Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 40 Menolak Terlibat


__ADS_3

Shanum masih tertawa geli melihat reaksi kedua sahabatnya. Mereka menatapnya dengan pandangan iri yang tidak ditutup-tutupi. Terlebih saat Shanum menggambarkan Pak Reno di ruangannya tadi. Bagaimana penampilannya, ekspresi wajahnya, dan kata-katanya. Dia bahkan diberi nomor ponselnya oleh Pak Reno sendiri. Dan boleh menghubunginya kapan pun jika ia ingin melakukan bimbingan skripsi.


"Pokoknya aku masih tidak terima! Mengapa Shanum sangat beruntung bisa bimbingan dengan Pak Reno? Aku saja kemarin sudah mengajukan, tapi ditolak dengan alasan jadwalnya penuh." Diva berkata sambil bersungut-sungut. "Aku juga sama, kemarin ditolak juga. Dengan alasan yang sama," sahut Farah memelas.


"Seharusnya kalian seperti aku yang tidak ikut mengajukan." Shanum tersenyum tipis sambil membuka-buka kembali bab pertama yang sudah dikoreksi dari Pak Reno. Dia membaca catatan pria itu, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menyempurnakan bab pertama itu saat sampai di rumah.


"Mengapa kau tidak pernah mengajukan Pak Reno sebagai dosen pembimbingmu?" tanya Farah lagi dengan pandangan menyelidik. "Em, aku tidak mengajukannya, karena sejak awal aku sudah pesimis akan bisa diterima." Shanum mengangkat bahunya. "Tapi ternyata takdir berkata lain, aku seperti mendapatkan jackpot. Tiba-tiba saja dosen pembimbingku menjadi Pak Reno." Gadis itu menyeringai lebar.


"Sepertinya dia pernah melakukan perbuatan sangat baik di masa lalu, hingga mendapatkan balasan yang luar biasa seperti ini," kata Diva pelan. Shanum tersenyum geli mendengar ucapan Diva.


"Ya, kau sungguh beruntung, Sha. Di samping punya kekasih tampan dan kaya selangit. Sekarang dapat dosen pembimbing juga sama tampannya dan terkenal sekampus," kata Farah sambil memutar bola matanya.


Shanum mendesah gusar kemudian menunduk dan memutar-mutar hiasan yang tersemat di tasnya. Farah mencoba membaca air muka gadis itu dan yang dilihatnya di sana adalah amarah. "Aku tidak punya kekasih, Farah. Tidak lagi."


Sontak dahi Farah berkerut dalam, "Bukankah kau masih ada hubungan dengan Khan?" tanya Farah. Diva mendadak mencubit lengan Farah. "Apa sih cubit-cubit," desis Farah. Diva melotot padanya dan memberikan isyarat untuk menutup mulutnya.


Farah balas melotot kepada gadis itu. "Apa dia yang memutuskan hubungan kalian?" tanya Farah lagi. Diva memukul jidatnya tanda frustasi. Sahabatnya yang satu itu memang tidak peka. Dia tidak melihat situasi, terus saja mencecar orang tersebut sampai ia menemukan jawaban yang membuatnya puas.


Shanum hanya diam mematung di tempatnya, tidak tahu harus menjawab apa agar sahabatnya itu tidak tersinggung. Jujur, dia tidak ingin membicarakan lagi soal pria itu. Selama sebulan ini tidak ada satu pun kabar darinya. Jadi Shanum sudah berhenti berharap, meski hal itu sangat menyakitinya.


"Tidak ada kata putus. Karena memang sejak awal pun hubungan kami hanya uji coba. Jadi, tolong berhenti membicarakan soal pria itu." Shanum mengambil tasnya dari bangku dan bersiap meninggalkan tempat itu. "Mana ada hubungan uji coba yang menghancurkan kedua belah pihak," gumam Farah.

__ADS_1


"Tolong antar aku ke parkiran mobilmu, Diva. Tadi Sergei mengatakan ingin berbicara denganku," kata Shanum dengan wajah kaku. Farah yang melihat situasi itu hanya bisa menarik napasnya dan diam. Dia tidak lagi mencecar Shanum.


Diva memimpin langkah mereka menuju parkiran mobil. Di sana sudah menunggu Sergei, sedang menyandar pada salah satu pohon yang berada di belakang mobil. Pria itu tersenyum lembut saat melihat Diva.


"Apa yang mau kau bicarakan, Sergei?" tembak Shanum langsung, tanpa basa basi. "Bagaimana kalau kita mencari kursi untuk duduk." Sergei mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan melihat beberapa kursi besi di taman tak jauh dari sana. Pria itu tersenyum lalu mengisyaratkan dengan tangannya untuk menuju ke kursi itu.


Mereka bergerak mengikuti Sergei. Ketiganya sudah duduk di posisi masing-masing. Farah duduk berdekatan dengan Diva. Shanum duduk sendiri, dan Sergei menyandar pada salah satu pohon.


Sergei berdeham, dan menatap ke arah Shanum. "Aku kemarin mendapatkan informasi dari Astrakhan. Pria itu sepertinya mengetahui kalau aku yang membantu kalian melarikan diri." Sergei terkekeh geli.


"Dan dia sudah membalasku, dengan menggagalkan dua transaksi besar yang ingin memakai jasaku. Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa mendapatkan transaksi lain di kemudian hari." Sergei mengambil ponsel dari saku celananya dan tampak mengutak-atiknya.


Makna ucapan Sergei, bahwa Khan sudah mulai melakukan pencarian calon ratu menbuatnya mual, perutnya bergolak, tetapi yang lebih buruk lagi adalah kesadaran bahwa ternyata dia belum bisa melupakan pria itu.


Shanum mengambil ponselnya. Dia tertegun tidak bergerak saat melihat beberapa video yang sudah masuk ke dalam ponsel. "Coba di buka salah satunya, Sha," ucap Diva. Shanum mengangkat kepalanya dan menoleh, ia melihat kedua sahabatnya sudah mendekatinya. Diva duduk di sebelahnya, sedangkan Farah berdiri di belakangnya. Wajah mereka terlihat penasaran.


Shanum menarik napasnya, lalu dia kembali menunduk, menatap layar ponselnya. Dia membuka salah satu video, melihat di dalamnya ada Khan dengan seorang wanita cantik bertubuh mungil. Ia mengikuti hingga selesai. Lalu membuka dua video lagi yang dikirim Sergei.


Saat seluruh video telah selesai ditonton olehnya dan kedua sahabatnya, dia menoleh kepada Sergei. "Untuk apa kau mengirim video-video itu kepadaku?" tuntutnya sambil mengangkat alis. Sergei menatap balik gadis itu dan berkata, "Aku hanya ingin kau mengetahuinya. Atau mungkin kau sebenarnya kau sudah tahu, jika menilik dari reaksimu?" Pria itu menyipitkan matanya penuh selidik.


Shanum tidak menjawab, dia bangun dari duduknya dan mengibaskan celananya, seakan-akan ia habis duduk di atas kursi yang berdebu. "Dengar, semua ini bukan urusanku lagi. Jadi biarkan aku juga melanjutkan hidupku."

__ADS_1


"Aku tidak ingin ikut campur, Shanum. Tapi aku sudah menganggapmu seperti sahabatku sendiri. Terlepas dari kau yang sudah kembali ke sini, dan kalian kan pernah dekat. Tidakkah ada sesuatu yang harus kau lakukan?" tanya Sergei.


"Tidak." Shanum menjawab dengan singkat. Sergei mengernyit. "Kau tidak ingin menyelamatkan pria itu. Dia sepertinya terlihat tersiksa. Apakah kau setega itu padanya, Shanum. Dia merana tanpamu," sambung Sergei lagi.


Pikiran Shanum terhenti, air matanya hampir tumpah. Dia menahan setiap tetesnya, meski matanya tetap terlihat berkaca-kaca. Shanum menutup mulutnya dengan tangan. Ia memegang erat sandaran besi dari salah satu kursi, seakan-akan tubuhnya akan meluruh sewaktu-waktu ke tanah.


Shanum menggeleng. "Itu tidak sepenuhnya benar. Dia tidak mungkin merasa tersiksa. Jika dia tidak menginginkannya kenapa tidak menolaknya saja. Dia kan seorang Khan, raja dari Klan Altan." Oh Tuhan, dada Shanum terasa sakit, kepalanya juga ikut sakit.


"Dia mungkin tidak dapat menolaknya, Shanum. Karena aku tahu setiap klan memiliki aturan tersendiri selama berabad-abad soal pasangan pemilik tahta." Shanum mengeraskan rahangnya, wajahnya tampak marah.


"Jika begitu kenyataannya, mengapa dia harus tidak jujur kepadaku. Dia bisa mengatakannya padaku. Tidak perlu berbohong mengatakan bahwa dia sedang tidak berada di Astrakhan saat itu, padahal dia sudah kembali ke kota itu, dan menutupi kepergiannya dengan seorang wanita ke sebuah pesta. Jika kau menjadi aku bagaimana perasaanmu?"


Wajah Shanum tampak remuk redam. Akhirnya ia mengeluarkan semua kenyataan yang disimpannya selama ini. Gadis itu terlihat marah, sedih dan hancur.


Sergei tidak mengalihkan pandangan darinya, tetapi Shanum melihat rasa kasihan memenuhi wajahnya. Farah dan Diva juga menatap gadis itu dengan pandangan sedih. Akhirnya mereka tahu duduk persoalan sebenarnya yang terjadi antara Shanum dan Khan.


"Maafkan aku, sebaiknya aku segera pulang. Masih ada perbaikan bab pertama yang harus kulakukan." Shanum berlalu dari hadapan kedua sahabatnya dan Sergei. Dia menuju parkiran mobilnya dan segera masuk ke dalamnya dengan otomatis bagaikan robot. Tidak menyadari enam pasang mata mengikutinya menuju mobil. Menjaga jarak mereka agar gadis itu tidak menyadarinya.


"Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Diva pelan. "Sebaiknya aku mengikutinya. Aku permisi ya. Selamat bersenang-senang kalian berdua." Farah langsung berlari menuju mobilnya, berniat mengikuti Shanum. Farah cemas terjadi sesuatu dengan Shanum. Karena kondisi emosinya yang masih kacau akibat peristiwa tadi.


Diva menatap Sergei yang sedang merangkul bahunya. "Aku kok jadi tidak semangat lagi ya pergi ke tempat yang kau katakan itu. Kita pulang saja ya, Sergei," ucapnya sambil mendesah lelah. "Oke, aku akan mengantarmu pulang. Tapi kau yakin tidak ingin makan dahulu. Mungkin di restoran yang searah dengan rumahmu." Sergei mencoba bernegosiasi dengan pujaan hatinya itu. "Ya sudah, kita makan dahulu saja," jawab Diva. Keduanya lalu menuju mobil dan keluar dari kampus itu.

__ADS_1


__ADS_2