Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 91 Tertarik Selalu Kepadamu


__ADS_3

"Siapa yang mengusulkan hal tak masuk akal seperti itu?" Eej terperangah, matanya memandang Shanum kemudian mengarah kepada Khan.


"Aku yang awalnya mengusulkan hal itu, Eej." Shanum berdiri dari duduknya. Diikuti oleh Khan. Shanum menghindari pria itu yang terlihat ingin mendekatinya. Gadis itu berjalan ke samping, memperbesar jarak di antara mereka dan bergerak lebih dekat ke pintu.


"Aku berpikir seperti itu, karena Khan sudah tidak bisa lagi merasakan ikatan di antara kami. Sehingga aku membebaskannya dari kewajibannya untuk terikat kepadaku."


"Ikatan jiwa tidak bisa diputuskan semudah itu. Kalaupun ada mantra yang bisa memutuskannya aku tidak pernah mendengarnya," ibu Khan menyela tegas.


Shanum menggeleng, melemparkan senyum tipis sedih ke arah Eej yang membuat Khan ingin mengumpat. "Meskipun aku menghargai ikatan ini, tapi aku tidak mau memaksa putra Anda untuk terikat oleh sesuatu yang tidak ia inginkan."


Terlepas dari kata-kata yang terdengar tidak berperasaan, seperti yang berputar-putar di benaknya sendiri, Khan ingin protes. Ia memang tidak mengingat tentang hubungan mereka tapi jauh di lubuk hatinya ia merasakan sesuatu yang bertentangan dengan pikirannya.


Dan selama beberapa hari ini Khan semakin menyadari bahwa ia tetap merasakan kekosongan saat tidak bertemu dengan Shanum.


Tanpa menyadari pikiran Khan yang bertentangan, Shanum melanjutkan, "Kemudian aku akan kembali ke negaraku. Tentang rencana untuk pergi ke kota Och, sepertinya dengan terpaksa aku menolaknya. Dan maaf, aku tidak bermaksud mengecilkan perjuangan Anda di hadapan para tetua dan dewan bangsawan, Eej. Ada banyak sekali alasan yang tidak bisa kusebutkan kepadamu." Shanum menghela napasnya, ucapannya terjeda.


"Jika Anda tidak keberatan, aku ingin kembali ke hotel tempatku menginap. Khan sudah mengizinkan aku kembali ke negaraku, dan menyediakan pesawat untuk kami. Jadi besok pagi aku dan kedua sahabatku harus segera pulang."


"Betapa murah hati anakku menyediakan pesawat untuk kepulanganmu," ujar Eej, sarkasme membuat nada yang biasanya lembut berubah menjadi tajam. Shanum hanya tersenyum tipis lalu pergi tanpa menunggu izin dari Khan atau sang ibu.


"Bagus sekali, Nak," ejek ibunya.


Khan berbalik menghadapi ibunya, marah dengan cara yang tidak pernah ia lakukan terhadap ibunya itu. "Mengapa Eej menyarankan sesuatu yang begitu penuh resiko? Kau tahu bagaimana sikap dewan bangsawan dan para tetua terhadap wanita yang bukan merupakan pilihan mereka. Shanum akan menjadi bulan-bulanan mereka, seperti halnya Sarnai dulu. Dan jika Eej akan melakukannya setidaknya Eej bisa memikirkan perasaan kami berdua dengan mendekatiku tanpa kehadiran Shanum."


Sang ibu langsung berdiri, ekspresinya penuh kecaman dan kekecewaan yang begitu jelas. "Karena tidak pernah terpikir olehku kau akan bersikap sangat kasar dan terang-terangan mengatakan tidak ingin terikat bersama gadis malang itu. Shanum ada di sini karena dirimu, atau kau telah melupakan fakta penting itu?"


"Aku tidak ingat tentang ikatan kami, Eej. Astaga, sudah berapa kali aku mengatakannya."


"Benarkah?" tanya Eej sembari memicingkan matanya.


"Tentu saja, memangnya apalagi?" jawab Khan dengan tegas.


"Oh tidak. Menurutku kau hanya takut. Aku yakin di dalam hatimu pasti ada sesuatu yang kau rasakan terhadap gadis itu. Tidak mungkin ikatan jiwa bisa terlupakan begitu saja, tanpa jejak sama sekali."


"Bagaimana Eej bisa berkata seperti itu?" Khan berbalik menjauh, emosinya kacau-balau sehingga ia bahkan tidak ingin ibunya menyadari itu. Terutama karena ibunya menyuarakan pikiran yang telah berusaha sebaik mungkin ia tekan dalam benaknya sendiri.


"Tidak boleh ada sesuatu di antara Shanum dan aku." Namun kata-kata itu terdengar kosong, bahkan di telinga Khan sendiri.


"Karena Shanum bukanlah gadis yang lemah, penurut dan mudah kau intimidasi?" sindir Eej.


Khan terkejut oleh sikap ibunya, lalu berseru, "Aku tidak mungkin berpikiran sepicik itu, Eej. Dia gadis yang menarik dan cantik. Aku hanya tidak mau membuatnya dalam bahaya."


Meskipun hal itu semakin lama semakin tidak penting. Shanum gadis yang tangguh. Dia mampu menyembuhkannya, dan pasti lebih dari sanggup untuk menjaga dirinya. Gadis itu tanpa disadarinya telah terhubung dengannya, baik sebagai pria maupun pemimpin klan yang dihormati. Apalagi yang ia inginkan dari Shasha-nya?"


Otak praktis Khan tidak memiliki jawaban.


"Kukira dengan mendekatkan kalian berdua kembali akan mengembalikan ingatanmu secara perlahan. Tapi ternyata aku salah. Kau malah berulang kali menghancurkan hati Shanum."


"Aku tidak sengaja, Eej. Kau tahu aku tidak mudah percaya lagi dengan wanita. Sejak... sejak--" Khan tidak suka melakukan argumen yang sama dengan ibunya seperti yang ia lakukan dengan Shanum.


"Sejak wanita jahat itu mematahkan hatimu begitu. Andaikata begitu, mengapa sekarang kau bersedia berdekatan kembali dengannya?" sambung ibunya.


"Aku..." Pria itu kembali diam tidak bisa menjelaskan tentang perasaannya yang kacau kepada ibunya.

__ADS_1


"Mungkin kau merasa tidak menyadarinya, meskipun bukti-bukti akan menunjukkan sebaliknya. Tapi kau, tidak diragukan lagi, sangat bodoh, kalau melepaskan Shanum begitu saja." Nada penuh kasih di suara Eej setidaknya meredam sebagian sengatan kecamannya.


Khan kembali berbalik menghadap ibunya, hanya untuk menyaksikan wanita itu meninggalkan ruangan sambil membuka kedua pintu lebar-lebar.


Khan mendesah lelah. Ibunya memang ahli membuatnya merasa bersalah setiap kali mereka beradu argumen. Pria itu menyapukan tangan ke wajah. Benarkah dia tidak boleh melepaskan Shanum begitu saja, seperti yang barusan dikatakan ibunya.


Mungkin sang ibu tidak menyadari betapa anaknya, sang pemimpin klan, sudah nyaris bertekuk lutut terhadap gadis itu. Kini ia hanya bisa pasrah membiarkan takdir menentukan jalannya. Tentunya satu hal yang harus dilakukannya terlebih dahulu adalah menahan kepergian Shanum kembali ke negaranya.


Meski Khan tidak begitu yakin bisa mencegah gadis itu. Ia sendiri baru menyadari akhir-akhir ini betapa ia sangat keliru tentang dirinya. Ia mengira bisa merasa biasa saja bergaul dengan Sarnai dan baru sekarang menyadari betapa hal itu ternyata sangat menyengsarakan dirinya.


Bukan karena wanita itu sudah pernah mematahkan hatinya, tapi lebih karena ia dibayang-bayangi oleh rasa bersalah terhadap Shanum. Khan merasa dia seperti pria yang berselingkuh di belakang pasangannya.


Sepulangnya dari hotel tempat pertemuan dengan ibu Khan dan pria itu, Shanum menemukan kedua sahabatnya sedang asyik dengan ponselnya masing-masing di ruang tamu. Shanum tersenyum dan sedikit berbasa-basi mengatakan pertemuannya dengan ibu Khan berjalan lancar.


Setelah itu dia mengambil pakaian renangnya dan kini berdiri di depan kolam renang hotel tempatnya menginap. Kolam renang itu berada di ruangan tertutup dan memiliki pemanas ruangan, sehingga udara di dalamnya tetap terasa hangat, meski suhu udara di luar cukup dingin.


Shanum sudah menggunakan baju renang sejak dari kamar, melapisinya dengan bathrobe hotel, dan mulai melepas bathrobenya. Ia menyampirkannya di kursi yang berada di pinggir kolam. Shanum ingin segera mendinginkan tubuh dan pikirannya di dalam kolam.


Namun saat melihat pantulan air kolam, pikirannya berkelana ke peristiwa saat ia tenggelam. Seluruh kejadian, satu demi satu bermunculan di pelupuk matanya. Shanum menggertakkan gigi. Merasa kesal, setiap melihat segala hal ia selalu teringat kepada pria itu.


"Itu karena kau masih berharap padanya," bisik hati kecil Shanum. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Dia harus melupakan Khan. Dia harus bisa menyingkirkan seluruh kisahnya ke ruangan tertutup di sudut hatinya.


Shanum mendengar suara langkah kaki di lantai mengatakan kepadanya ada seseorang yang sedang mendekat. Lingkungan kolam sore ini memang sepi, tidak ada satu pun orang yang berenang.


Dan Shanum baru berpikir, bahwa ia hanya sendiri berada di tempat itu. Shanum menoleh, dan melihat Khan dengan wajahnya yang dingin tak terbaca menghampirinya. Gadis itu langsung merasa lega melihat Khan yang datang, secara refleks ia menarik bathrobe dari bangku dan memakainya kembali.


"Aku memang brengsek."


Shanum membeku, ia tidak langsung menyahuti ucapan pria itu. Meski ia tidak akan menyangkal kebenaran itu juga. Dari luar gadis itu tidak menunjukkan reaksi terhadap kehadiran Khan atau pengakuan pria itu yang mengejutkan, meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Jujur, ia lebih senang jika ia bisa sepenuhnya mengabaikan pria itu sekarang.


Jadi, di sinilah Khan. Untuk kembali meminta maaf. Untuk membuat gadis itu mengurungkan niatnya kembali ke negaranya.


Sedangkan dalam pikiran Shanum, apa pun itu keinginan Khan, Shanum ingin pria itu menuntaskannya dan segera pergi. Pertahanan dirinya selalu berada di titik terendah ketika ia berada di dekat pria ini dan ia tidak ingin Khan melihat air mata yang menyekat tenggorokannya.


Khan melangkah ke belakangnya, meletakkan tangannya di pundaknya. "Aku menyakitimu, lagi."


Shanum mengangkat bahu, tidak ingin berbohong dan enggan mengakui kelemahannya. Itu terlalu nyaris seperti mengakui mengapa ia begitu rentan terhadap pria itu.


Cinta memang menyakitkan. Tidak ada nama lain untuk kobaran emosi yang dipicu Khan di dalam dirinya. Ia mencintai pria itu.


Shanum juga cukup yakin ia akan selalu mencintai Khan. Hal-hal tentang satu-satunya cinta sejati yang selalu ia anggap kisah dongeng konyol sebelum bertemu pria itu? Ia menjalani itu sekarang. Hanya saja, bagian "bahagia selama-lamanya" itu masih berada di dunia dongeng dan akan selalu berada di sana.


"Aku sangat menyesal. Itu tidak disengaja. Tercetus begitu saja dari bibirku saat kau membuatku marah. Biasanya aku tidak mudah terpengaruh oleh emosi, tapi sejak aku tersadar di rumah sakit, jiwaku dan pikiranku seolah-olah saling bertentangan." Tangan kanan Khan menyelinap ke bawah, mengitari tubuh Shanum dan menekan perutnya, membimbing tubuh mereka berdua mendekat.


Posisi itu sangat intim, seharusnya Shanum menolaknya. Tapi dia hanya menarik napas dalam dan tidak dapat berkilah bahwa tubuhnya merindukan dekapan pria itu. "Kumohon, lepaskan aku."


Ia tidak bisa menyalahkan Khan karena membela mantan kekasihnya itu. Walau bagaimanapun mereka pernah memiliki kenangan bersama. Namun sentuhan pria itu saat ini membawa emosinya terlalu dekat ke permukaan. Dan itu hal yang tidak bisa ia atasi.


Bibir Khan menyapu pelipisnya. "Eej telah menyadarkanku dari delusiku sendiri. Tidak ada yang lebih kuinginkan selain menghabiskan waktu bersamamu."


Dengan lembut namun tegas, Khan membalik tubuh Shanum menghadapnya. "Itu benar Shasha. Jauh di lubuk hatiku terasa kosong saat tidak bertemu denganmu. Pertemuanku dengan Sarnai pun tidak berarti apa pun. Aku tidak merasakan apa-apa lagi terhadapnya, termasuk rasa sakit yang pernah ia torehkan."


Jika Shanum bisa mempercayai bukti di depan matanya, ekspresi Khan menunjukkan gejolak yang sama dahsyatnya seperti yang ia alami. Dan kali ini, pria itu tidak melakukan apa pun untuk menyembunyikannya.

__ADS_1


Seharusnya itu tidak penting, namun ternyata penting. Shanum memaksa tatapannya lurus ke depan, membuka mulut untuk sekali lagi menuntut agar Khan membiarkannya pergi, namun ia tak sanggup mengucapkan kata-kata itu.


Ia menginginkan kedekatan ini.


Khan mendesah, tangannya mengusap-usap punggung Shanum. "Aku menghabiskan tiga hari terakhir dengan menelusuri komplotan pemakai sihir hitam itu. Aku menemukan beberapa hal yang aneh dan meragukanku. Hingga akhirnya semua kegiatan itu berakhir buntu. Dan kau tahu apa yang membuatku terus merasa gelisah, di sela-sela hariku, aku tetap selalu teringat kepadamu. Tidak bisa melepaskan benakku dari melamunkan dirimu. Apa yang sudah kau lakukan kepadaku, Shasha? Kau selalu menghantuiku. "


Dengan keras kepala Shanum terus mengarahkan tangannya ke dada Khan, namun ia harus melihat apa yang dirasakan pria itu tentang hal tersebut. Ia mendongak, tatapan mereka bertemu.


Campuran emosi kacau balau bergetar di sekujur tubuh Shanum, hanya butuh percikan sekecil mungkin untuk membuat mereka berkobar. Kerinduan, cinta, kebutuhan, kepedihan dan kekhawatiran terlihat di pancaran mata gadis itu.


Shanum menatap garis-garis stres mendalam di sekitar mata cokelat keemasan pria itu. Dengan sadar, tangan Shanum terangkat untuk mengelus garis-garis itu. Khan mendesah merasakan sentuhan lembut Shanum.


"Kau melakukannya lagi, Adri. Kali ini kau bersikap baik kepadaku. Apakah selanjutnya kau akan kembali bersikap kasar?"


Khan menggeleng. "Sekarang ini pemikiran tentang menyakitimu membuatku merasa sangat buruk. Tidak, sebenarnya sudah sejak awal aku merasa buruk. Tapi aku berusaha untuk mengacuhkannya, dan berkata pada diriku sendiri bahwa kau seorang gadis yang berbahaya. Aku hanya sedang mencoba melindungi hatiku dari kerusakan parah, jika kau meninggalkanku."


"Itu masuk akal. Tapi kau tetap salah, Adri. Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali kau yang mendesakku melakukannya." Shanum berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikan hatinya yang seolah melonjak-lonjak mendengar pernyataan Khan tersebut.


"Dan, saat ini kau sudah terlalu jauh mendesakku, serta membuatku mengambil keputusan untuk menyingkir pergi. Kau tidak perlu membuat alasan untuk menahanku pergi. Aku tahu, kau menemuiku saat ini untuk itu kan?"


Khan mengangguk.


"Ibumu sangat baik, tapi dia keliru. Kau tidak berutang apa-apa kepadaku."


Mungkin kalau ia terus mengatakan hal itu, Khan akan menyadari Shanum yakin dengan hal tersebut. Tidak peduli betapa kebenarannya akan sungguh menyakitkan.


"Aku tidak berusaha mencari alasan untuk diriku sendiri. Aku sedang mengakui apa yang sebenarnya kurasakan terhadapmu, di luar dari Amnesia yang kuderita."


"Maksudmu, kau serius merasakan sesuatu terhadapku?" Shanum bertanya dengan wajah setengah kaget tak percaya.


"Ya," jawab Khan sembari tersenyum tipis.


"Bagaimana tentang pemutusan ikatan jiwa kita?" desak gadis itu lagi.


"Itu omong kosong besar. Menyadari apa yang kuucapkan bukan berarti aku menginginkannya."


"Kau agak rumit," ucap Shanum.


"Aku seorang pemimpin klan, kerumitan bagian dari hidupku." Khan menjelaskan dengan nada suara santai, sepertinya tidak menyadari kalau kerumitan itu bisa menyakiti.


Shanum menarik napas dalam, kepalanya terasa sakit, semua kerumitan ini bisa mengancam kewarasannya. Tampaknya dia tetap harus mengakhiri semua ini untuk sekarang. Shanum mendorong tubuh Khan dengan kuat, hingga pria itu tersentak mundur.


Gadis itu menggeleng. "Aku butuh memikirkannya. Dan besok aku tetap akan pulang ke negaraku. Jika aku sudah memutuskannya, akan kukatakan segera kepadamu." Keinginannya untuk berenang mendadak menghilang. Dia lebih ingin berada di kamarnya dan meratapi kesedihannya sendiri.


"Tidak. Kau tidak boleh pergi." Khan merasa panik dan tidak menyukai perasaan itu.


"Aku harus kembali ke kamar, Adri. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku lelah." Gadis itu berjalan melewati Khan, tetapi pria itu menghentikannya dengan cengkeraman di lengannya.


Shanum menatap tangan Khan dengan tajam. "Lepaskan aku, please."


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, seakan-akan mengacuhkan pengakuanku tadi. Apakah kau sedang mencoba mempermainkanku, dalam permainan tarik-ulurmu ini?"


Mata Shanum membara. "Bukankah kau yang bersikap seperti itu. Seharusnya kau bercermin, apa yang sudah kau lakukan kepadaku sejak aku di sini?"

__ADS_1


Tiba-tiba Shanum melihat sekelebatan kilau dari salah satu ruang ganti pakaian. Dia memicingkan matanya. Sebuah anak panah sekilas dapat terdeteksi olehnya, dan Shanum menoleh ke arah Khan. Anak panah itu mengarah kepada pria itu. Khan tidak menyadarinya karena pria itu berdiri membelakangi ruang ganti.


Anak panah itu langsung melesat ke arah tujuannya dengan cepat. Shanum sontak meloncat ke arah Khan dan mendorongnya ke arah kolam. Mereka berdua terjun bebas ke dalamnya. Shanum merasa basah, mati rasa, dan kaku. Bahunya juga perlahan terasa panas, seolah ada yang membakarnya dari dalam. Dan hal terakhir yang diingat Shanum sebelum tak sadarkan diri adalah teriakan marah Khan yang memanggil para bawahannya.


__ADS_2