Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 115 Senyum Kebohongan


__ADS_3

Senyum itu hanya kebohongan. Kebohongan yang indah dan tampil meyakinkan. Shanum sudah terbiasa memperlihatkannya selama berada di tempat ini. Bersembunyi di balik topeng bahwa ia bersedia mengikuti kemauan Avraam.


Sandiwara yang ia mainkan bagus sekali, sampai terasa mencekik lehernya hari demi hari. Merusak jiwanya dan mengaburkan pikirannya. Dia bahkan bersedia bertingkah gila dengan memotong urat nadinya sendiri, hanya untuk mengecoh komplotan itu.


Jika bukan karena ia mendengar apa yang akan dilakukan oleh Avraam dan komplotannya terhadap orang-orang yang dicintainya, dia tidak akan sudi mengalah. Awalnya dia meyakini bahwa pria itu hanya bermimpi, suaminya tidak akan semudah itu dijatuhkan.


Tapi melihat dan mendengar sendiri rencana mereka yang sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu, membuat Shanum syok. Rencana mereka sungguh matang dan luar biasa. Komplotan itu sudah menyusup ke seluruh klan dan bersiap melancarkan serangan terakhir mereka. Dan hal itu membuatnya mencemaskan nasib klan suaminya.


Dua bulan sebelumnya.


Shanum mengutuk jalan berputar-putar saat mencari letak kamarnya. Dia sudah yakin akan sering tersesat di tempat baru ini. Namun karena tadi dia ditinggalkan sendiri oleh Avraam di ruang makan. Tanpa kejelasan sampai berapa lama ia harus menunggu pria itu di sana.


Sedangkan ia harus segera kembali ke kamarnya, mengganti pakaiannya yang kotor sehabis berkuda dengan pria itu. Dan Nara, sebagai pelayan yang biasa membantunya juga tidak terlihat batang hidungnya. Shanum akhirnya memberanikan diri kembali ke kamar sendiri, meski akhirnya ia tersesat.


Shanum menghela napasnya dalam, dia heran dengan struktur bangunan ini. Mengapa terasa mirip labirin yang menyesatkan. Apakah karena ada campur tangan sihir? Shanum mulai curiga hal itulah yang saat ini sedang terjadi. Ia tersesat karena sihir yang melindungi tempat ini.


Shanum menyeret langkahnya menuju ke suatu undakan yang menyerupai bangku di salah satu tembok, lalu menghempaskan bokongnya di sana. Dia menatap sekelilingnya dan merasa kesal.


Shanum kembali mengatur napasnya dan fokus menarik keluar kekuatannya. Dia mengucapkan mantra untuk menyingkirkan ilusi.


Ok, kali ini tolong bantu aku keluar dari sihir menyesatkan ini kekuatanku. Aku percaya kau akan bisa menuntunku ke jalan yang benar.


Sambil berucap dalam hati cahaya keemasan itu muncul di seluruh tubuh Shanum. Dia langsung bangkit dan kembali berjalan mengikuti naluri terbangkitkan oleh kekuatannya.


Shanum melangkah dengan tenang, mulai melintasi lorong demi lorong. Dia melangkah dengan percaya diri bahwa kekuatannya akan membimbingnya kembali ke kamarnya.


Namun setelah cukup lama melangkah, Shanum berhenti melangkah. Dia melewati sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat, namun kekuatan dalam dirinya berusaha membawanya masuk ke ruangan tersebut.


Shanum menahan diri, ia menyadari pintu di hadapannya itu bukanlah pintu yang menuju kamarnya. Dia tidak berani memasuki ruangan asing tanpa izin pemiliknya. Shanum kembali mengucapkan mantra untuk memindai isi dari ruangan tersebut.


Dalam sekejap ia langsung menghentikan sihirnya, saat dilihatnya banyak orang yang menoleh ke arah pintu. Salah satu dari orang-orang tersebut adalah Avraam. Tampaknya mereka sedang menggelar rapat.


Shanum terlihat panik, takut ada yang akan segera keluar dari ruangan tersebut. Karena dia sempat melihat pandangan beku yang terlihat di mata Avraam. Dia tahu, pria itu menyadari kehadiran sihirnya. Pria itu tidak bisa dianggap remeh. Seharusnya tadi dia menyelubungi dirinya dengan sihir perlindungan.


Shanum langsung bergerak setengah berlari masuk ke salah satu pintu yang berada di sebelah ruangan tersebut. Dia tidak mengecek terlebih dahulu keamanan ruangan tersebut. Dalam pikirannya saat ini adalah mencari tempat terdekat untuk bersembunyi.


Dan Shanum terbelalak...


Ruangan yang ia masuki cukup luas dan penuh dengan berbagai senjata di berbagai sudutnya. Pedang, tombak, dan senjata lainnya disusun dengan rapi. Bahkan baju zirah tampak di dalam lemari kaca. Di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat bidang kosong. Sepertinya sengaja dikosongkan untuk tempat berlatih menggunakan senjata-senjata tersebut.


Shanum mengedarkan pandangan dan terpaku pada satu pedang berukuran kecil, namun panjang. Pedang itu mirip samurai asal Jepang namun lebih kokoh. Pedang itu bersarung emas dihiasi jahitan benang merah di tengah-tengah sisinya, jahitan itu membentuk pola rumit mirip untaian kata, yang tidak dapat terbaca olehnya. Pedang itu terlihat agung serta kuno. Dan Shanum merasa terpanggil untuk menyentuhnya.


Shanum menghampiri pedang yang menempel di dinding tersebut dengan langkah kaku. Shanum bagaikan terhipnotis oleh keagungan pedang tersebut. Matanya lurus menatap pedang. Pikirannya mendadak penuh oleh suara-suara yang memanggilnya untuk melepas pedang tersebut dari sarungnya.


Lengan Shanum bergerak ke depan, ingin meraih pedang tersebut. Namun kemudian pikirannya kembali awas, sebuah suara menghentikan gerakannya, ia membeku sesaat, melipat jemarinya dan menolehkan kepalanya, menajamkan mata batinnya.


Shanum dapat merasakan ada sosok yang mengendap-endap mendekati ruangan tersebut. Dia khawatir, mereka akan segera memasuki dan memeriksa ruangan ini.


Dari sudut matanya Shanum melihat sebuah lemari kayu yang berdiri kokoh menempel ke salah satu dinding di ruangan tersebut. Dia menuju ke lemari tersebut, dan mendesah lega ketika membukanya. Sebuah lemari gantung yang berisi banyak jubah bagaikan oase di matanya.

__ADS_1


Shanum langsung masuk ke dalam lemari dan menutupi tubuhnya dengan jubah-jubah tersebut, tidak lupa merapatkan kembali pintu lemari. Shanum mendengar suara derit engsel pintu, pertanda ada yang membuka pintu.


Jantungnya berdegup kencang, dengan cemas ia mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk. Andaikata tertangkap, entah hukuman apa yang mungkin akan menimpa dirinya.


Shanum mendengar suara gerakan langkah kaki. Orang yang memasuki ruangan sepertinya bergerak dengan langkah ringan. Dia mendengar langkah itu bergerak di depan pintu lemari lemari, kemudian hening. Dia tidak mendengar suara apa pun lagi, kecuali suara napasnya yang tertahan dan jantungnya yang semakin kencang menggedor dadanya. Sepertinya orang tersebut berhenti persis di depan pintu lemari.


Shanum refleks membekap mulutnya, wajahnya memucat, badannya kaku tidak berani bergerak sedikit pun. Bahkan saat mendengar langkah itu menjauh dan suara derit pintu kembali terdengar, ia tetap pada posisinya. Tetap membeku, merasa cemas sendiri dan berpikir, bahwa orang yang masuk ke dalam ruangan itu belum sepenuhnya keluar dari ruangan.


Dia baru mulai bergerak ketika waktu cukup lama berlalu. Shanum menghela napas, akhirnya ia dapat bernapas lega. Bersyukur dalam hati, orang yang memeriksa tadi tidak mencari hingga ke dalam lemari ini.


Shanum menurunkan tubuhnya, ia terduduk lemas di dalam lemari tersebut, sembari mengusap keningnya yang berkeringat. Dia masih belum berani keluar dari lemari ini, takut masih ada seseorang yang mengawasi di luar pintu.


Shanum mengerutkan kening ketika ia merasa mendengar suara seseorang yang menyebutkan nama suaminya dari dinding di belakangnya. Shanum langsung membalikkan tubuh, dan berusaha mendekatkan telinganya ke dinding lemari sembari meraba dinding tersebut.


Dia sangat kaget ketika menemukan sebuah celah cukup lebar pada lemari yang berujung pada sebuah lubang di dinding yang membatasi antar ruangan.


Shanum mengernyitkan kening, merasa heran lemari penyimpanan jubah ini memiliki berlubang hingga tembus ke tembok ruangan sebelah. Ruangan tempat rapat Avraam dan kelompoknya saat ini.


Shanum menggeser jubah ke satu sisi lantas meraba pintu lemari yang sejajar dengan lubang tersebut. Dia menemukan bekas tambalan yang cukup lebar di pintu lemari. Perkiraannya tentang asal mula lubang itu terbentuk tampaknya tepat. Ada yang pernah tanpa sengaja menembus pintu lemari dengan tombak atau pun pedang.


Suara riuh di ruang sebelah membuat fokusnya kembali ke arah lubang. Radar keingintahuan Shanum bergejolak, dan dia langsung menempelkan telinga ke lubang dinding tersebut untuk mendengarkan lebih jelas hal yang mereka ributkan.


Shanum mendengar pertentangan cukup keras dari ruang sebelah. Kini namanya disebutkan dengan keras. Kemudian suara bentakan menggelegar. Suara Avraam, tampaknya pria itu mengeluarkan amarahnya.


Hening.


Shanum mendengar Avraam berbicara memecah keheningan dan ia tertegun ketika menyadari ucapan pria itu dalam bahasa Mongolia sedang membahas dirinya.


Cukup lama dia mendengarkan perdebatan itu, yang akhirnya tentu saja dimenangkan oleh Avraam. Wanita itu tidak lagi bersuara, saat mendengar ancaman keluar dari mulut Avraam. Lonjakan energi terasa menyentuh lubang di dinding.


Sebuah suara pria terdengar memutuskan ketegangan yang terjadi di ruangan itu. Dan lonjakan energi itu perlahan memupus. Meski Shanum hanya dapat mendengarkan, tubuhnya dapat merasakan ledakan energi sihir yang kuat dari ruangan sebelah saat perdebatan tadi.


Dia memprediksikan energi sihir itu pasti berasal dari Avraam, karena dia pernah bertanding dengan pria itu. Shanum tahu, kekuatan sihirnya.


Setelah itu, Shanum mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh pria yang berusaha menurunkan ketegangan tadi. Asumsinya nama itu merupakan sebuah nama tempat. Mereka membahas strategi untuk melakukan penyerangan, dan kota-kota yang terlebih dahulu diserang.


Kemudian ia juga mendengar berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh mereka untuk menyiapkan semua mantra sihir, serta pihak yang bersekutu dengan mereka.


Mereka juga menyinggung kembali soal dirinya, perannya di dalam seluruh rencana mereka. Termasuk pembantaian terhadap Klan Altan. Mereka ingin memusnahkan seluruh klan tersebut tanpa menyisakan satu pun, tidak peduli tentang para wanita dan anak-anak. Semuanya harus mati.


Shanum menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya mendadak kosong, dan tubuhnya langsung mati rasa. Klan Altan, tempat suaminya bernaung. Rumahnya saat ini, dan juga otomatis menjadi klannya akan dibantai dengan sadis.


Shanum tidak akan membiarkannya. Selama ia masih bernapas, tidak ada yang boleh melakukan tindakan itu kepada Klan Altan dan juga klan lain. Shanum mengangkat tubuhnya dengan pelan, mendorong pintu lemari, lalu melongokkan kepalanya.


Setelah dirasa situasi di dalam ruangan itu aman, Shanum keluar dari lemari sepenuhnya. Dia kembali merapikan letak jubah seperti semula, lalu perlahan menuju pintu.


Perjalanannya menuju pintu sempat terhenti sesaat, ketika ia menolehkan kepala ke arah pedang yang menarik hatinya tadi. Shanum menatap lama ke arah pedang, lalu menggelengkan kepalanya.


Sudah cukup ia membuat masalah dengan masuk ke ruangan ini tanpa izin, dan menguping pembicaraan orang lain dengan sembunyi-sembunyi. Dia tak mau lagi menambah dosanya dengan mencuri pedang yang bukan miliknya, hanya karena pikiran absurd bahwa pedang itu seolah sedang memanggilnya.

__ADS_1


Shanum segera membaca mantra perlindungan, menempelkan telapak tangannya pada pintu dan tidak menemukan siapa pun berjaga di luar pintu. Shanum menarik napas lega, ia bisa segera keluar dari ruangan itu.


Pintu berderit terbuka, Shanum mengendap-endap, lalu langsung berjalan cepat menjauh dari tempat itu.


Kini Shanum sudah berada di dalam kamarnya dengan selamat. Ternyata dia tidak perlu lagi berjalan berputar-putar untuk menuju kamarnya. Kekuatannya cukup efektif menuntunnya kembali tanpa tersesat.


Shanum mondar-mandir di dalam kamar, berusaha memikirkan tindakannya untuk mencegah penyerangan itu. Tapi, semakin dipikirkan, otaknya semakin buntu. Shanum tidak memiliki ide brilian satu pun.


Dia menghempaskan bokongnya ke atas kasur, mengurut keningnya sembari mendesah, lalu memandang ke tembok di hadapannya dengan ekspresi datar.


Mendadak bibir ranum Shanum melebar membentuk senyum. Dia menemukan ide brilian dipikirannya. Dan semoga idenya ini berhasil debgan baik. Sekarang hanya tinggal menemui Avraam untuk berbicara dengan pria itu.


Shanum seketika menoleh ke arah pintu, dan menemukan Avraam sedang mengerutkan kening dari balik pintu.


Panjang umur sekali pria ini. Baru tadi aku memikirkan ingin menemuinya. Sekarang malah muncul sendiri di hadapanku.


"Mengapa kau tidak menjawab panggilanku, Manis? Apa yang sedang kau pikirkan?" Avraam melangkah mendekati Shanum.


Shanum berusaha tersenyum semanis mungkin untuk menutupi kegelisahannya. "Ah, maaf. Aku tadi sedang melamunkan rumahku. Tiba-tiba merindukan kota kelahiranku dan juga orang tuaku."


Avraam mengangkat alis. "Kau yakin hanya itu yang kau rindukan? Tidak merindukan Khan Adrian, suamimu itu?"


Shanum merasa pertanyaan pria itu merupakan pertanyaan jebakan. Dan dia tidak sudi terjebak dengan konyol, kalau ingin idenya berhasil. Shanum menelan ludah sembari tersenyum terkekeh. "Sepertinya, saat ini hanya rumah dan orang tuaku saja yang terpikirkan."


"Pertanyaan bodoh! Tentu saja aku merindukan suamiku, setiap detiknya," ucap Shanum dalam hati.


Avraam memicingkan matanya ke arah Shanum. Pria itu seolah dapat membaca kebohongan yang dilontarkannya barusan.


"Em, Avraam. Bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan?"


Avraam tidak langsung menjawab, dia masih dengan ekspresi sebelumnya.


"Avraam..."


Shanum memandang ke arah pria itu dengan ekspresi tanya.


"Katakan," sahut Avraam.


"Aku minta kau mengirimkan paket untuk suamiku."


"Jangan menguji kesabaranku!" geram Avraam.


"Dengarkan dulu... aku..."


"Tidak!" Avraam langsung membalikkan tubuh dan melangkah mendekati pintu. Pria itu tidak bersedia mendengarkan Shanum.


"Aku mau mengirimkan kalung yang diberikan oleh suamiku, pakaian yang kukenakan saat kau membawaku dan sebuah surat perpisahan untuknya," ucap Shanum dengan cepat dan keras.


Tangan Avraam berhenti di udara saat ingin menekan gagang pintu, ia langsung berbalik, dan menatap Shanum dengan ekspresi datar. Shanum tidak melihat persetujuan di sana, tapi setidaknya kali ini Avraam mendengarkannya.

__ADS_1


"Please, Avraam. Izinkan aku melakukannya. Aku akan menjelaskan kepadamu rencanaku."


__ADS_2