak, kemudian jarinya kembali bergerak lincah di atas layar ponsel.


Shanum membaca kembali pesan yang telah ia ketik, dan pesan itu berisi :


*Adri... tolong maafkan aku. Jangan marah lagi ya. Aku ingin bicara padamu. Tolong hubungi aku jika kau sudah senggang, atau tinggalkan pesan kapan pun aku bisa menghubungimu.


Love


Shanum*


Ia berharap pria itu mau membalasnya. Agar situasi di antara mereka dapat berjalan dengan baik kembali. Dan semoga ia juga bisa merubah pikiran Khan untuk tidak jadi membunuh Pak Reno. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada pria itu. Walau bagaimanapun Pak Reno dosennya, dan dia masih memiliki tekad untuk menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu.


Suara ponsel berdering membuat wajahnya terlihat cerah. Ia langsung melihat layar ponselnya. Namun kemudian wajahnya kembali muram saat membaca nama yang tertera di layar bukan nama yang sedang ia tunggu-tunggu sejak tadi panggilannya.


"Halo..."


"Shanum, apakah kau bisa ke rumah saya hari ini? Untuk melanjutkan bimbingan. Saya belum bisa ke kampus, jadi kita bimbingan di rumah saya saja ya."


"Baik, Pak Reno," jawab Shanum singkat.


Shanum sebenarnya sedang tidak ingin bertemu dengan pria itu. Tapi dia tidak bisa mengulur-ulur waktu. Jika ia ingin cepat lulus, berarti ia juga harus rajin bimbingan.


Pak Reno lalu berdeham. "Oke, saya tunggu ya, Shanum. Nanti saya infokan alamat rumah saya."


"Baik, Pak," jawabnya lagi.


"Terima kasih, Shanum."


Lalu panggilan berakhir. Shanum menghembuskan napasnya. Dia menjadi serba salah. Di satu sisi adalah pria yang dia cintai, dan di sisi lain adalah pria pembimbingnya di tugas akhirnya.


Gadis itu lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar. Pandangannya menerawang. Dia teringat kembali kata-kata manis Khan saat di rumah Diva. Dia tampak tersenyum sendiri, mengenang ungkapan cinta dan rindu dari pria itu.


Ekspresi wajah Khan saat resah, dan tersiksa pada awalnya. Dan akhirnya saat Shanum melunak dan membalas dengan senyuman lembut, terlihat pandangan penuh suka cita dari Khan. Membuatnya berdesir, bahkan hanya dengan mengingatnya kembali.


Di dalam dadanya, terasa suatu getaran yang meluruh jatuh bertubi-tubi, hingga membuatnya harus menarik napas dalam setiap kalinya. Shanum kembali tersenyum sendiri sambil mengusap dadanya.


Cintanya ternyata berbalas manis. Dia tidak mengira pria itu sungguh-sungguh memikirkannya. Meski sesudahnya mereka kembali bertengkar. Dan hal itu membuat dirinya gundah.


Entah mengapa sepanjang malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lebih sering terbangun, karena dia merasa ada seseorang yang menyebutkan namanya dengan pilu. Dia tidak tahu apakah keresahannya ini berhubungan dengan pria itu atau tidak.


Terkadang mereka memiliki koneksi terhadap satu sama lain yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata atau pun dipikirkan dengan akal sehat.


Setelah ini, apa yang harus dilakukannya? Hubungan dengan sikap posesif tidak terkontrol, tidaklah sehat. Dia tidak mau dicurigai dan dipaksa untuk menerima setiap ultimatum pria itu, tanpa adanya kompromi.


Harus menelan rasa pahit penyesalan terhadap setiap kata-kata amarah yang ia terima, atau pun lontarkan. Dia mengerti mereka berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Tapi bukan berarti dengan adanya perbedaan itu, mereka tidak bisa membicarakannya secara baik-baik.


Shanum ingin hubungan cintanya terjalin dengan rasa percaya, menghargai, dan kejujuran. Sesekali cemburu dan perdebatan mungkin tidak masalah, sebagai bumbu dalam setiap percintaan. Tapi jika sering terjadi tentunya ada yang salah dalam hubungan itu.


Kemudian dia melihat kembali ponselnya. Masih belum ada balasan pesan dari pria itu. Pesan yang masuk hanya informasi alamat Pak Reno. Shanum lalu beranjak dari ranjang. Dia harus segera mempersiapkan diri menghadapi Pak Reno.


***


Shanum di minta menunggu di sebuah ruangan tamu, yang lebih didominasi oleh warna biru muda dan akuamarin. Rumah Pak Reno cukup besar, meski tidak sebesar mansion Khan. Tapi tetap saja besar menurutnya.


Gadis itu melihat sekelilingnya, dia mendesah kagum. Dari buku desain yang pernah ia baca, desain interior ruangan ini menggunakan konsep Vintage. Di mana menggunakan furnitur jadul dengan model yang pernah populer di masa lampau sebagai ciri khasnya.


Meja yang berada di hadapannya, kursi yang ia duduki, dan lemari buku yang berada di sudut ruangan merupakan salah satu furnitur jenis jengki, yang populer pada tahun 1950 hingga 1970-an. Ciri khas furnitur model ini adalah penggunaan material kayu dengan bentuk kaki mengerucut dan tidak tegak lurus.


Di dekat lemari buku juga terdapat jam antik besar berwarna coklat gelap. Dan di atas meja di hadapannya, terdapat vas bunga berukuran sedang dengan corak yang unik. Secara keseluruhan ruangan ini sangat disukai olehnya.

__ADS_1


"Maaf sudah menunggu lama, Shanum." Sebuah suara menyapanya, dan dia seketika menoleh ke arah pintu. Pak Reno berjalan mendekatinya sambil membawa baki berisi minuman dan beberapa kue.


Shanum langsung berdiri dan berniat mengambil baki dari tangan pria itu. "Kok Pak Reno yang bawa, bukan pelayan?" tanyanya.


"Tadinya memang pelayan yang membawanya dari dapur, namun saya ambil alih saat bertemu di dekat pintu ruangan ini."


"Tidak perlu, Shanum. Kau duduk saja biar saya yang menyajikannya di meja."


"Pak Reno tidak perlu repot-repot. Saya jadi tidak enak ini," katanya pelan.


"Tidak merepotkan kok, Shanum. Cuma air dan sedikit kue saja."


Pak Reno meletakkan baki itu di atas meja, kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Shanum.


Dia tersenyum lembut pada Shanum lalu berkata, "Bagaimana kabarmu, Shanum?"


"Seharusnya saya yang bertanya begitu, Pak. Bagaimana kabarnya?" Gadis itu bertanya sambil tersenyum tipis.


"Saya baik-baik saja, Shanum. Semua berkat dirimu."


Shanum terpaku, lalu menggeleng. "Saya tidak punya andil apa-apa, Pak."


"Panggil saja Reno saat kita sedang berdua," ucapnya sambil menatap dalam pada Shanum.


Shanum tertegun. "Tapi..."


"Saya memaksa!" potongnya.


Gadis itu menghela napasnya, "Baiklah!"


"Coba ucapkan..." kata Pak Reno lagi.


Shanum menelan ludahnya. "Bukan saya yang menyelamatkan nyawa Anda, em... Reno."


Pak Reno tersenyum sangat manis. Hingga sesaat membuat Shanum terpukau. Oh Tuhan, Shanum!Masa kau jadi salah tingkah sih hanya karena melihat senyumnya. Tidak boleh, ingat, kau punya Khan Adrian!


"Saya tetap akan menganggap kau yang menyembuhkan saya, Shanum. Meski kau tidak mau mengakuinya, tapi saya tidak peduli."


"Perasaan saya yang mengatakannya."


"Pak... eh Reno." Pria itu mengangkat alisnya saat Shanum kembali memanggilnya dengan sebutan Pak.


"Sebenarnya waktu itu saya hanya menengok Anda. Saya merasa bersalah karena sudah membuat Anda celaka. Dan saya tidak datang sendiri, kedua sahabat saya juga ikut. Cuma mereka tidak bisa ikut masuk. Jika bukan karena kebaikan hati salah satu perawat, saya mungkin tetap tidak bisa masuk ke ruang ICCU tempat Anda dirawat."


Shanum menjelaskan secara garis besarnya saja, minus pengakuan bohong kepada perawat malang yang menjadi korban penipuan mereka bertiga saat itu.


"Oh ya, terus bagaimana penjelasanmu tentang kejadian yang bersamaan setelah kau datang saya menjadi sadar dan sembuh secara ajaib?"


Shanum berusaha menutupi kegugupannya dengan tersenyum lebar lalu berkata, "Mungkin Anda diberkati Yang Kuasa. Tuhan memberikan keajaibannya. Dan saya sangat bersyukur, bisa melihat Anda sembuh."


Pria itu memicingkan matanya. Pandangannya menelisik tajam ke arah Shanum. Dia sepertinya masih tidak percaya kepada kata-katanya.


"Jika saya yang menyembuhkan Anda, apakah Anda memiliki buktinya?" tanya Shanum lagi.


Pria itu mendesah. "Sayangnya, saya tidak punya bukti selain rekaman CCTV itu. Kau yakin bukan kau yang menyembuhkan saya?"


"Anda masih memiliki rekaman CCTV itu? Katanya sudah dihapus," sindir Shanum sambil memutar bola matanya.


"Saya menyimpannya untuk koleksi pribadi. Em, sangat suka melihatmu mengusap rambutku di rekaman itu. Seakan-akan kau sangat menyayangiku." Pria itu menatap Shanum dengan dalam.


Shanum berdeham. "Dan dengan apa saya menyembuhkan Anda, Reno? Saya tidak punya pengetahuan tentang medis. Ilmu meracik obat-obatan juga tidak punya." Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan, dia merasa jengah mendengar kata-kata tentang rasa sayangnya itu.


"Mungkin kau punya ilmu tenaga dalam yang kuat, sehingga bisa menyembuhkan orang yang sakit," sahut pria itu masih dengan keyakinannya.


Shanum langsung terkekeh geli. "Sepertinya Anda terlalu banyak menonton film atau membaca buku fantasi, Reno."


Pak Reno mendengus. "Bukan bacaan dan tontonan kesukaan saya."


"Oh, saya rasa, saya dapat menebak tontonan dan buku favorit Anda," sahut Shanum lagi.


"Cobalah, saya ingin tahu tebakanmu," jawab pria itu sambil menyeringai.

__ADS_1


"Kau pasti suka tontonan yang menguras adrenalin, seperti film horor atau film action yang sadis. Dan untuk bacaan pasti tentang gosip yang seru dan menarik."


Pria itu lalu meledak tertawa. "Kau sangat menghibur. Namun semuanya salah, Sayang!"


Shanum tampak berjengit kaget mendengar kata-kata sayang yang keluar lagi dari bibir pria itu.


"Em, Reno, please! Jangan ucapkan kata-kata itu. Saya tidak enak mendengarnya. Anda kan dosen saya, dan saya hanya salah satu dari mahasiswa Anda."


Pria itu berhenti tertawa dalam sekejap. Dia mengangkat alisnya. 'Memangnya kenapa? Saya menyayangimu, dan saya sudah pernah bilang kan, saya ingin kau menjadi kekasih saya."


Wajah Shanum mendadak keruh. "Maaf Pak, saya tidak bisa."


"Kok kembali menjadi Pak!" protes pria itu.


"Dan mengapa tidak bisa?" tanyanya lagi.


Shanum tidak menjawab, ia menggeleng. Kemudian dia teringat skripsinya yang masih berada di dalam tas. Ia langsung meraih tasnya, lalu berkata, "Em, ini bab yang sudah saya perbaiki dan juga bab selanjutnya. Silahkan diperiksa ya."


Shanum mengeluarkan kumpulan kertas dari dalam tasnya, dan meletakkannya di atas meja menghadap ke pria itu.


"Kau mengalihkan pembicaraan, Shanum," ucap pria itu dengan geli.


"Tapi tidak apa-apa, saya akan periksa dulu skripsimu. Setelah itu kau harus menjawab pertanyaanku tadi. Ingat, kau masih berhutang padaku. Kau pernah berjanji untuk menjawab apa pun yang ingin kutanyakan saat di telepon tempo hari."


Gadis itu memucat. Ah, kejadian memalukan itu masih mengejarnya juga. Dan pria ini masih ingat lagi. Sungguh sial nasibnya!


"Kau masih ingat kan, Shanum?" tanyanya sambil tersenyum smirk.


"Eh, i... iya," jawab gadis itu terbata-bata.


Kemudian pria itu memakai kacamatanya, dan mulai memeriksa sekumpulan kertas yang diletakkan Shanum tadi.


Tiba-tiba terdengar suara dering panggilan dari ponselnya. Shanum langsung membuka tas dan mengambilnya. Matanya membulat lebar ketika melihat nama yang tertera di layar.


Dia seketika mematikan panggilan tersebut. Lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Tak berapa lama ponsel itu berbunyi kembali. Shanum menggigit bibirnya, wajahnya terlihat semakin gugup.


Pak Reno mendongak dan menatapnya. "Angkat saja Shanum. Siapa tahu penting."


Shanum menghembuskan napasnya, lalu mengambil kembali ponsel itu. Mata Shanum terbelalak, panggilan vicall terpampang di layar. Dan yang menelepon masihlah orang yang sama.


Oh, tidak... Celaka kau, Shanum!


Shanum melirik ke arah Pak Reno, dan pria itu masih memperhatikannya sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak diangkat?" tanyanya heran.


"Maaf, saya harus keluar dulu dari sini. Panggilannya vicall, Pak." Gadis itu lalu beranjak dari duduknya, dan mendekat ke arah pintu. Dia menyandar di balik pintu dan mengangkat panggilan itu.


Shanum melihat wajah tampan yang ia resahkan sejak kemarin. Pria itu terlihat kaku. "Kenapa kau menolak panggilanku, Shasha? Sedang berada di mana kau?"


Shanum berdeham. "Em, aku sedang bimbingan di rumah dosenku, Adri. Maaf tadi salah tekan tombol. Aku tadi kaget saat kau tiba-tiba telepon."


Wajah pria itu mengeras. "Dosen yang kau ceritakan kemarin itu?"


Shanum mengangguk. "Siapa itu, sayang?" Mendadak Pak Reno muncul dari balik pintu. Matanya menyelidik, penuh rasa ingin tahu.


Astaga, Pak Reno! Membuat situasi tambah runyam saja. Bisa-bisa terjadi perang dunia lagi ini antara dia dan Khan. Yang kemarin saja belum selesai. Bagaimana lagi dia bisa meyakinkan Khan untuk tidak membunuh pria itu?


Shanum langsung membalik layar ponselnya ke arah bawah. "Eh... tidak Pak, cuma teman saya yang menelepon. Dan Pak, tolong jangan memanggil saja dengan panggilan itu terus dong. Saya mendengarnya risih, Pak," protes Shanum.


"Mulai lagi, kan sudah saya bilang panggil Reno saja. Terus saya memanggilmu begitu karena saya memang sayang sama kamu, Shanum."


Oh, Tuhan...


Wajah Shanum semakin pucat pasi. Dia mendadak pusing. "Kenapa wajahmu menjadi pucat?" tanya Pak Reno.


"Sebaiknya kau berikan ponsel ini kepada pria tidak tahu diri itu, Shasha! Aku ingin bicara empat mata dengannya." Terdengar nada suara serak dan angkuh milik Khan.


Shanum menoleh ke arah Pak Reno sambil meringis malu. Dia langsung bergerak agak menjauh dari Pak Reno, dan membalik ponselnya kembali. Khan terlihat mengertakkan rahangnya. Matanya berkilat coklat keemasan. Wajahnya sangat kaku menahan amarah.


"Adri, please! Jangan seperti ini. Aku putuskan dulu sambungannya ya. Nanti aku hubungi lagi," ucapnya pelan dengan wajah penuh permohonan.


"Tidak bisa, Shasha. Kau harus memilih. Jika kau memutuskan sambungan ini berarti kau memilihnya. Tapi jika kau memberiku kesempatan untuk berbicara dengan pria itu berarti kau memilihku. Silahkan dipilih, Sayang!"

__ADS_1


__ADS_2