
Shanum memperhatikan reaksi Khan. Untuk sesaat, lidahnya terasa kelu. Pria itu menepis tangannya yang hendak membersihkan sisa-sisa air dari mulutnya.
Keheningan menyelimuti mereka. Shanum merasakan sesuatu tergelitik di hatinya. Dia langsung menatap Khan dengan dalam.
Perasaan pria itu benar-benar tersampaikan kepadanya. Sungguh sebuah mantra kuno yang dapat mengguncang seluruh dunianya.
Shanum bisa mengendusnya, gairah dan tekad yang tajam menguasai pria itu. Mendadak gadis itu merasa takut. Dia langsung berdiri dari duduknya, yang diikuti pula oleh pria itu.
Shanum mundur beberapa langkah. Tidak kuasa menahan diri untuk itu. Kemudian mundur beberapa langkah lagi. Meski pria itu tidak berusaha mengikutinya lagi, dan berhenti bergerak.
Gadis itu merasa dia perlu membentangkan jarak yang cukup jauh dari jangkauan Khan. Napas gadis itu kini tersengal, dan membeku di tenggorokannya. Jantungnya Shanum berdebar sambil menatap bibir pria itu. Dia tidak sadar bahwa tindakannya semakin memperkeruh keadaan.
Melihat arah pandangan Shanum, mulut pria itu terbuka, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian entah melupakannya atau memutuskan untuk tidak berbicara.
Khan mendesah keras. Mata pria itu yang berwarna coklat keemasan terlihat berkilat, lalu bergerak ke wajah Shanum, seakan-akan baru pertama kali melihatnya. Pria itu menelusuri keseluruhan wajahnya, lalu turun ke tubuh Shanum, hingga berakhir di ujung kakinya.
Shanum merasa ditandai oleh tatapan Khan. Getaran sensual di kulitnya membuat tubuhnya menggigil. Khan menatapnya seakan-akan dia adalah hidangan yang menggiurkan, dan ingin dinikmati olehnya. Ketika tatapan mereka kembali bertemu, keduanya sama-sama menarik napas dalam.
Lalu pria itu terlihat bergerak ingin menggapainya, namun di tengah-tengah dia mengurungkan niatnya itu. Dia kembali berhenti, tangannya yang sudah diulurkan mendadak ditarik kembali, dan membentuk sebuah kepalan.
Khan mengetatkan rahangnya. Sesuatu tentang diri Khan, intensitas yang dia pancarkan ke udara di sekitarnya, memberi tahu bahwa pria ini akan menjadi badai yang ganas jika sampai kehilangan kendali.
Khan menatapnya lagi dengan tajam, dia masih belum berhasil mengekang gairah yang dipancarkannya lewat ikatan mereka. Udara terlepas dari paru-paru Shanum dalam satu napas menderu. Hawa panas juga meluap di pipinya. Dia merasakan aliran listrik yang merambat di dalam dirinya, dan ia tidak dapat menghentikan sensasi itu.
Astaga, dia semakin terpengaruh oleh gairah yang dirasakan oleh pria itu. Jemari Shanum mengepal tanpa daya lalu dia menarik napas panjang. Sederetan peringatan yang berbeda muncul di kepala Shanum, sementara suasana menjadi berat oleh tekanan.
Dia mengangkat tangannya di depan tubuh, seakan-akan kedua tangan kecilnya itu bisa menahan tekanan yang ia rasakan dalam ikatan mereka.
Akhirnya Shanum tidak dapat menahan diri lagi. "Cukup, Adri. Hentikan. Jangan memancingku untuk menyakitimu!" bentak Shanum dengan mata berkilat marah.
"Kau yang memancingku terlebih dahulu, Shasha," geramnya dengan suara serak. Khan mengepalkan tangannya. Masih berusaha menahan kendali dirinya.
Lalu Khan melangkah mundur. Tapi dia masih mengawasi Shanum dengan lekat, sembari menyugar rambutnya. Rasa frustasi terlihat jelas dalam ekspresinya.
Shanum tercengang oleh ungkapan pria itu. Khan menyalahkan dirinya. Dia merasa tersinggung, tidak mungkin dia melakukan itu. Shanum bertekad harus tahu pemicu yang membuat Khan nyaris kehilangan kendali, sekaligus mematahkan tuduhan pria itu.
Gadis itu berkonsentrasi untuk menelaahnya, lalu mendadak dia berdiri mematung. Butuh beberapa saat baginya untuk memahami maksud ucapan pria itu. Oh, Tuhan... ternyata memang kesalahannya.
Khan mengusap wajahnya, saat melihat reaksi tersiksa yang menguasai seluruh wajah Shanum. Dia berbalik memunggungi gadis itu, dan menutup pertalian jiwa mereka dengan sekuat tenaga. Khan berhasil melakukannya, meski hal itu membuat batinnya menjerit.
Sedangkan Shanum menatap punggung kokoh pria itu sembari menelan ludah. Dia bisa membaca isi hati dan pikiran pria itu yang saling bertentangan. Namun setelah itu semua koneksi diantara mereka mendadak menghilang.
Shanum tahu, pria itu sudah menutup akses. Dan dia sangat menghargai perbuatan Khan. Karena hingga kini pun ia belum bisa melakukan hal itu. Pengetahuannya masih belum cukup, masih perlu banyak kesabaran dan latihan.
Shanum melihat pria itu meraih air mineral dalam kemasan yang berada di hadapannya. Lalu dia kembali berbalik menghadap Shanum, dan duduk di sofa dengan wajah datar tidak terbaca.
Shanum mengigit bibirnya. Dia ragu untuk menghampiri pria itu dan meminta maaf. Semua masalah ini dimulai dari dirinya. Dia sudah membangunkan Macan yang sedang tidur sejak saat pertama.
Dimulai saat dia mengecup pria itu, lalu menawarkannya untuk menginap di apartemennya, dan yang terakhir dia memancingnya dengan mengusap bibir pria itu dengan ujung jarinya. Semuanya memang murni kebodohannya.
"Maafkan aku, Adri. Aku tidak bermaksud..." Suara Shanum tercekat. Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Suaranya mendadak hilang saking gugupnya.
Shanum *******-***** jemarinya sembari memperhatikan reaksi Khan. Bagaimana jika pria itu kembali marah? Apa yang harus dia lakukan?
Khan menolehkan kepalanya. Dia menatap Shanum dengan wajah dingin dan datarnya. Oh, tidak wajah dingin itu lagi.
Shanum memejamkan mata, dengan panik menyingkirkan apa yang sedang dilihatnya. Dia tidak ingin kembali berselisih dengan Khan. Apalagi kini mereka semakin erat terhubung satu sama lain.
Shanum tidak bisa membayangkan betapa rumit dan tersiksa dirinya nanti, jika harus bertengkar dengan Khan. Shanum beberapa kali menarik napas dalam dengan perlahan, berusaha menenangkan diri.
Setelah membuka mata, Shanum berusaha memberanikan diri melangkah mendekati Khan. Pria itu masih memperhatikannya dengan wajah dingin dan datarnya.
Shanum berhenti masih agak jauh dari posisi duduk pria itu. "Adri, jangan menatapku dengan dingin begitu, please..." Shanum menatap dengan penuh permohonan pada pria itu. Namun Khan tidak bergeming, dia mengacuhkan Shanum.
Shanum merasa dadanya sesak, dia berusaha menahan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Baiklah, jika kau masih begitu, sebaiknya aku meninggalkanmu sendiri," ucap Shanum getir. Dia tidak sanggup lagi. Saat ini perasaannya dua kali lipat lebih sakit dibandingkan dari sebelum mereka terhubung oleh mantra itu.
Setelah mengatakan hal itu, Shanum segera angkat kaki dari ruangan itu dan menuju ke kamarnya. Dia melangkah dengan lesu, dan saat ia hendak menekan handle pintu kamar, sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Kemarilah, Shasha." Khan memanggil Shanum dengan nada suara yang lebih lembut. Shanum masih merasa ragu. Kemudian dia merasakan kembali koneksi mereka. Shanum bisa merasakan rasa penyesalan yang dalam pada diri pria itu.
Shasha, kau harus datang ke sini dan bertanggungjawab atas perbuatanmu.
Pria itu berkata-kata lewat pikirannya. Berharap Shanum dapat melihat pikirannya itu, percaya padanya melalui ikatan mereka, yang telah dibukanya kembali.
"Apakah sudah tidak apa-apa? Aku tidak mau dianggap bersalah lagi," tanyanya.
"Tidak apa-apa, Shasha. Ayo kemarilah, ada yang mau kuutarakan," jawab pria itu.
Shanum dengan langkah takut-takut mendekati Khan. Saat ini dia sudah berdiri di hadapan pria itu. Khan mendongak dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Apakah aku boleh memelukmu?" tanyanya dengan nada penuh harap.
Shanum terlihat sangsi. Dan selama beberapa detik yang berlalu, mereka hanya saling bertatapan saja. Shanum berdiri dengan kaku tidak berani menggapai pria itu.
"Shasha, aku sudah tidak apa-apa. Aku sudah bisa mengendalikan koneksi kita ini. Aku ingin menyentuhmu, aku butuh menyentuhmu." Khan mengerang memohon kepada Shanum.
Akhirnya Shanum mengizinkan, dia mengangguk. Khan langsung meraih gadisnya, dan mendekapnya erat. Sebab posisi mereka yang berbeda, Shanum berdiri dan Khan dalam keadaan duduk, kepala pria itu berada sejajar dengan perut Shanum.
"Maafkan aku. Tadi itu aku nyaris kehilangan kendali. Maaf aku sudah membuatmu takut. Entah mengapa sejak mantra itu menyatukan kita, aku menjadi lebih sensitif. Seakan-akan aku diarahkan untuk segera melakukan ritual selanjutnya."
"Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan melawannya dengan sekuat tenagaku. Aku ingin kita menikah terlebih dahulu dengan benar sebelum melakukannya." Khan semakin erat melingkarkan tangannya pada pinggang Shanum.
Shanum mendesah lega. "Aku percaya padamu. Kau akan selalu menjagaku, Adri. Dan kau harus mengatakan padaku jika tanpa sengaja aku memancingmu lagi." Gadis itu tersenyum lembut sembari mengusap rambut pria itu.
Khan mendongak, lalu menarik Shanum untuk duduk di sebelahnya. Gadis itu mengikutinya tanpa protes. Dia melihat pria itu ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.
"Ada apa, Adri. Katakan saja." Shanum berusaha mendapatkan jawaban dari pria itu, atas keraguannya barusan.
"Aku lapar, Shasha. Apa kau punya makanan yang lebih mengenyangkan?" Pria tampak memelas sambil mengusap perutnya.
Shanum langsung terkekeh geli mendengar kata-kata Khan. "Aku memang bukan tuan rumah yang baik ya. Menelantarkan tamunya hingga kelaparan," godanya.
"Em, sebenarnya tamunya juga sih yang salah. Datang tanpa pemberitahuan." Khan tersenyum lebar ke arah Shanum.
"Oke. Mari kita makan.Tapi di restoran saja ya. Aku tidak punya stok makanan yang enak untuk kau nikmati. Hari ini memang sengaja tidak memasak. Aku berencana mau pesan makanan lewat layanan antar saja." Kemudian gadis itu berdiri dari duduknya, dan ingin bersiap-siap.
Khan yang melihat Shanum beranjak pergi, langsung menarik tangan Shanum sembari berkata, "Aku tidak keberatan kalau kita pesan makanan lewat layanan antar," ucapnya. Shanum yang mendengar ucapannya hanya menatap pria itu dan tersenyum manis.
"Sebaiknya kita makan di restoran saja, Adri. Kita sangat perlu penyegaran, setelah suasana yang menyesakkan tadi," ucapnya.
"Kau juga pastinya ingin menikmati suasana sore denganku kan. Yah, hitung-hitung kencan di sore hari, begitu."
"Oke, itu yang terbaik. Aku akan ikut denganmu," jawab Khan sembari mengangguk setuju. Pria itu terlihat antusias pergi berdua dengan Shanum.
"Aku berganti pakaian dulu ya, Adri. Aku janji tidak akan lama." Shanum menepuk punggung tangan Khan, lalu bergerak menuju kamar.
Khan berdiri dari duduknya dan mengamati sekitarnya. Sambil menunggu Shanum berganti pakaian, dia memperhatikan isi apartemen itu.
Di mulai dari ruang tamu, kemudian menuju dapur, ruang cuci dan balkon. Dia baru menyadari bahwa sebagian ruangan itu terkesan feminin. Warna pastel mendominasi keseluruhan ruangan. Sepertinya Shanum menyukai warna-warna lembut yang menenangkan.
Pemilihan warna furnitur juga senada dengan warna dinding dan lantainya. Konsep Shabby Chic, yang kalem, dan elegan, membuat kesan tenang dan nyaman dalam apartemen itu.
Khan menyukai wanita yang lembut namun juga tegas serta galak, sehingga tidak mudah ditebak. Karena wanita yang gampang tertebak baginya sungguhlah membosankan.
Wanita seperti itu, hanya akan dekat dengannya dalam waktu singkat. Setelahnya Khan akan segera meninggalkannya tanpa keraguan.
"Aku sudah siap. Ayo kita makan siang menjelang sore." Shanum tersenyum geli sendiri pada ucapannya. Mereka memang sudah melewatkan waktu makan siang, dengan begitu banyak pembicaraan dan kegiatan yang menguras emosi.
Khan ikut tersenyum sembari menarik tangan Shanum dan menggenggam jemarinya. Mereka lalu keluar dari apartemen itu, menuju lift. Shanum menekan tombol basement, tempat mobilnya berada.
Saat ini mereka sudah sampai di restoran yang dipilih Shanum. Mereka turun dari mobil dan Khan mengikuti Shanum masuk ke restoran. Khan menatap keseluruhan ruangan dalam restoran itu.
Melihat deretan meja dan kursi yang tersusun rapi, dan televisi yang menempel di salah satu dinding di tengah ruangan. Restoran itu terlihat sepi pengunjung. Mungkin karena mereka datang bukan di waktu yang tepat untuk makan.
Shanum langsung menuju wastafel untuk mencuci tangannya, dan mengajak Khan duduk di meja yang berada di sudut restoran. Dia menarik kursi dan mengisyaratkan Khan untuk duduk berhadapan. Khan menggelengkan kepalanya, dia menarik kursi yang berada persis di sebelah gadis itu.
"Aku tidak mau duduk di tempat yang tidak bisa menjangkaumu," bisiknya di telinga Shanum. Gadis itu mengendikkan bahu dan memutar bola matanya mendengar kata-kata manis Khan.
"Oke, silahkan duduk. Aku tidak akan kabur kemana-mana. Dan tolong jaga sikapmu. Di sini ada aturan yang melarang orang bermesraan di muka umum." Shanum menggeleng sambil menatapnya tajam.
Khan mengangkat alisnya. "Oh, jadi di sini juga tidak diperbolehkan untuk menatap gadisnya dengan penuh cinta, begitu."
"Sudah cukup, Adri. Kita mau makan kan. Itu makanannya sedang menuju kemari," cetus Shanum mengalihkan pembicaraan. Shanum masih belum terbiasa dengan perubahan drastis yang terjadi dalam diri Khan.
Pria itu seakan-akan bukan Khan Adrian, tapi jelmaan pria lain yang tidak Shanum kenal. Sungguh banyak yang harus dia pelajari tentangnya. Khan memiliki begitu banyak lapisan kepribadian rumit yang perlu dia kupas satu persatu.
"Wow, pria itu sungguh hebat. Dia bisa membawa piring kecil-kecil yang sebegitu banyaknya hanya dengan kedua lengannya." Khan menatap takjub pada pelayan restoran yang membawa makanan mereka.
"Apakah mereka bekas pemain sirkus, Shasha?" Pandangan Khan tidak lepas dari pelayan pria yang sedang meletakkan satu demi satu piring di meja.
"Tidak, itu hanya cara khas mereka dalam menyajikan makanan," jawabnya sembari tersenyum geli melihat ekpresi takjub yang lucu dari wajah Khan.
"Terima kasih, Uda." Shanum tersenyum ke arah pelayan tersebut. Pelayan itu membalas dengan senyum lalu meninggalkan mereka untuk menikmati hidangannya.
Khan mencolek dagu Shanum. "Kau kenal dengan pria itu?" Khan memicingkan matanya. Shanum merasakan gemuruh dan geraman di pikiran Khan.
Shanum mendesah lelah. Dia mulai bosan menghadapi sikap posesif pria itu. "Aku tidak kenal dengannya, Adri."
"Terus kenapa kau tadi memanggil namanya?" Khan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Seringai malas melebar, saat Shanum mulai mengerti arah pembicaraan pria itu. "Itu nama panggilan untuk pria di satu daerah, Adri. Bukan nama pelayan itu." Shanum memperhatikan pria itu masih bingung.
"Oke, begini, misalnya di negaramu ada pria yang dipanggil dengan sebutan Brother atau di klanmu, kau sendiri dipanggil Yang Agung dan Ibumu dipanggil Eej. Ya, mirip-mirip seperti itu deh." Shanum mencoba menjelaskan tentang penggunaan istilah panggilan yang ada di negaranya.
"Oh, jadi begitu. Oke, aku mengerti." Khan manggut-manggut sembari tersenyum tipis. Shanum menghela napasnya lega. Akhirnya dia terlepas dari sikap posesif pria itu.
"Shasha... Mengapa begitu banyak makanan yang dihidangkan di meja ini? Apa aku harus menghabiskan ini semuanya? Aku rasa kita tidak akan sanggup menghabiskannya. Dan bukankah akan sia-sia jika tidak dihabiskan. Kita tidak boleh membuang-buang makanan, Shasha. Masih banyak orang-orang yang kelaparan... "
"Oke, cukup! Jangan diteruskan ocehanmu itu, Adri." Shanum memotong ucapan Khan sambil mendengus. Niatnya untuk memperkenalkan makanan khas negaranya berujung menjadi kekacauan.
Bukan salah pria itu, jika dia tidak mengerti tentang cara menikmati makanan di restoran ini. Tapi mungkin kesalahannya karena tidak menyadari ternyata kekasihnya ini begitu cerewet.
"Oke, pertama-tama, makanan di sini semuanya sudah matang. Jadi tidak langsung di masak berdasarkan pesanan. Kedua, masakan yang disajikan boleh kita pilih di konter di sana itu, atau di sajikan semuanya di atas meja seperti ini," jelas Shanum. Dia menunjuk konter dan menunjuk meja sembari merasa ingin mengajak pria itu segera keluar dari restoran ini.
Lama-kelamaan perdebatan mereka akan mengundang tontonan. Dan Shanum tidak mau hal itu sampai terjadi. Shanum menoleh saat mendengar suara decak kesal dari Khan.
"Apakah makanan ini layak untuk di makan?" tanya pria itu lagi dengan ekspresi jijik. Shanum seketika merasakan amarahnya berada di ubun-ubun, dia langsung melotot sengit pada pria itu.
"Jika kau takut keracunan, sebaiknya tidak perlu di makan. Kau duduk saja di sana, jauh-jauh dariku. Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang mengesalkan sepertimu."
Shanum memuntahkan kekesalannya pada Khan. Dia merasa marah pria itu sudah menghina makanan yang terkenal enak di negaranya ini. Dan ia masih tidak terima melihat pandangan meremehkan yang terlihat di mata pria itu.
Shanum tidak memperdulikan pria itu lagi. Dia langsung mencelupkan tangannya dalam air kobokan, lalu mengambil piring yang berisi nasi. Setelahnya, ia mengambil lauk yang ingin ia nikmati. dan memakannya lahap dengan menggunakan tangan.
Gadis itu tetap tidak mengindahkan Khan yang menatapnya dengan pandangan sedih. Shanum sebenarnya mengetahui dari hubungan jiwa mereka, bahwa pria itu sangat lapar. Namun dia juga masih ragu untuk memakan makanan yang dihidangkan itu.
Karena Khan terbiasa dengan makanan berkelas dengan segala atribut peralatan makan yang lengkap. Dia seorang yang berpengaruh, tentunya etika makan Table Manner tidak pernah lepas dalam kesehariannya.
"Shasha..."
"Apa?!" jawab gadis itu dengan nada galak.
"Aku mau mencoba makanan itu. Tolong bantu aku mengambilkannya."
Shanum menoleh, ia melihat pria itu menelan ludahnya dan meringis malu.
"Jadi berubah pikiran. Kau yakin akan sanggup menerima makanan rakyat jelata seperti ini. Tidak khawatir nanti sakit perut," sindir Shanum.
"Ya aku mau mencobanya." Khan menyodorkan piringnya kepada Shanum dengan muka memelas.
Akhirnya gadis itu melunak, dia tersenyum ditahan. Shanum mencoba menutupi rasa gelinya melihat roman pria itu.
"Oke, kau suka pedas atau tidak?" tanya Shanum sambil menyendokkan nasi ke piring Khan.
"Nasinya ditambah lagi. Ya, aku tidak masalah dengan rasa pedas." Khan menempelkan badannya ke meja. Dia memperhatikan dengan seksama lauk yang berada di sana.
"Kau mau yang mana? Ini daging rendang, ayam balado, ayam gulai, dan ayam pop. Terus ini otak sapi, ini dendeng batokok, perkedel, dan seterusnya."
Shanum menjelaskan nama masing-masing lauk yang berada di meja termasuk rasa dari masing-masing lauk tersebut.
Khan memilih lauk rendang daging, ayam gulai dan dendeng batokok. Shanum memberikannya sedikit cabai hijau dan sayur gulai nangka. Pria itu menolak makan dengan menggunakan tangan. Dia tetap bersikeras menggunakan sendok dan garpu sebagai alat makan.
Pria itu mencicipi rendang terlebih dahulu, kemudian lauk yang lainnya. Wajahnya terlihat terperangah.
"Ini enak. Sangat enak. Aku tidak menyangka makanan yang terlihat tidak menarik penampilannya itu ternyata sangat delicious." Khan melanjutkan makannya dengan gaya elegannya yang seperti biasa.
Shanum memperhatikan sembari tersenyum geli, dan menggelengkan kepalanya.
Ternyata begini ya rasanya makan di restoran Padang dengan seorang bangsawan yang kaku. Apalagi aku mengajaknya makan di warung tenda. Bisa-bisa aku yang ketiban malu tujuh turunan. Ah, tidak asyik, tidak bisa diajak merakyat.
Tiba-tiba Shanum mendengar sebuah suara di dalam pikirannya.
Aku mendengarnya, Shasha... Ingat sekarang kita terhubung. Dan aku merasa terhina kau menudingku seperti itu.
Khan tetap makan dengan sikap kakunya. Dia tidak mengeluarkan suara dan menoleh sedikit pun. Orang lain tidak akan menyangka, kalau pria itu sedang berkomunikasi dengan gadis di sebelahnya melalui telepati.
"Ups..." Shanum tersenyum malu sambil tertawa cengengesan ke arah Khan.
Tidak perlu tersinggung, Adri. Aku hanya mengatakan kebenaran.
Shanum lalu menempelkan badannya ke meja dan memandang sangat dekat kepada Khan. Dia melihat pria itu makan sambil cemberut. "Sekali-kali melanggar aturan itu sah-sah saja kok, Adri. Jangan kaku begitu, nanti aku bosan padamu loh," goda Shanum.
Khan seketika meletakkan sendok dan garpunya di atas piring kosong. Lalu dia bangun, dan berderap menuju wastafel. Shanum mengerutkan keningnya. Apakah dia sudah keterlaluan menggoda pria itu? Hingga dia langsung menyudahi makannya yang belum selesai.
Kemudian Shanum melihat Khan kembali ke kursinya. Dia mendekati wajah Shanum. "Aku paling tidak bisa menerima tantangan, Sayang. Jadi kau lihat seberapa membosankannya aku.
Pria itu lalu melanjutkan makannya dengan menggunakan tangan. Dan Shanum tertegun, tidak menyangka pria itu akan menurunkan standarnya.
"Tidak perlu terkesima begitu, Manis. Aku tahu kalau aku ini mengesankan. Hingga membuatmu tidak bisa lepas dariku, hmm..."
__ADS_1