
Shanum tidak meladeni kalimat narsistik pria itu. Meski di kepalanya tetap terngiang-ngiang ucapannya juga.
Tidak perlu terkesima begitu, Manis. Aku tahu kalau aku ini mengesankan. Hingga membuatmu tidak bisa lepas dariku, hmm...
Shanum mendengus sembari memutar bola matanya. Lebih baik ia melanjutkan makannya saja yang tadi sempat tertunda. Daripada memikirkan ucapan pria itu yang kelewat berlebihan.
Beberapa saat kemudian saat mereka sudah menyelesaikan makan. Shanum mendadak teringat ucapan pria itu kalau dia melarikan diri dari acara Seleksi dan posisinya digantikan oleh orang lain yang bisa menyamar menjadi dia.
Shanum berdeham, lalu berkata, "Adri, jika kau sedang meminta orang lain untuk menggantikanmu, bukankah seharusnya kau bersembunyi? Jika ada yang tanpa sengaja melihat dirimu berada di dua tempat yang berbeda, bukankah para tetua itu akan curiga."
Khan tersenyum menanggapi ucapan Shanum. "Aku tidak akan terlihat di dua tempat yang berbeda, Shasha. Karena orang lain yang melihatku, tidak akan mengenali sosokku sebagai Khan Adrian. Tapi sebagai orang lain yang tidak mereka kenal. Aku menggunakan sihir penyamaran setelah keluar dari mansion."
Shanum terkesima. "Kau serius?! Tidak sedang bercanda kan?" Shanum masih meragukan kebenaran sihir penyamaran itu.
"Aku tidak sedang bergurau. Aku memang menggunakan sihir penyamaran itu," jawab Khan singkat.
"Tapi mengapa aku masih tetap melihat sosokmu yang asli, Adri? Bukannya sosok penyamaranmu," desak Shanum.
Khan menyentil kening Shanum. "Kau itu, terkadang pintar sekali ya. Coba saja pikirkan kenapa aku muncul dengan sosok asliku di hadapanmu?" Dia bersedekap sambil mengangkat sebelah alisnya.
Gadis itu mendengus. "Heran ya, ditanya kok malah balik bertanya. Menyebalkan!" Shanum terlihat bersungut-sungut sendiri mendengar jawaban pria itu.
"Belum juga dipikirkan sudah cemberut. Ayo, coba dijawab pertanyaanku. Masa begitu saja tidak bisa." Khan menatap Shanum dengan pandangan meremehkan.
Shanum menipiskan bibirnya. Tapi dia tampak memikirkan juga maksud pria itu. Setelah beberapa detik yang berlalu, gadis itu menoleh ke arah Khan.
Dia memutar bola matanya dan berkata, "Iya, aku ini telat berpikir, alias bodoh. Kalau kau datang dengan sosok penyamaranmu itu, aku pastinya akan segera membanting pintu, karena tidak mengenalimu kan."
"Nah, itu benar. Jadi aku sudah tidak perlu menjawab lagi kan," godanya sambil tersenyum smirk.
Shanum mengerucutkan bibirnya sembari melengos, lalu mengambil tasnya. Dia segera bangkit dari duduk, dan meninggalkan Khan yang terlihat menggelengkan kepalanya.
Khan tidak mengerti dengan wajah masam gadis itu. Dia menghela napasnya dan terlihat membatin.
Wanita itu memang makhluk yang sukar dimengerti. Yang bertanya siapa, yang ujung-ujungnya marah juga siapa.
Kemudian Khan berdiri dari duduknya, dan bergerak menghampiri Shanum. Gadis itu sibuk berinteraksi dengan wanita yang menjaga kasir, dia tetap mengacuhkannya.
Khan menyugar rambutnya tampak frustasi. Namun pria itu tidak mengatakan apa pun, dia diam saja meski gerakan tubuhnya terlihat gelisah.
"Shasha, aku saja yang membayar." Khan memberikan kartunya. Shanum tanpa banyak bicara memberikan kartu itu kepada wanita yang menjaga kasir. Wanita penjaga kasir itu tampak tersenyum malu-malu dan gugup. Khan tidak menggubrisnya. Wajahnya tetap datar dan dingin.
Setelah proses pembayaran selesai, Shanum langsung berjalan keluar dari restoran itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Khan. Pria itu sempat melongo sesaat karena ditinggal. Namun melihat Shanum semakin menjauh, ia akhirnya berjalan cepat, dan berusaha mensejajari langkah Shanum.
"Shasha, ada apa denganmu? Mengapa menjadi marah padaku? Aku kan hanya menggodamu. Oke, maaf, kalau aku keterlaluan," ucap Khan dengan nada bingung.
Shanum menghentikan langkahnya. Matanya melotot ke arah Khan. "Aku kesal denganmu. Karena kau menyebalkan." Setelah itu Shanum kembali melangkah cepat.
"Menyebalkan bagaimana? Hei, tunggu aku!" teriak Khan. Shanum mempercepat langkahnya. Lalu dia membuka kunci otomatis mobil, dan masuk ke dalamnya. Khan menyusul di belakang Shanum, ia membuka pintu penumpang depan dan ikut masuk.
Shanum tidak langsung menyalakan mobil. Dia terdiam sambil menunduk, memegang setir. Sebenarnya Khan mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh gadisnya.
Tapi pria itu tidak mau memperkeruh suasana yang sudah panas. Meski di sepanjang perjalanan menuju mobil tadi, dia meringis ngeri mendengar sumpah serapah yang diucapkan gadis itu dalam hatinya.
Dari mulai ingin menamparnya bolak-balik, memukulinya sampai babak belur, dan yang terakhir yang tak kalah sadis adalah gadis itu ingin menjambak rambutnya sampai botak.
Khan tidak berani membayangkan bagaimana rupanya jika semua itu terjadi. Dan ia tidak mau memancing hal itu sampai terjadi. Meski Khan masih meragukan kalau gadis itu akan pernah berbuat setega itu kepadanya.
Dengan gerakan perlahan, Khan beringsut mendekati Shanum. Pria itu bertekad semua kesalahpahaman ini harus selesai saat itu juga. Ia tidak mau semuanya semakin berlarut-larut.
"Shasha, hei... Jangan begini! Aku tidak mau selama berada di sini hubungan kita malah memburuk. Aku sudah berjuang untuk sampai ke sini. Untuk bisa bertemu denganmu, dan melepaskan segala kerinduanku."
Shanum mengangkat kepalanya, lalu menoleh. Dia menatap Khan. Pria itu memandang balik dengan lembut. Ekspresi gadis itu tetap datar, dan dia memutuskan koneksi mereka. Khan tersenyum tipis, sepertinya gadisnya ini sudah pintar menguasai pikiran dan batinnya agar tidak dapat dibaca olehnya.
Khan merasa gelisah saat melihat bibir gadis itu semakin menipis dan matanya berkilat tajam. Apalagi yang harus dilakukannya agar Shanum tidak bersikap kesal dengannya.
__ADS_1
Sementara Shanum, dia berusaha mengekang amarahnya. Mendengar kata-kata Khan tentang perjuangannya untuk bisa sampai ke kotanya, seolah-olah langsung menohok dirinya.
Gadis itu sadar, banyak yang sudah dilakukan pria itu untuk bertemu dengannya. Dan dia tidak ingin amarah sesaat merusak segalanya yang terjadi diantara mereka.
Shanum berdeham. "Aku kesal karena kau tidak mau bercerita lengkap tentang penyamaran itu, tentang Seleksi, tentang wanita-wanita yang berkencan denganmu untuk proses Seleksi. Dan hal lainnya yang kau lakukan serta rasakan selama di sana."
Mata Khan membulat sempurna, dia terpana bingung. "Kau yakin ingin mengetahui semua yang kau ungkapkan itu. Terutama tentang para wanita yang tidak penting itu," ucap Khan dengan wajah tak percaya.
Shanum hendak membuka mulutnya, dia ingin menimpali ucapan pria itu. Namun sebelum dia berhasil mengeluarkan suaranya, Khan kembali berbicara.
"Yaa, bagiku mereka tidak berarti apa-apa. Mereka hanya sekumpulan wanita berisik, dan pesolek. Meski wajah mereka cantik, namun tidak menimbulkan getaran apa pun bagiku. Hanya kaulah yang terpenting dan hanya kaulah yang bisa menggetarkan hatiku."
Shanum berdeham. "Aku merasa tersanjung. Tapi tetap saja aku ingin tahu. Kau pernah mengatakan bahwa aku akan ikut juga nantinya dalam Seleksi itu kan. Jadi, ibarat berperang, aku harus tahu dulu siapa yang menjadi lawanku, dan seperti apa mereka."
Khan tersenyum menanggapinya. Dia meraih dagu Shanum dan mengusapkan ibu jarinya di sana. "Kau tidak perlu cemas, Shasha. Mereka tidak akan menang, tidak akan pernah berhasil. Tetap saja keputusan akhirnya ada pada diriku. Dan aku sudah memilih sejak awal, bahwa hanya kau yang berhasil memenangkan diriku."
Shanum mengulum senyum tipis, dia meraih jemari Khan yang berada di dagunya. Lalu memindahkannya ke pipi. Dia menempelkan telapak tangan Khan di sana, sekilas menciumnya.
Khan mendesah, matanya berkilat, dan dia terpaku. Shanum langsung tersadar. Dia secara refleks menarik lepas pegangannya dari tangan Khan. Tangan itu jatuh seakan-akan lemas menerima sentuhan dari Shanum.
Khan mengejapkan matanya. "Kenapa dilepas?" tanyanya serak. Shanum bergerak-gerak gelisah di tempatnya duduk. Dia tersenyum malu. "Aku tadi lupa kalau itu bisa, em... membuat kau terpancing."
"Aku sudah bisa menguasainya. Jadi, bolehkan aku merasakannya lagi?" Khan meminta Shanum kembali meletakkan telapak tangannya di pipinya.
Shanum menggeleng sambil meringis malu. "Maaf, momennya sudah lewat." Shanum langsung menyalakan mobil. Gadis itu sempat melirik ke arah Khan sebelum dia memasukkan gigi mundur. Dia melihat pria itu memandangnya sambil tersenyum tipis, dan menghela napasnya.
"Sekarang kita mau kemana lagi? Kau ada tempat yang ingin dituju selanjutnya? Atau mau aku antar ke hotel saja. Kau menginap di hotel kan, Adri? Atau kau punya tempat tinggal di sini?" tanya Shanum sambil melirik pria itu.
"Tidak, aku tidak ingin kemana-mana lagi, dan tidak, aku tidak memiliki tempat tinggal di sini. Kita ke hotelku saja. Di sana aku akan menjelaskan semua tentang Seleksi dan rencana penyamaranku."
Shanum mengangguk. "Jangan lupa kau katakan hotel tempatmu menginap." Khan mengangguk, ia lalu mengatakannya pada Shanum. Dan gadis itu melajukan mobilnya menuju hotel bintang lima yang berada di pusat kota itu.
***
Keesokan harinya gadis itu sudah kedatangan tamu istimewa saat dia hendak berangkat ke kampus. Siapa lagi kalau bukan Khan Adrian. Pria itu memaksa ikut dengannya hari ini ke kampus. Dia sudah bertekad untuk ikut kemana pun Shanum pergi.
Namun Khan dapat meyakinkannya dan berjanji, dia tidak akan mengganggu kegiatan gadis itu. Mereka tidak harus berjalan-jalan terus setiap hari.
Bagi Khan, waktu yang dihabiskan bersama dengan Shanum sungguh berharga. Ia tidak ingin kehilangan momentum itu, meskipun ketika waktunya beristirahat di malam hari, pria itu harus pulang kembali ke hotel.
Sesampainya di kampus, Shanum langsung menuju tempat yang sudah ditentukan untuk bertemu dengan Farah dan Diva. Khan ikut berjalan di sampingnya.
Sepanjang jalan yang dilewati oleh mereka, Shanum mendapati bisik-bisik dan wajah penuh kekaguman dari gadis-gadis penghuni kampus. Gadis itu melihat sekelilingnya dengan heran.
Dia menatap penampilan dirinya dan Khan, tidak ada yang aneh dari mereka. Akhirnya Shanum tidak menggubrisnya. Saat menemukan mereka terlihat normal, dia terus melangkahkan kakinya ke tempat yang dituju.
Khan juga tampak acuh, wajahnya dingin dan kaku seperti ekspresinya yang biasa dia lakoni dalam kesehariannya. Dia tetap mengikuti langkah Shanum dengan mantap. Sesampainya di taman belakang, Shanum mendapati kedua sahabatnya belumlah datang.
Gadis itu memperhatikan sekelilingnya, dia mencari tempat duduk yang nyaman dan jauh dari jangkauan pendengaran orang lain. Gadis itu berjaga-jaga seandainya terjadi percakapan yang serius dan rahasia diantara mereka nantinya.
"Kita duduk di sini dulu ya, Adri. Aku menunggu kedua sahabatku, ada yang mau kubicarakan dengan mereka. Khan menganggukkan kepalanya.
Tak berapa lama kedua sahabatnya sampai. Di samping Diva ada juga Sergei yang mengikuti. Shanum tersenyum sambil melambai pada mereka. Ketiganya terlihat serius menatap ke satu titik. Dan tidak menggubris lambaian Shanum.
Gadis itu mengerutkan keningnya, dia mencari-cari obyek yang ditatap dengan serius oleh ketiga orang tersebut. Dan Shanum menemukan obyek tersebut, yang diperhatikan oleh mereka ternyata adalah Khan.
Ah, mereka pasti bingung aku bersama dengan siapa. Karena Adri masih menggunakan sihir penyamarannya.
"Hei, Diva... Farah. Ada apa? Kok wajah kalian aneh begitu." Shanum pura-pura tidak mengerti, dia ingin mengetahui apakah tebakannya tepat sasaran atau tidak.
"Sebaiknya kau menyingkir dari sana, Shanum. Pria di sebelahmu ini bisa jadi berbahaya. Dia tidak terlihat seperti wujud aslinya." Sergei langsung memperingatkan terang-terangan kepada Shanum.
Shanum menoleh ke arah Khan. Dia melihat pria itu mengangkat alisnya sambil tersenyum smirk. "Ternyata kau tidak bisa dibohongi Sergei. Aku harus lebih berhati-hati lagi sepertinya. Takutnya ada lagi orang yang memiliki kekuatan mendeteksi sesuatu sekuat dirimu di luaran sana."
"Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?" Sergei tampak curiga. Shanum langsung menepuk paha Khan. Dia memberikan isyarat mata kepada pria itu untuk membuka penyamarannya. Khan hanya mengangkat bahunya, dan tetap diam. Yang terlihat dari bibirnya hanya senyum smirk kembali.
__ADS_1
"Siapa dia Shanum? Apa dia saudaramu? Tapi kalau saudara masa sih setampan itu," tanya Diva heran.
"Tidak mungkin Shanum punya keluarga yang wajahnya seperti artis Hollywood begitu," sahut Farah sambil memicingkan matanya.
"Artis Hollywood?" Shanum menoleh kembali ke arah Khan. Dia melotot sembari mencubit pinggang pria itu. "Pantas saja tadi para gadis-gadis itu banyak yang berbisik-bisik, melirik, dan tersenyum genit kepadamu," ucap Shanum.
"Aku ingin lihat wujud kamuflasemu itu. Sekarang!" ucap Shanum dengan suara ketus.
Khan menghembuskan napasnya. Lalu dia melebarkan telapak tangannya dan menggoyangkannya di depan mata Shanum dengan perlahan. Gadis itu mengerutkan keningnya, dan saat dia melihat kembali ke arah Khan. Dia tertegun. Matanya tidak bisa berkedip.
Shanum melihat pria dengan ketampanan mirip aktor Hollywood, seperti kata-kata Farah tadi. Khan berubah menjadi pria dengan rambut ikal berwarna keemasan, ada belahan menggemaskan di dagunya, bola mata berwarna biru terang, hidung yang sangat mancung, dan bibir yang terlihat menggiurkan untuk dicium.
"Kenapa kau melongo, Sayang? Kau lebih suka penampilanku yang ini atau yang aslinya," tanya Khan dengan suara menggoda.
Shanum tidak menjawab. Seketika dia kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu. Dia tidak menyangka sosok samaran Khan akan sangat seksi seperti itu.
"Well, ternyata Yang Agung, yang sedang menyamar." Sergei menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum geli.
"Astaga, Anda Khan Adrian?" tanya Diva sambil membekap mulutnya.
"Menurutku, lebih tampan wujud yang ini daripada yang aslinya. Jadi di mana aku bisa menemukan orang yang sosoknya kau tiru ini, Sir." Farah berbicara sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, aku lebih suka yang asli. Yang ini terlalu menyilaukan dan menggiurkan. Aku tidak sanggup melihatmu menjadi obyek fantasi setiap wanita yang melihatmu. Tolong kembalikan penglihatanku, Adri." Shanum memberikan isyarat pada pria itu untuk segera mengembalikan penglihatannya.
Khan kembali tersenyum menggoda. "Oh, jadi sosok asliku tidak menggiurkan," ledek pria itu.
"Em, terus terang tidak. Kau terlalu kaku dan dingin, Adri. Kesan pertama para wanita pastinya bukan seperti itu terhadapmu. Kau bukan menggiurkan, tapi memancing rasa penasaran. Setidaknya itu yang aku rasakan saat pertama kali bertemu denganmu." Shanum menjelaskan apa adanya yang dia rasakan terhadap Khan sembari tersenyum.
Dan Khan menatap Shanum dengan dalam, pria itu tersenyum lembut kepadanya. "Aku senang kau selalu penasaran padaku, Shasha. Berarti kau tidak akan pernah bosan padaku," bisiknya di telinga gadis itu.
Sergei lalu berdeham. "Yang Agung, kapan kami bisa melihat sosok aslimu. Aku juga lebih suka melihat yang asli, sosok yang ini membuatku gelisah. Karena sangat mirip dengan orang yang kukenal."
"Kau kenal dengan sosok ini?" tanya Shanum pada Sergei. "Mirip sih, tidak sama persis. Tapi tetap saja tidak nyaman melihatnya," jawab Sergei.
"Dan, dilarang bisik-bisik mesra di sini, Sir. Ini kampus, nanti kalau terkena razia bisa repot," tambah Farah asal. Gadis itu juga terlihat menyeringai ke arah Khan.
"Huss, jangan asal bicara. Tidak ada razia di kampus. Memangnya ini di jalan, ada razia tilang," sahut Diva sembari menepuk pundak Farah.
"Hei, jangan ribut. Ayo, Adri, lakukan. Aku habis ini harus bimbingan, nanti telat," desak Shanum.
"Oke, aku lakukan." Khan lalu bergantian melakukan hal seperti yang dilakukannya tadi kepada Shanum. Dia menggerakkan telapak tangannya di depan mata Sergei dan kedua sahabat Shanum.
"Kau berhutang penjelasan kepada kami, Sha," bisik Diva.
"Iya, nanti aku jelaskan, Diva. Sudah ya, aku harus bimbingan dulu," kata Shanum.
"Oh iya, aku titip Adri ya, Sergei. Kau menunggu Diva sampai selesai bimbingan kan?" katanya lagi. Sergei mengangguk, menjawab Shanum.
"Tidak, aku ikut kau, Shasha," potong Khan dengan tegas.
Shanum memutar bola matanya. "Tidak bisa, Adri. Aku harus masuk ke ruangan Pak Reno. Masa kau mau ikut juga. Memangnya aku anak kecil yang harus didampingi terus," protes Shanum.
"Aku akan menunggu di luar ruangan saat kau bimbingan. Dan jangan cemas, aku akan bersiaga penuh. Aku akan memantau semua yang terjadi di dalam ruangan itu. Agar kau tetap aman."
"Itu yang tidak aku inginkan, Adri. Sudah kau tunggu saja dengan Sergei ya. Aku selesai setengah jam lagi kok. Please..."
Shanum mengusap pipi Khan, dan menatapnya dengan pandangan memelas. Khan menghembuskan napasnya. Dia sudah pasti kalah jika gadis itu memperlihatkan wajah memohonnya itu. Ditambah lagi dia juga menerima usapan lembutnya.
"Oke, aku menunggu bersama Sergei. Kau tidak boleh lebih dari waktu tiga puluh menitmu itu ya. Kalau lewat dari waktu itu, aku akan mencarimu."
"Iya, jangan cemas." Shanum menjawab sambil tersenyum manis. Lalu dia mengambil tangan Khan dan mencium punggung tangannya.
Terima kasih. Aku cinta padamu.
Shanum mengucapkan kata-kata itu dalam pikirannya dan mengirimkannya melalui ikatan mereka. Setelah berkata begitu Shanum langsung bergegas pergi bersama dengan kedua sahabatnya sembari melambai.
__ADS_1
Khan termenung. Dia kaget menerima perlakuan Shanum dan kata-kata cinta yang jarang diucapkan oleh gadis itu. Meski tidak diucapkan secara langsung. Tapi Khan mendengarnya, di dalam pikirannya, dan hatinya ikut bergetar juga.