
Ketika akhirnya mereka sampai di tanah air, ketiganya tampak bahagia. Perjalanan pulang tidak semelelahkan saat keberangkatan menuju Astrakhan. Terbang dengan pesawat pribadi memang sungguh nyaman. Berada di udara serasa di rumah sendiri.
Terkecuali Diva, dia masih tetap merasakan mabuk udara. Namun Sergei tidak pernah lepas memperhatikan Diva. Shanum merasa bahagia melihat keduanya tampak akur. Farah juga sudah tidak terlalu memusuhi pria itu.
"Princess..."
Suara itu hampir membuatnya jatuh berlutut karena kaget. Shanum terpana, melihat ayah dan ibunya berada tak jauh darinya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Dia langsung melangkah cepat, hingga akhirnya sedikit berlari menuju keduanya.
"Ayah... Ibu..." Gadis itu tertawa sambil terisak. Dia terbang ke pelukan keduanya. Shanum sungguh merindukan mereka. "Hei, lihat Ayah." Dimas, ayahnya, menatap putri kesayangannya. Dia mengusap rambutnya dengan penuh sayang, dan tersenyum lembut. Sedangkan Raisa, sang ibu, tampak ikut tersenyum sambil mengusap air mata di sudut matanya.
"Anak Ayah tampak berbeda. Hmm, apa ya yang berbeda?" godanya. Ayah memegang dagunya berpura-pura meneliti wajah gadis itu. Senyum nakal terbit di bibirnya. Shanum kembali tersenyum sambil menangis.
"Jangan menangis, Princess. Nanti jadi jelek, hidungnya merah dan matanya sembab seperti badut." Ayah mengusap air mata dari pipinya. Shanum menggeleng sambil tersedak tawa.
"Nah, begitu dong," kata Dimas lembut. Shanum menatap wajah ayahnya dan wajah ibunya. Oh ya ampun, ini hal tak terduga yang Shanum harapkan. Ayah dan ibunya berdiri di sana dalam wajah bahagia mereka ketika melihatnya. "Sudah, ayo kita ke tempat teman-temanmu. Mereka sudah menunggu tuh."
"Sebentar, Ibu juga mau peluk kesayangan Ibu. Tadi masih kurang." Shanum langsung masuk ke dalam pelukan ibunya. Raisa merengkuh erat putrinya sambil mengusap punggungnya. "Ibu... Shanum kangen."
"Oh, jadi sama Ayah tidak kangen ya." Gadis itu melepas pelukan ibunya. "Ya tidaklah, Shanum rindu kalian berdua," jawabnya sambil memonyongkan bibirnya.
Sambil merangkul keduanya, Shanum menghampiri para sahabatnya. Mereka semua sedang menunggu di dalam executive lounge bandara. Menunggu Sergei yang masih sibuk mengurus beberapa dokumen kedatangan.
"Ayah kok bisa tahu aku berada di sini?" tanya Shanum. "Ayah tadi sempat menghubungimu. Tapi karena tidak kunjung diangkat Ayah jadi menelepon salah satu sahabatmu." Farah tersenyum smirk ke arah Shanum. "Oh Ayah telepon Farah. Iya, jadi Shanum bingung, belum juga telepon Ayah lagi. Eh, orangnya sudah muncul di sini."
"Ayahmu itu seperti biasa penuh semangat. Waktu menerima telepon, dan kau mengatakan sudah di dalam pesawat menuju rumah, langsung saja semangat sekali ingin menjemputmu," ungkap Raisa.
"Seperti kamu tidak saja, dari tadi pagi sudah sibuk memasak makanan kesukaan Shanum," ledek ayah. "Laa, wajar dong, kan anaknya mau pulang di hari ini," jawab ibu sambil tertawa. Shanum tersenyum bahagia mendengar perdebatan penuh kasih mereka.
"Well, hai..." Sergei menyapa orang tua Shanum sambil tersenyum sopan. Dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Ibu Shanum tercekat saat melihat Sergei. Matanya terbelalak. Sedangkan ayahnya melirik ibu dan tampak gusar. Dimas terlihat tidak senang melihat ekspresi ibu.
Sergei menarik kembali tangannya, ia tersenyum sambil meringis. "Ayah--Ibu, ini Sergei. Dia orang yang sudah berbaik hati mengantarkan kami sampai ke sini. Ayah mengerutkan keningnya. "Jadi dia bukan Khan. Orang yang menolongmu waktu tenggelam?" tanya ayah.
"Em, bukan," jawab Shanum. Suasana terlihat canggung. Sergei berdeham dan berkata, "Atas nama Khan, saya meminta maaf, Sir. Dia sedang berhalangan, jadi aku yang menggantikannya untuk mengantar mereka." Sergei membantu menjawab. Dimas menatap pria di hadapannya dan tampak menilainya.
"Kau siapanya Khan?" tanya ayah dengan mata memicing. Shanum memutar bola matanya. "Ayah..." tegur Shanum. Sergei tersenyum maklum, dia mengerti pria di hadapannya ini hanya bersikap sebagai seorang ayah yang menjaga putri kesayangannya.
"Ayah, dia orang baik. Dia sudah banyak membantuku," bisik Shanum. Dimas menatap putrinya, dan akhirnya tersentum tipis. "Baiklah, terima kasih atas bantuanmu," kata Dimas. "You are welcome, Sir." Sergei tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Omong-omong orang tua kalian datang ke sini kan Diva--Farah?" tanya Shanum. Keduanya mengangguk. "Oke kalau begitu, kita tunggu dulu kedatangan orang tua kedua temanmu ya." Ayah lalu memanggil pelayan di sana dan memesan kopi.
Ibu mendekati Shanum dan mencoleknya. "Sayang, pria itu apakah dia artis terkenal? Wajah dan rambutnya itu bikin jantung Ibu mau copot." tanyanya sambil sesekali melirik Sergei. Shanum tersenyum geli. Pesona pria itu memang tidak bisa ditolak oleh para wanita. Mau tua ataupun muda semuanya terkesima melihat wajah bak malaikatnya.
__ADS_1
"Dia bukan artis, Ibu. Pekerjaannya..." Shanum bingung menjelaskan pekerjaan pria itu. Karena dia juga tidak terlalu mengerti tentang pekerjaan seorang pelacak di dunia mereka.
"Mungkin seorang pengusaha. Karena dia punya pesawat pribadi, Bu." Mata ibu membola. "Maksudmu pesawat yang tadi kalian naiki itu miliknya?" Shanum mengangguk.
"Wah, seorang sultan ternyata," kata ibu dengan kagum. "Em, tidak juga begitu sih, Bu." Raisa mengerutkan keningnya. "Maksud Ibu untuk istilahnya, bukan secara harfiah."
"Sebenarnya masih ada yang lebih kaya lagi sih, Tante. Yaitu Khan, dia miliuner." sahut Farah. Gadis itu ternyata ikut menguping pembicaraan mereka. Raisa tampak tertarik. "Oh ya, pria miliuner ini tuh yang menolong Shanum waktu tenggelam kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, Tante. Malah pria itu juga yang..." Shanum menyikut pinggang Farah sambil melotot. Ibu Shanum menaikkan alisnya. Farah meneguk ludah. Dia nyaris mengatakan yang sebenarnya kepada Ibu Shanum soal Khan yang memboikot kepulangan mereka. "Maksudnya kami tinggal di rumah pria itu, Ibu," ucap Shanum cepat. Farah mengangguk sambil meringis.
"Nah, itu orang tua Farah dan Diva sudah datang," ucap ayah. Farah tampak lega, dia berhasil keluar dari situasi menegangkan tadi. Lalu dia permisi ingin menghampiri orang tuanya. Kedua gadis itu juga menangis sambi memeluk orang tua mereka masing-masing.
Shanum mengerutkan keningnya saat melihat Sergei bergerak kaku menyalami orang tua Diva. Pria itu tampak gugup, meski senyum tak lepas dari bibirnya. Dia berbicara dengan keduanya dengan nada ragu. Bibir Shanum perlahan merekah, dia mengerti... Dari sorot mata Sergei mengungkapkan bahwa pria itu takut keduanya menilai buruk dirinya pada kesan pertama.
Meski Shanum yakin, Sergei dan sejuta pesonanya mampu membuat kesan pertama yang Wow. Dibuktikan dari pandangan terpana ibu Diva, seperti tingkah ibunya sendiri tadi saat melihat pria itu. Sedang untuk ayah Diva, wajahnya tetap ramah seperti biasa. Mungkin karena ayah Diva sudah terbiasa melihat wajah pria Eropa, seperti dirinya sendiri yang berasal dari Inggris.
Akhirnya mereka keluar dari Executive Lounge itu, untuk kembali ke kediaman masing-masing. Sedangkan Sergei, dia masih akan tinggal di Indonesia dalam waktu seminggu. Dia melanjutkan perjalanan menuju Bali. Ia ingin rehat sejenak di sana. Dan ketiga gadis itu tak lupa mengucapkan terima kasih pada pria itu, dan berencana untuk bertemu kembali di lain waktu.
Keesokan harinya. Shanum terbangun di dalam kamarnya dengan wajah bingung. Dia mengusap wajah, dan menatap langit-langit kamarnya. Dia lupa jika dirinya sudah kembali ke rumah. Kamar ini terasa asing. Entah mengapa dia jadi merasakan hal tersebut. Padahal ia sudah menempati kamar ini sejak kecil.
Suara ketukan di pintu, membuyarkan lamunannya. "Non, ini Bi Inah. Boleh Bibi masuk." Shanum bergerak bangun dari atas kasur. Dia menuju pintu dan membuka kuncinya. Wajah tirus Bi Inah terlihat di pelupuk matanya. Wanita itu tersenyum manis. "Selamat datang kembali ke rumah, Non. Bibi mau mengantarkan sarapannya. Kata Ibu, Non meminta sarapan pagi diantar ke kamar saja."
"Iya, Bi. Taruh saja di meja ya, dan terima kasih," kata Shanum. Bi Inah menganggukkan kepalanya lalu menaruh sarapan Shanum di meja belajar yang berada di kamar itu. Lalu dia keluar dari kamar Shanum dan menutup pintunya kembali.
Saat ia tidak sedang mengingat kembali semua hal yang pernah dikatakan atau dilakukan Khan, ia melihat kembali, dengan peninjauan sempurna, semua petunjuk yang seharusnya memberitahunya kalau dia juga salah.
Seharusnya dia memberikan kesempatan pada pria itu untuk menjelaskan, namun karena dia hanya mementingkan egonya, semua jadi begitu berantakan. Kini Shanum menyesali semua, di saat semuanya telah terjadi.
Tuhan, berapa banyak malam yang ia lalui tanpa bisa tertidur, menatap langit-langit, bertanya-tanya bagaimana jika dia memberi kesempatan pada pria itu? Apa benar yang dikatakannya dalam pesan-pesan itu? Apakah saat ini dia sedang memilih calon mempelainya?
Itu pertanyaan yang menggerogotinya, dan beberapa kali Shanum berpikir untuk mengangkat telepon dan menghubungi pria itu. Tapi ia tidak melakukannya. Pertama-tama dia tidak merasa seperti gadis muda penuh percaya diri seperti sebelumnya, saat ia pergi ke Astrakhan.
Tidak, ia merasa seperti gadis menyedihkan yang dengan putus asa bergantung pada sebuah fantasi dan banyak mimpi bodoh berisi pangeran tampan yang jatuh cinta kepadanya. Sementara di foto dalam berita yang ia lihat, wanita yang berada di pesta itu bersama Khan sungguhlah cantik. Jika disandingkan dengannya, ia bagaikan tokoh upik abu dalam dongeng.
Mungkin yang terburuk dari semua itu adalah dia harus mengakui bahwa ia telah hidup di dalam dunia mimpi. Sejak usia tujuh belas tahun dia sudah berada dalam mimpi buruk dan dunia kecilnya sendiri.
Semua itu membuatnya sangat depresi dan kehilangan arah. Meski ayah dan ibunya selalu memberikan dukungan dan kasih sayang padanya, ternyata masih ada di sudut terkecil dari hatinya, rasa takut.
Begitu juga yang ia rasakan sekarang, ia takut ditolak oleh pria itu. Dia sungguh pengecut. Padahal dia sangat merindukan pria itu. Ia ingin mendengar meski hanya suaranya.
Malam itu, ayah dan ibu mengajaknya berbicara di ruang keluarga. Sepertinya mereka ingin tahu apa yang membuat putri mereka mengurung diri di kamar, hanya keluar bila benar-benar perlu. Bahkan para sahabatnya, yang mungkin bisa menjadi pelabuhan di tengah badai, kehilangan kesabaran dan berhenti menghubunginya.
__ADS_1
Pesan terakhir dari Farah sangat dingin: "Dengar, aku sudah mencoba menghubungimu. Kau harus melanjutkan hidupmu. Seharusnya kau sudah kembali ke kampus dan mengerjakan skripsimu. Jangan biarkan sisa-sisa Astrakhan menguasaimu. Kau harus melanjutkan hidupmu."
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Princess?" Ayah menatap Shanum sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia duduk bersandar pada sebuah sofa. Ibu ikut duduk di sampingnya. Shanum meneguk ludahnya, gugup.
"Ada yang salah, sayang?" tanya ibu dengan lembut. "Tidak," jawabnya cepat-cepat, dan menggelengkan kepala. "Hanya saja..." Telepon memotong apa pun yang ia katakan, dan Shanum bisa dikatakan memberikan isyarat dengan tangannya.
"Sebentar Ayah--Ibu," katanya, dan mengambil ponsel dari sakunya. "Hallo?" jawabnya dengan terengah. "Oh. Ya, hai, Ula... maafkan aku, aku cuma sedikit ingin tahu keadaan di sana. Tidak ada kabar apa pun darinya?" Shanum menggigit bibirnya, dan dengan segera wajahnya berubah kecewa. Dia melangkah ke depan jendela, dan memunggungi ayah dan ibunya. "Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih atas informasinya." Shanum mematikan ponselnya lalu dia berbalik.
Ayah menaikkan alisnya. Masih duduk dengan posisi yang sama. "Siapa itu?" tanya ayahnya. "Nama aneh yang kau sebut Ula. Apakah dia yang membuatmu berubah menjadi petapa seperti ini?"
"Bukan, Yah," desah Shanum sambil mengambil kursi lain dan duduk di hadapan mereka. "Hanya teman."
"Oh ya," sahut ayahnya. Kemudian memicingkan matanya. Seolah ayah mencurigai jawabannya tadi. Namun akhirnya ayahnya menghembuskan napasnya. Dia tersenyum lembut pada Shanum.
"Maafkan Ayah jika selama ini sudah terlalu protektif terhadapmu. Baiklah jika kau tidak mau membagi rahasiamu tidak apa-apa. Ayah dan ibu akan membiarkanmu sendiri." Ayah bersiap bangkit dari duduknya.
Shanum tertegun. Tuhan, siapa pria yang duduk di hadapannya ini? Saat ini dia merubah sikapnya menjadi tidak seperti biasanya. "Oke," katanya serius, "di mana ayahku?"
"Di sini, Sayang."
"Tidak, kau bukan dia. Ayahku tidak pernah bersikap menerima jawaban tidak dariku tanpa penjelasan. Ia pasti akan terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak, sehingga aku mengaku."
"Ah, Princess," kata ayahnya, berhenti sebentar. "Kau sudah semakin dewasa, dan Ayah baru menyadarinya saat kau kembali dari liburanmu. Ada sesuatu yang berubah pada dirimu. Mungkin kau tidak mengatakannya, tapi hati kecil Ayah tahu."
Shanum menganga menatap ayahnya. Lalu ia menatap ibunya. Raisa mengangguk dan tersenyum kecil pada gadis itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia masih menahannya. Ia sudah tidak bisa lagi menutupinya. "Baiklah, Ayah--Ibu. Aku akan menceritakannya."
Shanum memutar-mutar cincin di jarinya dan mulai bercerita. Dari awal pertemuannya dengan Khan, saat ia tenggelam, hubungan mereka, hingga terakhir kali saat ia melarikan diri dari pria itu.
Ayahnya menerima semuanya dengan tenang, Shanum harus mengakuinya. Ada semburan amarah kebapakan pada awalnya, tapi kemudian ayahnya tertawa mendengar keberhasilannya melepaskan diri dari pria itu, menganggukkan persetujuannya bahwa ia melakukan sesuatu yang benar.
Setelah ia selesai dengan semua ceritanya, ayahnya tampak mendesah. Kemudian tiba-tiba menegakkan duduknya, menumpukan sikunya di atas kaki supaya bisa memusatkan perhatian ke arahnya. Mata ayahnya menyipit saat mengamatinya.
"Ayah tak pernah... tak pernah... menginginkan apa pun kecuali yang terbaik untukmu, Princess. Bagi ayah kau sangat cantik. Kau memiliki cahaya yang berasal dari suatu tempat di dalam dirimu. Kau harus berani dan percaya diri, Sayang. Jangan pernah menduga sesuatu pun yang belum pasti."
Ayah mengusap rambutnya. "Kau luar biasa, Nak. Ayah tidak menyangka putri Ayah ternyata memiliki kekuatan, dan hal itu diturunkan dari garis darah Ayah sendiri. Dan tentang pria itu. Ingatlah pesan Ayah jika dia tidak menghargaimu dan mengejarmu berarti dia tidak cukup baik untukmu. Tinggalkan pria seperti itu, kau terlalu baik untuk pria seperti dirinya." Ayah menoleh kepada Ibu dan menggenggam tangannya.
"Seperti Ayah yang terus mengejar Ibumu, meski saat itu dia sudah punya kekasih." Ibu memutar bola matanya. "Ya, betul. Ayahmu menempel terus pada Ibu tanpa malu, meski sudah ditolak berkali-kali."
Shanum terkekeh geli. "Oww, Shanum baru tahu. Ternyata Ayah seorang pejuang. Dan aku mewarisi darah pejuang ini dari Ayah," ungkap Shanum. Ayah tertawa keras. "Betul sekali." Wajah Dimas terlihat bangga.
"Sekarang, kesayangan Ibu sudah bisa ceria lagi dong," pancing Ibu. Shanum tersenyum dan mengangguk. "Nah, itu baru anak Ayah dan Ibu. Dan jika putri Ayah adalah seorang pejuang yang berani, kau harus menghadapinya, Nak. Jangan lagi menghindar jika dia menghubungimu."
__ADS_1
Shanum tersenyum tipis pada keduanya. Dia harus berani, dia harus menghadapi situasi sulit ini dengan kuat. Mereka bercakap-cakap sampai ayah dan ibunya terlihat lelah.
Sebelum mengucapkan selamat malam, ayahnya menariknya ke dalam pelukan erat, mendekapnya dan mengecup puncak kepalanya. "Ayah dan Ibu menyayangimu, Princess. Lebih dari yang kau tahu," katanya. Matanya menjadi berkaca-kaca, namun Shanum tersenyum. "Aku juga sayang, Ayah dan Ibu."