
Khan membawa Shanum ke dalam hutan yang berada di belakang mansion. Hutan ini terasa mencekam dibandingkan hutan mana pun yang pernah dia datangi.
Pohon-pohon besar dan berbonggol-bonggol terjalin berimpitan, ditaburi dan diselimuti lumut sehingga kulit pohon di baliknya nyaris tidak terlihat.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Shanum, hampir tidak berani berbisik. Tangan Khan berada di sela-sela jemarinya. "Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Serius, mengapa harus ke dalam hutan?" Jantung Shanum bergemuruh, dan dia memusatkan perhatian pada langkahnya di antara tumbuhan paku, lumut, dan akar-akar. "Hutan ini merupakan tempat wanita itu bersembunyi. Aku tahu dari Sergei, dan ingin mencari informasi."
"Bukankah itu sama saja kau menghampiri bahaya? Bagaimana jika dia mengetahui kedatangan kita?" tanya Shanum. "Aku akan menyelubungi kita berdua dengan mantra kasatmata."
"Ratu itu tidak bodoh, dia pasti mengetahuinya," kata Shanum, wajahnya suram. Khan menghentikan langkahnya. "Dia tidak akan bisa melihat kita, Shasha. Percaya padaku, oke." Pria itu memegang bahu Shanum. Matanya hampir sejajar dengan matanya. Hutan itu menjadi lebih senyap, pepohonan seakan-akan memperhatikan mereka, seolah-olah ingin menangkap tiap kata. Shanum menganggukkan kepalanya sambil mendesah.
Kami berjalan sebisa mungkin tanpa bersuara, berniat mengawasi setiap bunyi yang terdengar. Tiba-tiba Khan mengangkat tangan dan menghentikan Shanum di depan bukaan hutan.
Terdapat di sana dua buah tenda besar yang didirikan di tengah-tengah tanah yang cukup lapang. Tidak ada suara atau cahaya dari dalamnya, bahkan tidak ada bayangan apa pun dari dalam tenda.
Beberapa ekor burung di hutan terdiam. Tidak sepenuhnya, tetapi menjaga kicauan mereka hingga selirih mungkin. Shanum meraih tangan Khan. Pria itu menoleh, lalu menarik pundak gadis itu dan merangkulnya. "Kita sudah kasatmata, Shasha. Jadi jangan takut," bisik Khan di telinganya.
Pohon-pohon di sekitar bukaan hutan tidak begitu rapat. Khan menjulurkan kepalanya ke arah salah satu tenda yang paling bagus, membungkuk dramatis dengan lincah. Shanum mengerutkan keningnya. Gadis itu tampak bingung. Jika mereka kasatmata mengapa harus mengendap-endap saat mendekati tenda.
Meski heran, gadis itu tetap mengikuti gerakan Khan. Jalanan tanah berlumut mengantar mereka ke pintu tenda. Hutan seakan-akan mengawasi tiap langkah mereka. Keduanya menghindari dedaunan dan ranting yang berserakan. Tidak ingin menimbulkan suara yang dapat memancing kecurigaan penghuni tenda.
Shanum mengawasi sekeliling, saat melangkah. Dia tidak melihat jebakan apa pun, namun tetap hati kecilnya memberikan peringatan. Suasana ini begitu sunyi, Shanum merasa takut mereka masuk perangkap yang dirancang ratu itu.
Dan bagaikan orang bodoh Shanum melihat Khan dengan sembunyi-sembunyi mencoba menempelkan telinganya ke dekat pintu tenda. Gadis itu mencolek bahu Khan. Pria itu menoleh. Shanum memberikan kode bahwa di samping sebelah kirinya ada lubang terbuka. Mereka dapat mengintip dari lubang itu.
Pria itu tersenyum lebar, dan gadis itu terkesima. Sebuah pemandangan yang sangat menarik. Ternyata pria itu memiliki lesung pipi yang lumayan dalam di sisi pipi sebelah kiri. Selama ini Shanum tidak pernah menyadari, karena pria itu nyaris tidak pernah tersenyum lebar.
Mereka mendekat ke arah lubang yang Shanum tunjukkan tadi. Lalu terdengar suara percakapan pelan dari dalamnya. Shanum tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mendadak gadis itu terpaku melihat sosok seorang pria membawa panah di punggungnya berjalan perlahan mendekati tenda tempat mereka berdiri. Shanum menahan napasnya. Jantungnya berdetak cepat.
Shanum melirik Khan, pria itu masih tampak serius menguping percakapan di dalam tenda. Dia masih tidak menyadari ada orang yang menuju ke arah mereka. Shanum berdiri kaku, tidak berani bergerak sedikit pun. Bahkan untuk melirik pun dia tidak berani.
Pria itu lewat di depan mereka, dan tidak menoleh. Ternyata benar mereka kasatmata. Gadis itu menghela napasnya, tampak lega. Khan baru menyadari ada yang datang saat pria itu sudah berdiri di depan pintu dan mengucapkan sesuatu.
Khan berdiri tegak di sebelah Shanum, dan merapatkan tubuhnya ke arah gadis itu. Pintu tenda di buka, dan muncul wajah yang Shanum kenal. Dia adalah wanita tua buta yang sudah menyerangnya saat itu.
Wanita itu keluar dari tenda, ia berbicara dengan pria yang datang. Namun mendadak percakapan terhenti, dia terpaku diam. Wajahnya mendongak dan matanya tampak berkilat tajam. Lalu dia mengucapkan sesuatu seperti rapalan mantra. Dia menghentakkan kakinya. Kabut hitam pekat perlahan muncul dari bawah kakinya yang dihentakkan itu.
__ADS_1
Khan menariknya menjauh. Keduanya bergerak cepat meninggalkan tenda itu. Shanum mendengar suara pekikan dan teriakan membahana. Gadis itu tidak dapat melihat ke segala arah. Kabut hitam itu mengepungnya.
Shanum panik, di mana Khan? Gadis itu terpisah darinya. Dia begitu fokus mencari-cari sosok Khan di tengah kabut. Hingga tidak menyadari ada yang datang di belakangnya sampai tangan orang tersebut menutup mulutnya dan menariknya hingga kakinya tidak berpijak.
Shanum memberontak, menggigit, mencakar-cakar, menjerit sementara siapa pun itu mengangkatnya ke atas. Dia mencoba melepaskan diri, daun-daun kering beterbangan di sekelilingnya seperti debu jalanan, tetapi lengan yang mencengkeramnya tidak bisa digerakkan, seperti ikat besi. Suara lembut terdengar di telinga Shanum, "Berhenti bergerak, atau kupatahkan lehermu." Dia tidak mengenal suara itu.
Shanum melunak dalam cengkeramannya, menunda setitik waktu untuk mencari sesuatu, apa pun yang bisa digunakan untuk melawannya. "Bagus," desisnya di telinga Shanum. "Sekarang, katakan..." Sesuatu menghantam wanita itu. Dia menjerit, ada yang melukainya. Shanum melepaskan diri dari tangan-tangannya yang keras dan tajam. Kuku-kukunya merobek baju Shanum. Gadis itu tersungkur ke tanah yang keras. Dia berguling, membalikkan badan, berputar untuk bangkit.
Shanum melihat Khan sedang mengikat wanita itu dengan sulur cahaya berwarna merah. Tangan Khan sendiri membuat pola di udara, wajahnya dingin dan tampan seperti kematian. "Apakabar, Chinua." Wanita itu terengah sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan.
Khan memiringkan kepala seolah-olah memikirkan apa yang akan ditanyakan berikutnya. Dia menegakkan tubuhnya, dan wanita itu menghantam ke tengah pohon, membuat pohon itu berderak dan merontokkan daun-daunnya.
Kemudian sesuatu yang dingin terasa menempel di leher Shanum. "Jangan coba-coba bergerak," desis seseorang. Shanum melirik dan melihat wanita tua itu sedang menempelkan belati di lehernya. "Yang Agung, lepaskan Ratuku. Jika tidak leher cantik ini akan tergores." Darah Shanum mendingin seperti hutan di sekelilingnya. Wajahnya memucat--amat pucat.
Khan tertegun, tangannya berhenti bergerak. Pria itu menatap Shanum. Rasa bersalah dan kesedihan terlihat di matanya. Shanum berusaha berani dan mengucapkan kata 'Tidak' tanpa suara pada pria itu. Namun Khan sudah mengambil keputusannya. Ikatannya pada ratu itu terlepas dan perlahan menghilang. "Sekarang lepaskan gadis itu. Aku sudah melepas Ratumu," ucap Khan.
Kemudian terdengar suara tawa yang sangat keras. Suara itu dapat membuat siapa pun yang mendengar merasakan takut. Khan mendengar suara gemuruh. Dia tidak bisa bergerak, bahkan menyingkir ketika sesuatu yang jauh lebih dahsyat dari petir menyambarnya, dan dia menghantam tanah. Shanum tampak menggeram marah.
"Bangun, Adri. Jangan pikirkan aku. Lawan mereka!" teriak Shanum. Gadis itu tidak peduli meski nyawanya sendiri sedang terancam. Pisau itu menekan leher Shanum. "Jangan banyak bicara, jika tidak lehermu akan tersayat," desis wanita tua itu. Shanum berdiri kaku, tangannya mengepal erat.
"Akhirnya setelah sekian lama aku melihat seorang Khan Adrian bertekuk lutut di kaki seorang wanita. Aku akan membuatmu membayar perlakuanmu tadi," Chinua menggeram, dan cahaya berwarna biru menghantam Khan. Teriakannya membinasakan tenggorokan pria itu ketika rasa sakit yang tak pernah terbayangkan meletus dalam dirinya.
"Akuilah bahwa kau sudah melindungi orang yang membunuh salah satu tangan kananku yang bernama Batu. Serahkan padaku orang itu, maka aku akan membiarkanmu hidup," Chinua terengah, dan melalui pandangan Shanum yang berkabut air mata, dia melihat wanita itu menghampiri Khan.
"Katakan!" erang wanita itu. Khan meludahkan darah yang memenuhi mulutnya. "Tidak akan, aku tidak akan mengatakannya bahkan jika kau menghancurkanku berkeping-keping ke tanah," jawab Khan sambil terengah. Wanita itu memukul wajah tampan Khan, hingga dia terjatuh kembali membentur tanah. Darah mengalir deras dari hidungnya.
"Adri!" Shanum meraung. Gadis itu meneriakkan namanya lagi-- berteriak seolah-olah ia ikut merasakan rasa sakit Khan. Pria itu menoleh dan merasakan seluruh tanah bergetar. Gadis itu mengeluarkan kekuatannya. Cahaya keemasan itu kembali bersinar. Mata hitam gadis itu berkilat berang. Belati yang berada di tangan wanita tua itu terpental bersama dengan orang yang memegangnya.
Lalu Khan merasakan angin mulai menderu dan berputar-putar di sekitar mereka. Angin itu menerbangkan semua yang diinginkan oleh Shanum. Chinua berusaha menyerang Shanum dengan cahaya birunya. Namun gadis itu dapat mematahkannya. Cahaya biru itu di tangkisnya dengan mudah.
"Aku yang sudah membakar pria itu menjadi abu, Nenek Buyut." Mata Chinua terbelalak, dia kaget mendengar ucapan gadis itu. "Kenapa? Kau kaget. Ya, akulah orangnya. Aku juga adalah salah satu keturunan dari kakakmu," ucap Shanum.
"Kau." Chinua menggelengkan kepalanya, ekspresinya adalah salah satu ketidakpercayaan sama sekali. Itu lucu jika Shanum sedang tidak sangat gusar. "Tidak. Tidak mungkin, aku sudah melenyapkan semua keturunannya." Chinua memicingkan matanya.
Jadi. Inilah wanita yang bertanggung jawab atas semua nyawa yang sudah melayang itu, semua ketakutan yang mengincarnya sejak kemarin. Wanita... terkutuk. Shanum memiringkan dagunya, tubuhnya menggigil dengan sesuatu yang lebih dari rasa takut dan amarah.
"Yah, baiklah, ada yang lolos," kata Chinua, mengetahui itu tidak memuaskannya, dia telah gagal. Apa yang ingin dilakukannya sekarang adalah menghabisi gadis itu. Kekuatan Sang Kakak yang terendus olehnya adalah milik gadis itu. Jadi, gadis di hadapannya inilah yang dicarinya. Ternyata adalah orang yang sama yang sudah melenyapkan Batu.
__ADS_1
Mata biru gelap itu menyipit dalam marah. "Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" tanya Chinua. "Dari sihir ikatan darah." Wajah sang ratu menggelap, jari-jari rampingnya terangkat untuk membelai rambut hitamnya. "Ternyata darah kakakku memang sangat kuat. Tapi tetap saja, kau akan musnah di tanganku," ucapnya lantang.
"Kenapa? Kenapa kau mencoba membunuh kami?" tanya Shanum. Chinua menggeram, lalu mulai bersiap mengeluarkan kembali kekuatannya. Cahaya biru terlihat memancar dari kedua belah tangannya.
"Karena dia, aku dibuang orang tuaku. Aku harus hidup susah bersama wanita buta, sedangkan dia bergelimang kekayaan dan ketenaran." Wanita itu lalu tertawa seperti orang gila. "Dia tidak bisa mengalahkanku. Aku seorang ratu. Kekuatanku tidak terbatas," katanya lagi.
Cahaya biru itu langsung melesat menyerang Shanum. Membuatnya terpental jauh dan jatuh ke tanah. Shanum berusaha kembali berdiri, cahaya keemasan dan pusaran angin mulai bergerak kembali. Dia memasang tameng cahaya di sekelilingnya. Sampai dengan ke tempat Khan Adrian yang sedang tergeletak di atas tanah.
Sekarang dia menyadari bahwa kekuatan ini adalah sebuah anugerah. Bukan sesuatu yang jahat, meskipun tidak baik pula. Hanya, kekuatan elemental yang terbentuk dan dikendalikan oleh hatinya sendiri yang dapat melindunginya dan Khan.
Shanum pernah mendengar dari pria itu, di sela-sela latihan mereka. Kekuatan elemental menopang sebagian besar kekuatan yang dimiliki oleh seluruh klan. Kekuatan itu terdiri dari kekuatan Petir, Angin, Tanah, Api, Air, Alam, dan Cahaya. Sekarang dia memunculkan kekuatan cahaya dan angin. Shanum ingin mengenyahkan ratu itu sejauh-jauhnya.
Penerimaan yang dirasakan Shanum memberinya kendali yang tak dapat dilukiskan. Dalam pikirannya ia bisa membayangkan mereka, sekeras dan setebal baja. Melepaskan kekuatannya mengalir ke seluruh tubuhnya. Shanum masih dalam posisi bertahan. Sementara Chinua menyerangnya dari segala penjuru.
"Tidak," desis Chinua. "Kali ini kau akan tamat." Shanum mengertakkan giginya, melawan rasa sakit bahkan saat merasa ikatan kekuatannya mulai mengendur. "Kau terlalu lemah untuk membunuhku, Leluhur," seru Shanum memperingatkan. "Hentikan ini sebelum aku terpaksa melukaimu." "Melukaiku?" pekik Chinua bengis, tangannya melepaskan kekuatan cahaya dan petir. "Tidak ada yang boleh mengambil tahtaku. Bahkan kau, Gadis Ingusan."
Lalu pada satu kesempatan, saat ratu itu mulai lengah. Shanum berkonsentrasi dan melepaskan pusaran angin yang sangat kencang diikuti oleh cahaya keemasan yang membentuk menjadi banyak sulur. Sulur itu bergerak menuju Chinua. Wanita itu terbelenggu oleh sulur dan diterpa hunjaman angin bagai sayatan pisau. Melukai dan menggores tubuhnya. Kemudian Chinua menghilang, terlempar dari tempatnya berdiri. Shanum benar-benar mengenyahkan wanita itu.
Sementara sekelilingnya porak-poranda, Shanum masih berdiri kokoh di tempatnya. Wajahnya tampak lelah, napasnya tidak beraturan. Dia sudah banyak mengeluarkan tenaganya. Tidak ada satu orang pun yang tersisa berada di lokasi itu. Mereka semua terbang entah kemana.
Shanum lalu menghampiri Khan. Dia jatuh berlutut di hadapan pria itu. Matanya bertemu dengan mata Khan. Shanum melihat keadaan Khan yang mengenaskan tergeletak di atas tanah. Tidak dapat bergerak, tidak dapat berkata-kata. Hidungnya patah, darah terus mengalir dari sudut mulutnya. Posisi kakinya tertekuk tidak benar dan tangannya ada yang menggantung patah.
Shanum kembali meneteskan air mata, semakin lama isakan gemetar meledak dari dirinya. Dia menarik kepala Khan ke pangkuannya dengan lembut. "Adri, maafkan aku," bisik gadis itu sambil membelai rambut Khan. Tangis gadis itu begitu memilukan.
"Kau jadi begini karena aku." Shanum mengusap wajah dan tangan pria itu. Dia mencoba mengeluarkan kembali kekuatannya. Gadis itu tahu tenaganya sudah banyak terkuras, namun tidak mungkin dia membiarkan Khan tergeletak tak berdaya dan terluka seperti itu. Shanum memiliki kekuatan penyembuh, dan dia harus berusaha menolongnya.
Khan mulai merasakan hawa hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. Menyembuhkan wajahnya, tangannya dan kakinya yang cedera. Meski Khan terluka sangat parah tapi ia masih dapat melihat adu kekuatan yang dilakukan antara Shanum dan Chinua. Pria itu tersenyum bangga dalam hatinya. Gadis ini sungguh luar biasa.
Khan mengangkat tangannya yang mulai pulih. Dia tergagap, udara membanjiri tenggorokannya. Dia masih terbaring di tanah dengan pangkuan lembut Shanum sebagai sandaran kepalanya. Tidak ada rasa sakit, tidak ada darah, tidak ada tulang-tulang yang patah.
Khan mengerang saat menopang tubuhnya dengan tangan di tanah, bersiap untuk berdiri. Sekarang pria itu bisa kembali bangun, dibantu oleh Shanum. "Apakah masih ada yang sakit, Adri?" tanyanya lembut.
Khan menahan napas dan saat ia menghembuskannya pria itu merengkuh tubuh Shanum dalam pelukannya. Mereka berdekapan untuk beberapa saat. "Terima kasih. Aku sudah lebih baik," bisik pria itu di telinganya. Mendengar itu Shanum langsung merasa lemas, tubuhnya gemetar. Shanum sangat lelah, namun merasa sungguh lega. Khan meraih tubuh Shanum, dia mengetatkan rengkuhan tangannya. Dia menahan tubuh gadis itu agar jangan sampai menyentuh tanah.
"Kau belum terbiasa memakai kekuatan sebesar itu. Sebaiknya kita segera kembali ke mansion, Shasha. Kita berdua butuh istirahat. Aku tidak mau Chinua kembali ke sini dan menemukan kita. Wanita itu pasti akan kembali dengan murka, jadi kita butuh persiapan," katanya lagi.
Sambil tetap merangkul Shanum, Khan merapal mantra. Dan kilauan muncul agak jauh dari hadapan mereka. Kilauan cahaya itu hampir mirip cermin, namun tidak sepenuhnya terbentuk. "Ya ampun," desah Shanum, jantungnya tertahan di tenggorokannya. "Apa itu?" Pria itu lalu menarik Shanum menghampiri kilauan cahaya itu. "Itu adalah sebuah portal." "Portal?" tanya gadis itu. "Ya, portal adalah sebuah pintu antara ruang dan waktu."
__ADS_1
"Waw, seperti pintu kemana sajanya Doraemon," ujar Shanum. Mereka berhenti di depan portal itu. "Apakah kau takut?" Khan bertanya sambil tersenyum tipis. Shanum menggelengkan kepala, matanya terbuka untuk menyingkapkan kilauan yang kuat dalam mata hitamnya. "Ah, seorang pejuang. Ingatkan aku untuk jangan pernah mencoba membuatmu marah," goda pria itu. Shanum memutar bola matanya dan menyeringai mendengar godaan Khan.
Lalu mereka masuk ke dalam portal. Shanum mengerjapkan matanya, saat sudah sampai di sisi seberang. Mereka kembali ke mansion, tepatnya di ruang tamu mansion. Di sana sudah bersiaga para penjaga, Sergei, Dario dan Taban. Ketika melihat yang muncul dari balik portal adalah Khan dan Shanum, mereka kembali tenang. Wajah tegang sudah tidak terlihat dari ekspresi wajah semua orang.