Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 39 Kembali ke Kampus


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kampus, yang bisa dipikirkan oleh Shanum adalah bab pertama yang telah dipersiapkannya untuk menghadap dosen pembimbingnya. Harapannya, bab pertama dapat disetujui tanpa perlu banyak perubahan.


Shanum meninggalkan mobilnya di halaman parkir kampus dan berjalan masuk. Dan begitu melihat lobi marmernya yang luas, papan petunjuk arah dan eskalator yang menuju ke lantai atas, dia tersenyum tipis. Dia senang kembali ke kampus, kembali menjadi mahasiswi yang sedang menempuh tugas akhirnya.


Saat dia menoleh ke bangku di samping mesin penjual minuman otomatis, Farah sudah menanti. Matanya bergerak ke sana kemari, memindai seisi lobi kampus. Shanum bergerak menghampiri gadis itu. Setelah dia berada di hadapannya, Farah sibuk melihat jam tangannya.


"Oke, waktu bertemu dengan dosen pembimbing akan dimulai tiga puluh menit lagi dan masih belum ada tanda-tanda keberadaan Diva. Apa menurutmu ada sesuatu yang terjadi padanya? Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif." Farah memandangi Shanum, sepasang mata gelapnya melebar cemas.


"Kita tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia terjebak kemacetan," kata Shanum. Farah menghembuskan napasnya lalu kembali meraih ponselnya, masih mencoba menghubungi Diva. Shanum mendekati mesin penjual minuman otomatis, memasukkan selembar uang kertas dan memilih minuman yang diinginkannya.


Sambil menikmati minumannya, Shanum melihat Diva muncul di pintu otomatis. Dia melihat ke sekeliling dan saat matanya melihat kami berdua, dia tersenyum cerah. Di belakang Diva turut mengekor Sergei. Pria itu seperti biasa membuat seluruh kegiatan terhenti dalam ruangan yang dia masuki.


Semua orang menatap terbelalak dan membeku kepadanya. Sedangkan pria itu tampak acuh bergerak mengikuti Diva. Gadis itu berlari kecil ke sisi mereka. "Hai, maaf aku telat, tadi jalanannya macet. Oh iya, aku datang bersama Sergei. Setelah bimbingan kami mau pergi ke suatu tempat."


"Hello, Farah--Shanum. Kita bertemu kembali." Pria itu mengeluarkan senyum manisnya yang membuat orang-orang di ruangan itu mendesah keras. "Astaga, kedatanganmu menciptakan kericuhan dan kerumunan, Sergei." Farah berkata sambil memutar bola matanya.


Sergei memandangi kerumunan itu, lalu melihat kembali kepada mereka, matanya berkilau dan tampak geli. "Yeah, aku sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini." Diva tampak mendengus. "Seharusnya kau memakai topi dan masker. Untuk menutupi rambut indah dan wajah tampanmu itu," desis Diva. "Tidak perlu cemburu, Hon, aku hanya milikmu." Wajah Diva kontan memerah malu. Sedang Farah mencibirkan bibirnya.


"Kau belum kembali ke Astrakhan, Sergei?" tanya Shanum sambil tersenyum geli. "Belum, aku masih ingin berada di dekat Lunaku." Diva memelototi pria itu. "Issh, kau benar-benar tidak peka. Jangan merayuku terus, Shanum masih bersedih." Pria itu meringis dan menoleh pada Shanum sambil memberikan isyarat permohonan maaf.


"Tidak apa-apa." Shanum tersenyum tipis, dan menatap ke arah kerumunan yang masih berada tak jauh dari mereka. "Hei, sebaiknya kita tidak terus berada di sini," usul Farah bersidekap. "Betul. Aku juga tidak mau membuat tempat ini menjadi kacau," sahut Diva. "Iya, kita langsung menuju ke ruangan dosen tempat bimbingan saja," sambung Shanum.


"Sukses ya dengan bimbingan kalian," kata pria itu. Sergei lalu tersenyum kepada ketiga gadis itu sambil berkata, "Luna, aku akan menunggu di mobil. Jika sudah selesai kabari aku." Diva tersenyum dan mengangguk. Kemudian Sergei menjentikkan jarinya. Aktivitas seketika berhenti di sekeliling mereka.


Shanum memejamkan mata dan mendesah. Ya, mulai lagi deh. Sergei menepuk pundak Farah dan mendekati pipi Diva lalu mengecupnya. Shanum menarik napas dalam dan menolak untuk bereaksi. Terutama karena sikap mesra Sergei pada Diva.


Keduanya tersadar, lalu mengerjapkan mata. "Apa yang terjadi?" tanya Farah. "Iya, mengapa orang-orang itu pada berdiri kaku, tidak bergerak." Diva memicingkan matanya, dia menatap tajam pada pria itu. "Jangan katakan..."


"Tak ada." Seringainya makin dalam. "Serius, aku yakin kau pasti yang bertanggung jawab akan hal ini," omel Diva sambil memicingkan matanya. Shanum tersenyum tipis. "Dia hanya ingin lewat dari kerumunan itu tanpa cedera, Diva," katanya. "Wow, aku tidak bisa membayangkan. Kau bisa menghentikan waktu," ucap Farah terkesima.


Diva mengerutkan keningnya. "Ini konyol," gumamnya, sambil menggeleng. Kemudian dia menoleh, sambil mengambil tas jinjing yang dia letakkan di bangku. "Oke, sebaiknya aku pergi." Pria itu berjalan menuju pintu keluar, sebelum berbalik cukup lama untuk berkata," Kuharap kita bisa berbicara nanti, Shanum. Tentunya setelah kau menyelesaikan bimbinganmu."


Sergei menepuk tangannya satu kali saat melewati pintu. Lalu ruangan kembali hidup seperti sediakala. Orang-orang yang berkerumun itu tampak bingung. Namun ketiga gadis itu tidak peduli. Mereka langsung bergerak menuju lift yang berada di sebelah belakang lobi.


Dan saat ketiganya baru mau berbelok ke ruangan dosen pembimbing mereka, Bu Anna muncul tiba-tiba dari belakang mereka dan berkata, "Shanum, ada yang mau Ibu bicarakan denganmu." Ketiga gadis itu membelalak kaget. "Ya Tuhan, Ibu mengagetkan kami setengah mati!" bisik Farah.


"Oh, maafkan Ibu." Bu Anna tertawa. "Jadi, boleh kita bicara di ruangan Ibu, Shanum?" Shanum mengerutkan dahinya namun tetap menganggukkan kepala. "Kalian duluan saja ke ruangan Pak Rudi, nanti aku menyusul," ucap Shanum pada kedua sahabatnya. "Oke." Jawab mereka serempak.

__ADS_1


Shanum lalu mengikuti Bu Anna ke ruangannya yang berada di lorong yang berbeda. "Silahkan duduk, Shanum." Bu Anna mempersilahkannya duduk di kursi yang berada di hadapannya saat mereka sudah berada di dalam ruangan. Bu Anna menggeser bangku di belakang meja kerja dan mendudukinya. Shanum duduk, dan menatap Bu Anna dengan pandangan ingin tahu.


"Shanum, Ibu baru mendapatkan informasi dari Pak Rudi kalau dia tidak bisa menjadi pembimbingmu. Secara mendadak beliau harus menggantikan Bu Mala yang maju cuti melahirkannya. Bayinya lebih cepat lahir dari perkiraan semula. Dan karena kau yang terakhir mengajukan permohonan dosen pembimbing, jadi dengan terpaksa dia mengalihkannya kepada dosen lain."


"Jadi siapa dosen pengganti untuk menjadi pembimbing saya selama skripsi, Bu," tanya Shanum. Bu Anna menatapnya sambil tersenyum. "Pak Reno, Shanum." Gadis itu mengerjap dan terkesiap.


"Ibu yakin?" Bu Anna tersenyum geli dan menganggukkan kepalanya. "Sekarang Pak Reno ada di ruangannya. Sebaiknya kau menghadapnya dahulu, Shanum," saran Bu Anna.


"Baik, Bu." Lalu Shanum bangkit dari duduknya, dan mengucapkan terima kasih pada Bu Anna atas informasinya. Wajah gadis itu terlihat cerah.


Shanum menuju ruangan Pak Reno. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan dosen pembimbing seterkenal Pak Reno. Biasanya jadwal bimbingan beliau selalu penuh. Karena menjadi pilihan favorit semua mahasiswa di kampus ini. Makanya Shanum tidak berani memilih dosen itu, karena dia sudah pesimis bisa mendapatkan jatah bimbingan yang diperebutkan oleh orang banyak itu.


Pak Reno merupakan dosen yang terkenal dengan otak jenius, keramahan, dan kesabaran dalam menghadapi para mahasiswanya. Di samping nilai lebih dari wajahnya yang juga tampan dan statusnya yang masih bujangan. Mungkin semua wanita di kampus ini sangat mengagumi pria itu.


Shanum mengetuk pintu. Suara berat mengucapkan kata masuk terdengar di telinganya. Gadis itu lalu menekan handle pintu dan membukanya. Shanum mengerjapkan matanya. Dia melihat bangku di balik meja itu kosong. Lalu dia mengedarkan pandangannya dan menemukan Pak Reno sedang berdiri menghadap jendela.


Pria itu menoleh dan tersenyum kepada Shanum. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, dia tak mampu bicara, mengerjap, atau bergerak. Sejak awal Shanum memang sudah mengagumi sosok dosennya itu. Sejak awal dia berada di kelas pria itu Shanum sudah berdebar. Tidak ada yang tahu tentang perasaannya itu.


Bukan hanya karena Pak Reno sosok yang sangat menawan, dengan rambut gelap mengilatnya yang hampir menyentuh pundak dan melengkung di sekitar tulang pipinya yang terpahat tinggi. Matanya berbentuk oval dan sayu, berwarna gelap dan anehnya selalu bisa membuatnya gugup.


Bulu matanya sangat lentik hingga setiap wanita pasti iri melihatnya. Bibirnya ranum dan begitu menggoda dengan bentuk penuhnya. Postur tubuhnya begitu tinggi, jenjang, tegap, dan terselubungi kemeja pas badan yang dikenakannya saat ini.


"Shanum Qamira, betul?" kata Pak Reno, wajahnya membentuk senyum, memamerkan satu kesempurnaan lain lagi dari dirinya, gigi-gigi putih berkilaunya.


Shanum masih berdiri mematung, memaksa matanya meninggalkan dirinya. "Silahkan duduk, Shanum. Jangan berdiri saja di depan pintu." Pak Reno menghampiri mejanya dan duduk di bangku yang berada di belakangnya.


Shanum berdeham. "Maaf Pak, saya dengar dari Bu Anna, kalau Pak Reno sekarang dosen pembimbing saya," kata Shanum setelah ia duduk di bangku yang ditunjuk olehnya tadi. Pria itu kembali tersenyum dan berkata, "Betul, saya sekarang dosen pembimbingmu menggantikan Pak Rudi."


"Em, saya sudah bawa bab pertama. Jika Bapak berkenan untuk mulai bimbingan sekarang... saya akan memperlihatkannya." Shanum berkata sambil terbata-bata. Pak Reno tidak langsung menjawab, dia menatap Shanum.


Shanum bergerak gelisah di bangkunya. Dia bisa merasakan tatapan Pak Reno--tajam, hangat dan menggoda. Hal itu membuat Shanum sangat tegang hingga telapak tangannya mulai berkeringat.


Pak Reno lalu menoleh. Dia menarik salah satu laci yang berada di meja itu, lalu mengeluarkan sebuah bolpoin dan memakai kacamatanya. "Oke, saya mau lihat bab pertamanya." Pria itu memberikan isyarat tangan agar Shanum menyerahkan bab tersebut.


Dan dia langsung menarik tasnya, mengambil map plastik dari dalamnya yang berisi hasil cetakan bab pertama yang sudah ia buat. "Ini, Pak." Gadis itu mengulurkannya dengan ujung jemarinya. Sebagian dari dirinya ingin menyentuhkan jemarinya dengan dosen itu, untuk melakukan kontak dengan pria tampan ini, sementara sebagian lain, yang lebih kuat, bijaksana--takut merasakan sekelebat bayangan yang muncul dari setiap sentuhan.


Pak Reno mengambil kertas yang disodorkannya. Gadis itu langsung menarik jemarinya, dan menyadari sedikit rasa geli di ujung jemarinya, tak ada apa pun yang terjadi. Bahkan sebelum Shanum sempat menanggapi, pria itu sudah membaca sekumpulan kertas berisi bab pertama itu dan mulai memberikan catatan dan koreksinya.

__ADS_1


Shanum menahan napasnya, dia tidak berani mengeluarkan suara apa pun. Gadis itu melihat tulisan rapi sang dosen di atas kertas. Wajah pria itu menunduk serius, sambil sesekali mengernyit tampak berpikir.


"Secara keseluruhan bab pertama ini sudah bagus. Tinggal menyempurnakannya sedikit saja. Saya sudah memberikan catatan-catatan yang perlu kau rubah dan tambahkan." Pak Reno melepas kacamatanya dan menggenggam jemarinya di atas meja. "Kau sudah memiliki nomor ponsel saya, Shanum?" tanyanya tiba-tiba.


"Em, belum Pak." Shanum menjawab sambil menggeleng. Pak Reno mengambil kertas catatan kecil dan menuliskan sebaris angka. "Ini nomor ponsel saya. Silahkan simpan." Pak Reno menyerahkan kertas catatan itu kepada Shanum.


Gadis itu segera meraih dan memasukkan kertas tersebut ke dalam tas pundaknya. "Oh iya, untuk jadwal bimbingannya kau boleh datang hari apa pun. Asalkan telepon dahulu ke saya untuk menentukan waktunya ya," ucap Pak Reno.


"Baik, Pak. Saya akan hubungi Pak Reno untuk bimbingan selanjutnya." Shanum lalu tersenyum manis ke arah Pak Reno. Wajahnya terlihat bercahaya. Dan penampakan itu membuat pria itu tertegun. Dia menatap dalam pada Shanum. Gadis itu kembali merasa gugup akibat tatapan pria itu. Kemudian Pak Reno tampak menghembuskan napasnya, dan berdeham.


"Em, kalau begitu saya permisi, Pak." Shanum merasa kikuk, ia meraih kembali sekumpulan kertas yang berisi bab pertamanya dari atas meja, memasukkannya ke dalam map, dan ke dalam tas. Lalu ia bangkit dari duduknya sambil menggerakkan kepalanya tanda berpamitan. Pak Reno membalas sambil tersenyum tipis.


Shanum keluar dari ruangan itu. Dia menghembuskan napasnya sambil memegang dadanya yang terasa berdebar-debar. Shanum mempercepat langkahnya dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia mencoba mengetikkan pesan kepada Farah dan Diva. Mengatakan bahwa dia menunggu mereka di bangku lobi.


"Hei, kok kau tidak bimbingan, Sha?" tanya Diva sambil menepuk pundak gadis itu. Shanum yang sedang menikmati minuman teh dalam kemasan itu kontan terbatuk-batuk. Dia tersedak air teh yang sedang diminumnya.


"Aduh, jangan bikin kaget dong," katanya serak. Tenggorokannya masih terasa perih akibat tersedak tadi. "Iya, maaf." Diva meringis penuh rasa bersalah. "Jadi kemana kau tadi, Sha?" tanya Farah memastikan.


"Aku tadi bimbingan." Shanum menjawab singkat sambil kembali mensesap teh kemasan dari botolnya. Farah dan Diva berpandangan, mereka mengerutkan kening. "Tapi tadi kau tidak ada di ruangan Pak Rudi, Sha," ucap Diva bingung. "Iya, leherku sampai berasa panjang, menjulur terus ke arah pintu." Farah tampak kesal.


"Wow, hebat... kau punya kesaktian menjadi manusia karet," sahut Shanum sambil tersenyum geli. Farah memutar bola matanya. "Itu hanya kiasan tahu."


Diva mencolek Shanum. "Belum dijawab pertanyaannya. Ayo cepat ungkapkan, jangan bikin kami penasaran," tegur Diva tidak sabar lagi.


"Oke, aku jawab. Tadi aku bimbingan, tapi dengan dosen lain. Pak Rudi mendepakku ke tangan dosen lain."


"Hah, kok bisa. Bagaimana ceritanya?" potong Farah. "Kata Bu Anna, Pak Rudi tidak bisa maksimal mengurus bimbingan skripsi di semester ini. Karena dia juga harus menggantikan tugas Bu Mala yang mendadak melahirkan. Karena aku yang paling terakhir mendaftar, jadi aku yang dikorbankan."


"Wah, kok bisa begitu. Bukannya dia sudah menerima pengajuanmu sebelumnya. Tidak adil itu," protes Diva. "Tadi kan sudah dijelaskan, Pak Rudi itu terpaksa, Diva." Farah mendengus.


"Terus kau jadi bimbingan dengan siapa, Sha?" tanya Farah. Shanum diam, namun wajahnya terlihat tersipu-sipu. "Kok diam?" tanya Farah lagi.


"Coba tebak." Shanum menggoda kedua sahabatnya sambil tersenyum lebar. Diva dan Farah kembali saling memandang. Lalu Farah berdecak kesal. "Ihh, siapa sih? Bu Mea ya?" tanya Diva. Shanum menggeleng.


"Pak Bobi." Gadis itu kembali menggeleng. "Loh, terus siapa? Cepat bilang, jangan cengengesan saja." Diva mencubit pundak Shanum. "Aduh, iya. Ampun..." Shanum meringis kesakitan sambil terkekeh.


Shanum lalu menghentikan tawanya. Dia menatap serius ke arah keduanya. Farah dan Diva menatap balik. Pancaran keingintahuan terlihat dari mata mereka. "Pak Reno," ucap Shanum lirih. Keduanya melotot. Diva malah sampai membekap mulutnya, kaget. Farah menjerit. "Arrghh... kau sungguh beruntung, Sha."

__ADS_1


"Maksudmu, Pak Reno yang masih single, tampan, jenius, senyumnya manis, bikin hati melayang-layang, jantung deg-degan itu?" tanya Diva.


"Yup." Shanum menjawab sambil tersenyum bangga. "Sialan. Aku juga mauu..." jerit Diva. Shanum lalu terbahak. Kedua sahabatnya sungguh heboh mendengar Shanum mendapatkan dosen pembimbing yang memang diincar seantero kampus.


__ADS_2