Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 108 Kota Yang Tersembunyi


__ADS_3

Shanum menarik lepas jemarinya yang digenggam oleh Avraam. Dia mundur beberapa langkah dari hadapan pria itu. Wanita itu mengawasi keseluruhan penampilannya.


Avraam perlahan mendekati Shanum kembali, pria itu mencoba meraih wajahnya. Rona mukanya berubah ketika Shanum menoleh menghindari jemarinya, hingga pria itu mendapatkan udara kosong dalam genggamannya.


Mulut Avraam merapat. Tampaknya Avraam tidak menyukai tingkah Shanum yang menghindari jemarinya tadi. Pria itu melipat tangan, netra matanya yang kembali berwarna gelap menyipit, lalu mengibaskan kepala sehingga rambut peraknya menyingkir dari wajah.


"Siapa itu Sergei?"


Shanum terpaku, anehnya pria itu bertanya dengan nada seolah-olah dia cemburu. Apakah pria itu menyukainya?


Shanum menghela napas lelah, dia sudah bisa menebak arah hidupnya akan semakin runyam kedepannya, jika semua hal itu benar adanya. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Diva.


"Dia kekasih sahabatku dan wajahnya mirip denganmu," jawab Shanum dengan ketus.


Avraam tertawa kecil dan menyandarkan bahu bidangnya di pilar batu sambil melipat tangannya. "Kurasa kau salah orang. Aku tidak memiliki kekasih saat ini."


Shanum terlihat bingung. Mata gadis itu terus menatap Avraam, mencari-cari perbedaannya dengan Sergei. Selain netra matanya tidak ada yang membedakan antara pria itu dengan Sergei.


"Apakah kau kehilangan ingatanmu?" Shanum berpikir, mungkin saja pria itu mengalami hal seperti Khan tempo hari.


"Tidak. Sepanjang hidupku, namaku adalah Avraam bukan Sergei."


Shanum menatap pria itu dengan tajam. Berusaha mencari-cari celah kebohongan dari ucapan Avraam. Tapi ekspresi pria itu tidak bisa ditebak. Shanum tidak menemukan kejanggalan atau kebohongan sedikit pun.


"Maaf Yang Agung, kau sedang ditunggu di ruang rapat." Seorang pria menginterupsi percakapan mereka. Wajah Avraam berubah menjadi dingin dan kaku. Dia segera menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangannya dengan angkuh dan dingin, mengatakan kepada pria yang memanggilnya itu untuk segera menyingkir. Pria itu memucat, kemudian memberi hormat dan bergegas pergi dari hadapan mereka.


Avraam melayangkan kembali pandangannya ke arah Shanum. "Cantik." Ekspresi pria itu kembali berubah menjadi lebih ramah. "Tampaknya aku harus segera menemui orang-orangku."


"Nara!" Avraam memanggil seseorang yang berada di aula itu. Wanita yang bernama Nara itu menghampiri mereka dengan ekspresi takut.


"Antar Shanum ke kamar tamu dan layani dengan baik," perintah Avraam.


"Baik, Yang Agung." Wanita itu menunduk dan membungkukkan tubuhnya.


Nara membawa Shanum ke kamar dengan perapian hangat dan diterangi sinar matahari dengan langkah cepat. Kamar yang mereka masuki itu menghadap ke taman yang berada di belakang rumah.


Dan Shanum baru menyadari bahwa bangunan itu terbuat dari batu. Shanum sempat terperangah ketika melewati lorong demi lorong yang terbuat dari batu berwarna coklat tanah itu.


Dinding bangunan ini mirip dengan dinding bangunan yang berada di kota kuno Sarai Batu-Astrakhan.


Shanum mengedarkan pandangannya pada isi kamar tidur itu dan menemukan sebagian besar perabotannya terbuat dari kayu mewah dengan warna krem lembut, berlapis sentuhan secercah hijau kekuningan. Rasanya, meski aneh, hampir mirip dengan suasana musim gugur.


Tempat tidurnya kokoh, empuk, cantik dengan penutup dan selimut berwarna coklat tanah dan kuning gading untuk melindungi dari dinginnya musim.


Namun rasa keingintahuan Shanum tidak dapat ditahan lagi, setidaknya memberikan dirinya sendiri bayangan untuk sedikit mengetahui di mana ia berada.


"Tahun berapa ini?" Shanum berhasil menanyakannya saat Nara menutup pintu kayu kokoh di belakang mereka. Wanita itu sedikit mengernyit sambil menoleh, "Dua ribu delapan."


Ternyata masih tahun yang sama. Kau terlalu banyak berkhayal, Shanum. Tidak mungkin kan pria itu membawanya menjelajahi waktu. Meski pria itu memiliki kekuatan berteleportasi, terlalu sakti kalau dia memiliki juga kekuatan kembali ke masa lalu.


Shanum menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum miris. Sejak menemukan dunia sihir ini, dia memang tidak bisa menganggap remeh hal yang berbau kemustahilan. Dirinya sendiri bahkan bisa memanggil roh penjaga lautan, yang notabene hanya pernah didengar dan dibacanya lewat cerita fiksi.


"Aku tidak tahu kalau bangunan kuno seperti ini ada selain di Astrakhan," ungkap Shanum. Gadis itu menatap sekelilingnya. "Apakah umur bangunan ini sudah ratusan tahun?"


Nara tidak menjawab. "Anda mau berganti pakaian, My Lady?" tanya Nara mengalihkan perhatian Shanum. Dia mengeluarkan baju santai kuning gading, dengan atasan dan bawahannya yang hangat serta lembut berpinggiran renda.


Shanum memicingkan matanya, wanita ini sepertinya sedang menutupi sesuatu. Tapi memang tidak bisa disalahkan juga, ia orang luar, baru datang ke tempat itu.


"Bagaimana, My Lady?"

__ADS_1


Shanum memandangi pakaian itu, lalu beralih memandang kamar, jendela, dan dia merasa semua ini mulai tidak masuk akal.


Bukankah dia adalah tawanan. Tapi mengapa perlakuannya di sini lebih mirip tamu agung dibandingkan tawanan. Pakaian yang diberikan kepadanya dari bahan berkualitas bagus, yang tentunya hanya dimiliki oleh kaum kaya dan bangsawan. Padahal ia sudah banyak membunuh anggota klan mereka di Abbasid.


Shanum tadinya sudah pasrah menerima jika dia harus berada di penjara atau ruangan yang diperuntukkan untuk tahanan. Dengan pakaian jelek khas tahanan. Tapi kenyataannya ternyata berbanding terbalik dengan penafsirannya. Dia diperlakukan dengan sangat istimewa. Dan hal itu membuat alarm kewaspadaan di kepalanya berdering dengan keras.


"Di mana sebenarnya kita berada saat ini?" Shanum mencoba menggali keingintahuannya kembali. Tatapannya dan Nara bertemu. "Mengapa tempat ini mengingatkanku dengan kota Sarai Batu di Astrakhan?"


Wajah Nara menegang, dan mata gelapnya beralih pada pakaian yang berada dalam genggamannya. Wanita itu dengan gugup meletakkan pakaian itu di atas kasur. Jakun Nara naik turun saat ia menelan ludahnya.


"Maaf, My Lady. Hanya Yang Agung yang boleh mengatakannya padamu," kata Nara dengan hati-hati.


"Mengapa tidak kau saja yang mengatakannya?" desak Shanum.


Sebuah bangunan yang antik, dengan strukturnya yang kokoh, jendela-jendela yang besar, dengan warna-warna tanah, tidak ada listrik, sebagai petunjuk, bertebaran di sekeliling Shanum. Tempat ini sungguh mirip bangunan kuno.


Nara menyatukan telapak tangannya dan meremas-remasnya. "Yang Agung tidak memberi perintah semacam itu, My Lady. Aku takut salah menyampaikannya."


Shanum menatap Nara dengan tajam. Sepertinya wanita itu takut membocorkan sesuatu yang dirahasiakan oleh klan ini. Dan tidak mungkin mereka mau membeberkan rahasia terpendam klan mereka dengan begitu mudahnya.


Nara lalu menghampiri tirai untuk membukanya, menutup ruangan itu dalam kegelapan.


Jantung Shanum berdegup keras, membawa serta sedikit rasa takut bersamanya, dan dia berkata begitu saja, "Biarkan tirainya terbuka."


Shanum tidak mau dikunci dan dikurung dalam kegelapan, tanpa lampu yang berasal dari energi listrik, dia tak yakin ruangan itu akan terang benderang. Berada di tempat yang tidak dikenalnya sedikit membuat nyalinya menciut.


Nara mengangguk dan membiarkan jendela terbuka, wanita itu mengatakan kepada Shanum untuk memberi tahu kepadanya jika Shanum memerlukan sesuatu sebelum Nara pergi.


Shanum menggeleng. Dia tidak memerlukan apa pun lagi saat ini. Dan wanita itu menundukkan kepalanya, kemudian keluar dari kamar.


Shanum mendesah keras. Dia mengambil pakaian yang tadi diletakkan wanita itu di atas kasur, lalu mengenakannya. Menanggalkan pakaian lamanya terlipat dengan rapi di atas meja.


Kemudian Shanum menyelip ke tempat tidur, nyaris merasakan kelembutan dan kehalusan seprainya. Dia mendengar keretak api di perapian, dan kicauan burung di dekat jendela.


***


Shanum bangun lima jam kemudian. Perlu waktu beberapa menit untuk mengingat di mana ia berada, dan apa saja yang telah terjadi. Tiap detak jantungnya mendorongnya kembali ke peristiwa berdarah yang terjadi sebelum ini. Akan tetapi, setidaknya ia tidak lelah. Merasa asing, namun dapat bersiaga menanti tindakan selanjutnya dari pria yang bernama Avraam itu terhadapnya.


Nanti saja ia memikirkan tentang rencananya untuk menghubungi Khan melalui ikatan mereka. Mungkin besok, setelah ia dapat mencari celah yang aman tanpa takut ketahuan oleh Avraam.


Shanum membuka pintu kamar dan melihat Avraam berada di sebuah ruang duduk kecil tak jauh dari kamarnya. Beberapa orang sedang bersama pria itu. Avraam menyapukan pandangannya kepada Shanum, dari sepatu kulit lembut coklatnya, yang praktis dan nyaman dipakai, hingga mantel krem sepanjang lutut, dan ikatan rambut kuncir kudanya.


Pakaian ini yang tersedia di dalam lemarinya, jadi tentu saja Shanum tidak bisa protes. Meski ia cukup bosan melihat nuansa warna coklat, krem, hitam dan kuning gading yang mengisi koleksi pakaiannya.


Di balik mantel Shanum, ada pakaian tipis yang dipadukan dengan celana coklat yang lebih tebal dan hangat, serta sweter cantik dengan warna tanah yang bahkan sangat lembut untuk dipakai tidur. Udara di tempat ini memang dingin, sehingga dia harus memakai berlapis-lapis pakaian.


Sarung tangan rajut yang sepadan dengan warna sepatunya sudah dimasukkan ke dalam saku mantelnya.


Tidak ada warna lainnya. Anehnya Shanum baru menyadari bahwa warna busana yang dikenakan oleh para penghuni klan ini juga serupa. Sepertinya konsep aneka warna tidak terdapat di sini. Shanum mulai merindukan warna-warna pelangi dan bunga yang indah.


"Apakah kamarmu nyaman?" tanya Avraam, walau ada yang terasa tegang dalam ucapannya ketika pria itu bangkit dari duduk dan menyongsongnya.


Shanum menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Dia berusaha tak mengindahkan pandangan dingin dan kaku yang diarahkan oleh orang-orang itu.


Para pria yang berada di ruang duduk itu beranjak pergi dari tempatnya setelah Shanum melihat Avraam memberikan kode dengan kepala dan tatapan mata kepada mereka.


"Ayo ikut, aku ingin mengajakmu berkeliling," cetus pria itu.


Tiap langkah Shanum menuju ambang pintu terasa tak berujung sekaligus mengundang. Dia masih terus membuka kewaspadaannya, meski Avraam memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


Untuk sesaat, beban dalam diri Shanum menghilang ketika ia melahap segala detail tempat itu.


Sinar matahari memancar dengan lembut, halaman depannya luas dan rapi, rumput-rumputnya kering, dibatasi pagar batu setinggi pinggang dan dilengkapi oleh beberapa pepohonan, semua mengarah ke jalanan bersih yang terbuat dari batu-batu jalan yang pucat.


Avraam bergegas ke pagar kayu kokoh, membuka slotnya dengan cekatan, kemudian melangkah ke jalanan sebelum berhenti di sisi seberang jalan.


Shanum melihat ada beberapa rumah yang lebih kecil sepanjang ia melangkah. Rumah-rumah berpenampilan kuno dengan cerobong-cerobong asap mengepul. Mulut Shanum menganga lebar, disuguhkan pemandangan kota berlatar belakang abad pertengahan itu.


"Astaga, bahkan kotanya sama persis," gumam Shanum.


Avraam menyeringai. "Aku tidak menyangka akan melihat penampilan takjub yang sangat istimewa itu, Cantik."


"Namaku Shanum. Bukan Cantik," ketus Shanum sembari mendengus. Kupingnya mulai gerah dipanggil oleh kata penuh isyarat rayuan itu.


Pria itu tergelak. Dan perhatian Shanum teralihkan menjadi menatap Avraam yang ternyata bisa juga tertawa geli, hingga menyebabkan wajahnya yang tampan itu semakin bersinar. Ya ampun, Shanum, ingat! Kau sudah memiliki suami.


Shanum mengutuk Avraam yang memiliki tampilan memikat seperti itu. Dia berpikir seharusnya pria itu berpenampilan jelek, bukannya semakin berkharisma dan setampan itu. Jadi dirinya lebih mudah untuk membencinya. Sekarang Shanum memiliki keraguan, harus bersikap seperti apa dalam menghadapi pria itu.


"Kau memang cantik, Shanum. Dan aku suka memanggilmu seperti itu."


"Huh, rayuan basi. Seharusnya kau malu, merayu seorang wanita yang sudah bersuami," cetus Shanum. "Dan omong-omong tentang suami, tolong kembalikan aku kepada suamiku. Dia pasti sedang mencemaskanku saat ini," tambahnya lagi.


Ekspresi Avraam menjadi kelam sesaat ketika mendengar ucapan Shanum. Matanya berkilat semakin gelap. Dan Shanum dapat merasakan temperatur udara menjadi dingin di tempat ini. Shanum dapat merasakan hal itu berasal dari pria itu. Dia mulai mengencangkan kewaspadaannya, menunggu ledakan atau apa pun yang berbahaya keluar dari pria itu.


"Dengar! Aku tidak peduli tentang Suami Sialanmu itu! Aku juga tidak pernah menganggap pernikahanmu itu. Kau berada di sisiku, jadi sudah seharusnya kau menjadi milikku. Pernikahanmu itu aku anggap tidak berlaku di sini." Pria itu menggertakkan rahangnya, tampak geram.


Shanum kaget mendengar ungkapan penuh rasa kepemilikan itu. Sejak kapan dia bersedia menjadi milik pria itu? Dia dengan terpaksa ikut, karena pria itu mengancam keselamatan Farah.


Dan sikap posesif yang ditunjukkan Avraam saat ini membuat dia heran sekaligus pusing. Menghadapi pria dominan dan posesif itu akan banyak menguras tenaga, dan ia tidak suka kembali mengalami hal itu.


"Segera, kau akan menjadi selirku, Shanum," tambah pria itu lagi.


Shanum terperangah, ia menelan ludah. "Kau, Gila! Kau tidak mungkin melakukan itu. Hal itu menyalahi aturan."


"Aturan siapa? Di sini yang berlaku adalah aturanku, bukan yang lain." Avraam mengangkat dagunya dengan angkuh.


"Tidak akan ada yang berani menentangku. Dan andaikata ada yang berani mencobanya, mereka akan mati di tanganku."


Shanum menggelengkan kepalanya. "Aku tetap tidak setuju."


Hatinya mencelos. Shanum tidak mau menjadi milik pria itu. Jiwa dan pikirannya menolak mentah-mentah hal tersebut.


"Kau harus setuju. Jika tidak, kau akan melihat kematian dari orang-orang yang kau sayangi," kata pria itu lagi dengan kalimat ancaman seringai licik.


Shanum memandangi pria itu dengan ekspresi marah. "Sekarang baru terlihat wajah aslimu, Tuan Avraam. Tadinya aku sempat meragukan perasaanku sendiri bahwa kau pria yang buruk dan keji dengan perlakuanmu yang manis serta ramah terhadapku." Tatapannya garang ke arah Avraam. Cahaya keemasan perlahan muncul di sekeliling tubuh Shanum.


"Dan sampai mati pun aku tidak akan sudi bersanding denganmu. Jadi hentikan obsesimu itu!" Shanum bersiap menyerang. Dia mulai muak meladeni tingkah absurd pria itu.


Avraam tersenyum meremehkan. "Kau tidak akan pernah kuizinkan untuk mati, Cantik. Biarkan saja suamimu itu yang mati karena merana istrinya berada di bawah genggamanku."


Ternyata pria ini sengaja melakukan semua hal itu hanya untuk menyiksa Khan secara perlahan. Sungguh pria kejam dan tak berperasaan. Sejak awal Shanum sudah curiga pastinya ada udang di balik batu dalam semua perlakuan dan kata-kata manis pria itu.


Shanum tertawa. "Khan Adrian tidak akan pernah merana, Bajingan! Aku yakin dia tidak akan bertingkah selemah itu. Dia pasti akan berusaha mencari keberadaanku dan melawanmu."


Beberapa orang melangkah dengan tergesa-gesa saat melihat perseteruannya dengan Avraam, dan segera masuk ke rumah mereka ataupun menghilang dari pandangan. Tempat itu kini steril dari orang-orang. Hanya ada dia dan Avraam yang berada di sana.


"Dia tidak akan pernah menemukanmu. Tempat ini tidak pernah ada dalam peta. Jadi, kita lihat saja, Manis. Suamimu itu pastinya akan terpuruk dan membunuh dirinya sendiri. Oh, aku sangat menantikan saat itu." Pria itu lalu tertawa menggelegar, wajahnya terlihat puas. Seolah pria itu sudah membayangkan kematian Khan di pelupuk matanya.


Amarah Shanum terpancing. Dia tidak akan membiarkan belahan jiwanya mati oleh pria jahat itu. Shanum melepaskan kekuatannya, ia menyerang Avraam. Pria itu dengan gesit segera menghindar. Lalu dia membalas mengeluarkan kekuatannya. Kegelapan pekat meluncur ke arah Shanum.

__ADS_1


Kalung di leher Shanum bercahaya terang, kegelapan itu tidak bisa menyentuh tubuhnya, dan terpental.


Avraam memicingkan matanya. Kemudian Shanum mendengar ia merapal mantra, pria itu membelah diri menjadi banyak. Shanum melihat gerombolan Avraam mengelilinginya.


__ADS_2