Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 31 Jatuh Cinta Padamu


__ADS_3

Sinar matahari menembus kisi-kisi jendela kamar pagi ini. Memperlihatkan siluet cahaya yang bertebaran di lantai. Dengan mata masih mengantuk, Shanum menatap bingung jam kecil di atas meja di samping tempat tidur. Bagaimana bisa dia ketiduran sampai pukul sepuluh? Sepertinya kejadian pertempuran kemarin menyedot habis tenaganya. Belum lagi suasana kamar yang berbeda dengan kamarnya yang biasa.


Kepalanya terasa dihantam palu godam. Sialan. Beginikah rasanya orang yang berlebihan mengeluarkan energi sihir? Rasa pusingnya sangat menyebalkan. Ia bangun dan duduk dengan perlahan, mengertakkan gigi menahan rasa mual, kemudian berjalan ke kamar mandi.


Dia beranjak untuk mandi dan menjernihkan pikirannya yang kacau. Jika separah ini rasanya, Shanum rela mencoba minuman energi bau milik Sergei. Ia akan menutup hidungnya saat ingin menelan cairan tersebut. Yang penting dia segera sembuh dari sakit kepala mengerikan ini.


Setengah jam kemudian, ia keluar dari kamar mandi, rambutnya lembab dan mengikal. Dia segera berpakaian dan berencana keluar kamar. Saat ia tiba di ruang tengah, ingatan tentang kejadian setelah mereka kembali di mansion muncul. Erangan rendah terlontar dari bibirnya. Betapa bodoh dirinya. Seharusnya dia menerima saja tawaran Khan untuk menuju ruang rawat. Setidaknya dia bisa mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dari dokter.


Namun Shanum malah bersikeras langsung menuju kamar barunya. Kamar lamanya masih hancur berantakan karena terbakar. Yang diinginkannya pertama kali adalah segera mandi dengan shower air hangat. Sebenarnya ia ingin berendam, tapi matanya tidak bisa diajak kompromi. Shanum takut dia terlelap saat berendam dan tenggelam di dalam bathtup.


Tidak ada tanda-tanda Khan dan yang lainnya di ruangan ini. Pria itu pasti sudah menuju ruang kerjanya. Semua kerai yang tertutup semalam, sekarang terbuka, jendela-jendela tidak ditutupi. Masih tercium samar-samar bau terbakar.


Mungkin begitu lebih baik. Ia tidak pernah merasa begitu nyaman menyapa orang-orang saat sedang dilanda sakit kepala. Shanum mengusap wajahnya, mengernyit menahan rasa sakit kepalanya. Dia duduk di bangku yang berada di ruang tengah. Perutnya bergemuruh minta diisi.


Dengan terpaksa dia menuju ke dapur. Ruang makan tentunya sudah kosong. Shanum menggeser pintu kaca sehingga terbuka. Dia melihat para pelayan sedang mempersiapkan makanan untuk menu makan siang mereka.


"Em, apakah aku boleh mendapatkan secangkir kopi pahit dan roti isi daging. Para pelayan yang sedang bekerja menghentikan kegiatan mereka. Salah satunya tersenyum ke arah Shanum. "Anda menginginkan yang lain, Nona?"


"Ah, aku mau juga sebutir telur rebus. Boleh aku minta sekarang kopinya. Aku akan menunggunya," kata Shanum. Secangkir kopi pahit semoga bisa sedikit meredakan rasa lemasnya. Shanum perlu kafein untuk memulai harinya. "Dan untuk yang lainnya tolong sediakan di ruang makan," tambahnya. Pelayan itu lalu menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai menikmati sarapannya yang sangat telat, Shanum membawa cangkir kopinya dan menarik pintu geser hingga terbuka. Ia melangkah menuju teras yang berada di belakang ruang makan. Di teras ini juga terdapat beberapa set meja-kursi berikut payung yang menaunginya.


Shanum berdiri menatap langit, permukaannya tampak cerah tak berawan. Udara di sekelilingnya berbau harum, karena banyak terdapat petak-petak bunga indah beraneka warna. Angin sepoi-sepoi terlihat mengusik pohon-pohon palem yang tinggi dan kurus.


Shanum menyukai suasana yang hening dan damai seperti ini. Semoga saja kekacauan selama tiga hari kemarin tidak terulang kembali. "Sudah bangun, Shasha." Shanum terlompat dan menumpahkan sedikit kopi tersebut ke lantai. Terbalut dalam celana jins dan kaus abu-abu, Khan berdiri di depan pintu geser.


"Maaf aku mengagetkanmu." Lekuk-lekuk wajahnya yang tampan, dan tenang terlihat menyesal. Mulutnya yang merah dan basah tersenyum simpul. Benar kata Diva, Khan sungguh mirip aktor Korea tampan itu.


Shanum memperhatikan penampilan pria itu. Rambut gelapnya sedikit berantakan. Sejumput jatuh di dahinya, membuat tangan Shanum gatal ingin merapikannya. Pagi ini Khan terlihat bersinar, seperti biasa. Shanum tidak pernah melihat dia berubah menjadi buruk rupa. Dan Shanum tidak pernah kebal oleh pesona pria itu.


"Selamat pagi, Shasha. Sepertinya kau tidur nyenyak semalam." Dengan canggung, Shanum mengamati cangkir kopinya, seakan-akan cangkir itu berisi semua jawaban di dunia. "Aku bangun telat pagi ini, hingga melewatkan sarapan. Kupikir kau sudah pergi..." "Aku berada di ruang duduk bersama Eej. Dia datang tadi malam saat kau sudah masuk ke kamarmu."


"Bagaimana reaksinya melihat kekacauan yang terjadi?" Senyum tipis Khan mengangkat kekhawatirannya. "Aku sudah menceritakan kepada Eej. Awalnya dia tampak kesal karena aku tidak memberitahunya. Tapi aku sudah bisa meredamnya. Sekarang dia sudah bisa menerima," jawab pria itu dengan tenang.


Shanum tersenyum maklum. Kehangatan merasuk ke dalam diri saat ia mereguk Khan dengan matanya. Gadis itu memberi isyarat dengan cangkirnya.


"Kau mau kopi? Aku bisa mengambilkannya. "Aku sudah minum kopi. Terima kasih." Shanum menganggukkan kepalanya. "Aku mencarimu untuk berpamitan," ucapnya lagi. "Jadi kau akan pergi." Rasa nyeri yang ganjil memenuhi diri Shanum. "Belum. Aku harus menemuimu terlebih dahulu." Khan kembali menatap Shanum dengan dalam.


Aku menyesal tidak dapat mengatakan padamu informasi apa yang Eej katakan padaku.


Shanum mengamati Khan, bingung. Ada suara dalam kepalanya. Ia merasakan samar-samar ada yang menyusup masuk, tapi terasa nyata. Gejala sehabis pertempuran sihir kemarin sepertinya mempengaruhi kepalanya.


Suara itu membuat imajinasinya yang terlalu aktif mengemuka. Ia mengamati tubuh Khan yang berotot, bagaimana celana jins pudar itu memeluk pahanya yang keras, bayangan bakal janggut di rahangnya yang ramping. Pikiran itu melintas di benaknya.

__ADS_1


Aku takut jika kau tahu, kau akan meninggalkanku.


Sekarang pandangan Khan berubah menjadi gelisah. Seakan-akan suara yang tadi muncul di kepalanya adalah kata-katanya. Ada yang tidak beres. Shanum kembali melihat ke arah Khan, keningnya berkerut.


"Apa kau berbicara padaku?" tanyanya. Khan menggelengkan kepalanya. "Ah, sepertinya aku salah. Pagi ini aku memang terbangun dengan kepala seperti dipukul palu."


Khan beranjak ke belakangnya dan dengan lembut meletakkan tangan di pelipis Shanum yang berdenyut-denyut. "Apakah masih sakit?" tanyanya. "Sedikit."


Khan mulai memijit dengan mantap. Shanum menegang saat Khan mendekatkan diri di belakangnya. Gadis itu bingung, mengapa pagi ini dia begitu sensitif berada di dekat Khan. Padahal dia sudah sering di peluk oleh pria itu.


"Tenanglah," gumam Khan. "Aku akan mengurusmu dengan baik." Ketegangan menghilang. Shanum bersandar ke belakang, menikmati sentuhan Khan yang menenangkan. Pria ini akan pergi, sudut hati kecilnya mengingatkan. Dan Shanum mendadak merasa kesal karena itu.


Shanum menyentak menjauh dari Khan. "Kalau kau berniat meninggalkan tempat ini, Adri, sebaiknya kau segera pergi. Aku menghargai kau mencariku untuk mengatakan tentang kepergianmu, tapi itu tidak perlu. Aku mengerti dan tidak akan membuatmu menunda perjalanan."


Alis Khan terangkat naik, dan matanya memicing. "Ada apa denganmu pagi ini, Shasha? Mengapa kau tiba-tiba jadi bersikap..." Khan tidak melanjutkan kata-katanya. "Apa? Menyebalkan begitu maksudmu!" ucap Shanum sewot. "Jika kau tidak suka dengan tingkah lakuku pagi ini, mengapa kau masih di sini?"


Khan menyisirkan sebelah tangannya ke rambut lurusnya yang gelap dan tebal. Matanya menatap mata Shanum sementara ia menyusupkan telapak tangannya ke dalam saku celana jinsnya. "Apakah kita akan berdebat?" Wajahnya terlihat dingin dan kaku. Melihatnya, Shanum bertambah kesal.


"Apakah kau akan bersikap menyulitkan?" Shanum meletakkan cangkir kopi di atas meja di dekatnya dan merasakan sensasi ditarik ke arah Khan oleh tekadnya yang kuat. Sejak awal memang sudah seperti itu. Kalau memang mau, Khan bisa membuatnya merasakan tuntutannya.


Dan rasanya amat sangat sulit mengabaikan bagian dirinya yang memohon untuk memberikan apa pun yang diinginkannya. "Kau akan mengurus urusanmu dan aku akan mencari kedua sahabatku. Tapi kita tidak akan membicarakan tentang yang lainnya saat ini."


"Aku baru akan kembali lima hari lagi, Shasha." Oh... Shanum merasakan tusukan tajam di perutnya mendengar bahwa mereka akan berpisah selama itu.


Sebagian besar pasangan kekasih tidak menghabiskan setiap waktu luang bersama, tapi mereka berbeda. Shanum memiliki waktu yang terbatas untuk bersamanya. Dia tidak akan tinggal selamanya di negara ini. Tapi gadis itu juga ragu, benarkah mereka sepasang kekasih?


Shanum mendengus. "Kau terlalu percaya diri, Tuan Arogan. Hanya dirimu yang akan seperti itu, sedangkan aku tidak," protes Shanum. "Kau yakin tidak akan merindukanku, Shasha," bisik pria itu dengan nada suara kecewa. Oke, Shanum mengakui bahwa pria itu benar. Dia pasti akan merindukannya, tapi tidak lantas ia menjadi kacau karenanya kan.


"Kau harus mengatakan padaku, apa yang meresahkanmu?" Khan menarik kursi dan menghempaskan bokong seksinya di sana. Pria itu menatap Shanum dengan pandangan 'wajib menjawab' seperti biasa yang sering dilakukannya. Shanum dengan keras kepala tetap bertahan tidak ingin membahasnya. Dia mulai mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai.


"Jadi kau tidak akan menceritakannya padaku, Shasha?" Khan menegakkan tubuh, menyingkirkan sikapnya yang muram dan sensual, lalu dengan cepat menatap Shanum dengan tajam. Gadis itu tahu Khan tidak akan menyerah dalam hal itu. Ia takkan pernah membiarkan bahaya apa pun mendekatinya. Shanum adalah seseorang yang sangat berharga untuknya.


Khan melirik jam tangannya. "Waktunya pergi, Shasha." Ia memberi isyarat kepada Shanum untuk berjalan mendahuluinya melintasi ruang makan. Saat mereka berada di ruang tengah, Khan berhenti melangkah. Matanya menyipit menghadap Shanum. "Apakah kau berencana untuk melarikan diri lagi dariku, Shasha?"


"Apa? Tidak. Menurutku tidak." Shanum berputar dan menatap pria itu kesal. "Menurutku tidak. Tingkah lakumu mencurigakan. Aku yakin ada sesuatu." Khan mengulang kata-kata Shanum dan menambahkan kalimat miliknya. Shanum tampak menghembuskan napasnya.


"Dengar, kau harus menyingkirkan pikiran penuh curigamu itu, Adri. Aku tidak menyembunyikan apa pun. Aku hanya bangun dengan sakit kepala hebat yang membuatku ingin memaki semua orang," ucap Shanum sambil menggertakkan giginya.


"Apakah benar hanya itu? Tidak ada hal lainnya?" selidik Khan. "Tidak," jawab Shanum singkat. "Sebaiknya kau simpan rasa ingin tahumu itu, Adri. Kita berdua tahu bahwa rasa itu tidak sehat. Aku tidak akan kabur, mungkin aku hanya akan pergi dengan kedua sahabatku. Apakah hal itu tidak boleh kulakukan?"


Wajah Khan terlihat dingin, bibirnya menipis menjadi satu garis datar. Shanum mencoba menjelaskan kembali. "Baiklah, aku akan mencoba berkompromi--"


"Aku tidak pernah berkompromi," kata Khan kaku. Alis Shanum terangkat. "Dalam bisnis, aku yakin kau tidak pernah berkompromi. Tapi ini adalah hubungan, Adri. Hubungan membutuhkan penyesuaian--"

__ADS_1


Geraman Khan menyela kata-kata Shanum. "Kau harus mengangkat ponselmu jika aku menghubungimu dan kalau kau keluar mansion, kau harus mengajak Taban atau tim keamanan bersamamu."


Ucapannya yang terlihat mirip ayahnya membuat Shanum terkejut sampai tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Cukup lama sampai alisnya terangkat di atas matanya yang keemasan itu, seolah-olah menyatakan 'terima kesepakatan itu atau lupakan saja'.


"Tidakkah menurutmu itu terlalu ekstrem?" desaknya. "Diva dan Farah akan ikut denganku. Begitu juga dengan sopir yang akan mengantarkan kami. Taban masih butuh istirahatnya, begitu juga tim keamananmu."


"Tidak, aku tidak bisa memercayakan keselamatanmu pada seorang sopir setelah kejadian dengan Chinua." Sementara ia menganggukkan kepalanya pada salah satu pengawalnya yang datang menghampirinya, postur tubuhnya menyatakan dengan sangat jelas bahwa pembicaraan mereka sudah berakhir. Ia sudah memberikan pilihan-pilihan yang bisa diterima.


Shanum mungkin sudah merasa kesal dengan sikap sewenang-wenang itu kalau tidak memahami bahwa melindunginya dari bahaya adalah motivasinya. Dia tahu, Shanum masih mencari maksud mimpi buruk yang dialaminya selama ini, yang belum pasti akan mengancam keselamatannya atau tidak.


Di samping itu, mengendalikan semua hal di sekelilingnya adalah bagian dari diri Khan. Hal itu sudah termasuk dalam dirinya dan Shanum harus menyesuaikan diri untuk itu. "Oke," Shanum setuju. "Tempat mana saja yang boleh kudatangi atau tidak boleh kudatangi?" "Aku punya beberapa rekomendasi. Kau boleh pilih." Ia memalingkan wajah saat pengawalnya membisikkan sesuatu di telinganya. "Taban akan memperlihatkan padamu daftarnya. Kalau kau sudah memutuskan, katakan padanya dan dia akan mengurusnya."


Shanum menyandarkan bahu ke salah satu dinding, menatap pria itu dan melihat tangannya terkepal di paha. Dari bayangan yang terpantul di kaca jendela yang gelap, wajah Khan terlihat datar, tetapi Shanum bisa merasakan suasana hatinya yang muram.


"Terima kasih," gumam Shanum. "Jangan. Aku tidak senang dengan ini, Shasha." Otot di rahangnya berkedut. "Aku harus membereskan kekacauan yang terjadi tempat lain dan aku harus menghabiskan waktuku tanpa dirimu."


Wajah Shanum melembut, dia akhirnya mengerti kekacauan dalam hati pria itu. Gadis itu mendekati Khan. Dia melingkarkan lengannya di leher pria itu. Lalu mendekatkan wajahnya, dan Shanum mengecup pipi pria itu. Pria itu menggeram, ia menarik Shanum untuk merapat pada tubuhnya. "Aku menghargai perasaan khawatirmu dan rasa tidak ingin kehilanganmu, Adri. Itu sangat berarti bagiku."


Khan menatapnya dengan mata keemasannya yang tajam. "Aku tahu kau akan membuatku gila begitu aku melihatmu." Shanum tersenyum, mengingat pertemuan pertama mereka di bandara. "Bertabrakan di dekat toilet bandara?"


"Sesudah itu. Di luar." Shanum mengerutkan kening dan bertanya, "Di luar, di mana?" "Di luar bandara," jawab Khan. Pria itu mencengkeram pinggul Shanum, meremas dengan cara yang posesif dan mengendalikan yang membuat jantung Shanum terasa lepas dari tempatnya.


"Mobilku sedang berjalan pelan menunggu rombongan yang sedang menyeberang. Aku nyaris tidak melihatmu, tapi penundaan itu membawaku ke arahmu. Aku terpesona saat melihat wajah kesalmu sedang berdiri di depan ruang tunggu kedatangan, bersama dengan kedua sahabatmu. Mulutmu mengerucut dan matamu bersinar marah. Hal itu sungguh seksi di mataku."


"Oh ya, padahal saat itu aku sedang sangat jelek, wajahku lelah bercampur kesal. Kami menunggu cukup lama di sana sampai penjemput kami datang." Shanum tersenyum. "Aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangan. Kau menarikku begitu keras. Nyaris berlebihan."


"Jika begitu mengapa kau tidak berusaha menyuruh sopirmu menghentikan mobil dan menawarkan tumpangan kepada kami menuju hotel," goda Shanum. Khan memutar bola matanya. "Oh benar, dan kalian akan berteriak memanggilku penculik kepada orang-orang di sana."


"Em... mungkin yang berbuat seperti itu hanya Farah. Aku akan membantingmu langsung ke lantai, sementara Diva diam sambil terpesona padamu," ucap Shanum sambil terkekeh geli. "Benar kan, kau sangat seksi. Aku sangat senang menerima bantinganmu. Terlebih jika kau bisa ikut jatuh bersamaku," balas Khan.


"Dan lagi karena aku sudah jatuh sedalam-dalamnya kepadamu," tambahnya lagi dengan pelan. Mata Khan mengunci di kedua mata Shanum. Untuk sesaat Shanum lupa bernapas. Tangannya di leher Khan mengencang. Hasrat, tajam dan dalam, membanjirinya. Shanum melihat hal yang sama di mata pria itu.


Oh tidak, hubungan mereka mulai merambah ke hal yang berbahaya. Dan Shanum tidak mau melewati batasan yang sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Gadis itu melepaskan rangkulannya pada leher pria itu. Dia mengalihkan pandangan, berjalan ke arah kursi dan mendudukkan dirinya di sana.


"Maafkan aku, jika kau merasa tidak nyaman. Tapi aku memang selalu tertarik ke arahmu. Aku tahu kau juga merasakannya. Kau melihatku, Shasha. Melihat diriku... apa yang kumiliki di dalam diriku. Kau melihat ke dalam diriku." Khan menatap Shanum tajam, pandangannya seakan-akan meruntuhkan akal sehat gadis itu.


Dan kata-kata pria itu membuat Shanum jatuh terjerembap. Dia menatap ke dalam mata Khan dan menyadari betapa terkendali dirinya, bahwa pria ini sangat bisa membuatnya hancur. Jauh di dalam dirinya, dia tahu Khan akan mengendalikannya. Rasanya melegakan mengetahui bahwa ia merasakan kekacauan yang sama gara-gara dirinya. "Tidak ada seorang pun yang pernah membuatku seperti ini, bahkan Sarnai."


Tenggorokan Shanum tersekat menyakitkan. Khan adalah pria yang keras dan dingin dalam banyak hal, tetapi ia bisa bersikap begitu manis padanya. "Aku tidak menyadarinya. Kau begitu... dingin. Sepertinya aku sama sekali tidak mempengaruhimu."


"Dingin?" Khan mendengus. "Aku terbakar karenamu. Aku sudah kacau sejak saat itu." "Astaga... terima kasih," desah Shanum. "Kau membuatku membutuhkanmu," kata Khan serak. "Sekarang aku tidak tahan memikirkan lima hari tanpa dirimu." Pria itu mengerang keras. "Tapi aku harus pergi. Aku akan berusaha kembali secepatnya, semoga tidak sampai lima hari."


Khan lalu bersimpuh di hadapan Shanum. Dia menaruh kepalanya di pangkuan gadis itu sambil menggenggam telapak tangannya. Lalu Khan mengecup lembut keduanya, menimbulkan desir di hatinya. "Tunggu aku, Shasha," bisiknya.

__ADS_1


Lalu pria itu bangkit berdiri, menatap wajahnya sambil tersenyum tipis. Khan menghela napasnya kemudian berlalu dari hadapan Shanum. Wajahnya kembali ke wajah kaku dan dingin tak terbaca. Shanum masih terpaku.


Jika dia tidak merasakan jejak kecupan hangat bibir pria itu di punggung tangannya. Mungkin ia merasa bahwa semua perlakuan Khan tadi adalah mimpi. Shanum mengusap bekas ciuman itu, ia masih belum dapat mempercayai penglihatannya. Apa yang telah dilakukan Khan barusan membuat dirinya tidak bisa menyangkal lagi. Bahwa dia mencintai pria itu.


__ADS_2