Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 134 Dalam Mimpi


__ADS_3

Dingin...


Rasa itu menyerang tubuh Shanum hingga menimbulkan nyeri dan gigil di sekujur tubuh. Wanita itu mengalihkan pandangan, mengedarkan matanya ke lingkungan yang terasa sangat asing itu.


Apakah dia kembali ke alam mimpi?


Mimpi yang sudah sejak lama menghilang dari hari-harinya.


Namun, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, ia tidak merasa pernah mengalami mimpi ini.


Apakah mungkin ini adalah efek lanjutan dari ritual penerimaan pemimpin Klan siang tadi?


Ya. Dia akhirnya memilih untuk menjadi pemimpin Klan Erebos. Setelah perdebatan yang berlangsung singkat antara ia dan suaminya, Khan mengalah ketika mendengar kata-kata sementara dan butuh bimbingan darinya.


Shanum lebih jauh meminta kepada pria itu untuk membantu dan mendampinginya selama bertugas dan ia juga Dario sebagai tangan kanannya serta Nekhii sebagai pengawas. Setidaknya sampai ada pemimpin Klan selanjutnya yang dapat menggantikannya.


Semua pilihan itu tercetus begitu saja ketika ia mendengar permintaan dari perwakilan Klan Erebos yang datang ke tenda mereka. Mereka bahkan sampai bersujud kepadanya, memohon padanya untuk menjadi Ratu mereka.


Bukan hanya karena permohonan mereka, tapi lebih seperti mendapatkan firasat kuat dari dalam hatinya. Shanum merasa harus melakukannya.


Hawa dingin semakin pekat. Shanum merangkul tubuhnya, mencoba mengurangi rasa dingin yang sedang ia rasakan.


"Shanum."


Dia sontak menoleh, mencari asal muasal suara yang memanggil namanya.


Perlahan sebentuk tubuh muncul dari balik kabut. Membentuk siluet, semakin lama semakin memadat, jelas.


Tercekat, ia membekap mulut.


Kemudian naluri waspada muncul dalam dirinya. Karena sosok itu seharusnya sedang berada dalam tahanan khusus.


"Tidak perlu kaget dan waspada begitu, Shanum. Aku datang ke sini bukan untuk mengajakmu berduel," ucap sosok itu seraya terkekeh.


"Jadi apa maumu?"


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih."


Shanum tertegun. Dia kaget melihat sikap akrab dari wanita itu kepadanya.


"Apa maksud ucapanmu itu?" desisnya tegang, saat melihat wanita itu mendekat ke arahnya. Keakraban yang ditebarkannya seolah mereka sahabat lama itu membuat Shanum semakin waspada.


Kemudian, wanita itu tersenyum. Senyum tulus yang ikut memancar dari kedua bola matanya.


"Bukankah hanya ucapan itu yang pantas disebutkan oleh orang yang telah dibantu."


Kening Shanum mengernyit dalam. Dia mengalihkan pandangan ke atas lalu ke bawah, memindai perwujudan wanita itu.


Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan wanita yang berada di hadapannya ini. Aneh karena perubahan karakter Sarnai jadi-jadian sungguh berbeda dengan wanita yang kini berada di hadapannya.


"Kapan aku pernah membantumu? Malah aku sudah memutuskan hukuman yang sangat berat kepadamu," ucapnya dengan ketus.


"Itu juga salah satu yang membuat aku sangat berterima kasih kepadamu, Shanum." Wanita itu berucap sembari membungkukkan tubuh.


"Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita," sambungnya.


Shanum tertegun. Otaknya berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan wanita itu.


"Ka-mu..."


Shanum berucap dengan suara terbata.


Wanita itu tersenyum seraya memiringkan kepala.


"Astaga kau Sarnai asli, bukan wanita jadi-jadian itu," ucapnya terperangah.


"Ya. Ini aku. Sekarang aku dapat kembali dengan tenang. Wanita jahat itu sudah menerima hukumannya," sahutnya dengan wajah berseri-seri.


"Selamat tinggal, Shanum". Wanita itu mulai membalikkan tubuh dan hendak melangkah lurus ke balik kabut, tempat ia muncul tadi.


"Tunggu, Sarnai !"


Shanum bergerak cepat, meraih pundak Sarnai, mencoba menghentikan langkah wanita itu. Tapi, dia hanya meraih udara kosong.


Shanum melongo.


Sarnai di hadapannya tidak dapat diraih, wujudnya seperti bayangan.


Wanita itu menyadarinya. Ia berhenti melangkah, dan segera berbalik. Tampaknya ia mendengar panggilan Shanum tadi.


"Ya," katanya dengan ekspresi heran.


"Aku minta maaf. Em... reaksiku tadi mungkin cukup kasar. Seharusnya aku berterima kasih. Karena tanpa rangkaian mimpi itu, aku tidak akan bertemu dengan Khan dan dunia sihir ini."


Senyum terbit di bibir Sarnai. "Semua itu bukan karena aku. Kau tidak perlu berterima kasih. Semua sudah digariskan sebagai takdirmu, Shanum. Bahkan sejak masih hidup pun, aku sudah mengetahuinya."


Sarnai menatap lurus ke arah Shanum. Bening matanya terlihat meredup. "Suatu saat akan lahir seorang wanita reinkarnasiku, yang akan menjadi pasangan jiwa kekasihku," katanya pelan.


"Khan bukanlah jodohku. Aku akan mati di satu titik dalam hubungan itu. Meski awalnya diriku merasa hancur, merasa kehilangan arah dan takut untuk menghadapinya. Perlahan, mencoba menerima makna semua takdir itu, aku pun sadar, bahwa siklus kehidupanku harus seperti itu. Sejauh apa pun aku berlari, kematian tetap akan menemukan diriku," tambahnya dengan suara bergetar."

__ADS_1


Hening.


Shanum tidak dapat mengeluarkan suara. Dia kehilangan kata akibat tercengang, terutama ketika mendengar bahwa wanita itu sudah mengetahui bahwa pria yang ia cintai bukanlah jodohnya dan ia akan mati karenanya.


Sungguh seorang wanita yang tegar. Dia tidak bisa membayangkan apakah ia akan setegar itu jika ia berada pada posisi Sarnai saat itu.


Sarnai tersenyum tipis melihat reaksinya. Sepertinya wanita itu sudah dapat menebak tanggapan takjubnya.


"Berbahagialah, Shanum."


Kemudian wanita itu tersenyum. Dan di saat Shanum ingin membalas kata-katanya, wujud wanita itu semakin menipis, ia segera menghilang bersama kabut, seolah mereka melebur menjadi satu kesatuan.


Tubuh Shanum tersentak. Matanya terbelalak lebar, napasnya terdengar menderu, dan tubuhnya tampak gemetar.


"Shhh, Sayang... Tenang, kau aman. Aku ada di sini."


Shanum menerima tarikan lembut tangan kokoh seseorang pada tubuhnya. Tangan itu langsung merangkulnya dan membawanya ke dalam kedamaian. Gemetarnya kontan mereda, napasnya perlahan menjadi teratur.


Perlahan ia mulai dapat berpikir jernih, setelah sebelumnya terbangun dengan kondisi linglung. Dia membalas rengkuhan itu dengan lebih erat, seolah tidak rela jika belitan kehangatan di tubuhnya itu merenggang.


"Adri..."


"Ya, Sayang."


"Kau belum tidur?"


Khan menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap ke wajah istrinya yang kini mendongak ke arahnya dengan wajah pucat.


"Tadi aku baru kembali dari ruang kerja, menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang tertunda," jawabnya seraya melarikan jemarinya untuk mengusap titik keringat di kening istrinya lalu mengusapnya lembut.


"Kau mendapatkan mimpi lagi?"


Shanum memalingkan wajah sembari mendesah. Dia tidak langsung menjawab. Keheningan terjadi di ruangan itu.


"Apakah buruk?" desak Khan sembari menarik dagu Shanum agar fokus wanita itu kembali kepadanya.


Shanum menarik jemari suaminya dan meremasnya. Dia menatap ke arah suaminya dengan pandangan sendu.


"Aku bermimpi tentang Sarnai."


Shanum melarikan jemari Khan ke pipinya, mengecupnya sekilas dengan ekspresi sedih.


"Sarnai mengucapkan terima kasih. Karena aku sudah menghukum pembunuhnya. Dia juga mengucapkan salam perpisahan dan dia... dia--"


Shanum terdiam. Ucapan terakhirnya terdengar tercekat, seolah sesuatu yang berat mengganjal lidahnya untuk melanjutkan ucapan.


"Tidak perlu diteruskan. Aku bersedia menunggu sampai kau siap bercerita," sahut Khan.


"Dia sudah tahu kalau kau bukan jodohnya. Bahkan tahu kalau ia akan mati. Dia tahu akan adanya kemunculanku nanti sebagai reinkarnasinya, dan sebagai pasangan jiwamu. Bukankah hal itu sungguh berat?"


Khan membeku, pupil matanya melebar seketika. Terlihat jelas pria itu kaget. Tapi ia tidak berusaha memotong ucapan Shanum. Pria itu tetap serius mendengarkan.


Pancaran mata Shanum terlihat getir. "Dapat kau bayangkan, bagaimana perasaanmu, jika pria yang kau cintai ternyata pasangan jiwa orang lain di masa depan. Dan kau sendiri akan mati dalam kesendirian. Bukankah itu sangat menyedihkan."


"Jika aku menjadi dirinya--"


"Kau bukan dia," potong Khan cepat.


Shanum menoleh cepat, ia mengernyitkan dahi, heran mendengar sanggahan suaminya tadi. Ekspresinya terlihat menunggu kelanjutan kata-kata Khan dengan seluruh rasa penasaran dalam hati.


"Kau adalah dirimu. Takdirmu dan takdirnya boleh bersinggungan. Tapi kalian tetap berbeda. Dia sudah lama memiliki kekuatan itu. Seharusnya mentalnya sudah terasah baik, meski dengan kejadian buruk sekali pun. Kau tidak perlu terlalu melebih-lebihkannya, Shasha."


Mendengar ucapan bernada meremehkan itu Shanum mendengus keras lalu berkata, "Tak kusangka kau bisa bersikap sinis seperti ini terhadapnya. Seharusnya kau yang lebih berempati terhadapnya, Adri. Kau kan pernah mencintainya."


Shanum menatap tajam seraya mencari-cari sesuatu yang tersembunyi di kedalaman mata suaminya itu. Meski bukan wewenangnya untuk mengulik kembali masa lalu yang pahit itu.


Sarnai telah membuat Khan jatuh ke dalam patah hati karena cintanya kandas di saat sedang mekar-mekarnya pada wanita itu.


Di tambah lagi rentetan kejadian berdarah yang menimpa ayahnya tercinta. Benar-benar membuat pria itu terpuruk semakin dalam, hingga merubah karakternya menjadi pria berhati dingin, kejam dan tertutup.


"Tapi masa sih hingga saat ini pria itu belum dapat move on juga," ucap Shanum dalam hati.


"Jangan bilang kau masih sakit hati terhadapnya, Adri. Kalau memang masih seperti itu, berarti di lubuk hatimu yang terdalam kau tetap belum bisa melupakan dirinya," selidik Shanum tak tahan lagi untuk mengungkapkan isi pikirannya.


Khan mengangkat sebelah alis lalu berkata, "Pertanyaan yang menggelikan. Kau tahu bahwa aku sudah melanjutkan hidupku dengan mencintai pasangan jiwaku, Shasha. Sebaik kau juga tahu kalau semua rasa sakit waktu itu hanya ego seorang pria yang terluka."


Khan menatap Shanum dengan pancaran mata lembut. "Lagipula semua itu hanya masa lalu, dan masa lalu sebaiknya tetap berada di masanya. Jadi, tanggalkan ekspresi curiga itu. Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi di antara kita."


Shanum memutar bola matanya. "Susah memang kalau berbicara orang berhati beku tanpa empati," dengus Shanum seraya mencebikkan bibir.


Khan melarikan jemarinya ke dagu Shanum, namun berakhir dengan tepisan keras dari wanita itu.


Pria itu terkekeh menerima perlakuan kasar itu, namun ia tidak membalas dengan perlakuan serupa. Khan malah duduk menyandar pada penyangga tempat tidur sambil bersedekap.


Hatiku sudah tidak lagi beku, Shasha. Sudah ada jiwa pemberani, penuh kasih sayang dan menarik dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang mencairkannya. Jiwa pengikat yang dengan kehadirannya aku menjadi menyadari, bahwa selama ini aku hidup hanya dengan separuh jiwa. Dia menemukanku, dan menjadikan jiwaku kembali utuh.


Sungguh kata-kata penuh arti dikemas dalam ungkapan yang manis, pikir Shanum. Dan jika pria itu terus berbicara seperti itu, bisa-bisa ia luluh dan melupakan rasa kesalnya terhadap suaminya itu.


Dan tentang Sarnai, bukan aku tidak berempati, Sayang. Aku sangat berempati terhadapnya. Apalagi kini aku tahu, alasannya saat itu memutuskan hubungan kami. Aku tahu, pasti berat baginya menanggung semua rasa sakit itu. Jadi tahu, bahwa ia pasti tersiksa.

__ADS_1


Aku berhutang banyak terima kasih padanya. Kalau dia tidak memenuhi takdirnya, berusaha merubah seenak hatinya, mungkin akan berbeda kisah kita saat ini.


Khan sengaja mengatakannya lewat ikatan mereka. Pria itu berusaha menjelaskan semua tanpa ada yang ditutupi. Karena hanya lewat ikatan, Shanum dapat melihat seluruh isi hatinya.


Akhirnya roman wajah Shanum sedikit melunak. Wanita itu tersenyum tipis dan mulai mendekat setelah tadi sempat menolak sentuhan suaminya.


"Hmm... kalau Sarnai membelokkan alurnya, berarti kita tidak akan bertemu ya?"


Khan tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah istrinya, sambil terus menatap matanya dengan pandangan penuh emosi.


"Kita pasti akan bertemu, Shasha. Karena pasangan ikatan jiwa selalu dapat saling menemukan."


Mata Shanum mengerjap, kemudian balas tersenyum. "Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menghindar darimu."


"Lebih tepatnya aku yang tidak bisa menghindar darimu, Shasha. Aku yakin akan hal itu, meski kisahnya mungkin berbeda. Saat bertemu denganmu, aku akan tetap mengejarmu sepenuh hati," cetus Khan sembari menarik Shanum dan mengangkat tubuhnya dengan mudah ke pangkuan.


Jantung Shanum seakan melompat ke tenggorokan. Khan mencondongkan badan, wajah mereka sekarang sangat dekat. Shanum mengerjapkan mata.


Dia melihat pria itu sedang menatap dirinya dengan mata berkilat dan senyum seksinya yang mendebarkan itu. Seketika Shanum membasahi bibir, lalu menelan ludah dengan cepat.


Khan tidak membutuhkan sinyal lain. Mata coklat keemasannya langsung berkilau penuh gairah.


Pandangan mata Shanum ikut meredup saat melihat wajah Khan semakin mendekat. Membuatnya bergairah dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Jemari pria itu mendekat ke bibirnya. Mengusap bibirnya dengan lembut. Kemudian dia meraih bagian belakang kepala Shanum dengan telapak tangannya yang besar dan mencondongkan bibirnya ke arah Shanum.


Menciumnya dengan perlahan, tanpa menyentuh bagian tubuhnya yang lain sama sekali, seolah ia memiliki seluruh waktu di dunia hanya untuk membuai bibir Shanum dengan bibirnya yang lembut, padat, dan seksi.


Secara perlahan bibir Khan mengisap bibir bawah Shanum. Dan Shanum terbuai oleh kelembutan itu. Bibirnya terbuka menerima setiap ciumannya.


Urusan Sarnai mendadak lenyap dalam sekejap, seolah seseorang sedang menghipnotisnya. Hingga ia kehilangan orientasi terhadap dunia.


Kemudian suara ketukan pada pintu membuyarkan tindakan intim itu. Shanum menjadi kaku. Dengan insting predator yang muncul secara alami, Khan merasakan perubahan pada tubuh Shanum. Dia menghentikan ciumannya lalu mundur dan menatap ke arah istrinya.


Shanum menundukkan kepala. Mengusap wajahnya yang terasa panas. Dan berusaha menenangkan debaran pada jantungnya.


Shanum mengangkat pandangannya, melirik ke arah suaminya.


Mulut Khan terlihat seksi dan basah setelah ciuman mereka, tampak setengah ternganga karena gairah yang menggebu, napasnya terengah, mata keemasannya berkilat penuh ancaman. Shanum yakin seratus persen, pengganggu yang mengetuk pintu itu sudah pasti akan terkena amukannya dengan segera.


Shanum mundur dan duduk menjulurkan kaki di sisi ranjang, sama terengahnya dengan Khan.


"Siapa pun yang berada di balik pintu, aku peringatkan, jika kau masih sayang dengan nyawamu sebaiknya segera pergi. Aku sedang tidak ingin diganggu!" teriaknya dengan nada gusar.


Kemudian suara keras langkah kaki terdengar menjauh dari balik pintu. Tampaknya orang yang mengetuk pintu tadi langsung terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


Shanum membekap mulut, mencoba menahan tawa yang mendesak ingin meluncur dari bibirnya. Dia merasa kasihan pada siapa pun yang sedang sial berani mengetuk pintu kamar mereka.


Khan menoleh ke arah Shanum. Mengalihkan fokusnya kembali kepada istrinya, setelah menakut-nakuti orang malang tadi.


Khan menggapai dan perlahan membelai pipi Shanum dengan jemarinya. Saat Khan berbicara kepadanya, suaranya parau, seksi, dan rendah. "Aku menginginkanmu."


Shanum menggeleng.


Rahang Khan seketika mengeras. Tatapan matanya berubah kelam. Pria itu tidak suka ditolak, tapi juga tidak bisa memaksa.


Sambil menelan ludah tanpa suara, Shanum menggeleng lagi sembari membekap mulut. Entah mengapa Shanum semakin ingin tertawa melihat ekspresi suaminya.


Meski dia menyadari bahwa saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk tertawa.


Suaminya itu sedang menahan amarah dan juga gairahnya. Sejak mereka kembali dari zona perang, banyak waktu yang mereka habiskan untuk memperbaiki seluruh kerusakan yang terjadi.


Mereka hanya bertemu di malam hari. Seringkali Shanum sudah tidur pulas saat Khan pulang ke mansion mereka di Astrakhan. Jika ia selalu sibuk membantu Nekhii memimpin Klan Erebos, Khan tiga kali lebih sibuk daripada dirinya.


Pria itu harus mengurus bisnisnya yang terbengkalai, menghadiri sidang untuk setiap vonis hukuman yang akan dijatuhkan kepada para pengkhianat perang. Dia juga memimpin rapat untuk kedamaian antar klan. Termasuk menjelaskan kepada para tetua dan dewan bangsawan dari seluruh klan tentang Klan Erebos yang akan kembali kepada persekutuan mereka.


Shanum berdeham. "Kau sudah berjanji untuk mengantarkanku pulang di penerbangan pertama."


Khan menghela napas dalam. Kemudian ekspresinya menjadi dingin. "Kita menggunakan pesawat pribadiku, Shasha. Waktu keberangkatan bisa diatur kapan saja."


"Tapi aku mau sampai di rumah orang tuaku tidak terlalu malam. Akhir-akhir ini tubuhku mudah lelah, Adri. Sepertinya efek samping penggunaan sihir di peperangan tempo hari belum-lah hilang."


Khan kontan menempelkan punggung tangannya di kening Shanum. "Kau tidak demam," gumamnya. Lalu ia merapikan helai rambut Shanum yang berantakan. "Apa lagi yang kau rasakan? Apa perlu kita tunda keberangkatannya?" sambung pria itu dengan nada khawatir.


"Tidak perlu menunda. Aku sudah terlalu lama merindukan rumahku, orang tua dan para sahabatku," jawabnya cepat.


"Baiklah, kalau begitu kita tidur saja. Supaya kau tidak jatuh sakit di perjalanan."


Shanum tersenyum mendengar ucapan Khan. Dia langsung melontarkan diri untuk memeluk pria itu. Dan Khan yang tidak siap menerimanya langsung jatuh terbaring di kasur.


"Shasha... Jangan memancing kalau kau tidak siap dengan konsekuensinya," geram Khan.


Shanum mengangkat setengah badannya, menatap mata suaminya dengan ekspresi geli.


"Aku hanya merasa senang kok, karena kau sudah mengabulkan keinginanku. Dan aku juga ingin tidur dalam pelukanmu, Adri."


Khan mendesah. Namun tidak menolak, ketika Shanum memperbaiki posisi tidurnya, sehingga mendapatkan letak yang nyaman dalam pelukan pria itu.


"Tidurlah. Aku akan menunggu sampai kau terlelap," ucap Khan seraya mengecup kening Shanum dan mengusap rambutnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Adri. Aku mencintaimu, Suamiku."


__ADS_2