
Khan memicingkan mata. Dia melihat dengan rinci keseluruhan wajah Sarnai, mencoba mencari setitik kebohongan atau pun kepalsuan di sana. Namun sayang, Khan menemukan jalan buntu, wanita itu terlihat persis seperti Sarnai yang ia kenal.
Sarnai terlihat menghela napas dalam-dalam, ia merapikan rambut kemudian menatap dalam kepada Khan. "Tapi sudahlah. Wajar kalau kau berusaha melupakan kenangan itu. Karena aku juga tidak mau lagi mengingat masa lalu yang menyakitkan itu," ujar Sarnai, sembari melengkungkan bibir dan berharap dapat mengulaskan senyuman meneduhkan.
Khan tidak mengatakan apa pun, tatapan dari mata keemasan yang tajam itu tetap terpaku kepada Sarnai.
"Jadi, masihkah ada harapan untukku, Khan? Aku bisa membantumu untuk membatalkan pernikahan kalian dengan karena wanita itu kabur dengan pria lain." Sarnai tersenyum, ekspresi penuh harapan terpancar dari wajah cantiknya.
Wajah Khan membeku, saat mendengar kata-kata Sarnai tadi. "Nai... Nai," seru pria itu sambil menggeleng. "Aku tidak bodoh, jadi jangan menghinaku dengan keinginanmu itu. Tidak mungkin aku menukar cintaku sekarang dengan cinta masa lalu yang sudah hancur menjadi debu. Dan siapa yang berani mengatakan Istriku kabur dengan pria lain," tambahnya dengan lembut.
Kelembutan pria itu adalah sesuatu yang berbahaya. Sarnai menyadarinya secara naluriah. Kelembutan itu berarti bahwa pria itu akan melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Sarnai.
Dan pria itu melakukannya.
Satu tangan kuat mencengkeram pergelangan tangannya, dan menyeretnya keluar dari ruangan itu. Sarnai menjerit pelan. Lalu Khan mendorong wanita itu menjauh. Sarnai kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh ke lantai.
"Aku sungguh-sungguh, aku bersumpah," jerit Sarnai, "Aku menyesal Khan. Aku selalu mencintaimu. Beri aku kesempatan. Aku tahu kau menyangkal perasaanmu dan tahu kau masih mencintaiku. Tidak masalah jika aku hanya menjadi yang kedua. Tapi tolong, izinkan aku berada di sisimu, mencintaimu. Aku sudah menunggu ratusan tahun untuk ini, Khan. Please...," cerocos Sarnai seperti orang mabuk.
"Sayangnya, aku tidak berminat lagi kepadamu, Nai. Cerita kita sudah pupus oleh waktu. Semua ocehanmu tadi itu tidaklah benar. Namamu sudah tidak ada lagi dihatiku. Kau hanyalah masa lalu untukku, tidak ada lagi cinta untukmu saat ini di sana. Dan ingat baik-baik, aku tidak mentolerir adanya ungkapan cinta atau pun pendekatan memuakkan seperti ini lagi. Kalau sampai kau melakukannya lagi, dan sampai menimbulkan kesalahpahaman dari Shashaku, maka aku tidak segan-segan untuk menyiksamu dengan kejam. Mengerti!"
Tidak ada belas kasihan di tatapan pria itu. Sarnai tahu Khan bersungguh-sungguh.
Sarnai menggeleng sedih, kemudian segera mengangguk, saat melihat rahang Khan semakin mengetat keras.
"Ya, aku tidak akan melakukannya lagi," janji Sarnai dengan kaku. Dirinya bisa saja dibunuh oleh Khan jika tetap bersikeras saat ini. Terpaksa dia harus mengalah untuk mencoba lagi di lain waktu. Walau bagaimanapun Sarnai tidak sudi menyerah, dia sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya bermimpi untuk memiliki Khan.
Tidak mungkin dia menyerahkan pria itu begitu saja kepada wanita kemarin sore itu. Kalau perlu dia akan memusnahkan wanita itu, demi mendapatkan kembali Khan berada di dalam genggamannya.
Kemudian, dengan satu gerakan anggun, Sarnai bangkit dari lantai, berjalan menuju lift dengan punggung tegak dan kepala menghadap ke depan. Wanita itu tidak sekali pun menolehkan kepalanya lagi ke arah Khan. Seakan-akan suasana penuh drama tadi adalah murni panggung sandiwara.
Wanita itu adalah mimpi buruk. Dan herannya mengapa aku dulu bisa begitu dalam mencintainya.
Khan mengumpat pelan dalam tujuh bahasa yang dikuasainya. Sambil memberengut, Khan menoleh ke arah Dario yang sedang meringis menatap wajahnya.
"Di mana Stela? Mengapa dia tidak ada di mejanya?" Khan menanyakan sekretarisnya itu kepada Dario.
"Stela izin tidak masuk hari ini, Sir. Dia sakit."
"Lalu siapa yang mengizinkan wanita itu masuk? Memangnya dia punya kemampuan berteleportasi ke ruangan ini!"
"Em, akan aku tanyakan ke resepsionis di bawah, Sir."
"Kau harus segera mencari siapa yang bertanggung jawab dan pecat dia. Lalu katakan kepada mereka, tidak ada siapa pun yang boleh masuk ke ruanganku tanpa izin dariku!" Setelah itu Khan kembali masuk ke ruangannya dengan derap langkah penuh amarah.
Dario yang masih terpaku melihat amukan Khan tersebut, akhirnya tersadar. Dia masih memiliki tugas penting yang harus dilakukan. Dario bergegas melangkah menuju lift.
Dia harus segera menjalankan titah Khan tadi, ia tidak berani menunda-nundanya lagi. Khan Adrian dan amarahnya sangat mengerikan. Dia tidak ingin menjadi korban dari amarah pria itu.
Di dalam ruangannya, Khan mendesah keras, saat menghempaskan bokong seksinya di kursi.
Khan sadar ia menangani masalah tadi dengan buruk. Dia sudah berbuat kasar kepada wanita itu. Tapi dia tidak mampu lagi menahan amarah setelah mendengar kalimat beracun tentang Shanum yang kabur dengan pria lain.
Khan juga tidak menyangka, seorang Sarnai bisa mengeluarkan kata-kata jahat seperti itu dari mulutnya. Sarnai yang dulu ia kenal tidak seperti itu.
Kemudian Khan membeku, ia mendadak tersadar tentang satu hal kemustahilan yang luput dari pengamatannya. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau Shanum pergi dengan pria lain. Meski kenyataannya istrinya itu terpaksa pergi untuk melindungi sahabatnya.
Namun Chinua sudah memastikan tidak boleh ada berita yang bocor keluar dari pulau Abbasid terkait hal ini.
Sialan! Aku kecolongan! Wanita itu semakin bertindak mencurigakan. Harusnya tadi tidak aku lepaskan begitu saja. Wanita itu mestinya ia jebloskan ke dalam penjara bawah tanah miliknya untuk diinterogasi.
Dua hari kemudian, luapan emosi Khan yang mudah berubah mencapai puncaknya. Dia lelah dengan rasa takut, karena ternyata kabar gembira yang sempat diterimanya perihal keberadaan lokasi klan tempat istrinya ditahan kembali ke jalan buntu.
Setelah didatangi oleh Dario, tidak ada hal sihir mencurigakan apa pun yang terdapat di lokasi itu. Belum lagi permasalahan Sarnai yang ternyata sudah sampai ke telinga Eej. Ibunya menyayangkan Khan masih bersedia menemui wanita itu.
Berdebat pahit dengan Eej, dan melihat kemarahan serta kekecewaan di mata sang ibu saja sudah cukup buruk, Khan tidak yakin dia cukup siap untuk menghadapi kesakitan karena jalan untuk menemukan belahan jiwanya semakin gelap.
__ADS_1
Yang ingin Khan lakukan adalah menemukan cara untuk menemukan kota tempat klan itu berada, secepatnya. Baru kemudian dia bisa mulai mengurus Sarnai dan sikapnya yang mencurigakan itu. Dia tetap harus memastikan wanita itu tidak lagi mengusik kehidupannya.
Jika kau menunggu lebih lama lagi, suara hati kecilnya mengingatkan, kau mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Shanum. Dia akan selamanya berada di genggaman pria pemilik sihir hitam itu.
Khan memaksa pikirannya menjauh dari kecenderungan yang tidak menyenangkan itu, lalu pikirannya dengan cepat dan menggelisahkan kembali ke lokasi yang dicurigai itu.
Khan memikirkan hal itu. Sepertinya, nalurinya berkata, ia harus mendatangi tempat itu, dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tapi pekerjaannya masih banyak yang terbengkalai.
Si brengsek Taban sudah berhari-hari tak bisa dihubungi. Bagaimana dia bisa meninggalkan pekerjaannya tanpa ada yang membantu menggantikannya?
Khan tidak mengerti, Taban juga ikut tiba-tiba menghilang seperti istrinya.
Yang Agung Klan Altan itu menyugar rambutnya dengan sebelah tangan, memaksakan diri agar perhatiannya kembali ke pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tapi akhirnya ia menyerah. Semua masalah yang memenuhi benaknya saat ini menghilangkan seluruh fokusnya terhadap negosiasi bisnis.
Yang dapat ia pikirkan hanyalah Shanum dan kecemasan yang ia rasakan. Khan menarik napas dalam berulang-ulang.
Kemudian ia tercenung.
"Pantas saja," ia menggeram. Setelah sekian lama, akhirnya ia menyadari bahwa seharusnya ia dapat mencari Shanum dengan meditasi. Mereka terhubung, dengan ikatan jiwa yang dimilikinya, seharusnya mudah menemukan istrinya tersebut.
"Aku memang idiot."
Ponselnya berbunyi. Khan mengambil dan menjawabnya.
"Apa yang terjadi?"
Khan tersentak saat mendengar suara Eej yang beraksen kental di ujung sana. Setiap kali ibunya itu murka, ia selalu menggunakan aksen Mongolia kunonya.
Khan memutuskan untuk berpura-pura bodoh. Sudah cukup sebelum ini ia sudah kena semprot akibat peristiwa Sarnai.
"Ada apa, Eej?"
"Aku baru menerima bingkisan yang dikirimkan untukmu. Karena penasaran aku membukanya. Sayangnya bingkisan itu tergeletak di depan pagar tanpa ada yang tahu siapa pengirimnya."
"Dan apa isi bingkisan itu, Eej," potong Khan.
Khan menghela napas lelah. "Baiklah, maafkan aku, Eej."
"Isinya kalung, cincin pernikahan dan pakaian milik Shanum."
"Kalung? Cincin pernikahan? Pakaian?"
"Ya, kalung jiwa yang dapat melindunginya, berikut cincin pernikahan kalian dan pakaiannya," ulang Eej.
Khan berhenti ketika komentar sederhana itu menyambarnya seperti pisau bermata tajam. "Apa ada pesan di dalam bingkisan itu, Eej?"
Eej tidak menjawab. "Aku mau kau segera pulang untuk melihatnya sendiri."
Ada sesuatu pada nada suara Eej yang membuat darah Khan dingin. Ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Kau tidak bisa membacakannya untukku saja, isi pesan itu, Eej?" Khan mendesak bercampur ragu. Dia penasaran, dan ingin mengetahui saat itu juga tanpa harus menghabiskan waktu untuk pulang ke mansion terlebih dahulu. Tapi ia juga takut ibunya menolak keinginannya.
"Pesan ini sebaiknya kau baca sendiri, Nak. Aku tidak sanggup membacakannya untukmu."
Khan terdiam. Jantungnya berdegup kencang. "Apakah sangat buruk, Eej?"
Khan mendengar helaan napas panjang dari Eej. Dan dia langsung menelan ludahnya. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Seberapa buruk?" tanya Khan lagi.
"Sangat buruk, Nak."
"Baiklah, aku akan segera pulang, Eej."
"Aku tunggu." Eej langsung memutuskan panggilan itu.
__ADS_1
Khan bersandar di kursi sementara matanya terpaku pada ponsel di genggamannya. Ia terdiam sesaat, seolah tubuhnya membeku setelah mendapatkan panggilan tadi.
"Sir, Anda di tunggu di ruang rapat." Dario memutuskan kebekuan yang menderanya.
Khan sontak menggeleng. "Batalkan rapat itu, Dario. Aku harus pulang. Ada hal sangat penting yang menungguku di rumah."
Khan segera berdiri. Dia membereskan meja kerjanya. Mengembalikan alat-alat tulis ke tempatnya dan menyusun dokumen yang sudah ia tanda tangani, lalu menyerahkannya kepada Dario.
Dario mengerutkan kening. "Tapi kau yang meminta rapat ini sejak minggu lalu, Sir."
"Kau atur saja rapat selanjutnya secara online. Katakan kepada Ben, peluncuran produk baru itu aku minta dia yang menangani sepenuhnya. Tidak perlu lagi ditangani oleh Taban. Untuk waktu rapat onlinenya akan aku infokan lebih lanjut."
"Baik, Sir," jawab Dario setengah ragu.
"Setelah selesai menemui Ben, kau kembali juga ke mansion. Aku menunggumu di ruang kerjaku."
Dario menganggukkan kepalanya, meski banyak pertanyaan di dalam kepalanya melihat tingkah aneh Khan. Mereka lalu beranjak keluar dari ruangan dipimpin oleh Khan.
Setelah sampai di mansion, Khan langsung menemui ibunya. Dia mendapatkan informasi dari pengawal ibunya, kalau wanita itu sudah menunggunya sejak tadi di ruang kerjanya.
Saat masuk ke ruangan itu Khan melihat Eej sedang berdiri di depan kaca jendela ruang kerjanya.
"Eej."
Wanita itu langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara panggilan Khan. Eej mendekati Khan dan dia memberikan isyarat ke arah meja kerjanya dengan ekspresi aneh. Wajahnya terlihat sedih dan juga kesal.
Khan segera menoleh ke arah yang ditunjukkan Eej. Dia bergerak menuju ke meja tersebut. Di sana terdapat barang-barang yang disebutkan oleh Eej melalu telepon tadi. Kalung jiwa, cincin pernikahannya, satu stel pakaian yang dikenakan Shanum terakhir kali sebelum ia ikut dengan pria bertopeng itu, dan ada sehelai amplop.
Khan membawa jemarinya mendekati kalung jiwa itu. Jemarinya terasa bergetar saat menyentuhnya. Hati Khan mendadak terasa hangat. Menenangkan dan lembut. Aroma tubuh Shanum memenuhi kepalanya dan membuatnya mendambakan saat di mana ia bisa merengkuhnya dalam pelukan.
Khan memindahkan jemarinya ke cincin pernikahan mereka, menggenggamnya dalam kepalan tangan, lalu meletakkannya kembali di meja. Kemudian ia beralih kepada pakaian, ada banyak darah di pakaian Shanum.
"Kelihatannya ia terluka saat mengenakan pakaian ini," ujar Eej.
"Ya," kata Khan pelan. Dadanya berdenyut nyeri sembari memegang potongan kain tersebut. Siapa yang sudah membuat Shashanya terluka?
Rahang Khan mengetat menahan amarah. Pandangannya lalu beralih ke amplop yang ternyata ada tulisan namanya tertulis di sana.
Dalam tulisan tangan Shanum.
Dia langsung mengambil amplop tersebut dengan tergesa, dan menarik kertas yang berada di dalamnya.
Kemudian ia beberapa kali menarik napas dalam dengan perlahan, berusaha menenangkan diri sebelum mulai membuka lipatan kertas.
Yang Agung Khan Adrian,
Jika kau sudah menerima kalung, cincin dan pakaianku, aku pastinya sudah berada di tempat pilihanku, karena hanya itu satu-satunya cara bagiku untuk melepaskanmu.
Khan terperangah, sekujur tubuhnya seolah tersentak. Beberapa waktu berlalu hingga dia dapat menenangkan hati dan memaksakan diri untuk terus membaca surat itu.
Aku harap kau dapat ikut melepaskanku, dengan ikhlas, karena aku tahu kau yang paling mengerti aku. Aku memilih untuk bersama orang lain. Kalung itu sudah tidak kuperlukan untuk menjagaku, karena sudah ada pria yang menjagaku. Jadi terimalah kalung ini kembali, rengkuh dalam jiwamu, dan jadikan darahku dalam pakaian itu sebagai ungkapan permintaan maaf dariku. Sebagaimana kita sebelumnya terikat. Aku percaya kau pasti bisa melakukannya.
Dan untuk cincinnya, kau bisa menyimpannya untuk kau kenang.
Shanum
Khan memejamkan mata, dengan panik menyingkirkan apa yang sedang dilihatnya. Dia meremas surat tersebut. Rasa sakit mencabik-cabik dirinya seiring gumpalan di tenggorokannya yang perlahan membengkak. Rasa terbakar di belakang matanya semakin menyiksa, tapi masih saja dia menolak untuk meneteskan air mata.
Ada satu alasan sempurna mengapa ia tidak mau melakukan hal itu. Khan tahu bahwa surat itu adalah sebuah omong kosong. Juga menyiratkan, dengan cara yang mungkin kurang logis, bahwa jika memang Shashanya memilih orang lain, dia akan berusaha untuk membuatnya kembali memilihnya, ia akan merebut istrinya.
Tidak peduli, walau wanita itu akan menolaknya dengan keras. Dia tidak bersedia dipermainkan oleh takdir, meski takdir itu akan membawanya ke arah yang berat, dan melewati jurang yang terjal. Dia akan tetap maju, tidak menyerah untuk membawa pasangan jiwanya kembali.
"Nak..." panggil Eej. "Apa langkah selanjutnya yang akan kau ambil?" Wanita itu mengusap bahunya dengan lembut.
Khan membuka mata perlahan. Eej berdiri di sampingnya sejak tadi. Khan belum cukup siap untuk berbicara dengan siapa pun, jadi dia hanya menggeleng.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkanmu sendiri. Aku percaya kau kuat menerima ini," katanya sambil mengusap kembali pundak Khan.