Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 78 Luruh Lunglai


__ADS_3

Shanum melihat punggung Jullian menjauh dari pandangannya. Pria itu memberikannya waktu untuk mencerna berita yang ia bawa. Andaikan tadi Diva tidak membawanya untuk duduk di kursi sebelum berita buruk itu diucapkan oleh Jullian, mungkin ia akan terduduk lemas di atas tanah saat ini. Diva dapat membaca bahwa berita yang akan di bawa Jullian bukanlah berita baik.


Shanum masih membeku di tempatnya, tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Jangankan untuk berkata-kata, untuk melihat dengan jelas pun ia tak bisa, air mata membakar matanya, mengalir turun pada pipinya tanpa henti.


Dadanya terasa sakit, seakan ada orang yang menusuk dan merenggut keluar jantungnya. Shanum tidak tahu apakah ia akan sanggup untuk melihat keadaan Khan tanpa menjadi hancur berkeping-keping.


Kenapa ini terjadi?!


Bagaimana kalau ia tak berhasil menyelamatkan pria itu dengan sihir penyembuhnya?!


Sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasan dan mulai memukul seseorang, atau melukai dirinya sendiri, dia menggapai tasnya ke bawah kursi. Dia tidak menemukannya, dan tidak menyadari bahwa salah satu sahabatnya telah meletakkan tas tersebut di sampingnya. Farah mengambilkannya dan menyodorkannya kepada Shanum.


Shanum mengangguk mengucapkan terima kasih tanpa suara kepada Farah.


"Kami turut prihatin, Sha," kata Diva.


"Iya. Kau harus pergi ke sana. Jangan sampai nanti kau merasakan penyesalan seumur hidupmu. Dan semoga kekasihmu itu bisa disembuhkan," sambung Farah.


"Terima kasih," jawabnya dengan suara serak. Air mata masih menggenangi matanya. Gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan tampak menghubungi seseorang.


"Hallo?" Sebuah suara lembut terdengar di telinga Shanum.


"I-bu, a-ku ingin kalian ke tempatku sekarang. Aku berada di taman di sebelah kiri gedung serbaguna."


"Nak... apakah kau sedang menangis?"


"Ku-mohon, Ibu dan Ayah harus ke sini! Aku... a-ku..." Suara gadis itu tercekat, ia tak kuasa melanjutkan ucapannya.


"Oke, Ibu dan Ayah akan ke sana sekarang," jawab Ibu Shanum dengan cepat.


Lalu Shanum menutup panggilan. Dia kembali menatap ke arah para sahabatnya.


"Kalian adalah para sahabat baikku," ujarnya, "dan aku perlu kalian ikut datang ke Astrakhan bersamaku. Aku memerlukan dukungan kalian. Kumohon!"


Farah dan Diva saling berpandangan. "Apakah kami boleh berada di sana oleh mereka, Sha?" tanya Diva terlihat ragu.


"Tentu saja boleh. Aku akan memaksa jika mereka melarangnya."


"Tapi aku harus izin dengan orang tuaku dahulu ya, Sha," ucap Farah.


"Sama, aku juga harus minta izin." Diva ikut berkomentar.


Shanum menghembuskan napasnya, lalu ia mengangguk. Walau bagaimanapun ia mengerti bahwa kedua sahabatnya itu tetap harus berpamitan dengan kedua orang tua mereka. Andaikata mereka tidak diizinkan untuk pergi, tentunya Shanum tidak berhak untuk memaksanya.


"Oh, Tuhan, Princess, ada apa? Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?" potong Dimas. Ayah dan Ibu Shanum itu mendatangi putrinya dengan wajah cemas.


"Ayah..."


Shanum langsung berdiri dan memeluk Dimas sembari kembali menangis tersedu-sedu. Raisa, sang ibu memperhatikan dengan wajah bingung, setengah khawatir.


"Ada apa, Sayang? Ayo, ceritakan kepada Ayah," desak Dimas. Pria itu membawa Shanum untuk kembali duduk di kursi.


"Tidak terjadi apa-apa padaku, Ayah. Tapi itu--itu..." Suaranya tercekat, ia kembali menangis. Gadis itu tak kuasa mengungkapkan apa yang telah terjadi.


"Selamat siang, Sir...Mam." Jullian tiba-tiba muncul dan berada di tengah-tengah mereka. Kedua orang tua Shanum kaget melihat pria itu.


"Hei, kau berada di sini!" Dimas menoleh ke arah Jullian. "Sejak kapan kau datang, Nak Jullian?" tambah Dimas.


Jullian tersenyum tipis. "Izin bertanya, Sir. Apakah acaranya sudah selesai?"


Dimas mengerutkan keningnya. Pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan juga tentu saja membuat pria itu bingung. "Acaranya sudah selesai dari tadi. Ada apa ya?" jawab Dimas dengan nada suara curiga.


"Apakah Anda dan keluarga berkenan kembali ke rumah, Sir? Ada hal penting yang harus kusampaikan. Hal ini tidak bisa dibicarakan di sini, karena sudah terlalu banyak orang di sekitar kita," kata Jullian dengan sopan.


Sempat terjeda beberapa detik, Dimas tidak langsung menjawabnya. Keraguan terlihat di sepasang matanya, namun kemudian ia mengangguk. "Oke, kita kembali ke rumah." Dimas menoleh ke arah Raisa dan Shanum, mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.


"Tunggu, Jullian! Ada yang ingin kutanyakan padamu," kata Shanum dengan suara sedikit keras. Semua orang yang berada di sana serempak berhenti melangkah dan menatap ke arahnya. "Em, apakah Farah dan Diva ada kemungkinan boleh ikut denganku?" tanya Shanum.


Jullian mengangguk. "Kami sudah menduga bahwa kau akan meminta hal itu. Jadi saat ini sebuah pesawat sudah dipersiapkan untuk membawa para sahabatmu ke Astrakhan. Bahkan andaikan Anda dan Nyonya ingin ikut, juga boleh, Sir," jawab Jullian.


"Apa? Ke Astrakhan?" Dimas mengerutkan keningnya semakin bingung. "Sebenarnya ada apa ini? Mengapa putriku harus pergi ke sana?" Pria itu terlihat tidak menyukai percakapan yang ia dengar.


"Kita bicarakan di rumah saja, Mas," potong Raisa. Ibu Shanum itu tampaknya sudah bisa mencurigai keadaan yang sedang terjadi. Tidak mungkin putrinya itu menangis hingga seperti itu, kalau bukan karena sesuatu hal yang menyakitkan sedang menimpanya.

__ADS_1


Dan saat ini hanya ada dua hal pemicu yang terbersit dalam pikiran Raisa, yaitu tentang mimpi buruk putrinya itu atau tentang Khan, kekasihnya.


Dimas menghembuskan napasnya, dia berusaha mendinginkan emosinya yang tadi mulai tersulut. "Oke. Kita bicarakan di rumah." Mereka lalu melanjutkan langkah untuk bergerak pergi.


Shanum dan kedua sahabatnya berpisah di parkiran mobil, Diva dan Farah kembali ke rumah mereka masing-masing. Shanum tidak mengatakan apa-apa saat bertemu dengan kedua orang tua para sahabatnya itu. Dia memberikan kesempatan Diva dan Farah untuk berbicara sendiri terlebih dahulu dengan orang tua mereka.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Shanum tetap gelisah. Dia menggenggam erat tas tangannya lalu menatap kaca jendela mobil untuk waktu yang terasa sangat lama, sampai suara ayahnya menyadarkannya. Shanum mendongak menatapnya. Ternyata pintu mobil sudah dibuka, dan mereka sudah sampai di rumah.


Dimas mengulurkan tangan meraih tangan putrinya itu, menyadari Shanum memerlukannya. Kaki gadis itu terasa rapuh, seakan kakinya menolak untuk berjalan seperti biasanya. Dimas memegangi tangannya dengan erat, khawatir putrinya itu mendadak jatuh. Mereka melangkah menuju teras depan, dan melihat Jullian sudah menunggu di sana.


Mereka semua duduk di ruang tamu, menunggu Jullian memulai pembicaraannya. Jullian lalu mengulang kembali kata-katanya yang tadi sudah diungkapkannya kepada Shanum dan para sahabatnya. Wajah Raisa terlihat kaget. Namun ekspresi Dimas tetap datar. Setelah Jullian selesai, masih belum ada reaksi dari ayah Shanum tersebut.


Shanum menatap wajah Dimas sambil menggigit bibirnya. "Bagaimana Ayah? Bolehkah aku pergi ke Astrakhan?"


Dimas mengetatkan rahangnya. Wajahnya terlihat tidak suka. Pria itu masih berat melepas putrinya pergi ke tempat itu.


"Ayah..." desak Shanum lagi.


Dimas menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengizinkannya."


"Tapi, Sir--," ucap Jullian.


"Aku tidak mau putriku ikut celaka," potong Dimas.


"Dan aku akan tetap pergi, meski Ayah tidak mengizinkannya," sahut Shanum.


Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah Shanum. Mereka melihat ekspresi marah di wajahnya. Matanya menatap ke arah Dimas dengan tajam.


"Shanum kecewa dengan Ayah. Selama ini Ayah mengajarkanku untuk membantu orang yang sedang kesusahan. Dan tidak bersikap menjadi seorang yang pengecut. Tapi ternyata, ajaran Ayah itu hanya di mulut saja, tidak diikuti oleh tingkah laku yang sesuai." Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Khan sekarang sedang sekarat Ayah. Kekuatan Shanum dibutuhkan untuk menyelamatkannya. Terlepas dari ketidaksukaan Ayah terhadapnya, seharusnya Ayah tidak boleh bersikap egois seperti itu."


Ucapan putrinya itu menohok Dimas. Wajahnya memucat dan membuatnya tidak bisa berkata-kata. Pria itu diam membisu, tidak menyanggah atau pun berusaha berkelit.


"Aku akan segera kembali Jullian. Kau tetap tunggu di sini." Shanum bangkit dari duduknya, dan melangkah dengan punggung tegak. Rasa syok yang dialami sebelumnya terlihat menghilang dalam sekejap oleh amarah. Ia tidak menoleh kembali, dan berjalan cepat menuju ke kamarnya.


Raisa menoleh ke arah suaminya, lalu berkata, "Aku tidak percaya betapa piciknya dirimu, Mas! Kalau kau terus bersikap seperti ini, maka kau akan kehilangan putrimu. Tolong kau pikirkan dengan akal sehat!" Wanita itu lalu bergerak menyusul putrinya, meninggalkan suaminya yang nampak terduduk lemas di kursinya dengan wajah kusut.


"Nak, boleh Ibu masuk," kata Raisa sembari mengetuk pintu kamar Shanum. Tiba-tiba pintu di hadapannya terbuka. Wajah putrinya itu terlihat suram, matanya bengkak karena banyak menangis.


"Ayah jahat Bu. Aku tidak percaya dia bisa sekejam itu!" ucap Shanum dengan suara serak.


"Shhh, sabar ya, Nak! Kau boleh pergi, Ibu mengizinkannya. Tentang Ayah, biar menjadi urusan Ibu. Semoga Nak Khan bisa diselamatkan ya." Raisa memegang kedua pipi Shanum sembari mengusap air matanya.


"Sudah, jangan menangis lagi! Kau harus kuat, Nak. Ibu percaya dirimu dapat menolongnya. Dan apa pun yang kau alami di sana nanti, tidak perlu malu, kau bisa berkeluh kesah dengan Ibu. Tolong telepon Ibu ya, Nak."


Shanum mengangguk. "Terima kasih, Ibu. Shanum sayang Ibu." Gadis itu memeluk Raisa dengan erat.


"Sekarang ayo bersiap-siap, Ibu akan membantumu. Jangan biarkan Nak Jullian menunggu terlalu lama." Wanita itu melepas pelukan Shanum dan mengajaknya menuju lemari.


Shanum menganggukkan kepalanya. Lalu membuka lemari dan mengeluarkan tas bepergiannya. Kemudian ia mulai menata pakaian yang ingin dibawanya di atas ranjang. Raisa membantu memasukkan dan menyusun dengan rapi pakaian itu di dalam tas.


"Oh iya lupa, aku harus menyisihkan satu setel pakaian untuk diletakkan di dalam tas tangan, Bu."


"Untuk apa?" tanya Raisa heran.


"Aku akan meminta Jullian membawaku ke Astrakhan dengan teleportasi, Bu. Tas besarnya akan aku titipkan di pesawat."


"Kau tidak pergi dengan pesawat?" tanya Raisa lagi.


Shanum menggeleng. "Aku ingin langsung sampai di tempat Khan dirawat, Bu. Ingin segera melihat kondisinya, dan tak sanggup jika harus menghabiskan lebih banyak waktu di penerbangan dengan perasaan cemas."


Wanita itu tersenyum tipis. "Hmm, Ibu mengerti." Raisa tahu, putrinya itu sudah tak sabar untuk melihat keadaan pria pujaan hatinya. Rasa khawatir tercermin di matanya sejak di taman kampus tadi. Setelah semua beres, gadis itu mengambil handuk di gantungannya.


"Shanum mandi dulu ya, Bu," kata gadis itu. Shanum membawa serta pakaian yang akan ia kenakan di dalam genggamannya.


"Oke, Ibu tunggu di ruang tamu ya. Nanti Ibu akan meminta tolong Bi Inah untuk membawa tas ini ke ruang tamu," ucap Raisa. Shanum mengangguk sebagai respon, lalu ia bergegas menuju ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan mandinya dengan cepat, Shanum menuju ke ruang tamu. Dia melihat sudah ada kedua sahabatnya menunggu di sana. Mereka tersenyum ke arahnya dan dibalas oleh Shanum dengan senyum lebar berikut anggukan kepala kepada keduanya.


Shanum mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, namun tidak menemukan ayahnya berada di sana. Gadis itu terlihat sedih, ia menghela napasnya dalam.


"Ayah sedang di kamar, sedang beristirahat. Dia mengatakan kepalanya sedikit pusing. Jadi tak bisa menemuimu sebelum pergi. Nanti Ibu yang akan mengatakan kepada Ayah tentang keberangkatanmu ya," kata Raisa.

__ADS_1


Wanita itu tahu putrinya pasti sedang mencari ayahnya. Dan ia juga tahu, suaminya itu tidak akan keluar dari kamar hingga Shanum pergi.


Sebelum pria itu pergi ke kamar, Dimas mengatakan kepadanya, bahwa suaminya itu meminta dirinya saja yang melepas kepergian Shanum. Dan Raisa mengerti, pria itu masih merasa berat hati untuk mengikhlaskan kepergian putri kesayangannya itu.


Shanum mengangguk, lalu menoleh ke arah para sahabatnya. "Kalian berangkat dengan pesawat ya. Aku tidak bersama kalian, dan akan ikut Jullian dengan teleportasi."


"Kau tidak bersama kami?" ulang Farah dengan nada suara kaget. Dia memandang ke arah Shanum dengan ekspresi seolah-olah cemburu.


"Iya, Sha. Apakah tidak akan menjadi masalah nantinya andaikata kami ikut?" timpal Diva dengan kening berkerut.


"Untuk masalah dokumen keimigrasian semuanya sudah diurus, Nona. Jangan khawatir. Kalian akan dikawal oleh rekan saya Abdan, Dan saya akan membawa Shanum tepat ke samping tempat tidur Yang Agung dengan selamat," kata Jullian seraya mengambil alih jawaban yang seharusnya diucapkan oleh Shanum.


"Betul kata Jullian. Aku memang ingin segera sampai di sana. Dan aku yakin dia tidak akan membawaku ke tempat antah berantah, atau pun mendadak muncul di tengah lautan." Shanum mencoba bergurau untuk menutupi rasa cemasnya.


"Tentu tidak, aku bisa-bisa dibunuh oleh Yang Agung jika membawamu ke titik koordinat yang berbahaya." Jullian menjawab masih dengan wajah datarnya, sembari mengedarkan pandangannya ke arah ketiga gadis itu.


"Oke, kalau begitu kita harus segera berangkat," sela Abdan. "Kami pamit pergi, Mam." Pria itu setengah membungkuk di hadapan Raisa. Diikuti oleh Jullian. Sedangkan Shanum dan kedua sahabatnya bergantian mencium punggung tangan wanita itu.


"Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa memberi kabar kepada Ibu," pesan Raisa kepada Shanum. Gadis itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah mendekati Jullian.


"Aku sudah siap, Jullian." Shanum berdiri tegak menggenggam erat tas ransel yang dibawanya.


"Oke, jangan kaget jika nanti kau merasa mual, pusing, berkunang-kunang, dan sedikit berdebar. Reaksi awal orang yang belum pernah berteleportasi akan seperti itu," kata Jullian memberi peringatan.


"Kok terdengar familier ya kata-kata itu," seloroh Shanum, memotong kalimat pria itu.


"Itu kan kalimat peringatan di belakang setiap kemasan obat, Sha," sambung Diva sembari terkekeh geli.


"Ah, iya. Kau ingat saja, Diva," jawab Shanum sembari menyeringai ke arah Diva.


"Oke... Kau boleh rangkul tanganku, Shanum. Pegang yang erat, jangan dilepas ya, walau apa pun yang terjadi. Jika kau merasa ingin pingsan langsung bilang padaku dan..."


"Kenapa bukan kau saja yang merangkulku, Jullian. Supaya tidak repot harus aku yang berpegangan erat," potong Shanum.


Jullian mendadak menjadi kaku mendengar ucapan Shanum. Dia sedikit menjauh. "Em, untuk itu... A-ku..." Jullian terlihat sangat gugup. Ia menyugar rambutnya.


"Sebaiknya kau rangkul saja tangan gadis itu, Ian. Yang Agung tidak akan tahu. Dia kan sedang koma." Suara Abdan terdengar menyela seraya tersenyum geli sendiri melihat tingkah rekannya itu.


Jullian seketika tersadar dan ia menatap tajam ke arah Abdan sembari mendengus. Abdan tidak membalas, ia sibuk tertawa semakin keras.


Shanum memperhatikan interaksi keduanya dengan senyum dikulum. Lalu memberi isyarat menaikkan sebelah lengannya, agar pria itu dapat memegangnya. Akan tetapi Jullian masih bergeming di tempatnya.


Pria itu semakin terlihat salah tingkah, terlebih di bawah pantauan sepuluh pasang mata yang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Jika kau sungkan kepada Shanum, aku bersedia menjadi teman latihanmu, Jullian. Kau bisa mencoba merangkul lenganku dahulu sebelum berangkat. Siapa tahu kau menjadi tidak gugup lagi," usul Farah dengan ekspresi serius.


"Lah, itu sih impianmu, Farah. Astaga, modusnya sangat kreatif loh!" celetuk Diva sambil tergelak.


Wajah Farah langsung tersipu malu mendengar celetukan Diva.


Sedangkan Jullian sekejap melongo mendengar usul Farah, lalu dia tersenyum tipis sembari menggeleng. "Aku bukan gugup untuk merangkul Shanum karena ia seorang wanita. Sesuai dengan ucapan Abdan, aku lebih khawatir dengan akibat yang harus kuhadapi saat Yang Agung tahu." Jullian mengedarkan pandangannya ke arah semua orang yang berada di sana.


"Saat Shanum tak sadarkan diri, aku pernah mencoba menawarkan untuk menggendongnya. Karena kulihat Yang Agung sudah kewalahan mengeluarkan energi besarnya waktu membuat perisai dalam peristiwa di lapangan basket tempo hari. Kalian tahu apa yang dilakukannya? Dia menatapku seakan-akan ia ingin menghabisi diriku saat itu juga," sambungnya sembari meringis ngeri.


"Tidak apa-apa, Nak Jullian. Nanti Ibu akan mengatakan padanya, bahwa hal ini usul Ibu. Ibu malah senang kau menjaga Shanum dengan baik, agar tak terjadi apa-apa dengannya di perjalanan." Raisa mencoba menengahi diskusi yang cukup alot itu.


Shanum menghela napasnya. "Jadi sekarang bagaimana ini? Jika kau tetap bersikeras tidak mau, biar aku saja yang akan melakukannya," kata Shanum dengan suara kesal.


Jullian berusaha membuka mulutnya, dan Shanum langsung memberi kode padanya untuk diam. "Aku tidak menerima penolakan, Jullian. Seluruh konsekuensinya biar aku yang menanggung!" Lalu gadis itu mendekati Jullian dan menarik lengannya. Dia menggamit lengan pria itu.


"Cepat lakukan! Jika kau masih beralasan, tidak perlu Khan, aku sendiri yang akan mencabik-cabikmu sesampainya kita di sana nanti!" ucap Shanum dengan nada suara ketus.


Jullian menelan ludahnya, tidak menyangka ternyata pasangan Yang Agung sangat sadis. Mereka memang benar-benar pasangan serasi. Sama-sama tegas dan galak.


Kemudian Shanum merasa dunianya berputar cepat, seperti orang yang dilanda vertigo. Dia mencengkeram tangan Jullian, lalu menutup matanya, tak bisa menahan pandangannya yang semakin lama semakin porak poranda.


Shanum dan Jullian sudah menghilang dari ruangan itu. Meninggalkan empat orang yang kaget mendengar kalimat ancaman Shanum terhadap Jullian. Terutama Abdan, wajahnya terlihat pucat pasi. Lalu beberapa detik kemudian, terdengar kekeh geli yang keluar dari mulut salah satu di antara mereka.


"Tenang saja, dia tidak mungkin serius. Aku kenal putriku itu," sahut Raisa. Wanita itu tergelak sembari menggeleng.


"Ya, Shanum tidak mungkin seekstrim itu," sambung Diva. Diiringi anggukan kepala yang dilakukan pula oleh Farah.


Abdan mendesah lega. Walau bagaimanapun ia tidak mau rekannya itu menjadi celaka. Jullian sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri. Tidak sepadan jika kematiannya harus dilandasi oleh hal konyol seperti itu.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu sekarang giliran kita yang harus pergi. Pesawatnya satu jam lagi harus lepas landas," kata Abdan. Kemudian mereka bertiga kembali mengulang berpamitan kepada Raisa dan segera meninggalkan rumah itu.


__ADS_2