
Shanum, berbaring gelisah di tempat tidur. Baju tidurnya melekat di kulitnya yang bersimbah keringat, kepalanya berdenyut menyakitkan. Lebih tepatnya seluruh tubuhnya terguncang menyedihkan.
Ia terlelap tapi masih sadar, yang terasa amat ganjil, dan terjebak dalam kegelapan terkelam yang pernah ditemuinya. Lagi-lagi terasa aneh, jika itu tak secara teknis benar-benar terjadi. Tapi tidak bagi dirinya, yang sudah malang-melintang di dunia mimpi, setidaknya ia mulai menyadari bahwa saat ini ia kembali mengalaminya.
Berada dalam alam mimpi sebelumnya persis seperti ini, menyesakkan dan membuat gila. Sesuatu yang tak henti-hentinya diteriakkan oleh jiwanya sejak memasuki alam aneh ini--teriakan yang berbaur dengan pekikan yang menyelubungi kegelapan.
Merangkak untuk mencari jalan keluar terbukti sia-sia. Ia hanya bisa pasrah menunggu, apa pun wujud mimpi yang akan muncul di hadapannya. Apakah mimpinya kembali tentang Sarnai? Perwujudan hal yang akan terjadi, atau pun mimpi-mimpi lainnya yang tak tertebak yang akan muncul.
Shanum mengarahkan pandangannya ke satu titik cahaya di ujung matanya. Ia berjalan, langkah demi langkah, tertatih menujunya. Di ujung kegelapan itu cahaya terlihat sangat terang, hingga sekejap ia mengerjapkan mata karena terlampau menyilaukan.
Saat matanya sudah bisa menyesuaikan dengan perubahan dari gelap ke terang, dia melihat suatu sosok di atas ranjang, tak terlalu jauh dari dirinya berdiri. Sosok itu berbalut perban, mirip seperti penampakan Khan saat terakhir kali ia melihatnya.
Yang berbeda adalah sosok itu mulai bergerak-gerak gelisah, sedangkan Khan di dunia nyata tidak bergerak sama sekali, karena sedang dalam keadaan koma. Sosok di hadapannya itu bergerak secara membabi-buta di atas ranjang. Seolah-olah dia memberontak oleh ikatan tak kasat mata pada tubuhnya. Lalu pria itu berhenti memberontak. Shanum menunggu dan bertanya-tanya. Siapakah pria itu? Tidak mungkin itu Khan kan? Ataukah itu memang dia? Tapi, ah... tidak mungkin! Shanum menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyangsikannya.
Kemudian Shanum mengernyit dalam, ia mendengar suara rintihan pelan dari sosok itu. Shanum berusaha mendekat untuk mendengarkan lebih jelas. Namun langkahnya terhalang oleh suatu dinding tak kasat mata, dan ia berhenti karenanya.
Gadis itu merasa heran, mengapa ada dinding tak terlihat di sini? Apakah ia sedang masuk ke dalam mimpi orang lain? Sehingga ia hanya bisa berfungsi sebagai penonton di sini, dan menjadi pengamat saja. Shanum merasa benci merasa tak berdaya seperti ini. Dia hanya bisa menatap kasihan ke arah sosok itu.
Lalu suara itu mendadak mengencang, Shanum tersentak. Dia mendadak membeku. Tubuhnya terasa kaku, dan jantungnya serasa ditarik dari tempatnya. Suara itu... Oh Tuhan, itu... itu...
"Panaas... berikan aku air..." ulang suara itu lagi dengan keras. Suara seraknya terdengar jelas di telinga Shanum.
Gadis itu langsung menerjang ke arah dinding, ingin menggapai sosok itu. Tapi kemudian ia menyadari, dirinya tak bisa menuju ke sana, karena dinding transparan yang tak tertembus itu.
"Tolong! Panaas... Arghhh..." jerit kesakitan terdengar membahana.
Shanum menunduk sambil menutup kedua telinganya. Air matanya mengalir deras, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak sanggup mendengarkan suara rintihan itu lagi.
Kemudian suara jeritan kesakitan itu berhenti, Shanum mengangkat kepalanya. Mencari-cari penyebab keheningan itu.
Ternyata yang ia lihat lebih mengerikan dari sebelumnya. Perban di sekeliling sosok itu mulai terlepas, dan terlihat asap berwarna hitam keluar dari sela-selanya. Pria itu kembali berteriak nyaring dengan tubuh kejang-kejang.
Shanum menjadi panik, ia mencoba menggedor-gedor dinding tersebut. "Siapa pun, jangan lakukan ini padanya. Hentikan! Hentikan! Adri, maafkan aku! Maafkan aku..."
Shanum menangis tersedu-sedu. Dia terus berteriak memukul dinding sembari menjerit pilu. Hingga tangannya sakit dan suaranya serak. Tapi ia tidak mengindahkannya, dan terus melakukan gedoran itu, berharap ada bantuan yang datang kepada prianya.
Tapi ternyata tidak ada bantuan apa pun yang datang untuknya. Pria yang ia cintai masih tersiksa dan menjerit di depan matanya, sedangkan ia tak berdaya untuk menolong. Meskipun hal ini hanyalah mimpi, jiwanya tetap memberontak menolaknya.
Akhirnya, setelah berulang kali mencoba menembus dinding tersebut, dan tidak ada hasil yang berarti. Gadis itu terdiam sembari mengatur napasnya yang memburu. Ia tetap menatap pria di seberang dinding dengan pandangan nelangsa.
Shanum merosot ke bawah, jatuh terduduk, terkulai lemas di lantai. Gadis itu tetap tidak melepas pandangannya, wajahnya penuh dengan air mata duka.
Ia merasa tak berguna, tak berdaya, dan merasakan suatu belenggu di sekelilingnya, terlalu memuakkan, menyelubunginya, mencengkeram erat, nyaris menenggelamkannya. Dan kemudian ia benar-benar terbenam, larut dalam ketidaksadaran. Tak bisa bernapas...
Lalu kegelapan tersibak, dan ia menghirup udara banyak-banyak hanya untuk tersungkur ke belakang. Dia mengerjapkan matanya, dan melihat suatu makhluk menyeramkan melata cukup jauh dari hadapannya. Oh, tidak, tidak! Monster ular!
"Tenang," katanya pada dirinya sendiri.
Terengah, berusaha tak memekik seperti pengecut, Shanum langsung berdiri, dan merapatkan tubuh ke dinding. Ular raksasa itu mengikuti, lidahnya terjulur, mata bulatnya menghunjam jiwa.
Setiap sel otaknya yang tadi terperangkap dalam kabut kepanikan mendadak memberitahunya, secara terperinci, bahwa ia akan menjadi makan malam monster itu. Ia lebih suka bertemu sosok manusia yang mengancam dibandingkan bertemu makhluk yang perwujudannya tidak disukainya itu. Shanum sangat benci dengan makhluk melata itu.
__ADS_1
"Aku akan terasa sangat tidak enak," ucapnya putus asa. Sebenarnya, ia merasa sudah mulai kacau, bahkan dalam mimpi ini ia tak bisa mengutarakan apa yang ia maksud. Setidaknya ia menduga begitu. Ketakutannya menimbulkan kekacauan dalam benaknya.
Sekarang ia kembali merasa tak berdaya, sangat tak berdaya. Seolah-olah seluruh kekuatan yang dimilikinya menghilang tak berbekas. Dalam mimpi ini, ia merasa dirinya hanya manusia biasa. Dan anehnya ia tidak merasa pernah bermimpi seperti ini.
Karena itulah ia pesimis bisa menang melawan ular besar tersebut, yang masih menatapnya seolah ia sebongkah daging sementara ia terseok-seok melangkah dari satu sudut ruang ke sudut ruang lain dalam mimpinya. Sudut-sudut yang makin mendekat ke arahnya, karena ruangannya terlihat mengecil.
"Tidak! Menjauhlah! Kau tak ingin menyantapku! Ini cuma mimpi!"
Kepala ular itu mulai terayun. Ujung taringnya yang tajam, mirip pedang, akan berusaha mematuknya. Ia langsung bergerak menghindar. Gerakannya cukup gesit, karena ia ternyata tak melupakan gerakan beladiri yang sudah mendarah daging menyatu dalam dirinya.
Ular itu masih berusaha menyerangnya dari segala arah. Shanum terus menghindar, ia tak yakin bisa menyerang ular tersebut hanya dengan gerakan beladirinya. Wujud ular tersebut saja lebih besar dua kali dari dirinya. Tanpa kekuatan sihirnya, ia tak berkutik.
Dan pada satu kesempatan, ular itu berhasil melubangi paha Shanum. Sudah pasti ujung taring itu mengandung racun, sebab rasa tersengat yang melanda membuatnya jatuh berlutut, menyebabkan ototnya terkunci pada tulang-tulang, nyaris mematahkan mereka.
Shanum terpana sembari menahan rasa sakit. Baru kali ini ia mengalami mimpi yang menyerangnya langsung dan efek sakitnya terasa nyata. Ia sendiri masih tidak bisa terima secara tiba-tiba ia harus kehilangan kekuatan sihirnya.
Apakah ada sihir hitam yang menguasai mimpinya? Andaikata benar begitu, sepertinya ia tidak boleh terlalu meremehkannya di kemudian hari. Karena musuhnya kali ini sangatlah licik dan kuat. Itu pun jika ia berhasil keluar hidup-hidup dari mimpi ini.
Kepala ular itu mulai terayun kembali. Satu lagi lubang, kali ini di punggungnya, saat ia mencoba berputar untuk mengelak dari serangan itu. Rasa tersengat menjalar dengan cepat, ototnya berkedut.
"Cukup!" teriak Shanum, teriakan itu bagaikan anak panah meluncur meninggalkan geliginya, yang terkatup rapat menahan rasa sakit. "Cukup!" desaknya lagi.
"Jangan mendekat! Jika kau manusia, perlihatkan wujud aslimu! Aku ingin melawanmu dalam wujud yang sama denganku."
Ular itu diam, menelengkan kepala menjijikkannya. Mengawasi, mempelajari. Sialan! Shanum tak bisa menjauh, ia terpaku di tempat.
"Dasar pengecut! Bersembunyi di dalam wujud seekor ular." Napas beratnya, menghantam dinding yang kini terlalu rapat, menggema.
"Ternyata kau sangat pintar, Your Majesty. Tapi sayang, kau tidak akan bisa menang dariku."
"Siapa kau? Dan kurasa kau salah orang. Aku tidak cocok dipanggil dengan sebutan itu. Namaku Shanum. Aku hanya gadis biasa." Gadis itu berteriak protes pada monster ular tersebut. Berharap jika ular tersebut, salah... pria tersebut merasa salah sasaran ia akan dilepaskan dari mimpi ini.
Perlahan, terlalu pelan, si ular memudar, berpendar sebelum lenyap dari pandangan. "Hei, kemana kau pergi?! Kau seharusnya--"
Seorang pria bertopeng melangkah dari balik kegelapan yang mendadak muncul. Tubuhnya tinggi dan ramping, mengenakan jubah panjang untuk menutupi keseluruhan badannya. Shanum tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup topeng.
Hanya mata, hidung dan bibirnya yang terlihat. Ia bermata hitam bagai beledu, hidung cukup mancung dan bibir yang begitu merah alami. Jantung Shanum berdebar cemas, karena mata itu menatapnya dengan tajam. Seakan-akan memang ingin menyantapnya, mirip pandangan ular tadi.
"Huh, ternyata aku benar, kau hanyalah seorang pengecut! Bersembunyi di balik topeng dan jubah panjang. Apakah nyalimu hanya seujung kuku? Dan aku juga sangat yakin dibalik topeng itu, wajahmu pasti sangatlah jelek," kata Shanum dengan suara keras.
Dia telah menghina pria itu. Siapa peduli! Jika perlu ia akan mencaci makinya lagi hingga kuping pria itu memerah dan tak tahan dengannya sehingga melepaskannya. Dan semoga saja bukan malah menjadi membunuhnya.
Pria itu terkekeh geli. "Wow, benar-benar wanita yang bersemangat, sungguh menarik. Apakah aku harus merebutmu dari Khan Adrian...hmm?" kata pria itu sembari menyeringai.
Shanum menegang. Dia tidak tahu harus tersanjung ataukah merasa terhina oleh kata-kata pria itu. Tapi, dalam waktu seribu tahun pun ia tak sudi jika menjadi pasangannya.
"Hanya dalam mimpimu, Pria Gila!" geram Shanum.
"Hmm, semakin menggairahkan. Aku jadi sangat tertarik kepadamu. Tapi, pertama-tama aku harus menyingkirkan sainganku dulu. Aku akan membuat Khan Adrian segera meregang nyawa," ucap pria itu dengan tawa menyeramkan.
"Kau tidak akan pernah berhasil, Bajingan! Aku akan menghalangi keinginanmu itu!" Shanum melotot ke arah pria itu. Rasa sakit pada paha dan punggungnya seketika menghilang, kalah oleh emosi yang menggelegak di dalam darahnya.
__ADS_1
Setelah itu keheningan menjalar di antara mereka, walau kobar amarah masih memenuhi mata Shanum. Amarah dan rasa penasaran yang masih berkecamuk. Gadis itu sangat ingin tahu siapa pria ini? Dan untuk apa dia muncul?
Pria itu sudah meruntuhkan hidupnya hanya dalam waktu satu hari yang singkat. Terhitung sejak saat ia mendengar kabar Khan sekarat dari Jullian, hingga kini ketika ia mengalami mimpi buruk.
Dan dia sudah bisa menebak pria inilah sumber dari peristiwa terbakarnya Khan. Dia berani memberikan jaminan dengan nyawanya tentang hal itu.
"Siapa kau? Apa maumu?" tanya Shanum nada suara tajam.
Pria itu menyeringai. "Aku adalah... ya aku sendiri." Lalu dia tertawa geli. Padahal tidak ada yang lucu dalam kalimatnya. Karena jawaban aneh seperti itu bukannya terdengar jenaka, tetapi lebih terdengar memuakkan di telinga Shanum.
"Dan aku ingin menghancurkan Khan Adrian." Pria itu lalu menampilkan kembali wajah menyeramkannya. Sepertinya dia memiliki dendam kepada Khan, dan semua bisa saja terjadi. Khan pernah bercerita bahwa ia memiliki banyak musuh selama hidupnya yang panjang.
"Yah, awalnya aku ingin bermain-main terlebih dahulu dengan memanfaatkan berbagai pihak. Tapi sekarang, sepertinya aku berubah pikiran. Aku ingin langsung menghabisinya, agar aku bisa segera memilikimu... wanitanya yang sangat berharga." Pria itu lalu tersenyum genit ke arah Shanum.
Shanum menelan ludah, ia merasa merinding geli melihat senyum penuh godaan itu. "Kau memang tidak waras. Aku tidak berminat ikut serta dalam permainan gilamu ini," jawab Shanum dengan tatapan jijik ke arah pria tak bernama itu.
"Tunggu saja, Cantik. Kau akan segera menjadi milikku." Setelah mengucapkan itu, ia pun lenyap.
Pelupuk mata Shanum terbuka seketika, pikiran sadarnya terdorong keluar dari mimpi seolah ia sedang berada di roller coaster. Dia mengerjapkan matanya, lalu berkata, "Pria kurang ajar, gila, sakit mental..."
"Pria kurang ajar, gila, sakit mental?" ulang Farah. Shanum melihat kedua temannya melongo di hadapannya, dan gadis itu menjawab hanya dengan senyum lemah di wajah polosnya.
Kedua sahabat Shanum segera tersadar saat melihat senyum itu. "Terima kasih, Tuhan," ucap Diva dengan suara lega.
"Akhirnya kau sadar, dan masih bisa tersenyum, Sha," sambung Farah sembari memutar bola matanya. Diva mendengus mendengar ucapan Farah, yang mengemas ucapan syukurnya dalam kalimat bernada sindiran itu.
Shanum tak menggubris kedua sahabatnya, ia masih terengah. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, membuatnya kuyup. Namun tidak seperti di mimpinya tadi, lengan dan punggungnya yang berdenyut-denyut sakit karena gigitan ular itu mendadak menghilang.
"Apa yang terjadi?" tanyanya gemetar. Mimpi tadi tetap saja meninggalkan bekas ketakutan dalam jiwanya.
"Kau bermimpi buruk, Sha. Kami berdua terbangun karena mendengar teriakanmu. Dan kami tidak bisa menyadarkanmu. Kau tetap saja berada di dalam mimpi itu, meski kami sudah berteriak-teriak mencoba membangunkanmu," jawab Diva dengan wajah letih.
"Mengapa kalian hanya berteriak, tidak mengguncang tubuhku atau mencubitku begitu?" tanya Shanum heran.
"Em... kami tidak berani, Sha. Karena ada sinar berwarna keemasan yang menyelubungi tubuhmu. Dan sinar itu berasal dari kalung di atas meja itu." Diva menunjuk sebuah kalung yang diberikan oleh nenek buyut Khan untuknya. Kalung yang selalu menjaganya, dan hebatnya tetap menjaganya meski dalam keadaan tidak sedang dipakai olehnya.
Shanum tertegun, ia segera meraih kalung itu, dan mengalungkannya kembali di lehernya. Gadis itu sangat bersyukur ia masih dilindungi. Jika tidak ada kalung tersebut, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Huh, padahal aku baru saja terlelap tidur setelah berada berjam-jam di udara," gerutu Farah. Diva langsung menyikut gadis itu sembari melotot ke arahnya.
Shanum mendesah. "Maaf, jika aku menganggu istirahat kalian. Sekarang kalian kembali tidur saja ya. Aku sudah tidak apa-apa kok," kata Shanum seraya mengusapkan tangan ke wajah untuk menghapus sisa-sisa rasa tegangnya. Lalu ia beringsut menurunkan kakinya menapak ke lantai.
Shanum berhasil berdiri dengan goyah, tapi untungnya tak terjatuh, tatapannya menyapu tubuhnya. Ia masih mengenakan baju tidur favoritnya yang kotor oleh keringat dan mungkin berbau.
Dengan tertatih-tatih ia pergi ke kamar mandi. Menolak dibantu oleh Diva, yang terlihat ingin memapahnya. Dia hanya bermimpi buruk, bukannya terluka parah hingga perlu dibantu sampai seperti itu.
Sepertinya berendam di dalam bathtub untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, adalah surga untuk saat ini.
Sementara Shanum masuk ke dalam kamar mandi, kedua sahabatnya saling memandang dengan bingung. Diva mengangkat bahunya dan dibalas dengan dengusan oleh Farah.
"Woi, Shanum! Benar nih, kita boleh tidur lagi," teriak Farah dari depan pintu kamar mandi. "Iya, tidur saja lagi sana!" balas Shanum dengan suara tak kalah keras dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Mimpi apa sih sebenarnya yang dialami Shanum?" tanya Diva dengan wajah penasarannya. Farah hanya membalas dengan mengangkat bahunya, seperti yang dilakukan oleh Diva tadi, lalu melangkah berlalu dari hadapannya.
Diva yang merasa ditinggalkan, akhirnya mengikuti sembari menggerutu sendiri. Merasa kesal karena sikap acuh yang diperlihatkan oleh Farah. Keduanya pun dengan segera melanjutkan tidur mereka yang sempat tertunda karena Shanum. Tanpa tahu cerita tentang mimpi itu.