
Setelah mengetahui Shanum tidak membutuhkan apa pun lagi, pria itu duduk di sebelah Shanum. Mereka bertatapan lama dan akhirnya Shanum yang mengalihkan pandang. "Jadi, kau sudah bisa mengingat tentangku?" tanya Shanum.
Khan tersenyum tipis. "Tidak. Tadi itu aku hanya mengingat sepotong memori yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku teringat saat memelukmu, entah di mana hal itu terjadi. Kau menangis juga seperti tadi dan kau memanggilku Adri, sedangkan aku berusaha menghiburmu dan memanggilmu dengan sebutan Shasha."
Shanum membalas senyum pria itu. "Ya, itu adalah nama panggilan khusus kita berdua."
Khan mengangguk, lalu kembali diam. Pria itu sesekali melirik ke arah Shanum sembari tersenyum tipis. Dan hal itu membuat Shanum menjadi gugup. Rasanya dia kembali menjadi Shanum beberapa bulan yang lalu, ketika pertama kali mengenal Khan.
Untuk mengurangi rasa gugupnya gadis itu mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Kamar itu masih tetap bergaya design kontemporer yang sama, tidak ada yang berubah. Nuansa perpaduan abu-abu, coklat dan hitam merepresentasikan masa kini. Beragam perangkat keras yang dipajang di dalam kamar seperti lampu dan aksesoris, terbuat dari baja, krom dan nikel.
"Kenapa kau membawaku ke kamarmu?" tanya Shanum tiba-tiba. Dia sempat mengira mereka akan langsung ke ruang makan bukannya menuju kamar.
Khan mengangkat alisnya. "Oh, jadi kau tahu ini adalah kamarku. Sudah seberapa sering aku membawamu ke kamar ini?" tanyanya dengan nada suara menggoda.
Shanum mengernyit. "Hmm..."
Dengan polosnya Shanum menghitung berapa kali ia masuk ke kamar ini.
Lalu gadis itu berhenti tiba-tiba, rona merah muda di pipinya memekat saat dia jelas memikirkan makna tersirat dalam ucapan Khan lebih lanjut.
Sudah lama sekali Khan tidak melihat wanita tersipu dan pengaruhnya langsung terasa di darahnya, membuatnya berdesir nikmat. Khan bergeser di tempat duduknya, menjadi gelisah.
Shanum menatap pria itu dengan lekat, ia bersedekap sembari mendengus. "Sebaiknya kau buang pikiran mesummu itu jauh-jauh dari otakmu sebelum meracuni dirimu. Dirimu yang dulu tidak seperti yang kau bayangkan."
Khan terperanjat. "Benarkah? Berarti dia pria yang bodoh sekaligus hebat." Pria itu terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. Seolah-olah mereka sedang membicarakan satu sosok lain, bukan dirinya sendiri.
Seorang pelayan muncul pada momen itu, membawa troli berisi makanan dan minuman mereka. Khan memberikan isyarat di mana mereka mereka harus meletakkannya. Lalu dia mengajak Shanum pindah tempat menuju meja makan kecil yang terdapat di balkon.
Setelah pelayan itu menyajikannya dan pergi, Shanum berkata, "Apa makanan ini tidak terlalu banyak?" Gadis itu melihat makanan di hadapannya itu bisa dinikmati oleh empat orang, sedangkan mereka di sini hanyalah berdua.
Khan mengambil jus miliknya, menatap Shanum sembari berkata, "Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi aku meminta juru masak untuk menyiapkan semuanya."
Shanum mengerutkan keningnya. "Tapi makanan ini adalah kesukaanku dan juga kesukaanmu."
"Benarkah? Kau juga tahu jenis makanan kesukaanku?" Pria itu meletakkan gelas jusnya di meja, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Shanum.
Jantung gadis itu berdetak tak keruan. Khan begitu dekat hingga ia bisa melihat mata pria itu yang berwarna coklat keemasan, dan rahangnya yang terpahat sempurna.
"Berarti kau sudah kenal dengan Frans, juru masakku. Sedekat apa hubungan kalian?" Wajahnya menjadi kaku, nada suara Khan terdengar tidak suka.
Shanum menggeleng cepat, secara naluriah menyatakan bahwa tuduhan pria itu salah. "Kau yang memastikan dia tahu apa yang kusukai."
Ekspresi Khan langsung berubah, senyum terbit di bibirnya.
Shanum menghela napas lega. Namun, kemudian ia mengernyitkan dahi. Gadis itu baru menyadari sikap Khan barusan mencerminkan seakan-akan pria itu cemburu kepada juru masaknya.
Bolehkah dia berharap hubungan mereka akan kembali lagi.
Khan mengambil piring lalu menanyakan makanan yang diinginkannya. Shanum memperhatikan tangan Khan. Maskulin, jemarinya panjang. Kuat. Remang yang terasa seperti kerinduan yang menjalari tubuhnya.
Shanum menunjuk makanan yang ia mau, dengan jantung berdebar-debar. Dia terkejut pria itu melayaninya dalam mengambilkan makanan. Sikap manisnya itu ternyata tidak ikut menghilang seperti ingatannya. Dan hal itu memancing rasa penasarannya.
"Apa kau selalu bersikap seperti ini kepada setiap wanita?"
Khan menggeleng. "Tidak. Aku hanya pernah melakukan ini kepada Ibuku, dan em... mantan kekasihku."
"Mantan kekasih?" beo Shanum.
"Ya, Sarnai, mantan kekasihku."
__ADS_1
"Oh."
"Betul," jawab pria itu.
Shanum terkejut oleh kejujuran Khan.
Seolah membaca pikirannya, Khan berkata angkuh, "Kau pasti penasaran, melihat aku memperlakukanmu seperti ini. Padahal ingatanku tentang dirimu belumlah kembali."
Shanum mengangguk.
Khan mendesah, sembari mengambil makanan untuk dirinya sendiri. "Entah mengapa aku bergerak otomatis jika hal itu berkenaan denganmu, Shasha. Sepertinya tubuhku sudah tahu apa yang harus dilakukannya."
Pada momen itu mereka disela oleh pria bersetelan jas, dengan rambut diikat ke belakang. Pria itu menatap Shanum. "Maaf mengganggu," ucapnya. Lalu ia beralih memandang Khan dan berkata dengan pelan di telinga Khan.
"Suruh tunggu di ruang kerja."
Pria itu mengangguk. "Baik, Sir."
Pria itu pergi dan Khan kembali melanjutkan kegiatannya memindahkan makanan ke dalam perutnya yang lapar.
Shanum memberanikan diri melirik ke seberang dan jantungnya serasa melonjak-lonjak. Melihat Khan mengunyah makanannya dengan cara yang elegan, entah mengapa menimbulkan reaksi pada tubuh Shanum. Dia merasa seolah-olah ingin menjadi makanan yang dicicipi oleh pria itu.
Hentikan.
Paras Shanum memerah. Dia memandangi Khan seperti penggemar berat yang dimabuk cinta. Seharusnya ia tidak bersikap seperti ini. Luka sakit hati akibat tuduhan pria itu terhadap dirinya masih terasa basah. Shanum harus melindungi diri. Pria itu bahkan tidak ingat tentang perasaannya terhadap Shanum.
Shanum mencintai pria itu. Ia tidak bisa menyangkal. Ia tidak munafik. Shanum sampai ketakutan mendapati bagaimana hari demi hari bergulir lambat, dan bagaimana pikirannya terus menerus tertuju kepada Khan seperti besi yang tertarik pada magnet.
"Aku akan kembali ke rumahku, Adri. Setelah seluruh urusan sahabatku mencari kekasihnya selesai." Shanum mengatakan itu sambil mengelap bibirnya dengan serbet yang telah disediakan. Dia sudah selesai dengan santapannya.
Dan kata-kata Shanum barusan membuat Khan seketika meletakkan sendoknya. Pria itu merasa makanan yang tersisa di piringnya menjadi tidak menarik lagi untuk dinikmati.
Suara Khan muram. "Mengapa kau cepat-cepat kembali? Apa kau tidak senang berada di sini?"
"Bagaimana jika kubilang aku tidak ingin kau pergi?"
Shanum menatap Khan dengan tatapan intens. Ia pasti salah dengar, atau Khan tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, atau maksud ucapan pria itu tak seperti yang ada di pikiran Shanum.
Keheningan berlangsung lama. Shanum lalu menggeleng dan berkata, "Aku tidak bisa Adri. Izinku kepada orang tuaku hanya untuk membantu penyembuhanmu. Dan aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa kau sudah sembuh. Jika aku tidak segera kembali, mereka pastinya akan khawatir," jawab Shanum.
Khan meraih tangan Shanum ke tangannya yang jauh lebih besar, pandangannya terpaku pada gadis itu. Shanum melihat apa yang akan Khan lakukan seolah dalam gerak lambat, namun tetap saja sensasi bibir pria itu di punggung tangannya mengirimkan gelombang kejut ke sekujur tubuh.
Shanum langsung berusaha menarik tangannya, namun Khan tidak mau melepaskannya. Pria itu menegakkan tubuh perlahan. Shanum merasakan telunjuk Khan membelai titik di bawah pergelangan tangan tempat denyut nadinya berdetak kencang, kemudian barulah ia melepaskannya. Gerakan itu dilakukan sambil lalu, tetapi efeknya sungguh mengguncang.
"Aku tidak mau kau pergi karena aku baru sadar betapa aku sangat membutuhkanmu."
Kedua tangan Shanum mencengkeram ujung meja. Sesuatu semakin berdebar-debar tak keruan dalam dadanya, namun ia tetap beranggapan bahwa yang Khan bicarakan pasti soal kondisi kesehatannya, dengan Amnesianya."
"Ada Eej dan tim dokter, Adri. Mereka pasti akan membantumu..."
Khan nyaris meledak. "Aku tidak bicara soal kesehatanku. Aku tidak peduli soal sakit Amnesia ini. Aku ingin kita saling mengenal kembali Shanum. Kalau kau jauh di seberang lautan, bagaimana aku dapat berinteraksi langsung denganmu? Mungkin saja, dengan adanya interaksi langsung, ingatanku perlahan dapat kembali."
Khan kembali mengulurkan tangannya, kali ini untuk menyentuh pipi Shanum. Ia merasakan tangan Khan gemetaran. Deja vu menerjang Shanum. Pria di hadapannya ini seperti Khan Adrian kekasihnya, dengan ingatan yang utuh.
"Please, Shanum. Maukah kau memikirkannya?"
Sebelum menyadari apa yang dilakukannya, Shanum merasakan tangannya terangkat dalam gestur yang sangat jelas untuk menyelipkan rambut ke balik telinga. Itu kebiasaannya ketika gugup.
Mata Khan menyipit dan mengikuti gerakannya, dan Shanum merah padam. Astaga. Shanum tidak ingin terlihat bahwa dirinya terpengaruh oleh sikap Khan.
__ADS_1
Shanum menggigit bibirnya. Dan mata Khan membara serta tampak sensual ikut menatap bibirnya. Shanum mengabaikan respons tubuhnya. Dia tersenyum manis, dan sesuatu yang berbahaya berpijar di dalam perutnya ketika ia melihat kobaran masih menyala di mata pria itu.
"Em, baiklah. Aku akan mempertimbangkannya," ucap Shanum dengan suara serak.
Khan diam sesaat sebelum rasa lega menghampiri dirinya. Setidaknya gadis itu bersedia mempertimbangkannya. Andaikata akhirnya tetap penolakan yang diterimanya, Khan akan mencoba cara lain lagi untuk membatalkan kepergian gadis itu.
Setelah selesai, Khan mengajak Shanum keluar dari kamar itu. "Aku harus menemui seseorang terlebih dahulu. Maukah kau ikut denganku sebentar. Aku akan mengantarmu kembali ke tempat tinggalmu, setelah menemui tamuku ini," kata Khan.
"Oke," jawab Shanum singkat.
Tepat saat mereka mendekati ruang kerja pria itu, senyum terbit di bibir Shanum. Dia teringat pertemuan mereka di ruangan itu, saat dirinya merasakan pedang Khan menempel di lehernya.
Khan berhenti. "Mengapa kau tersenyum?" Pria itu ternyata memperhatikannya.
Shanum memalingkan kepala, dia melihat ekspresi bingung Khan, karena tiba-tiba ia senyam-senyum sendiri. Dengan lirih Shanum berkata, "Aku hanya sedang mengenang masa lalu ketika pertama kali berada di ruangan kerjamu, di sana terjadi peristiwa yang sangat menarik."
"Peristiwa menarik apa?" tanya Khan dengan wajah penasaran.
"Akan aku ceritakan, di lain waktu. Sekarang kau harus menemui tamu itu terlebih dahulu." Gadis itu memberikan isyarat kepada Khan untuk kembali melangkah sesuai tujuan semula mereka.
Ketika mendekati ruang kerja, Shanum mendengar suara-suara dan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya seakan meremang untuk alasan yang tidak jelas. Pintu terbuka sedikit, menghalangi sosok tamu yang berada dibaliknya.
Lalu pintu terbuka sepenuhnya dan Khan masuk diikuti oleh Shanum. Kengerian dingin meresap, menyebar di sekujur tubuh Shanum. Rasa syok menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas. Ia tidak dapat mempercayainya matanya.
Seorang wanita dan pria tampak menghampirinya dan Khan. Sosok keduanya sangat dikenal oleh Shanum. Meski sang wanita tidak pernah dilihatnya secara langsung, kecuali hanya dalam mimpi-mimpinya.
Wanita itu menampilkan kesan manis. Mulai dari kemeja feminim pas badan berikut rok panjang dengan bahan melambai lembut, sepaket dengan sepatu bersol rendah yang nyaman. Rambut lurus mengilap yang diselipkan di belakang telinga dan dibelah kiri. Rambutnya merupakan potongan bob sebahu yang membingkai wajahnya.
Shanum samar-samar menyadari Khan membeku di sampingnya. Tindakan bawah sadar pria itu terhadap wanita yang dahulu pernah menjadi kekasihnya. Meskipun mereka telah lama berpisah dan pria itu tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Shanum meyakini, Khan tetap mengalami syok juga, sama dengan dirinya.
Melihat wanita itu berdiri di hadapannya, Shanum merasakan desakan sesuatu yang membuatnya ingin berbalik ke arah pintu, meninggalkan ruangan itu pada kesempatan pertama.
"Shanum... Betulkah ini kau?"
Sebuah suara memanggil namanya dengan nada gembira. Shanum menoleh dan menemukan pria yang bernama Ulagan atau biasa dipanggilnya dengan sebutan Ula, menampilkan senyum ramahnya.
"Hai, Ula." Shanum mencoba menjawab Ula, meski sesuatu terasa menempel di langit-langit mulutnya, membuatnya tercekat.
Lalu wanita di samping Ula itu menatap mata Shanum dan Khan. Dan terutama kepada satu orang. Mata Khan. Pria itu masih bergeming. Shanum melihat keterkejutan di kedalaman mata itu yang buru-buru ditutupi olehnya.
Paru-paru Shanum terbakar karena ia menahan napasnya. Sejuta hal seakan menyumbat tenggorokan dan mengganjal perutnya: sedih, cemburu, cemas. Gadis itu masih terguncang.
"Sarnai," Khan menyapanya, nada serak alami dalam suaranya terdengar jelas. Ia maju selangkah dan mengamati wanita itu dari jarak dekat. Wajah Khan datar tanpa ekspresi.
"Akhirnya kita bertemu kembali, Khan," katanya, suaranya terdengar halus.
"Dan siapa pria di sampingmu itu, Sarnai. Apakah dia suamimu?" tanya Khan dengan ekspresi dingin. Seolah-olah pria itu tidak menyukai menemukan Sarnai datang dengan seorang pria.
Ula memicingkan matanya, terlihat heran. "Anda tidak mengenalku, Yang Agung? Namaku Ulagan, kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku kakak Sarnai, sesuai dengan penjelasan yang pernah aku ungkapkan kepadamu tempo hari."
Khan gelagapan, dia semakin bingung mendengar rentetan pertanyaan sekaligus penjelasan dari pria itu. Sejak kapan Sarnai memiliki Kakak?
"Dia mengalami Amnesia." Shanum mencoba meluruskan kesalahpahaman yang mulai muncul di mata Ula. Gadis itu refleks merespon meski otaknya masih terasa lemah akibat terguncang.
"Dan siapa wanita di sampingmu itu, Khan?" tanya Sarnai dengan suara penuh rasa keingintahuan.
"Sarnai, ini Shanum Qamira, temanku. Shasha ini Sarnai. Teman lama."
Shanum mengulurkan tangan dan wanita itu menjabatnya.
__ADS_1
"Teman Khan adalah temanku juga," kata Sarnai sambil tersenyum sopan.
Shanum menanggapi sembari tersenyum tipis. Hatinya berdenyut sakit, ketika mendengar dari bibir Khan, bahwa dia diperkenalkan hanya sebagai seorang teman di hadapan mantan kekasihnya.