
Langit pagi ini begitu cerah. Berbanding terbalik dengan suasana di tengah bukit itu. Menjelang Duongan Sakhai, kedua pria yang akan bertarung terlihat tegang. Begitu juga dengan para penonton yang berada di lokasi yang telah ditentukan itu.
"Silahkan kalian berdiri di sisi sebelah kanan dan kiri dari batu itu," kata Nekhii mengarahkan Khan dan Avraam dengan lambaian tangannya.
Khan dan Avraam bergerak mengikuti arahan Nekhii dengan cepat. Setelah berdiri tegak di posisinya, Khan memandang Avraam, satu tangan pria itu memegangi pedang, tangan yang sebelah lagi bersiap dengan percikan sihir.
Nekhii sebagai pengawas pertarungan itu mengikuti arah tatapan Khan dan mengangguk kecil. Kedua pria itu sudah bersiap dengan posisi siap tempur sesuai karakter masing-masing.
Khan berpikir dia harus tenang. Meski cukup berat, tetapi sama saja seperti semua yang sudah ia dan kelompoknya hadapi saat ini. Mereka sudah mengatasi yang terberat, kata Khan kepada diri sendiri, berusaha untuk mempercayai itu, berusaha untuk memenangi pertarungan ini.
Semua demi istrinya, keluarganya, teman-teman di sekelilingnya dan demi semesta yang terancam runtuh menimpa mereka semua andaikata ia gagal.
Nekhii memberi aba-aba untuk mereka memulai, kemudian beranjak menuju tempat aman yang sudah dipersiapkan untuk mengawasi jalannya pertarungan. Tempat itu memiliki lapisan pelindung di sekelilingnya, yang dapat menjaga pengawas serta penonton dari bahaya yang mungkin akan terjadi.
Pedang Khan bersinar, torehannya memantulkan sinar matahari di bukit itu. Khan bisa merasakan hawa dingin memancar dari bilah kuno itu, seolah jantung pedang tersebut telah beku karena lama tidak ditempa. Ia memang sudah sangat lama tidak terjun ke medan pertempuran menggunakan pedang. Kehidupan saat ini hanya membutuhkan pena dan mulut untuk bernegosiasi dalam setiap ajang pertempurannya.
Khan menunggu sembari mempersiapkan kuda-kuda. Avraam menyeringai. Pria itu sudah bersiap dengan pedang yang dimilikinya. Kemudian dengan mulut menggeram mencuat di udara, Avraam mulai melakukan serangan. Pria itu menebas ke arah Khan, mengincar kepalanya.
Khan sontak merendahkan kepala sembari menangkis serangan itu. Pria itu berhasil mematahkannya, dan memukul balik dengan ujung pedang bersisi tumpul ke tubuh Avraam. Pria itu tersentak ke belakang menerima pukulan Khan, seraya menahan laju tubuhnya agar tidak tersungkur.
Dan Khan membalas dengan menyisipkan sihir di laju pukulannya, serangan tak terduga itu membuat Avraam terbatuk keras sambil memegang dadanya.
"Sekarang giliranku," geram Khan dengan gerakkan membalikkan bilah pedang di udara sehingga tangannya memegang gagang dengan mantap dan langsung mengayunkan pedangnya mengincar sisi kanan tubuh Avraam.
Avraam berkelit ke arah sebaliknya dan tebasan itu memeleset, pedang Khan membelah udara terbuka alih-alih tubuh Avraam. Khan dengan gesit mengikuti terus pergerakan Avraam.
Mereka saling melancarkan serangan. Khan menyerang, Avraam menangkis, begitu juga yang terjadi sebaliknya. Gerakan keduanya sangat cepat. Jika mata manusia biasa yang melihat, pastinya hanya akan menemukan bayangan-bayangan kasar yang terus bergerak lincah.
Setelah saling menyerang cukup lama, keduanya mendadak berhenti bergerak, Avraam menyebarkan kabut hitam di sekeliling mereka. Khan terpaku saat merasa tangan Avraam mencoba mengunci punggungnya, membuat pedangnya terlepas dan menghantam tanah. Khan mencoba bergeser ke samping dan mengangkat tangan untuk melukai Avraam.
Khan berhasil menyayat lengan atas pria itu dengan cahaya sihirnya. Cahaya sihir berwarna merah itu bergerak melawan kabut berwarna hitam. Tapi Avraam bahkan tidak mengerjap saat terus mencengkeram Khan sembari merapal mantra.
Sepasang tangan lainnya merenggut lengan Khan dan pria itu pun kembali bergeser ke samping. Tubuh Avraam membelah menjadi tiga wujud. Pria itu menggunakan kekuatan tersembunyi dari mantra pergandaannya.
Perhatian Khan teralihkan sejenak oleh sihir Avraam tersebut, dan membuatnya rentan terhadap serangan dari sisi lain hingga ia hampir tidak sempat membalikkan badan sewaktu penyerang yang ketiga meninju pinggangnya, membuatnya terhempas ke tanah.
Kepala Khan membentur tanah dengan suara dentaman yang keras, dan selama sesaat kepalanya pusing. Khan berhasil menusuk salah seorang duplikat Avraam dengan cahaya sihirnya yang tajam bagaikan belati, berhasil menyayat perut replika yang membungkuk di atasnya itu. Namun, rasa sakit terasa meledak-ledak di kepalanya saat replika lainnya berhasil memukul pelipis kanannya dengan keras.
Dengan wajah bersimbah darah, Khan berjuang untuk berdiri. Walaupun ia jauh lebih kuat daripada manusia biasa, ia sudah dilemahkan oleh serangan ke kepalanya dan diganggu oleh jerat kabut yang mengancam keberadaannya.
Berlutut, Khan menghunuskan cahaya sihirnya ke lutut bajingan yang memukulnya tadi, tapi rasa sakit di pinggangnya memperingatkan bahwa salah satu dari kedua Avraam yang lain masih berdiri dan sudah mengacungkan pedang. Mata pedang yang tajam terus menyerangnya sementara Avraam asli berusaha menancapkan pedang di jantungnya.
Khan menggeram marah, melawan kegelapan yang mengancam akan mengalahkannya. Ia mengacungkan pedang ke depan, sembari menyipitkan mata. Khan merapalkan mantra lagi, kali ini ia berusaha melunturkan kekelaman kabut kegelapan milik Avraam yang mengganggu jarak pandangnya.
Kemudian kabut mulai berkurang kepekatannya. Di tengah keremangan kabut yang dibuat oleh Avraam, ia mulai bisa melihat pergerakannya.
Sambil dengan cermat memperhatikan Avraam membawa langkahnya, dengan tenang Khan mengamati gerakan pria itu yang melangkah berhati-hati. Avraam tidak terburu-buru melancarkan serangan, kelihatannya ia menyadari kabutnya mulai menipis.
Avraam dan duplikatnya kembali dengan sengaja menggiringnya ke suatu tempat. Selangkah demi selangkah dengan perlahan, sembari mengayunkan pedang mereka.
Selama beberapa saat yang menegangkan ia melayani setiap serangan dengan tenang. Tapi tepat saat ia merasakan ketiga Avraam itu mulai mengepungnya, Khan merasakan secercah hawa menyesakkan yang seolah menarik kewarasannya berada di belakangnya.
Memutuskan bahwa ia akan menuju ke tempat yang jauh lebih berbahaya daripada ketiga bajingan di depannya, dengan anggun Khan membalikkan badan, matanya mengamati sudut yang gelap.
Kabut ilusi, Khan terkejut sewaktu menyadarinya.
__ADS_1
Sialan! Pria itu membawanya ke tempat yang berisi penuh halusinasi berbahaya. Sebuah padang yang dapat memunculkan ketakutan tersembunyi dalam jiwa seseorang, membuatnya nyata, hingga menjadikan kegilaan dan kematian adalah sesuatu yang pasti.
Khan kembali berbalik dengan cepat, membawa dirinya menjauh dari padang ilusi. Ia melihat seringai terbentuk di bibir Avraam. "Apa kau menyukai kejutan kecilku, Khan Adrian?"
Berusaha untuk menyembunyikan amarahnya yang menggelegak, Khan melemparkan tatapan dingin dengan gaya menantang.
"Harus kuakui kalau kau membuatku sangat kaget, Avraam." Mata Khan menghunus tajam ke arah pria itu. "Aku tidak menyangka kau berani melakukan muslihat yang sangat memalukan itu."
Bibir Avraam berkedut geli dengan aneh, seolah ia merasakan sedikit kepanikan di dalam diri Khan.
"Semua cara sah dilakukan dalam pertarungan ini, Khan. Yang terpenting adalah salah satu pihak harus berakhir mati. Bukankah demikian?" ucap Avraam seraya menyeringai.
Selama sesaat Khan terhenyak sementara matanya disipitkan. "Dasar bajingan. Kau bersedia melakukan segala cara agar bisa menang. Jangan harap kau berhasil melakukan itu. Usahamu untuk menyingkirkanku pastinya akan gagal total," balas Khan dengan senyum mengejek.
Avraam tertawa singkat. "Percaya diri sekali kau, Khan. Tapi kau sangat salah. Aku yang akan memenangi pertarungan ini. Ah... aku sudah tidak sabar untuk segera membawa hadiah kemenanganku ke dalam pelukanku."
"Tidak akan," cetus Khan dengan muak sementara tubuh gagahnya bersiap-siap untuk menyerang. Tentu saja Khan tahu siapa yang dimaksud Avraam sebagai hadiah kemenangan itu.
"Kau tahu, aku berharap kau bisa hidup cukup lama supaya bisa melihatku bersanding dengan wanitamu itu. Sayangnya, aturan Duongan Sakhai sangat ketat, salah satu pihak harus mati."
Mengabaikan usaha cerdik untuk memancing amarahnya itu, Khan menghadapi lawannya dengan teguh.
"Apa kau mau dengan rela menerima tikamanku pada jantungmu itu, Khan?" cetus Avraam sembari mengayunkan pedang. "Ayolah, supaya aku dapat dengan segera membawa Shanum bersamaku," sambungnya lagi dengan nada suara geli yang tak ditutup-tutupi.
"Silahkan saja terus bermimpi, Bajingan!" balas Khan.
"Berarti tidak ada lagi yang perlu didiskusikan." Avraam mengangkat bahu, senyum sinisnya masih terlihat sewaktu ia mendekati Khan dengan perlahan.
"Shanum akan segera menjadi milikku. Akan kucium bibirnya yang merekah indah itu, dan kurengkuh tubuhnya yang hangat dalam pelukanku... lagi," kata Avraam dengan mata berbinar penuh rahasia.
Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti oleh Avraam, Khan menyerang, membuat Avraam terhempas ke tanah dan kedua duplikatnya ikut bergerak menghadang serangan Khan selanjutnya.
Kedua duplikat Khan mulai melawan duplikat Avraam. Selagi para duplikat itu sibuk bertarung, keduanya mulai saling mengitari dengan perlahan, sama-sama siaga untuk menghadapi serangan lawan.
Mereka terus berputar-putar, lalu tiba-tiba Avraam menghilang begitu saja di tengah kepulan asap, dan dengan sama cepatnya muncul di belakang Khan, memukul bagian belakang kepala Khan.
Khan terhuyung-huyung, tapi segera berbalik untuk menghadapi pria bajingan itu.
Avraam melayang mundur, berhati-hati untuk menghindari pedang dan sihir Khan, bibirnya mengulas senyum licik.
"Ada pesan terakhir, Khan Adrian?" tanyanya seraya tertawa dengan gaya menghina.
Kabut kembali menelan Avraam, dan yang membuat Khan terperangah, ia merasakan setitik rasa perih di pipinya. Avraam menggores kulit pipi Khan sebelum menghilang.
"Tampakkan dirimu, dasar pengecut," sergah Khan, tiba-tiba tersentak sewaktu kabut bergerak ke belakangnya dan darah yang lebih banyak lagi mulai mengalir dari luka di punggungnya.
Khan menerjang maju, tapi walaupun sudah bergerak dengan cepat ia masih belum cukup cepat. Dalam sekejap mata, Avraam sudah menghilang dan tiba-tiba Khan merasakan jemari Avraam mencengkeram lehernya.
Kekagetan membuat Khan tidak bisa bergerak sementara Avraam mempererat cengkeraman di lehernya dan ia pun merasakan udara mulai terpompa keluar dari tubuhnya.
"Jangan," teriak Shanum.
"Suruh dia menghentikan pertarungan ini, Nekhii," mohon Shanum dengan suara tersekat menoleh ke arah wanita itu. Nekhii hanya menjawab dengan gelengan kepala sembari melemparkan ekspresi sedih. Shanum menutup mulutnya rapat, berusaha untuk tidak menjeritkan lolongan kesakitan yang mendesak keluar dari mulutnya.
Khan mati-matian berusaha untuk bernapas, dan melepaskan cengkeraman Avraam. Udara mulai terasa menipis masuk ke paru-parunya.
__ADS_1
"Lepaskan dia, Avraam. Aku... aku bersedia ikut denganmu. Tapi lepaskan dia," perintah Shanum dengan nada sedikit cemas.
Mata Khan membelalak saking takutnya ketika ia mendengar ucapan Shanum, dan ia menggelengkan kepala sekilas ke arah istrinya itu.
Avraam melonggarkan cengkeramannya. Secara tidak sadar, pria itu terpengaruh juga oleh ucapan Shanum hingga mengalihkan fokusnya kepada Shanum.
"Ti-dak..." Khan bersuara dengan terbata-bata. Tangan yang mencengkeram lehernya ditarik lepas olehnya. Sedangkan Avraam mendadak berdiri kaku tidak bergerak.
"Kau..." ucap Avraam dengan pandangan tak percaya. Bibirnya masih dapat melemparkan kata, walau tubuhnya membeku.
Khan tak memedulikannya. Dia menoleh dan menemukan kedua duplikatnya sudah berhasil mengalahkan duplikat Avraam yang ikut berdiri kaku seperti pemilik tubuh aslinya.
Masih tersengal-sengal saat berusaha untuk bernapas dengan tenggorokan yang sakit, Khan menatap Avraam dengan dingin.
"Kau kalah telak, Avraam. Dan ya, aku memiliki juga kekuatan membekukan istriku." Khan mendekatkan kepalanya ke depan wajah Avraam, "Ada pesan terakhir?" balas Khan melemparkan balik pertanyaan Avraam sebelumnya dengan pandangan mengejek.
Rahang Avraam mengetat, matanya menatap tajam. Namun tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya.
"Tidak mampu berkata-kata, Avraam. Kau kehilangan lidahmu," kata Khan sembari mendengus keras.
Khan menegakkan badan secara tiba-tiba. Di depannya ekspresi Avraam menegang, bersiap-siap untuk menghadapi serangan terakhir dari Khan yang pastinya akan berujung kematian untuknya.
Tapi tepat ketika Avraam menyadari bahwa Khan akan segera mematahkan lehernya, muncul sekelebat gerakan menghalau tubuh Khan hingga pria itu sontak mundur dua langkah saking kerasnya. Dan engahan terkejut dari orang-orang membuatnya berpaling segera, mencari siapa orang yang bertanggung jawab mengganggu eksekusinya terhadap Avraam.
Shanum berdiri tepat di hadapan mereka. Mata Khan membelalak saat melihat pihak yang bertanggung jawab mengganggu itu, termasuk juga cahaya yang berkilauan menyelubungi tubuh Shanum, bekerjapan di tengah keremangan kabut.
"Terlalu mudah baginya kalau harus mati dengan leher patah, Adri. Dia seharusnya dibunuh dengan cara yang lebih lambat dan menyakitkan, karena tumpukan dosa-dosanya," ucap Shanum, wajahnya tegang karena tekad yang berbahaya.
"Katakan bagaimana seharusnya dia menyongsong malaikat mautnya?" sambut Khan dengan wajah serius.
"Kau lemparkan saja dia masuk ke padang ilusi. Aku yakin di dalam sana dia pasti akan menemukan kematian yang lebih mengenaskan daripada harus mengalami patah tulang leher. Bukankah kegilaan lebih mengerikan, Adri."
Khan tertegun. Tak menyangka istrinya menyimpan karakter sadis seperti itu. Tiba-tiba Khan tertawa singkat. "Aku sangat menyukai usulmu itu, Sayang."
Kemudian Khan mengalihkan pandangan ke arah Avraam. "Kau dengar sendiri, Avraam. Istriku ingin kau dilepaskan di Padang Ilusi."
Khan terkekeh geli sambil menggelengkan kepala. "Pada akhirnya, kau sendiri yang akan tersesat di padang itu, merangkul halusinasi hingga akhir hidupmu. Padahal sebelumnya kau bersusah payah sudah menjebakku untuk masuk ke sana."
Ekspresi Avraam menegang, sama sekali tidak yakin kalau ia sudah siap untuk mendengar maksud Shanum mematahkan serangan kematian Khan. Begitu Khan mengucapkan kata-kata itu, Avraam menyadari kalau ternyata ia tidak akan mendapatkan kematian yang mudah, dan usul itu tercetus dari bibir wanita yang ia dambakan.
"Lakukan saja," akhirnya Avraam menjawab dengan suara pelan, setelah pasrah tidak dapat melawan. "Aku sudah siap," tambahnya. Bersamaan dengan ucapannya, mata gelap itu menatap dengan lembut karena penyesalan ke arah Shanum.
Shanum tertegun. Betulkah yang ia lihat barusan, pria yang sudah melakukan segala tipu daya, melemparkan permohonan maaf kepadanya. Dari seluruh tindakan jahat yang sudah diperbuat pria itu, Shanum tidak percaya Avraam bisa memiliki setitik saja rasa penyesalan atas perbuatannya.
Kemudian Avraam dibawa oleh Khan mendekati Padang Ilusi. Tangan pria itu terikat oleh tali sihir, dan tali itu sudah diberikan mantra oleh Khan, mantra akan terlepas jika pria itu sudah berada di kedalaman Padang Ilusi.
Khan mendorong kasar punggung Avraam masuk ke dalam padang tersebut. Avraam sedikit terjungkal ke depan, lalu kembali menegakkan tubuh, dan melangkah dengan tenang ke balik kabut. Perlahan kabut menyelubungi tubuh pria itu dan tubuh besar Avraam segera memudar ditelan kabut, membawa serta seluruh jejak kegelapan yang ia lakukan di belakangnya.
Lengan menenteramkan memeluk tubuh Shanum yang gemetar, dan Khan mengecup pelipisnya. Melegakan kecemasan pada tubuh wanita itu.
"Sudah berakhir."
Selama sejenak Khan hanya memeluk Shanum, membiarkan kehangatan Shanum meresap ke dalam hatinya yang dingin.
Khan tidak menyangka kalau mengalahkan Avraam sangatlah sulit. Walaupun ia sudah tahu bahwa nyawanya sendiri sedang berada di ujung tanduk, ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk langsung membunuh pria itu. Jauh di sudut hatinya, Khan tetap merasa keterikatan darah dengan pria itu. Mencabut nyawa seorang yang berbagi darah yang sama dengannya bertentangan dengan semua nilai yang ia pegang teguh.
__ADS_1
Setelah Khan mendengar permohonan Shanum kepada Avraam, dan ia mulai merasa ketakutan akan kehilangan pasangan jiwanya kembali membuncah, barulah keengganannya sirna dan kekuatan membekukan itu muncul.
Pelukan Khan di tubuh Shanum bertambah erat, bibirnya tidak bisa berhenti membelai kulit pelipis Shanum yang selembut satin. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa pasangan jiwanya masih berada di dalam pelukannya.