
Seharusnya Shanum tak perlu kaget. Dia tiba-tiba melihat Khan berdiri di depan pintu penthouse. Baginya, membuat Shanum kaget adalah hal biasa.
Khan Adrian, Yang Agung dari Klan Altan, sedang berdiri di hadapan Shanum, senyum ragu terlihat dari sudut-sudut bibirnya yang terluka. Dan Shanum terlihat membeku menatap ke arah pria itu.
Khan menelengkan kepala, rambut hitam pekatnya bergerak mengikuti gerakannya. Kedua mata coklat keemasannya berkilau di bawah cahaya lampu sementara tatapannya tertuju pada Shanum. Hidung patah serta mukanya yang lebam tidak membuat aura keagungan yang terpancar dalam dirinya menghilang.
Shanum mengernyit, seingatnya, dia tidak memukul pria itu hingga separah ini. Tapi sekarang, tampak di matanya banyak luka baru yang tadinya tak ada.
Pria itu menatapnya perlahan, lalu kilau matanya meredup saat melihat bengkak di mata Shanum. Shanum memang terlalu banyak menangis sejak Khan memperlakukannya bagaikan sampah. Shanum tidak menyangka pria itu akan berani muncul keesokan harinya setelah peristiwa itu.
"Siapa, Sha?" tegur Diva.
Shanum menoleh dan mendengar Diva terkesiap kaget saat melihat Khan. Tak berapa lama Farah pun muncul di belakangnya. Jadilah mereka bertiga berjejalan di depan pintu.
"Cepat pergi dari sini," Farah berusaha mengusir Khan dengan nada suara galak. "Iya, tidak cukupkah kau sudah menyakitinya," sambung Diva.
Khan menggeleng dengan wajah memelas. "Tolong berikan aku waktu, ada yang harus kubicarakan dengan Shanum." Ketiga gadis itu bingung melihat ekspresi permohonan dari wajah Khan. Bukankah sebelumnya pria itu sudah mengusir dan menghina Shanum?
Shanum terlalu gemetar untuk bicara. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Melihat wajah berantakan pria itu dan mata memelasnya sempat membuatnya nyaris melunak. Tangannya gatal ingin menyembuhkan wajah pria itu. Tapi Shanum berusaha menahannya, ia masih merasa sakit hati oleh perlakuan kasar pria itu kemarin.
"Tidak bisa, Sir. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Farah menjawab mewakili Shanum dengan ketus.
"Ya, kau tenang saja. Kami akan segera pergi dari sini setelah Ibu Anda kembali," timpal Diva menambahkan.
Khan menghela napasnya. Lalu dia mendadak menoleh saat di sebelahnya sudah berdiri Jullian. "Anda dicari oleh Dokter Lian, Yang Agung. Seharusnya Anda tidak meninggalkan kamar. Anda cukup membuat panik orang-orang yang sedang merawat Anda di bawah," kata Jullian dengan wajah datarnya.
Khan menegang sambil melihat ke arah pria itu. "Sebentar lagi Jullian! Aku harus mengatakan sesuatu kepada Shanum."
Khan maju selangkah ke arah Shanum, matanya berubah menjadi sendu. "Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan, Shanum. Aku akan menunggumu di kamar rawat." Khan tersenyum ke arahnya.
Khan lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Jullian. "Ambilkan ponselku di dalam kamar milikku di penthouse ini, Jullian. Dan antarkan ke kamar rawatku." Suara dan ekspresi Khan berubah menjadi kaku kembali ketika mengucapkan kalimat perintah kepada Jullian.
Kemudian Khan menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arah ketiga gadis yang sedang memperhatikan dengan waspada gerak-geriknya. Khan berbalik, melangkah dengan santai menyusuri lorong setelah selesai mengucapkan apa yang ia inginkan.
Mereka semua memperhatikan hingga punggung pria itu menghilang dari pandangan dengan ekspresi heran setengah takjub.
Pria itu melarikan diri dari ruang perawatannya hanya untuk bertemu dengan Shanum dan mengambil ponselnya. Seharusnya ia bisa menyuruh atau menitipkan pesan melalui orang lain, tanpa membuat kehebohan seperti ini.
Shanum bergerak masuk kembali ke dalam penthouse. Dia menuju kamarnya, diikuti oleh kedua sahabatnya. Dia berdiri meja rias. Menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu merasa dia terlihat menyedihkan dengan mata pandanya dan pakaiannya yang acak-acakan.
Sungguh aneh ia masih saja merisaukan penampilannya di depan pria itu. Bahkan hatinya seolah-olah bernyanyi mendapatkan seulas senyum darinya tadi.
"Kau tidak akan mengikuti kemauannya kan, Sha?" tanya Farah sambil bersedekap. Kedua sahabatnya menatapnya dengan wajah penasaran yang sangat kentara terlihat.
Shanum mendesah lelah. "Aku belum mengambil keputusan." Shanum merasakan dilema. Jika ia menemui pria itu, ia takut merasakan kembali kata-kata kasar yang akan menorehkan kesakitan di dalam hatinya. Namun kalau dia tidak datang, pikirannya tidak akan tenang karena merasa penasaran ingin mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Khan.
"Pikirkan baik-baik, Sha. Dia yang sekarang berbeda dengannya yang dulu. Sebaiknya untuk saat ini kau menjaga jarak dengannya. Biarkan ingatannya pulih terlebih dahulu, baru kau bertemu dengannya lagi." Diva memberikan saran kepadanya.
"Aku akan memikirkannya," jawab Shanum dengan tersenyum lemah.
"Dan kami akan menghargai, apa pun keputusanmu, Sha." Farah menyambung ucapan Diva.
Shanum menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Diva dan Farah pun segera keluar dari kamar, meninggalkannya sendiri. Gadis itu menggigit bibirnya. Cuma satu cara yang saat ini terpikir di otaknya, dia harus menghubungi ibu dari Khan.
Shanum meraih ponselnya dan mencari nomor ponsel wanita itu. Setelah menemukannya, ia menekan tombol panggilan. Eej menjawab beberapa saat kemudian.
"Ya, Shanum ada apa?" tanya wanita itu langsung tanpa basa-basi. Shanum meringis, ia jadi mengetahui dari mana Khan mendapatkan sikap yang persis sama, yang ternyata adalah berasal dari ibunya sendiri.
__ADS_1
"Em, aku ingin berpamitan, Eej. Aku akan pindah ke hotel." Shanum menjawab juga langsung ke intinya, sesuai permintaan wanita itu.
Wanita itu tidak merespon.
"Halo, Eej."
"Ya, Shanum, aku mendengarmu. Aku hanya sedang berpikir, dan mencurigai bahwa Khan tidak menepati janjinya kepadaku. Dia bersikap kasar padamu kan, Shanum?"
Shanum terperangah.
Apakah wanita itu sudah tahu beritanya? Atau hanya insting seorang ibu semata. Yang pasti Shanum takjub, dia seolah-olah merasa wanita itu bisa membaca pikirannya.
"Katakan padaku, Shanum. Meski dia putraku, tetap saja aku perlu menghukumnya atas perbuatannya, jika hal itu menyakiti orang lain." Wanita itu terdengar gusar.
"Jangan! Aku tidak mau kau menghukumnya. Dia bukanlah dirinya yang sebenarnya, Eej. Dia hanya merasa asing kepadaku. Jadi itu bukan kesalahannya," sanggah Shanum.
"Aku masih menunggu kau menceritakan apa yang dilakukan putraku itu, Shanum," katanya, mengulang permintaannya sebelumnya.
"Aku akan mengatakannya, tapi kau harus berjanji dahulu kepadaku, untuk tidak menghukumnya," desak Shanum. Walau bagaimanapun Shanum tidak tega melihat Khan dipukuli atau dihukum kembali.
"Baiklah, aku berjanji. Sekarang katakan!" janji wanita itu sembari mendesah kalah.
Kemudian mengalirlah cerita dari bibir Shanum tentang perlakuan yang diterimanya. Dia mengatakan apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi. Setelah ceritanya selesai, Shanum tidak mendengar sahutan balasan dari wanita itu.
"Eej, kau masih mendengarkanku?" tanyanya untuk memastikan dia masih tersambung dengan wanita itu.
Kemudian Shanum mendengar suara tarikan napas. "Shanum, aku tidak bisa berkata-kata mendengar ceritamu. Rasanya saat ini aku ingin memukul putraku seperti yang kau lakukan. Dia benar-benar keterlaluan. Dan herannya kau masih saja membelanya." Nada suara Eej terdengar marah di telinga Shanum. Dia memaklumi, pastinya seorang ibu akan tetap kecewa kepada anaknya, jika anak tersebut berbuat buruk kepada orang lain.
"Tapi aku sudah berjanji, sekarang semua terserah padamu. Aku sudah tidak bisa menghalang-halangi lagi. Kalau memang keputusanmu sudah bulat ingin pindah ke hotel, boleh-boleh saja, Shanum. Tapi izinkan aku membantu mereferensikan hotel milikku yang tentu saja keamanannya lebih terjamin. Aku masih khawatir dengan situasi saat ini. Pelaku yang mencoba membunuh putraku masih berkeliaran di luaran sana. Dan aku juga tidak ingin kau terkena imbasnya," kata Eej.
"Baiklah, Eej. Aku dan kedua sahabatku akan mengikuti kemauanmu." Shanum menyanggupi keputusan wanita itu dengan senang hati. Dia juga cemas jika pria jahat itu muncul kembali, dan mencoba melukai orang-orang di sekitarnya.
"Baik, Eej," jawab gadis itu singkat.
"Hmm, Shanum... maafkan putraku ya. Aku tidak menyangka jika dia berubah sedrastis itu. Kalau aku tahu, tidak mungkin aku memintamu untuk menjaganya. Aku sungguh menyesal."
"Cukup, Eej. Kau tidak perlu merasa seperti itu. Semua ini bukan salahmu." Shanum mencoba meredam rasa bersalah yang pastinya dirasakan oleh wanita itu.
"Sebenarnya setelah peristiwa itu Khan sudah pernah datang untuk menemuiku, Eej. Dia kabur dari kamar rawatnya. Dan dia dengan penuh percaya diri mengatakan ingin berbicara empat mata denganku. Sikapnya berubah, dia tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Sayangnya, Jullian keburu datang dan harus membawanya kembali ke kamar rawat. Sebab dia sudah dicari-cari oleh tim medis yang sedang merawatnya," cerita Shanum dengan nada geli yang terdengar di sela-sela suaranya.
"Ya ampun, dasar anak itu! Bikin malu saja! Dia pasti sudah membuat kegemparan di kalangan dokter yang perawat yang ada di sana. Sepertinya aku memang perlu menjewer kupingnya," omel Eej. Shanum menjadi ingin tertawa membayangkan pria itu masih dijewer oleh ibunya di usianya yang sudah kelewat banyak itu.
Kemudian terdengar suara berisik dari dalam telepon. "Maaf, Shanum, aku harus menyudahi percakapan kita. Sebentar lagi rapat Tetua Klan dan Dewan Bangsawan akan segera dimulai. Nanti kita lanjutkan lagi percakapannya ya, Shanum. Bye."
Wanita itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Mungkin terdengar kurang sopan, karena Shanum belum menyudahi percakapan mereka. Tapi Shanum mengerti dan tidak mempermasalahkannya. Wanita itu sedang berada di pertemuan penting, sungguh wajar jika mendadak harus memutuskan panggilannya secara sepihak.
Shanum menatap ponselnya dengan wajah cerah. Dia senang wanita itu dapat menerima keputusannya dengan baik. Dan berjanji untuk tidak menghukum Khan.
Shanum lalu bergegas bangun, tak sabar ingin segera mengatakan kepada kedua sahabatnya, tentang rencana kepindahan mereka ke hotel milik ibu Khan. Sekaligus memberitahukan kepada keduanya juga, bahwa mereka harus mulai mengemas barang bawaan mereka.
***
Shanum tersentak bangun, dia mengalami lagi mimpi yang kesekian kalinya tentang Khan. Kali ini bahkan lebih buruk. Dia bermimpi pria itu dikejar-kejar oleh kabut hitam dan pria itu menghilang dalam kabut. Shanum merasa cemas. Jika mimpi itu adalah kejadian di masa depan, tentunya hal berbahaya akan kembali mendatangi pria itu.
Selama seminggu ini Shanum bersembunyi, lari dari dirinya sendiri. Dan dari perasaannya yang tak kunjung bisa melupakan pria itu. Sedangkan Khan mungkin tak lagi peduli padanya. Pria itu tidak terdengar pernah mencarinya.
Shanum berdecak kesal, untuk apa dia memiliki pemikiran aneh, menginginkan Khan mengejarnya seperti dahulu. Sungguh keinginan yang sangat menyedihkan, dari seorang gadis yang sudah dikecewakan habis-habisan oleh prianya.
__ADS_1
Shanum menggigit bibirnya, dia tiba-tiba memiliki keraguan. Perlukah dia mengalah dan datang untuk menemui pria itu? Setelah seminggu ini dia menghilang tanpa kabar, dan berakhir nelangsa sendiri.
Gadis itu mengambil ponselnya. Dia melihat waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Seharusnya pria itu masih berada di kantornya. Mendadak ia menjadi yakin, dia harus menemui pria itu. Mumpung kedua sahabatnya sedang pergi keluar, jadi tidak mulai mematahkan semangatnya.
Shanum memang tadi tidak ingin ikut mereka untuk mendatangi rumah Sergei. Dia merasa malas saja pergi keluar dari lingkungan hotel. Setelah selama tiga hari berturut-turut berwisata dengan kedua sahabatnya, ia merasa lelah jika harus melihat konflik orang lain.
Dia sudah turut membantu memberikan dorongan kepada Diva untuk bersikap berani dan segera mencari kekasihnya itu. Tidak hanya menunggu ketidakpastian dengan banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran. Mumpung mereka masih berada di Astrakhan, seharusnya gadis itu memanfaatkannya. Akhirnya hari ini Diva pun memutuskan untuk datang ke rumah pria itu berbekal alamat yang didapatkannya dari Taban.
Omong-omong tentang Taban, Shanum sepertinya perlu bertanya terlebih dahulu kepadanya tentang keberadaan Khan saat ini. Jangan sampai dia datang mendadak ke kantor pria itu, dan tidak menemukan Khan berada di sana. Shanum menekan nomor Taban, dan langsung dijawab pada deringan ketiga.
"Hai, Shanum. Jangan bilang kau sedang dalam bahaya sekarang," kata pria itu dengan suara cemas.
Shanum mendengus. "Kalau aku dalam bahaya, tidak mungkin aku bisa meneleponmu, Taban. Tentu saja aku tidak akan sempat menghubungi siapa pun, karena sibuk melawan."
"Benar juga ya. Ilmu sihirmu kan lebih hebat dariku, sudah pasti kau bisa menguasai keadaan dengan baik tanpa bantuanku. Dan tentunya kau hanya akan menghubungi satu orang pria jika terdesak, yaitu siapa lagi kalau bukan pria berengsek itu," kata Taban dengan sinis.
"Sudahlah, Taban! Kau sudah memukulnya waktu itu. Tidakkah itu cukup." Shanum memang sudah mengetahui tentang peristiwa pemukulan itu dari Taban sendiri. Pria itu menceritakan ketika datang ke hotel untuk menemui Diva. Akhirnya Shanum tahu dari mana luka tambahan Khan itu berasal.
Shanum berdeham. "Taban, bagaimana keadaannya?" tanya Shanum dengan suara takut-takut setengah gugup.
Taban tertawa mengejek. "Ternyata kau masih saja memikirkannya, Shanum. Jadi, apakah niat untuk memutuskan ikatan jiwa kalian itu terancam batal?" sindir pria itu.
Shanum mendesah lelah. "Pria itu menghantuiku, kau tahu. Aku memimpikannya terus di setiap tidurku. Bahkan tidur siang pun selalu ada dia. Bagaimana bisa aku menghindarinya jika sudah begitu? Meski ikatan jiwa itu dapat diputuskan, aku pesimis dapat melupakannya." Suara putus asa Shanum terdengar oleh Taban. Dan pria itu terkekeh geli.
"Kau boleh merasa bahagia Shanum. Selama kau pergi dan tak bisa ditemukan, sikap lama Khan kembali, dia menjadi dingin tak tersentuh serta bagaikan kehilangan arah," kata Taban.
"Apa dia mencariku?" sahut Shanum dengan jantungnya berdebar kencang penuh harapan.
"Ya, dia mencarimu. Dan aku tahu hal itu dari percakapannya di telepon dengan seseorang. Dia menyebutkan tentang penumpang pesawat atas namamu. Entah siapa yang dihubunginya saat itu. Tidak mungkin dia memesankan tiket pesawat untuk, kalau tidak untuk mencari informasi tentang keberadaanmu."
"Mungkinkah ingatannya sudah kembali, Taban?" suara Shanum terdengar tercekat. Sebuah pertanyaan sekaligus permohonan.
"Tentang itu aku tidak dapat memastikannya. Karena sejak perkelahian tempo hari, aku enggan berbicara dengannya kalau tidak terpaksa," ujarnya lagi.
"Taban, aku ingin bertemu dengannya sekarang. Kau tahu di mana dia?" tanya Shanum dengan suara memelas.
"Kau yakin mau menemuinya, Shanum? Tidakkah di pertemuan terakhir kalian, dia sudah bersikap buruk?" Taban memastikan kembali keinginan gadis itu, ia tidak mau Shanum merasakan kekecewaan lagi.
"Di pertemuan terakhir kami dia yang memintaku untuk berbicara empat mata, Taban." Shanum lalu menceritakan kedatangan Khan ke penthouse waktu itu. Shanum setengah memaksa kepada Taban, meminta dia mengatur pertemuannya dengan Khan. Tentunya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan pria itu.
Shanum ingin membuat kejutan untuk pria itu, sekaligus melihat reaksinya. Akhirnya Taban mengalah, ia tak bisa lagi menahan keinginan Shanum tersebut. Gadis itu bisa bersikap sangat gigih demi mencapai apa yang ia inginkan.
Satu jam kemudian Shanum telah berdiri di depan pintu ruangan Khan. Insting pertama Shanum adalah takut, hatinya merasa takut akan menemukan rentetan pengalaman buruk yang akan ditorehkan kembali oleh pria itu.
Namun keberaniannya tetaplah yang keluar sebagai pemenangnya. Dia memutar kenop pintu ruangan itu. Dan Shanum menemukan pria itu sedang termenung di hadapan ponselnya. Khan tidak menyadari bahwa Shanum sudah membuka pintu.
Shanum berdeham dan berkata," Selamat siang." Dia lalu menutup pintu dan melangkah mendekati meja kerja pria itu.
Khan tersentak dari lamunannya. Dia mengerjapkan matanya, kemudian terdiam kaku.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Shanum sembari tersenyum tipis. Dia langsung menarik kursi yang berada di depan Khan, dan duduk di sana sebelum dipersilahkan.
"Maaf, aku bersikap tidak sopan langsung duduk saja sebelum meminta izin padamu," ucap gadis itu.
Khan masih terpaku, ia terlihat linglung. "Kau benar-benar berada di sini?" gumamnya. Pria itu takut ia hanya berhalusinasi. Karena berasa mimpi, dapat melihat gadis yang selama satu minggu ini dia cari-cari sedang duduk di hadapannya.
"Ya, sekarang aku muncul di sini. Karena aku mendengar kau mencariku," jawab Shanum seolah-olah dia sudah mengetahui berita itu sejak lama. Padahal sih, dia baru mengetahuinya dari Taban hari ini.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Shanum menatap Khan, terkejut oleh dalamnya keingintahuannya atas jawaban pria itu. Shanum sangat berharap Khan sudah mulai mengingatnya.