
Shanum memejamkan matanya dan membiarkan penegasan Khan menyerap dalam dirinya. Lalu dia menegakkan tubuh. "Baiklah, jika memang kau bersikeras ingin berbicara padanya."
Shanum merasa ia tidak pernah bisa mempersiapkan diri menghadapi mimpi buruk. Mimpi buruk akan menerjangnya pada saat dia rapuh, membuat kekacauan dan bencana, dan dia sama sekali tak berdaya.
Dan mimpi buruk tidak selalu terjadi saat dia tidur. Keinginan Khan untuk berbicara dengan Pak Reno merupakan salah satu mimpi buruk itu, dan ia sudah bisa memprediksinya.
Shanum menghampiri Pak Reno yang masih berdiri di depan pintu, memperhatikannya dengan pandangan khawatir.
"Apakah kau baik-baik saja, Shanum?" tanyanya.
"Ya Pak, secara fisik saya baik-baik saja." Gadis itu tersenyum tipis.
Pria itu mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, Shanum?"
"Sebaiknya kita tidak berbicara di depan pintu. Nanti Anda akan segera tahu," ucap Shanum penuh teka-teki.
Shanum lalu kembali masuk ke dalam ruangan, dan menghempaskan bokongnya di kursi tempatnya tadi duduk. Sementara Pak Reno mengikuti tindakannya. Namun dia memilih duduk di sampingnya.
Shanum berdeham. Dia tampak ragu-ragu dan gugup. "Maaf, ada yang ingin bicara dengan Anda. Tolong bantu saya, agar tidak ada salah paham di kemudian hari, Reno."
Kerut di kening pria itu semakin dalam. Terlihat sekali dia sangat bingung dengan ucapan Shanum yang ambigu. Seakan-akan pria itu ikut andil menyebabkan masalah pada Shanum. Meski pada kenyataannya, tanpa disadari Pak Reno memang sudah membuat kekacauan dalam kisah cintanya.
Dan Shanum memang sengaja tidak ingin menjelaskan lebih detail, sebab Khan sudah menunggu sejak tadi. Ia tidak mau membuat pria itu semakin marah dan salah sangka. Gadis itu langsung meletakkan ponselnya di meja dengan penyangga vas bunga yang berada di tengah-tengah meja.
"Silahkan, Adri. Ini Reno, beliau sudah berada di sini."
"Ada apa ini, Shanum? Siapa pria ini? Ini temanmu, yang tadi kau katakan itu ya?" tanya Pak Reno heran. Wajahnya terlihat tidak senang.
"Perkenalkan, aku Khan Adrian, tunangan Shanum. Aku sudah mendengar cerita tentangmu darinya."
Pak Reno langsung menoleh ke arah Shanum. Gadis itu hanya bisa meringis mendengar ucapan Khan barusan. Meski dia tidak setuju pria itu berbohong tentang status pertunangan mereka, yang tentu saja tidaklah benar, dia tidak dapat menyanggahnya.
Untuk saat ini, ia akan menulikan telinganya, dan memprotesnya nanti saat mereka sedang berkomunikasi berdua saja. Shanum tidak mau mempermalukan Khan dihadapan Pak Reno.
"Tunangan?" tanya Pak Reno dengan wajah mendadak keruh. Dia mengusap wajahnya lalu menatap tajam pada Shanum.
"Jadi hal ini yang membuatmu tempo hari melarikan diri dari rumah sakit. Mengapa kau tidak mengatakannya, Shanum?"
"Maafkan saya..." Gadis itu menunduk tidak berani menatap langsung pada pria itu.
"Semua ini bukan salah Shashaku. Dia hanya memiliki hati yang lembut, dan tidak mau menyinggung perasaanmu. Karena kau, biar bagaimana pun adalah orang yang dia hormati." Khan membela Shanum. Dan gadis itu langsung mendongakkan kepalanya, dia melihat ke arah layar. Senyum tipis terbit di bibirnya untuk Khan.
Pria itu tidak merespon, wajahnya tetap dingin tak terbaca. Shanum menghela napasnya dalam. Sepertinya kemarahan pria itu masih jauh dari kata selesai.
"Aku mendengar kata-katamu tadi dengan gadisku. Jangan pernah diucapkan lagi. Aku menghargai perasaanmu padanya. Tapi Shanum Qamira milikku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Apakah kau mengerti?" kata Khan dengan nada dingin dan kakunya yang sudah melegenda.
Pak Reno langsung memicingkan matanya. Matanya berkilat tajam. Senyum sinis tampak di bibirnya. "Apa kau mengintimidasiku? Silahkan saja kau boleh mengatakan apa pun. Aku tidak takut! Shanum bukan barang, dia memiliki kehendak, dia berhak menentukan siapa yang nanti akan dipilihnya."
"Bertunangan bukan merupakan keterikatan yang nyata untukku!" tambah Pak Reno dengan nada meremehkan.
Khan menyeringai. "Baiklah. Jika kau tetap bersikeras dengan pendapatmu."
Shanum terperangah. Kedua pria itu bertengkar, mereka terlihat seperti dua orang anak kecil yang sedang memperebutkan sebuah mainan. Dan dia adalah mainan yang diperebutkan itu. Sungguh menggelikan!
"Dan bagiku ucapanmu tadi adalah isyarat untuk mempersiapkan strategi penyerangan. Kami di sini tidak mudah melupakan isyarat seperti itu. Camkan selalu ucapanku, Reno!" tambah Khan dengan ekspresi menyeramkan dari wajahnya.
Celaka! Pak Reno tidak tahu betapa berbahayanya Khan. Habislah sudah, sia-sia saja dia mencoba menyelamatkannya. Kini ia tidak yakin, Khan akan melepaskan pria itu.
"Apa kau mengancamku?" desis Pak Reno.
"Cukup, gunakan akal sehat kalian! Aku tidak bersedia dijadikan bahan pertengkaran yang tidak berguna ini," potong Shanum dengan ketus sambil bersedekap.
"Dan kau, Adri, aku tidak mau kau mengobarkan genderang peperangan padanya. Dia tidak tahu apa-apa. Di sini tidak sama dengan keadaan di sana. Jadi tahan amarahmu, Adri. Biarkan aku yang menyelesaikannya." Gadis itu menatap Khan dengan tegas. Pria itu lalu mendengus mendengar ucapannya.
"Katakan padaku, Shanum. Apakah kau terpaksa bertunangan dengan pria ini? Jika benar, aku bisa membantu membicarakannya dengan orang tuamu," desaknya.
Shanum memejamkan matanya, lalu menggeleng keras. "Tidak, Pak!"
__ADS_1
"Kau yakin bisa bahagia dengan pria dingin dan arogan seperti ini?" tanyanya lagi.
"Hei, itu bukan urusanmu!" geram Khan.
Oh, Tuhan... apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan masalah ini?
"Aku bertanya padanya, bukan padamu! Dan pembicaraan kita sudah selesai... siapa namamu tadi? Can... Kan... ah, terserahlah. Aku hanya akan mendengar ucapan Shanum, bukan dirimu."
Pak Reno lalu menekan tombol off pada layar. Wajah Khan langsung menghilang dari sana. Shanum terkesiap kaget. Pria itu secara sepihak berani mematikan ponselnya. Dia tidak mau membayangkan apa yang akan dilakukan Khan setelah ini pada pria itu.
"Maafkan aku, Shanum. Tapi aku tidak suka padanya. Dia terlihat seperti pria kasar, yang akan main tangan untuk menyakitimu. Kau yakin dengannya?"
Shanum menyandarkan tubuhnya pada kursi, tampak lemas. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Dan perutnya terasa mual. Jika dia bisa kabur dan melupakan, pasti akan dilakukannya.
Tapi sayangnya dia tidak di didik untuk menjadi orang yang pengecut dan tidak bertanggung jawab seperti itu.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Pak Reno lagi.
Mendengar kata-kata itu lagi, Shanum menggeram, kepalanya semakin berkabut oleh amarah yang mulai bergerak pekat. Dia menahan kekuatannya yang mulai merangsek keluar dengan sekuat tenaga. Namun gejolak di dalam dadanya tidak lagi bisa dibendung.
"Sudah, Pak! Anda membuatku semakin muak. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku hanya menganggapmu dosen yang aku kagumi karena kecerdasan, dan keramahannya. Tidak bisa lebih dari itu, Pak. Aku sangat mencintai pria tadi. Dan sekarang Anda... Anda membuat hubunganku..."
"Arghh..." Shanum menghentakkan dirinya berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menatap keluar jendela dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak boleh menangis, meski itu karena kesal. Air matanya tidak akan menyelesaikan masalah, tapi bisa membuat konflik baru.
Shanum berusaha menahannya, lalu melipat salah satu tangannya pada kaca, dan menekankan keningnya di sana. Napasnya terasa sesak. Perlahan dia berusaha mengatur napasnya.
"Shanum, saya.... Oh, saya tidak bermaksud..." Pak Reno tampak gelagapan, dia tiba-tiba kehilangan kata-kata. Pria itu mengusap rambutnya dan mendesah keras.
Shanum menegakkan tubuhnya kembali, lalu menoleh. Dia melihat tatapan penuh rasa sakit di hadapannya. Shanum pernah melihat pancaran mata seperti itu. Tatapan itu ada pada Khan, saat dia mengusirnya dari kamar dengan amarah. Setelah dia tersadar dari mimpi yang mempertemukannya kembali dengan Nekhii.
Dan wajah itu membuatnya gelisah serta menyesal. Dia sudah menyakiti pria itu. Tapi tidak ada cara lain. Jika dibiarkan berlarut-larut, dirinya sendiri yang akan semakin tersakiti.
"Pak Reno, maafkan saya, saya..." Shanum juga tak kuasa meneruskan kalimatnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi. Rasa penyesalan yang ia perlihatkan melalui ekspresi wajahnya, seharusnya bisa ditelaah oleh pria itu.
Pak Reno lalu memberikan isyarat berhenti dengan salah satu tangannya, saat Shanum hendak mendekat. Posisinya telah berdiri di dekat kursi. "Sebaiknya kau pulang, Shanum. Aku... aku perlu memahami hal ini," ungkapnya sambil tercekat. Pak Reno langsung keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Shanum yang sangat kaget melihat reaksi kasarnya.
Shanum segera membereskan kumpulan kertas yang telah diperiksa Pak Reno tadi dari atas meja, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian mengambil ponselnya dan dia menatap sekelilingnya.
***
Selama satu bulan ini Shanum merasa seperti kehilangan arah. Telepon tidak diangkat dan pesan tak dibalas oleh Khan cukup akurat untuk mengguncang batinnya. Pikirannya menolak untuk mengakui bahwa ia telah kehilangan pria itu.
Shanum menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Hidupnya saat ini membutuhkan keseimbangan yang lembut. Meskipun selama ia kembali dari Astrakhan hidupnya telah dilaluinya dengan ketidakseimbangan yang menyakitkan.
Pak Reno juga menghindarinya bagaikan wabah. Dua hari setelah kejadian di rumahnya itu, Mas Danu asistennya menelepon Shanum, dan mengatakan untuk sementara konsultasi skripsi dapat diserahkannya kepada pria itu.
Pak Reno sedang berhalangan untuk bimbingan secara langsung, dengan beralasan sedang sibuk menghadiri beberapa kegiatan seminar di beberapa kampus.
Namun Shanum memakluminya, dan tidak terlalu kehilangan Pak Reno, meski ia sempat merasa bersalah telah menyakiti pria itu. Yang sangat ia sesali adalah kehilangan pria yang satu lagi. Penguasa dari jiwanya. Jika begini rasanya patah hati dia tidak ingin merasakan jatuh cinta.
"Yah, dia termenung lagi. Dunia memanggil Shanum." Farah menggerak-gerakkan telapak tangan di depan wajahnya, berusaha menariknya kembali dari lamunan.
Shanum tersenyum tipis. "Kalian memanggilku?" tanyanya.
Farah menepuk keningnya dan Diva terkekeh geli.
"Maaf..." kata Shanum sambil tersenyum malu.
"Percuma kita mengajaknya pergi ke Mall ini. Dari tadi wajahnya sibuk ditekuk terus," sindir Farah.
"Jangan begitu, kita kan sedang berusaha membuatnya terhibur. Betul tidak, Shanum." Diva tersenyum padanya.
"Iya, terima kasih ya, Ladies. Harap maklum, aku masih belum bisa move on nih," keluhnya dengan wajah muram.
"Sudah, Sha. Kami mengerti kok." Diva menepuk tangannya.
"Eh, omong-omong, tadi itu Diva juga cerita, Sha. Di grup cewek-cewek tukang gosip kampus ini, sedang ramai berita tentang Pak Reno."
__ADS_1
"Oh..." Shanum mengangguk, tapi wajahnya tidak menunjukkan ketertarikan lebih jauh.
Farah mengangkat alisnya. "Kok cuma oh, reaksinya," protesnya sambil cemberut.
"Terus aku harus bagaimana?" Shanum bertanya dan kembali menyeruput minuman miliknya.
"Sudahlah, Farah. Shanum itu tidak tertarik dengan Pak Reno. Kau sudah tahu kan dia sedang galau memikirkan siapa." Diva mencolek Farah sambil tersenyum geli.
"Tapi dia tetap harus tahu dong. Kan perubahan tingkah pria itu bisa jadi karena dia."
"Perubahan tingkah apa maksudmu?" sahut Shanum mulai tertarik.
"Nah kan, jadi ingin tahu juga."
Shanum memutar bola matanya. "Kalau cerita tuh jangan setengah-setengah. Ayo dilanjut."
Farah menyeringai dan berkata, "Jadi yang menjadi topik hangat itu, Pak Reno sekarang tidak pernah lagi bersikap ramah. Dia lebih sering termenung dan hanya tersenyum tipis seperlunya saja."
"Lebih tepatnya sih, sikapnya jadi sebelas--dua belas seperti dirimu, Sha," potong Diva sambil tersenyum smirk.
Shanum mengangkat bahunya. "Oh cuma begitu."
Farah langsung mencubit pundak Shanum. "Ih, gemas deh. Masa kau tidak merasakan sesuatu begitu, bertanggung jawab mungkin," sindirnya.
Shanum mengusap bahunya sambil cemberut. "Kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab? Bukan aku yang sengaja membuatnya seperti itu."
Shanum menatap wajah kedua sahabatnya dan mendesah lelah. "Masalah perasaan tidak bisa dipaksakan kan. Aku juga tidak ingin menyakitinya. Tapi jika aku tidak mengatakan terus terang soal perasaanku yang sebenarnya, akan muncul masalah lain yang lebih buruk lagi. Aku yakin suatu saat Pak Reno akan menemukan seorang wanita yang bisa membalas perasaannya."
"Iya sih. Tapi kan menurut ceritamu, suasana terakhir kalian bertemu berakhir kacau. Apakah kau tidak mau mengatakan sesuatu, yang mungkin bisa mencairkan suasana kaku diantara kalian."
"Aku sudah meminta maaf padanya saat itu, Farah. Dan sepertinya hanya waktu yang bisa mencairkan suasana yang tidak mengenakkan ini," sahutnya.
"Kau tidak khawatir pada skripsimu. Bisa saja dia memberikan nilai jelek padamu," celetuk Diva.
Shanum menggeleng. "Aku yakin, Pak Reno bukan orang sedangkal itu. Dia pasti bisa memisahkan antara perasaan pribadi dan tugasnya sebagai dosen."
"Lalu bagaimana dengan Khan, si manusia super dingin itu?" tanya Farah sambil mencibir.
Shanum menatap tajam pada Farah. "Jangan berkata jelek tentangnya!"
"Huh, masih saja dibela. Sudah jelas-jelas dia menyakitimu," sahut Farah sambil mendengus.
"Hei, sudah, jangan bersitegang lagi," kata Diva berusaha mencairkan suasana yang mulai memanas.
"Sha, aku juga sudah coba minta Sergei menemui Khan. Tapi, kata Sergei, pria itu sulit ditemui. Dia seakan-akan tahu Sergei sedang mencarinya. Dan aku juga sudah mengatakan padanya sesuai pesanmu, kalau Pak Reno tidak perlu lagi dihapus ingatannya."
"Tidak apa-apa, Diva. Aku mengerti, dan ucapkan terima kasih kepada Sergei. Aku berutang banyak padanya."
"Santai saja, Sha. Kita semua bersahabat jadi sudah lumrah untuk saling membantu."
Saat suasana sedang hening, dan mereka asyik dengan pikirannya masing-masing, ponsel Shanum berbunyi nyaring.
Dia menatap ponsel yang ia letakkan di atas meja kantin dengan kening berkerut. Shanum melihat nama Pak Dirman tertera di layar. Gadis itu langsung mengangkatnya.
"Ya, Pak Dirman. Ada apa ya?" Shanum mendengar suara isak tangis dari dalam ponsel.
"Non Shanum, ada kabar buruk." Pak Dirman terdiam untuk sesaat. Dia menghembuskan napasnya.
"Kabar buruk apa, Pak? Cepat katakan!" sahut Shanum dengan wajah mulai cemas. Jantungnya berdentam keras.
"Rumah kebakaran, Non. Dan Bapak serta Ibu masih berada di dalam. Kami terlambat menyelamatkan mereka. Sekarang petugas pemadam sedang berusaha memadamkan apinya. Tapi... tapi mereka belum bisa masuk untuk mengevakuasi Bapak dan Ibu. Apinya aneh Non, tidak bisa dipadamkan."
Wajah gadis itu pucat pasi. "Tidak," Shanum mulai menangis. "Bagaimana aku akan menjalani hidup tanpa mereka?"
Ponsel itu dicengkeram dengan erat oleh gadis itu. Air mata membasahi pipinya dengan deras. Dia memandangi kedua sahabatnya di depannya dengan mata kosong.
"Tidak!" Shanum meraung sedih. Dia lalu menyerahkan ponselnya pada Diva. "Tolong... kau bicara pada Pak Dirman, aku tidak sanggup," ucap Shanum dengan nada suara tercekat akibat tangis. Diva menerima ponsel itu dengan wajah cemas. Begitu juga dengan Farah. Mereka berbicara melalui loudspeker ponsel dengan Pak Dirman.
__ADS_1
Shanum menutup wajah dengan kedua belah telapak tangannya, dengan siku sebagai penopang di atas meja. Dia masih menangis dengan lirih. Dia tidak pernah tahu bahwa kepedihannya akan bertambah parah. Sebelumnya Khan meninggalkannya, dan kini kedua orang tuanya ikut tertimpa musibah.
Duka cita mencekiknya, rasa sedih yang lebih hebat dari apa pun yang pernah dibayangkannya menggerogoti jiwanya. Dia masih menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya, dan terus menangis.