Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 97 Penjelasan Khan


__ADS_3

Shanum berdiri di samping tempat tidur, kedua lengannya terkulai di sisi tubuh, ekspresinya bimbang menatap Khan. Tatapan Khan menyapu gadis itu, dan memberi tahu diri sendiri bahwa tindakan itu diperlukan, bahwa ia perlu memeriksa siapa tahu gadis itu kembali sakit.


Kaus merah dan celana jins yang dipakai Shanum adalah pakaian yang sudah disiapkan oleh Raisa, ibunya. Semua itu sudah dipersiapkan oleh wanita itu jika sewaktu-waktu Shanum terbangun, dan proses penyerapan racun itu berhasil dilakukan oleh Khan.


Shanum telah mengeringkan rambut dengan handuk sebisanya, tapi riap-riap rambut hitam di kepalanya masih meneteskan air ke kaus, membasahi kain yang menutupi kedua bahu rapuhnya.


"Boleh aku tahu apa yang sudah aku lewatkan?" tanya Shanum dengan suara serak.


Khan menyadari, Shanum bergeming di bawah pengawasannya. Gadis itu berdiri diam, membiarkannya menatap sepuasnya. Khan tidak bisa mengalihkan matanya dari belahan jiwanya itu.


"Duduklah," kata Khan pada Shanum. "Kau harus makan, sembari itu, aku akan bicara."


Shanum mengangguk dengan patuh. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, melipat kedua tangan di pangkuan.


"Terima kasih," ucap Khan dengan senyum terbit di bibirnya. Sekarang, sudah waktunya untuk membuka semua rahasia yang tersisa. Reaksi Shanum akan menentukan tindakan Khan selanjutnya. Pria itu menarik bangku ke hadapan Shanum. Lalu mengambil piring berisi makanan yang tadi ia bawakan untuk gadis itu.


"Kau minumlah dulu." Khan menyodorkan gelas berisi air. Shanum meminumnya perlahan, lalu memberikan kembali gelas tersebut kepada Khan. Gelas telah diletakkan kembali di atas meja, kini ia beralih mengambil sendok.


"Buka mulutmu, Shasha." Khan mendekatkan sendok berisi makanan ke mulut Shanum. Gadis itu menggeleng. Dia mencoba meraih piring yang berada di tangan Khan. "Aku makan sendiri saja, Adri."


Khan menarik tangan berisi piring, menjauhkannya dari jangkauan Shanum. "Tidak, aku ingin menyuapimu. Jadi, please, boleh ya," pinta Khan dengan suara pelan.


Shanum diam, dia hanya menatap wajah Khan dengan ekspresi heran.


"Boleh ya." Khan mengulang permintaannya.


Senyum terbit dari bibir Shanum. Gadis itu mendekatkan wajahnya. "Mengapa kau menjadi sangat perhatian seperti ini kepadaku? Apakah setelah ingatanmu kembali kau menjadi merasa bersalah?"


Khan ikut tersenyum. "Awalnya iya, tapi sekarang sudah tidak."


Shanum menipiskan bibirnya. "Mengapa sekarang tidak?"


Apa Khan mendengar nada kesal atau itu hanya kesalahan persepsinya. Tidak, ia takkan terpancing dan membiarkan gadis itu kembali kecewa, hingga mereka akan kembali berdebat seperti terakhir kalinya.


"Karena aku melihatmu hidup, dan itu menghapus seluruh rasa bersalah yang bercokol di hatiku," jawab Khan.


"Memangnya separah itu aku terluka?" Shanum mendekatkan wajahnya, membuka mulutnya dan meminta suapan lagi. Khan kembali menyodorkan sendok berisi makanan.


"Ya, kau terkena racun berbahaya, dan tidak ada penawar atas racun itu. Aku..."


"Sebentar, kau bilang racun itu tidak ada penawarnya. Bagaimana aku bisa selamat?"


Khan berdecak sembari mencubit hidung Shanum. "Aku belum selesai bercerita, Shasha. Jangan dipotong dulu, oke."


"Oke." Shanum tampak menyeringai.


"Aku dan Eej sudah berusaha mencari informasi, tapi tidak juga menemukan jalan keluar untuk menyelamatkanmu. Hingga akhirnya, Chinua datang dan mengatakan ia tahu cara menyembuhkanmu."


Mata Shanum membelalak lebar. "Betulkah?"


"Ya, dia mau membantu membagi informasi itu. Wanita itu benar-benar sudah berubah sekarang. Meski dia masih tetap garang dan menakutkan ketika mengancam para tetua dan dewan bangsawan." Khan lalu tertawa geli sendiri.


Pria itu merasa pemandangan wajah pucat pasi dari para pria kolot dan angkuh itu sungguh-lah lucu. Terutama ketika mendengar Chinua mengancam akan menuntut balas dan mengerahkan pasukannya untuk memporak-porandakan keluarga mereka, andaikata Shanum sampai meninggal dunia.


Shanum dibuat bingung mendengar ucapan pria itu. "Mengapa Chinua mengancam para tetua dan dewan bangsawan?"


Khan berdeham. "Oke, ceritaku belum waktunya untuk sampai ke sana. Aku lanjutkan secara berurutan dahulu ya. Supaya kau tidak bingung."


Shanum mengangguk.

__ADS_1


Khan kembali mendekatkan sendok ke mulut Shanum, dan gadis itu otomatis membuka mulutnya.


"Sampai di mana tadi kita?" tanya Khan.


"Tentang Chinua mau membagi informasi," sahut Shanum sembari mengunyah makanannya.


"Oke. Jadi Chinua tahu cara menyembuhkanmu dari racun itu hanya dengan mencari orang yang memiliki kekuatan Poison Absorber. Dia tahu, karena dirinya pernah terkena racun itu, dan diselamatkan oleh orang yang memiliki kekuatan tersebut."


"Maksudmu, yang menyembuhkan aku adalah orang yang memiliki kekuatan itu?" tanya Shanum takjub. Gadis itu baru mengetahui ada kekuatan yang luar biasa seperti itu di dunia sihir ini. Sepertinya makna keajaiban tak terbatas banyak terdapat di sana.


"Ya. Singkat kata aku berhasil menyembuhkanmu, karena aku memiliki kekuatan itu."


Shanum menghentikan kunyahannya dan memandang Khan dengan ekspresi kagum. "Kau punya kekuatan itu?"


Khan tersenyum tipis sembari mengangguk. "Aku tidak menyadari memiliki kekuatan itu. Tapi memang selama ini tubuhku lebih cepat sembuh bila terkena racun."


"Oh ya. Bagaimana caranya kau menyerap racun itu? Sebab aku tidak menemukan bekas luka apa pun di bahuku. Bukankah bahuku yang terkena anak panah beracun itu?"


Sekarang giliran Khan yang tertegun takjub. "Kau yakin? Seharusnya racun itu meninggalkan bekas warna keunguan di bahumu. Karena Chinua memiliki bekas itu dibetisnya yang terkena racun, dan dia memperlihatkannya kepada kami."


Shanum terlihat bingung. "Aku yakin tidak menemukannya saat membersihkan tubuhku tadi."


"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Khan dengan ekspresi serius.


Shanum tidak menjawab. Keraguan terlihat di pancaran bola matanya.


"Tidak perlu malu. Aku sudah melihat keseluruhan tubuhmu saat menyerap racun itu. Karena dibutuhkan 'skin to skin' di antara kita selama tiga hari untuk proses penyembuhannya."


Shanum tersentak kaget, wajahnya memucat. "Kau melakukan itu denganku?" Tatapannya terlihat tak percaya.


Khan menganggukkan kepalanya sembari menelan ludah. Wajah Shanum terlihat memerah, dan matanya berkilat marah. Gadis itu mulai memiliki asumsi buruk di kepalanya, dan Khan tidak akan membiarkannya tanpa klarifikasi.


"Orang tuaku mengizinkannya?" tanya gadis itu lagi.


"Well, kalau begitu tolong tinggalkan aku sendiri," potong Shanum dengan wajah keruh. Jika sudah seperti ini apa yang harus ia lakukan? Gadis itu berusaha menahan rasa kecewa yang mulai mencekik lehernya.


"Shasha, please. Dengarkan dulu penjelasanku." Khan meletakkan piring di atas meja. Lalu berusaha meraih tangan Shanum.


Gadis itu menghindar. Ia menarik tangannya dari jangkauan Khan, dan memundurkan posisi duduknya. Ia enggan disentuh oleh pria itu.


Shanum menggeleng. Khan tidak peduli dengan penolakan gadis itu, dia bahkan menjadi naik ke atas ranjang. Kini mereka duduk saling berhadapan di atas ranjang. Dengan posisi yang sungguh menggelikan, Shanum merapat di tembok, seperti orang yang bersikap apatis dan Khan menunggu dengan tenang, seolah gadis itu adalah mangsanya.


"Aku tidak melewati batas padamu, hanya berusaha menyembuhkanmu."


Khan tidak bisa menahan tindakannya, ia menarik tubuh Shanum lalu menahannya dengan pelukan, saat dilihatnya gadis itu ingin menghindar.


Sedangkan Shanum kontan memberontak, ingin melepaskan diri dari rengkuhan pria itu.


"Lepas. Jangan memancing amarahku, Adri. Aku sudah berusaha menoleransimu sejak tadi," geram Shanum.


"Shasha..." Pria itu tetap mendekap erat, tidak mau melepaskan tubuh Shanum. Dia menguncinya dengan erat, tapi tetap terasa lembut, tidak menyakiti.


Akhirnya gadis itu berhenti memberontak, ia mulai lelah. Tenaganya masih belum pulih benar, jadi ia hanya terdiam kaku dalam pelukan Khan. Shanum menunduk, menutup kedua telinganya dengan masing-masing telapak tangan, dan menutup juga akses ikatan mereka.


Dia sengaja berbuat begitu agar pria itu tahu, ia sedang tidak ingin mendengarkan ucapan apa pun darinya. Shanum ingin sendiri, masih belum bisa menerima kenyataan pahit rasa kecewa dalam hatinya mendengar ucapan Khan tadi.


Namun Khan tidak kehabisan akal, ia bergeser mendekati telinga Shanum. "Aku tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa persetujuanmu, kecuali sangat terpaksa. Saat itu, aku di hadapkan pada dua sisi yang saling bertentangan tapi harus tetap dilakukan. Di satu sisi nuraniku mengatakan hal itu akan membuatmu kecewa, tapi di sisi lain, aku harus mencobanya untuk kesembuhanmu."


Shanum tidak ingin mendengarkan ucapan pria itu. Tapi sungguh sulit ketika nada suara Khan terdengar putus asa, dan memenuhi gendang telinganya. Shanum mendesah keras, menurunkan lengannya ke bawah. "Oke, lepaskan aku terlebih dahulu."

__ADS_1


Gadis itu mencoba untuk meredam isi hatinya dengan berpikir secara dewasa. Dia harus mencoba berpikir dari sisi pria itu. Jika ia di hadapkan pada situasi yang sama, mungkin tanpa berpikir lagi ia akan langsung memilih untuk menyelamatkannya.


"Adri..."


Shanum mulai bisa merenggangkan tubuhnya dari rengkuhan Khan. Gadis itu mendongak dan melihat pancaran mata takut bercampur sedih di netra coklat keemasan pria itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang terhadap hubungan kita? Aku tidak mau menjadi selir," ucap Shanum.


Wajah Khan perlahan berubah menjadi lebih rileks saat mendengar ucapan Shanum barusan. "Jadi kau ingin menjadi apa dalam hidupku, Shasha?" tanyanya sembari tersenyum menggoda.


"Issh, harus ditanyakan lagi, tentu saja aku mau menjadi istrimu satu-satunya. Tidak lebih, dan kurang dari itu. Tak ada negosiasi juga," jawab Shanum dengan bibir mengerucut kesal.


Mendadak Khan mengecup bibir menggemaskan itu dan ********** secara dalam, hingga membuat Shanum kehabisan napas.


Pria itu melepaskannya saat Shanum mulai memukul dadanya dengan keras. Khan tersenyum geli melihat wajah merah dan gemuruh napas gadisnya itu. Dia mengusap bibir basah Shanum dengan ujung jemarinya. "Keinginanmu sudah terlaksana, Sayang." Khan menatap Shanum dengan lembut.


Shanum memicingkan mata. Dia menjauh, dan berkata, "Kenapa kau jadi suka sekali menciumku? Apakah akal sehatmu semudah itu untuk dikalahkan oleh napsu?" Shanum melotot ke arah Khan.


"Aku akan sering menciummu, Shasha. Karena kau adalah istriku. Bukankah seorang suami bebas untuk mencium istrinya."


Shanum terkesiap. Bola matanya semakin melotot tajam. Namun kali ini bukan kekesalan yang terlihat di sana, tapi lebih sebagai ekspresi syok.


*Jadi, seluruh perlakuan intim itu dilakukan karena dia adalah istri Khan. Apakah mereka sudah melakukannya?


Dia dan Khan... Astaga, apa mereka sudah menuntaskan ikatan berpasangan mereka*?


Dengan mulut kering, mata Shanum menjelajahi wajah Khan. Selagi memandangi sosok tajam dan tampan menyunggingkan senyum nakal itu, ia menemukan mata coklat keemasan yang laksana mata harimau itu, memancarkan pandangan penuh gairah kepadanya.


Shanum merasakan desiran udara yang panas dan menyesakkan di sekelilingnya, desiran yang entah bagaimana membelai kulitnya yang tidak tertutup.


Tidak, Sayang. Aku belum berbuat sejauh itu. Apa kau mau melakukannya sekarang?


Ia dapat mendengar suara pria itu yang berat dalam kepalanya. Dan penawaran pria itu langsung membawa pikirannya berkelana kemana-mana. Ia seolah merasakan lengan Khan yang kuat mendekap dan menariknya ke dada yang sekokoh karang itu, sementara napas yang hangat menggelitik telinganya. Lalu merasakan juga tangan-tangan yang kuat dan lihai menjelajah tubuhnya.


Hawa dingin menjalar di punggung Shanum, dan tubuhnya berdenyut di tempat-tempat yang belum pernah ia ketahui dapat berdenyut. Rasa nyerinya merupakan rasa nyeri tajam dan menuntut yang belum pernah ia kenal sebelumnya.


Mengerjap, Shanum memandang Khan untuk melihat apakah pria itu juga terpengaruh sepertinya, karena mereka masih terhubung.


Dia melihat Khan juga menelan ludahnya. Matanya membakar dengan intensitas dan bercahaya dengan keinginan.


Shanum melakukan sesuatu yang akan dilakukan oleh sebagian besar wanita polos kalau berhadapan dengan seorang pria yang memancarkan ekspresi intim.


Dia meloncat dari ranjang dari sisi lain. Shanum ingin segera pergi dari ruangan itu. Ia harus melakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri.


Hanya saja Shanum lupa, bahwa ia baru saja sembuh dari efek racun yang sangat berbahaya. Tentu saja kakinya masih belum bisa diajak bergerak gesit. Hentakan tiba-tiba saat mendarat membuat lututnya tertekuk dan dia terjatuh dengan kepala mendarat terlebih dahulu di lantai.


Tidak! jeritnya dalam hati ketika mendarat dengan menyakitkan. Dengan tubuh gemetar, ia mencoba bangun. Shanum memegangi kepalanya.


Shanum mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak perlu panik. Pria itu adalah Khan, tidak mungkin dia melakukan hal yang akan menyakiti dirinya. Lagipula dia sekarang adalah istrinya, meski dia masih perlu meyakinkan dirinya tentang hal itu. Bukankah seorang istri tidak perlu takut menerima sentuhan intim dari suaminya.


Sayangnya pemikiran itu terlambat masuk ke dalam otaknya, hingga ia harus mengalami peristiwa menggelikan yang mencederai dirinya sendiri.


Lebih cepat dari yang bisa dihadapi oleh Shanum, tangan hangat pria itu mencengkeram pergelangan tangannya, menguncinya dengan lembut. "Apa kau terluka, Shasha?" tanya Khan.


Ya ampun, bahkan kini pun ia merasa bergetar mendengar suara maskulin Khan yang berat, dengan aksen kental dan berirama yang hanya bisa dideskripsikan dengan kata "seksi". Dan benar-benar menggairahkan.


Dengan semua indranya yang berubah tumpul, Shanum mendongak dan melihat Khan berlutut di sebelahnya. Pria itu menyingkirkan rambut dari matanya dengan lembut. Khan menggerakkan tangan di kulit kepalanya seolah mencari-cari luka.


Shanum merinding merasakan sentuhan Khan. Ia tidak sanggup bergerak ataupun mengalihkan pandangan dari ekspresi hangat pria itu. Shanum melawan keinginan untuk mengerang karena merasakan sensasi nakal yang kuat dari jemari pria itu di rambutnya. Sekujur tubuhnya terbakar karenanya.

__ADS_1


"Apa kau merasa pusing?" tanya Khan. Lagi-lagi aksen seksi dan anggun itu menggema di tubuhnya bagaikan belaian yang hangat dan menenteramkan.


"Cukup, Adri. Jangan menyiksaku," kata Shanum sembari terengah. "Aku belum siap, tolong berikan aku ruang untuk berpikir," tambah gadis itu lagi.


__ADS_2