Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 35 Cemburu


__ADS_3

Shanum tetap menjaga jarak. Dia mengamati perkelahian keduanya. Sekarang di sekitar mereka tidak ada orang lain selain kumpulan pengawal Khan. Shanum mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang salah, mengapa orang-orang tadi membubarkan diri tanpa protes sama sekali dan bergerak dengan teratur meninggalkan tempat itu. Jangan-jangan ada campur tangan sihir yang melatarbelakangi perilaku aneh orang-orang itu.


Shanum memicingkan matanya. Dia melihat Dario sedang menatapnya dari posisinya. Pria itu tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Pria itu sudah sembuh dari luka-lukanya. Shanum merasa senang pria itu bisa kembali sehat tanpa luka bakar yang sudah dia buat.


"Shanum." Taban mencengkeram sikunya. Gadis itu menatapnya, "Mengapa orang-orang itu bisa bubar tanpa protes?" "Oh itu, sudah ditangani oleh Dario." Shanum tersenyum tipis, ia sudah bisa menduganya. Kemudian Shanum melihat Ula terlempar kembali akibat pukulan Khan. Gadis itu menatap Taban dengan putus asa. "Kau harus menghentikannya," ucap Shanum. "Aku tidak bisa, tadi aku sudah mencobanya. Kita hanya bisa menunggu hingga mereka berhenti dengan sendirinya."


Shanum menggeram. "Kalian orang-orang aneh yang tidak punya adab. Bagaimana kalian membiarkan mereka berkelahi tanpa sebab jelas seperti itu?" protes Shanum. Taban tersenyum miris. "Yang Agung hanya sedang merasa cemburu. Jadi dia melakukan hal itu."


"Hanya cemburu." Shanum meneriakkan kata-kata itu dengan keras sambil mengepalkan tinjunya. Dia menoleh dan melihat darah menetes dari hidung Ula. "Apakah kau sudah gila?" geram Shanum.


Ula mengayunkan pukulan dan Khan mengelak ke samping, Ula melayangkan tinjunya dan satu lagi, mengenai bahu Khan dan membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Shanum menggertakkan rahangnya.


Lalu dia mencoba mendekati kedua pria itu. Kemunculan Shanum yang tiba-tiba membuat keduanya terperangah. Khan tidak sempat menarik tangannya yang dia layangkan ke arah Ula, tangan itu menjadi terarah mendekati Shanum yang sudah berdiri tepat di depan Ula. Shanum mendengar teriakan, "awas..."


Namun tanpa di beri peringatan pun, gadis itu sudah bersiap-siap, ia langsung menepis pukulan Khan, menarik tangan itu, menendang kakinya dan membantingnya. Suara gedebuk keras terdengar di tempat itu. Khan mendadak menjadi susah bernapas, karena menghantam conblock.


Shanum lalu kembali mendekati Khan, dan menampar salah satu pipi pria itu dengan keras, hingga membuat kepala pria itu tersentak ke belakang. "Yang itu untuk diriku yang sudah kau bohongi habis-habisan, bajingan," desis Shanum.


"Ayo, Ula. Kita kembali ke hotel." Shanum menarik tangan Ula, dan membantunya untuk berdiri tegak. "Astaga, dia luar biasa," ucap Taban dengan keras. Khan memicingkan matanya ke arah Taban. Pria itu membalas dengan tersenyum dan mengangkat bahunya.


Khan terpana, dan mengusap pipinya yang terasa panas. Namun kemudian dia terkekeh geli dengan wajah penuh tekad. "Kau membuatku semakin gila, Shasha. Sekarang kau tidak akan pernah bisa melepaskan diri dariku lagi. Aku akan terus mengejarmu, kemana pun kau berlari," ucap pria itu dalam hatinya.


"Apa kau baik-baik saja, Ula?" tanya Shanum. Mereka kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil Ula dalam diam. Ula menutup pintu dan mulai mengemudi seolah-olah segalanya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat. Shanum duduk bersandar kembali di kursi, perutnya masih melilit dan telapak tangannya basah. Khan...


Shanum melirik Ula. Ia melihat pria itu sedang memandang jalanan dengan tatapan merenung. Shanum berpikir dia telah menghancurkan acara mereka malam ini. "Maafkan aku." Shanum mendesah sedih. "Semua berakhir kacau. Dia memukulmu, dan itu karena aku."


Ula menatap Shanum dan mengangkat bahu, lalu menyunggingkan seulas senyum bersimpati yang membuat tenggorokannya perih. "Tidak masalah. Aku juga bersalah. Kuharap kalian berhasil memperbaiki hubungan kalian dengan cara terbaik."


"Aku rasa tidak ada yang perlu diperbaiki lagi," desah Shanum. Ula kemudian menghentikan kendaraannya. Shanum bingung dan menatap ke sekelilingnya. Ternyata mereka sudah sampai di parkiran hotel tempat Shanum menginap.


"Shanum," panggil Ula. Shanum menoleh dan melihat pria itu berusaha mencegah gadis itu untuk membuka pintu mobil. "Mungkin ini bukan waktu yang tepat, karena sudah terlalu banyak kekacauan yang terjadi malam ini. Tapi aku harus mengatakannya." Ula menarik napasnya sambil mengusap wajahnya yang berantakan penuh lebam. "Maafkan aku, Shanum. Karena tadi aku sudah meracau dan memelukmu."


Shanum tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti, Ula. Selamat malam dan terima kasih untuk makan malamnya." Shanum lalu membuka pintu dan berjalan menuju lobby. Ula mengamati Shanum dari dalam mobil sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


Shanum melepas sepatunya dan menaruh tasnya di atas meja rias, saat ia berada di dalam kamar. Wajah Shanum terlihat lelah. Kedua sahabat Shanum saling melempar lirikan mata. Lalu saat Diva mulai akan membuka mulutnya, Shanum berkata, "Sesi tanya-jawabnya nanti saja ya, Ladies. Aku mau berendam air hangat dulu. Badanku rasanya remuk. Malam ini aku sudah membanting dan menampar satu orang pria, nyaris jatuh ke dalam sungai dengan punggung memar membentur pagar besi, serta jari berdarah karena tertusuk patung."


"Wow, luar biasa. Oke, pertanyaannya nanti saja. Sekarang silahkan berendam dulu. Kami akan sabar menunggu," kata Farah dengan pandangan geli. Sementara Diva mendadak menyikut pinggang Farah dan menggelengkan kepalanya. Shanum tersenyum pada keduanya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Jadi coba ceritakan?" kata Diva penasaran. "Tadi katanya jangan memaksa Shanum untuk cerita. Aku sampai di sikut segala. Eh, sekarang malah dia yang langsung mencuri start," celetuk Farah. "Issh, Shanum kan sudah mandi, sudah rapi, wangi dan siap bicara. Benar kan, Sha." Diva berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Shanum tersenyum. "Iya, aku sudah siap menceritakannya. Jadi apa yang mau kalian tanyakan?" Shanum menawarkan pada keduanya. "Tadi itu sebenarnya kau makan malam bersama Ula apa terjebak pertarungan antar klan?" tanya Farah. "Huh, pertanyaan macam apa itu, kok aneh begitu," sungut Diva.


Farah memutar bola matanya. "Loh, tadi kan Shanum bilang dia membanting dan menampar satu orang pria, nyaris jatuh ke dalam sungai dengan punggung memar membentur pagar besi, serta jari berdarah karena tertusuk patung. Jika bukan ikut pertarungan antar klan apa lagi yang terjadi," cemooh Farah. Dia mengucapkan kembali kata demi kata yang diucapkan Shanum tadi.

__ADS_1


Shanum yang melihat perdebatan keduanya akhirnya menjadi tertawa geli. "Astaga, kalian berdua benar-benar menghiburku. Terima kasih ya, kesayanganku." Shanum lalu memeluk kedua sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan dan tertawa bersama.


Shanum lalu melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata tawa di sudut-sudut matanya. Dia berdeham lalu berkata, "Baiklah, sekarang aku akan menceritakannya pada kalian." Shanum mengatakan dari awal dia makan malam bersama Ula, kesalahan Ula yang mengira dia adalah Sarnai. Hingga perkelahian Ula dengan Khan, dan ditutup dengan bantingan dan tamparan yang dilayangkan Shanum kepada Khan.


Keduanya mendengarkan dengan serius setiap ucapan Shanum. Sesekali mereka memotong dan bertanya. Hingga terakhir Farah bertepuk tangan. "Luar biasa, aku bangga padamu, Sha. Pria itu memang butuh dibanting dan ditampar agar egonya yang setinggi langit itu terhempas jatuh. Aku lebih suka melihatmu melawan daripada melihatmu menutup diri dan depresi," ungkap Farah.


"Em, Sha... bagaimana jadinya kelanjutan hubunganmu dengan Khan?" tanya Diva. Wajah Shanum langsung mengeras mendengar pertanyaan Diva. "Aku tidak tahu. Dan tidak mau berkaitan dengan pria itu lagi."


"Tapi Sha, dia tadi cemburu. Itu berarti dia mencintaimu," protes Diva. "Aku lebih suka tidak dicintai daripada dicintai tapi dengan landasan kebohongan."


"Aku juga tidak menyukai kebohongannya, Sha. Tapi bagaimana jika dia punya alasan. Alasan yang mungkin dimaksudkan untuk melindungimu. Agar kau tidak terluka dan tersakiti," kejar Diva.


Shanum terdiam, wajahnya mendadak menjadi keruh. Gadis itu menghembuskan napasnya. "Hei, sudah Diva. Shanum jadi sedih lagi kan. Kita tidur saja yuk. Aku juga sudah mengantuk." Farah mencoba mendinginkan situasi yang semakin memanas.


"Oke, Sha. Maafkan aku. Aku hanya tidak mau kau menyesal seperti aku. Jika aku memiliki sedikit saja kesaktian sepertimu. Akan aku kejar Sergei sampai kemana pun."


"Cih, masih saja kau memikirkan pria itu, Diva," cemooh Farah. "Memang kalau iya kenapa? Kau belum saja menemukan pria yang bisa membuatmu bagaikan naik halilintar atau naik hysteria. Kalau sudah menemukannya pasti kau akan tahu bagaimana perasaanku."


"Sayangnya aku tidak suka naik halilintar dan hysteria, karena membuatku mual dan pusing. Lebih baik aku mencari pria dengan menggunakan Teori Golden Ratio saja," sahut Farah.


"Oh ya, apa kata teori itu?" tanya Diva tertarik. "Teori itu mengukur kesempurnaan wajah manusia menggunakan ukuran simetris, seperti jarak antara mata, tinggi tulang pipi, kelurusan hidung, dan juga mulut."


"Astaga rumit sekali kalau begitu. Masa kau harus bawa-bawa penggaris kemana-mana," celetuk Diva. "Buat apa bawa-bawa penggaris?" tanya Farah. "Ya untuk mengukur tadi itu, ukuran simetris wajah pria," jawab Diva dengan polos.


Farah langsung terkekeh geli. "Astaga, kau ini. Bukan begitu aturan mainnya. Belum juga selesai aku menjelaskan sudah main potong saja." Shanum tersenyum mendengarkan pembicaraan menarik kedua sahabatnya itu.


"Bagaimana dengan pria Korea?" tanya Shanum. Keduanya menoleh ke arahnya. Diva langsung tersenyum smirk. "Waa, kau ingin tahu karena Khan kan. Aku pernah bilang, Khan mirip aktor Korea."


"Mirip siapa? Kok aku tidak tahu." Farah menepuk lengan Diva. Gadis itu langsung meringis. "Jangan pukul-pukul, sakit tahu. Sini aku beritahu." Diva lalu mendekati telinga Farah dan membisikinya. Farah menganggukkan kepalanya, lalu langsung mengambil ponselnya di atas meja.


Dia membuka aplikasi pencarian tentang aktor Korea yang disebutkan Diva. Kemudian ia menoleh dan berkata, "Iya benar, mirip ya." Reaksi Farah yang begitu datar membuat Diva memutar bola matanya.


Shanum tersenyum geli melihat tingkah keduanya. "Terus, apa jawaban atas pertanyaanku tadi?" Shanum mengangkat alisnya. Farah langsung membuka kembali ponselnya dan membaca apa yang terdapat di catatan ponselnya.


"Em, kalau menurut teori itu, pria Korea memiliki mata sipit yang berbentuk seperti almond yang cenderung tertarik ke atas, membuat wajah mereka terlihat lebih simetris dan segar. Ketajaman mata dan lekuk bibir tipis yang runcing juga menjadi daya tarik tersendiri, membuat mereka lebih maskulin dan seksi."


Shanum manggut-manggut sambil mengusap dagunya. Diva langsung terkekeh geli. "Ihh kok reaksimu seperti kakek tua yang memiliki janggut begitu." Shanum tersenyum lebar mendengar celetukan Diva. Farah juga ikut terkikik geli.


"Sudah ah, tadi katanya mau tidur. Sudah mengantuk," sindir Diva sambil melirik Farah. Gadis itu hanya mendengus. "Ayo kita tidur." Keduanya terus naik ke ranjang mereka. "Kau tidak tidur, Sha?" tanya Farah sambil menguap. "Iya, sebentar lagi. Aku mau pakai pelembab wajah dulu." Farah lalu mengangguk dan memejamkan matanya.


Shanum mengambil pelembab wajah dan mengoleskan ke seluruh wajah sambil sesekali menepuk-nepuknya. Dia lalu mengambil ponselnya dan terpaku saat menemukan ada pesan masuk dari Khan.


Shanum menaruh kembali ponselnya di atas meja sambil meliriknya. Hasrat ingin membuka pesan Khan di ponsel berperang dengan rasa gengsinya. Akhirnya Shanum kembali meraih ponsel tersebut dan membuka pesan dari pria itu. Shanum melongo ada dua puluh panggilan tidak terjawab dan tiga pesan dari pria itu.

__ADS_1


Shanum membacanya satu per satu.


Pesan Pertama:


Maafkan aku, Shasha, Please...


Aku selalu memikirkanmu.


Jangan tinggalkan aku.


Pesan Kedua:


Jika kau berani pergi, aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia.


Kau tidak akan pernah bisa bersembunyi.


Pesan Ketiga:


Shasha, tolong angkat panggilanku.


Aku harus berbicara padamu.


Shasha, aku harus menjalani acara perjodohan.


Dewan bangsawan dan para tetua sudah mulai merecokiku dengan calon wanita pilihan mereka untuk menjadi pasanganku.


"Oh, sialan," desah Shanum. Tangannya agak gemetar sementara dia menutup pesan-pesan itu.


Inikah yang mendasari pria itu berbohong? Apakah wanita yang bersamanya itu adalah salah satu calonnya? Apakah dia terpaksa bersama wanita itu? Shanum benci memikirkan Khan berbicara dengan wanita itu, karena hal itu membuatnya muak karena cemburu.


Shanum mendadak sadar, dia sudah meremehkan perasaan cemburu pria itu kepada Ula. Sedangkan dia sendiri juga cemburu pada wanita lain. Perutnya melilit, tahu bahwa dia sudah bersikap tidak adil kepada pria itu.


Jantung Shanum mulai berdebar kencang. Dalam pikirannya, ia menelusuri kembali pertemuan mereka, sikap Khan selama ini, kata-katanya, ekspresi wajahnya. Lalu saat mereka berjuang bersama, melindunginya dari Chinua.


Sekarang dia akan kehilangan pria itu karena dia ternyata dijodohkan dan harus memilih wanita lain sebagai pasangannya. Shanum bangun dari duduknya, meraih ponselnya dan bergerak menuju pintu geser yang mengarah ke balkon kamar itu.


Dia menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Mungkin jika Shanum tidak terlalu terguncang dengan dalamnya perasaannya pada Khan, dia bisa berpikir dengan akal sehat.


Mungkin kalau Shanum belum mencintai pria itu, dia pasti tidak akan merasa sesakit dan serapuh ini. Dia tidak pernah tahu. Yang dirasakannya adalah rasa kecewa, rasa cemburu, dan sangat sakit hati. Kesadaran ini menerjangnya dengan sangat kuat, dan seperti anak kecil, dia ingin balas menyakiti pria itu. Dia mengusirnya, membantingnya dan menamparnya.


Shanum memejamkan mata. Matanya perih dan dia membiarkan beberapa butir air mata jatuh bergulir di wajahnya. Lusa dia dan kedua sahabatnya harus kembali ke negara mereka. Shanum harus meninggalkan Astrakhan dan pria itu.


Shanum mendekap ponsel itu ke dada, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak bisa menyingkirkan bayangan Khan bersanding dengan wanita lain.

__ADS_1


Dia begitu terkejut ketika ponsel itu bergetar di dadanya sampai dia nyaris menjatuhkannya. Nama Khan muncul di layar ponsel. Masih gundah, Shanum berpikir ingin membiarkan telepon itu tidak terangkat kembali.


Tapi Shanum sudah tidak bisa mengabaikannya, karena Shanum jelas-jelas menyadari di hati kecilnya, dia ingin mendengar suara pria itu. Ingin mendengarkan alasan-alasannya. Dan ingin mengetahui bagaimana perasaan pria itu yang sebenarnya terhadap dirinya.


__ADS_2