Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 23 Penganiayaan


__ADS_3

Sergei sudah mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Dia tinggal melaporkannya ke Ratu Klan Batbayar untuk menuntaskan misinya dan mendapatkan reward sesuai kesepakatan. Namun bayangan kecewa Diva terbayang di pelupuk matanya. Sergei bingung apa yang harus dia lakukan? Pertemuan dengan Diva tadi berlangsung mulus. Dia melupakan semua tentang tugasnya saat bersama gadis itu.


"Sergei." Dengan perut mulas, pria itu mengangkat kepala. Gambaran wajah cantik Chinua berada tepat di depannya. Wanita itu menghubunginya dengan sihir bayangan. "Bagaimana hasilnya, Tampan? Kau sudah menemukan orang itu." Sergei tampak menelan ludahnya. "Aku belum menemukannya, Your Majesty."


Sergei tidak dapat mengatakan yang sebenarnya. Tidak kali ini, dia masih mengulur waktu. Mata indahnya menyipit sedikit. "Kau pikir aku suka dengan jawaban itu, Tampan?" suara Chinua bergetar menahan geram. "Aku sudah berusaha. Tapi masih butuh waktu lagi, Your Majesty." "Apa maksudmu butuh waktu lagi. Aku sudah menunggu terlalu lama," desis Chinua.


Sedikit kepanikan menjangkiti Sergei. Ia bisa merasakan amarah mulai menguasai Chinua. "Aku akan mencoba cara lain, Your Majesty. Kediaman Khan Adrian penuh dengan mantra perlindungan, aku tidak bisa leluasa melacaknya di sana," ucap Sergei dengan gugup. Wanita itu menatap Sergei dengan curiga.


"Oke, aku beri waktu lagi sampai lusa. Jika sampai saat itu kau belum bisa menyelesaikan tugasmu, sebaiknya kau bersiap menerima konsekuensinya." Sergei menganggukkan kepalanya.


Lalu bayangan Chinua menghilang. Duduk di kursi yang berada di dekatnya, Sergei menatap langit-langit dan tertawa gugup. Hidup memang ironis. Saat dia menemukan gadis pujaannya, ia harus terancam kehilangannya kembali. Tidak, dia belum boleh menyerah. Masih banyak jalan menuju Roma.


Sementara itu dua hari kemudian di mansion, Shanum sedang berbicara dengan Khan. "Siang ini? tanyanya, matanya melebar. "Siang ini aku tidak bisa, tapi besok siang aku kosong." "Tidak masalah, sih, kalau kau tidak bisa pergi. Sudah beberapa hari ini aku berniat pergi ke museum itu tapi selalu gagal, padahal aku butuh hiburan lain tidak hanya berdiam diri di mansion ini," ucap Shanum.


"Aku tidak keberatan ikut denganmu. Cuma, siang ini tidak bisa. Aku sudah punya rencana." "Tidak apa-apa, Adri. Aku bisa pergi dengan kedua sahabatku, dan diantar supir. Tidak mungkin aku tersesat." Shanum terdiam sejenak, kemudian cepat-cepat bertanya soal rencana Khan siang itu, berusaha mengubah topik pembicaraan. Bibir Khan terkatup rapat. "Tak ada, hanya beberapa meeting yang tidak mungkin kubatalkan."


Pandangan Khan sangat dingin dan kaku. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di bibir saat mengamati Shanum. Matanya dipicingkan, sama seperti yang terjadi waktu itu saat Shanum minta izin untuk pergi berbelanja. Awalnya Khan mengatakan tidak bisa ikut, namun akhirnya dia menemani juga mereka pergi. Shanum tidak mengerti, mengapa pria itu semakin hari menjadi semakin protektif padanya. Gadis itu jadi tidak bisa leluasa bergerak, padahal ia memiliki misi menguak makna mimpinya.


"Kupikir sebaiknya kau menunggu sampai aku bisa pergi bersamamu. Belakangan ini aku merasakan suatu perasaan tidak enak. Aku takut ada sesuatu yang terjadi denganmu." "Astaga, Adri. Aku tidak akan kabur, aku berjanji. Dan aku akan menjaga diriku baik-baik," tutur Shanum berusaha meyakinkan Khan.


Khan menghembuskan napasnya. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Dalam perjalanan keluar, Khan berhenti di ujung ruang tamu. "Sungguh, kalau kau mau menunggu sampai besok siang, aku bisa ikut ke museum bersamamu." Shanum mengiyakan sekali lagi, lalu memberinya senyum manis. Saat pria itu pergi, Shanum sudah merindukannya. Mansion terasa terlalu sepi tanpa dirinya. Selama dua hari ini pria itu memang sibuk. Shanum hanya bertemu dengannya saat sarapan pagi.


Setelah makan siang bersama di ruang makan mansion, Shanum dan kedua sahabatnya berangkat. Tak lama kemudian mereka sampai di Museum of Astrakhan Culture. Jalanan lumayan kosong, padahal selama kunjungan Shanum ke kota biasanya tampak selalu ramai. Dalam perjalanan ke sana, langit mulai diselimuti awan gelap, tampaknya pertanda hujan akan turun.


Kami menjelajahi museum itu. "Wah, banyak barang-barang antik di sini," celetuk Diva. "Di mana- mana museum itu ya isinya barang antik. Kalau barang baru namanya Mall," seloroh Farah sambil memutar bola matanya. "Jangan mulai ya, aku sudah mau berbaik hati ini memaafkan kata-katamu tempo hari." Diva tampak bersungut-sungut kesal.


"Lah, aku kan hanya bicara fakta. Terus maaf ya, sampai saat ini aku masih tidak setuju kau dekat-dekat pria itu. Aku masih tidak percaya padanya. Pria itu tipe penakluk wanita. Perhatikan saja setiap wanita tidak ada yang kebal dengan pesonanya. Kecuali aku dan Shanum yang masih memiliki akal sehat," sahut Farah dengan ketus.


"Alah, bilang saja kau iri. Karena pria setampan itu mendekatiku," jawab Diva. "Siapa yang iri..." "Ladies, please!" potong Shanum. Gadis itu menatap kaku ke arah Diva dan Farah sambil melipat kedua tangannya di dada. Keduanya langsung berhenti berdebat dan meninggalkan Shanum sendiri di tempatnya berdiri. Shanum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.

__ADS_1


"Permisi, Nona?" Satu suara lembut menyapaku. "Kuharap kau dapat membantuku." Karena fokus pada pertengkaran kedua sahabatnya, Shanum tak mendengar seorang pun mendekat. Dia menoleh dan melihat seorang wanita tua yang masih sangat cantik tersenyum padanya. "Boleh membantuku mencari cincinku yang terjatuh, Nona. Aku tidak dapat melihat." Shanum melihat pandangan kosong pada mata hitam wanita tua itu.


"Aku menjatuhkannya di sekitar sini." Wanita menatap penuh harap pada Shanum. Gadis itu ingin membantu, tapi setiap serat di tubuhnya menyuruh untuk menolak permintaan wanita tua itu. Meskipun wanita tua itu terlihat tak sanggup melakukan sesuatu yang berbahaya, karena kebutaannya. "Entahlah. Aku tidak tahu dapat membantu atau tidak karena aku masih harus mencari temanku." Suara Shanum terucap lebih pelan daripada yang ia niatkan.


Wanita tua itu tersenyum lelah. "Pemilihan waktuku benar-benar tidak pas, ya?" "Memang." Shanum bergerak-gerak gelisah. Sebagian dari dirinya ingin meninggalkan wanita tua itu di sana setelah meminta maaf, tapi ada juga bagian dirinya yang lain--sebagian besar dirinya yang lain--yang tak pernah tega menolak permintaan orang. Shanum menggigit bibir bawah dan melihat sekelilingnya. Tidak ada satu pun orang yang bisa dimintai bantuan.


Shanum tidak tega meninggalkan wanita tua buta malang itu di sana padahal ia tahu ia bisa membantu. Rasa kasihan kepada wanita tua itu menyingkirkan kengerian yang selalu muncul ketika berhadapan dengan sesuatu yang asing. "Baik, aku akan mencoba membantu." Wanita itu tersenyum lebar.


"Kalau bisa ditemukan, kau akan menjadi penyelamatku." Wanita itu tetap tinggal di tempatnya, tidak bergerak mendekat, barangkali merasakan kata-kata kecurigaannya tadi.


Shanum melihat ke bawah, ia meraba-raba lantai mencoba mencari cincin yang dimaksud. "Seperti apa bentuk cincinnya?" tanya Shanum. Dia baru memunggungi wanita asing itu beberapa detik ketika merasakan semburan hawa dingin. Bulu kuduknya meremang. Adrenalin menjalar di pembuluh darahnya, membuat jantungnya berdebar kencang dan gelombang rasa takut bergolak perih di perutnya.


"Gadis lugu, begitu bodoh, begitu mudah diperdaya." Suaranya sedingin embusan angin di lehernya. Sebelum otaknya dapat memahami kata-katanya, tangan sedingin es mencengkeram lengan Shanum sampai terasa menyakitkan. Wanita itu membuatnya berbalik.


Untuk seorang wanita tua buta kekuatannya sungguh luar biasa. Pekikan terlontar dari kerongkongannya saat rasa sakit menjalar di lengan. Shanum berdiri berhadapan dengan wanita tua itu sekarang, dan dia tidak tampak setakberdaya tadi. Sekeliling ruangan pun tampak remang-remang tertutup kabut hitam.


"Kalau... kalau mau, kau boleh mengambil semua uang yang kumiliki." Shanum ingin memberikan seluruh uang di dompetnya dan angkat kaki dari situ. Wanita itu tersenyum dan mendorongnya. Dengan keras. Tubuhnya terhempas ke lantai marmer yang dingin, dadanya terasa sesak dan sentakan di pergelangan tangannya menimbulkan rasa sakit yang membakar.


Dia menatap gadis itu, bola mata kosongnya tampak berubah warna. "Uangmu? Aku tidak butuh uangmu." Dibuangnya dompet Shanum. Gadis itu terbelalak. Terkesiap. Apa yang wanita tua itu inginkan, kalau bukan merampoknya? Tapi Shanum juga sadar wanita itu bukanlah manusia biasa. Benak Shanum menciut pada titik itu dan hanya menggemakan teror. Dia tak bisa menjaga kepalanya tetap jernih dari serbuan pemikiran dan citra yang berkelebatan.


"Jangan teriak," kata wanita tua itu dengan nada memerintah. Shanum merasakan otot-otot di kakinya menegang. Dia berputar, menarik lututnya ke atas, bersiap-siap lari. Dia pasti bisa. Wanita itu tidak akan menyangkanya. Dia pasti bisa. Sekarang!


Lengan-lengannya terulur dalam gerakan kabur, mencengkeram kedua kakinya dan menyentaknya. Lengan kiri dan sisi wajahnya menghantam lantai dan rasa sakitnya membutakan. Matanya mulai bengkak dalam hitungan detik dan darah hangat menetes di sepanjang lengan. Perutnya serasa diaduk-aduk.


Shanum mencoba menarik kaki-kakinya dari cengkeramannya, menendang-nendang setelah upaya tadi gagal. Dia menggeram, tapi terus bertahan. "Kumohon! Lepaskan aku." Dia menendang sekali lagi agar kakinya terbebas. Kemarahan menjalarinya, menyingkirkan rasa takut, berusaha mengatasinya.


Kombinasi dari hal itu menggerakkannya untuk mengambil tindakan. Shanum menendang, mendorong, dan mendesak, tapi wanita tua itu tetap bergeming. Tidak bergerak. Sesenti pun tidak. "Lepaskan aku!" Kali ini Shanum meninggikan suara sampai tenggorokannya terasa perih.


Berat tubuhnya menekannya padahal sebelumnya dia terlihat begitu kecil, begitu ringkih. Shanum tak bisa bernapas, tak bisa bergerak. Memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya nyaris menghancurkannya. Kekuatannya. Itu satu-satunya harapannya. Saat terdesak seperti ini Shanum juga teringat ucapan Khan. Dia merasa menyesal tidak mengindahkan kekhawatiran pria itu tadi pagi.

__ADS_1


"Tatap aku!" Shanum tidak menurut, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Wanita tua itu mengguncang-guncang bahunya. Kepalanya membentur lantai kembali. Rasa sakit yang baru mengejutkannya dan satu matanya yang masih sehat terbuka dengan paksa. Tangannya yang sedingin es meraba pipi dan mencengkeram dagunya.


Tatapan Shanum akhirnya terpaku pada matanya. Dalam mata kosong itu ia melihat sesuatu yang lebih buruk daripada dirampok, lebih buruk daripada dianiaya dan dilecehkan. Ada kematian di dalamnya, kematiannya--tanpa sedikit pun rasa belas kasihan.


"Beritahu aku di mana orang yang sudah membakar Batu." Tiap suku kata ditekankan. "Baiklah," tukasnya. "Mungkin kau butuh sedikit dorongan." Sedetik kemudian wanita tua itu mencekiknya. Sebelum dia punya kesempatan, napasnya terputus. Kepanikan menggelepar di dada saat Shanum mencoba melepaskan leher, kakinya menendang-nendang putus asa, berusaha membebaskan diri.


Cengkeramannya semakin keras menekan batang lehernya. "Apa kau siap memberitahuku?" tantangnya. "Tidak?" Shanum tidak tahu apa yang dimaksudnya. Kakinya mulai mata rasa. Bintik-bintik cahaya kecil menari-nari di pelupuk matanya.


Dia akan mati. Dia tidak akan pernah melihat kedua orang tuanya, dan Khan. Oh, Tuhan, dia tidak boleh mati seperti ini. Tanpa alasan sama sekali. Shanum merasa tangannya memanas. Sesuatu berusaha keluar, ini kekuatannya. Dia memejamkan matanya lalu berteriak, "Lepaskan!" Rasa perih di tenggorokannya mereda. Rasa sakitnya menghilang. Sekonyong-konyong, tangan wanita tua itu lenyap dari lehernya, dan terdengar suara gedebuk di kejauhan.


Shanum bisa bernapas lagi. Dengan rakus, ia mereguk udara banyak-banyak. Ia menyedot udara mengaliri tenggorokannya yang lebam, memberi asupan oksigen pada organ-organnya yang kelaparan. Dia sampai terbatuk-batuk.


Seseorang berteriak dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Shanum menoleh dan mencoba untuk bangkit. Ia melihat wanita tua itu sudah berada di seberang ruangan. Lalu Shanum terkejut melihat seorang pria melayangkan umpatan dan pukulan ke arah wanita tersebut. "Pengkhianat Sialan!" teriak wanita tua itu. Mereka lalu berkelahi di dalam ledakan sinar berwarna hitam dan biru.


Yang lebih membuat Shanum tercengang adalah waktu seakan berhenti di sekelilingnya. Dia melihat ada orang yang sedang posisi tangannya di atas. Ada yang sedang memegang ponselnya. Mereka semua membeku. Hanya Shanum dan kedua orang yang sedang berkelahi itu yang tetap bisa bergerak. Kekuatan siapa diantara kedua orang itu yang bisa menghentikan waktu.


Shanum tidak bisa mengikuti gerakan keduanya. Keduanya sungguh cepat bergerak, sungguh mengejutkan, brutal. Tidak manusiawi. Mustahil. Wanita tua itu buta, tapi dia dapat menangkis setiap pukulan seperti orang yang dapat melihat. Pria itu, Shanum melihat dengan matanya yang terbuka sebelah, kibasan rambut berwarna perak.


"Sergei?" bisik Shanum dalam hati. Gadis itu terpana, suaranya menghilang saat wajah penyelamatnya mulai tampak jelas. Wajah bagaikan malaikat itu tidak mungkin bisa dilupakan oleh Shanum. Wanita tua itu lalu terlempar menambrak tembok. Ia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah. Kemudian sebentuk cahaya gelap kembali bersinar, wanita itu tiba-tiba menghilang di baliknya. "Sial, dia kabur," ucap pria tersebut.


Lalu pria itu menoleh, ia berjalan menghampiri Shanum. "Shanum," panggil Sergei. Kekhawatiran terukir di dahinya. "Apa kau tidak apa-apa?" Shanum menatap mata biru mencolok itu. "Kau bisa menghentikan waktu," ucapnya pelan. Pria itu tidak menjawab. Dia memegang pergelangan tangan Shanum. "Aku bisa membantumu," dia bersikeras, meraih tangan Shanum lagi.


"Tidak! Sebaiknya kau kembalikan waktu seperti semula." Sergei mengerutkan keningnya, lalu dia tampak tersenyum sedih. "Sebentar, aku harus mengecek dahulu." Pria itu lalu berkeliling, dia menepuk satu-persatu orang ada di ruangan itu sambil membisikkan kata-kata bagaikan musik lembut, yang belum pernah Shanum dengar.


Lalu Sergei menjentikkan jarinya. Dan orang-orang mulai bergerak. Shanum sudah bersiap dengan mengambil jaketnya di tempat penitipan, dan mengeluarkan kacamata hitamnya dari dalam tas. Untung saja hari ini dia memakai jaket yang ada hoodienya. Jadi dia bisa menutupi luka di wajahnya dengan hoodie dan kacamata hitamnya.


Shanum juga sudah berdiri di dekat pintu keluar. "Aku langsung ke mobil, Sergei. Kau bisa katakan begitu kepada kedua sahabatku. Aku minta tolong kau cari mereka." Shanum lalu bergerak keluar dari pintu. Saat di parkiran mobil, gadis itu melongo melihat Khan sudah berdiri di sana. Khan menggertakkan bibirnya, wajahnya tampak keruh dan dingin.


"Shasha..." Khan menghampiri Shanum lalu memeluknya erat. Gadis itu meringis, berusaha melepas pelukan Khan. Tangannya masih terasa sakit. Khan tersentak. Sosoknya yang kekar menjulang di atas Shanum saat dia memandanginya. Tatapannya tajam, menusuk. Shanum tidak tahu harus berkata apa. "Buka jaketmu, Shasha. Aku ingin melihat apa yang terjadi padamu." Shanum menggelengkan kepalanya. "Shasha," panggilnya lagi. Shanum lalu melewati pria itu dan segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Khan menghembuskan napasnya. Pria itu berdiri di tempat beberapa detik sebelum akhirnya dia ikut masuk ke dalam mobil. Khan menatap Shanum dari kursinya. "Tolong jangan bicara, sepatah kata pun! Anggap saja aku tidak ada di sini," desis Shanum. Gadis itu lalu menoleh ke arah lain. Wajah Khan terlihat semakin dingin, dia mengepalkan kedua tangannya. Khan lalu meraih ponselnya. Dia meminta mobil yang satu lagi menunggu para sahabat Shanum. Dia akan kembali ke mansion terlebih dahulu, untuk segera mengobati Shanum.


__ADS_2