Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 61 Menguasai Keadaan


__ADS_3

Khan menerima serangan dari seorang pria. Dia menangkis sembari memeluk gadisnya. Dia memukul dengan satu tangan yang tidak sedang merangkul Shanum. Dengan kekuatan Khan, pria penyerang itu terlempar jauh.


Dari sudut matanya Khan melihat Abdan mendekatinya dan berusaha mengambil alih melindungimya. Abdan melawan para pria yang berdatangan untuk menyerangnya. Dia memanfaatkan situasi itu dengan meletakkan gadisnya kembali ke lantai dengan perlahan.


Lalu dia memberikan mantra perlindungan ikatan mereka kepada gadisnya. Sebuah gelembung berwarna merah muncul di sekeliling gadis itu. Shanum berada di dalam sebuah gelembung berwarna merah yang berpendar keemasan. Kini dia sepenuhnya aman, tidak akan ada yang bisa menembus perlindungan itu. Inilah salah satu kelebihan mantra ikatan jiwa mereka.


Setelah selesai melindungi kekasihnya, Khan berdiri, ia kembali mengeluarkan kekuatannya. Muncul kembali pria lain yang menyeringai sambil menyerang keduanya.


Abdan bergerak dengan kekuatan elemen angin miliknya. Lawannya bisa diikat oleh untaian angin, atau terangkat dari atas tanah, dan dihentak oleh gelombang angin yang sangat tajam. Lalu dicabik-cabik hingga berkeping-keping oleh elemen pria itu.


Mereka bahu-membahu melawan musuh yang menyerang mereka. Khan tidak pernah jauh dari sisi Shanum. Khan langsung menebas pria yang mencoba menghancurkan pelindung Shanum dengan kekuatannya. Pria itu terlempar dan terseret agak jauh.


Kemudian ada lagi dua orang yang maju serempak menyerangnya dengan kekuatan api yang menyala di telapak tangan mereka. Khan menangkis kekuatan api itu, memukul dada keduanya dengan kekuatannya, dan memukul kembali dengan seluruh kekuatannya. Keduanya tergeletak di tanah. Salah satunya berusaha bangun dengan terhuyung-huyung.


Khan kembali menarik tangan pria itu lalu melemparnya jauh ke tengah bangku penonton. Yang satunya lagi hendak melarikan diri, namun ditangkap kembali oleh Khan, dia memelintir salah satu pergelangan tangannya, lalu saat dia menjerit, ia mencekik pria itu.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu?" geramnya dengan nada suara dingin membekukannya.


Pria itu tersedak, darah yang mengalir dari mulutnya menetes-netes di pinggiran bibirnya. Meski bernapas terengah-engah mulutnya masih sempat menyeringai. "Tugas kami hanya melenyapkan gadis itu." Pria jahat itu sekilas melirik ke arah Shanum.


Mendengar kata-katanya, Khan langsung semakin ketat mencekiknya. Matanya berkilat merah menebarkan kekejaman. Leher pria itu seketika remuk dalam genggaman Khan. Setelah dirasa tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi, Khan langsung melemparkannya jauh-jauh, bagaikan seonggok daging menjijikkan yang tidak sudi lebih lama dipegang olehnya.


Khan melihat sudah tidak ada lagi pria-pria yang menyerang mereka. Dia berlutut di lantai lalu mememeluk tubuh lemas kekasihnya dengan wajah penuh amarah. Dia memeriksa seluruh tubuh Shanum. Gadis itu tidak terluka fatal, hanya beberapa goresan yang mulai tampak memudar. Sepertinya kalung itu berhasil melindunginya, meski gadis itu kewalahan menerima serangan, dan berakhir pingsan.


Khan melihat sekelilingnya. Tampaknya Sergei sudah menghentikan waktu. Hanya yang memiliki kemampuan sihir yang masih dapat bergerak. Dan pengawal Sergei juga sudah berkelompok menjaga para manusia biasa itu untuk tetap di tempatnya.


"Yang Agung..."


Julian menunduk sangat dalam di hadapan Khan. Pria itu sepertinya menyadari bahwa dia sudah lalai dalam bertugas.


"Sialan kau, Jullian! Kenapa kekasihku bisa sampai diserang! Kemana saja kau!" Khan menggertakkan rahangnya. Wajahnya sangat dingin dan kaku.


Kekuatan terkendali yang tersembunyi di balik sorot sekuat baja itu luar biasa kelam, badai yang dilihat dalam mata pria itu membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri. Mata Khan bersinar dengan sangat terang saat memaki pengawalnya.


"Maaf, Yang Agung. Tadi aku terjebak oleh salah satu dari komplotan mereka. Salah seorang diantara mereka bergerak mencurigakan keluar dari gedung ini. Dan aku terpancing olehnya. Dia membawaku berputar-putar di gedung lain. Dan saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat." Jullian bicara sambil menundukkan kepalanya, suaranya terdengar tercekat takut.


"Kau masih selamat kali ini, Jullian. Kekasihku hanya pingsan. Jika dia sampai terluka, kau pastinya akan mendapatkan hukuman yang setimpal dariku. Sekarang tugasmu adalah menunggu di sini, jaga kekasihku. Aku ingin berbicara dengan Sergei. Dan jangan sampai lengah kembali!" perintah Khan dengan nada suara kaku dan tidak mau dibantah.


"Baik, Yang Agung," jawab Jullian patuh.


Sergei baru saja meringkus satu orang pengacau dan memberikannya kepada pengawalnya untuk diamankan.


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Khan kepada Sergei.


"Para pria ini sangat licin seperti belut. Aku baru berhasil mendapatkan satu orang. Yang lainnya berhasil melarikan diri," jawab Sergei.


"Ada yang kau kenali?" tanya Khan lagi.


"Tidak, Yang Agung. Aku masih harus mencari informasi lebih lanjut, dan mengorek siapa dalang di balik ini. Aku curiga otaknya masih sama dengan yang membakar rumah Shanum."


"Ya, mereka mengincar Shashaku. Aku minta laporannya jika kau menemukan informasi apa pun. Aku tidak akan membiarkan hal ini," sahut Khan.


"Baik, Yang Agung. Sekarang aku harus mencuci otak para saksi ini. Agar mereka tidak membuat masalah di kemudian hari."


"Jangan lupakan, buat mereka merasa bahwa pertandingan ini sudah selesai dan dimenangkan oleh kita. Dan hati-hati dengan CCTV kampus. Oh, satu lagi. Apakah ada korban jiwa dari pihak kita?"

__ADS_1


"Tidak ada. Sepertinya pemimpin para pengacau ini masih berhati-hati untuk tidak menarik minat manusia biasa lebih jauh."


"Oke. Aku akan kembali dengan teleportasi ke apartemen kekasihku," ucap Khan singkat.


Pria itu lalu kembali ke tempat Shanum. Gadis itu terlihat masih terbaring di lantai. Khan mendesah khawatir. Dia lalu menatap Jullian dengan tajam. "Kau bisa membawa dua aku dan kekasihku ke apartemennya kan?" tanyanya.


Jullian menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Dan Abdan, kau tinggal di sini untuk membantu Sergei. Nanti kau kembali ke apartemen dengan membawa mobil milik kekasihku." Abdan mengangguk.


Khan melihat Jullian sudah memegang tas Shanum. Dia membaca mantra untuk menghapus perlindungan terhadap gadisnya. Perlahan-lahan gelembung itu menipis, lalu menghilang sama sekali.


Khan berlutut di lantai, dia mengusap pipi gadis sambil memandang dengan mata penuh kecemasan. Dia harus segera membawa gadis ini pulang. Pria itu menyelipkan lengannya di tungkainya, kemudian mengangkatnya. Dia menggendong ala bridal style dan bersiap di sebelah Jullian.


Khan mengangguk, lalu Jullian memegang pundaknya. Pandangan Khan mulai mengabur, dan oleng. Mereka kini berdiri di ruangan tamu apartemen Shanum. Khan sekejap memejamkan matanya. Dia masih sedikit merasa pusing setelah berteleportasi.


"Anda baik-baik saja, Yang Agung? Apa Nona mau aku saja yang bantu gendong?" tanya Jullian.


Khan langsung mengetatkan gendongannya, dia semakin mendekatkan kepala Shanum ke dadanya. "Tidak, aku masih kuat menggendongnya."


Khan menolak dengan tegas tawaran Jullian untuk membantunya menggendong Shanum. Khan adalah pria yang posesif, dia tidak akan pernah rela gadisnya disentuh oleh pria lain.


Jullian mengangguk lalu mundur menjauh dari Khan saat pria itu melangkah menuju kamar Shanum. Khan meletakkan Shanum dengan hati-hati di atas ranjang. Lalu dia melepas sepatunya, dan merapikan rambut gadis itu. Dari sudut matanya, Khan melihat Jullian meletakkan tas Shanum di atas meja rias.


"Tinggalkan kami." Khan memerintahkan Jullian untuk segera keluar dari kamar tersebut.


"Baik, Yang Agung. Aku akan berjaga-jaga di luar," jawab Jullian sembari membungkukkan tubuhnya. Kemudian pria itu keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Khan menghela napasnya, dia melepas sepatunya dan meletakkannya di sudut kamar bersama dengan sepatu Shanum.


Dia memperhatikan wajah berbentuk hati itu. Celah samar di dagunya, Khan mengusap celah seksi itu. Bibirnya yang menggemaskan. Dan dia menjadi rindu akan tatapan bola mata hitam Shanum. Bola mata yang menatapnya penuh dengan perasaan.


"Kapan kau sadar, Sayang? Aku merindukan tatapan matamu dan juga senyummu." Khan mendesah, dia merebahkankan tubuhnya di atas kasur. Lalu menarik Shanum miring ke arahnya sembari menopang dengan salah satu tangannya.


Khan beringsut lebih mendekat, tubuhnya menempel dengan tubuh Shanum. Dia masih memperhatikan kekasihnya itu dalam diam.


Sekarang dia mengusap pipi mulus gadis itu. Mengusap alisnya, hidung mungilnya. Kemudian beralih ke dagunya. Khan tampak ragu-ragu saat akan beralih mengusap bibir Shanum. Tangannya membeku sesaat di udara.


Namun perlahan tangan itu kembali mendekat ke bibir Shanum. Khan memulainya dari ujung bibir. Tangannya sedikit gemetar meraba bibir halus dengan warna merah alami itu. Dengan lembut dia menjalankan telunjuknya secara perlahan menuju ke tengah bibir itu. Khan merasakan hembusan hangat napas Shanum dari sela-sela bibirnya.


Khan merasakan ujung telunjuknya menjadi ikut hangat. Perlahan mengalir ke seluruh tubuhnya. Napasnya tercekat, dia gemetar hanya dengan merasakan kelembutan bibir Shanum lewat ujung jari telunjuknya. Khan menarik kembali jemarinya sembari menghela napas.


Dia tidak pernah menyangka bahwa mengusap bibir seorang kekasih bisa mempengaruhi dirinya begitu dalam. Khan merasa hatinya membuncah penuh cinta. Dia yang begitu dingin dan kaku bisa mencintai dengan sepenuh hatinya untuk gadis yang berada di hadapannya ini.


Khan membeku. Dia melihat pergerakan di mata gadis itu. Napas Shanum juga berubah menjadi lebih kencang terdengar oleh telinganya. Perlahan mata hitam berkilau itu terbuka. Berkedip sebentar lalu menatapnya dengan linglung.


"Hai, Cantik," ucap Khan sembari tersenyum lembut.


"Adri..."


"Ya, Sayang."


"Apakah aku masih hidup?" tanya Shanum dengan suara serak.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Khan balik dengan geli.

__ADS_1


Shanum tidak menjawab, dia mengerutkan keningnya. Gadis itu tampaknya masih linglung.


"Jika kau ingin bukti, baiklah." Khan lalu mendekati gadis itu. Dia mencubit gemas hidungnya, hingga membuat Shanum tersentak kaget.


Dan saat Khan menatap wajahnya kembali, gadis itu terlihat cemberut. Pria itu mengangkat alisnya dan berkata, "Jadi sudah dapat memastikan apakah kau masih hidup atau tidak?"


"Ya. Tapi tidak perlu harus mencubit segala kan. Lama-lama hidungku jadi panjang nanti kaya Pinokio." Shanum berkata sambil mengusap-usap hidungnya. Wajahnya masih ditekuk kesal.


"Maaf, aku sedikit keterlaluan menggodamu. Jangan cemberut lagi ya," rayu Khan.


Shanum menghela napasnya dan menatap pria itu dengan wajah mulai melunak. Dia tidak mau bertengkar dengan Khan. Shanum masih ingat wajah kesal pria itu sesaat sebelum pertandingan. Ketika Khan melihatnya bertatapan mata dengan Pak Reno.


Shanum seolah-olah masih merasakan rasa sesak karena panik sudah membuat pria itu marah. Meskipun sebenarnya hal itu terjadi bukan disengaja, dan Shanum tidak bermaksud untuk memancing kecemburuannya.


"Kau sudah tidak marah padaku, Adri?" tanyanya.


Khan terlihat bingung mendengar pertanyaan Shanum. "Marah denganmu?"


"Iya, tadi sebelum pertandingan kan kau marah padaku. Sampai melengos segala kok," jawab Shanum sembari mengangkat alisnya.


"Oh yang itu. Aku tidak marah padamu. Aku hanya sedang kesal dengan gurumu itu. Menyebalkan sekali pria itu! Masih saja dia mencoba melihat gadisku dengan pandangan penuh perasaan begitu. Jika dia bukan manusia biasa, sudah aku colok matanya saat itu juga." Wajah Khan terlihat kelam mengingat kekesalannya saat itu.


"Astaga! Kau sadis sekali, Adri," sahut Shanum sambil mendengus.


"Aku ini memang posesif. Terutama sejak bertemu denganmu. Aku hanya tidak mau kekasihku tiba-tiba meninggalkanku. Seperti yang pernah dulu aku alami."


Shanum menatap Khan dalam diam. Dia mencoba mengerti, biar bagaimana pun Khan pernah memiliki trauma ditinggalkan oleh Sarnai, kekasihnya terdahulu. Shanum tahu, karena dia pernah bermimpi tentang kisah mereka.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Adri. Kurasa mungkin yang akan pergi meninggalkan terlebih dahulu adalah dirimu. Aku mengatakan itu karena banyak faktor, Adri," kata Shanum sembari mendesah sedih.


"Omong kosong, dari mana munculnya pendapat seperti itu. Coba kau sebutkan salah satu faktornya." Khan menatap Shanum dengan tajam, alisnya terangkat sebelah. Seakan-akan ia menantang gadis itu untuk langsung menjawab pertanyaannya.


Shanum terdiam, ia sedang memilih apakah harus mengatakan kegundahan yang disimpannya rapat-rapat selama ini, ataukah hal itu tetap menjadi rahasianya sendiri.


"Kenapa kau diam, Shasha? Kau tidak bisa menjawabnya kan. Karena kau memang hanya mengira-ngira, dan tidak ada faktor akurat tentang hal itu," ucap Khan sembari tersenyum geli.


"Bagaimana jika Sarnai kembali dan dia mengejarmu, Adri? Mungkin dia ingin menjadikanmu kembali sebagai kekasihmu." Shanum tiba-tiba bertanya tentang Sarnai.


Khan mengerutkan keningnya. Dia menatap mata Shanum dengan pandangan menelisik. Pria itu berusaha mencari-cari maksud dari ucapan Shanum.


"Apa kau pernah bertemu dengannya, hingga kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu?" tanya pria itu.


"Ya, di dalam mimpiku. Aku melihatnya sedang berpelukan erat denganmu. Kalian mengenakan pakaian dari masa kini, bukan model pakaian kuno yang berasal dari tempo dulu."


Khan terpaku. Wajahnya sesaat tampak sedih, namun kemudian menghilang. Sepertinya pria itu berusaha menutupi perasaannya dari Shanum.


Pria itu lalu meluruskan tubuhnya, tidak miring menghadap Shanum seperti posisi awal. Dia melipat kedua lengannya di belakang kepalanya sambari menatap langit-langit kamar Shanum dalam diam.


Shanum memicingkan matanya. Dia semakin curiga melihat reaksi pria itu. Dia mencoba membuka ikatan dari sisinya yang tadinya tertutup rapat. Gadis itu ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan pria itu. Semoga pria itu tidak menutup aksesnya. Jika tidak Shanum akan kesulitan untuk membacanya.


Dan saat gadis itu sudah membuka ikatan itu, dia tertegun. Khan tidak menutup aksesnya. Shanum bisa merasakan rasa sakit dan kesedihan yang luar biasa. Dan itu membuatnya ingin menangis meratapi hatinya yang mulai terasa pedih.


Seluruh kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan oleh pria itu menimbulkan satu pemahaman mendasar dalam pikiran Shanum tentang perasaan Khan untuk Sarnai.


Pria itu masih menyimpan rasa peduli untuk wanita itu. Mungkin saja juga masih ada setitik rasa cinta di sudut hatinya yang tertutup. Jika sudah demikian, sanggupkah Shanum bertahan? Bertahan menghadapi badai yang siap menerjangnya hingga luluh lantak.

__ADS_1


__ADS_2