
Khan terpaku melihat punggung gadis itu, yang semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu.
Dia memicingkan matanya, memperhatikan dengan tajam, cukup yakin dapat melihat ekspresi kehancuran yang sekelebatan muncul di wajahnya. Meski kemudian wajah datarnya kembali diperlihatkannya.
Entah mengapa hal pertama yang ia rasakan adalah kehancuran yang sama, bukannya amarah. Padahal jelas-jelas gadis bernama Shanum itu sudah bertindak sadis merusak wajahnya.
Namun tak butuh waktu lama sebelum pikiran rasionalnya menengahi. Mustahil ia merasakan perasaan remuk-redam itu di dalam hatinya. Satu-satunya cara yang benar adalah nuraninya telah terketuk. Dia mengakui, perlakuannya tadi memang sangat keterlaluan kepada gadis itu.
Tidak biasanya dia bersikap sekejam itu dengan seorang wanita. Biasanya ia hanya bertindak memberi jarak tanpa menghina, dan dingin tanpa berkata apa pun. Para wanita akan menjauh secara otomatis melihat hal itu. Secara sadar mengetahui ia tidak ingin terlibat lebih jauh.
Dan hal itu merupakan pembenaran yang paling sesuai untuk rasa sakit yang dirasakannya. Nyaris tidak mungkin ia bertindak sejauh itu jika tidak merasa kesal mendengar hidupnya harus direcoki lagi dengan perjodohan yang memuakkan. Dan ia semakin marah saat mendengar ada yang mencoba membunuhnya dengan membakarnya hidup-hidup.
Memang semua kemarahan itu seharusnya bukan ia tujukan kepada gadis itu. Ia seharusnya berterima kasih padanya karena berhutang nyawa, bukannya malah membuat bencana dengan menyakitinya.
Kau memang bodoh Khan? Sekarang apa yang harus kau lakukan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi? Eej sudah pasti akan membunuhmu dengan pengabaiannya yang mengerikan.
Satu-satunya jawaban yang bisa dia pikirkan terasa lebih sedikit mencemaskan. Dia harus bersujud di kaki gadis itu untuk memperoleh maafnya. Tapi apakah dia sanggup melakukan itu? Merendahkan dirinya di hadapan seorang gadis yang tidak ia ingat sama sekali.
Khan kembali berbaring di tempat tidur dan menumpangkan lengan di mata. Ia kelelahan, tapi lelap tak mau datang. Akhirnya, terlalu letih untuk melawan, ia memejamkan mata dan membiarkan kenangan membawanya kembali kepada gadis itu.
Gadis itu menawan. Khan tadi berbohong mengatakan tidak tertarik. Padahal gadis itu menggugah dirinya untuk memperhatikan. Berpakaian serbahitam, legging dan atasan pas badan, memeluk setiap jengkal tubuh indahnya.
Tubuhnya sesuai dengan proporsi ideal, tidak terlalu kurus, tidak juga gemuk, pas di tempat yang tepat. Ia memiliki wajah berbentuk hati, bibir yang terlihat penuh saat ia mencebik kesal, dan celah samar menggemaskan di dagunya. Jangan lupakan bola mata hitam berkilau, semakin berkilat indah ketika ia marah.
Entah mengapa Khan suka melihat gadis itu marah, bahkan ia bahagia mendapatkan pukulan darinya. Dia tersenyum miris, mungkin secara tidak sadar dirinya berubah menjadi seorang masokis yang mencintai rasa sakit. Otaknya cukup konslet akibat kebekuan yang ia rasakan selama ratusan tahun ini.
Khan membeku, mendadak ia teringat sesuatu yang membekas dari mimpinya kemarin, aroma gadis itu familier. Saat dia berdiri sangat dekat dengannya, aromanya mirip dengan wanita yang muncul di dalam mimpinya. Tadi ia tidak terlalu memperhatikan karena aroma itu berbaur dengan aroma darah kental yang mengucur dari hidungnya.
Mengapa?
Khan tidak mengerti perasaannya, setelah ia menyakiti hati gadis itu, kini ia ingin menariknya mendekat, lebih cenderung dikatakan untuk mendekapnya. Hal itu membuat ketakutan bergejolak dalam hatinya. Entah apa yang menjadi landasan rasa takutnya itu, ia sendiri pun tak mengerti. Tampaknya Amnesia yang ia alami ini membuat kacau tidak saja otaknya, tapi juga jiwanya.
Khan bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis itu saat ini, apakah ia sedang menghancurkan sesuatu, menangis tersedu-sedu atau pergi ke suatu tempat dan merenung. Tiba-tiba pria itu tertawa sendiri. Perilakunya yang saling bertentangan benar-benar membuatnya merasakan keganjilan. Gadis itu benar-benar mendatangkan kegilaan di dalam dirinya.
Suara pintu dibuka langsung membuatnya waspada. Khan membuka matanya, ia menoleh ke sisi ranjang dan menemukan seorang petugas medis sedang tersenyum kepadanya, namun kemudian wajahnya langsung terlihat kaget.
"Apa yang telah terjadi padamu, Yang Agung?" Pria petugas medis itu langsung memeriksa hidungnya yang patah dan bibirnya yang sobek. Dia lalu menekan tombol di samping ranjang rawat. Khan tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya meringis saat pria itu menekan lukanya.
"Apakah ada yang menyerangmu?" tanyanya lagi dengan heran. Khan masih diam membisu. Petugas medis itu bingung, karena seharusnya tidak akan ada yang bisa menyusup ke dalam ruang rawat ini. Sistem keamanan di gedung ini sangat ketat dan canggih. Bahkan penyusup yang menggunakan sihir pun dapat terdeteksi dengan mudah.
Khan melihat seorang perawat muncul dengan membawa sebuah kotak. Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh Khan, dan dengan sebuah kalimat perintah si perawat langsung membuka sesuatu yang ia bawa.
Dia melihat pria itu membersihkan wajahnya dengan sebuah cairan. Lalu ia mengoleskan cairan kental dari sebuah tube dengan menggunakan kain kasa. Cairan itu terasa sejuk di kulit Khan yang terluka. Rasa perih di lukanya berangsur menghilang.
"Katakan kepadaku, siapa yang melukaimu? Aku harus melaporkan hal ini kepada Your Majesty."
"Tidak perlu. Hal ini biar menjadi urusanku sendiri. Dan aku tidak mau kau ikut campur di dalamnya, Lian." Khan menjawab sembari menatap tajam ke arah pria itu.
Pria yang bernama Lian itu menghela napasnya, lalu memberi isyarat kepada perawat di sampingnya untuk keluar dari ruangan. Perawat wanita itu mengangguk, kemudian bergegas pergi.
"Aku mendapatkan laporan ada seorang gadis yang mengatakan pada perawat bahwa kau meminta pulang hari ini," kata pria itu.
Ternyata gadis itu sudah mengatakan kepada perawat tentang keinginan Khan untuk pulang. "Ya. Aku tidak betah berada di sini ," jawab Khan dengan wajah datar.
Lian menatap Khan dengan pandangan menelisik. "Apakah gadis itu ada sangkut-pautnya dengan lukamu ini?"
Khan menatap Lian dengan pandangan tidak suka. "Tidak," jawabnya singkat. Dia tidak mau menambah masalah dengan mengadu tentang perlakuan gadis itu. Biar bagaimanapun semua luka ini karena salahnya sendiri.
"Oke, kalau begitu aku akan melihat CCTV saja," ucap Lian sembari membalikkan badan hendak beranjak dari hadapan pria itu. Khan langsung menahan lengan pria itu. Wajahnya terlihat dingin. "Jangan ikut campur, Lian. Anggap saja kau tidak melihat apa pun," kata Khan memperingatkannya.
__ADS_1
Lian bersedekap. "Aku yang bertanggung jawab terhadapmu selama di sini. Jadi tidak mungkin aku diam saja jika ada sesuatu yang terjadi padamu, Yang Agung."
"Oh, diamlah! Aku tak mau kau memperpanjang hal ini. Simpan untuk dirimu sendiri. Urusan dengan Eej nanti biarkan aku yang mengurusnya," sahut Khan dengan memaksa.
Lian terdiam, ia memperhatikan Khan dengan wajah setengah geli. "Oke, aku akan ikuti kemauanmu. Tapi kau tidak boleh pulang dari sini sebelum luka di wajahmu itu kembali normal," tutur Lian. Pria itu bergegas keluar, tidak mengindahkan suara menggeram karena frustasi yang dikeluarkan Khan.
Khan merasa luar biasa kesal. Dia harus tertahan lagi di kamar rawat yang membosankan ini. Dan semua itu karena dirinya sendiri yang sudah bertindak bodoh.
Pria itu mencoba duduk dan menurunkan kakinya dengan perlahan. Dia ingin melatih tubuhnya agar tidak terus-terusan berada di tempat tidur. Sebelumnya dia masih merasakan pusing saat mencoba turun dari ranjangnya. Kini kepalanya sudah merasa sedikit lebih baik.
Khan memindahkan kantung infus ke sebuah tiang beroda dan merasa benci dengan keterikatannya oleh cairan itu. Khan menuju kursi tunggu di sudut ruangan. Setelah berhasil duduk, ia menghela napasnya lelah. Khan menatap tiang infus di hadapannya dengan wajah gusar.
Pria itu mendengus, lalu kembali berdiri menuju ranjang. Dia terlihat tak sabar dan meraih tombol darurat guna memanggil perawat. Tak berapa lama seorang perawat datang, wajahnya langsung pias saat melihat ekspresi dingin mengerikan yang terlihat dari wajah Khan.
"Lepaskan infus, Sialan ini! Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Cepat!" perintahnya.
"Ba-baik... saya tanyakan dahulu dengan Dokter Lian," jawabnya dengan terbata-bata. Perawat itu lalu berlari terbirit-birit meninggalkan ruangan itu. Sampai-sampai ia lupa untuk menutup pintu kembali. Khan mendesah kesal melihat tingkah lalai perawat tersebut. Sayangnya para pegawai di tempat ini adalah murni urusan ibunya. Jika dia yang memiliki rumah perawatan ini, tentu saja dia akan memanggil perawat tidak kompeten tersebut.
"Apa yang kau sudah lakukan pada perawat malang itu, Yang Agung?" kata sebuah suara yang terdengar dari balik pintu. Seorang pria mendadak muncul di depan pintu dengan alis terangkat sebelah.
Khan melihat ke arah pria itu sambil mendengus. "Aku hanya memintanya mencopot infusku. Tapi yang dilakukannya adalah lari ketakutan."
"Kau pasti memperlihatkan wajah mengintimidasimu yang menyeramkan itu, sehingga membuatnya berlari bagaikan dikejar setan," sahut Taban dengan menggeleng.
Khan mengendikkan bahunya terlihat tidak peduli. "Ada apa kau datang kemari, Taban. Bukankah kata Eej kau sangat sibuk?" Khan heran melihatnya berada di sini.
"Betul sekali. Seharusnya aku sangat sibuk. Tapi kesibukanku harus tertunda oleh seorang gadis yang histeris saat meneleponku, dan memaksaku untuk mencarikan cara untuk memutuskan ikatan jiwa yang dimilikinya dengan seseorang. Jadi aku terpaksa datang ke sini," sahut Taban dengan pandangan kesal ke arah Khan.
Ketika mendengar Shanum meneleponnya dengan suara serak menahan tangis Taban merasa curiga. Dan kepanikan itu muncul ketika akhirnya suara tangis Shanum yang menyayat hati itu tak lagi bisa ditahan olehnya.
Taban mencurigai ada sesuatu yang salah sudah terjadi dengan Shanum. Kalau hal itu tidak segera diselesaikan, bisa-bisa dia digantung oleh kekasih gadis itu. Yang tak lain adalah pria yang kini tepat berada di hadapannya.
Khan sangat protektif terhadap Shanum, ia tidak mau ada satu pun orang yang berani menyakiti gadisnya. Tapi ternyata semua dugaannya salah, Khan Adrian sendiri yang sudah membuat gadis itu menangis. Dan Taban sungguh syok dibuatnya. Bagaimana bisa hal itu terjadi?
"Duduklah Taban. Dan tutup kembali pintunya," kata Khan dengan nada suara bergetar. Khan terlihat gelisah dan itu membuat Taban semakin penasaran.
Taban menutup pintu lalu menuju kursi. Dia menarik kursi tersebut tidak jauh dari posisi ranjang Khan dan menghempaskan bokongnya di sana.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Sir? Mengapa Shanum ingin memutuskan ikatan jiwa kalian?" tanyanya memulai pembicaraan.
"Apakah gadis itu tidak mengatakannya padamu?" Khan balik bertanya kepadanya. Wajahnya masih terlihat aneh.
"Dia hanya berkata bahwa dia tidak mau memiliki hubungan apa pun lagi denganmu," jawab Taban dengan segera.
Khan mendesah. "Aku sudah berlaku buruk kepadanya, Taban." Khan terlihat merasa bersalah, "aku tidak tahu apa yang merasukiku sehingga aku melakukan hal yang begitu kejam." Kini Khan menyugar rambutnya.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Taban menatap tajam kepada Khan, rahangnya mengeras. Seolah-olah Taban sangat peduli kepada gadis itu.
"Kau menyukainya, Taban?" tanya Khan dengan wajah pemahaman yang menyesatkan. Khan salah menduga tentang perasaan Taban terhadap Shanum. Khan mengira pria itu memiliki rasa untuknya.
"Mengapa dari tadi bicaramu berputar-putar, hingga membuatku bingung? Dan ucapan apa itu, mengatakan aku menyukai Shanum. Apa kau sudah tidak waras, Sir?" desis Taban semakin tak sabar. Keganjilan yang terjadi saat ini masih belum bisa ditebak oleh Taban. Membuatnya semakin pusing karena bingung.
"Apa hubungannya kewarasanku dengan kau yang menyukai gadis itu?" tanya Khan lagi. "Jika kau menyukainya, akui saja. Aku tidak berkeberatan atas hal itu."
Taban melongo. "Astaga, lama-lama aku yang akan menjadi gila di sini! Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Mengapa sikapmu aneh begini?" tegur Taban. Dia tidak menyangka Khan akan merestui jika ia menyukai Shanum. Sungguh mukzijat yang aneh. Apakah pria itu sudah benar-benar kehilangan kewarasannya?
Khan menghela napas panjang. "Sejujurnya, aku tidak bisa mengingat tentang gadis itu, tentang ikatan jiwa yang aku sendiri juga tidak tahu ternyata hal itu ada, dan semua tentang hubunganku dengannya. Yang kuingat sebagai kekasihku hanyalah Sarnai, itu pun juga sebagai mantan kekasih. Kau tahu aku tidak pernah memiliki kekasih lagi setelah hubunganku yang menyedihkan itu. Aku juga tidak mengingat soal kebakaran yang menimpaku," ucap Khan dengan tatapan miris.
"Maksudmu? Kau ..." Taban terlihat kaget, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia kembali melongo mendengar kata-kata Khan. Pantas saja pria itu bersikap aneh yang bukan dirinya. Ternyata dia mengalami Amnesia.
__ADS_1
Khan mengangguk. "Aku tadi membuatnya marah oleh kata-kata kasarku kepadanya."
"Kata-kata kasar?" ulang Taban. "Apa yang kau katakan kepadanya?!" Taban memicingkan matanya.
Khan meringis. "Aku mengatakan dia berbohong tentang hubungan kami, tentang ikatan itu. Dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi kekasihku, karena dia tidak layak." Setelah Khan selesai mengatakan kata-katanya Taban sontak berdiri. Wajahnya kaku. Dia melangkah mendekat ke ranjang Khan.
"Apa hanya itu yang kau katakan?!" tanya Taban sambil mengepalkan tangannya. Dia kembali terngiang-ngiang tangis sedih Shanum tadi.
"Aku membentaknya, mengusirnya dan ... em ... menghinanya," jawab Khan dengan suara pelan.
Taban langsung mengepalkan tangannya ke atas, lalu mendadak memukul Khan. Dia tidak memberi jeda, meski napasnya terlihat terengah-engah.
Khan tidak melawan, Taban terus memukulinya seperti orang kesetanan. Dan mereka akhirnya dipisahkan oleh Lian, Sang Dokter yang kaget saat membuka pintu melihat adegan brutal itu. Perawat yang mengikuti Lian sambil membawa troli untuk melepas infus juga ikut tersentak kaget.
Lian berhasil memisahkan Taban dari Khan. Dia mengedarkan pandangannya ke arah keduanya dengan wajah heran. "Apa yang terjadi? Mengapa kau berusaha membunuhnya, Taban?"
Napas Taban menderu, ia mengepalkan tangannya kembali. Matanya menatap Khan seperti ingin menghancurkan pria itu.
"Sebentar, kau tahan emosimu dulu. Tarik napas dalam Taban. Aku tidak mau ada pertumpahan darah terjadi di sini." Lian menahan tubuh Taban dengan rentangan tangannya. Dia tak mengizinkan pria itu kembali memukul Khan, yang sepertinya sudah terlihat menyedihkan, mukanya penuh darah, luka lebam dan robek. Hidungnya juga sepertinya sudah tak berbentuk.
"Aku tak mau mengatakannya. Kau tanya saja padanya alasan aku memukulnya," sahut Taban dengan nada suara tajam. Pria itu mengusap kepalan tangannya yang penuh darah dengan saputangan yang dimilikinya.
"Rhea, kau kembali dulu ke tempatmu. Biar nanti yang melepas infusnya aku saja," kata Lian seraya menoleh kepada perawat mungil yang sedang berdiri dengan wajah ketakutan di dekat pintu. "Baik, Dok." Perawat itu meneguk ludahnya dan mengangguk, lalu ia keluar dari kamar itu.
"Jadi siapa yang mau menjelaskannya padaku?" tanya Lian sembari bersedekap. Dia memandang serius kepada kedua pria di hadapannya itu. Khan dan Taban tidak ada yang menjawab. Taban hanya melengos sedangkan Khan menundukkan kepalanya.
Lian menarik napas dalam dan menggelengkan kepalanya, ia perlahan melangkah mendekati Khan dengan membawa serta troli di sampingnya. Lian mulai melepaskan infus Khan dengan cekatan, dan kembali membersihkan luka dan mengobati wajah pria itu.
"Tampaknya waktumu akan semakin lama di sini, Yang Agung. Wajahmu terluka semakin parah. Sekarang, jika tidak ada yang mau mengatakan kepadaku, aku dengan terpaksa akan membicarakan kejadian ini dengan Ibumu," kata Lian.
Khan menggeleng dan mencegah dengan isyarat tangannya. "Jangan! Aku akan menceritakannya," jawab Khan. Pria itu lalu mengungkapkannya kepada Lian. Dokter itu mendengarkan dengan wajah biasa tanpa menghakimi.
Sampai Khan menyelesaikan ceritanya, wajah pria itu tetap terlihat sama. Dia tampak sesekali mengusap-usap dagunya. "Hmm, ternyata gadis yang kalian ributkan ini adalah gadis yang sama dengan yang telah memukulmu tadi pagi, Khan."
"Shanum memukulnya," ulang Taban dengan kaget. Pria itu menengok ke arah Lian.
"Ya, aku melihatnya tadi di CCTV. Gadis itu menghajarnya dengan keras. Aku sendiri takjub melihat gadis yang tubuhnya lebih kecil dari Khan bisa menumbangkannya hanya dengan satu kali pukulan." Lian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
Kemudian Taban tertawa. Suara tawanya membahana di ruangan itu. "Kau mungkin akan semakin kaget Lian, saat aku mengatakan, gadis itu juga bisa membantingnya ke tanah dengan tubuh kecilnya itu. Dan dia sudah pernah melakukannya."
"Serius, gadis itu? Wow ..." Lian tampak terkesima. "Aku jadi penasaran dengannya," ucapnya lagi.
"Sayangnya gadis itu terikat dengan pria berengsek itu," ucap Taban sembari menunjuk Khan.
"Tapi, bukannya pria itu sekarang sudah tidak berminat. Kalau begitu, aku bisa dong mendekatinya." Lian tersenyum smirk ke arah Khan.
Khan yang mendengar percakapan terang-terangan tentang dirinya merasa tidak suka. Entah mengapa hatinya mendadak panas mendengarkan Lian ingin mendekati gadis itu.
"Kalian pergi sana! Mengganggu saja! Aku ingin tidur! Wajahku sedang sakit." Khan merebahkan dirinya di ranjang dengan wajah keruh. Taban dan Lian melihat wajah kesal pria itu. Reaksi Taban adalah mendengus keras. Sedangkan Lian hanya tersenyum geli menanggapinya.
"Oke, kalau kau ingin tidur. Aku akan pergi. Nanti aku akan mencoba mencari cara untuk memutuskan ikatan jiwa di antara kalian, sesuai permintaan Shanum." Taban bergerak memutar tubuhnya.
Mendengarnya, Khan langsung meloncat bangun. "Tunggu, Taban! Tidak perlu kau melakukan itu. Ini urusanku dengan gadis itu. Biar kami yang akan menyelesaikannya berdua."
Ucapan Khan tentu saja mengejutkan Taban. Dia tidak menyangka pria itu berusaha menahan keinginannya untuk mengabulkan permintaan Shanum. Sebenarnya apa maunya pria itu? Tadi dia seolah-olah tidak peduli dengan Shanum. Tapi saat Taban ingin membantu Shanum untuk memutuskan ikatan mereka, dia malah seperti orang kebakaran jenggot.
"Aku tidak akan berkomentar banyak. Semua kuserahkan kepada Shanum. Hanya dia yang bisa memutuskan apakah ikatan itu mau tetap diputuskan ataukah tidak. Namun aku harus tetap memperingatkanmu, kalau kau kembali menyakitinya. Aku adalah orang pertama yang akan memisahkan kalian." Taban langsung keluar tanpa menoleh lagi.
"Well, sebaiknya aku juga pergi. Tentunya masih banyak tugas yang harus aku kerjakan," kata Lian. Dia menatap Khan dengan ekspresi serius. "Aku punya saran untukmu. Terserah kau ingin mendengarkan atau tidak saranku ini." Lian menarik napasnya sejenak. Tampak memikirkan dengan hati-hati kata-kata yang ingin dikatakannya kepada Khan.
__ADS_1
"Kehilangan ingatanmu ini belum tentu permanen. Secara bertahap akan kembali nantinya. Mungkin saja hal yang kau rasakan sekarang akan berbeda dengan yang akan kau rasakan saat ingatan itu kembali. Jadi, jangan sampai menyesal, Yang Agung."
Lian tersenyum tipis saat menyudahi kata-katanya, lalu mulai mendorong troli menuju pintu. Dia membuka pintu, dan menutup pintu itu kembali. Meninggalkan Khan dengan sejuta keraguan dalam benaknya.